Beranda / Romansa / MAHLIGAI DOSA / Chapter 7. Antara Kenangan Dan Kenyataan

Share

Chapter 7. Antara Kenangan Dan Kenyataan

Penulis: Dewa Amour
last update Tanggal publikasi: 2026-04-13 19:53:30

Lembayung senja membakar langit Jakarta dengan warna merah darah yang pekat, seolah menjadi latar belakang yang sempurna bagi kehancuran hati seorang wanita.

Taksi yang ditumpangi Karina berhenti perlahan di pelataran Rumah Sakit Permata. Belum sempat ia menarik napas lega karena telah sampai, pintu taksi direnggut paksa dari luar.

"Baru ingat punya suami lo, hah?!"

Suara Viona melengking tajam, membelah kebisingan area parkir. Sebelum Karina benar-benar turun, sudah menarik lengannya dengan kasar hingga tubuh Karina terhuyung. Cengkeraman itu begitu kuat, menyisakan perih di kulit Karina yang masih lelah.

"Mbak Viona, ada apa? Aku baru aja landing-"

"Landing, landing! Gaya lo setinggi langit, tapi kelakuan lebih rendah dari pelacur!" Viona berteriak tepat di depan wajah Karina. "Dua hari lo terbang ke Batam, senang-senang di sana, sementara Ferdi kritis! Luka di kakinya infeksi parah, dia hampir mati gara-gara lo lepas tanggung jawab!"

Jantung Karina seolah berhenti berdetak. "Kritis? Infeksi?" Wajahnya pias seketika.

Tanpa mempedulikan Viona yang masih mengomel, Karina berlari sekuat tenaga menyusuri koridor rumah sakit yang dingin.

Air mata sudah membanjiri pipinya, napasnya tersengal oleh ketakutan yang luar biasa. Tuhan, jangan ambil Ferdi sekarang, rintihnya dalam hati.

Namun, setibanya di depan ruang rawat inap, langkah Karina mematung. Pintu kamar itu terbuka lebar. Di dalam, pemandangan yang tersaji sungguh jauh dari kata 'kritis'.

Ferdi tidak sedang sekarat. Laki-laki itu justru sedang berusaha berdiri, dituntun dengan lembut oleh seorang perempuan cantik seumuran Karina.

Di sudut ruangan, Dewi duduk sambil tersenyum-sebuah senyum yang tak pernah ia berikan untuk Karina. Ferdi terlihat jauh lebih segar, lukanya terbalut rapi, tak ada tanda-tanda infeksi mematikan seperti yang Viona teriakkan tadi.

Viona muncul dari belakang, sengaja menyenggol bahu Karina dengan keras hingga Karina terdorong ke arah pintu.

"Ngapain bengong? Masuk dan lihat itu!"

Karina melangkah perlahan, matanya terpaku pada perempuan yang memegang lengan suaminya itu. Rasa cemburu mendidih di dadanya, namun rasa bingung jauh lebih mendominasi.

"Mas Ferdi..." suara Karina bergetar, lirih.

Ferdi menoleh, namun tatapannya kosong, datar, bahkan dingin. Ia seolah tidak melihat istrinya yang baru saja pulang bekerja demi membiayai pengobatannya. Ia segera membuang muka kembali ke arah perempuan di sampingnya.

"Udah sampai kamu?" Dewi bangkit, menghampiri Karina dengan tatapan menghina. "Kenalin, ini Dela. Dia yang nemenin Ferdi siang malam saat kamu sibuk terbang sana-sini. Mulai sekarang, Dela yang bakal urus Ferdi. Kamu nggak usah datang-datang lagi ke sini."

Karina terperanjat, tubuhnya gemetar hebat. "Maksud Mama apa? Saya ini istri Mas Ferdi!"

"Istri?" Viona menyambar dengan tawa sinis. "Istri macam apa yang ninggalin suami cacat buat menggoda laki-laki di atas pesawat? Pas Ferdi pulih nanti, surat cerai bakal langsung diurus. Lo nggak cocok ada di keluarga ini."

"Mas Ferdi, kamu dengar mereka, kan? Katakan sesuatu!" jerit Karina, air matanya tumpah lagi.

Namun Ferdi tetap diam seribu bahasa. Diamnya Ferdi adalah belati yang paling tajam bagi Karina. Saat Karina hendak mendekati ranjang suaminya, Viona segera menghadang dan mendorongnya ke arah pintu.

"Keluar lo! Perempuan pembawa sial! Gara-gara lo, hidup Ferdi hancur!"

Viona menyeret koper Karina dan melemparnya ke koridor, lalu mendorong tubuh Karina hingga terjatuh di depan pintu kamar rawat.

Brak!

Pintu tertutup rapat. Karina terduduk di lantai rumah sakit yang dingin, meraung dalam tangis yang menyayat hati, mengabaikan tatapan iba dari beberapa perawat yang lewat. Dunia yang ia bangun dengan keringat dan air mata, runtuh seketika.

..................................

Di sisi lain kota, sebuah Rolls-Royce Cullinan hitam legam meluncur tenang memasuki area parkir apartemen mewah di kawasan elit. Devran duduk di depan kemudi, tatapannya lurus ke depan, namun tangannya mencengkeram stir hingga buku-buku jarinya memutih.

Begitu mobil berhenti, Hengki segera turun dan membukakan pintu untuk Renata dengan gerakan sangat sopan namun penuh arti. Renata keluar dengan anggun, sama sekali tidak melirik suaminya yang masih duduk di kursi sopir.

"Makasih, Sayang," ucap Renata manja pada Hengki, mengabaikan keberadaan Devran seolah suaminya itu hanya sepotong mesin yang terpasang di mobil.

Mereka bertiga berjalan menuju lift khusus yang langsung mengarah ke penthouse di lantai teratas. Di dalam lift yang berdinding cermin itu, suasana terasa mencekam bagi siapa pun, kecuali bagi Renata dan Hengki.

"Aku kangen banget sama kamu, Ren. Batam kemarin rasanya kurang," bisik Hengki, suaranya sengaja dibuat agar terdengar oleh Devran yang berdiri membelakangi mereka.

"Ya udah, malam ini kamu nginep di sini aja. Aku nggak mau kamu pulang," sahut Renata sambil melingkarkan tangannya di leher Hengki.

Devran bisa melihat dari pantulan cermin di depannya. Renata sengaja menarik kerah baju Hengki dan mencium laki-laki itu dengan panas tepat di belakang punggung suaminya.

Devran memejamkan mata, rahangnya mengatup rapat hingga sendi-sendinya terasa sakit. Ini adalah ritual kehinaan yang Renata lakukan hampir setiap hari, memamerkan kemesraan untuk memastikan mental Devran hancur berkeping-keping.

Pintu lift terbuka. Devran melangkah keluar lebih dulu dengan langkah tegap yang dipaksakan.

"Selamat sore, Mas Devran."

Dua asisten rumah tangga, Bi Irah dan Welas, sudah menyambut di depan pintu besar penthouse. Mereka berdua langsung menunduk, wajah mereka menunjukkan rasa iba yang mendalam saat melihat pemandangan di belakang Devran.

"Siapin minum buat Hengki sekarang! Jangan bengong aja lo berdua!" teriak Renata ketus, membuat kedua asisten itu lari kalang kabut menuju dapur.

Devran tidak bicara. Ia langsung masuk ke dalam kamarnya--kamar yang terpisah dari kamar utama Renata sejak hari pertama mereka menikah--dan mengunci pintu.

Di bawah guyuran air shower yang dingin, Devran berdiri mematung. Ia membiarkan air menghapus keringat dan rasa lelahnya, namun air tak mampu menghapus rasa jijik pada dirinya sendiri.

"Brengsek..."

Ia merasa seperti pecundang besar yang membiarkan harga dirinya diinjak-injak setiap detik.

Tiba-tiba, di tengah kegelapan batinnya, wajah Karina muncul. Ia teringat bagaimana wanita itu tersenyum manis di kokpit saat menyuguhkan kopi, dan bagaimana aroma tubuh Karina yang lembut saat mereka jatuh bersama di atas ranjang hotel di Batam. Ada secercah hangat yang asing merayap di hati Devran.

"Nggak boleh," gumam Devran, memukul dinding marmer kamar mandinya. "Karina nggak boleh masuk ke neraka ini. Melibatkan dia cuma bakal bikin dia mati pelan-pelan kayak gue."

.....................................

Karina menyeret kopernya di lorong Apartemen Melati, Jakarta Pusat. Unit apartemen kecil yang ia cicil dengan jerih payahnya sebagai pramugari. Langkahnya gontai, matanya sembab hingga terasa perih. Setiap sudut ruangan ini mengingatkannya pada Ferdi.

Dela.

Nama itu terus berputar di otaknya. Perempuan itu adalah pilihan keluarga Ferdi sejak dulu.

Pernikahan Karina dan Ferdi memang tak pernah mendapat restu. Dewi dan Viona selalu memandang rendah pekerjaan Karina. Di mata mereka, pramugari hanyalah "wanita simpanan pilot" yang gemar pamer kecantikan.

Padahal, menjadi pramugari adalah mimpi besar yang diperjuangkan ayahnya hingga titik darah penghabisan.

"Kamu lulus kuliah karena uangku, Mas," isak Karina saat melihat ijazah Ferdi di atas meja kerja yang kini berdebu.

Dulu, saat orang tua Ferdi membuangnya karena ia memilih jadi fotografer, Karina lah yang berdiri di sampingnya.

Karina yang membayar uang semesteran, Karina yang membelikan kamera pertama Ferdi, dan Karina yang mendukungnya hingga ia sukses. Namun sekarang, saat Ferdi jatuh, pria itu justru diam saat keluarganya membuang Karina layaknya sampah tak berguna.

"Kenapa... Kenapa kamu nggak pernah mau lihat aku lagi, Mas Ferdi..."

Karina masuk ke kamar mandi, mengisi bathtub dengan air hangat. Ia masuk ke dalamnya, membiarkan tubuhnya tenggelam hingga ke leher.

Ia teringat masa-masa romantis mereka, tawa Ferdi, dan janji-janji suci yang kini terasa seperti racun. Kecelakaan di gunung itu ternyata tidak hanya mematahkan kaki Ferdi, tapi juga mematahkan sisa-sisa cinta yang mereka miliki.

Kini, di unit apartemen yang sepi ini, Karina merasa benar-benar hancur. Ia dipecat secara tidak langsung oleh Renata, dibuang oleh mertua, dan dikhianati oleh sikap diam suaminya sendiri. Ia tak punya bahu lagi untuk bersandar.

Namun, di tengah isak tangisnya yang mulai mereda, tiba-tiba bayangan Kapten Devran muncul. Pria yang membelanya di Batam, pria yang memberikan salep dengan tatapan teduh, dan pria yang ternyata memikul luka yang sama dalamnya dengannya.

Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, Karina merasa ada seseorang yang "melihatnya" bukan sebagai objek, melainkan sebagai manusia.

Dan pikiran itu, entah mengapa, memberikan sedikit kekuatan di tengah keputusasaan yang melumpuhkannya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 15. Terdampar Di Pulau Terpencil

    Malam kian melarut, namun kegelapan di pesisir Kalimantan ini terasa lebih pekat dari biasanya, seolah-olah ia adalah entitas hidup yang siap menelan siapa saja yang terjebak di dalamnya.Di bawah pendar bintang yang samar, Devran bersandar pada sebuah batu karang besar yang dingin. Wajahnya yang biasanya tegas dan berwibawa kini pucat pasi, peluh dingin membanjiri keningnya.Kaki kirinya robek cukup dalam akibat serpihan logam pesawat, darah merembes keluar membasahi kain seragamnya yang compang-camping.Karina berdiri beberapa langkah di depannya, menatap hamparan laut yang hitam dan hutan lebat yang membentang di belakang mereka bagaikan barisan raksasa yang mengintimidasi.Angin laut berhembus kencang, membawa aroma garam dan firasat buruk. Tiba-tiba, dari kedalaman hutan, terdengar suara lolongan yang panjang dan menyayat-lolongan anjing hutan yang saling bersahutan.Karina merinding. Bulu kuduknya berdiri tegak. Ia tahu mereka tidak bisa terus berada di alam terbuka ini. "Kapten

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 14. Jatuhnya Airbus A380

    Sunyi yang mematikan menyelimuti kedalaman perairan Kalimantan. Bangkai logam raksasa itu kini beristirahat di dasar laut yang gelap, dikelilingi oleh gelembung-gelembung udara terakhir yang lolos dari kabin yang terendam.Di dalam sana, tak ada pergerakan. Hanya ada tubuh-tubuh yang terombang-ambing pelan mengikuti arus bawah laut, terperangkap dalam sabuk pengaman yang kini menjadi jerat maut.Di atas permukaan, pemandangannya berbanding terbalik. Deru baling-baling helikopter membelah langit yang mendung. Dari balik kacamata hitam Renata Masayu menatap keluar jendela helikopter dengan tatapan yang sulit diartikan.Begitu helikopter mendarat di area darurat yang didirikan di tepi pantai, pemandangan dramatis langsung menyambutnya. Garis pantai Kalimantan yang biasanya tenang kini berubah menjadi medan perang.Puluhan mobil polisi dengan lampu strobo yang berkedip biru-merah memenuhi pelataran. Sepuluh ambulans berderet rapi, mesinnya tetap menyala, siap melesat kapan saja.Tim penye

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 13. Badai Di Atas Khatulistiwa

    Gemuruh mesin Airbus A320 membelah kesunyian landasan pacu Bandara Soekarno-Hatta saat fajar menyingsing. Di dalam kokpit, Devran Mahendra menarik tuas kendali dengan presisi yang sempurna, membiarkan tubuh pesawat yang kokoh itu menanjak membelah awan menuju langit Kalimantan.Di balik seragam pilotnya, jantung Devran berdegup dengan irama yang tak biasa-bukan karena takut akan ketinggian, melainkan karena ia tahu, hanya beberapa meter di belakang dinding kokpit ini, Karina sedang melangkah anggun melayani penumpang.Di kabin, Karina dan Ririn bergerak dengan sigap. Senyum profesional terpasang di wajah mereka, menyamarkan badai batin yang sedang berkecamuk."Makasih, Kakak Cantik.""Sama-sama, Sayang."Karina tersenyum lembut menanggapi. Ia baru saja menyerahkan segelas air kepada seorang anak kecil saat ia merasakan getaran halus di bawah kakinya.Pikirannya melayang sejenak pada wajah Devran di kantin tadi pagi, namun ia segera menepisnya. Ia harus fokus. Ia harus bertahan hidup

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 12. Hati Yang Rapuh

    Fajar belum benar-benar pecah di ufuk timur Jakarta, namun penthouse mewah itu sudah menyimpan ketegangan yang sunyi. Di dalam kamarnya, Devran Mahendra berdiri di depan cermin, merapikan seragam pilotnya dengan ketelitian yang tidak biasa.Satu pekan telah berlalu sejak penerbangan ke Bali yang melelahkan secara mental, dan hari ini adalah hari yang paling ia nantikan. Namanya bersanding dengan nama Karina dalam daftar kru penerbangan menuju Kalimantan.Semalam, Devran melakukan sesuatu yang jarang ia lakukan; ia tidur sangat awal. Ia menyumbat telinganya rapat-rapat dengan earphone, memutar musik klasik dengan volume tinggi hanya untuk membentengi diri dari suara-suara laknat-desahan dan tawa Renata bersama Hengki yang menggema dari kamar sebelah.Ia ingin bangun dengan wajah segar, tanpa kantung mata yang menghitam akibat frustrasi. Ia ingin terlihat sempurna saat mata Karina menatapnya nanti.Di ruang makan, Welas dan Bi Irah saling lirik dengan senyum kecil. Mereka menyadari peru

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 11. Risiko Seorang Pramugari

    Awan-awan putih berarak di bawah sayap Airbus A320, menghampar bagaikan permadani perak yang tak berujung. Di dalam kokpit yang hanya diterangi oleh pendar instrumen digital, Devran duduk seorang diri. Kesunyian di ketinggian 35.000 kaki itu biasanya menjadi meditasi baginya, namun kali ini, kesunyian itu justru terasa menyesakkan. Pikirannya melayang, menjauh dari tuas kendali, menembus memori tentang raut wajah Karina.Ia teringat kali pertama melihat wanita itu-seorang pramugari baru dengan binar mata penuh harapan yang kini mulai meredup akibat kerasnya hidup. Ia teringat pertemuan tak terduga di mall dua hari lalu, saat Karina tampak begitu rapuh di bawah langit Jakarta yang mendung. Tanpa ia sadari, ada rasa rindu yang merayap halus, sebuah perasaan asing yang selama tiga tahun ini terkubur di bawah tumpukan kebencian dan tekanan Renata."Kopi, Kapten?"Suara itu memecah lamunan Devran. Jantungnya sempat melonjak kecil, ada secercah harapan konyol bahwa suara lembut itu mili

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 10. Obsesi Sang Kapten

    Pagi menyapa Jakarta dengan langit kelabu yang menggantung rendah, seolah turut merasakan beban yang menindih bahu Devran Mahendra. Di depan cermin setinggi langit-langit kamarnya yang mewah, Devran berdiri tegak, melakukan ritual harian yang telah menjadi rutinitas hampa selama tiga tahun terakhir. Ia merapikan kerah seragam pilotnya yang putih kaku, memastikan setiap lencana dan tanda pangkat berada pada posisi yang sempurna. Siluet di depan cermin itu adalah gambaran kesempurnaan maskulin; wajah tampan dengan rahang tegas yang dicukur bersih, serta tubuh atletis yang terbentuk dari latihan disiplin. Namun, bagi Devran, pantulan itu hanyalah sebuah bungkus tanpa isi. Kesempurnaan fisik ini terasa sia-sia, sebuah panggung megah untuk pertunjukan yang tak pernah terjadi. Sebagai laki-laki di usia puncaknya, ia merasa seperti hidup dalam sel yang sangat sempit, tidak pernah benar-benar mengecap nikmatnya cinta dan kasih sayang yang tulus. Ia menarik laci kaca yang beris

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status