공유

Harga Sebuah Pembangkangan

작가: Pena itu
last update 최신 업데이트: 2026-03-06 06:53:45

Pukul sepuluh pagi, rumah itu biasanya riuh dengan suara vacuum cleaner atau denting piring yang dicuci Kinan. Namun hari ini, suasana begitu sunyi, hanya ada suara televisi di ruang tengah yang menampilkan acara gosip pagi. Bu Ratmi duduk di sana, mengunyah kacang goreng dengan mulut terbuka, matanya sesekali melirik ke arah kamar Kinan yang tertutup rapat sejak tadi pagi.

​"Nan! Kinan!" teriak Bu Ratmi. "Ini gelas kopi Aris bekas tadi subuh belum dicuci! Lantai depan juga belum dipel, lengket kena tumpahan sirup Tiara kemarin!"

​Tidak ada jawaban.

​Bu Ratmi mendengus, bangkit dengan pinggul yang digoyang-goyangkan, lalu menggedor pintu kamar Kinan dengan punggung tangannya. "Kinan! Kamu tuli? Ibu manggil dari tadi!"

​Pintu terbuka. Kinan muncul dengan pakaian yang berbeda. Bukan daster batik yang warnanya sudah pudar di bagian ketiak, tapi kemeja putih bersih dan celana kain hitam yang pas di tubuhnya. Rambutnya disanggul rapi, wajahnya dipulas riasan tipis namun segar. Matanya tidak lagi menunduk.

​"Ibu panggil saya?" tanya Kinan datar.

​Bu Ratmi melongo. Matanya menyisir penampilan menantunya dari ujung rambut sampai kaki. "Mau ke mana kamu dandan begitu? Aris tahu kamu mau keluyuran? Terus itu kerjaan dapur siapa yang pegang?"

​"Saya ada urusan sebentar, Bu. Gelas di meja cuma satu, Ibu bisa cuci sendiri kalau memang sudah kotor. Lantai juga bisa Ibu lap pakai tisu kalau memang lengket sekali. Saya pergi dulu," ujar Kinan sambil menyampirkan tas kulit kecil di bahunya.

​"Eh! Kurang ajar ya kamu! Berani nyuruh-nyuruh mertua?!" Bu Ratmi berteriak sampai lehernya yang bergelambir terlihat merah.

​Kinan tidak menyahut. Ia berjalan melewati mertuanya begitu saja, wangi parfumnya yang elegan tertinggal di indra penciuman Bu Ratmi, membuat wanita tua itu makin naik pitam. Kinan memacu motornya menuju sebuah kafe di pusat kota. Hari ini adalah hari pertama ia bertemu dengan klien besar dari Maya untuk menyerahkan laporan keuangan yang ia kerjakan gila-gilaan tiga malam terakhir.

​Di kafe itu, Kinan merasa seperti manusia kembali. Ia diajak bicara soal proyeksi laba rugi, soal efisiensi pajak, dan soal strategi bisnis—hal-hal yang membuat otaknya bekerja, bukan soal berapa banyak garam di bubur sumsum atau bagaimana mencuci baju supaya seratnya tidak rusak.

​Saat klien itu menjabat tangannya dan memberikan amplop berisi uang muka serta ucapan terima kasih karena pekerjaannya sangat rapi, Kinan ingin menangis. Bukan karena sedih, tapi karena ia baru sadar betapa berharganya dirinya jika berada di tangan orang yang tepat.

​Dalam perjalanan pulang, Kinan berhenti di sebuah toko perhiasan. Ia tidak membeli kalung emas untuk dirinya. Ia justru mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tasnya—kalung emas pemberian ibunya yang dulu sempat dipinjam Aris untuk "modal usaha" tapi tak pernah kembali, dan malah berakhir di leher Bu Ratmi (setelah Kinan tahu Aris memberikannya pada ibunya diam-diam). Kinan tidak bisa mengambil yang itu tanpa keributan besar. Maka, ia membeli sebuah cincin perak sederhana untuk dirinya sendiri. Sebagai simbol bahwa mulai hari ini, dia adalah miliknya sendiri.

​Ia sampai di rumah pukul lima sore. Mobil Aris sudah terparkir di halaman. Kinan menarik napas panjang sebelum masuk. Ia tahu badai sudah menunggunya di balik pintu itu.

​Benar saja. Begitu kakinya menginjak ruang tamu, Aris sudah berdiri di sana dengan wajah yang menggelap. Di sampingnya, Bu Ratmi duduk sambil sesenggukan buaya, memegang sapu lidi seolah-olah ia baru saja diperlakukan seperti budak.

​"Dari mana kamu, Kinan?" suara Aris rendah, menahan ledakan.

​"Ada urusan," jawab Kinan singkat sambil berjalan menuju dapur karena tenggorokannya haus.

​"Urusan apa sampai kamu berani ngebantah Ibu? Ibu bilang kamu nyuruh dia nyuci gelas sendiri? Kamu pikir kamu siapa di rumah ini?!" Aris membuntuti Kinan ke dapur, suaranya naik beberapa oktav.

​Kinan menuangkan air ke gelas, meminumnya perlahan, lalu menatap Aris. "Aku istrimu, Ris. Bukan pembantu. Kalau Ibu cuma mau cuci satu gelas saja keberatan, ya itu urusan Ibu. Aku punya kehidupan di luar rumah ini."

​"Kehidupan apa?! Kerja? Kamu jangan mimpi ya, Kinan. Aku sudah bilang aku yang cari uang! Kamu itu nggak bisa apa-apa tanpa aku!" Aris menyambar tas kecil Kinan, membukanya dengan paksa, dan menggeledah isinya.

​"Mas! Apa-apaan sih!" Kinan mencoba merebut tasnya, tapi Aris lebih kuat.

​Aris menemukan amplop berisi uang hasil kerja Kinan tadi siang. Matanya melebar melihat tumpukan uang seratus ribuan di sana.

​"Ini apa? Dari mana kamu dapat uang sebanyak ini? Kamu jual diri?!" tuduh Aris, kalimatnya keluar begitu saja tanpa saringan.

​Plakk!

​Satu tamparan mendarat di pipi Aris. Suasana dapur seketika hening. Bu Ratmi yang tadi mengintip dari balik pintu langsung menjerit histeris. Aris memegang pipinya, matanya memerah karena kaget dan malu.

​"Jangan pernah rendahkan aku serendah itu, Aris," suara Kinan bergetar hebat karena amarah yang memuncak. "Itu uang hasil keringatku. Aku kerja laporan keuangan teman lamaku. Aku nggak minta uangmu, jadi kamu nggak punya hak untuk tanya uang itu buat apa."

​"Kamu berani nampar aku demi uang receh ini?" Aris melempar amplop itu ke lantai, uang-uang itu berhamburan. "Dengar ya, mulai besok kamu nggak boleh keluar rumah tanpa izin aku! Dan uang ini... uang ini biar Ibu yang simpan sebagai ganti rugi karena kamu sudah kurang ajar sama dia hari ini!"

​Bu Ratmi dengan sigap mendekat, hendak memunguti uang itu dengan mata yang berbinar serakah.

​"Sentuh uang itu, Bu, dan saya pastikan besok seluruh keluarga besar Ibu tahu kalau Aris membiayai sekolah internasional keponakannya pakai uang hasil nunggak listrik rumah ini," ancam Kinan dengan suara yang dingin dan tajam seperti silet.

​Bu Ratmi menghentikan tangannya yang hampir menyentuh uang di lantai. Aris tertegun, raut wajahnya berubah menjadi ketakutan. "Kamu... kamu tahu dari mana soal itu?"

​"Aku istrimu, Ris. Sekali lagi aku ingatkan. Aku bukan orang bodoh yang bisa kamu bohongi selamanya," Kinan berjongkok, memunguti uangnya sendiri dengan martabat yang masih utuh. "Mulai sekarang, aku nggak akan minta uang sepeser pun darimu untuk keperluan pribadiku. Tapi jangan harap aku akan jadi 'pelayan' yang diam saja saat diinjak-injak."

​Kinan berdiri, menatap suami dan ibu mertuanya dengan tatapan jijik yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. "Malam ini, aku mau makan di luar. Sendiri. Jangan tunggu aku."

​Kinan berjalan keluar melewati mereka. Aris ingin mengejar, tapi kakinya terasa berat. Ia melihat sosok Kinan yang berjalan tegak, punggungnya terlihat begitu kokoh, seolah-olah semua beban yang selama ini menindihnya telah ia lemparkan kembali ke arah Aris.

​Malam itu, Kinan makan di sebuah warung pinggir jalan yang ramai. Ia makan nasi goreng kambing dengan lahap, sambil sesekali mengusap cincin perak di jarinya. Ia tahu, babak ini baru saja dimulai. Aris dan Ibunya pasti akan menyusun rencana baru untuk menjatuhkannya, tapi Kinan tidak lagi takut.

​Sebab, racun yang mereka berikan selama lima tahun ini ternyata tidak membunuhnya. Racun itu justru membuatnya kebal.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Arang di Wajah Bapak

    Suasana di Desa Sukamaju yang biasanya damai, sore itu mendadak tegang. Kabar burung di kampung itu lebih cepat merambat daripada api di atas ilalang kering. Di balai pertemuan warga yang kecil, Pak Kades dan beberapa tetua duduk melingkar dengan wajah-wajah serius yang menghakimi. Di tengah-tengah mereka, duduk seorang laki-laki yang wajahnya sengaja dibuat nelangsa: Aris.​Aris datang bukan dengan tangan kosong. Di sampingnya ada Mbak Ratna yang terus-menerus mengusap air mata buaya dengan ujung jilbabnya, dan di depan mereka tergeletak sebuah map cokelat berisi foto-foto yang sudah disiapkan dengan licik.​Bapak Kinan, Pak subroto, duduk di sudut ruangan dengan punggung yang bungkuk, seolah beban langit baru saja jatuh menimpa pundaknya. Wajahnya yang legam karena puluhan tahun bertani kini tampak pucat pasi. Ia tidak berani menatap mata tetangga-tetangganya. Malu. Sebuah kata yang lebih mematikan daripada peluru bagi orang tua di kampung.​"Pak Subroto," suara Pak Kades memecah ke

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Suara-Suara di Kamar yang Asing

    Apartemen yang ditawarkan Bima ternyata hanyalah sebuah unit studio kecil di pinggiran kota. Dindingnya bercat putih gading yang sudah sedikit mengelupas di sudut plafon. Tidak ada perabotan mewah. Hanya ada sebuah kasur tipis tanpa dipan, satu lemari kecil yang pintunya berderit saat dibuka, dan sebuah jendela besar yang menghadap langsung ke arah rel kereta api.​Bima sudah pulang satu jam lalu setelah memastikan Kinan punya air minum dan mengunci pintu dengan benar. Kini, Kinan duduk bersila di atas kasur yang masih berbau plastik toko itu. Sunyi. Sangat sunyi sampai suara detak jam tangannya terdengar seperti dentuman palu.​Ia menatap tas pakaiannya yang tergeletak pasrah di sudut ruangan. Hanya itu yang ia punya. Beberapa potong kemeja kerja, celana kain, pakaian dalam, dan satu mukena yang warnanya sudah mulai kusam. Ia tidak membawa perhiasan, tidak membawa perabotan, bahkan ia meninggalkan foto pernikahannya yang terbingkai indah di atas nakas rumah Aris. Ia tidak butuh wajah

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Kabar Buruk yang Terlalu Tepat Waktu

    Dunia di luar rumah Aris ternyata terasa begitu asing bagi Kinan. Duduk di jok mobil Bima yang harum kayu cendana, Kinan merasa seperti narapidana yang baru saja menghirup udara bebas namun paru-parunya masih terasa penuh debu penjara. Ia menatap lututnya yang lecet, darahnya sudah mengering, meninggalkan bekas merah kecokelatan yang perih saat terkena AC mobil.​"Minum dulu, Kin. Kamu gemetaran," Bima menyodorkan sebotol air mineral yang dinginnya pas. Suaranya rendah, tidak menuntut penjelasan segera. Itu yang Kinan butuhkan—ruang untuk bernapas tanpa dihakimi.​Kinan meneguk air itu perlahan. Tenggorokannya yang tadi serasa tersumbat batu kerikil perlahan mulai melonggar. "Terima kasih, Bim. Maaf... aku berantakan sekali."​"Jangan minta maaf buat sesuatu yang bukan salahmu," jawab Bima sambil memutar kemudi, membawa mobil menjauh dari lingkungan rumah Aris. "Aku antar kamu ke tempat yang aman. Ada apartemen kecil milik kantorku yang sedang kosong. Kamu bisa tinggal di sana sementa

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Sayap yang Coba Dipatahkan

    Pagi itu, rumah terasa seperti medan perang yang baru saja ditinggalkan pasukannya. Sisa-sisa "sidang keluarga" semalam masih tertinggal dalam bentuk gelas-gelas kopi yang berkerak di meja tamu dan bau puntung rokok Pakde Mulyo yang menempel di gorden. Kinan bangun dengan perasaan hampa. Ia tidak sudi menyentuh sampah-sampah itu. Biarlah Aris atau Ibunya yang membereskannya, atau biarlah rumah itu membusuk sekalian.​Kinan duduk di meja kecil di pojok kamarnya. Ia membuka laptop, menekan tombol power, dan menunggu logo sistem muncul. Hari ini adalah tenggat waktu pengiriman laporan keuangan perusahaan garmen milik klien Maya. Nilai kontraknya cukup untuk membayar uang muka kontrakan kecil di pinggir kota. Kinan butuh uang itu. Sangat butuh.​Namun, saat ia mencoba menyambungkan koneksi ke Wi-Fi rumah, simbol sinyal di pojok layar tetap silang merah.​No Internet Connection.​Kinan mengerutkan dahi. Ia memeriksa router yang terletak di ruang tengah, tepat di bawah meja televisi. Kabeln

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Perjamuan Para Hakim

    Malam itu, mendung menggantung rendah di langit, membuat udara terasa pengap dan lembap. Kinan baru saja selesai mandi dan berniat melanjutkan pekerjaannya di laptop ketika ia mendengar suara beberapa motor dan mobil berhenti di depan rumah. Biasanya, jam segini rumah sudah sepi. Firasatnya mulai tidak enak. Suara tawa yang dipaksakan dan langkah kaki yang berat memenuhi ruang tamu.​Kinan membuka pintu kamar sedikit. Di sana, di ruang tamu yang lampunya dinyalakan semua hingga terang benderang, sudah duduk melingkar keluarga besar Aris. Ada Mbak Ratna dengan suaminya yang berperut buncit, ada Pakde mulyo—kakak tertua Bu Ratmi yang dikenal paling kolot—dan tentu saja, Aris yang duduk tertunduk di samping ibunya yang kembali memakai drama "kompres dahi".​"Kinan! Sini kamu!" teriak Mbak Ratna saat melihat bayangan Kinan di pintu kamar. Suaranya melengking, penuh otoritas yang dibuat-buat.​Kinan menarik napas panjang. Ia mengembuskan napas lewat mulut, mencoba menstabilkan detak jantun

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Jebakan Manis di Atas Luka

    Keheningan di rumah itu terasa sangat pekak. Tidak ada suara denting piring yang beradu dengan riuh, tidak ada gumam doa Kinan saat menyetrika baju di pojok ruangan. Sejak kejadian tamparan itu, Kinan benar-benar menjalankan perannya sebagai "orang asing". Ia tetap di rumah, tapi jiwanya seperti sudah pindah ke dimensi lain. Ia hanya memasak untuk dirinya sendiri, mencuci bajunya sendiri, dan menghabiskan sisa waktunya di depan laptop di dalam kamar yang pintunya selalu ia kunci dari dalam.​Aris gelisah. Ternyata, kehilangan layanan seorang istri jauh lebih menyiksa daripada kehilangan uang di dompet. Ia harus mencari kaos kakinya sendiri yang entah terselip di mana, ia harus menelan roti tawar kering karena Bu Ratmi hanya bisa menyuruh tanpa bisa memasak, dan yang paling parah, ia kehilangan akses terhadap "ketenangan" yang biasanya disediakan Kinan tanpa ia minta.​Pagi itu, Aris sengaja tidak langsung berangkat kantor. Ia duduk di meja makan, menatap Kinan yang sedang menyeduh kop

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status