ログインSiang yang mendung. Mak Acih sedang sibuk melipat pakaian yang baru diangkat dari jemuran di ruang tamu, kala telinganya menangkap suara ketukan di pintu depan.
“Siapa?” tanya Mak Acih. Ia menghentikan aktivitasnya, seraya menatap ke arah pintu menunggu jawaban.
Suara ketukan
Demi mengurangi sedikit rasa takutnya, Fanny sengaja membuka pintu depan dan semua jendela rumah lebar-lebar. Ia berharap sinar matahari pagi bisa mengusir atmosfer pekat di dalam rumah, sekaligus berpikir jika terjadi sesuatu yang buruk, ia bisa dengan mudah berlari keluar. Satu-satunya harapan Fanny saat ini adalah Rizky. Ia tak sabar menunggu putranya itu cepat pulang untuk menemaninya.Namun seperti biasa, begitu berganti baju, Rizky langsung meminta izin untuk bermain di kebun samping rumah bersama temannya. Walau berat hati, Fanny tetap merelakan putra sulungnya pergi. Ia tidak mungkin bersikap egois dengan menahan Rizky di dalam rumah hanya untuk menemaninya yang ketakutan. Apalagi, Rizky bermain tidak jauh, hanya di samping rumah mereka.Sepeninggal Rizky, rumah yang sempat ramai selama bebe
Namun, begitu telapak kakinya menginjak lantai dapur, seluruh kegaduhan mengerikan itu mendadak sirna. Lenyap dalam sekejap mata.Dapur itu kosong melompong. Sunyi senyap. Tidak ada sosok pria maupun wanita yang tadi bereriak menjerit kesakitan dan meminta ampun di sana.Fanny perlahan menurunkan sapu di tangannya. Hawa dingin yang janggal langsung berembus, membungkus tubuhnya yang mendadak sudah keluar keringat dingin.Ibu muda berusia tiga puluh tahun itu berdiri mematung. Dadanya naik-turun memburu seiring matanya yang mengedar liar menembus kegelapan dapur.Halusinasi lagi?batinnya ketakutan. 
Keesokan paginya.“Kikan demam lagi?” tanya Rian saat pagi itu ia sedang bersiap-siap untuk berangkat kerja sekalian mengantarkan Rizky ke sekolah. Ia membungkuk, meraba dahi Kikan yang tampak tertidur gelisah di atas kasur.“Iya. Padahal kemarin siang dia enggak kenapa-kenapa, lho, Mas,” jawab Fanny bingung.“Ya sudah. Nanti kasih obat turun panas saja dulu. Kamu masih punya stoknya, kan?”Fanny mengangguk pelan. “Punya, sih. Tapi kalau sampai nanti sore panasnya Kikan enggak turun-turun, aku mau bawa dia ke bidan desa. Takutnya makin parah.”
Fanny menatap bocah laki-laki yang sedang terlelap dalam pelukannya. Tangannya bergerak lembut, mengelus wajah dan rambut sang putra dengan penuh rasa sayang. Senandung lirih mengalun pelan dari bibirnya—sebuah nyanyianninaboboyang terdengar menenangkan.Suasana di dalam kamar terasa sunyi. Dalam lamunannya, Fanny merasakan bulir-bulir air mata mengalir turun membasahi pipi. Tanpa iaketahuidari mana asalnya, sebuah aura kesedihan yang teramat menyakitkan perlahan merayap dan memenuhi rongga dadanya. Membuat hatinya terasa remuk redam.Rasanya seperti separuh jiwanya telah direnggut paksa. Seolah dunianya kini sudah runtuh dan tak lagi sama.Dengan sisa air mata di sudut kelopak, Fanny memand
Keesokan paginya.“Kikan demam lagi?” tanya Rian saat pagi itu ia sedang bersiap-siap untuk berangkat kerja sekalian mengantarkan Rizky ke sekolah. Ia membungkuk, meraba dahi Kikan yang tampak tertidur gelisah di atas kasur.“Iya. Padahal kemarin siang dia enggak kenapa-kenapa, lho, Mas,” jawab Fanny bingung.“Ya sudah. Nanti kasih obat turun panas saja dulu. Kamu masih punya stoknya, kan?”Fanny mengangguk pelan. “Punya, sih. Tapi kalau sampai nanti sore panasnya Kikan enggak turun-turun, aku mau bawa dia ke bidan desa. Takutnya makin parah.”
Sesampainya di area parkir luar sekolah, Fanny yang semula sudah memantapkan niat untuk mempertanyakan perihal luka memar Rizky kepada wali kelas, langsung turun darisepeda guna mengantar putra sulungnya sampai ke kelas.Namun, begitu mereka tiba di depan gerbang sekolah, langkah Fanny seketika tertahan. Ia mendapati teman-teman Rizky menyambut kedatangan putranya dengan sorak gembira yang tulus. Rizky pun melempar senyum lebar, melambaikan tangan untuk pamit pada Fanny, lalu melangkah masuk ke halaman sekolah dengan sangat ceria.Fanny tertegun di tempatnya berdiri, merasakan perang batin yang berkecamuk hebat di dalam dada. Ia mendadak teringat ucapan Rian tadi pagi soal kemungkinan alergi makanan. Logika rasionalnya langsung menampar kekhawatirannya sendiri. Jika ia nekat masuk ke ruang gur
“Kain kafannya dipotong sesuai tinggi jenazah, Neng, tapi ditambah kira-kira tiga jengkal.” Mak Acih membentang jemari tangan kanannya lebar-lebar. Neneng manggut-manggut. Ia mengambil gunting, bersiap memotong panjang kain sesuai yang diperintahkan sang bibi.“Bikin tiga helai, Neng.”“Panjangnya
Tergesa, Neneng keluar rumah menuju arah kulon rumah Lilis, mencari letak pohon kelor yang ternyata tumbuh di antara pohon pepaya dan rambutan. Dirimbuni semak rumput liar. Bergegas ia memetik beberapa batang daun kelor, lalu memasukkannya dalam tas pandan. Sesuai perintah Mak Acih, buru-buru ia m
Hati Neneng terenyuh. Ia dan Lilis merupakan teman masa kecil. Mereka cukup dekat, walau perempuan cantik itu lebih tua beberapa tahun darinya. Komunikasi semakin berkurang, saat Lilis bersekolah di bangku SMP, sementara Neneng masih duduk di bangku kelas lima SD. Tahun-tahun berlalu tanpa pernah
Menjalani profesi sebagai pemandi jenazah, jelas bukan impian semua orang. Terutama bagi mereka yang berjiwa penakut dan materialistis. Sebuah profesi yang harus dilakukan dengan hati ikhlas lagi sabar, serta meluruskan niat hanya untuk beribadah sebagai amal jariah, bekal bagi diri saat berada di







