LOGINUdara Batam di dini hari terasa lembap dan lengket, sangat kontras dengan pendingin udara kabin yang baru saja ditinggalkan Karina. Di pelataran bandara yang mulai sepi, ia menyeret kopernya dengan langkah gontai.
Di sampingnya, beberapa pramugari lain tampak bercengkerama ringan, namun Karina memilih untuk tenggelam dalam pikirannya sendiri. Dari kejauhan, ia melihat barisan pilot melangkah tegap. Di tengah mereka, Devran Mahendra tampak menonjol. Sambil mendengarkan celoteh Erick, mata elang Devran tak henti-hentinya mencuri pandang ke arah punggung Karina. Ia melihat Karina melambaikan tangan saat Ririn dijemput oleh sebuah mobil hitam milik pamannya. Kini, Karina berdiri sendirian di bawah lampu jalan yang berpijar kuning pucat, menanti taksi yang tak kunjung datang. Devran menuju ke area parkir khusus kru senior. Tak lama kemudian, sebuah mobil sport mewah berwarna abu-abu metalik menderu pelan, membelah keheningan malam. Mobil itu berhenti tepat di depan Karina. Kaca jendela turun secara elektrik, menyingkap wajah tampan Devran yang tampak segar meski baru saja melakukan penerbangan malam. "Masih nunggu?" tanya Devran, suaranya berat namun lembut. "Taksi jarang lewat jam segini di area ini, Karina. Ayo, naik. Aku antar ke hotel." Karina terkejut, jantungnya berdebar bukan karena jatuh cinta, melainkan karena rasa waspada yang akut. "Terima kasih, Kapten. Tapi saya sudah memesan taksi lewat aplikasi. Sebentar lagi sampai," bohongnya halus. "Jangan keras kepala. Ini sudah hampir jam empat pagi, loh." Devran mendesak, tangannya masih santai di atas kemudi. Karina mulai cemas. Tiba-tiba, sebuah lampu kuning menyala di kejauhan. Sebuah taksi kosong meluncur pelan. Karina seolah melihat malaikat penyelamat. "Itu taksi saya! Permisi, Kapten. Terima kasih tawarannya," seru Karina sedikit berteriak agar sopir taksi mendengarnya. Ia segera masuk ke dalam taksi tanpa menunggu jawaban Devran. Devran hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, sebuah senyum tipis terukir di bibirnya. "Bukan cewek gampangan," gumamnya. Bukannya langsung menuju tujuannya, ia justru memutar kemudi, perlahan mengikuti mobil taksi itu dari kejauhan, memastikan Karina sampai dengan selamat. Taksi berhenti di pelataran sebuah hotel bintang lima yang menjadi rekanan maskapai. Karina turun, membayar tagihan dengan sisa-sisa tenaga, lalu menyeret kopernya masuk ke lobi yang megah namun sunyi. Di saat yang hampir bersamaan, mobil Devran berhenti tepat di depan pintu lobi. Ia menyerahkan kunci mobil pada petugas valet dengan gerakan cepat, seolah sedang mengejar sesuatu. Di meja resepsionis, Karina tampak sedang berdebat kecil dengan petugas. Wajahnya yang pucat karena kelelahan kini tampak memerah karena kesal. "Mohon maaf, Mbak. Semua kamar sudah penuh. Kami mengalami lonjakan tamu karena pembatalan beberapa penerbangan lain semalam," kata petugas itu dengan nada sopan namun kaku. "Tapi saya kru Samudera Airline. Saya udah capek banget, tolong... satu kamar saja," mohon Karina, suaranya hampir pecah. Kepalanya berdenyut memikirkan Ferdi di Jakarta dan rasa lelah yang menghunjam tulang. "Hanya tersisa satu kamar Suite, Mbak. Dan itu sudah atas nama Kapten Devran Mahendra," petugas itu menambahkan. Tepat saat itu, Devran muncul di samping Karina. Ia meletakkan kartu identitasnya di meja dengan santai. "Kunci kamar saya," ucapnya singkat. Karina segera menggeser posisinya, menjaga jarak dari Devran dengan gerakan gugup. Ia menunduk, mencoba menyembunyikan wajahnya yang sembab. Devran meliriknya sebentar, melihat bagaimana bahu wanita itu merosot lesu. Ia menerima kunci kamarnya, lalu berbalik menghadap Karina. "Belum ke kamar?" tanya Devran pura-pura tidak tahu. "Penuh, Kapten. Saya... saya mau cari hotel lain aja," jawab Karina pelan, meski ia tahu mencari hotel lain di jam begini hampir mustahil. Devran terdiam sejenak, menatap Karina yang tampak begitu rapuh di bawah lampu kristal lobi yang mewah. Rasa iba dan ketertarikan yang sulit ia jelaskan bergejolak di dadanya. "Pakai kamar saya aja. Saya bisa ngurus hal lain nanti. Kamu butuh istirahat, Karina." Karina mendongak, matanya membelalak tak percaya. "Tapi Kapten, itu nggak mungkin..." "Udah ambil aja," potong Devran tegas. Ia menyerahkan kartu kunci itu ke tangan Karina. "Saya nggak mau ada kru yang pingsan saat bertugas besok gara-gara kurang tidur. Sana istirahat." ................................. Karina melangkah masuk ke dalam kamar Suite yang sangat luas dan mewah. Aroma terapi lavender segera menyambutnya, memberikan sedikit ketenangan. Ia merasa sangat bersyukur sekaligus sungkan. Tanpa membuang waktu, ia menuju kamar mandi, melepaskan seragamnya yang menyesakkan, dan membiarkan air hangat mengguyur tubuhnya, menghapus segala kepenatan hari itu. Sepuluh menit kemudian, Karina keluar dari kamar mandi dengan mengenakan jubah mandi (bathrobe) putih tebal yang disediakan hotel. Namun, langkahnya terhenti seketika. Jeritan kecil lolos dari bibirnya saat ia melihat sosok pria di dalam kamar itu. Pria itu berdiri membelakanginya, tanpa mengenakan atasan. Punggungnya yang lebar, atletis, dengan otot-otot yang terbentuk sempurna, terlihat jelas di bawah cahaya lampu redup. Laki-laki itu sedang meletakkan jam tangannya di atas meja. "K-kapten Devran?!" seru Karina panik, segera berlari kembali ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya rapat-rapat. Jantungnya berpacu seperti genderang perang. Wajahnya terasa panas membara. Tok... tok... tok... "Karina? Kamu udah selesai?" suara Devran terdengar tenang di balik pintu. Karina membuka pintu sedikit, hanya menampakkan matanya. Ia melihat Devran kini berdiri di depan pintu kamar mandi, masih bertelanjang dada, menampakkan postur tubuh yang bisa membuat wanita mana pun terpana. Namun bagi Karina, ini adalah bencana. "Ngapain Kapten masih di sini? Tadi katanya kamar ini buat saya!" suara Karina bergetar karena marah dan malu. Devran tersenyum tenang, sama sekali tidak merasa terganggu. "Saya bilang kamu boleh beristirahat di sini. Saya nggak bilang kalo kamar ini buat kamu. Nggak ada hotel lain yang buka, Karina. Saya juga manusia yang butuh tidur. Saya mau mandi sekarang, tolong gantian." "Kapten mau jebak saya, ya!" tuduh Karina, suaranya meninggi. "Kapten sengaja melakukan ini, kan? Kasih kunci trus pura-pura baik, padahal cuma mau menjebak saya!" Karina keluar dari kamar mandi dengan emosi yang meledak, mengabaikan fakta bahwa ia hanya mengenakan jubah mandi. Ia merasa dipermainkan. Harga dirinya sebagai istri Ferdi-meski hubungan mereka sedang dingin-terasa diinjak-injak. "Oke! Kalo Kapten nggak mau pergi, saya yang pergi sekarang!" seru Karina sambil mencoba melewati Devran. "Tunggu, kamu salah paham!" Devran mencekal lengan Karina, berusaha menahannya agar tidak keluar ke koridor dengan pakaian seperti itu. Karina menarik lengannya dengan paksa, "Lepasin!" Karena lantai yang sedikit licin akibat tetesan air dari rambut Karina, ia kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terhuyung ke belakang, menarik Devran bersamanya. Keduanya terjatuh ke atas ranjang king size yang empuk. Posisi mereka sangat dekat, Devran berada di atasnya, menahan tubuhnya dengan kedua tangan di sisi kepala Karina. Napas mereka memburu. Selama beberapa detik, dunia seolah berhenti berputar. Mata Karina terkunci pada mata cokelat gelap Devran. Ada ketegangan yang menyesakkan, sebuah tarikan magnetis yang berbahaya. Aroma tubuh Devran yang maskulin menyerbu indra penciumannya, membuatnya bingung dan takut secara bersamaan. Segera, mereka bangkit dengan canggung. Wajah Karina merah padam, sementara Devran berdehem berkali-kali, berusaha menetralkan suasana. "Maaf... aku nggak bermaksud," ucap Devran pelan. "Aku yang pergi. Kamu tetap di sini." "Nggak bisa, Kapten! Saya yang salah sudah menuduh yang bukan-bukan. Saya aja yang pergi," sahut Karina cepat, air mata mulai menggenang karena rasa malu yang luar biasa. "Jangan bodoh, Karina! Kamu mau keluar pakai baju mandi?" "Saya akan ganti baju di kamar mandi!" "Nggak usah pergi, nanti kesusahan cari hotel. Saya bisa istirahat di mobil." "Tapi... Kapten." Cekcok itu terhenti seketika saat terdengar suara sensor kartu kunci berbunyi. Bip. Pintu kamar itu terdorong terbuka dengan kasar. Di ambang pintu, berdiri seorang wanita dengan gaun merah yang elegan, wajahnya yang cantik kini tampak sangat menyeramkan dengan ekspresi kemarahan yang dingin. Renata Masayu. "Mampus!" Devran segera menarik lengan Karina menuju kamar mandi. Bisa fatal jika Renata melihat Karina. Mungkin Karina tidak tahu, seberapa berbahaya CEO maskapai itu.Waktu bergulir tanpa kompromi. Tiga tahun berlalu penuh dinamika, membawa perubahan mendalam bagi mereka yang bertahan.Pagi ini, udara di luar Lembaga Pemasyarakatan Wanita terasa berbeda bagi Karina Prameswari. Hari ini adalah hari kebebasannya.Di dalam sel tahanan yang telah menjadi rumahnya selama tiga tahun, Karina berkemas pelan. Langkah kaki sipir terdengar mendekat untuk menjemputnya.Sebelum melangkah menuju pintu gerbang utama, Karina memeluk erat teman-teman satu selnya.Loli dan beberapa tahanan lain meneteskan air mata haru, melepaskan wanita yang selama ini menjadi sosok lembut di antara kerasnya dinding penjara.Di sudut ruangan, Elen—sang penguasa sel yang bertubuh tinggi tegap—hanya berdiri membisu, menyaksikan perpisahan itu tanpa niat bergabung.Karina memutar tubuhnya, menatap Elen. Wanita yang dulu selalu menindasnya di awal masa tahanan itu telah berubah menjadi sosok pelindung terdepan bagi Karina selama tiga tahun terakhir.Karina melangkah mendekat. "Kak E
Di Pulau Batam, cuaca siang terasa terik.Rain Gumilang berjalan tergesa-gesa menyusuri lobi lantai lima kantor cabang Miracle Group—sebuah gedung pencakar langit megah yang baru saja diakuisisi oleh ayahnya dan belum sempat Rain kunjungi sebelumnya."Bos!" Reza berjalan setengah berlari di belakang Rain, membawa dua tas dokumen yang tebal. "Gue tahu lo juara lari maraton waktu di militer... tapi ini di kantor! Bisa nggak pelan dikit jalannya? Gue ngos-ngosan nih! Bos!"Rain tidak peduli dengan rengekan Reza. Ia harus sampai lebih dulu dari ayahnya. Namun, saat Rain hendak berbelok di koridor utama menuju ruang rapat—BRUK!Rain berbenturan keras dengan seorang wanita yang berjalan cepat dari arah berlawanan.Tumpukan folder dokumen, kertas laporan, dan tablet yang dibawa wanita itu seketika terlepas dan berhamburan berantakan di atas lantai marmer."Aww!" wanita itu merintih, refleks memegangi lengannya.Wanita itu bernama Natasha. Berusia setara dengan Karina, Natasha memilik
"Saya enggak bisa menerimanya, Pak Malik," ucap Devran lirih namun tegas.Pak Malik terkejut. Eric yang duduk di samping Devran langsung melotot tak percaya."Kenapa, Pak Devran?" tanya Pak Malik terheran-heran. "Ini adalah hak hukum Anda sebagai suami sah beliau.""Saya merasa jijik sama diri saya sendiri kalau menerima semua ini," bisik Devran dengan nada penuh penyesalan. "Selama tiga tahun menikah, saya gak pernah membahagiakan Renata. Pernikahan kami cuma diisi kebencian. Kalau saya ambil warisan ini sekarang... saya cuma akan kelihatan seperti pria brengsek yang mengeruk keuntungan dari kematian tragis istrinya sendiri. Tolong alihkan saja semuanya."Pak Malik menghela napas berat. "Jika Anda menolak secara resmi, Pak Devran, maka sesuai klausul cadangan, seluruh aset keluarga Masayu akan dibekukan dan dialihkan ke yayasan sosial. Tapi... saya minta Anda pikirkan baik-baik."Eric yang sejak tadi menahan diri akhirnya tidak bisa tinggal diam lagi. Ia mencondongkan tubuhnya ke
Pagi itu, udara Jakarta terasa luar biasa dingin. Kabut tipis menyelimuti deretan pohon kamboja di Pemakaman Umum Tanah Kusir.Mobil-mobil mewah berwarna hitam berderet rapi di sepanjang bahu jalan kompleks pemakaman.Puluhan orang berseragam gaun dan setelan jas hitam berkumpul mengelilingi liang lahat yang masih menganga lebar, menunggu prosesi pemakaman dimulai.Tiga hari telah berlalu sejak malam mencekam di bangunan terbengkalai itu—malam yang diwarnai penyekapan, ledakan bom yang menewaskan Anggun dan Hexa, hingga ditemukannya jenazah kaku Renata Masayu di dalam kulkas.Hari ini, seluruh babak berdarah itu ditutup dengan keheningan yang abadi.Devran berdiri paling depan di tepi liang lahat. Pria itu mengenakan kemeja dan jas hitam, matanya tertutup kacamata hitam untuk menyembunyikan sembap dan luka memar yang belum sepenuhnya pulih. Ia datang untuk mengantarkan mendiang istrinya ke peristirahatan terakhir.Di dalam peti mati kayu jati berukir yang dihiasi hamparan mawar put
Berita penculikan kapten pilot Devran, ledakan bom di gedung tua yang menewaskan Anggun dan Hexa, hingga ditemukannya mayat tragis CEO Samudera Airlines, Renata Masayu di dalam kulkas perusahaannya sendiri, meledak menjadi berita utama di seluruh stasiun televisi dan media nasional siang itu.Seluruh Indonesia menahan napas; kenyataan bahwa sang CEO dibunuh secara keji oleh saudara kembar kandungnya sendiri yang selama ini disembunyikan dari publik menjadi skandal terbesar tahun ini.Di Lapas Wanita Cipinang, suasana kantin saat makan siang mendadak hening. Televisi gantung di sudut ruangan menayangkan breaking news mengenai kematian Renata Masayu.Karina, yang sedang duduk bersama Loli dan beberapa tahanan lain, menghentikan suapannya. Matanya menatap layar televisi tanpa berkedip. Wajahnya memucat, rasa syok mendalam merayapi dadanya.Loli menyenggol lengan Karina pelan, matanya membelalak. "Kar... bukannya itu mantan bos kamu di maskapai dulu? Si Renata Masayu yang terkenal galak i
"Di mana Renata?! Apa yang sudah kalian lakukan padanya?!" bentak Devran.Anggun hanya terdiam, gemetaran dalam ketakutan.Melihat rahasia besar terbongkar dan Anggun terpojok, Hexa bergerak secepat kilat. Ia menarik pistol otomatis dari balik jasnya dan menodongkannya tepat ke dahi Devran."Tutup mulutmu, Pilot!"Namun Devran yang terlatih tidak tinggal diam. Dengan refleks secepat angin, Devran memutar tubuhnya, mengayunkan tendangan lurus yang menghantam pergelangan tangan Hexa keras.BUK!Pistol terlempar ke udara dan terjatuh di lantai beton. Perkelahian fisik yang sengit tak terhindarkan. Devran dan Hexa saling banting, melayangkan pukulan mentah di tengah kepungan debu dan reruntuhan.Di sudut lain, Anggun yang panik luar biasa berlutut di depan bom waktu. Mengingat sedikit pengetahuan tentang peledak, jemarinya yang gemetar mencabut asal salah satu kabel berwarna merah.BZZZZT!Layar digital bom mendadak mati. Penghitung waktu berhenti tepat di angka 01:12.Pada saat yang bers







