MasukKarena kegencaran Widya dan Raihana menjodohkan, Fajar dan Nisha akhirnya menikah satu tahun sejak mereka berkenalan.
Sekarang pernikahan mereka sudah berjalan 7 tahun lebih sedikit. putri pertama Naffa lahir dua tahun setelah menikah yaitu saat usia Nisha 21 tahun karena saat menikah umur Nisha 19 tahun. Fajar dan Nisha berjarak tahun. Pernikahan mereka aman, tak pernah ada riak sampai hari ini.
Hari inilah dimulai semua kekisruhan. Saat Fajar bangun kesiangan karena kelelahan.
“Ayo cepat. Maaf ya Ayah terlambat,” kata Fajar pada Naffa. Mereka pun berangkat ke sekolah.
Fajar baru akan menyalakan mesin mobilnya ketika melihat sosok yang dia rindu selama satu dekade lebih.
“Apa benar dia Dhaniku?” tanya Fajar saat melihat seorang ibu muda mengantarkan gadis kecil yang berseragam sama dengan Naffa. Naffa sudah masuk kelas dari tadi saat Fajar mengantarnya sampai pintu kelas seperti biasa.
Fajar tak jadi menyalakan mesin mobil, dia menunggu sampai perempuan tersebut keluar setelah mengantar anaknya. Karena di sekolah ini tak boleh ada orang tua yang menunggu anak di kelas. Jadi perempuan itu pasti akan langsung keluar. Fajar tak sabar menunggu.
“Ah itu benar Dhani,” kata Fajar dengan deg-degan. Matanya terbelalak.
“Dhani!” sapa Fajar. Tentu saja dia langsung turun dan menghampiri perempuan itu.
“Eh Fajar!” kata Dhani. Perempuan itu juga tentu kaget menemui cinta lamanya ada di sekolah putrinya.
“Kamu mengantar anakmu?” tanya Dhani setelah berupaya meredakan degup jantungnya.
“Iya. Anakku di kelas C2,” jawab Fajar.
“Loh sama. Anakku juga di kelas C2,” jawab Dhani.
“Masa sih? Aku tiap hari lho nganterin dia. Koq aku enggak pernah ketemu?” tanya Fajar.
“Aku Zahran nganterin. Kadang kakaknya, kadang siapalah, pokoknya yang sempat saja,” jawab Dhani, seakan anak bukan fokus utama buatnya. Tak seperti Nisha.
“Bagaimana kalau kita ngobrol dulu? Sudah lama loh kita nggak ketemu,” ungkap Fajar. Bagaimana tidak lama? Mereka sudah tak bertemu hampir tahun.
“Eh. Tapi kamu mau kerja ya? Atau Bagaimana?” kata Fajar serba salah. Takut Dhani terlambat masuk kerja.
“Santai saja. Bisa kok kita ngobrol. Ayo mau di mana?” kata Dhani tak ada rasa keraguan atau takut terlambat atau bagaimana.
“Ayo naik mobilku atau kamu bawa kendaraan?” tanya Fajar.
“Aku nggak bawa kendaraan. Rumahku di belakang sini, tak jauh tapi juga tidak dekat. Jadi aku biasa jalan kaki lewat gang kecil di samping sekolah, atau naik becak kalau mau lewat jalan raya,” kata Dhani.
“Mau ngobrol di rumahmu saja bisa?” tanya Fajar. Dia ingin tahu rumah tinggal bidadarinya itu.
“Bisa kalau mau ngobrol di rumahku,” jawab Dhani ramah. Tentu saja Fajar tidak membuang kesempatan.
“Jadi kita naik mobil atau jalan kaki?” tanya Fajar.
“Kalau kamu mau kita lewat gang sebelah ini, kita jalan kaki. Tapi kalau kamu mau muter lewat jalan besar bisa, kita naik mobil,” jawab Dhani.
“Kalau begitu muter saja ya. Biar aku nanti langsung ke kantor,” ucap Fajar.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Mereka pun langsung menuju rumahnya Dhani.
pada pertemuan itu Fajar langsung tahu suami Dhani sudah meninggal satu tahun lalu dia tidak meninggalkan harta apa pun selain toko sembako di pasar yang dikelola oleh Dhani sebelum suaminya meninggal.Ternyata Dhani hanya istri kedua dan tidak mendapat nafkah apa pun. Orang tua Dhani kecewa karena setelah diperistri. Dhani dibuat mesin tetas. Istri pertamanya tak bisa punya anak. Jadi tiap tahun Dhani diharuskan punya anak. Sampai lahirlah 5 anak dalam 9 tahun pernikahan mereka. Benar-benar sangat dempet dan sedihnya istri tuanya tak mau mengurus anak-anak. Semua beban ada pada Dhani. Ketika suaminya meninggal semua harta diambil istri tuanya, karena Dhani tidak terdaftar sebagai istri.
Tentu saja Fajar yang sangat mencintai Dhani langsung trenyuh melihat nasib pujaan hatinya itu.
“Jadi rumah ini kalau pagi kosong?” tanya Fajar.
“Pagi kosong. Anak-anak sekolah. Adik Menik ada seorang yaitu Puspa di rumah ibuku. Yang di sini empat anakku. Hanum, Sekar, Rizki dan Menik. Puspa belum sekolah. Jadi kalau aku kerja tak ada yang menemani.”
“Oh begitu? Kalau begitu aku pulang dulu ya sampai bertemu besok,” ucap Fajar. Mereka telah bertukar nomor telepon.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
‘Kamu sudah makan Jar? Kalau belum sini ke warung aku. Kita makan bersama seperti di kantin dulu,’ siangnya tak disangka Fajar mendapat pesan dari nomor Dhani. Dhani mencoba menawarkan makan bersama seperti ketika mereka SMA. Seakan Dhani ingin mengulang kisah manis mereka dulu.
Fajar tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Dia langsung meluncur dari kantornya menuju pasar tempat Dhani jualan. Mereka pun ngobrol dan makan siang bersama.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Satu minggu mereka selalu makan siang bersama dan di minggu kedua sepulang mengantar Menik dan Naffa saat itu hujan. Fajar mengantar Dhani pulang dulu karena dia mau ke toko tapi sudah basah bajunya.
“Kamu minum kopi dan bajumu juga basah loh itu. Aku setrika dulu yuk,” kata Dhani. Tentu saja Fajar tak menolak. Dia membuka kemejanya. Dhani saat itu sudah basah kuyup. Bajunya lekat menunjukkan lekuk tubuhnya membuat Fajar salah tingkah. Tak dipandang rugi, dipandang menggoda iman. Dhani langsung ganti baju.
“Ini kamu minum kopinya dulu, aku setrika bajumu.” Dhani mengambil kemeja basah Fajar untuk dia setrika. Setelah bajunya selesai disetrika Dhani mengantarkan kemeja Fajar.
“Ini pakai,” kata Dhani. Dia langsung memasukkan tangan Fajar di kemeja yang habis dia setrika.
Fajar merasa aneh dipakaikan baju oleh perempuan yang bukan istrinya. Dia pun diam saja, Dhani terus memakaikan kemeja dan mulai mengancingkan kemeja tersebut. Fajar tak tahan lagi melihat wajah Dhani ada di depannya. Tangan Dhani yang sedang mengancingi kemeja langsung Fajar pegang. Ditatapnya wajah Dhani. Dhani pun balas menatap mata Fajar.
Tak tahu siapa yang memulai bibir mereka telah bersatu, Dhani mengusap lembut dad4 bidang Fajar. Akhirnya dengan kesadaran penuh kemeja Fajar kembali dibuka, Dhani juga yang membukakan sabuk celananya Fajar. Dhani langsung melakukan makan ice cream di hari hujan itu. Membuat Fajar merasakan sensasi yang berbeda sebelum masuk pertempuran sebenarnya.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Sejak itu setiap pagi mereka melakukan hal yang seharusnya bukan untuk mereka reguk. Mereka berpacu setiap pagi. Habis itu baru Fajar akan mengantarkan Dhani ke tokonya dan Fajar langsung ke kantornya setelah mendapat vitamin dari Dhani.
Hanya dua minggu sejak bertemu kembali Fajar dan Dhani sudah langsung tancap gas sampai 5 bulan kemudian.
“Masa kita begini terus sih?” rajuk Dhani. Saat itu mereka masih naked. Masih saling usap. Tentu saja itu membuat mereka kembali berga-irah dan melakukan ronde kedua.
“Terus maunya bagaimana?” kata Fajar sambil memompa lambat.
“Paling nggak nikahin aku lah. Biar semua orang tahu kamu itu suamiku. Jadi aku nggak jadi bahan omongan di sekitar sini,” jawab Dhani sambil membantu memompa dari bawah.
“Alhamdulillah,” ucap semua yang hadir saat itu. Pengajian empat bulan kehamilan Nisha yang berlangsung dengan sangat mewah dan megah sudah selesai semua tamu juga sudah diberi tanda kenang-kenangan.“Bapak, Ibu dan Saudara para hadirin yang terhormat,” kata seorang artis lokal yang menjadi MC di acara pengajian tersebut.“Alhamdulillah acara pengajian yang dilakukan oleh bapak Yaka dan ibu Nisha telah berhasil kita selesaikan dengan sangat lancar. Kali ini kita akan sampai pada acara berikut yaitu acara yang kita sebut GENDER REVEAL, yaitu suatu acara yang diadopsi dari kebudayaan Barat tentang memberitahu atau mengumumkan jenis kelamin dari bayi yang dikandung oleh ibu Nisha,” para tamu tak mengira ada acara tambahan ini. Mereka kira tinggal menonton hiburan dari artis lokal saja.
Nisha hanya mendengarkan apa yang suaminya katakan pada Naffa melalui telepon saat Ujang berada di sekolah putrinya. Tak bisa dia bayangkan apa Fajar akan sebijaksana itu mendidik Naffa? Gadis kecil berusia sembilan tahun itu menuruti semua nasihat Yaka sang pujaan hati.Dengan mengangkat daada dia datang ke rumah duka. Tak ada takut, tak ada gentar.“Assalamu’alaykum Kek, Aku adalah wakil dari mommy dan daddy yang saat ini tidak bisa hadir, karena adik Zahran sakit panas sehingga mommy terlalu lelah untuk perjalanan jauh.”“Terima kasih ya Sayang. Kamu mau datang ke rumah enin,” kata Umar.Selesai salim pada beberapa tetua di sana, Naffa duduk di sebelah jenazah neneknya. Di seberangnya duduk Fajar. Naffa sendirian tidak bersama Ujang. Ujang hanya memantau saja karena sejak tadi Fajar sudah di ultimatum oleh Lastyanto jangan pernah dekati Naffa bila tak ingin dihajar oleh Yaka dan Ujang.Naffa membaca ay
“Ikuti saran imammu! kamu tidak boleh membantah,” kata Lastyanto pada Nisha saat putrinya ingin ikut ke Banten. Barusan Raihana diberitahu oleh pembantu rumah tangga Widya yang mengatakan mereka menemukan Widya pingsan di kamarnya dan ada beberapa amplop di meja kamarnya. Tapi mereka bilang mereka tidak akan pegang amplop-amplop itu. Sekarang Widya sedang dibawa ke rumah sakit. Itu yang Raihana terima.“Kamu di rumah saja Mom. Tidak baik buat kondisi emosi. Biar Daddy saja yang berangkat. Daddy akan mewakili kamu sebagai mantan menantunya. Kalau ada yang mengatakan bahwa kamu tidak peduli sama dia, Daddy yang akan pasang badan untuk kamu. Bukan kamu tidak mau berangkat, tapi kamu tidak boleh berangkat. Daddy nggak mau emosi merusak kamu sedang hamil. Bukan karena dia anak aku tapi memangibu hamil siapa pun jangan sampai terlalu stres. tidak baik buat kehamilanmu.”≈≈≈≈≈
Malam Nisha sudah memberitahu pada Naffa dan Zahran bahwa besok pagi jam 09.00 akan pengajian di Sarawak untuk calon adik mereka, jadi Nisha dan Yaka tidak mau anak-anak tidak siap. Kalau mereka mau duduk manis, duduk. Tapi kalau tidak, mereka tidak boleh ribut karena pengajian akan cukup lama minimal dua jam dan yang tak disangka oleh Yaka adalah mertuanya datang untuk menghormati pengajian yang dilakukan oleh ibunya.Sejak kemarin Lastyanto dan Raihana memang datang. Mereka tentu saja senang dan menghargai ucap syukur Ibu Dzakiyah atas kehamilan Nisha dan mengadakan pengajian di sana.Semalam Nisha sudah mengatakan pada Raihana acara pengajian empat bulan akan diadakan di Banten dan dia minta undangannya dibuat lebih banyak dari pengajian biasa karena Yaka mau pengajiannya itu pengajian akbar.Sehabis itu tidak ada acara lagi sampai kelahiran. Itu yang keluarga Yaka lakukan sejak kehamilan pertama Naura. Jadi tidak ada pengajian seperti kalau di Jawa ada acara mitoni atau nujuh bul
“Nggak bisa Bu, kali ini aku akan menentang Ibu, Ibu bikin saja lalu nanti aku dan Shasi juga anak-anak akan hadir melalui live streaming.Kami akan menerima ucapan doa dari semua yang hadir melalui live streaming.”“Kali ini aku nggak akan membiarkan Shasi terbang. Mungkin kalau dia akan tidak enak sama Ibu, jadi dia akan mengiyakan saat Ibu bilang akan mengadakan pengajian syukuran kehamilan. Tapi aku tidak. Jadi sekarang kita permudah saja semuanya.”“Aku hadir secara live streamingdengan anak-anak. Aku dan Shasi akan duduk manis sejak pengajian dibuka sampai pengajian selesai. Kami akan datang dalam bentuk visual,” kata Yaka tegas. Dia tak ingin Shasi merasa tak enak diri pada ibu mertuanya dan mengiyakan akan terbang ke Sarawak.Dzakiyah memang langsung bilang akan mengadakan pengajian syukur bahwa diberitahu kalau Nisha mulai hamil.“Dan ingat, nanti acara pengajian empat
“Daddy kenapa?” tanya Naffa yang sekarang sudah duduk di kelas dua SD. Dia sekolah di sekolah internasional school di Jakarta. Begitu pun Zahran sekolah di internasional school sama dengan kakaknya.Naffamelihat daddy-nya sangat pucat dan keluar keringat dingin.“Entah Teh. Kok Daddy pusing banget ya,” keluh Yaka.Naffa langsung mengambil ponsel di tasnya, dia sudah mempunyai ponsel dan memang diwajibkan punya ponsel buat anak di sekolah internasional. Tapi ponsel nanti dikumpulkan di ruang penyimpanan saat jam pelajaran. Ponsel sangat dibutuhkan oleh seorang anak untuk menghubungi keluarganya atau orang yang menjaga bila butuh sesuatu atau minta antar jemput diluar jadwal yang biasa.“Kenapa Sayang?” kata Nisha yang baru akan bersiap berangkat ke kantor. Sesuai kebiasaan Nisha berangkat bila semua anak sudah berangkat sekolah. Sarapan dan makan malam masih hasil masakan Nisha. Tak boleh ada yang berubah kalau hal
Fajar kaget mendengar dugaan sang mamah. Ya, dia dan Dhani belum mencetak foto pernikahan untuk dipasang di dinding. Dari mana Menik mendapatkan semua itu? Dan mengapa Menik sengaja memperlihatkan semua langsung pada Naffa, bukan pamer pada teman lain atau gurunya?Dan Fajar membenarkan, f
“Fajar?” sapa seorang ibu muda, Fajar ingat dua hari lalu dia baru bertemu dengan dua orang sahabatnya ketika SMA. Pertemuan dua hari lalu itu membuatnya sangat menyesal menikah dengan Dhani. Tapi begitu mengingat Dhani, semua info tentang apa pun langsung sirna dan dia langsung tak bisa berkutik d
“Tapi kan kamu tahu. Status aku. Punya anak istri. Nggak mungkin aku tidur malam di sini. Pasti nanti istriku curiga,” ucap Fajar mulai tancap gas. Fajar mempercepat memacu senapannya.“Iya, tapi kan, tapi kan,” kata Dhani tak tahu harus bicara apa. Konsentrasinya bukan ke pokok pembicaraan mereka.
“Kamu jangan asal ngomong!” bentak Ambu. Dia tak ingin anaknya lancang terhadap imamnya.“Dengarkan saya bicara dulu. Nanti Ambu sama Mamah boleh marah atau mau usir saya saya nggak apa-apa,” kata Nisha berupaya mengatur emosinya.Widya pun berupaya menekan emosinya. Dia juga ingin marah pada menan







