LOGINPukul sepuluh pagi, rumah itu biasanya riuh dengan suara vacuum cleaner atau denting piring yang dicuci Kinan. Namun hari ini, suasana begitu sunyi, hanya ada suara televisi di ruang tengah yang menampilkan acara gosip pagi. Bu Ratmi duduk di sana, mengunyah kacang goreng dengan mulut terbuka, matanya sesekali melirik ke arah kamar Kinan yang tertutup rapat sejak tadi pagi.
"Nan! Kinan!" teriak Bu Ratmi. "Ini gelas kopi Aris bekas tadi subuh belum dicuci! Lantai depan juga belum dipel, lengket kena tumpahan sirup Tiara kemarin!" Tidak ada jawaban. Bu Ratmi mendengus, bangkit dengan pinggul yang digoyang-goyangkan, lalu menggedor pintu kamar Kinan dengan punggung tangannya. "Kinan! Kamu tuli? Ibu manggil dari tadi!" Pintu terbuka. Kinan muncul dengan pakaian yang berbeda. Bukan daster batik yang warnanya sudah pudar di bagian ketiak, tapi kemeja putih bersih dan celana kain hitam yang pas di tubuhnya. Rambutnya disanggul rapi, wajahnya dipulas riasan tipis namun segar. Matanya tidak lagi menunduk. "Ibu panggil saya?" tanya Kinan datar. Bu Ratmi melongo. Matanya menyisir penampilan menantunya dari ujung rambut sampai kaki. "Mau ke mana kamu dandan begitu? Aris tahu kamu mau keluyuran? Terus itu kerjaan dapur siapa yang pegang?" "Saya ada urusan sebentar, Bu. Gelas di meja cuma satu, Ibu bisa cuci sendiri kalau memang sudah kotor. Lantai juga bisa Ibu lap pakai tisu kalau memang lengket sekali. Saya pergi dulu," ujar Kinan sambil menyampirkan tas kulit kecil di bahunya. "Eh! Kurang ajar ya kamu! Berani nyuruh-nyuruh mertua?!" Bu Ratmi berteriak sampai lehernya yang bergelambir terlihat merah. Kinan tidak menyahut. Ia berjalan melewati mertuanya begitu saja, wangi parfumnya yang elegan tertinggal di indra penciuman Bu Ratmi, membuat wanita tua itu makin naik pitam. Kinan memacu motornya menuju sebuah kafe di pusat kota. Hari ini adalah hari pertama ia bertemu dengan klien besar dari Maya untuk menyerahkan laporan keuangan yang ia kerjakan gila-gilaan tiga malam terakhir. Di kafe itu, Kinan merasa seperti manusia kembali. Ia diajak bicara soal proyeksi laba rugi, soal efisiensi pajak, dan soal strategi bisnis—hal-hal yang membuat otaknya bekerja, bukan soal berapa banyak garam di bubur sumsum atau bagaimana mencuci baju supaya seratnya tidak rusak. Saat klien itu menjabat tangannya dan memberikan amplop berisi uang muka serta ucapan terima kasih karena pekerjaannya sangat rapi, Kinan ingin menangis. Bukan karena sedih, tapi karena ia baru sadar betapa berharganya dirinya jika berada di tangan orang yang tepat. Dalam perjalanan pulang, Kinan berhenti di sebuah toko perhiasan. Ia tidak membeli kalung emas untuk dirinya. Ia justru mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tasnya—kalung emas pemberian ibunya yang dulu sempat dipinjam Aris untuk "modal usaha" tapi tak pernah kembali, dan malah berakhir di leher Bu Ratmi (setelah Kinan tahu Aris memberikannya pada ibunya diam-diam). Kinan tidak bisa mengambil yang itu tanpa keributan besar. Maka, ia membeli sebuah cincin perak sederhana untuk dirinya sendiri. Sebagai simbol bahwa mulai hari ini, dia adalah miliknya sendiri. Ia sampai di rumah pukul lima sore. Mobil Aris sudah terparkir di halaman. Kinan menarik napas panjang sebelum masuk. Ia tahu badai sudah menunggunya di balik pintu itu. Benar saja. Begitu kakinya menginjak ruang tamu, Aris sudah berdiri di sana dengan wajah yang menggelap. Di sampingnya, Bu Ratmi duduk sambil sesenggukan buaya, memegang sapu lidi seolah-olah ia baru saja diperlakukan seperti budak. "Dari mana kamu, Kinan?" suara Aris rendah, menahan ledakan. "Ada urusan," jawab Kinan singkat sambil berjalan menuju dapur karena tenggorokannya haus. "Urusan apa sampai kamu berani ngebantah Ibu? Ibu bilang kamu nyuruh dia nyuci gelas sendiri? Kamu pikir kamu siapa di rumah ini?!" Aris membuntuti Kinan ke dapur, suaranya naik beberapa oktav. Kinan menuangkan air ke gelas, meminumnya perlahan, lalu menatap Aris. "Aku istrimu, Ris. Bukan pembantu. Kalau Ibu cuma mau cuci satu gelas saja keberatan, ya itu urusan Ibu. Aku punya kehidupan di luar rumah ini." "Kehidupan apa?! Kerja? Kamu jangan mimpi ya, Kinan. Aku sudah bilang aku yang cari uang! Kamu itu nggak bisa apa-apa tanpa aku!" Aris menyambar tas kecil Kinan, membukanya dengan paksa, dan menggeledah isinya. "Mas! Apa-apaan sih!" Kinan mencoba merebut tasnya, tapi Aris lebih kuat. Aris menemukan amplop berisi uang hasil kerja Kinan tadi siang. Matanya melebar melihat tumpukan uang seratus ribuan di sana. "Ini apa? Dari mana kamu dapat uang sebanyak ini? Kamu jual diri?!" tuduh Aris, kalimatnya keluar begitu saja tanpa saringan. Plakk! Satu tamparan mendarat di pipi Aris. Suasana dapur seketika hening. Bu Ratmi yang tadi mengintip dari balik pintu langsung menjerit histeris. Aris memegang pipinya, matanya memerah karena kaget dan malu. "Jangan pernah rendahkan aku serendah itu, Aris," suara Kinan bergetar hebat karena amarah yang memuncak. "Itu uang hasil keringatku. Aku kerja laporan keuangan teman lamaku. Aku nggak minta uangmu, jadi kamu nggak punya hak untuk tanya uang itu buat apa." "Kamu berani nampar aku demi uang receh ini?" Aris melempar amplop itu ke lantai, uang-uang itu berhamburan. "Dengar ya, mulai besok kamu nggak boleh keluar rumah tanpa izin aku! Dan uang ini... uang ini biar Ibu yang simpan sebagai ganti rugi karena kamu sudah kurang ajar sama dia hari ini!" Bu Ratmi dengan sigap mendekat, hendak memunguti uang itu dengan mata yang berbinar serakah. "Sentuh uang itu, Bu, dan saya pastikan besok seluruh keluarga besar Ibu tahu kalau Aris membiayai sekolah internasional keponakannya pakai uang hasil nunggak listrik rumah ini," ancam Kinan dengan suara yang dingin dan tajam seperti silet. Bu Ratmi menghentikan tangannya yang hampir menyentuh uang di lantai. Aris tertegun, raut wajahnya berubah menjadi ketakutan. "Kamu... kamu tahu dari mana soal itu?" "Aku istrimu, Ris. Sekali lagi aku ingatkan. Aku bukan orang bodoh yang bisa kamu bohongi selamanya," Kinan berjongkok, memunguti uangnya sendiri dengan martabat yang masih utuh. "Mulai sekarang, aku nggak akan minta uang sepeser pun darimu untuk keperluan pribadiku. Tapi jangan harap aku akan jadi 'pelayan' yang diam saja saat diinjak-injak." Kinan berdiri, menatap suami dan ibu mertuanya dengan tatapan jijik yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. "Malam ini, aku mau makan di luar. Sendiri. Jangan tunggu aku." Kinan berjalan keluar melewati mereka. Aris ingin mengejar, tapi kakinya terasa berat. Ia melihat sosok Kinan yang berjalan tegak, punggungnya terlihat begitu kokoh, seolah-olah semua beban yang selama ini menindihnya telah ia lemparkan kembali ke arah Aris. Malam itu, Kinan makan di sebuah warung pinggir jalan yang ramai. Ia makan nasi goreng kambing dengan lahap, sambil sesekali mengusap cincin perak di jarinya. Ia tahu, babak ini baru saja dimulai. Aris dan Ibunya pasti akan menyusun rencana baru untuk menjatuhkannya, tapi Kinan tidak lagi takut. Sebab, racun yang mereka berikan selama lima tahun ini ternyata tidak membunuhnya. Racun itu justru membuatnya kebal.Dunia ini terasa terlalu terang. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela kecil helikopter terasa seperti jarum-jarum halus yang menusuk mataku. Aku mengerjap, mencoba mengenali ruang sempit yang bergetar hebat ini. Bau avtur yang tajam dan suara deru baling-baling yang memekakkan telinga seharusnya membuatku takut, tapi anehnya, hatiku terasa kosong. Benar-benar kosong. Seperti sebuah neraca yang baru saja di-reset ke angka nol sebelum transaksi pertama dimulai.Aku menoleh ke samping. Seorang pria dengan wajah yang dipenuhi debu dan bekas luka sedang menatapku. Matanya merah, bengkak, seolah-olah ia baru saja kehilangan harta paling berharga dalam hidupnya. Ia menggenggam tanganku begitu erat, seolah jika ia melepaskannya sedikit saja, aku akan menguap menjadi udara."Nan... kamu dengar aku?" suaranya serak, bergetar di sela deru mesin.Aku menatap tangannya yang kasar, lalu menatap matanya yang memohon. Aku tahu pria ini. Bukan dengan otakku, tapi dengan sesuatu yang jauh di d
Lembah Dirgantara malam ini tidak tampak seperti tanah leluhur yang agung. Ia tampak seperti luka yang menganga di wajah Sumatera. Lampu-lampu sorot dari menara pengawas The Orchard membelah kegelapan kabut, menciptakan garis-garis cahaya yang dingin dan tajam seperti pisau bedah. Bau aspal basah bercampur dengan aroma tanah yang digali paksa menyengat hidungku. Di bawah kaki kami, tanah yang dulu menjadi tempatku berlari mengejar capung, kini tertutup oleh beton-beton raksasa fasilitas pemurnian data ilegal.Aku melangkah maju, tanganku digenggam erat oleh Fajar. Aku bisa merasakan telapak tangannya yang kasar sedikit berkeringat. Ini bukan ketakutan, ini adalah kewaspadaan seorang pelindung yang tahu bahwa ia sedang memasuki sarang naga."Nan, kalau terjadi sesuatu, jangan lihat ke belakang. Berlari saja ke arah gerbang barat," bisik Fajar tepat di telingaku.Aku hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman pahit yang kusimpan untuk diriku sendiri. Bagaimana mungkin aku bisa lari jika
Udara di dalam lorong bawah tanah itu terasa makin tipis, seolah-olah tanah Flores sendiri enggan memberikan ruang bagi rahasia yang kami bawa. Aku berlari dengan kaki yang terasa seperti dipimpin oleh memori yang bukan milikku. Di depanku, Ibu bergerak seperti bayangan—tangkas, dingin, dan asing. Aku menatap punggungnya, mencoba mencari sosok wanita yang dulu sering mengajariku cara membuat sambal terasi di dapur sempit kami di Jakarta. Namun, yang kulihat hanyalah seorang prajurit yang sedang pulang dari pengasingan."Kakek...?" suaraku akhirnya keluar, parau dan penuh penolakan. "Maksud Ibu, Kakek Ibrahim? Pria yang fotonya selalu Ibu simpan di dalam alkitab tua itu? Pria yang Ibu bilang mati sebagai pahlawan di perbatasan?"Ibu berhenti mendadak di ujung lorong yang berbatasan dengan dinding gua karang. Ia berbalik, cahaya lampu LED kecil di dinding menciptakan bayangan cekung di wajahnya yang kuyu."Pahlawan hanyalah label bagi pemenang, Kinan," suara Ibu terdengar seperti ges
Duniaku mendadak hening. Suara deru helikopter The Orchard di kejauhan, desis angin pegunungan Flores, bahkan tangis kecil Langit, semuanya seolah tersedot ke dalam sebuah lubang hitam yang hampa. Aku berdiri mematung di tepi tebing, mataku terpaku pada wanita di depanku. Ia mengenakan kain tenun ikat berwarna indigo yang kusam, rambutnya yang sudah memutih disanggul sederhana, namun sorot matanya... sorot mata itu adalah milik wanita yang dulu selalu mencium keningku sebelum tidur dan membisikkan doa-dua keberuntungan."Ibu...?" Suaraku pecah, lebih mirip bisikan orang yang sedang meracau dalam demam. "Ini tidak mungkin. Aku... aku memakamkanmu sepuluh tahun lalu. Di Karet Bivak. Aku yang menaburkan bunga di atas nisanmu setiap tahun!"Wanita itu melangkah maju. Langkahnya tenang, tidak ada keraguan, sangat berbeda dengan bayangan ibuku yang penyakitan dan lemah di ingatanku. Ia mengulurkan tangannya yang kasar—tangan seorang pekerja tanah, bukan tangan seorang ibu rumah tangga Jak
Dinginnya air sungai bawah tanah di kaki Gunung Kelimutu seolah sanggup membekukan ingatan. Perahu motor kecil yang membawa kami melaju dalam kegelapan yang pekat, hanya dibantu oleh senter kecil yang dipegang Fajar di ujung haluan. Suara gemericik air yang menghantam dinding gua terdengar seperti bisikan-bisikan masa lalu yang menuntut pertanggungjawaban. Aku duduk di tengah, memeluk Bumi dan Langit yang gemetar hebat. Tubuh mereka basah kuyup, dan di mata mereka, aku melihat ketakutan yang tidak seharusnya dimiliki oleh anak-anak sekecil itu."Nan, kita sudah keluar dari jalur utama," suara Fajar terdengar parau, tertutup oleh deru mesin motor yang sengaja ia pelankan.Aku menoleh ke belakang, ke arah lubang gua yang kini tampak seperti mata raksasa yang perlahan mengecil. Di sana, di puncak gunung yang tertutup asap, aku masih bisa melihat kilatan api. Rey masih di sana. Kakakku, yang baru saja kutemui, mungkin sedang menyerahkan nyawanya agar kami bisa mendapatkan selisih waktu
Kabut di puncak Kelimutu tidak sekadar dingin; ia memiliki berat, seolah-olah arwah para leluhur Flores sedang turun untuk menyaksikan penghakiman terakhir. Suara deru helikopter di kejauhan terdengar seperti dengung lalat pemakan bangkai yang tidak sabar. Aku berdiri membeku, memeluk Buku Besar Mawar erat di dadaku, merasakan tekstur kulitnya yang kasar beradu dengan detak jantungku yang liar. Di depanku, tiga bayangan bertopeng mawar hitam itu tampak seperti iblis yang keluar dari dasar kawah."Nan, mundur. Bawa anak-anak ke balik tebing itu!" Suara Fajar terdengar seperti gesekan aspal yang retak—keras, kering, dan penuh tekad."Dit, mereka punya senjata api..." suaraku bergetar, nyaris hilang ditelan angin gunung."Mereka tidak akan menembakmu, Nan. Mereka butuh otakmu untuk membaca buku itu. Itu kelemahan mereka," Fajar melangkah maju. Cahaya bulan yang pucat memantul di mata pisaunya. Ia tidak lagi tampak seperti nelayan Bajo yang ramah; ia kembali menjadi sosok yang dulu per







