MasukMalam di penthouse mewah itu seharusnya menjadi tempat peristirahatan yang tenang, namun bagi Devran, setiap sudut ruangan ini adalah bilik penyiksaan.
Dinding kamar yang tebal ternyata tak mampu meredam suara-suara yang menghancurkan kewarasannya. Dari kamar sebelah-kamar utama yang seharusnya menjadi miliknya dan Renata--terdengar suara erangan dan desahan kenikmatan yang memenuhi udara malam. "Ah, Hengki!" "Aah! Aah!" Renata sengaja melakukannya. Suara decit ranjang yang beradu dengan lantai, serta desahan napas Hengki yang memburu, terdengar begitu eksplisit. Renata, dalam posisi menungging dengan Hengki yang mendesak dari belakang, terus mengeluarkan suara-suara nikmat yang provokatif, seolah ingin memastikan suaminya yang berada di balik dinding mendengar setiap detik perzinaan itu. Di kamarnya sendiri, Devran mengerang frustrasi. Ia berusaha menutupi telinganya dengan bantal, namun suara-suara itu seolah merayap masuk ke dalam otaknya. "Brengsek..." Ia bangkit, mondar-mandir di kegelapan kamar seperti binatang yang terperangkap dalam sangkar. Amarah dan rasa terhina bergejolak, namun di saat yang sama, sisi biologisnya sebagai laki-laki tidak bisa berbohong. Ia mulai merasakan gairah yang menyiksa, sebuah respons tubuh yang membuatnya semakin membenci diri sendiri. Dengan napas yang berat, Devran melangkah masuk ke kamar mandi. Ia berdiri di depan cermin, menatap bayangannya yang hancur. Dalam keputusasaannya untuk mengalihkan pikiran dari suara-suara di sebelah, bayangan Renata menghilang, digantikan oleh seraut wajah lembut dengan mata yang teduh. Karina. Ia membayangkan jemari Karina yang hangat, senyum manisnya, dan kelembutan tubuh wanita itu saat mereka bersentuhan di Batam. Devran memejamkan mata, membiarkan imajinasinya tentang Karina mengambil alih, hingga akhirnya ia melepaskan seluruh ketegangannya sendiri dalam sunyi yang menyedihkan "Ah, Karina..." ........................................ Di Apartemen Melati, suasana tidak kalah suram. Karina duduk bersandar di kaki ranjang, memandangi potret pernikahannya dengan Ferdi yang masih terpasang di dinding. Matanya sembab, bengkak karena tangis yang tak kunjung reda sejak kepulangannya dari rumah sakit. Ia tidak bisa menerima ini begitu saja. Cintanya pada Ferdi adalah segalanya, dan ia yakin Ferdi yang asli tidak akan setega itu. Dengan tangan gemetar, ia mencoba menghubungi nomor suaminya. Panggilan tersambung, namun harapan Karina langsung pupus saat suara melengking yang sangat ia kenal menjawab di seberang sana. "Ngapain lagi lo telepon? Nggak punya malu?" Itu suara Viona, kakak Ferdi. "Mbak Vio... tolong, aku mau bicara sama Ferdi sebentar aja. Aku mau tanya kondisinya," pinta Karina dengan suara parau. "Kondisi Ferdi? Dia jauh lebih baik tanpa lo! Dela sudah mengurus semuanya. Ferdi makan dengan lahap, dia juga sudah mulai latihan jalan. Dela itu wanita berkelas, nggak kayak lo yang kerjanya cuma cari perhatian laki-laki di pesawat," Viona mendengus kasar. "Dengar ya, Kar. Ferdi udah setuju. Begitu dia keluar dari sini, surat cerai bakal langsung dikirim ke apartemen lo. Setelah itu, Ferdi sama Dela bakal segera nikah. Lo jangan harap bisa balik lagi." Deg. Jantung Karina serasa berhenti berdetak. Kata-kata "menikah dengan Dela" menghantamnya seperti palu godam. "Mbak Vio, tolong... Mas Ferdi nggak mungkin-" "Berhenti halusinasi! Lo itu cuma masa lalu yang bawa sial. Jangan ganggu keluarga kami lagi!" Klik. Sambungan diputus sepihak. Karina melempar ponselnya ke kasur dan menjerit dalam bantal. Ia menangis sejadi-jadinya, merasakan seluruh sendi kehidupannya runtuh. Kesetiaan yang ia jaga selama ini, pengorbanan finansial yang ia lakukan untuk pendidikan dan karier Ferdi, semuanya dibalas dengan pengkhianatan yang paling kejam. ...................................... Keesokan harinya, menjelang siang, Karina memaksa dirinya keluar rumah menuju sebuah mall. Ia berjalan gontai mendorong troli belanjaan, memilih bahan-bahan makanan secara otomatis. Pikirannya masih kacau, namun nalurinya sebagai istri masih ada. Ia berniat memasak sup iga sapi, makanan kesukaan Ferdi, dengan harapan jika ia membawanya ke rumah sakit, hati suaminya akan melunak. Di bagian lain mall yang sama, dua pria dengan perawakan atletis berjalan menyusuri deretan gerai parfum mewah. Devran dan Erick sedang menghabiskan waktu luang mereka. "Vivian lagi di Palembang, Dev. Kayaknya pas dia balik nanti, kita langsung ke pengadilan. Gue udah nggak tahan sama gaya hidupnya," curhat Erick sambil mengendus salah satu sampel parfum. Devran menatap kosong ke deretan botol kaca. "Lo beruntung, Rick. Lo bisa lepas. Vivian nggak punya kekuasaan buat nahan lo. Sedangkan gue? Gue ini tawanan Renata. Gue cuma bisa nunggu sampai dia bosen dan milih buat buang gue sendiri." Erick menepuk bahu sahabatnya itu dengan prihatin. Namun, matanya tiba-tiba menangkap sosok yang tak asing di barisan kasir. "Eh, Dev... itu bukan si Karina, pramugari baru itu?" Devran menoleh. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat saat melihat Karina sedang mengantri dengan wajah yang sangat pucat dan mata sembab yang berusaha ditutupi riasan tipis. Devran hanya terdiam, namun matanya terus mengikuti pergerakan Karina sampai wanita itu keluar menuju pelataran mall. Di luar, cuaca Jakarta mulai berubah mendung. Angin kencang mulai berhembus, menandakan badai akan segera datang. Karina berdiri di trotoar, membawa beberapa kantong belanjaan besar, mencoba melambai pada taksi yang semuanya tampak penuh. Tiba-tiba, sebuah mobil mewah berhenti di depannya. Kaca jendela turun, menyingkap wajah Devran dan Erick. "Butuh tumpangan, Karina?" tanya Devran lembut. Karina terkejut. "Ah, Kapten... nggak usah, saya tunggu taksi aja." "Ini mau hujan, Kar. Belanjaan kamu banyak gitu, taksi susah jam segini," timpal Erick dari kursi penumpang depan. Gerimis mulai turun satu per satu. Karina menatap belanjaannya, lalu menatap langit. Akhirnya, ia mengangguk pasrah. Devran dan Erick segera turun, membantu memasukkan belanjaan Karina ke bagasi dengan sigap. Karina duduk di kursi tengah, sementara kedua pria itu di depan. Suasana di dalam mobil cukup tenang. Devran mengemudi dengan santai, sesekali melirik Karina dari spion tengah. Mereka mengobrol ringan, menanyakan jadwal terbang dan kondisi luka di tangan Karina. Devran merasa ada kedamaian aneh saat Karina berada di dalam mobilnya, kontras dengan kegilaan yang ia alami di penthouse semalam. Saat mobil tiba di pelataran Apartemen Melati, Karina merasa sedikit lebih baik. Perhatian kecil dari Devran dan Erick cukup untuk mengobati sedikit luka hatinya. "Terima kasih banyak, Kapten, Mas Erick. Maaf merepotkan," ucap Karina saat mereka menurunkan belanjaannya di lobi. "Sama-sama, Kar. Istirahat ya, biar tangan kamu cepet sembuh," jawab Erick ramah. Karina tersenyum tipis dan melarang mereka untuk mampir dengan halus, tidak ingin ada fitnah baru. Namun, ia tidak menyadari bahwa di balik pilar lobi, sepasang mata sedang mengawasinya dengan api kemarahan. Viona, kakak Ferdi, ternyata ada di sana, berniat mengambil barang-barang Ferdi yang tertinggal. Begitu mobil Devran menjauh, Viona langsung melesat keluar. Plak! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Karina tanpa aba-aba, hingga kantong belanjaannya jatuh berhamburan ke lantai. Jeruk dan botol bumbu masak menggelinding ke mana-mana. "Mbak Viona?" Karina memegang pipinya yang panas, syok luar biasa. "Ooh, jadi ini kelakuan lo di belakang Ferdi?!" teriak Viona histeris, menarik perhatian beberapa penghuni apartemen lainnya. "Ternyata bener kata Mama, lo itu perempuan jalang! Ferdi lagi sakit di rumah sakit, lo malah asyik diantar jemput sama dua cowok sekaligus pake mobil mewah! Dasar nggak tahu diri!" "Mbak, ini nggak seperti yang Mbak pikirkan, mereka cuma teman kerja..." "Teman kerja atau pelanggan lo?!" sergah Viona kalap. "Gue bakal kasih tahu Ferdi sekarang juga! Biar dia tahu kalau istrinya ini cuma sampah yang nggak layak ditangisi!" Karina berdiri mematung di tengah reruntuhan belanjaannya, menahan tangis yang kembali pecah. Di bawah rintik hujan yang mulai menderas, ia menyadari bahwa setiap usahanya untuk memperbaiki keadaan justru selalu berakhir dengan luka yang lebih dalam.Malam kian melarut, namun kegelapan di pesisir Kalimantan ini terasa lebih pekat dari biasanya, seolah-olah ia adalah entitas hidup yang siap menelan siapa saja yang terjebak di dalamnya.Di bawah pendar bintang yang samar, Devran bersandar pada sebuah batu karang besar yang dingin. Wajahnya yang biasanya tegas dan berwibawa kini pucat pasi, peluh dingin membanjiri keningnya.Kaki kirinya robek cukup dalam akibat serpihan logam pesawat, darah merembes keluar membasahi kain seragamnya yang compang-camping.Karina berdiri beberapa langkah di depannya, menatap hamparan laut yang hitam dan hutan lebat yang membentang di belakang mereka bagaikan barisan raksasa yang mengintimidasi.Angin laut berhembus kencang, membawa aroma garam dan firasat buruk. Tiba-tiba, dari kedalaman hutan, terdengar suara lolongan yang panjang dan menyayat-lolongan anjing hutan yang saling bersahutan.Karina merinding. Bulu kuduknya berdiri tegak. Ia tahu mereka tidak bisa terus berada di alam terbuka ini. "Kapten
Sunyi yang mematikan menyelimuti kedalaman perairan Kalimantan. Bangkai logam raksasa itu kini beristirahat di dasar laut yang gelap, dikelilingi oleh gelembung-gelembung udara terakhir yang lolos dari kabin yang terendam.Di dalam sana, tak ada pergerakan. Hanya ada tubuh-tubuh yang terombang-ambing pelan mengikuti arus bawah laut, terperangkap dalam sabuk pengaman yang kini menjadi jerat maut.Di atas permukaan, pemandangannya berbanding terbalik. Deru baling-baling helikopter membelah langit yang mendung. Dari balik kacamata hitam Renata Masayu menatap keluar jendela helikopter dengan tatapan yang sulit diartikan.Begitu helikopter mendarat di area darurat yang didirikan di tepi pantai, pemandangan dramatis langsung menyambutnya. Garis pantai Kalimantan yang biasanya tenang kini berubah menjadi medan perang.Puluhan mobil polisi dengan lampu strobo yang berkedip biru-merah memenuhi pelataran. Sepuluh ambulans berderet rapi, mesinnya tetap menyala, siap melesat kapan saja.Tim penye
Gemuruh mesin Airbus A320 membelah kesunyian landasan pacu Bandara Soekarno-Hatta saat fajar menyingsing. Di dalam kokpit, Devran Mahendra menarik tuas kendali dengan presisi yang sempurna, membiarkan tubuh pesawat yang kokoh itu menanjak membelah awan menuju langit Kalimantan.Di balik seragam pilotnya, jantung Devran berdegup dengan irama yang tak biasa-bukan karena takut akan ketinggian, melainkan karena ia tahu, hanya beberapa meter di belakang dinding kokpit ini, Karina sedang melangkah anggun melayani penumpang.Di kabin, Karina dan Ririn bergerak dengan sigap. Senyum profesional terpasang di wajah mereka, menyamarkan badai batin yang sedang berkecamuk."Makasih, Kakak Cantik.""Sama-sama, Sayang."Karina tersenyum lembut menanggapi. Ia baru saja menyerahkan segelas air kepada seorang anak kecil saat ia merasakan getaran halus di bawah kakinya.Pikirannya melayang sejenak pada wajah Devran di kantin tadi pagi, namun ia segera menepisnya. Ia harus fokus. Ia harus bertahan hidup
Fajar belum benar-benar pecah di ufuk timur Jakarta, namun penthouse mewah itu sudah menyimpan ketegangan yang sunyi. Di dalam kamarnya, Devran Mahendra berdiri di depan cermin, merapikan seragam pilotnya dengan ketelitian yang tidak biasa.Satu pekan telah berlalu sejak penerbangan ke Bali yang melelahkan secara mental, dan hari ini adalah hari yang paling ia nantikan. Namanya bersanding dengan nama Karina dalam daftar kru penerbangan menuju Kalimantan.Semalam, Devran melakukan sesuatu yang jarang ia lakukan; ia tidur sangat awal. Ia menyumbat telinganya rapat-rapat dengan earphone, memutar musik klasik dengan volume tinggi hanya untuk membentengi diri dari suara-suara laknat-desahan dan tawa Renata bersama Hengki yang menggema dari kamar sebelah.Ia ingin bangun dengan wajah segar, tanpa kantung mata yang menghitam akibat frustrasi. Ia ingin terlihat sempurna saat mata Karina menatapnya nanti.Di ruang makan, Welas dan Bi Irah saling lirik dengan senyum kecil. Mereka menyadari peru
Awan-awan putih berarak di bawah sayap Airbus A320, menghampar bagaikan permadani perak yang tak berujung. Di dalam kokpit yang hanya diterangi oleh pendar instrumen digital, Devran duduk seorang diri. Kesunyian di ketinggian 35.000 kaki itu biasanya menjadi meditasi baginya, namun kali ini, kesunyian itu justru terasa menyesakkan. Pikirannya melayang, menjauh dari tuas kendali, menembus memori tentang raut wajah Karina.Ia teringat kali pertama melihat wanita itu-seorang pramugari baru dengan binar mata penuh harapan yang kini mulai meredup akibat kerasnya hidup. Ia teringat pertemuan tak terduga di mall dua hari lalu, saat Karina tampak begitu rapuh di bawah langit Jakarta yang mendung. Tanpa ia sadari, ada rasa rindu yang merayap halus, sebuah perasaan asing yang selama tiga tahun ini terkubur di bawah tumpukan kebencian dan tekanan Renata."Kopi, Kapten?"Suara itu memecah lamunan Devran. Jantungnya sempat melonjak kecil, ada secercah harapan konyol bahwa suara lembut itu mili
Pagi menyapa Jakarta dengan langit kelabu yang menggantung rendah, seolah turut merasakan beban yang menindih bahu Devran Mahendra. Di depan cermin setinggi langit-langit kamarnya yang mewah, Devran berdiri tegak, melakukan ritual harian yang telah menjadi rutinitas hampa selama tiga tahun terakhir. Ia merapikan kerah seragam pilotnya yang putih kaku, memastikan setiap lencana dan tanda pangkat berada pada posisi yang sempurna. Siluet di depan cermin itu adalah gambaran kesempurnaan maskulin; wajah tampan dengan rahang tegas yang dicukur bersih, serta tubuh atletis yang terbentuk dari latihan disiplin. Namun, bagi Devran, pantulan itu hanyalah sebuah bungkus tanpa isi. Kesempurnaan fisik ini terasa sia-sia, sebuah panggung megah untuk pertunjukan yang tak pernah terjadi. Sebagai laki-laki di usia puncaknya, ia merasa seperti hidup dalam sel yang sangat sempit, tidak pernah benar-benar mengecap nikmatnya cinta dan kasih sayang yang tulus. Ia menarik laci kaca yang beris







