LOGINRama berdiri mematung di ambang pintu, menatap dua perempuan itu dengan sorot mata yang sulit diartikan. Namun, saat netranya menangkap sosok mertuanya yang tersungkur, matanya membulat sempurna. Tak bisa menahan diri, Rama berlari kecil masuk ke dalam rumah, bahkan melewati Nadia begitu saja tanpa menoleh sedikit pun. Rama langsung menyambar tubuh Alya, membantunya berdiri dengan sangat hati-hati, lalu mendekapnya erat. Dekapan itu bukan sekadar bantuan, melainkan luapan rasa khawatir yang mendalam. Nadia yang menyaksikan adegan itu hanya bisa melongo, tak percaya dengan pemandangan di depan matanya. "Mas, apa-apaan kamu?!" teriak Nadia dengan suara melengking. Sadar akan kehadiran istrinya, Rama segera merenggangkan pelukannya pada tubuh Alya, meski tangannya masih enggan melepaskan bahu mertuanya itu. "Kenapa kamu berkata begitu kasar pada ibumu? Lihat, bibirnya sampai berdarah! Kamu apakan dia?!" dalih Rama cepat. Ia sengaja mengalihkan pembicaraan agar Nadia tidak c
Alya tertegun, matanya menyipit saat menatap putrinya dengan saksama. "Apa maksud kamu, Nadia?" tanya Alya dengan suara yang mulai bergetar. Mendengar itu, Nadia justru tertawa lepas—tawa yang terdengar hambar sekaligus menyakitkan. "Menurut Ibu, uang saja sudah cukup?" Wajah Alya menegang, napasnya memburu saat ia perlahan melangkah mundur, menjauh dari tatapan tajam putrinya. "Ibu gak paham..." "Aku dibesarkan oleh uang, dan Ibu tak benar-benar mendidikku!" lanjut Nadia. Ia terus melangkah maju setiap kali Alya mundur menjauh. Bagai disambar petir di siang bolong, jantung Alya terasa sesak luar biasa. Kata-kata itu menghujam tepat di ulu hatinya. Selama ini ia merasa telah membesarkan Nadia dengan penuh kasih sayang dan menjamin finansial yang tak pernah kekurangan. "Apa maksudmu, Nadia!" suara Alya meninggi, menahan tangis. Nadia mengangguk tegas. Matanya menyalang angkuh, seolah ia adalah manusia paling benar di ruangan itu. "Mendidik anak tanpa sosok ayah... ap
Di dalam kamar, jantung Alya yang sempat terasa berhenti itu akhirnya bisa kembali berembus lega. Bi Nunu menjelaskan bahwa ia tidak membuang foto itu. Sebaliknya, ia menyimpannya karena melihat wajah majikannya di dalam foto tersebut. Insting Bi Nunu tak meleset; ia yakin suatu saat Alya akan menanyakannya. Bi Nunu juga menceritakan bagaimana kemarin ia diperintah oleh Nadia untuk membuang semua sampah pecahan beling, termasuk instruksi tegas untuk melenyapkan foto tersebut. Mendengar penuturan itu, Alya merasa geram. Tangannya meremas kuat ujung baju, menahan gejolak amarah yang siap meledak kapan saja. Dalam keadaan kalut, Alya akhirnya menceritakan segalanya kepada Bi Nunu—alasan mengapa ia begitu histeris dan panik mencari selembar kertas itu. Ia membeberkan rahasia besar di balik foto tersebut. Bi Nunu terperangah. Tangannya terangkat menutupi mulutnya yang menganga tak percaya. "Jadi... jadi... Non Nadia bukan putri kandung Nyonya? Melainkan putri dari kakak Nyonya yang
Sementara itu di Malaysia, Rama telah berpamitan dengan sang ayah. Ia kini sudah duduk tenang di dalam pesawat. Jarak antara Malaysia dan Indonesia yang cukup dekat membuatnya merasa perjalanan ini tidak akan memakan waktu lama. Rama menghela napas panjang sembari menyandarkan tubuhnya pada kursi pesawat. Matanya menatap lurus ke luar jendela, memandangi hamparan awan. Ia memejamkan mata sejenak, dan tiba-tiba bayangan perpisahan dengan ayahnya kembali terlintas. Ia telah berjanji pada ayahnya bahwa suatu saat nanti ia akan tinggal selamanya di Malaysia. Ia juga berencana untuk sering berkunjung ke Eropa guna mengelola toko bunga peninggalan mendiang mamanya. Kepergiannya ke Indonesia kali ini hanyalah sementara, sekadar untuk menyelesaikan segala urusan yang masih tertunda. Setelah itu, ia akan kembali ke Malaysia untuk menggantikan posisi ayahnya mengelola bisnis, agar pria tua itu bisa menikmati masa tuanya dengan tenang. Soal rencana menyingkirkan istri dan anak tiri papa
Sementara itu, di dalam mansion yang megah, seorang perempuan dengan kecantikan yang masih terjaga di usia matangnya tampak sangat resah. Alya masih terus mencari keberadaan foto itu. Kegusarannya semakin memuncak karena sang putri, Nadia, belum juga kunjung pulang. Sesaat Alya tertegun, teringat kembali pada pecahan beling yang tak sengaja ia injak tadi. Jantungnya mulai berdegup kencang, memburu tak keruan dengan ritme yang lebih hebat dari sebelumnya. Bayangan tentang putrinya mendadak melintas, membuatnya semakin dirundung kecemasan. Ia menggeleng pelan, mencoba menepis pemikiran yang sudah buntu itu. Namun, saat ia memejamkan mata, bayangan lemari yang kosong karena uangnya dikuras oleh Nadia kembali muncul. Instingnya berteriak kuat; jika uang saja bisa diambil, maka besar kemungkinan foto itu pun kini berada di tangan putrinya. "Jika benar begitu...?" lirihnya bertanya-tanya pada ruang hampa di depannya. "Astaga, Nadia! Kenapa kamu begitu bandel!" lanjutnya. Ia mula
Sofia membulatkan mata. Ia menolak keras ide itu meski jauh di dalam lubuk hatinya, ia pun sama penasarannya. Namun, logikanya masih bekerja ia takut jika rumah ini dipasangi CCTV. Jika ia ketahuan bertindak "gatal", maka tamatlah riwayatnya, apalagi jika sasarannya adalah anak tirinya sendiri. Namun, Anggita tak peduli. Ia mengabaikan setiap ocehan Sofia. Keduanya seolah lupa bahwa baru saja mereka terlibat pertengkaran hebat di depan Rama. Sementara itu, Rama tetap fokus pada aktivitasnya, seolah kedua wanita itu tidak ada di sana. "Anggita, hey!" teriak Sofia, yang lagi-lagi hanya dianggap angin lalu oleh putrinya. "Anak itu!" geram Sofia dengan gigi bergemerutuk. Rasa cemas mulai menghimpit dadanya. Anggita mulai memberanikan diri. Ia melangkah lebar hingga posisinya tepat berada di belakang Rama. Ia menelan ludah kasar; tatapannya terkunci pada punggung Rama yang lebar dan berotot. Tangannya bergetar, ingin sekali mengelus setiap gurat otot itu, namun ia ragu. T
Begitu mereka melangkah masuk, kemewahan ballroom langsung menyambut. Di tengah kerumunan tamu kelas atas, mata Rama tanpa sengaja menoleh ke arah sudut ruangan yang agak remang. Jantungnya berdesir hebat saat ia menangkap sosok familiar—perempuan tua yang memberikan kalung itu padanya. Rama sem
"saya... saya mendapatkannya dari..." Rama terbata, tenggorokannya terasa kering kerontang. Ia bisa merasakan aura mengancam yang memancar dari tubuh Tan Sri. "Dari saya!" Suara itu memotong udara dengan ketajaman yang luar biasa. Semuanya serentak menoleh ke arah pintu. Rama terperangah meli
Malam yang sunyi di Kuala Lumpur . Ia baru saja merebahkan diri, menatap langit-langit kamar hotel sambil menikmati ketenangan yang jarang ia dapatkan. Tak ada Nadia yang cerewet, tak ada makian yang meremehkannya. Namun, kesunyian itu justru memanggil kerinduan mendalam akan sentuhan hangat sang
Keesokan paginya, profesionalitas Rama kembali diuji. Tak ada lagi sisa-sisa kegalauan malam sebelumnya atau bayangan panggilan video panas dengan ibu mertuanya. Rama muncul di ruang pertemuan dengan kemeja yang disetrika rapi dan aura yang sangat berbeda—lebih tajam dan terkendali. Di hadapan T