Masuk"lepaskan dia!"
Suara lantang yang berasal dari arah belakang membuat Arum dan para preman itu menoleh ke sumber suara. Mata Arum berkaca-kaca dan dia bisa bernapas lega saat melihat sosok pria yang dia kenal. "Siapa pria itu?" Tanya ketua preman itu "Bos.. dia Alfan Arnold pranata." Bisik salah satu preman itu "Alfan? Siapa dia?" "Bos tidak tau.. jika dia di kenal sebagai mafia kejam dan bisa membunuh siapapun tanpa senjata di tangannya. Sebaiknya kita lepaskan saja wanita ini dari pada nyawa kita melayang." Bisiknya lagi yang didengar oleh Arini. "Aku tidak takut.. dan tidak perduli! Aku akan menghajarnya karena dia sudah berani menggangguku!" Ujar bos preman itu "Lepaskan dia jika kalian ingin selamat!" Alfan kini sudah berdiri didepan para preman yang sedang memegangi Arum. "Aku tidak takut dengan ancamanmu.. hadapi aku dulu jika kau ingin wanita ini!" Perkataan dari bos preman itu membuat Alfan menyinggungkan senyum di sudut bibirnya lalu dia melepaskan sabuk yang melingkar di pinggangnya. "Pegang wanita ini. Aku akan mengajar pria itu." Titiah bos preman kepada anak buahnya. "Apa bos yakin akan menghadapinya?" Tanya anak buahnya yang terlihat ragu. "Tentu saja. Aku tidak takut dengannya." Jawab Bos preman itu yang setelah itu melangkah maju untuk menghadapi Alfan. Bugh bugh bugh Terjadi perkelahian di antara dua pria itu namun seperti yang diharapkan oleh Alfan dan Arum jika bus preman itu tidak ada tandingannya dibandingkan dengan Alfan. Hanya butuh beberapa menit saja Alfan mengalahkan bos preman itu yang membuat anak buahnya segera membantu bosnya yang sedang terkapar "Pergi dari sini sebelum aku menghilangkan nyawa kalian satu persatu." Tatapan Alfan yang begitu tajam membuat para preman itu segera pergi terburu-buru sambil membawa Bos preman. Setelah mereka pergi, Alfan menghampiri Arum yang hanya berdiri terdiam menatapnya. "Kamu tidak apa-apa?" Tanya Alfan sembari mengusap lembut pipi Arum. Beberapa saat terdiam Arum pun memeluk Alfan dengan sangat erat dan hangat. Terdengar Isak tangis yang membuat Alfan sadar jika wanita yang sedang memeluknya. Air mata Arum kini membuat baju Alfan basah. "Kamu menangis karena terharu?" Ucapan Alfan membuat Arum melepaskan pelukannya. "Kamu terharu karena aku menolong mu?" Sambung Alfan yang membuat Arum menepuk dada bidangnya berkali-kali. "Aku membenci mereka.. aku sangat membenci mereka." Ucap Arum sembari menangis. Alfan menahan tangan Arum yang ingin kembali memeluk dadanya lalu memperhatikan wajah Arum yang sudah berlinang air mata. Alfan menyadari jika calon istrinya itu tidak baik-baik saja. "Ada apa?" Tanyanya. Arum tidak menjawab, dia hanya bisa menangis dengan sangat kencang. "Hei.. kenapa kamu semakin manangis." "Aku benci mereka.." ujar Arum untuk yang kesekian kalinya. "Aku tidak tau siapa yang kamu maksud.. tapi ini sudah malam, ayo aku antar pulang." Alfan memegang pergelangan tangannya. "Aku tidak ingin pulang!" Jawab Arum dengan tegas. "Apa? Tidak mau pulang? Lalu kamu mau kemana." "Aku ingin pergi dan aku tidak ingin pulang. Tolong antarkan aku ke hotel.. aku ingin bermalam di sana saja." Jelas Arum. Alfan kembali memperhatikan wajah Arum. "Ikut aku..." Alfan menarik tangannya. "Kita mau kemana?" Tanya Arum yang kewalahan mengikuti langkah panjang Alfan. "Jangan banyak bicara.. bukankah kamu bilang tidak ingin pulang, jadi aku akan membawamu ke mansion." Arum seketika mengentikan langkahnya yang membuat langkah Alfan pun terhenti. "Ada apa? Kenapa malah berhenti?" Alfan menaiki satu alisnya. "Aku tidak mau!" "Kalau kamu tidak mau.. aku akan mengantarmu pulang. Bagaimana?" "Aku tidak ingin pulang!" "Jadi.. kamu harus ikut aku pulang." "Baiklah.." Arum tidak ada pilihan lain selain mengikuti Alfan untuk pulang dengannya karena untuk saat ini dia tidak ingin bertemu dengan Desi dan Bu Anita. Didalam perjalanan yang sunyi, Alfan melirik ke arah Arum yang sejak tadi pandangannya hanya tertuju kedepan. "Apa yang terjadi?" Tanya Alfan namun Arum hanya menggelengkan kepalanya. "Baiklah, jika kamu tidak ingin bilang, aku tidak masalah." Jawabnya yang kemudian melajukan kecepatan mobil mewahnya untuk segera sampai ke Mansionnya. ** "kenapa kita kesini?" tanya Arum saat Alfan membawanya masuk kekamarnya. "bukankah kamu bilang ingin istirahat. jadi... kemari lah." Alfan menghempas tubuhnya di ranjang lalu menepuk ruang kosong di sampingnya. "tidak!" "kenapa? kamu tidak ingin istirahat?" "berikan aku kamar yang lain." "kenapa? kamu tidak ingin berduaan dengan calon suami mu?" tiba-tiba saja Alfan menarik tangan Arum sehingga Arum jatuh ke atas tubuhnya. "lepaskan aku.." Arum memberontak saat Alfan memeluknya dengan erat. "tidak.. aku tidak akan melepaskan mu." jawab Alfan yang kemudian membalikan tubuh Arum dan saat ini posisi Alfan ada di atas tubuh Arum. Alfan menahan kedua tangan Arum yang di letakan di atas kepala Arum dengan satu tangannya. "apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Arum yang mulai tidak nyaman dengan posisi seperti itu. detak jantungnya berdetak tidak karuan karena tatapan dari Alfan. "apakah kamu tidak ingin bermain sebentar denganku?" "apa maksud mu?" "maksud ku seperti ini..." tiba-tiba saja Alfan mencium dan melumat bibir Arum sehingga mata wanita itu terbelalak dengan sempurna karena mendapatkan serangan mendadak. "eeemmmmpphhh..." Arum menutup rapat-rapat mulutnya agar Alfan tidak bisa dengan leluasa bermain dengan bibir ranumnya. Alfan tersenyum kecil lalu dia menggigit kecil bibir bawah Arum yang membuat wanita itu terpaksa membuka mulutnya dan Alfan pun segera memasukan lidahnya dan bermain didalam sana. Arum benar-benar sudah pasrah saat Alfan menciumnya dengan agresif dan tidak memberi celah bagi Arum untuk bernapas. beberapa saat kemudian, Alfan mulai melepaskan pegangan tangannya dan tanpa sadar ciuman Alfan kini sudah menjalar keleher putih Arum yang membuat wanita itu menggigit bibir bawahnya sambil kedua tangannya meremas seprai putih itu dengan kuat.Ciuman Alfan semakin liar yang membuat Arum kewalahan, namun sialnya, permainan kecil itu terhenti saat Alfan mendengan suara dering ponselnya. Dengan terpaksa Alfan segera melepaskan Arum dan mengambil ponselnya di saku celananya.Alfan mengatur nafasnya yang tersengal-sengal lalu dia menjawab telpon itu dan sedikit menjauh dari Arum. Arum segera mendudukan tubuhnya di sisi ranjang dan segera mengaitkan kacing bajunya yang sempat di lepas oleh Alfan."Sial, kenapa aku jadi terbawa suasana." Gumamnya yang mengerutu."Aku harus pergi." Ucap Alfan saat menyudahi telponnya dan menghampiri Arum."Pergi? Kemana? Ini sudah larut malam?" Alfan mengerutkan dahinya. "Kamu tidak ingin aku pergi?" Tanya Alfan dengan tatapan yang membuat Arum gugup"A-aku hanya bertanya saja." Jawabnya sembari memanglingkan wajahnya karena dia tidak ingin Alfan mengetahui kegugupannya."Ah, aku tau.. kamu ingin kita melanjutkan aktivitas kita yang tertunda tadi?"Seketika Arum mantap Alfan yang sedang menatapnya
"lepaskan dia!"Suara lantang yang berasal dari arah belakang membuat Arum dan para preman itu menoleh ke sumber suara.Mata Arum berkaca-kaca dan dia bisa bernapas lega saat melihat sosok pria yang dia kenal."Siapa pria itu?" Tanya ketua preman itu "Bos.. dia Alfan Arnold pranata." Bisik salah satu preman itu "Alfan? Siapa dia?""Bos tidak tau.. jika dia di kenal sebagai mafia kejam dan bisa membunuh siapapun tanpa senjata di tangannya. Sebaiknya kita lepaskan saja wanita ini dari pada nyawa kita melayang." Bisiknya lagi yang didengar oleh Arini."Aku tidak takut.. dan tidak perduli! Aku akan menghajarnya karena dia sudah berani menggangguku!" Ujar bos preman itu "Lepaskan dia jika kalian ingin selamat!" Alfan kini sudah berdiri didepan para preman yang sedang memegangi Arum."Aku tidak takut dengan ancamanmu.. hadapi aku dulu jika kau ingin wanita ini!" Perkataan dari bos preman itu membuat Alfan menyinggungkan senyum di sudut bibirnya lalu dia melepaskan sabuk yang melingkar d
"Aku sedang membalas apa yang dia lakukan kepada putri kita!" Jawab Bu Anita yang tatapannya masih tertuju ke Arum yang sedang memegang pipinya yang terasa sangat panas karena tamparan yang cukup keras itu."Mama.. cukup. Mama tidak perlu seperti ini. Arum melakukan ini pasti karena ada alasan." Jelas pak Salim yang dimana dia lah satu-satunya orang yang menyayangi Arum seperti anaknya sendiri dan sering membela Arum didepan istri dan anaknya."Papa.. kenapa papa masih membelanya. Dia jelas-jelas salah karena sudah menampar Desi." Seru Bu Anita yang tidak terima jika suaminya malah membela Arum."Tante.. kenapa tante masih menyalahkan aku dalam situasi seperti ini. Aku adalah korban.. tapi Tante selalu membela desi yang jelas-jelas salah. Apakah tante tidak tahu jika saat ini Desi sedang hamil?" "Apa? Hamil?" Ucap pak Salim dan Bu Anita secara bersamaan."Ini..." Arum memberikan alat tes kehamilan itu kepada Bu Anita Bu Anita menatap alat tes kehamilan yang menunjuk tanda positif. "
Setelah berada di butik yang di kelola langsung oleh Arum, mereka pun langsung melakukan fitting baju. Hanya ada beberapa revisi di setelan jas yang akan di gunakan Alfan nantinya.Setelah semuanya selesai, Arum dan Alfan memutuskan untuk makan siang."Kenapa makan disini?" Tanya Alfan saat mobil yang dikendarainya berhenti didepan sebuah rumah makan yang sederhana dan tidak terlihat mewah"Sudah.. ikut saja. Makanan disini, enak-enak." Ujar Arum yang segera menarik kasar lengan jaket AlfaSetelah masuk dan memilih untuk duduk di sebuah gazebo yang dibawahnya ada kolam ikan, mereka pun memesan beberapa menu makanan best seller yang ada di rumah makan itu."Panas sekali " Alfan membuka jaket yang dia pakai"Kenapa mengajak ku makan disini? Seperti tidak ada restoran mewah lainnya saja." Ucap Alfan"Bukan tidak enakkan berarti enak kan, jika bukan makan di restoran mewah. Lagi pula tempat ini sangat bagus dan nyaman. Sudahlah.. aku ingin makan. Jika kamu tidak suka.. kamu bisa pergi, ak
"haha haha haha."Alfan tiba-tiba saja tertawa yang membuat pak Heru mengerutkan dahinya."Papa papa... Anak papa itu bukan Aris saja.. tapi aku juga. Tapi papa kenapa selalu tidak pernah mendengarkan perkataan ku dulu.. apakah aku terlalu jahat di mata papa?" Tanya Alfan"Al, papa tidak sedang bercanda. Papa hanya ingin tau kenapa kamu merebut Arum. Mereka akan menikah seminggu lagi.. tapi kenapa kamu merebutnya?""Itu karena anak anda yang brengsek!"Ucapan seseorang membuat mereka bertiga mengalihkan atensinya kesumber suara."A-arum..." Lirih ArisArum melangkah tanpa ragu dan saat ini dia berdiri disebelah Alfan."Arum.. tarik kata-kata mu. Kenapa kau mencela calon suami mu sendiri?" Tuan Heru tentu saja tidak menyukai hinaan dari Arum."Om.. aku tidak akan menarik kata-kata ku karena anak anda yang bernama Aris ini lebih dari kata brengsek.""Arum! Berani sekali kamu" Teriak tuan Heru"Aku berkata seperti ini bukan hanya sebuah kata-kata Om melainkan sebuah bukti. Bukankah Om bi
"Arum... Katakan. Jangan menangis seperti ini." Pak Salim menggoncang tubuh Arum"Paman.. hiks hiks hiks, yang dikatakan tuan Alfan benar.." jawabnyaPak Salim dan Bu Anita benar-benar sangat syok mendengar perkataan Arum dan mereka seperti tidak percaya jika putri mereka bisa melakukan itu semua."Arum.. kamu yakin? Kamu tidak sedang berbohong atau tidak sedang bercanda kan?" Tanya Bu Anita lagi.Arum menggelengkan kepalanya dengan air mata yang masih membasahi wajah cantiknya. "Aku tidak berbohong tante.. Aku berbicara dengan jujur dan aku melihatnya dengan kedua mata kepalaku sendiri." Jelas Arum"Desi.. kenapa kamu melakukan ini semua." Lirih pak salim.Suara mobil yang memasuki perkarangan rumah itu membuat mereka semua menoleh ke arah mobil mewah yang sangat mereka kenali. Mobil itu adalah milik Aris, namun bukan Aris saja yang keluar dari mobil itu melainkan Desi. Desi sudah berlari menghampiri orang tuanya begitu juga dengan Aris yang berjalan menghampiri Arum."Papa, mama.. a