بيت / Romansa / MAHLIGAI DOSA / Chapter 13. Badai Di Atas Khatulistiwa

مشاركة

Chapter 13. Badai Di Atas Khatulistiwa

مؤلف: Dewa Amour
last update تاريخ النشر: 2026-08-20 19:18:01

Gemuruh mesin Airbus A320 membelah kesunyian landasan pacu Bandara Soekarno-Hatta saat fajar menyingsing.

Di dalam kokpit, Devran Mahendra menarik tuas kendali dengan presisi yang sempurna, membiarkan tubuh pesawat yang kokoh itu menanjak membelah awan menuju langit Kalimantan.

Di balik seragam pilotnya, jantung Devran berdegup dengan irama yang tak biasa-bukan karena takut akan ketinggian, melainkan karena ia tahu, hanya beberapa meter di belakang dinding kokpit ini, Karina sedang melangkah anggun melayani penumpang.

Di kabin, Karina dan Ririn bergerak dengan sigap. Senyum profesional terpasang di wajah mereka, menyamarkan badai batin yang sedang berkecamuk.

"Makasih, Kakak Cantik."

"Sama-sama, Sayang."

Karina tersenyum lembut menanggapi. Ia baru saja menyerahkan segelas air kepada seorang anak kecil saat ia merasakan getaran halus di bawah kakinya.

Pikirannya melayang sejenak pada wajah Devran di kantin tadi pagi, namun ia segera menepisnya. Ia harus fokus. Ia harus bertahan hidup demi membayar tagihan-tagihan yang ditinggalkan keluarga Ferdi.

Sementara itu, di lantai teratas gedung Group Masayu yang megah, Renata berdiri mematung di depan jendela kaca raksasa. Asap rokok dari bibirnya mengepul tipis, mengaburkan pemandangan Jakarta yang mulai macet di bawah sana.

Pikirannya terasa kacau, terbakar oleh rasa tidak puas yang terus menggerogoti jiwanya. Ucapan Welas tentang Devran yang tampak "segar" dan sindiran Hengki tentang "wanita lain" terus berputar seperti kaset rusak di telinganya.

"Anjing! Gue nggak akan pernah kasih lo celah untuk bahagia, Devran," desis Renata, suaranya parau namun penuh racun. Ia menghisap rokoknya dalam-dalam. "Lo nggak akan pernah merasakan sentuhan wanita mana pun selama gue masih napas. Itu sumpah gue."

Baginya, Devran bukan hanya suami; Devran adalah monumen hidup dari dendam ibunya yang harus ia hancurkan berkali-kali setiap hari.

.......................................

Satu jam penerbangan berlalu dengan tenang, namun ketenangan itu hanyalah jebakan alam.

Saat pesawat memasuki wilayah udara Kalimantan, langit yang semula biru jernih mendadak berubah menjadi abu-abu pekat yang menyeramkan. Awan kumulonimbus raksasa berdiri tegak di depan mata Devran bagaikan raksasa hitam yang siap menelan apa saja.

"Jakarta Control, ini Airbus A320, kami menghadapi cuaca buruk di koordinat lima-tujuh. Mohon izin naik ke ketinggian tiga-delapan ribu kaki," suara Devran terdengar tenang namun tegas, meski tangannya mulai merasakan guncangan hebat pada kendali pesawat.

Tiba-tiba, petir menyambar di sisi kiri pesawat, diikuti oleh dentuman guntur yang menggetarkan seluruh badan besi itu. Pesawat mendadak oleng, terhempas oleh hantaman wind shear-badai angin yang mematikan.

"Ada apa ini?"

"Mama!"

Di kabin, teriakan para penumpang pecah seketika. Barang-barang di dapur pesawat berhamburan, botol-botol pecah, dan lampu kabin berkedip-kedip tak keruan.

"Semua penumpang, mohon kembali ke kursi dan kencangkan sabuk pengaman Anda sekarang juga!" teriak Ririn melalui pengeras suara, suaranya bergetar menahan panik.

Karina berpegangan erat pada salah satu kursi penumpang saat pesawat menukik tajam secara mendadak. Ia melihat wajah-wajah ketakutan, anak-anak yang menangis histeris, dan orang tua yang mulai merapal doa.

Di tengah kekacauan itu, pikiran Karina hanya tertuju pada satu orang: Devran. Apa yang terjadi di depan sana? 'Kapten, tolong selamatkan kami.'

..............................

Di kantor pusat, Renata sedang memaki Pingkan karena laporan keuangan yang tidak sinkron. "Saya nggak mau tau! Kenapa ada dana keluar tanpa persetujuan saya?! Kamu kerja atau cuma mau makan gaji buta?!"

Pingkan hanya menunduk ketakutan. Ia tahu dana itu dialirkan secara diam-diam oleh Hengki, namun ia terlalu takut untuk bersuara. Di tengah kemarahan Renata yang meledak, telepon di atas meja berdering nyaring. Renata mengangkatnya dengan kasar.

"Ya?!"

Sedetik kemudian, rahang Renata jatuh. Rokok di tangannya terlepas, jatuh membakar karpet mahal di bawah kakinya. Wajahnya yang semula merah padam karena marah, kini berubah pucat pasi.

"Apa? Pesawat... jatuh?"

Renata terhuyung. Ia segera berteriak memanggil semua staf keamanan dan manajer operasional.

Ego dan dendamnya sejenak tersisih oleh kepanikan yang luar biasa-bukan karena ia mencemaskan Devran, tapi karena ia tidak rela kehilangan objek penderitaannya dengan cara yang tidak ia kendalikan. Dan membayangkan kerugian besar di depan mata karena jatuhnya pesawat.

................................

Di sebuah hotel butik di pusat kota, Hengki sama sekali tidak peduli pada dunia luar. Di tengah remang cahaya sore yang masuk melalui tirai, ia sedang terengah-engah melakukan adegan panas dengan seorang wanita bayaran di tengah ranjang.

"Oh ... terus, Sayang..."

Ponselnya yang tergeletak di meja nakas berdering berkali-kali-nama Renata berkedip di layar-namun Hengki mengabaikannya.

"Aaah... Aaahh..."

Ia sedang sibuk mengejar kenikmatan fana, sama sekali tidak menyadari bahwa kerajaan yang ingin ia kuasai sedang berada di ambang kehancuran.

"Bangsat! Lagi ngapain si Hengki? Lagi genting gini malah nggak bisa dihubungi."

Renata mengerang kesal saat panggilannya kembali dialihkan ke kotak suara. Ia segera meninggalkan kantor, memerintahkan jet pribadi perusahaan disiapkan untuk terbang menuju lokasi koordinat terakhir pesawat Devran.

Namun di atas langit Kalimantan, harapan itu semakin menipis.

"Mesin kiri mati! Left engine flameout!" teriak Devran di kokpit. Ia berjuang sekuat tenaga, keringat dingin membasahi seragamnya.

Ia mencoba melakukan restart mesin, namun sistem kelistrikan pesawat mulai gagal satu per satu. Pesawat menukik tajam, gravitasi seolah menarik mereka dengan kekuatan raksasa menuju bumi.

"Semua awak dan penumpang, kenakan pelampung! Posisi brace! Kita akan melakukan pendaratan darurat di air!"

Suara Devran bergema melalui interkom, terdengar parau dan penuh keputusasaan.

Di kabin, kekacauan berada di puncaknya. Masker oksigen jatuh dari langit-langit. Semua orang menjerit panik.

"Aragh!"

Karina terlempar ke posisi miring saat pesawat miring empat puluh lima derajat. Dengan sisa tenaga, ia merangkak, mencoba menggapai pintu kokpit.

"Kapten..."

Ia tidak tahu mengapa, namun di saat terakhir ini, ia merasa harus berada di dekat laki-laki itu.

'Ya Tuhan... lindungi kami...'

Devran memejamkan mata sesaat ketika mesin kanan menyusul mati. Keheningan yang mengerikan menyergap kokpit, hanya suara angin yang menderu di luar kaca jendela.

Di bawah sana, hutan hijau Kalimantan yang lebat segera berganti menjadi permukaan laut yang kelam dan bergejolak.

"Karina..." bisik Devran pelan, nama itu menjadi kata terakhir yang keluar dari bibirnya sebelum hantaman dahsyat terjadi.

BOOM!

Pesawat menghantam permukaan air dengan kecepatan ratusan kilometer per jam. Suara logam yang robek dan kaca yang pecah memenuhi indra pendengaran.

Air laut yang dingin segera menyerbu masuk, menenggelamkan kabin dalam hitungan detik.

Kegelapan menyelimuti segalanya saat badan pesawat yang megah itu mulai terpecah, tenggelam perlahan ke dalam rahim laut yang tak berujung, membawa serta semua mimpi, dosa, dan rahasia yang tersisa di dalamnya.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 15. Terdampar Di Pulau Terpencil

    Malam kian melarut, namun kegelapan di pesisir Kalimantan ini terasa lebih pekat dari biasanya, seolah-olah ia adalah entitas hidup yang siap menelan siapa saja yang terjebak di dalamnya.Di bawah pendar bintang yang samar, Devran bersandar pada sebuah batu karang besar yang dingin. Wajahnya yang biasanya tegas dan berwibawa kini pucat pasi, peluh dingin membanjiri keningnya.Kaki kirinya robek cukup dalam akibat serpihan logam pesawat, darah merembes keluar membasahi kain seragamnya yang compang-camping.Karina berdiri beberapa langkah di depannya, menatap hamparan laut yang hitam dan hutan lebat yang membentang di belakang mereka bagaikan barisan raksasa yang mengintimidasi.Angin laut berhembus kencang, membawa aroma garam dan firasat buruk. Tiba-tiba, dari kedalaman hutan, terdengar suara lolongan yang panjang dan menyayat-lolongan anjing hutan yang saling bersahutan.Karina merinding. Bulu kuduknya berdiri tegak. Ia tahu mereka tidak bisa terus berada di alam terbuka ini. "Kapten

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 14. Jatuhnya Airbus A380

    Sunyi yang mematikan menyelimuti kedalaman perairan Kalimantan. Bangkai logam raksasa itu kini beristirahat di dasar laut yang gelap, dikelilingi oleh gelembung-gelembung udara terakhir yang lolos dari kabin yang terendam.Di dalam sana, tak ada pergerakan. Hanya ada tubuh-tubuh yang terombang-ambing pelan mengikuti arus bawah laut, terperangkap dalam sabuk pengaman yang kini menjadi jerat maut.Di atas permukaan, pemandangannya berbanding terbalik. Deru baling-baling helikopter membelah langit yang mendung. Dari balik kacamata hitam Renata Masayu menatap keluar jendela helikopter dengan tatapan yang sulit diartikan.Begitu helikopter mendarat di area darurat yang didirikan di tepi pantai, pemandangan dramatis langsung menyambutnya. Garis pantai Kalimantan yang biasanya tenang kini berubah menjadi medan perang.Puluhan mobil polisi dengan lampu strobo yang berkedip biru-merah memenuhi pelataran. Sepuluh ambulans berderet rapi, mesinnya tetap menyala, siap melesat kapan saja.Tim penye

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 13. Badai Di Atas Khatulistiwa

    Gemuruh mesin Airbus A320 membelah kesunyian landasan pacu Bandara Soekarno-Hatta saat fajar menyingsing. Di dalam kokpit, Devran Mahendra menarik tuas kendali dengan presisi yang sempurna, membiarkan tubuh pesawat yang kokoh itu menanjak membelah awan menuju langit Kalimantan.Di balik seragam pilotnya, jantung Devran berdegup dengan irama yang tak biasa-bukan karena takut akan ketinggian, melainkan karena ia tahu, hanya beberapa meter di belakang dinding kokpit ini, Karina sedang melangkah anggun melayani penumpang.Di kabin, Karina dan Ririn bergerak dengan sigap. Senyum profesional terpasang di wajah mereka, menyamarkan badai batin yang sedang berkecamuk."Makasih, Kakak Cantik.""Sama-sama, Sayang."Karina tersenyum lembut menanggapi. Ia baru saja menyerahkan segelas air kepada seorang anak kecil saat ia merasakan getaran halus di bawah kakinya.Pikirannya melayang sejenak pada wajah Devran di kantin tadi pagi, namun ia segera menepisnya. Ia harus fokus. Ia harus bertahan hidup

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 12. Hati Yang Rapuh

    Fajar belum benar-benar pecah di ufuk timur Jakarta, namun penthouse mewah itu sudah menyimpan ketegangan yang sunyi. Di dalam kamarnya, Devran Mahendra berdiri di depan cermin, merapikan seragam pilotnya dengan ketelitian yang tidak biasa.Satu pekan telah berlalu sejak penerbangan ke Bali yang melelahkan secara mental, dan hari ini adalah hari yang paling ia nantikan. Namanya bersanding dengan nama Karina dalam daftar kru penerbangan menuju Kalimantan.Semalam, Devran melakukan sesuatu yang jarang ia lakukan; ia tidur sangat awal. Ia menyumbat telinganya rapat-rapat dengan earphone, memutar musik klasik dengan volume tinggi hanya untuk membentengi diri dari suara-suara laknat-desahan dan tawa Renata bersama Hengki yang menggema dari kamar sebelah.Ia ingin bangun dengan wajah segar, tanpa kantung mata yang menghitam akibat frustrasi. Ia ingin terlihat sempurna saat mata Karina menatapnya nanti.Di ruang makan, Welas dan Bi Irah saling lirik dengan senyum kecil. Mereka menyadari peru

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 11. Risiko Seorang Pramugari

    Awan-awan putih berarak di bawah sayap Airbus A320, menghampar bagaikan permadani perak yang tak berujung. Di dalam kokpit yang hanya diterangi oleh pendar instrumen digital, Devran duduk seorang diri. Kesunyian di ketinggian 35.000 kaki itu biasanya menjadi meditasi baginya, namun kali ini, kesunyian itu justru terasa menyesakkan. Pikirannya melayang, menjauh dari tuas kendali, menembus memori tentang raut wajah Karina.Ia teringat kali pertama melihat wanita itu-seorang pramugari baru dengan binar mata penuh harapan yang kini mulai meredup akibat kerasnya hidup. Ia teringat pertemuan tak terduga di mall dua hari lalu, saat Karina tampak begitu rapuh di bawah langit Jakarta yang mendung. Tanpa ia sadari, ada rasa rindu yang merayap halus, sebuah perasaan asing yang selama tiga tahun ini terkubur di bawah tumpukan kebencian dan tekanan Renata."Kopi, Kapten?"Suara itu memecah lamunan Devran. Jantungnya sempat melonjak kecil, ada secercah harapan konyol bahwa suara lembut itu mili

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 10. Obsesi Sang Kapten

    Pagi menyapa Jakarta dengan langit kelabu yang menggantung rendah, seolah turut merasakan beban yang menindih bahu Devran Mahendra. Di depan cermin setinggi langit-langit kamarnya yang mewah, Devran berdiri tegak, melakukan ritual harian yang telah menjadi rutinitas hampa selama tiga tahun terakhir. Ia merapikan kerah seragam pilotnya yang putih kaku, memastikan setiap lencana dan tanda pangkat berada pada posisi yang sempurna. Siluet di depan cermin itu adalah gambaran kesempurnaan maskulin; wajah tampan dengan rahang tegas yang dicukur bersih, serta tubuh atletis yang terbentuk dari latihan disiplin. Namun, bagi Devran, pantulan itu hanyalah sebuah bungkus tanpa isi. Kesempurnaan fisik ini terasa sia-sia, sebuah panggung megah untuk pertunjukan yang tak pernah terjadi. Sebagai laki-laki di usia puncaknya, ia merasa seperti hidup dalam sel yang sangat sempit, tidak pernah benar-benar mengecap nikmatnya cinta dan kasih sayang yang tulus. Ia menarik laci kaca yang beris

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status