LOGINSetelah berada di butik yang di kelola langsung oleh Arum, mereka pun langsung melakukan fitting baju. Hanya ada beberapa revisi di setelan jas yang akan di gunakan Alfan nantinya.
Setelah semuanya selesai, Arum dan Alfan memutuskan untuk makan siang. "Kenapa makan disini?" Tanya Alfan saat mobil yang dikendarainya berhenti didepan sebuah rumah makan yang sederhana dan tidak terlihat mewah "Sudah.. ikut saja. Makanan disini, enak-enak." Ujar Arum yang segera menarik kasar lengan jaket Alfa Setelah masuk dan memilih untuk duduk di sebuah gazebo yang dibawahnya ada kolam ikan, mereka pun memesan beberapa menu makanan best seller yang ada di rumah makan itu. "Panas sekali " Alfan membuka jaket yang dia pakai "Kenapa mengajak ku makan disini? Seperti tidak ada restoran mewah lainnya saja." Ucap Alfan "Bukan tidak enakkan berarti enak kan, jika bukan makan di restoran mewah. Lagi pula tempat ini sangat bagus dan nyaman. Sudahlah.. aku ingin makan. Jika kamu tidak suka.. kamu bisa pergi, aku bisa pulang sendiri." Jelas Arum "Ck," Alfan hanya berdecak kesal saat mendengarkan perkataan calon istrinya itu. Beberapa saat kemudian, makanan-makanan itu pun satu persatu datang dan memenuhi meja bulat yang ada di hadapan mereka. "Kenapa bisa sebanyak ini?" Alfan tidak menyangka jika Arum memesan makanan yang cukup banyak. "Sudah makan saja.. aku lagi ingin makan banyak." Ucap Arum yang segera menikmati makanan itu. Alfan memperhatikan Arum yang terlihat sangat lahap memakan makanan yang dia pesan. "Kamu seperti tidak pernah makan saja.." celetuk Alfan. "Selama sebulan lebih aku selalu menjaga makan ku agar aku terlihat langsing saat pernikahan yang aku impikan.. tapi sekarang aku tidak perlu melakukannya lagi." Jelas Arum yang berkata dengan mulut penuh dengan makanan. "Aku heran dengan kalian para wanita.. sudah kurus tapi kenapa saja masih memaksakan untuk diet. Kalian tidak bersyukur dengan tubuh yang kalian punya saat ini?" Arum mengentikan aktivitas makannya saat mendengar celotehan Alfan. "Bukankah ini semua karena pria? Pria yang menginginkan jika wanitanya selalu bertubuh seksi dan tidak gendut." Ucap Arum yang melihat Alfan yang sedang menikmati makanannya "Tidak semua.." "Tidak semua.. ck, itu tidak mungkin." "Buktinya aku... Aku tidak mementingkan bentuk tubuh istriku nantinya yang terpenting dia bisa melayani aku di atas ranjang dan di keadaan apapun. Lebih tepatnya.. dia harus pandai memuaskan ku.." ujar Alfan sembari memberikan senyuman seringainya "Ck, dasar pria mesum!" Celetuk Arum "Biar saja.. bukankah itu hal yang wajar." "Ck,." Arum berdecak kesal lalu dia mengalihkan tatapannya dari Alfan dan kembali fokus dengan makanannya. Beberapa saat kemudian "Aaakkh, aku Kenyang sekali" gumam Arum sambil mengelus perutnya yang rata. "Ya sudah ayo kita pulang." Alfan berdiri dari duduknya. "Pulang?" Arum menatap bingung Alfan "Iya.. memangnya kita mau kemana lagi? Me hotel?" "Ais, dasar pria mesum!" Celetuk Arum "Semua pria seperti itu jadi jangan mendumel. Lagi pula sebentar lagi aku akan menjadi suamimu." "Benar juga yang dikatakan olehnya tapi bagaimana aku bisa mau menikah dengannya. Aku benar-benar gila. Karena patah hati aku sampai mengorbankan diriku untuk menikah dengannya." Batin Arum "Apa yang sedang kamu pikirkan? Kamu tidak mencoba untuk membatalkan pernikahan ini kan?" Tanya Alfan saat melihat Arum hanya terdiam. "Sepertinya." Gumam pelan Arum namun masih bisa didengar oleh Alfan. "Yak! Jangan berani-beraninya kau membatalkan pernikahan ini." "Itu tidak akan terjadi.. itu sama saja membuat keluargaku malu. Ya sudah ayo kita pergi dari sini" Arum pun berjalan mendahului Alfan. Di dalam perjalanan Arum dan Alfan hanya terdiam dengan pikiran mereka masing-masing karena beberapa hari lagi mereka akan melangsungkan pernikahan mereka. ** Malam harinya kediaman Arum Cekleek Arum mengalihkan atensinya ke arah pintu kamarnya yang terbuka tanpa diketuk terlebih dahulu. " Kenapa kau masuk begitu saja tanpa mengetuk lebih dulu. "Ujar Arum kepada Desi yang masuk begitu saja "Sejak kapan kamu marah aku masuk ke kamarmu." "Saja aku tahu keburukan yang selama ini kamu tutupi. " "Kamu masih marah denganku?" "Menurutmu?" "Aku pertegas di sini ya.. aku saja yang salah tapi kamu juga." Arum meletakkan ponsel yang sejak tadi dia pegang dan menatap Desi dengan tatapan tajam. "Kalian yang berbuat kenapa aku yang disalahkan? Aku di sini korban bukan kamu ataupun Aris." "Aku juga korban Arum. Aku korban karena mas Aris tidak mau tanggung jawab." "Tanggung jawab? Maksudnya?" "Aku hamil.." Desi melempar sebuah tespek ke atas ranjang Arum dan Arum segera mengambil tespek itu. "Astaga... Dia hamil. Ya Tuhan kenapa sesakit ini rasanya..." Batin Arum "Lalu?" Arum berusaha bersikap biasa saja agar menutupi rasa sedihnya. Bohong jika dia tidak bersedih dengan berita kehamilan Desi namun Arum berusaha Manahan rasa itu. "Alfan tidak ingin bertanggung jawab dan ini karena kamu " "Ck, lagi-lagi kau menyalahkan ku.. kalian yang berbuat kenapa aku yang salah. Jika Aris tidak ingin tanggung jawab, Uber dia bukan menguber ku " "Tapi ini semua karena kamu, Arum. Dia tidak akan bertanggung jawab dengan kehamilan ku karena kau masih menggodanya." Plak! Arum menampar Desi karena perkataan Desi yang tidak masuk akal baginya "Kenapa kau menampar ku, hah?" Teriak Desi sambil memegang pipinya yang terasa panas karena tamparan keras dari Arum "Perkataan mu sungguh membuat ku muak Desi. Kau bilang aku menggodanya? Apakah itu tidak terbalik? Justru kau yang menggodanya dengan tubuhmu.. kau tidak tau malu Desi! Kau murahan!" "Yak! Bagaimana bisa kau bilang aku murahan hah? Aku melakukan ini karena aku dan mas Aris saling mencintai." "Ck, aku tidak yakin. Dia hanya membutuhkan tubuh mu sebagai pelampiasan karena aku tidak bisa memberikan tubuhmu yang mahal ini kepada pria yang belum menjadi suamiku.. tapi kau memberinya. Aku tidak tau apa yang kau pikirkan Desi dan sejak kapan kau sudah mengincar Aris! Kalian berdua memang sama-sama murahan jadi kalian sangat cocok." "Cukup! Jangan menghina ku!" Teriak Desi "Ada apa ini?" Pak Salim dan Bu Anita masuk ke kamar Arum karena mendengar keributan. "Mama.. hiks.. hiks.. hiks..." Desi memeluk Bu Anita dan menangis didalam pelukan Bu Anita. "Desi, kenapa kamu menangis hm? Apa yang terjadi?" Tanya Bu Anita kepada putri kesayangannya itu. "Aku di tampar oleh Arum." Jawab Desi sambil terisak. "Apa? Kamu di tampar?" Bu Anita sungguh tidak terima saat putri kesayangannya itu di hina oleh Arum. Bu Anita melepaskan pelukannya dan berjalan menghampiri Arum. "Arum, benar kamu menampar Desi?" Tanya Bu Anita "Benar tapi aku melakukan itu karena...." Plak! Ucapan Arum terhenti saat Bu Anita menampar keras pipinya hingga memerah. Desi tersenyum puas saat mamanya menampar Arum. "Mama.. apa yang Mama lakukan?" Tanya pak salim yang terkejut saat istrinya menampar Arum.Setelah berada di butik yang di kelola langsung oleh Arum, mereka pun langsung melakukan fitting baju. Hanya ada beberapa revisi di setelan jas yang akan di gunakan Alfan nantinya.Setelah semuanya selesai, Arum dan Alfan memutuskan untuk makan siang."Kenapa makan disini?" Tanya Alfan saat mobil yang dikendarainya berhenti didepan sebuah rumah makan yang sederhana dan tidak terlihat mewah"Sudah.. ikut saja. Makanan disini, enak-enak." Ujar Arum yang segera menarik kasar lengan jaket AlfaSetelah masuk dan memilih untuk duduk di sebuah gazebo yang dibawahnya ada kolam ikan, mereka pun memesan beberapa menu makanan best seller yang ada di rumah makan itu."Panas sekali " Alfan membuka jaket yang dia pakai"Kenapa mengajak ku makan disini? Seperti tidak ada restoran mewah lainnya saja." Ucap Alfan"Bukan tidak enakkan berarti enak kan, jika bukan makan di restoran mewah. Lagi pula tempat ini sangat bagus dan nyaman. Sudahlah.. aku ingin makan. Jika kamu tidak suka.. kamu bisa pergi, ak
"haha haha haha."Alfan tiba-tiba saja tertawa yang membuat pak Heru mengerutkan dahinya."Papa papa... Anak papa itu bukan Aris saja.. tapi aku juga. Tapi papa kenapa selalu tidak pernah mendengarkan perkataan ku dulu.. apakah aku terlalu jahat di mata papa?" Tanya Alfan"Al, papa tidak sedang bercanda. Papa hanya ingin tau kenapa kamu merebut Arum. Mereka akan menikah seminggu lagi.. tapi kenapa kamu merebutnya?""Itu karena anak anda yang brengsek!"Ucapan seseorang membuat mereka bertiga mengalihkan atensinya kesumber suara."A-arum..." Lirih ArisArum melangkah tanpa ragu dan saat ini dia berdiri disebelah Alfan."Arum.. tarik kata-kata mu. Kenapa kau mencela calon suami mu sendiri?" Tuan Heru tentu saja tidak menyukai hinaan dari Arum."Om.. aku tidak akan menarik kata-kata ku karena anak anda yang bernama Aris ini lebih dari kata brengsek.""Arum! Berani sekali kamu" Teriak tuan Heru"Aku berkata seperti ini bukan hanya sebuah kata-kata Om melainkan sebuah bukti. Bukankah Om bi
"Arum... Katakan. Jangan menangis seperti ini." Pak Salim menggoncang tubuh Arum"Paman.. hiks hiks hiks, yang dikatakan tuan Alfan benar.." jawabnyaPak Salim dan Bu Anita benar-benar sangat syok mendengar perkataan Arum dan mereka seperti tidak percaya jika putri mereka bisa melakukan itu semua."Arum.. kamu yakin? Kamu tidak sedang berbohong atau tidak sedang bercanda kan?" Tanya Bu Anita lagi.Arum menggelengkan kepalanya dengan air mata yang masih membasahi wajah cantiknya. "Aku tidak berbohong tante.. Aku berbicara dengan jujur dan aku melihatnya dengan kedua mata kepalaku sendiri." Jelas Arum"Desi.. kenapa kamu melakukan ini semua." Lirih pak salim.Suara mobil yang memasuki perkarangan rumah itu membuat mereka semua menoleh ke arah mobil mewah yang sangat mereka kenali. Mobil itu adalah milik Aris, namun bukan Aris saja yang keluar dari mobil itu melainkan Desi. Desi sudah berlari menghampiri orang tuanya begitu juga dengan Aris yang berjalan menghampiri Arum."Papa, mama.. a
Arum melirik kearah Alfan yang sedang menunggu jawaban darinya. "Aku tidak mungkin menikah dengan anda! Dan itu bukan cara balas dendam." Jelas Arum"Bukan, lalu apakah harus seperti ini?"Alfan tiba-tiba saja menindih Arum dan menahan tangan Arum."Apa yang kau lakukan, hah?" Teriak Arum yang ingin memberontak namun sayangnya, tenaganya tidak ada apa-apanya bagi alfan."Dia bisa melakukan itu dengan sepupu tapi kenapa tidak denganmu.. bukankah jika kau melakukan yang sama dengan apa yang dia lakukan, pasti pria itu merasa sakit hati." Ujar Alfan yang membuat arum kembali diamSuara dalam langkah kaki semakin mendekat ke arah kamar itu dan Alfan menyadari. Alfan pun tiba-tiba saja mencium dan melumat bibir Arum. arum membulatkan matanya dengan sempurna ketika mendapat serangan menjaga."Apa yang kalian lakukan?" Teriakan dari Aris yang kini sudah berdiri di ambang pintu membuat Alfan melepaskan ciumannya namun dia masih di posisi yang sekarang yaitu di atas tubuh Arum."Tidak sopan se
"Ah.. ah.. ah.. lebih kuat mas.. lebih kuat" Rancau Desi saat tubuhnya di genjot oleh aris. Keduanya begitu menikmati permainan yang mungkin untuk kesekian kalinya mereka lakukan di apartemen pria yang bernama Aris itu."Ais... Sshh ahh sshhh..." Pria itu terus mendesah sambil terus menghujam wanita yang tidak memiliki status apapun didalam hidupnya.Desi meremas punggung lebar pria itu ketika aris yang menambah kecepatannya."Ahh ahh ah.. mas.. a-aku sudah tidak kuat." Lirih Desi sambil memejamkan matanya. Mereka sudah bermain satu jam namun sepertinya Aris belum ingin menyudahi Permainan panas itu karena dia sudah sangat merindukan tubuh wanita yang ada kungkungannya."M-mas.. ah, ah... " Desahan manja Desi membuat Aris semakin bergairah hingga dia terus saja menghujam tubuh Desi sehingga tempat tidur berdecit karena Permainan panas mereka.Saat keduanya larut dalam permainan mereka, sehingga mereka tidak menyadari jika sudah ada seorang wanita yang berdiri di ambang pintu menyaksik