Share

Pertaruhan di Atas Api

Penulis: Pena itu
last update Tanggal publikasi: 2026-03-23 12:17:41

Suara ledakan di dermaga itu masih menyisakan denging panjang di telingaku, sebuah frekuensi tinggi yang membuat kepalaku serasa mau pecah. Asap hitam bergulung-gulung ke langit Labuan Bajo yang mulai jingga, membawa bau solar terbakar dan kayu manis yang hangus. Aku berlari. Kakiku yang telanjang menghantam aspal yang masih menyimpan panas matahari siang, terasa seperti menginjak bara api, tapi rasa perih itu tidak ada apa-apanya dibanding rasa sesak di dadaku.

​"BUMIII!" jeritanku pecah, teng
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Labirin Angka dan Nyawa

    Ruang bawah tanah di rumah Bogor ini mendadak terasa seperti peti mati yang luas. Cahaya lampu neon di atas kepala kami berkedip-kedip, mengeluarkan bunyi dengung listrik yang menyakitkan telinga. Aku berdiri mematung, menatap Bramantyo Subroto yang berdiri tegak dengan tongkat peraknya—pria yang selama sepuluh tahun ini menipu dunia dengan kursi rodanya.​Di layar ponsel yang ia genggam, aku melihat Fajar. Suamiku. Pria yang dulu begitu gagah, kini terikat di kursi kayu di sebuah gudang gelap di Labuan Bajo. Kepalanya terkulai, darah mengering di sudut bibirnya, dan di sampingnya... Bumi, anakku, sedang menangis tanpa suara karena mulutnya dilakban hitam. Di dada mereka, melingkar kabel-kabel merah dan hijau dengan timer digital yang terus berdetak mundur.​05:59... 05:58...​"Kau pikir kau cerdas, Kinan?" Bramantyo melangkah maju, suara ketukan tongkatnya di lantai semen terdengar seperti detak jantung maut. Tuk... tuk... tuk... "Kau pikir akuntansi bisa menyelamatkanmu dari realita

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Berlutut di Sarang Serigala

    Bunyi roda pesawat yang menyentuh aspal Bandara Soekarno-Hatta terasa seperti palu godam yang menghantam dadaku. Aku kembali ke Jakarta. Kota yang lampunya gemerlap tapi hatinya lebih dingin dari ruang mayat. Aku turun dari pesawat bukan sebagai menantu terhormat keluarga Subroto, melainkan sebagai seorang pesakitan. Rambutku yang biasanya tertata rapi kini kusam, daster batiku tertutup jaket pinjaman Bima yang baunya apek, dan mataku... mataku menyimpan rahasia yang paling kelam.​Di pintu kedatangan, sebuah mobil Rolls-Royce hitam sudah menunggu. Pintu terbuka, dan Aris—anjing setia Bramantyo—tersenyum meremehkan.​"Selamat datang kembali ke realita, Nyonya Kinan," sindirnya sembari membukakan pintu. "Tuan Besar sudah menunggu di rumah Bogor. Beliau bilang, mawar yang layu tetap mawar, asalkan tahu cara bersimpuh."​Aku tidak menjawab. Sepanjang perjalanan menuju Bogor, aku hanya menatap pantulan wajahku di kaca mobil yang gelap. Aku terlihat seperti mayat hidup. Tapi di balik tatap

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Garis Kemiskinan yang Baru

    Lantai semen Puskesmas Labuan Bajo ini terasa sangat dingin di telapak kakiku yang tanpa alas. Aku duduk di bangku kayu panjang yang sudah reyot, menatap bayanganku sendiri di kaca jendela yang buram oleh uap hujan. Di balik pintu kayu bercat putih yang sudah mengelupas di depanku, Fajar sedang diperiksa. Suara erangan tertahannya sesekali menembus celah pintu, menghujam jantungku lebih tajam daripada peluru Maria.​Bumi tertidur di sampingku, kepalanya bersandar di pahaku yang masih berbekas noda lumpur dan darah kering. Napas anakku berat, sesekali ia mengigau menyebut nama "Ayah". Aku mengusap rambutnya yang kasar karena air garam, mencoba memberikan ketenangan yang aku sendiri pun tidak memilikinya.​"Nan..."​Bima muncul dari arah koridor, wajahnya kusam, matanya merah karena kurang tidur. Ia menyodorkan sebuah ponsel tua dengan layar yang retak. "Lihat ini. Kabar buruknya belum selesai."​Aku melihat layar itu. Pesan singkat dari bank pusat: Akses akun dibekukan atas permintaan

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Pertaruhan di Atas Api

    Suara ledakan di dermaga itu masih menyisakan denging panjang di telingaku, sebuah frekuensi tinggi yang membuat kepalaku serasa mau pecah. Asap hitam bergulung-gulung ke langit Labuan Bajo yang mulai jingga, membawa bau solar terbakar dan kayu manis yang hangus. Aku berlari. Kakiku yang telanjang menghantam aspal yang masih menyimpan panas matahari siang, terasa seperti menginjak bara api, tapi rasa perih itu tidak ada apa-apanya dibanding rasa sesak di dadaku.​"BUMIII!" jeritanku pecah, tenggelam dalam deru api yang melahap kapal-kapal nelayan.​Di ujung dermaga yang sudah retak dan berasap, aku melihatnya. Maria Subroto. Wanita itu berdiri tegak dengan gaun putih yang melambai tertiup angin laut, tampak seperti malaikat maut yang baru saja bangkit dari kubur. Di pelukannya, Bumi meronta-ronta, tangisan anakku itu terdengar parau, tercekik oleh asap dan ketakutan.​"Berhenti di situ, Kinan!" suara Maria melengking, tajam seperti pisau yang menggores kaca. Ia berdiri tepat di tepian

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Diplomasi Api di Tepi Pantai

    Udara malam di Labuan Bajo biasanya membawa aroma laut yang menenangkan, tapi malam ini, bau yang masuk ke lubang hidung Kinan adalah bau solar dari mesin berat dan asap dari ban bekas yang dibakar warga di depan pagar proyek. Di dalam tenda plastik yang pengap, cahaya lampu minyak bergoyang-goyang, melemparkan bayangan raksasa yang menakutkan ke dinding terpal.​Kinan duduk di atas tikar pandan yang anyamannya sudah mulai terlepas. Di pangkuannya, kepala Fajar bersandar. Suaminya itu memejamkan mata, namun Kinan tahu Fajar tidak tidur. Rahangnya mengeras setiap kali terdengar suara dentuman alat berat dari balik bukit. Tangan Kinan yang kasar karena air garam mengusap kening Fajar, mencoba mengusir panas demam yang kembali menyerang saraf-saraf lumpuhnya.​"Nan... kau dengar itu?" bisik Fajar tanpa membuka mata. "Suara ekskavator itu... kedengarannya seperti mereka sedang menggali kubur untuk kita semua."​"Mereka cuma menggali lubang untuk kesombongan mereka sendiri, Dit," jawab Kin

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Garam di Atas Luka Baru

    Suara mesin pesawat baling-baling yang membawa mereka kembali ke Labuan Bajo terdengar seperti dengung lebah yang marah di telinga Kinan. Di sampingnya, Fajar duduk di kursi roda khusus yang dipasang di kabin, wajahnya pucat pasi, matanya menatap kosong ke hamparan laut biru di bawah sana yang dulu adalah "kantornya". Bahunya masih dibalut penyangga, namun yang paling menyakitkan bagi Kinan bukan luka tembak itu, melainkan kaki Fajar yang kini hanya bisa terkulai diam, tak lagi mampu merasakan getaran lantai pesawat.​Bumi tertidur di pangkuan Kinan, jemari kecilnya mencengkeram daster batik ibunya seolah takut jika ia melepasnya, ia akan kembali ke vila mawar hitam yang dingin itu.​"Nan..." suara Fajar lirih, nyaris tenggelam oleh deru mesin. "Kenapa kita balik ke sini? Aku... aku nggak bisa jadi nelayan lagi. Aku cuma bakal jadi beban di atas perahu Pak Haji."​Kinan menggenggam tangan Fajar, merasakan dinginnya kulit suaminya yang tak lagi terbakar matahari. "Kita nggak balik buat

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Buah yang Jatuh Tak Jauh dari Akarnya

    Lima Tahun Kemudian...​Desa itu masih sama, namun rumah kayu Bapak kini sudah lebih kokoh. Terasnya sudah diubin dengan tegel abu-abu yang sejuk, tempat favorit seorang anak laki-laki berusia lima tahun untuk menyusun balok-balok kayunya menjadi gedung-gedung tinggi yang megah. Anak itu bernama Bu

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-25
  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Palu Keadilan di Atas Sandiwara

    Pagi itu, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tampak lebih sibuk dari biasanya. Udara di luar pengadilan terasa gerah, namun di dalam Ruang Sidang Utama, pendingin ruangan yang mendengung rendah menciptakan suasana dingin yang menusuk tulang. Kinan duduk di kursi kayu panjang barisan terdepan. Di sam

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-23
  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Bayang-bayang di Persimpangan

    Pagi itu, langit Jakarta seolah enggan menampakkan wajahnya. Mendung menggantung rendah, membuat suasana kota terasa seperti lukisan kusam yang hampir luntur. Kinan melangkah keluar dari lobi apartemennya dengan perasaan yang tidak menentu. Di tasnya, tersimpan rapi berkas-berkas tambahan untuk sid

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-21
  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Sandiwara di Ujung Botol

    Angin malam di atas jembatan penyeberangan itu terasa seperti pisau yang mengiris kulit. Di bawah sana, arus kendaraan Jakarta masih menderu, lampu-lampu mobil membentuk garis panjang yang tak putus-putus. Namun, bagi Kinan, dunia seolah berhenti berputar tepat di depan anak tangga terakhir.​Mbak

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-21
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status