MasukPagi itu, Kinan tidak bangun dengan tangisan. Ia bangun dengan kepala yang terasa sangat ringan, seolah beban emosinya semalam sudah menguap bersama embun. Tubuhnya pegal luar biasa karena tidur melungker di sofa ruang tamu yang sempit, tapi hatinya terasa lebih keras dari kayu jati. Ia tidak lagi menunggu Aris bangun, tidak lagi menyiapkan air hangat untuk suaminya mandi.
Pukul enam pagi, Kinan sudah berada di dapur. Ia tidak memasak menu spesial. Ia hanya merebus telur dan membuat roti bakar mentega seadanya. Suara langkah kaki berat terdengar dari arah tangga. Aris muncul dengan rambut acak-acakan dan wajah yang masih menyimpan sisa amarah semalam. Ia berhenti di ambang pintu dapur, menatap Kinan yang sedang tenang mengoles selai. Aris tampak bingung melihat meja makan yang biasanya penuh dengan nasi uduk atau soto buatan Kinan, kini hanya berisi roti tawar. "Cuma ini?" tanya Aris, suaranya parau. Kinan tidak menoleh. "Iya. Kalau mau yang lain, beli saja di luar." Aris mendengus kasar. Ia menarik kursi dengan suara decitan yang memilukan. "Kamu masih mau bahas drama semalam? Nan, aku sudah bilang, aku cuma lupa. Manusiawi kan kalau orang sibuk itu lupa? Jangan kayak anak kecil yang harus disuapin perhatian terus." Kinan meletakkan pisau rotinya. Ia berbalik dan menatap Aris lurus-lurus. Tatapan yang membuat Aris sedikit memundurkan kepalanya. Tidak ada amarah di mata Kinan, hanya ada kekosongan yang dalam. "Aku nggak bahas itu lagi, Ris. Aku cuma capek. Sudah, makan saja apa yang ada," ujar Kinan datar. Tak lama, Bu Ratmi muncul dengan daster sutra barunya—hadiah dari Aris semalam. Ia masuk ke dapur dengan gaya seperti mandor bangunan. Matanya langsung menyisir meja makan dan bibirnya mencebik. "Loh, mana bubur ayamnya? Ibu kan sudah bilang semalam kalau pagi ini pengen bubur ayam pakai cakwe yang di ujung jalan itu. Masa istrimu malas-malasan begini, Ris? Mentang-mentang habis marah, kewajiban ditinggal semua," cerocos Bu Ratmi sambil duduk di samping Aris. "Kinan lagi capek, Bu," bela Aris singkat, meski nadanya lebih ke arah menyindir Kinan. "Capek apa? Ibu dulu waktu muda, habis melahirkan kamu saja langsung ke sawah, langsung masak buat Bapakmu. Zaman sekarang memang beda ya, istri baru ditegur sedikit saja sudah mogok kerja," lanjut Bu Ratmi sambil mengambil selembar roti dengan raut wajah jijik. Kinan tidak menyahut. Ia mengambil tas belanjaannya dan kunci motor. "Mau ke mana kamu?" tanya Aris. "Pasar," jawab Kinan singkat tanpa menoleh. Ia memacu motor matic-nya menembus jalanan pagi yang mulai macet. Namun, Kinan tidak pergi ke pasar langganannya. Ia memarkirkan motornya di sebuah ruko perkantoran yang jaraknya agak jauh dari rumah. Ia masuk ke dalam sebuah kafe kecil di lantai dasar, memesan kopi paling pahit, lalu membuka laptop tuanya yang sudah lama berdebu. Kinan mulai mengetik. Ia adalah seorang lulusan akuntansi yang cerdas sebelum Aris memintanya berhenti bekerja dengan alasan "biar aku yang cari nafkah, kamu fokus urus aku dan Ibu." Bodohnya dia dulu percaya kalau itu adalah bentuk cinta. Ternyata itu adalah jerat untuk membuatnya tak berdaya secara finansial. Ia mengirimkan kembali CV-nya ke beberapa perusahaan jasa pembukuan. Ia juga menghubungi teman lamanya, Maya, yang sekarang mengelola sebuah agensi freelance. "Kin! Ya ampun, ke mana saja kamu? Aku kira kamu sudah jadi nyonya besar yang nggak butuh duit lagi," suara Maya di seberang telepon terdengar nyaring. "Aku butuh kerja, May. Apa saja. Yang penting aku bisa pegang uang sendiri," bisik Kinan, suaranya bergetar bukan karena sedih, tapi karena tekad. "Pas banget, Kin. Aku lagi butuh orang buat beresin laporan keuangan klienku yang berantakan. Tapi ini remote, kamu bisa kerjain di rumah. Gajinya lumayan, tapi deadline-nya ketat. Kamu sanggup?" "Sanggup. Kirim filenya sekarang." Setelah menutup telepon, Kinan merasa ada aliran darah yang kembali mengalir di nadinya. Ia menghabiskan sisa kopinya, lalu benar-benar pergi ke pasar. Ia membeli sayur-sayuran seadanya, hanya untuk syarat agar Aris tidak curiga kalau dia punya rencana lain. Sesampainya di rumah, suasana makin panas. Di ruang tamu, Bu Ratmi sedang membongkar lemari di lorong tengah—lemari tempat Kinan menyimpan kain-kain batik koleksi almarhumah ibunya. "Bu! Ibu ngapain?" Kinan berseru, meletakkan belanjaannya asal di lantai. Bu Ratmi menoleh tanpa rasa bersalah. Di tangannya ada dua lembar kain batik tulis kuno yang sangat berharga bagi Kinan. "Ini kain bagus, Nan. Nganggur saja di lemari. Tadi Mbak Ratna mampir, dia bilang butuh kain buat acara seragam keluarga di pihak suaminya. Ibu kasihkan saja ya, daripada dimakan rayap." "Nggak bisa, Bu! Itu punya Ibu saya. Itu kenang-kenangan terakhir saya!" Kinan mencoba merebut kain itu. "Halah! Pelit sekali kamu sama keluarga sendiri! Kamu itu sudah masuk keluarga kami, ya barangmu itu barang kami juga!" Bu Ratmi menarik kain itu dengan kasar sampai terdengar suara krek kecil—jahitannya robek. Kinan mematung. Suara robekan itu seperti suara hatinya yang kembali patah. Aris keluar dari kamar, melihat keributan itu dan hanya menghela napas panjang. "Ris! Lihat istrimu, dia kasar sekali sama Ibu cuma gara-gara kain tua ini!" adu Bu Ratmi dengan nada dramatis. Aris berjalan menghampiri Kinan. Bukannya menenangkan, dia justru berkata, "Sudahlah, Nan. Cuma kain kan? Nanti aku ganti. Kasihkan saja ke Mbak Ratna, dia lagi butuh buat jaga gengsi di depan mertuanya. Kamu jangan bikin Ibu darah tinggi terus kenapa sih?" Kinan menatap Aris. Ia melihat laki-laki yang ia cintai itu kini tampak seperti orang asing yang sangat jahat. Ganti? Bagaimana mungkin selembar kain yang dipakai ibunya saat menghembuskan napas terakhir bisa diganti dengan uang? Kinan melepaskan pegangannya pada kain itu. Ia mundur selangkah. "Ambil saja," bisik Kinan. "Ambil semua yang kalian mau. Ambil kainnya, ambil uangnya, ambil semuanya." Kinan berbalik masuk ke dapur, meninggalkan Aris yang terheran-heran melihat reaksi Kinan yang tidak meledak seperti biasanya. Aris pikir Kinan sudah mulai "tahu diri", padahal ia tidak tahu kalau Kinan baru saja memutus satu lagi rantai yang mengikatnya di rumah itu. Sore harinya, saat Aris dan Ibunya pergi keluar untuk mengantar kain itu ke rumah Mbak Ratna, Kinan duduk di meja makan dengan laptopnya. Ia bekerja dengan gila. Angka-angka di layar itu terasa jauh lebih jujur daripada kata-kata suaminya. Setiap kali ia menyelesaikan satu kolom laporan keuangan, ia membayangkan itu adalah satu langkah menjauh dari rumah ini. Ia mulai memindahkan sisa uang belanja yang ia hemat sedikit demi sedikit ke sebuah rekening baru yang tidak terhubung dengan ponselnya. Sebuah rekening rahasia. Malam itu, saat Aris pulang dan mencoba mendekatinya di ranjang, Kinan pura-pura tidur dengan sangat pulas. Ia tidak ingin lagi merasakan sentuhan Aris yang terasa seperti penghinaan. Dalam kegelapan, Kinan menyentuh robekan kecil di kain batik yang sempat ia selamatkan satu lembar. "Tunggu sebentar lagi, Bu," bisik Kinan pada bayangan ibunya di dalam kepala. "Kinan bakal ambil balik harga diri Kinan." Dia belum tahu kapan, tapi dia tahu dia akan pergi. Dan saat itu terjadi, dia tidak akan meninggalkan satu helai benang pun untuk mereka injak-injak lagi.Suasana di Desa Sukamaju yang biasanya damai, sore itu mendadak tegang. Kabar burung di kampung itu lebih cepat merambat daripada api di atas ilalang kering. Di balai pertemuan warga yang kecil, Pak Kades dan beberapa tetua duduk melingkar dengan wajah-wajah serius yang menghakimi. Di tengah-tengah mereka, duduk seorang laki-laki yang wajahnya sengaja dibuat nelangsa: Aris.Aris datang bukan dengan tangan kosong. Di sampingnya ada Mbak Ratna yang terus-menerus mengusap air mata buaya dengan ujung jilbabnya, dan di depan mereka tergeletak sebuah map cokelat berisi foto-foto yang sudah disiapkan dengan licik.Bapak Kinan, Pak subroto, duduk di sudut ruangan dengan punggung yang bungkuk, seolah beban langit baru saja jatuh menimpa pundaknya. Wajahnya yang legam karena puluhan tahun bertani kini tampak pucat pasi. Ia tidak berani menatap mata tetangga-tetangganya. Malu. Sebuah kata yang lebih mematikan daripada peluru bagi orang tua di kampung."Pak Subroto," suara Pak Kades memecah ke
Apartemen yang ditawarkan Bima ternyata hanyalah sebuah unit studio kecil di pinggiran kota. Dindingnya bercat putih gading yang sudah sedikit mengelupas di sudut plafon. Tidak ada perabotan mewah. Hanya ada sebuah kasur tipis tanpa dipan, satu lemari kecil yang pintunya berderit saat dibuka, dan sebuah jendela besar yang menghadap langsung ke arah rel kereta api.Bima sudah pulang satu jam lalu setelah memastikan Kinan punya air minum dan mengunci pintu dengan benar. Kini, Kinan duduk bersila di atas kasur yang masih berbau plastik toko itu. Sunyi. Sangat sunyi sampai suara detak jam tangannya terdengar seperti dentuman palu.Ia menatap tas pakaiannya yang tergeletak pasrah di sudut ruangan. Hanya itu yang ia punya. Beberapa potong kemeja kerja, celana kain, pakaian dalam, dan satu mukena yang warnanya sudah mulai kusam. Ia tidak membawa perhiasan, tidak membawa perabotan, bahkan ia meninggalkan foto pernikahannya yang terbingkai indah di atas nakas rumah Aris. Ia tidak butuh wajah
Dunia di luar rumah Aris ternyata terasa begitu asing bagi Kinan. Duduk di jok mobil Bima yang harum kayu cendana, Kinan merasa seperti narapidana yang baru saja menghirup udara bebas namun paru-parunya masih terasa penuh debu penjara. Ia menatap lututnya yang lecet, darahnya sudah mengering, meninggalkan bekas merah kecokelatan yang perih saat terkena AC mobil."Minum dulu, Kin. Kamu gemetaran," Bima menyodorkan sebotol air mineral yang dinginnya pas. Suaranya rendah, tidak menuntut penjelasan segera. Itu yang Kinan butuhkan—ruang untuk bernapas tanpa dihakimi.Kinan meneguk air itu perlahan. Tenggorokannya yang tadi serasa tersumbat batu kerikil perlahan mulai melonggar. "Terima kasih, Bim. Maaf... aku berantakan sekali.""Jangan minta maaf buat sesuatu yang bukan salahmu," jawab Bima sambil memutar kemudi, membawa mobil menjauh dari lingkungan rumah Aris. "Aku antar kamu ke tempat yang aman. Ada apartemen kecil milik kantorku yang sedang kosong. Kamu bisa tinggal di sana sementa
Pagi itu, rumah terasa seperti medan perang yang baru saja ditinggalkan pasukannya. Sisa-sisa "sidang keluarga" semalam masih tertinggal dalam bentuk gelas-gelas kopi yang berkerak di meja tamu dan bau puntung rokok Pakde Mulyo yang menempel di gorden. Kinan bangun dengan perasaan hampa. Ia tidak sudi menyentuh sampah-sampah itu. Biarlah Aris atau Ibunya yang membereskannya, atau biarlah rumah itu membusuk sekalian.Kinan duduk di meja kecil di pojok kamarnya. Ia membuka laptop, menekan tombol power, dan menunggu logo sistem muncul. Hari ini adalah tenggat waktu pengiriman laporan keuangan perusahaan garmen milik klien Maya. Nilai kontraknya cukup untuk membayar uang muka kontrakan kecil di pinggir kota. Kinan butuh uang itu. Sangat butuh.Namun, saat ia mencoba menyambungkan koneksi ke Wi-Fi rumah, simbol sinyal di pojok layar tetap silang merah.No Internet Connection.Kinan mengerutkan dahi. Ia memeriksa router yang terletak di ruang tengah, tepat di bawah meja televisi. Kabeln
Malam itu, mendung menggantung rendah di langit, membuat udara terasa pengap dan lembap. Kinan baru saja selesai mandi dan berniat melanjutkan pekerjaannya di laptop ketika ia mendengar suara beberapa motor dan mobil berhenti di depan rumah. Biasanya, jam segini rumah sudah sepi. Firasatnya mulai tidak enak. Suara tawa yang dipaksakan dan langkah kaki yang berat memenuhi ruang tamu.Kinan membuka pintu kamar sedikit. Di sana, di ruang tamu yang lampunya dinyalakan semua hingga terang benderang, sudah duduk melingkar keluarga besar Aris. Ada Mbak Ratna dengan suaminya yang berperut buncit, ada Pakde mulyo—kakak tertua Bu Ratmi yang dikenal paling kolot—dan tentu saja, Aris yang duduk tertunduk di samping ibunya yang kembali memakai drama "kompres dahi"."Kinan! Sini kamu!" teriak Mbak Ratna saat melihat bayangan Kinan di pintu kamar. Suaranya melengking, penuh otoritas yang dibuat-buat.Kinan menarik napas panjang. Ia mengembuskan napas lewat mulut, mencoba menstabilkan detak jantun
Keheningan di rumah itu terasa sangat pekak. Tidak ada suara denting piring yang beradu dengan riuh, tidak ada gumam doa Kinan saat menyetrika baju di pojok ruangan. Sejak kejadian tamparan itu, Kinan benar-benar menjalankan perannya sebagai "orang asing". Ia tetap di rumah, tapi jiwanya seperti sudah pindah ke dimensi lain. Ia hanya memasak untuk dirinya sendiri, mencuci bajunya sendiri, dan menghabiskan sisa waktunya di depan laptop di dalam kamar yang pintunya selalu ia kunci dari dalam.Aris gelisah. Ternyata, kehilangan layanan seorang istri jauh lebih menyiksa daripada kehilangan uang di dompet. Ia harus mencari kaos kakinya sendiri yang entah terselip di mana, ia harus menelan roti tawar kering karena Bu Ratmi hanya bisa menyuruh tanpa bisa memasak, dan yang paling parah, ia kehilangan akses terhadap "ketenangan" yang biasanya disediakan Kinan tanpa ia minta.Pagi itu, Aris sengaja tidak langsung berangkat kantor. Ia duduk di meja makan, menatap Kinan yang sedang menyeduh kop







