Se connecterPagi itu, udara terasa lebih lembap dari biasanya. Sisa hujan semalam masih membekas di jendela kaca kamar, meninggalkan jejak-jejak air yang perlahan turun seperti air mata yang enggan berhenti. Kinan terbangun dengan rasa sesak yang masih sama. Hari ini adalah tanggal dua belas. Tanggal yang seharusnya menjadi hari paling istimewa bagi seorang Kinan, karena hari ini adalah hari kelahirannya.
Dulu, saat mereka masih tinggal di kontrakan sempit di awal pernikahan, Aris akan mencium keningnya tepat saat jam menunjukkan pukul dua belas malam. Aris akan membawakannya sebungkus mi goreng favorit dari gerobak depan komplek dengan satu lilin kecil yang tertancap di atas telur mata sapi. Sederhana, tapi Kinan merasa seperti ratu sejagat. Namun kini, di rumah yang lebih besar, dengan perabotan yang lebih mahal, kehangatan itu menguap entah ke mana. Kinan melirik Aris yang masih mendengkur di sampingnya. Tidak ada ucapan. Tidak ada pelukan. Aris terbangun karena alarm ponselnya, mematikannya dengan kasar, lalu langsung bergegas ke kamar mandi tanpa menoleh sedikit pun ke arah istrinya yang masih mematung di atas ranjang. "Mas..." panggil Kinan pelan saat Aris keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit pinggang. "Hm?" Aris menyahut pendek sambil sibuk mencari dasi di lemari. "Kamu ingat nggak hari ini hari apa?" Kinan mencoba memberikan umpan, berharap ada secercah ingatan yang tersisa di kepala laki-laki itu. Aris menghentikan gerakannya sejenak, dahinya berkerut. "Hari Kamis kan? Kenapa? Aku ada rapat besar hari ini, Nan. Tolong jangan mulai bahas hal-hal nggak penting. Siapin baju aku, cepetan." Kinan menelan ludah. Pahit. Ia bangkit, mengambil kemeja putih yang sudah ia setrika licin semalam. Ia ingin berteriak, Ini hari ulang tahunku, Mas! Tapi lidahnya kelu. Ia takut jawaban Aris hanya akan menjadi belati baru yang menyayat hatinya. Saat ia turun ke dapur, Bu Ratmi sudah duduk manis di meja makan. Wanita itu sedang asyik menelepon seseorang dengan suara yang sangat ceria. "Iya, Jeng! Nanti sore ya. Aris sudah pesan tempat di hotel itu loh. Katanya mau ngerayain kelulusan Tiara sekalian makan-makan keluarga besar. Wah, pokoknya harus datang ya, nanti aku kirim lokasinya!" Kinan mematung di depan pintu dapur. Napasnya tercekat. Kelulusan Tiara. Keponakan Aris lagi. Aris turun dengan langkah terburu-buru. "Nan, sore ini kita nggak makan di rumah ya. Kita ke Hotel Grand Mulia. Tiara baru saja wisuda TK, dan dia dapat predikat lulusan terbaik. Ibu mau kita rayakan besar-besaran. Kamu dandan yang rapi, jangan pakai baju yang itu-itu saja, malu-maluin keluarga kalau ketemu teman-temannya Ibu nanti." Kinan menatap Aris dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Mas, kamu benar-benar nggak ingat kalau hari ini aku juga..." "Juga apa?" Aris memotong dengan nada tidak sabar sambil memakai jam tangannya. "Sudah, jangan banyak protes. Pokoknya jam lima sore sudah harus siap. Ibu juga mau ajak adiknya Ibu dari kampung. Kamu yang urus jemputannya ya pakai taksi online, aku nggak sempat kalau harus muter-muter." Aris pergi begitu saja. Bu Ratmi pun ikut masuk ke kamar untuk memilih baju terbaiknya, meninggalkan Kinan yang berdiri di tengah dapur dengan sepiring nasi goreng yang belum tersentuh. Kinan merasa dunianya runtuh. Dia yang berulang tahun, tapi keponakan suaminya yang dirayakan dengan pesta hotel. Sore harinya, dengan hati yang remuk, Kinan tetap mencoba profesional sebagai seorang istri. Ia memakai gamis terbaik yang ia punya—gamis yang ia beli dengan uang tabungan hasil jualan kue kering kecil-kecilan. Ia memoles wajahnya lebih tebal untuk menutupi sembab di matanya. Sesampainya di hotel, kemewahan itu justru terasa mencekik. Aris terlihat sangat bangga merangkul Tiara dan kakak perempuannya, Mbak Ratna. Mereka tertawa-tawa seolah dunia hanya milik mereka. Bu Ratmi duduk di tengah, seperti seorang permaisuri yang dipuja oleh anak-cucunya. Kinan duduk di pojok meja, terjepit di antara sepupu Aris yang terus membicarakan soal tas bermerek. Tidak ada yang mengajaknya bicara. Ia seperti dekorasi ruangan yang ada tapi tidak dianggap. Puncaknya adalah saat pelayan membawa sebuah kue tart besar ke meja. "Wah, kelihatannya enak sekali!" seru Bu Ratmi. "Ayo Tiara, tiup lilinnya. Ini kado dari Om Aris buat Tiara yang paling pintar." Kinan menatap kue itu. Di atasnya tertulis: Selamat untuk Tiara Kesayangan Om Aris. Di saat itulah, ponsel Kinan bergetar di dalam tasnya. Sebuah pesan masuk dari ibunya di kampung. "Selamat ulang tahun ya, Nduk. Ibu cuma bisa kirim doa. Tadi Ibu masakin nasi kuning kesukaanmu, meskipun kamu nggak ada di sini. Aris pasti kasih kejutan mewah ya buat kamu? Istrinya kan cuma satu. Sehat terus ya, Sayang." Air mata yang sejak pagi Kinan tahan, akhirnya tumpah juga. Ia tidak bisa lagi membendungnya. Ia berdiri dengan kasar, membuat kursi berderit di lantai marmer yang sunyi. Semua orang menoleh ke arahnya. "Nan, kamu kenapa?" Aris bertanya dengan nada sedikit membentak, merasa malu dilihat banyak orang. "Aku mau pulang," suara Kinan bergetar hebat. "Loh, acaranya belum selesai! Kamu jangan bikin malu, Kinan!" Bu Ratmi ikut menimpali dengan tatapan sinis. Kinan menatap Aris lurus ke matanya. "Hari ini ulang tahunku, Mas. Kamu nggak ingat, kan? Kamu bahkan nggak ucapin satu kata pun dari tadi pagi. Kamu sanggup sewa gedung dan beli kue mahal buat wisuda TK keponakanmu, tapi kamu bahkan nggak ingat tanggal lahir istrimu sendiri." Suasana di meja makan seketika senyap. Aris tampak kaget, ada sedikit rasa bersalah yang melintas di matanya, tapi itu hanya bertahan satu detik sebelum egonya kembali naik. "Hanya karena masalah sepele itu kamu mau ngerusak acara keluarga? Kamu ini kekanak-kanakan sekali, Nan! Malu-maluin!" Aris mendesis pelan agar tidak didengar meja sebelah. "Masalah sepele?" Kinan tertawa miris. "Iya, bagimu aku ini sepele. Aku ini pajangan. Aku ini cuma asisten rumah tangga yang nggak digaji yang kebetulan boleh kamu tiduri. Aku pulang sendiri." Kinan berbalik dan lari keluar dari restoran hotel itu. Ia tidak peduli dengan teriakan Aris atau tatapan menghina dari mertuanya. Ia berlari menembus udara malam yang dingin. Sampai di rumah, keadaan sangat sepi. Kinan langsung menuju dapur. Ia mengambil sisa roti tawar yang sudah hampir berjamur di sudut lemari. Ia mengambil sebatang lilin mati lampu dari laci, menancapkannya di atas roti tawar itu, lalu menyalakannya dengan tangan gemetar. "Selamat ulang tahun, Kinan," bisiknya pada diri sendiri. "Selamat atas kegoblokanmu selama lima tahun ini." Ia meniup lilin itu. Dalam kegelapan dapur, ia membuat satu janji pada dirinya sendiri. Dia tidak akan membiarkan racun ini membunuhnya secara perlahan. Jika mereka menganggapnya tidak ada, maka ia akan belajar untuk benar-benar menghilang dari hidup mereka—setelah ia mengambil kembali apa yang seharusnya miliknya. Malam itu, Kinan tidak tidur di kamar. Ia tidur di sofa ruang tamu yang sempit dan keras. Saat Aris pulang beberapa jam kemudian, laki-laki itu bahkan tidak membujuknya. Aris justru membanting pintu kamar dengan keras, seolah-olah dia adalah korban di sini. Di atas sofa itu, Kinan mulai membuka ponselnya. Ia mencari situs lowongan kerja dan mulai menghubungi kembali teman-teman lamanya di kantor dulu. Roda sudah mulai berputar. Kinan yang penurut sudah mati malam ini, bersama lilin yang padam di atas selembar roti tawar.Lembah Dirgantara kembali memanggil, namun kali ini bukan sebagai tempat pembantaian, melainkan sebagai saksi bisu penghakiman terakhir. Aku berdiri di puncak bukit yang menghadap langsung ke fasilitas server pusat The Orchard. Di kepalaku, angka-angka itu tidak lagi terasa seperti beban; mereka adalah orkestra yang siap meledak. Meskipun ingatanku tentang masa kecil masih samar, ingatanku tentang cara mencintai Fajar dan cara menghancurkan iblis sudah kembali dengan tajam."Kinan, kamu yakin?" Fajar berdiri di sampingku, tangannya menggenggam senapan dengan urat-urat yang menegang. "Begitu kamu memasukkan kode itu ke pemancar utama, tidak ada jalan kembali. Seluruh jaringan mereka akan mati, tapi posisimu akan terpampang di setiap radar mereka."Aku menatapnya, lalu menyentuh bekas luka di pelipisnya. "Aspal tidak pernah bertanya apakah ia siap menahan beban truk, Dit. Ia hanya melakukannya. Sekarang giliranku menjadi fondasi untuk masa depan kita."Kami bergerak dalam senyap. Rey
Pagi di pedalaman Flores datang dengan suara burung-burung liar yang terdengar asing di telingaku. Aku terbangun di atas dipan kayu, menatap langit-langit pondok yang terbuat dari jalinan bambu. Pikiranku masih terasa seperti hamparan salju yang putih dan dingin—tidak ada jejak kaki, tidak ada arah, hanya kekosongan yang luas. Namun, ada satu hal yang berbeda pagi ini. Ada sebuah perasaan gelisah yang merambat di ujung syarafku, seolah-olah ada sesuatu yang tertinggal di bawah bantal, sesuatu yang penting tapi tidak bisa kujangkau.Aku meraba ke samping. Tempat tidur itu sudah dingin. Pria yang memanggil dirinya Fajar itu sudah tidak ada. Aku segera duduk, rasa panik mendadak menyengat ulu hatiku. Dalam kekosongan memori ini, Fajar adalah satu-satunya jangkarku. Jika dia hilang, aku akan hanyut dalam samudra amnesia yang tidak bertepi."Fajar...?" panggilku lirih.Pintu pondok terbuka pelan. Fajar masuk dengan membawa nampan bambu berisi ubi rebus dan dua gelas teh yang masih menge
Labuan Bajo menyambut kami dengan senja yang tidak biasa. Langitnya berwarna ungu pekat, seperti memar di pipi Fajar yang belum kunjung sembuh. Bau laut yang asin bercampur dengan aroma ikan bakar dari warung-warung pinggir jalan menyengat hidungku, membawa sejuta kenangan tentang pengkhianatan yang baru saja kami lewati di Sumatera.Kami turun dari kapal feri dengan langkah yang berat. Fajar masih di kursi roda, namun kali ini ia tidak menunduk. Ia memakai kacamata hitam untuk menutupi matanya yang merah, sementara tangannya menggenggam erat jemari Bumi yang melonjak kegirangan melihat pelabuhan. Di belakang kami, Bima memanggul tas besar berisi "Buku Hitam" yang kini sudah disita secara hukum namun salinannya tetap menjadi milik kami—sebuah asuransi nyawa."Kita pulang, Nan," bisik Fajar saat roda kursi rodanya menyentuh aspal dermaga yang kasar."Iya, Dit. Pulang ke rumah kita yang sebenarnya," jawabku sembari mengelus perutku yang mulai terasa sedikit menonjol. Gejolak di dalam
Dunia ini terasa terlalu terang. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela kecil helikopter terasa seperti jarum-jarum halus yang menusuk mataku. Aku mengerjap, mencoba mengenali ruang sempit yang bergetar hebat ini. Bau avtur yang tajam dan suara deru baling-baling yang memekakkan telinga seharusnya membuatku takut, tapi anehnya, hatiku terasa kosong. Benar-benar kosong. Seperti sebuah neraca yang baru saja di-reset ke angka nol sebelum transaksi pertama dimulai.Aku menoleh ke samping. Seorang pria dengan wajah yang dipenuhi debu dan bekas luka sedang menatapku. Matanya merah, bengkak, seolah-olah ia baru saja kehilangan harta paling berharga dalam hidupnya. Ia menggenggam tanganku begitu erat, seolah jika ia melepaskannya sedikit saja, aku akan menguap menjadi udara."Nan... kamu dengar aku?" suaranya serak, bergetar di sela deru mesin.Aku menatap tangannya yang kasar, lalu menatap matanya yang memohon. Aku tahu pria ini. Bukan dengan otakku, tapi dengan sesuatu yang jauh di d
Lembah Dirgantara malam ini tidak tampak seperti tanah leluhur yang agung. Ia tampak seperti luka yang menganga di wajah Sumatera. Lampu-lampu sorot dari menara pengawas The Orchard membelah kegelapan kabut, menciptakan garis-garis cahaya yang dingin dan tajam seperti pisau bedah. Bau aspal basah bercampur dengan aroma tanah yang digali paksa menyengat hidungku. Di bawah kaki kami, tanah yang dulu menjadi tempatku berlari mengejar capung, kini tertutup oleh beton-beton raksasa fasilitas pemurnian data ilegal.Aku melangkah maju, tanganku digenggam erat oleh Fajar. Aku bisa merasakan telapak tangannya yang kasar sedikit berkeringat. Ini bukan ketakutan, ini adalah kewaspadaan seorang pelindung yang tahu bahwa ia sedang memasuki sarang naga."Nan, kalau terjadi sesuatu, jangan lihat ke belakang. Berlari saja ke arah gerbang barat," bisik Fajar tepat di telingaku.Aku hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman pahit yang kusimpan untuk diriku sendiri. Bagaimana mungkin aku bisa lari jika
Udara di dalam lorong bawah tanah itu terasa makin tipis, seolah-olah tanah Flores sendiri enggan memberikan ruang bagi rahasia yang kami bawa. Aku berlari dengan kaki yang terasa seperti dipimpin oleh memori yang bukan milikku. Di depanku, Ibu bergerak seperti bayangan—tangkas, dingin, dan asing. Aku menatap punggungnya, mencoba mencari sosok wanita yang dulu sering mengajariku cara membuat sambal terasi di dapur sempit kami di Jakarta. Namun, yang kulihat hanyalah seorang prajurit yang sedang pulang dari pengasingan."Kakek...?" suaraku akhirnya keluar, parau dan penuh penolakan. "Maksud Ibu, Kakek Ibrahim? Pria yang fotonya selalu Ibu simpan di dalam alkitab tua itu? Pria yang Ibu bilang mati sebagai pahlawan di perbatasan?"Ibu berhenti mendadak di ujung lorong yang berbatasan dengan dinding gua karang. Ia berbalik, cahaya lampu LED kecil di dinding menciptakan bayangan cekung di wajahnya yang kuyu."Pahlawan hanyalah label bagi pemenang, Kinan," suara Ibu terdengar seperti ges







