Home / Romansa / MAHLIGAI DOSA / Chapter 74. Rencana Licik Anggun

Share

Chapter 74. Rencana Licik Anggun

Author: Dewa Amour
last update publish date: 2026-09-20 16:49:44

"Renata! Apa-apaan lo, hah?!" bentak Devran sambil merapikan kaosnya yang berantakan. "Siapa yang ngasih izin lo masuk ke kamar gue, hah?! Sejak kapan lo tidur di sini?!"

Renata yang terusik dari tidurnya tidak merasa kesal sedikit pun akibat bentakan kasar suaminya. Ia membuka matanya perlahan, bangun dari posisinya lalu duduk santai di tengah ranjang sambil meregangkan otot-otot lehernya yang kaku.

Sebuah senyuman penuh kepuasan terukir di wajah cantiknya saat melihat Devran yang sedang merad
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 75. Permainan Kotor

    Deru baling-baling helikopter memecah hening pagi di atas langit Kota Batam. Helikopter berwarna hitam legam itu terbang rendah, melintasi deretan gedung tinggi sebelum akhirnya meluncur turun dengan mulus di sebuah helipad pribadi.Area tersebut terletak tepat di halaman belakang sebuah mansion megah nan terisolasi di pusat kota.Saat baling-baling perlahan melambat, pintu helikopter terbuka. Rain Gumilang melangkah keluar dengan tatapan dingin dan tajam. Mengenakan jas gelap yang terpotong rapi, sosoknya menebarkan aura dominasi yang tak terbantahkan. Dua orang pengawal berbadan tegap menyusul tepat di belakangnya.Di bawah, Reza sudah berdiri menunggu. Asisten kerjanya itu langsung menyesuaikan langkah, berjalan setengah meter di samping bosnya menuju pintu masuk mansion."Pagi, Bos," sapa Reza formal, memegang tablet digital di tangannya. "Jadwal Bos di Batam selama seminggu ke depan sangat padat. Ada beberapa pertemuan dengan investor lokal, sidak ke proyek pelabuhan, dan penyele

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 74. Rencana Licik Anggun

    "Renata! Apa-apaan lo, hah?!" bentak Devran sambil merapikan kaosnya yang berantakan. "Siapa yang ngasih izin lo masuk ke kamar gue, hah?! Sejak kapan lo tidur di sini?!"Renata yang terusik dari tidurnya tidak merasa kesal sedikit pun akibat bentakan kasar suaminya. Ia membuka matanya perlahan, bangun dari posisinya lalu duduk santai di tengah ranjang sambil meregangkan otot-otot lehernya yang kaku.Sebuah senyuman penuh kepuasan terukir di wajah cantiknya saat melihat Devran yang sedang meradang di depan pintu kamar mandi."Kenapa kamu harus semarah itu, Devran?" tanya Renata dengan nada suara yang manja namun sarat akan nada ancaman. "Secara hukum, aku ini masih istri sah kamu. Dan jangan lupa, ini adalah penthouse milik keluarga aku. Aku nggak perlu minta izin dari siapa pun untuk masuk ke ruangan mana pun di dalam rumah ini."Renata menatap lurus ke arah Devran, matanya menyipit tajam. "Dan perlu kamu ingat baik-baik, Kapten Devran... kalau kamu terus-menerus menolak kemauan aku

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 73. Kisah Pilu Di Balik Tahanan

    Angin kencang menggoyangkan dahan-dahan berangin besar yang tumbuh di sekitar lapangan lapas. Bu Tiwi memperbaiki posisi duduknya, ingatan masa lalu berputar di matanya."Dulu, Windi itu pegawai berprestasi di salah satu bank swasta besar di Jakarta. Kariernya bagus, masa depannya cerah. Dia bahkan udah bertunangan sama seorang laki-laki bernama Aldi. Tapi, suatu malam, si Aldi ini melakukan kesalahan fatal. Dia menghabisi nyawa selingkuhannya sendiri di dalam unit apartemennya setelah terlibat pertengkaran."Tiwi jeda sejenak, membiarkan suasana hening mencekam sejenak. "Wanita yang dibunuh itu namanya Mega, dia lagi hamil muda dan menuntut pertanggungjawaban Aldi. Setelah Mega tewas bersimbah darah, Aldi panik. Dia langsung menelepon Windi, menyuruh Windi datang ke apartemen dengan alasan darurat. Begitu Windi datang dan syok melihat mayat Mega, Aldi diam-diam menelepon polisi."Karina mendengarkan dengan dada yang mulai bergemuruh."Polisi datang dalam hitungan menit. Di depan petu

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 72. Insiden Mengerikan

    Suasana jam makan siang di Lapas Wanita Cipinang mendadak pecah berantakan saat sebuah jeritan melengking dari arah belakang gedung utama merobek udara yang gerah."Tolong! Ada yang gantung diri! Tolong!"Para narapidana wanita yang sedang mengantre jatah makan siang di selasar kantin seketika dibuat terkejut dan heran."Ada apa sih?""Ada yang gantung diri?"Beberapa dari mereka langsung menjatuhkan piring plastik mereka, sementara para petugas sipir wanita dan polwan mulai berlarian dengan langkah tergesa-gesa ke arah sumber suara, peluit darurat ditiup berulang kali.Karina yang sedang berdiri di barisan tengah antrean ikut teralihkan. Jantungnya berdegup kencang, instingnya mendadak diselimuti rasa tidak enak.Kericuhan massal pun terjadi; puluhan narapidana mulai merangsek maju, mengabaikan jatah makanan mereka demi mencari tahu apa yang sedang terjadi di area terlarang belakang gedung.Karina turut melangkah cepat, mengikuti arus tubuh-tubuh berbaju oranye menuju sebuah lapangan

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 71. Ancaman

    Matahari pagi mulai meninggi di Lapas Perempuan Cipinang, namun sisa-sisa kengerian malam tadi masih terasa pekat di udara.Di area koridor terbuka dekat kamar mandi umum, puluhan narapidana wanita sedang mengantre panjang dengan membawa gayung dan peralatan mandi mereka di bawah pengawasan ketat petugas.Karina berjalan perlahan sambil memegangi perutnya yang masih terasa nyeri akibat pukulan tongkat karet Sipir Sandra semalam.Matanya tiba-tiba menangkap sosok Windi yang sedang duduk bersandar di dinding semen yang lembap, agak jauh dari antrean.Wajah Windi tampak sangat pucat, matanya sembap, dan pandangannya kosong menatap lantai marmer yang kotor-sebuah potret keputusasaan yang teramat dalam dari seorang korban yang hancur.Melihat kondisi Windi yang mengenaskan karena telah menggantikan posisinya semalam, rasa prihatin dan bersalah bergejolak di dalam dada Karina.Ia melangkah memisahkan diri dari antrean, berjalan menghampiri Windi, lalu duduk perlahan di sampingnya."Windi...

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 70. Kepulangan Sang Kapten

    Pagi hari berikutnya datang dengan atmosfer yang dingin. Gerimis tipis mengguyur kaca-kaca besar Penthouse Masayu, menyisakan kabut kelabu di langit Jakarta.Di dalam ruang makan yang hangat, Renata Masayu sedang duduk santai menikmati menu sarapan paginya dengan tenang.Langkah kaki yang tergesa-gesa dari arah pintu depan memecah keheningan. Bi Irah, kepala pelayan senior di rumah itu, berjalan masuk dari arah koridor lift pribadi sambil menenteng sebuah koper besar bermerek mahal.Namun, bukan koper itu yang menarik perhatian Renata. Fokus matanya seketika terkunci, dan garpu di tangannya terlepas begitu saja hingga berdenting di atas piring saat melihat sosok pria tinggi berparas tampan berjalan tegap tepat di belakang Bi Irah.Pria itu mengenakan seragam kebesaran pilot lengkap dengan atribut kaptennya yang gagah. Devran Mahendra telah kembali.Renata terkesiap, jantungnya berdegup kencang oleh rasa bahagia yang mendadak membuncah. Ia langsung bangkit dari kursinya, mengabaikan ma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status