Beranda / Rumah Tangga / MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI / Kue Ulang Tahun yang Tak Sempat Dipotong

Share

Kue Ulang Tahun yang Tak Sempat Dipotong

Penulis: Pena itu
last update Terakhir Diperbarui: 2026-03-06 00:44:20

Pagi itu, udara terasa lebih lembap dari biasanya. Sisa hujan semalam masih membekas di jendela kaca kamar, meninggalkan jejak-jejak air yang perlahan turun seperti air mata yang enggan berhenti. Kinan terbangun dengan rasa sesak yang masih sama. Hari ini adalah tanggal dua belas. Tanggal yang seharusnya menjadi hari paling istimewa bagi seorang Kinan, karena hari ini adalah hari kelahirannya.

​Dulu, saat mereka masih tinggal di kontrakan sempit di awal pernikahan, Aris akan mencium keningnya tepat saat jam menunjukkan pukul dua belas malam. Aris akan membawakannya sebungkus mi goreng favorit dari gerobak depan komplek dengan satu lilin kecil yang tertancap di atas telur mata sapi. Sederhana, tapi Kinan merasa seperti ratu sejagat.

​Namun kini, di rumah yang lebih besar, dengan perabotan yang lebih mahal, kehangatan itu menguap entah ke mana.

​Kinan melirik Aris yang masih mendengkur di sampingnya. Tidak ada ucapan. Tidak ada pelukan. Aris terbangun karena alarm ponselnya, mematikannya dengan kasar, lalu langsung bergegas ke kamar mandi tanpa menoleh sedikit pun ke arah istrinya yang masih mematung di atas ranjang.

​"Mas..." panggil Kinan pelan saat Aris keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit pinggang.

​"Hm?" Aris menyahut pendek sambil sibuk mencari dasi di lemari.

​"Kamu ingat nggak hari ini hari apa?" Kinan mencoba memberikan umpan, berharap ada secercah ingatan yang tersisa di kepala laki-laki itu.

​Aris menghentikan gerakannya sejenak, dahinya berkerut. "Hari Kamis kan? Kenapa? Aku ada rapat besar hari ini, Nan. Tolong jangan mulai bahas hal-hal nggak penting. Siapin baju aku, cepetan."

​Kinan menelan ludah. Pahit. Ia bangkit, mengambil kemeja putih yang sudah ia setrika licin semalam. Ia ingin berteriak, Ini hari ulang tahunku, Mas! Tapi lidahnya kelu. Ia takut jawaban Aris hanya akan menjadi belati baru yang menyayat hatinya.

​Saat ia turun ke dapur, Bu Ratmi sudah duduk manis di meja makan. Wanita itu sedang asyik menelepon seseorang dengan suara yang sangat ceria.

​"Iya, Jeng! Nanti sore ya. Aris sudah pesan tempat di hotel itu loh. Katanya mau ngerayain kelulusan Tiara sekalian makan-makan keluarga besar. Wah, pokoknya harus datang ya, nanti aku kirim lokasinya!"

​Kinan mematung di depan pintu dapur. Napasnya tercekat. Kelulusan Tiara. Keponakan Aris lagi.

​Aris turun dengan langkah terburu-buru. "Nan, sore ini kita nggak makan di rumah ya. Kita ke Hotel Grand Mulia. Tiara baru saja wisuda TK, dan dia dapat predikat lulusan terbaik. Ibu mau kita rayakan besar-besaran. Kamu dandan yang rapi, jangan pakai baju yang itu-itu saja, malu-maluin keluarga kalau ketemu teman-temannya Ibu nanti."

​Kinan menatap Aris dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Mas, kamu benar-benar nggak ingat kalau hari ini aku juga..."

​"Juga apa?" Aris memotong dengan nada tidak sabar sambil memakai jam tangannya. "Sudah, jangan banyak protes. Pokoknya jam lima sore sudah harus siap. Ibu juga mau ajak adiknya Ibu dari kampung. Kamu yang urus jemputannya ya pakai taksi online, aku nggak sempat kalau harus muter-muter."

​Aris pergi begitu saja. Bu Ratmi pun ikut masuk ke kamar untuk memilih baju terbaiknya, meninggalkan Kinan yang berdiri di tengah dapur dengan sepiring nasi goreng yang belum tersentuh. Kinan merasa dunianya runtuh. Dia yang berulang tahun, tapi keponakan suaminya yang dirayakan dengan pesta hotel.

​Sore harinya, dengan hati yang remuk, Kinan tetap mencoba profesional sebagai seorang istri. Ia memakai gamis terbaik yang ia punya—gamis yang ia beli dengan uang tabungan hasil jualan kue kering kecil-kecilan. Ia memoles wajahnya lebih tebal untuk menutupi sembab di matanya.

​Sesampainya di hotel, kemewahan itu justru terasa mencekik. Aris terlihat sangat bangga merangkul Tiara dan kakak perempuannya, Mbak Ratna. Mereka tertawa-tawa seolah dunia hanya milik mereka. Bu Ratmi duduk di tengah, seperti seorang permaisuri yang dipuja oleh anak-cucunya.

​Kinan duduk di pojok meja, terjepit di antara sepupu Aris yang terus membicarakan soal tas bermerek. Tidak ada yang mengajaknya bicara. Ia seperti dekorasi ruangan yang ada tapi tidak dianggap.

​Puncaknya adalah saat pelayan membawa sebuah kue tart besar ke meja.

​"Wah, kelihatannya enak sekali!" seru Bu Ratmi. "Ayo Tiara, tiup lilinnya. Ini kado dari Om Aris buat Tiara yang paling pintar."

​Kinan menatap kue itu. Di atasnya tertulis: Selamat untuk Tiara Kesayangan Om Aris.

​Di saat itulah, ponsel Kinan bergetar di dalam tasnya. Sebuah pesan masuk dari ibunya di kampung.

​"Selamat ulang tahun ya, Nduk. Ibu cuma bisa kirim doa. Tadi Ibu masakin nasi kuning kesukaanmu, meskipun kamu nggak ada di sini. Aris pasti kasih kejutan mewah ya buat kamu? Istrinya kan cuma satu. Sehat terus ya, Sayang."

​Air mata yang sejak pagi Kinan tahan, akhirnya tumpah juga. Ia tidak bisa lagi membendungnya. Ia berdiri dengan kasar, membuat kursi berderit di lantai marmer yang sunyi. Semua orang menoleh ke arahnya.

​"Nan, kamu kenapa?" Aris bertanya dengan nada sedikit membentak, merasa malu dilihat banyak orang.

​"Aku mau pulang," suara Kinan bergetar hebat.

​"Loh, acaranya belum selesai! Kamu jangan bikin malu, Kinan!" Bu Ratmi ikut menimpali dengan tatapan sinis.

​Kinan menatap Aris lurus ke matanya. "Hari ini ulang tahunku, Mas. Kamu nggak ingat, kan? Kamu bahkan nggak ucapin satu kata pun dari tadi pagi. Kamu sanggup sewa gedung dan beli kue mahal buat wisuda TK keponakanmu, tapi kamu bahkan nggak ingat tanggal lahir istrimu sendiri."

​Suasana di meja makan seketika senyap. Aris tampak kaget, ada sedikit rasa bersalah yang melintas di matanya, tapi itu hanya bertahan satu detik sebelum egonya kembali naik.

​"Hanya karena masalah sepele itu kamu mau ngerusak acara keluarga? Kamu ini kekanak-kanakan sekali, Nan! Malu-maluin!" Aris mendesis pelan agar tidak didengar meja sebelah.

​"Masalah sepele?" Kinan tertawa miris. "Iya, bagimu aku ini sepele. Aku ini pajangan. Aku ini cuma asisten rumah tangga yang nggak digaji yang kebetulan boleh kamu tiduri. Aku pulang sendiri."

​Kinan berbalik dan lari keluar dari restoran hotel itu. Ia tidak peduli dengan teriakan Aris atau tatapan menghina dari mertuanya. Ia berlari menembus udara malam yang dingin.

​Sampai di rumah, keadaan sangat sepi. Kinan langsung menuju dapur. Ia mengambil sisa roti tawar yang sudah hampir berjamur di sudut lemari. Ia mengambil sebatang lilin mati lampu dari laci, menancapkannya di atas roti tawar itu, lalu menyalakannya dengan tangan gemetar.

​"Selamat ulang tahun, Kinan," bisiknya pada diri sendiri. "Selamat atas kegoblokanmu selama lima tahun ini."

​Ia meniup lilin itu. Dalam kegelapan dapur, ia membuat satu janji pada dirinya sendiri. Dia tidak akan membiarkan racun ini membunuhnya secara perlahan. Jika mereka menganggapnya tidak ada, maka ia akan belajar untuk benar-benar menghilang dari hidup mereka—setelah ia mengambil kembali apa yang seharusnya miliknya.

​Malam itu, Kinan tidak tidur di kamar. Ia tidur di sofa ruang tamu yang sempit dan keras. Saat Aris pulang beberapa jam kemudian, laki-laki itu bahkan tidak membujuknya. Aris justru membanting pintu kamar dengan keras, seolah-olah dia adalah korban di sini.

​Di atas sofa itu, Kinan mulai membuka ponselnya. Ia mencari situs lowongan kerja dan mulai menghubungi kembali teman-teman lamanya di kantor dulu. Roda sudah mulai berputar. Kinan yang penurut sudah mati malam ini, bersama lilin yang padam di atas selembar roti tawar.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Arang di Wajah Bapak

    Suasana di Desa Sukamaju yang biasanya damai, sore itu mendadak tegang. Kabar burung di kampung itu lebih cepat merambat daripada api di atas ilalang kering. Di balai pertemuan warga yang kecil, Pak Kades dan beberapa tetua duduk melingkar dengan wajah-wajah serius yang menghakimi. Di tengah-tengah mereka, duduk seorang laki-laki yang wajahnya sengaja dibuat nelangsa: Aris.​Aris datang bukan dengan tangan kosong. Di sampingnya ada Mbak Ratna yang terus-menerus mengusap air mata buaya dengan ujung jilbabnya, dan di depan mereka tergeletak sebuah map cokelat berisi foto-foto yang sudah disiapkan dengan licik.​Bapak Kinan, Pak subroto, duduk di sudut ruangan dengan punggung yang bungkuk, seolah beban langit baru saja jatuh menimpa pundaknya. Wajahnya yang legam karena puluhan tahun bertani kini tampak pucat pasi. Ia tidak berani menatap mata tetangga-tetangganya. Malu. Sebuah kata yang lebih mematikan daripada peluru bagi orang tua di kampung.​"Pak Subroto," suara Pak Kades memecah ke

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Suara-Suara di Kamar yang Asing

    Apartemen yang ditawarkan Bima ternyata hanyalah sebuah unit studio kecil di pinggiran kota. Dindingnya bercat putih gading yang sudah sedikit mengelupas di sudut plafon. Tidak ada perabotan mewah. Hanya ada sebuah kasur tipis tanpa dipan, satu lemari kecil yang pintunya berderit saat dibuka, dan sebuah jendela besar yang menghadap langsung ke arah rel kereta api.​Bima sudah pulang satu jam lalu setelah memastikan Kinan punya air minum dan mengunci pintu dengan benar. Kini, Kinan duduk bersila di atas kasur yang masih berbau plastik toko itu. Sunyi. Sangat sunyi sampai suara detak jam tangannya terdengar seperti dentuman palu.​Ia menatap tas pakaiannya yang tergeletak pasrah di sudut ruangan. Hanya itu yang ia punya. Beberapa potong kemeja kerja, celana kain, pakaian dalam, dan satu mukena yang warnanya sudah mulai kusam. Ia tidak membawa perhiasan, tidak membawa perabotan, bahkan ia meninggalkan foto pernikahannya yang terbingkai indah di atas nakas rumah Aris. Ia tidak butuh wajah

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Kabar Buruk yang Terlalu Tepat Waktu

    Dunia di luar rumah Aris ternyata terasa begitu asing bagi Kinan. Duduk di jok mobil Bima yang harum kayu cendana, Kinan merasa seperti narapidana yang baru saja menghirup udara bebas namun paru-parunya masih terasa penuh debu penjara. Ia menatap lututnya yang lecet, darahnya sudah mengering, meninggalkan bekas merah kecokelatan yang perih saat terkena AC mobil.​"Minum dulu, Kin. Kamu gemetaran," Bima menyodorkan sebotol air mineral yang dinginnya pas. Suaranya rendah, tidak menuntut penjelasan segera. Itu yang Kinan butuhkan—ruang untuk bernapas tanpa dihakimi.​Kinan meneguk air itu perlahan. Tenggorokannya yang tadi serasa tersumbat batu kerikil perlahan mulai melonggar. "Terima kasih, Bim. Maaf... aku berantakan sekali."​"Jangan minta maaf buat sesuatu yang bukan salahmu," jawab Bima sambil memutar kemudi, membawa mobil menjauh dari lingkungan rumah Aris. "Aku antar kamu ke tempat yang aman. Ada apartemen kecil milik kantorku yang sedang kosong. Kamu bisa tinggal di sana sementa

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Sayap yang Coba Dipatahkan

    Pagi itu, rumah terasa seperti medan perang yang baru saja ditinggalkan pasukannya. Sisa-sisa "sidang keluarga" semalam masih tertinggal dalam bentuk gelas-gelas kopi yang berkerak di meja tamu dan bau puntung rokok Pakde Mulyo yang menempel di gorden. Kinan bangun dengan perasaan hampa. Ia tidak sudi menyentuh sampah-sampah itu. Biarlah Aris atau Ibunya yang membereskannya, atau biarlah rumah itu membusuk sekalian.​Kinan duduk di meja kecil di pojok kamarnya. Ia membuka laptop, menekan tombol power, dan menunggu logo sistem muncul. Hari ini adalah tenggat waktu pengiriman laporan keuangan perusahaan garmen milik klien Maya. Nilai kontraknya cukup untuk membayar uang muka kontrakan kecil di pinggir kota. Kinan butuh uang itu. Sangat butuh.​Namun, saat ia mencoba menyambungkan koneksi ke Wi-Fi rumah, simbol sinyal di pojok layar tetap silang merah.​No Internet Connection.​Kinan mengerutkan dahi. Ia memeriksa router yang terletak di ruang tengah, tepat di bawah meja televisi. Kabeln

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Perjamuan Para Hakim

    Malam itu, mendung menggantung rendah di langit, membuat udara terasa pengap dan lembap. Kinan baru saja selesai mandi dan berniat melanjutkan pekerjaannya di laptop ketika ia mendengar suara beberapa motor dan mobil berhenti di depan rumah. Biasanya, jam segini rumah sudah sepi. Firasatnya mulai tidak enak. Suara tawa yang dipaksakan dan langkah kaki yang berat memenuhi ruang tamu.​Kinan membuka pintu kamar sedikit. Di sana, di ruang tamu yang lampunya dinyalakan semua hingga terang benderang, sudah duduk melingkar keluarga besar Aris. Ada Mbak Ratna dengan suaminya yang berperut buncit, ada Pakde mulyo—kakak tertua Bu Ratmi yang dikenal paling kolot—dan tentu saja, Aris yang duduk tertunduk di samping ibunya yang kembali memakai drama "kompres dahi".​"Kinan! Sini kamu!" teriak Mbak Ratna saat melihat bayangan Kinan di pintu kamar. Suaranya melengking, penuh otoritas yang dibuat-buat.​Kinan menarik napas panjang. Ia mengembuskan napas lewat mulut, mencoba menstabilkan detak jantun

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Jebakan Manis di Atas Luka

    Keheningan di rumah itu terasa sangat pekak. Tidak ada suara denting piring yang beradu dengan riuh, tidak ada gumam doa Kinan saat menyetrika baju di pojok ruangan. Sejak kejadian tamparan itu, Kinan benar-benar menjalankan perannya sebagai "orang asing". Ia tetap di rumah, tapi jiwanya seperti sudah pindah ke dimensi lain. Ia hanya memasak untuk dirinya sendiri, mencuci bajunya sendiri, dan menghabiskan sisa waktunya di depan laptop di dalam kamar yang pintunya selalu ia kunci dari dalam.​Aris gelisah. Ternyata, kehilangan layanan seorang istri jauh lebih menyiksa daripada kehilangan uang di dompet. Ia harus mencari kaos kakinya sendiri yang entah terselip di mana, ia harus menelan roti tawar kering karena Bu Ratmi hanya bisa menyuruh tanpa bisa memasak, dan yang paling parah, ia kehilangan akses terhadap "ketenangan" yang biasanya disediakan Kinan tanpa ia minta.​Pagi itu, Aris sengaja tidak langsung berangkat kantor. Ia duduk di meja makan, menatap Kinan yang sedang menyeduh kop

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status