Home / Horor / MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH / NASIB BUNGA (Bag. 15)

Share

NASIB BUNGA (Bag. 15)

Author: Diah Pitasari
last update publish date: 2026-05-31 11:00:05

Assalamualaikum.” 

Mak Acih yang sedang menyapu halaman samping, menoleh ke arah teras depan rumah, tempat tadi ia mendengar seseorang berucap salam.

Wa ’

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    KESEDIHAN MAK POPON (BAG. 1)

    Jarum jam menunjukkan pukul sebelas siang ketika MakAcihberjalan sendirian sambil membawa rantang di tangannya. Ia baru saja pulang dari mengantarkan bekal makan siang untuk Aki Amin yang bekerja menggarap sawah milik Haji Kosim, juragan beras di DesaCialas.Langkah ringan MakAcihterhenti saat ia mendengar suara seseorang memanggil namanya.“Acih,badékamana?” Suara yang sangat ia kenal. Halus dan agak serak.MakAcihmenoleh dan mendapati Popon, temannya, sedang duduk sendirian di balai-balai bambu depan rumahnya yangberhalamanluas.“Eh, Popon. Uran

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    KARTA GELAP MATA (Bag.. 28)

    Doa yang tulus itu ternyata menunjukkan keajaibannya. Tanah yang semula keras, kini melunak dan terasa lebih mudah untuk dicangkuli. Gumpalan tanah mulai terangkat satu demi satu. Tak lama kemudian, lubang makam itu pun akhirnya selesai digali dengan kedalaman yang pas sesuai standar pemakaman pada umumnya. Mereka semua serempak mengucapkan hamdalah, menarik napas lega melihat keberhasilan kerja keras mereka.Tak bersangsur lama, dari kejauhan, iring-iringan pembawa keranda mulai terlihat memasuki kompleks pemakaman. Samar-samar, lantunan kalimat tahlil yang khusyuk terdengar mengiringi kedatangan jasad Karta.Prosesi pemakaman pun dilanjutkan sebagaimana mestinya. Kain hijau penutup keranda dibuka, dan jasad Karta perlahan diturunkan ke dalam liang lahat oleh beberapa warga.Namun, tepat saat jenazah itu menyentuh dasar tanah, sebuah keanehan terjadi. Tiba-tiba saja, dari sela-sela dinding tanah makam, ke

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    KARTA GELAP MATA (Bag. 27)

    Perjalanan ronda malam mereka akhirnya sampai di sebuah persimpangan jalan setapak yang mengarah ke rumah Karta. Namun, karena di sepanjang jalan setapak itu tidak ada rumah lain selain rumah Karta yang kini kosong melompong, rombongan peronda biasanya tidak akan berputar sampai ke sana. Mereka meneruskan langkah ke bagian jalan lain.Baru beberapa langkah melewati persimpangan jalan setapak itu, tiba-tiba mereka merasakan hembusan angin yang halus, tetapi rasa dinginnya sangat tajam, menusuk langsung ke tulang. Itu adalah jenis dingin yang tidak lazim untuk malam di desa mereka. Serentak, Saep, Ferdi, dan Ustadz Agum merapatkan jaket dan sarung masing-masing.Tiba-tiba, dari arah jalan setapak menuju rumah Karta yang gelap gulita, terdengar suara gemerincing lonceng yang sangat khas. Bercampur dengan derap tapak kaki kuda dan gilingan roda kayu yang berjalan pelan, bergema membelah kesunyian malam yang tanpa suara serangga

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    KARTA GELAP MATA (Bag. 26)

    Wujud itu tak salah lagi, adalah Buto Ijo. Setelah berjuang sekuat tenaga melawan rasa sesak di dada, Karta akhirnya berhasil mengeluarkan suara yang parau. "Lepaskan! Kau siapa? Kenapa membawa saya?!" seru Karta panik, air mata ketakutan mulai membanjiri pipinya. Ia merasa mual setengah mati oleh bau busuk yang menguar dari tubuh raksasa itu. Sosok Buto Ijo itu menunduk, menatap Karta dengan mata merah menyala yang penuh kebencian. "Kau adalah tumbal manusia yang diberikan oleh budakku! Nyawamu adalah milikku sekarang!" "Apa? Tapi..." Kalimat Karta terputus. Pikirannya seketika tertuju pada amplop tebal berisi uang yang diberikan bosnya tadi siang. Jadi, inilah harga dari uang itu. Inilah jebakan yang tidak ia sadari. Karta merasa geram, namun di saat yang sama, rasa takut yang luar biasa meremukkan mentalnya. Ia tiba-tiba teringat bagaimana dulu ia sendiri sering menumbalkan orang

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    KARTA GELAP MATA (Bag. 25)

    Di tempat lain, di salah satu sudut sebuah kota besar.Karta menyelonjorkan kakinya yang terasa pegal. Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang.Waktunya beristirahat. Beberapa hari ini, ia beruntung bisa bekerja menjadi kuli bangunan di salah satu proyek pembangunan apartemen di kota itu.Sejak meninggalkan Desa Cialas, demi menyambung hidup, Karta memang rela bekerja serabutan apa saja. Ia sadar harus punya uang untuk membayar biaya pesantren Acun. Meski Ustadz Agum sudah berkali-kali menegaskan bahwa Karta tidak perlu memusingkan soal biaya, tetap saja ada perasaan malu dan harga diri yang terusik, kalau sampai ia seratus persen menggantungkan biaya hidup dan sekolah anaknya kepada pihak donatur.Tak ada yang mengenalnya di tempat megapolitan ini. Ia murni bekerja sebagai orang asing yang memulai segalanya dari nol.‘Ah, bagaimana kabar putranya sekarang?’ Karta membatin. Ia bahkan t

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    KARTA GELAP MATA (Bag. 24)

    Menjalani hari-hari di pesantren, nyatanya tidak membuat Acun merasa kesepian. Remaja yang memang berjiwa supel itu, dengan mudah berbaur bersama para santri lainnya. Ia selalu mengikuti peraturan, rajin beribadah, dan menyimak setiap pelajaran agama dengan sangat baik.Sementara itu di tempat lain, Karta terus dirundung keputusasaan. Beberapa kali ia nekat kembali mendatangi lokasi di mana gubuk Nyi Damar dulu berada. Namun, gubuk tua itu benar-benar telah hilang tanpa bekas, seolah ditelan bumi. Bahkan, orang yang dulu pernah memberinya informasi tentang sang dukun itu pun tidak pernah lagi menampakkan batang hidungnya.Karta membagi fokusnya pada kelangsungan pendidikan Acun. Masa depan sang putra menjadi satu-satunya penyemangat di kala raga mulai goyah. Ia sadar, usianya tak lagi muda untuk bersaing mencari pekerjaan mapan di kota. Maka, Karta bertahan hidup dengan bekerja serabutan apa saja. Menjadi kuli panggul, kuli

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    RUMAH BARU UNTUK PARDI (Bag 1)

    Pagi yang cerah di Desa Cialas. Angin bertiup sepoi-sepoi, membawa kesejukan dan aroma segar udara pegunungan. Aki Amin melangkah sendirian menuju sawah Haji Kosim yang terbentang luas dan bertanah subur. Berada tepat di bawah perbukitan yang ditumbuhi pepohonan besar berusia tua. Ia dan beberapa te

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    ANAKING JIMAT AWAKING (Bag. 1)

    Subuh yang dingin dan sepi di Desa Cialas. Sang raja siang masih enggan menampakkan sinarnya. Ketika tiba-tiba suasana syahdu pagi nan sunyi, dibuyarkan suara sepiker masjid yang mengumumkan kabar duka. Hari ini, seorang perempuan warga Desa Cialas, telah berpulang. Meninggalkan gemerlap duniawi ya

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    SUSUK PEMIKAT LILIS (Bag. 4)

    “Kain kafannya dipotong sesuai tinggi jenazah, Neng, tapi ditambah kira-kira tiga jengkal.” Mak Acih membentang jemari tangan kanannya lebar-lebar. Neneng manggut-manggut. Ia mengambil gunting, bersiap memotong panjang kain sesuai yang diperintahkan sang bibi.“Bikin tiga helai, Neng.”“Panjangnya

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    SUSUK PEMIKAT LILIS (Bag. 3)

    Tergesa, Neneng keluar rumah menuju arah kulon rumah Lilis, mencari letak pohon kelor yang ternyata tumbuh di antara pohon pepaya dan rambutan. Dirimbuni semak rumput liar. Bergegas ia memetik beberapa batang daun kelor, lalu memasukkannya dalam tas pandan. Sesuai perintah Mak Acih, buru-buru ia m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status