LOGINWaktu seolah merambat lamban di dalam unit Apartemen Melati yang sunyi. Jarum jam baru saja menyentuh angka tiga sore, namun bagi Karina, hari ini terasa seperti ribuan tahun penderitaan.
Di dapur yang kecil namun rapi, ia mencoba membunuh rasa sepi dan sisa panas di pipinya akibat tamparan Viona-kakak Ferdi-tadi pagi. Karina menyibukkan diri dengan pisau dapur, memotong wortel dan kentang dengan gerakan mekanis. Aroma kaldu sapi yang gurih mulai memenuhi ruangan, uap mengepul dari panci besar di atas kompor. Ia sedang menyiapkan sup iga sapi, hidangan yang selalu menjadi favorit Ferdi setiap kali suaminya itu merasa lelah. Karina mencoba mengabaikan suara-suara jahat di kepalanya yang mengulang tuduhan keji Viona tentang perselingkuhan. Ia hanya ingin menjadi istri yang baik, meski cintanya sedang diuji oleh tembok ketidakpedulian Ferdi dan kekejaman mertuanya. Tiba-tiba, getaran ponsel di atas meja makan memecah keheningan. Karina mencuci tangannya yang basah, lalu segera meraih benda pipih itu. Layarnya menampilkan nomor kantor pusat Samudera Airline. Dengan jantung berdebar, ia menekan tombol hijau. ["Halo, selamat sore, Karina Prameswari. Kami mengabarkan bahwa masa cuti Anda berakhir lebih cepat. Perusahaan sedang kekurangan kru untuk rute domestik padat minggu depan. Anda sudah dijadwalkan kembali terbang mulai Senin pagi. Apakah Anda bersedia?"] Karina tertegun sejenak. Senyum tipis terukir di bibirnya yang pucat. "I-iya, Pak. Saya bersedia. Terima kasih banyak informasinya." Setelah panggilan ditutup, Karina terduduk lemas di kursi makan. Di satu sisi, ia sangat lega. Ia membutuhkan setiap rupiah untuk biaya rumah sakit Ferdi yang membengkak. Namun di sisi lain, ia tahu betul keputusannya untuk kembali bekerja akan menjadi bahan bakar baru bagi Hana dan Viona untuk membencinya. Mereka akan menuduhnya lagi-lagi menelantarkan Ferdi demi kesenangan pribadinya di angkasa. Belum sempat kegelisahan itu mereda, ponselnya kembali berdering. Nama Ririn terpampang di layar. ["Karina! Lo udah dapet kabar?" suara Ririn terdengar meledak-ledak di seberang sana. "Minggu depan kita satu schedule ke Kalimantan! Lo harus ikut, pokoknya gue nggak mau tau! Gue udah kangen banget curhat sama lo."] Karina ragu sejenak. "Mbak, tapi kondisi di rumah lagi agak panas. Mas Ferdi juga baru... ah, entahlah." ["Kar, dengerin gue,"] nada suara Ririn melembut namun tegas. ["Lo butuh udara segar. Lo butuh kerja buat waras. Kalau lo cuma di rumah atau di rumah sakit terus, lo bakal gila dengerin omongan keluarga suami lo. Ikut ya? Kita terbang bareng."] Karina menarik napas panjang, menatap panci sup iganya. Akhirnya, ia menyerah. "Oke, Mbak. Aku ikut." ["Yesss! Gitu dong! Sampai ketemu di bandara ya!"] Ririn bersorak sebelum memutus sambungan. Kesunyian di Balik Kemewahan Sementara itu, di sisi lain Jakarta, sebuah Rolls-Royce berhenti di pelataran penthouse megah. Devran melangkah keluar dengan bahu yang tampak turun. Suasana di dalam kediamannya sangat sepi, kontras dengan keramaian kota yang baru saja ia tinggalkan. Hanya ada Bi Irah dan Welas yang menyambutnya dengan anggukan sopan di pintu depan. Devran berjalan menuju balkon, melepas jam tangan mahalnya dan meletakkannya begitu saja di meja marmer. Ia duduk di sofa rotan yang menghadap ke gedung-gedung pencakar langit Jakarta. Pikirannya melayang pada kejadian di mal tadi, saat ia melihat Karina yang tampak begitu rapuh. Ia memeriksa ponselnya, berharap ada sesuatu yang bisa mengalihkan rasa jenuhnya, namun nihil. Welas datang membawakan secangkir kopi hitam tanpa gula, aroma pahitnya menguar di udara sore yang sejuk. "Makan malam sudah siap di meja, Mas Devran. Mau disiapkan sekarang?" tanya Welas lembut. Devran menggeleng tanpa menoleh. "Nggak usah, Welas. Saya nggak lapar. Simpan saja di dapur." Welas hanya bisa mengangguk pelan dan undur diri. Di balik pintu dapur, Bi Irah sudah menunggu dengan wajah penasaran. "Gimana? Mas Devran mau makan?" Welas menggeleng sedih. "Kelihatannya nggak, Bi. Kayak biasa, murung terus. Kasihan ya, punya istri cantik dan kaya tapi Mas Devran kayak bujangan kesepian yang nggak punya tujuan hidup." "Ssst! Jangan keras-keras," bisik Bi Irah sambil waspada melirik ke arah lorong. "Kita ini cuma kerja di sini. Jangan ikut campur urusan majikan. Kalau Mbak Renata dengar kita ngomongin Mas Devran begini, kita berdua bisa langsung ditendang keluar tanpa pesangon. Udah, mending beresin dapur aja." Welas terdiam, menatap pintu kamar Devran yang tertutup rapat. Di dalam sana, Devran mungkin memiliki segalanya yang diimpikan orang, kecuali satu; rasa dihargai. .................................. Karina tiba di Rumah Sakit Permata dengan hati yang lebih ringan. Tangannya menjinjing rantang stainless tiga susun yang masih terasa panas. Sup iga sapi itu ia buat dengan segenap cinta, berharap hidangan itu bisa menjadi jembatan perdamaian antara dirinya, Ferdi, dan mertuanya. Langkahnya cepat, hampir berlari menuju kamar inap Ferdi. Namun, saat ia sampai di depan pintu kamar nomor 402, ia mematung. Pintu itu terbuka lebar, dan yang terlihat hanyalah seorang petugas kebersihan yang sedang mengganti seprai tempat tidur. Kamar itu kosong. "Mas, pasien yang di sini di mana ya? Dipindah ke ruang lain?" tanya Karina dengan nada panik, jantungnya mulai berdegup kencang. "Oh, pasien atas nama Bapak Ferdi ya, Mbak? Tadi sudah checkout sekitar dua jam yang lalu," jawab petugas itu tanpa dosa. Apa? Dunia seolah runtuh di bawah kaki Karina. Tega sekali. Ibu mertuanya dan Viona benar-benar membawanya pulang tanpa memberinya kabar sepatah kata pun. Ia merasa seperti orang asing yang tak dianggap dalam hidup suaminya sendiri. Dengan langkah gontai dan mata yang mulai berkaca-kaca, Karina berjalan menyusuri koridor menuju pintu keluar. Rantang di tangannya terasa sangat berat sekarang. Namun, langkahnya terhenti saat seorang suster memanggil namanya dari meja administrasi. "Ibu Karina? Istri dari Bapak Ferdi?" "Iya, Suster. Ada apa ya?" Suster itu menyodorkan sebuah map plastik berisi tumpukan kertas berkas tagihan. "Ini ada tagihan sisa pengobatan dan tindakan operasi yang belum dilunasi. Keluarga Bapak Ferdi tadi berpesan, katanya tagihan ini diserahkan kepada Ibu saja untuk diselesaikan. Mereka bilang Ibu yang akan mengurus semuanya." Karina menerima map itu dengan tangan gemetar. Ia membukanya perlahan, dan seketika pandangannya mengabur saat melihat angka total di baris paling bawah. Puluhan juta rupiah. Uang yang bahkan tak sanggup ia kumpulkan meski harus terbang siang malam selama setahun penuh. Mereka tidak hanya mengambil suaminya, mereka juga sengaja meninggalkan "bom waktu" finansial untuk menghancurkannya. ................................... Malam pun jatuh, namun bagi Renata dan Hengki, pesta baru saja dimulai. Di sebuah diskotik eksklusif dengan pencahayaan neon yang menyilaukan, suara dentuman musik techno menggetarkan dinding-dinding ruangan. Renata, dalam balutan gaun minim yang berkilauan, menari dengan gerakan setengah mabuk di bawah guyuran lampu strobe. Hengki berada di belakangnya, memeluk pinggang Renata dengan posesif sambil memegang gelas wiski. Orang-orang di sekitar mereka bersorak, memuja pasangan gelap yang tampak begitu liar dan bebas itu. Setelah pesta berakhir di tengah malam, Hengki memapah Renata yang sudah kehilangan kesadaran menuju lobi. "Kamu, antar dia ke penthouse." "Baik, Pak." Begitu mobil mewah itu menjauh, senyum manja di wajah Hengki lenyap seketika, berganti dengan kilatan mata yang dingin dan penuh perhitungan. Hengki tidak mencintai Renata. Baginya, Renata hanyalah batu loncatan, sebuah kunci emas untuk membuka brankas kekayaan keluarga Masayu. Ia sudah bosan dengan sikap Renata yang arogan, namun ia tetap bertahan demi satu tujuan; menguasai Samudera Airline. Ia kembali masuk ke dalam diskotik, menuju area VIP yang lebih privat. Seorang wanita muda berpakaian provokatif segera naik ke pangkuannya. Hengki mengangkat gelasnya tinggi-tinggi ke arah teman-temannya sesama pengusaha. "Bersulang, kawan-kawan! Untuk calon CEO tunggal Group Masayu dan Samudera Airline yang baru!" teriak Hengki dengan suara lantang. Semua orang di meja itu bersorak riuh. Di tengah remang cahaya dan aroma alkohol, Hengki mulai menciumi wanita di pangkuannya dengan kasar. Ia tidak peduli pada Renata yang mungkin sedang muntah-muntah di mobil, atau Devran yang sedang menderita dalam diam. Di tempat ini, moralitas tidak berlaku. Hanya ada ambisi dan nafsu yang akan terus mereka nikmati sampai matahari terbit kembali.Waktu bergulir tanpa kompromi. Tiga tahun berlalu penuh dinamika, membawa perubahan mendalam bagi mereka yang bertahan.Pagi ini, udara di luar Lembaga Pemasyarakatan Wanita terasa berbeda bagi Karina Prameswari. Hari ini adalah hari kebebasannya.Di dalam sel tahanan yang telah menjadi rumahnya selama tiga tahun, Karina berkemas pelan. Langkah kaki sipir terdengar mendekat untuk menjemputnya.Sebelum melangkah menuju pintu gerbang utama, Karina memeluk erat teman-teman satu selnya.Loli dan beberapa tahanan lain meneteskan air mata haru, melepaskan wanita yang selama ini menjadi sosok lembut di antara kerasnya dinding penjara.Di sudut ruangan, Elen—sang penguasa sel yang bertubuh tinggi tegap—hanya berdiri membisu, menyaksikan perpisahan itu tanpa niat bergabung.Karina memutar tubuhnya, menatap Elen. Wanita yang dulu selalu menindasnya di awal masa tahanan itu telah berubah menjadi sosok pelindung terdepan bagi Karina selama tiga tahun terakhir.Karina melangkah mendekat. "Kak E
Di Pulau Batam, cuaca siang terasa terik.Rain Gumilang berjalan tergesa-gesa menyusuri lobi lantai lima kantor cabang Miracle Group—sebuah gedung pencakar langit megah yang baru saja diakuisisi oleh ayahnya dan belum sempat Rain kunjungi sebelumnya."Bos!" Reza berjalan setengah berlari di belakang Rain, membawa dua tas dokumen yang tebal. "Gue tahu lo juara lari maraton waktu di militer... tapi ini di kantor! Bisa nggak pelan dikit jalannya? Gue ngos-ngosan nih! Bos!"Rain tidak peduli dengan rengekan Reza. Ia harus sampai lebih dulu dari ayahnya. Namun, saat Rain hendak berbelok di koridor utama menuju ruang rapat—BRUK!Rain berbenturan keras dengan seorang wanita yang berjalan cepat dari arah berlawanan.Tumpukan folder dokumen, kertas laporan, dan tablet yang dibawa wanita itu seketika terlepas dan berhamburan berantakan di atas lantai marmer."Aww!" wanita itu merintih, refleks memegangi lengannya.Wanita itu bernama Natasha. Berusia setara dengan Karina, Natasha memilik
"Saya enggak bisa menerimanya, Pak Malik," ucap Devran lirih namun tegas.Pak Malik terkejut. Eric yang duduk di samping Devran langsung melotot tak percaya."Kenapa, Pak Devran?" tanya Pak Malik terheran-heran. "Ini adalah hak hukum Anda sebagai suami sah beliau.""Saya merasa jijik sama diri saya sendiri kalau menerima semua ini," bisik Devran dengan nada penuh penyesalan. "Selama tiga tahun menikah, saya gak pernah membahagiakan Renata. Pernikahan kami cuma diisi kebencian. Kalau saya ambil warisan ini sekarang... saya cuma akan kelihatan seperti pria brengsek yang mengeruk keuntungan dari kematian tragis istrinya sendiri. Tolong alihkan saja semuanya."Pak Malik menghela napas berat. "Jika Anda menolak secara resmi, Pak Devran, maka sesuai klausul cadangan, seluruh aset keluarga Masayu akan dibekukan dan dialihkan ke yayasan sosial. Tapi... saya minta Anda pikirkan baik-baik."Eric yang sejak tadi menahan diri akhirnya tidak bisa tinggal diam lagi. Ia mencondongkan tubuhnya ke
Pagi itu, udara Jakarta terasa luar biasa dingin. Kabut tipis menyelimuti deretan pohon kamboja di Pemakaman Umum Tanah Kusir.Mobil-mobil mewah berwarna hitam berderet rapi di sepanjang bahu jalan kompleks pemakaman.Puluhan orang berseragam gaun dan setelan jas hitam berkumpul mengelilingi liang lahat yang masih menganga lebar, menunggu prosesi pemakaman dimulai.Tiga hari telah berlalu sejak malam mencekam di bangunan terbengkalai itu—malam yang diwarnai penyekapan, ledakan bom yang menewaskan Anggun dan Hexa, hingga ditemukannya jenazah kaku Renata Masayu di dalam kulkas.Hari ini, seluruh babak berdarah itu ditutup dengan keheningan yang abadi.Devran berdiri paling depan di tepi liang lahat. Pria itu mengenakan kemeja dan jas hitam, matanya tertutup kacamata hitam untuk menyembunyikan sembap dan luka memar yang belum sepenuhnya pulih. Ia datang untuk mengantarkan mendiang istrinya ke peristirahatan terakhir.Di dalam peti mati kayu jati berukir yang dihiasi hamparan mawar put
Berita penculikan kapten pilot Devran, ledakan bom di gedung tua yang menewaskan Anggun dan Hexa, hingga ditemukannya mayat tragis CEO Samudera Airlines, Renata Masayu di dalam kulkas perusahaannya sendiri, meledak menjadi berita utama di seluruh stasiun televisi dan media nasional siang itu.Seluruh Indonesia menahan napas; kenyataan bahwa sang CEO dibunuh secara keji oleh saudara kembar kandungnya sendiri yang selama ini disembunyikan dari publik menjadi skandal terbesar tahun ini.Di Lapas Wanita Cipinang, suasana kantin saat makan siang mendadak hening. Televisi gantung di sudut ruangan menayangkan breaking news mengenai kematian Renata Masayu.Karina, yang sedang duduk bersama Loli dan beberapa tahanan lain, menghentikan suapannya. Matanya menatap layar televisi tanpa berkedip. Wajahnya memucat, rasa syok mendalam merayapi dadanya.Loli menyenggol lengan Karina pelan, matanya membelalak. "Kar... bukannya itu mantan bos kamu di maskapai dulu? Si Renata Masayu yang terkenal galak i
"Di mana Renata?! Apa yang sudah kalian lakukan padanya?!" bentak Devran.Anggun hanya terdiam, gemetaran dalam ketakutan.Melihat rahasia besar terbongkar dan Anggun terpojok, Hexa bergerak secepat kilat. Ia menarik pistol otomatis dari balik jasnya dan menodongkannya tepat ke dahi Devran."Tutup mulutmu, Pilot!"Namun Devran yang terlatih tidak tinggal diam. Dengan refleks secepat angin, Devran memutar tubuhnya, mengayunkan tendangan lurus yang menghantam pergelangan tangan Hexa keras.BUK!Pistol terlempar ke udara dan terjatuh di lantai beton. Perkelahian fisik yang sengit tak terhindarkan. Devran dan Hexa saling banting, melayangkan pukulan mentah di tengah kepungan debu dan reruntuhan.Di sudut lain, Anggun yang panik luar biasa berlutut di depan bom waktu. Mengingat sedikit pengetahuan tentang peledak, jemarinya yang gemetar mencabut asal salah satu kabel berwarna merah.BZZZZT!Layar digital bom mendadak mati. Penghitung waktu berhenti tepat di angka 01:12.Pada saat yang bers







