Home / Horor / MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH / NASIB BUNGA (Bag. 15)

Share

NASIB BUNGA (Bag. 15)

Author: Diah Pitasari
last update publish date: 2026-05-31 11:00:05

Assalamualaikum.” 

Mak Acih yang sedang menyapu halaman samping, menoleh ke arah teras depan rumah, tempat tadi ia mendengar seseorang berucap salam.

Wa ’

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    YANG PATAH TUMBUH, YANG HILANG BERGANTI (Bab 3)

    Mak Acih langsung menangis histeris kala mendapati kenyataan, bahwa tubuh perempuan muda yang terbaring tak bernyawa itu benar adalah Cicih, anak kedua Edoh.Mak Acih memeluk tubuh itu erat sambil menangis memanggil-manggil nama sang cucu perempuan kesayangannya. Sayangnya, Cicih sudah tak lagi bernyawa, kendati Mak Acih sudah berusaha keras membangunkan sang cucu dari tidur panjangnya yang abadi.Beberapa orang penduduk datang membawa tandu sederhana yang terbuat dari dua ruas bambu yang dihubungkan dengan dua bambu pendek pada bagian atas dan bawahnya, serta kain terpal pada bagian tengahnya.“Punten, Mak, jenazah Cicih mau dibawa ke tempat pengumpulan jenazah di sebelah sana.” Jaka, salah seorang yang dike

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    YANG PATAH TUMBUH, YANG HILANG BERGANTI (Bab 2)

    Mak Acih baru saja selesai salat, dan akan membuka mukenanya, ketika tiba-tiba bumi yang ia pijak terasa bergetar dengan diiringi suara berdebum keras yang menggema seantero desa. Mak Acih berteriak kencang, tak jadi membuka mukena, seraya berulang kali mengucap istigfar, sambil berlari menuju meja kayu yang ada di dekatnya, bersembunyi meringkuk di bawah meja itu. Getaran perlahan mereda, suara berdebum pun mulai menghilang. Takut-takut, Mak Acih merangkak keluar dari kolong meja, lalu berlari ke luar rumah dengan masih mengenakan mukena.Di luar sudah ramai oleh para tetangga, yang juga sama-sama berlari menyelamatkan diri keluar dari rumah.Beberapa warga berteriak heboh seperti menyampaikan sesuatu. Mak Acih yang ma

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    YANG PATAH TUMBUH, YANG HILANG BERGANTI

    Pertengahan November di Desa Cialas.Setelah berbulan-bulan mengalami kemarau panjang, Musim hujan yang dinantikan akhirnya tiba. Namun di tengah sukacita menyambut hujan, warga Desa Cialas, beberapa hari terakhir, mendadak dihebohkan dengan kemunculan hewan-hewan yang biasanya berhabitat di lereng gunung.Aki Amin bercerita, beberapa tetangga ada yang melihat harimau liar melintas di pekarangan. Ular, babi dan kucing hutan pun makin banyak berkeliaran di desa. Ia meminta Mak Acih lebih bersikap waspada. Tidak biasanya memang, hewan-hewan itu turun gunung.“Kemarin monyet-monyet yang biasa tinggal di hutan, juga kelihatan berkeliaran di perkampungan, Mak.” Aki Amin menyeruput kopinya.

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    JENAZAH YANG MENUNTUT SUCI (Bab 4)

    "Terus ... Neneng harus bagaimana sekarang, Mak?" tanya Neneng dengan suara bergetar. "Apa Neneng cuma bisa diam saja menanggung dosa ini?"Mak Acih tersenyum tipis, senyum yang menenangkan badai di dada Neneng."Nanti, datanglah ke kuburan Salmah," saran Mak Acih. "Doakan dia. Terus, kamu minta maaf langsung sama almarhumah dari hati kamu yang paling dalam. Janji sama diri kamu sendiri dan sama arwahnya, kalau di masa depan, kamu akan jauh lebih teliti dan enggak akan mengulangi kesalahan yang sama ke jenazah siapa pun."

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    JENAZAH YANG MENUNTUT SUCI (Bab 3)

    Sekitar pukul dua dini hari, Neneng seperti merasakan sedang terombang-ambing di batas tipis antara alam sadar dan alam mimpi. Tubuhnya terasa lelah dan berat, namun indranya tiba-tiba menangkap sebuah aroma yang sangat menyengat.Bau itu bukan aroma sedap malam atau kapur barus, melainkan bau anyir lumpur yang kotor dan busuk.Dalam kondisi setengah sadar itu, Neneng perlahan membuka matanya. Ia langsung merapatkan selimut, saat merasakan hawa di dalam kamar mendadak terasa membekukan tulang. Di ujung ranjangnya, dalam ke

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    JENAZAH YANG MENUNTUT SUCI (Bab 2)

    Langkah Neneng, Danu, dan Kang Hadi bergegas membelah jalanan desa yang masih diguyur gerimis sisa badai. Sesampainya di rumah duka, suasana sudah dipadati oleh para pelayat. Tenda terpal biru telah dipasang seadanya di halaman depan untuk memayungi tamu yang berdatangan.Neneng dan Danu melangkah masuk ke dalam ruang tengah. Suara isak tangis langsung menyambut pendengaran mereka. Di dekat jenazah yang sudah ditutupi kain batik panjang, ibu kandung Salmah yang sudah sepuh tampak duduk bersimpuh, meratap pilu meratapi nasib putrinya. Di sebelahnya, adik perempuan Salmah berusaha menenangkan, sementara dua anak remaja perempuan Salmah menangis tersedu-sedu sambil memeluk bantal sang ibu.

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    RUMAH BARU UNTUK PARDI (Bag 1)

    Pagi yang cerah di Desa Cialas. Angin bertiup sepoi-sepoi, membawa kesejukan dan aroma segar udara pegunungan. Aki Amin melangkah sendirian menuju sawah Haji Kosim yang terbentang luas dan bertanah subur. Berada tepat di bawah perbukitan yang ditumbuhi pepohonan besar berusia tua. Ia dan beberapa te

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    ANAKING JIMAT AWAKING (Bag. 1)

    Subuh yang dingin dan sepi di Desa Cialas. Sang raja siang masih enggan menampakkan sinarnya. Ketika tiba-tiba suasana syahdu pagi nan sunyi, dibuyarkan suara sepiker masjid yang mengumumkan kabar duka. Hari ini, seorang perempuan warga Desa Cialas, telah berpulang. Meninggalkan gemerlap duniawi ya

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    SUSUK PEMIKAT LILIS (Bag. 4)

    “Kain kafannya dipotong sesuai tinggi jenazah, Neng, tapi ditambah kira-kira tiga jengkal.” Mak Acih membentang jemari tangan kanannya lebar-lebar. Neneng manggut-manggut. Ia mengambil gunting, bersiap memotong panjang kain sesuai yang diperintahkan sang bibi.“Bikin tiga helai, Neng.”“Panjangnya

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    SUSUK PEMIKAT LILIS (Bag. 3)

    Tergesa, Neneng keluar rumah menuju arah kulon rumah Lilis, mencari letak pohon kelor yang ternyata tumbuh di antara pohon pepaya dan rambutan. Dirimbuni semak rumput liar. Bergegas ia memetik beberapa batang daun kelor, lalu memasukkannya dalam tas pandan. Sesuai perintah Mak Acih, buru-buru ia m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status