LOGIN"Aku sedang membalas apa yang dia lakukan kepada putri kita!" Jawab Bu Anita yang tatapannya masih tertuju ke Arum yang sedang memegang pipinya yang terasa sangat panas karena tamparan yang cukup keras itu.
"Mama.. cukup. Mama tidak perlu seperti ini. Arum melakukan ini pasti karena ada alasan." Jelas pak Salim yang dimana dia lah satu-satunya orang yang menyayangi Arum seperti anaknya sendiri dan sering membela Arum didepan istri dan anaknya. "Papa.. kenapa papa masih membelanya. Dia jelas-jelas salah karena sudah menampar Desi." Seru Bu Anita yang tidak terima jika suaminya malah membela Arum. "Tante.. kenapa tante masih menyalahkan aku dalam situasi seperti ini. Aku adalah korban.. tapi Tante selalu membela desi yang jelas-jelas salah. Apakah tante tidak tahu jika saat ini Desi sedang hamil?" "Apa? Hamil?" Ucap pak Salim dan Bu Anita secara bersamaan. "Ini..." Arum memberikan alat tes kehamilan itu kepada Bu Anita Bu Anita menatap alat tes kehamilan yang menunjuk tanda positif. "Des.. ini?" Lirih Bu Anita "Ma.. maaf, aku memang hamil." Jawab Desi. Pak Salim terduduk di sisi ranjang sambil memegang dadanya yang terasa sangat sesak karena mengetahui jika Putri semata wayangnya itu sedang mengandung. Pak Salim sebelumnya juga sudah mewanti-wanti hal tersebut dan saat ini akhirnya terjadi juga jika putrinya hamil karena perbuatannya dengan Aris. "Aris sudah tau?" Tanya pak Salim kepada putrinya yang tertunduk takut. Desi menganggukkan kepalanya. "Sudah." Jawabnya dengan suara yang memelan. "Lalu? Dia akan menikahi mu kan?" Desi hanya terdiam, bahkan kini dia tidak berani menatap wajah orang tuannya yang butuh jawaban darinya. "Kenapa diam, jawab Desi!" Pak Salim meninggikan suaranya sehingga membuat Desi semakin takut melihat amarah yang tersulut di wajah pak Salim saat ini. "Mas Aris sudah tahu papa." Jawabnya dengan suara yang lirih. "Lalu? Apa yang dia katakan. Dia akan segera menikahimu kan." Perlahan Desi menggelengkan kepalanya yang membuat pak Salim mengerutkan dahinya. "Mas Aris tidak ingin menikahiku karena dia bilang jika dia masih menginginkan Arum." Jelas Desi "Apa? Dia gila! Bagaimana bisa dia tidak ingin bertanggung jawab atas kehamilan yang telah dia perbuat." Pak Salim benar-benar sangat marah ketika mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Desi. "Ini semua karena arum!" Desi menuju ke arah Arum dengan tatapan yang sangat membuat arum sedikit ingin menampar wajahnya itu. "Dia yang sudah membuat Mas Aris tidak ingin bertanggung jawab. Pasti dia juga yang sudah meracuni pikiran Mas Aris untuk tidak menikahiku karena dia sakit hati." Ucap Desi yang sepertinya sedang memfitnah Arum. "Kenapa kamu menyalahkan aku atas semua ini Desi. Ini kesalahan kamu dan Mas Aris.. aku tidak ada sangkut pautnya. Hubungan aku dan dia sudah berakhir dan sebentar lagi aku akan menikah dengan pria lain. Jadi jangan membawa aku dalam hubungan kalian lagi. Jika Mas aris tidak ingin tanggung jawab, Itu bukan kesalahanku Tapi kesalahan kamu karena sebenarnya dia tidak mencintaimu. Dia hanya mempermainkan perasaan kamu saja.. dan, dia hanya menginginkan tubuhmu." Perkataan Arum sungguh memancing emosi Desi sehingga dia kembali mengangkat tangannya untuk menampar Arum namun sayangnya, taman Desi ditahan di udara oleh Arum dan Arum menghempas kasar tangan itu. "Jangan menyentuhku apalagi menyakitiku. Seharusnya kamu berterima kasih kepadaku karena aku tidak menuntut apapun dari kamu dan Mas Aris. Sekarang nikmati perjalanan hidupmu.." setelah mengatakan itu, Arum ingin beranjak pergi. "Arum.." panggilan pak Salim membuat langkah Arum terhenti di ambang pintu. "Aku ingin keluar untuk mencari ketenangan." Jawabnya yang kemudian melanjutkan langkahnya untuk keluar dari rumah itu Karena Arum ingin mendapatkan ketenangan. Walau jam yang sudah menunjukkan pukul satu malam, tidak membuat arum takut untuk keluar dari rumah. Dia tidak tahu dan dia baru menyadari jika saat ini dia sudah berjalan cukup jauh dari kediamannya. "Ck, kenapa aku tidak membawa mobil tadi. Bodoh sekali aku!" Gerutu Arum yang masih berjalan menyusuri koridor. Beberapa saat kemudian langkah Arum terhenti ketika dia melihat halte yang ada di depannya. Ada beberapa preman di sana ya menatapnya dengan tatapan yang membuat arum menelan kasar air ludahnya. "Aku harus pergi dari sini." arum yang merasa terancam karena keberadaannya saat ini, memilih untuk membalikkan tubuhnya dan segera berjalan untuk menjauhi tempat itu namun sayangnya sepertinya para preman itu menyadari keberadaannya dan mengikuti arum dengan langkah cepat mereka. Arum mempercepat langkahnya dengan berlari namun sayangnya para preman itu pun berlari untuk mengejarnya. Arum dengan terburu-buru mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan mencoba menghubungi siapa saja yang bisa menolongnya saat itu. Entah apa yang ada di pikiran Arum saat ini sehingga dia menghubungi Alfan karena menurunnya Alfan yang bisa mendorongnya saat ini. Saat sambungan telepon itu sudah diangkat oleh Alfan tiba-tiba saja Arum tersandung dan terjatuh yang menyebabkan ponselnya terhempas dan mati. "Aakkkhh..." Teriaknya. "Ha ha ha ha Kamu mau ke mana sayang. Kenapa terburu-buru seperti itu?" Ucap salah satu preman yang semakin mendekatinya. "tidak.. jangan mendekat!" Arum terlihat sangat ketakutan dan mulai memundurkan tubuhnya yang belum sempat berdiri. "bawa dia!" perintah ketua preman itu yang membuat 3 orang preman lainnya menarik paksa Arum. "lepaskan aku.. tolong! tolong!" teriak Arum dengan sekuat tenaga namun sialnya tempat itu cukup sepi dan hanya ada beberapa mobil yang lalu lalang namun tidak perduli dengan keberadaan mereka di sana. "lepaskan aku. aku akan memberikan kalian uang, tapi lepaskan aku." dia mencoba menawar kepada para preman itu.. "jika bisa mendapat kerjanya kenapa harus memilih salah satu. lagi pula.. mana mungkin kami bisa melewati mangsa sebagus ini." ucap salah satu preman itu sembari mengusap lembut pipi Arum namun wanira itu dengan cepat menjauhkan wajahnya. "jangan jual mahal.. lebih baik kamu layani kamu dengan baik." "cuih!" entah keberanian dari mana membuat Arum meludahi wajah pria itu yang sedang berdiri didepannya. "dasar jalang!" plak! pria itu yang marah segera menampar Arum sehingga sudut bibirnya berdarah. "beraninya kau berbuat seperti ini.." "kenapa aku tidak berani dengan pria pecundang seperti kalian hah? aku rela mati dari pada aku melayani pria bejat seperti kalian semua." ujarnya dengan penuh penekanan dan pastinya membuat pria-pria itu semakin marah. "bawa dia dan kita harus memberinua pelajaran!" perintah bos preman itu. Arum pun segera di bawa paksa oleh para preman itu. meski Arum berusaha memberontak namun tenaga yang dia miliki tidak sebanding dengan tenaga pria-pria itu.Ciuman Alfan semakin liar yang membuat Arum kewalahan, namun sialnya, permainan kecil itu terhenti saat Alfan mendengan suara dering ponselnya. Dengan terpaksa Alfan segera melepaskan Arum dan mengambil ponselnya di saku celananya.Alfan mengatur nafasnya yang tersengal-sengal lalu dia menjawab telpon itu dan sedikit menjauh dari Arum. Arum segera mendudukan tubuhnya di sisi ranjang dan segera mengaitkan kacing bajunya yang sempat di lepas oleh Alfan."Sial, kenapa aku jadi terbawa suasana." Gumamnya yang mengerutu."Aku harus pergi." Ucap Alfan saat menyudahi telponnya dan menghampiri Arum."Pergi? Kemana? Ini sudah larut malam?" Alfan mengerutkan dahinya. "Kamu tidak ingin aku pergi?" Tanya Alfan dengan tatapan yang membuat Arum gugup"A-aku hanya bertanya saja." Jawabnya sembari memanglingkan wajahnya karena dia tidak ingin Alfan mengetahui kegugupannya."Ah, aku tau.. kamu ingin kita melanjutkan aktivitas kita yang tertunda tadi?"Seketika Arum mantap Alfan yang sedang menatapnya
"lepaskan dia!"Suara lantang yang berasal dari arah belakang membuat Arum dan para preman itu menoleh ke sumber suara.Mata Arum berkaca-kaca dan dia bisa bernapas lega saat melihat sosok pria yang dia kenal."Siapa pria itu?" Tanya ketua preman itu "Bos.. dia Alfan Arnold pranata." Bisik salah satu preman itu "Alfan? Siapa dia?""Bos tidak tau.. jika dia di kenal sebagai mafia kejam dan bisa membunuh siapapun tanpa senjata di tangannya. Sebaiknya kita lepaskan saja wanita ini dari pada nyawa kita melayang." Bisiknya lagi yang didengar oleh Arini."Aku tidak takut.. dan tidak perduli! Aku akan menghajarnya karena dia sudah berani menggangguku!" Ujar bos preman itu "Lepaskan dia jika kalian ingin selamat!" Alfan kini sudah berdiri didepan para preman yang sedang memegangi Arum."Aku tidak takut dengan ancamanmu.. hadapi aku dulu jika kau ingin wanita ini!" Perkataan dari bos preman itu membuat Alfan menyinggungkan senyum di sudut bibirnya lalu dia melepaskan sabuk yang melingkar d
"Aku sedang membalas apa yang dia lakukan kepada putri kita!" Jawab Bu Anita yang tatapannya masih tertuju ke Arum yang sedang memegang pipinya yang terasa sangat panas karena tamparan yang cukup keras itu."Mama.. cukup. Mama tidak perlu seperti ini. Arum melakukan ini pasti karena ada alasan." Jelas pak Salim yang dimana dia lah satu-satunya orang yang menyayangi Arum seperti anaknya sendiri dan sering membela Arum didepan istri dan anaknya."Papa.. kenapa papa masih membelanya. Dia jelas-jelas salah karena sudah menampar Desi." Seru Bu Anita yang tidak terima jika suaminya malah membela Arum."Tante.. kenapa tante masih menyalahkan aku dalam situasi seperti ini. Aku adalah korban.. tapi Tante selalu membela desi yang jelas-jelas salah. Apakah tante tidak tahu jika saat ini Desi sedang hamil?" "Apa? Hamil?" Ucap pak Salim dan Bu Anita secara bersamaan."Ini..." Arum memberikan alat tes kehamilan itu kepada Bu Anita Bu Anita menatap alat tes kehamilan yang menunjuk tanda positif. "
Setelah berada di butik yang di kelola langsung oleh Arum, mereka pun langsung melakukan fitting baju. Hanya ada beberapa revisi di setelan jas yang akan di gunakan Alfan nantinya.Setelah semuanya selesai, Arum dan Alfan memutuskan untuk makan siang."Kenapa makan disini?" Tanya Alfan saat mobil yang dikendarainya berhenti didepan sebuah rumah makan yang sederhana dan tidak terlihat mewah"Sudah.. ikut saja. Makanan disini, enak-enak." Ujar Arum yang segera menarik kasar lengan jaket AlfaSetelah masuk dan memilih untuk duduk di sebuah gazebo yang dibawahnya ada kolam ikan, mereka pun memesan beberapa menu makanan best seller yang ada di rumah makan itu."Panas sekali " Alfan membuka jaket yang dia pakai"Kenapa mengajak ku makan disini? Seperti tidak ada restoran mewah lainnya saja." Ucap Alfan"Bukan tidak enakkan berarti enak kan, jika bukan makan di restoran mewah. Lagi pula tempat ini sangat bagus dan nyaman. Sudahlah.. aku ingin makan. Jika kamu tidak suka.. kamu bisa pergi, ak
"haha haha haha."Alfan tiba-tiba saja tertawa yang membuat pak Heru mengerutkan dahinya."Papa papa... Anak papa itu bukan Aris saja.. tapi aku juga. Tapi papa kenapa selalu tidak pernah mendengarkan perkataan ku dulu.. apakah aku terlalu jahat di mata papa?" Tanya Alfan"Al, papa tidak sedang bercanda. Papa hanya ingin tau kenapa kamu merebut Arum. Mereka akan menikah seminggu lagi.. tapi kenapa kamu merebutnya?""Itu karena anak anda yang brengsek!"Ucapan seseorang membuat mereka bertiga mengalihkan atensinya kesumber suara."A-arum..." Lirih ArisArum melangkah tanpa ragu dan saat ini dia berdiri disebelah Alfan."Arum.. tarik kata-kata mu. Kenapa kau mencela calon suami mu sendiri?" Tuan Heru tentu saja tidak menyukai hinaan dari Arum."Om.. aku tidak akan menarik kata-kata ku karena anak anda yang bernama Aris ini lebih dari kata brengsek.""Arum! Berani sekali kamu" Teriak tuan Heru"Aku berkata seperti ini bukan hanya sebuah kata-kata Om melainkan sebuah bukti. Bukankah Om bi
"Arum... Katakan. Jangan menangis seperti ini." Pak Salim menggoncang tubuh Arum"Paman.. hiks hiks hiks, yang dikatakan tuan Alfan benar.." jawabnyaPak Salim dan Bu Anita benar-benar sangat syok mendengar perkataan Arum dan mereka seperti tidak percaya jika putri mereka bisa melakukan itu semua."Arum.. kamu yakin? Kamu tidak sedang berbohong atau tidak sedang bercanda kan?" Tanya Bu Anita lagi.Arum menggelengkan kepalanya dengan air mata yang masih membasahi wajah cantiknya. "Aku tidak berbohong tante.. Aku berbicara dengan jujur dan aku melihatnya dengan kedua mata kepalaku sendiri." Jelas Arum"Desi.. kenapa kamu melakukan ini semua." Lirih pak salim.Suara mobil yang memasuki perkarangan rumah itu membuat mereka semua menoleh ke arah mobil mewah yang sangat mereka kenali. Mobil itu adalah milik Aris, namun bukan Aris saja yang keluar dari mobil itu melainkan Desi. Desi sudah berlari menghampiri orang tuanya begitu juga dengan Aris yang berjalan menghampiri Arum."Papa, mama.. a