Share

SIAPA SEBENARNYA?

Author: Ayuwine
last update publish date: 2026-01-22 18:59:08

"saya... saya mendapatkannya dari..." Rama terbata, tenggorokannya terasa kering kerontang. Ia bisa merasakan aura mengancam yang memancar dari tubuh Tan Sri.

​"Dari saya!"

​Suara itu memotong udara dengan ketajaman yang luar biasa. Semuanya serentak menoleh ke arah pintu. Rama terperangah melihat sosok wanita tua yang tadi ia lihat di kerumunan pesta, kini berdiri tegak di ambang pintu dengan tatapan mata yang sangat berwibawa, jauh dari kesan "perempuan tua sederhana" yang selama ini ia b
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   KOMENTAR PEDAS DARI NETIZEN

    Semua foto yang sempat diunggah Nadia bulan lalu tak luput dari ribuan hujatan dan hinaan. Mata Rama terbelalak, namun terselip rasa puas yang mendalam. Sebuah senyum miring tersungging di bibirnya. Ia membaca setiap komentar jahat itu seolah itu adalah untaian pujian yang memberinya kekuatan.​Tiga tahun, hampir empat tahun ia diinjak oleh Nadia. Ditekan, dihina, dicaci maki, bahkan dibanding-bandingkan. Hal itu sukses membuat hati Rama mati dan membeku untuk istrinya sendiri. Ia memang sudah memilih satu prinsip:jalani saja sampai benar-benar lelah…agar nanti, tak ada lagi sisa cinta yang tertinggal.​"Perempuan murahan! Lonte! Cih, murahan sekali. Aku lihat di akun anonim isinya foto dan video dia... ternyata serendah itu! Akhirnya akun itu mengetag orangnya langsung, jadi kita bisa hujat dia habis-habisan! Ini pelajaran buat para pelakor dan tukang selingkuh!" tulis salah satu komentar.​"Betul! Bahkan ia menjelekkan ibunya sendiri loh. Kalau gak percaya nih aku bagi link-nya

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   AKIBAT HIDUP DARI VALIDASI

    Akun anonim itu benar-benar berhasil menggerus mental Nadia. Sejak awal, Nadia memang bukan tipe orang yang bisa dijatuhkan dengan kekerasan atau amarah. Titik lemahnya justru ada pada pujian. Ia hidup dari validasi. Selama orang-orang memujinya, ia merasa kuat, percaya diri, dan seolah berada di atas segalanya. Namun begitu pujian itu hilang—digantikan oleh hujatan dan cibiran—dunianya runtuh seketika. Kepercayaan dirinya hancur. Yang tersisa hanyalah sosok rapuh… kehilangan pegangan, kehilangan harga diri, dan tak lagi tahu bagaimana cara berdiri. Rama hanya terdiam, menyaksikan pemandangan itu tanpa kata. Di dalam hatinya, ia dilanda kebingungan—antara merasa iba… atau justru diam-diam berterima kasih pada akun anonim tersebut. Namun, Rama masih belum tega meninggalkan Nadia begitu saja. Kemarin, semua yang ia katakan hanyalah gertakan. Ia ingin melihat sejauh mana keangkuhan istrinya bertahan saat dihantam masalah sebesar ini. Dan hasilnya… Sama saja. Ego N

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   RACAUAN YANG MENYAKITKAN

    Di lorong belakang mansion yang temaram, Nadia tersudut di antara bayangan pilar-pilar besar. Keadaan gadis itu jauh dari kata baik; rambutnya acak-acakan, maskaranya luntur membentuk garis-garis hitam di pipi, dan aroma alkohol menguar tajam dari tubuhnya. ​Ia menyandarkan punggungnya ke dinding dingin, lalu perlahan merosot hingga terduduk di lantai. ​"Hahaha... bersih. Semuanya habis tak tersisa," gumamnya pelan, lalu tiba-tiba tawa renyah namun getir pecah dari bibirnya. "Hebat ya, cuma satu akun kecil, tapi bisa menghancurkan hidup ku yang sempurna ini!" ​Nadia mendongak ke langit-langit lorong, tertawa terpingkal-pingkal sampai dadanya sesak. Namun, sedetik kemudian, tawa itu berubah menjadi isak tangis yang memilukan. Ia memeluk lututnya sendiri, tubuhnya terguncang hebat. ​"Kenapa... kenapa harus sekarang? Aku sudah kerja keras, aku sudah punya segalanya..." suaranya melemah, parau karena tenggorokan yang panas. "Semua orang melihatku sekarang seolah aku ini sampah. Bo

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   KEPANIKAN DI PAGI HARI

    Alya mematung, kain pel di tangannya nyaris terlepas. Ia menelan ludah kasar, teringat bahwa Rama—suami dari wanita yang sedang mabuk di depannya ini—masih tertidur pulas tanpa busana di kamar atas. ​"Nadia? Kamu... dari mana saja?" tanya Alya dengan suara yang berusaha ia tenangkan, meski gemetar ketakutan mulai merayap di punggungnya. ​Nadia hanya tertawa hambar, suara tawanya terdengar parau dan menyedihkan. Ia mengangkat salah satu botolnya ke arah ibunya dengan tatapan kosong. ​"Bu... akun anonim itu mulai menyebar semua aibku, hahaha!" ucapnya menangis lalu tertawa lagi. Jalannya sempoyongan. "Aku stres, Bu! Siapa pun di balik akun itu, akan aku bunuh!" racaunya lagi. ​Lalu— PRANG! Nadia melempar kedua botol itu ke lantai hingga hancur berkeping-keping. Alya menjerit kaget. Lantai yang baru saja ia bersihkan kini kembali berantakan, dipenuhi pecahan kaca yang berserakan ke segala arah. “Nadia, hei! Sadar, Nak!” Alya bergegas mendekat, berusaha menenangkan putriny

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   NADIA KENAPA?

    "Tujuh anak?" Alya mengulangi permintaan Rama dengan terbata-bata. Ia menelan ludah kasar, seketika tenggorokannya terasa sangat kering seolah pasokan udara di kamar itu mendadak menipis. ​Rama hanya mengangguk antusias, wajahnya tampak sungguh-sungguh tanpa ada keraguan sedikit pun. ​"Yang benar saja, tujuh!" Alya memukul lengan kekar Rama dengan sekali hentakan, membuat pria itu meringis pelan sambil mengusap bekas pukulannya. ​Rama terkekeh geli melihat wajah kaget mertuanya yang tampak sangat terpukul dengan angka yang ia sebutkan. Baginya, ekspresi kaget Alya justru terlihat sangat menggemaskan. ​Alya mendelik tajam, berusaha menutupi kegugupannya. Tanpa berkata apa-apa, ia segera beranjak masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, meninggalkan Rama yang masih duduk di atas ranjang dengan senyum tengil di wajahnya. Beberapa saat kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Alya keluar dengan langkah pelan. Rama spontan menoleh, menatap lekat ke arah wanita itu. Ram

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   PERMINTAAN YANG ANEH

    Keduanya terkapar lemas. Seperti biasa, senyum malu-malu terukir di wajah mereka setelah badai gairah itu mereda. Alya memiringkan tubuhnya, menatap lekat wajah menantunya yang tampak jauh lebih tenang sekarang. ​"Bagaimana rencanamu ke depan, hm?" tanya Alya lembut. ​Rama terdiam sesaat, lalu menoleh ke arah mertuanya. "Aku tak bisa tetap diam, Bu. Maaf," jawab Rama, membuat dahi Alya berkerut heran. ​"Maksudnya?" ​Rama tak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis, lalu kembali melumat bibir merah muda mertuanya itu dengan dalam. Alya terbelalak kaget, namun sedetik kemudian ia tersenyum girang dalam hati. ​Alya membalas lumatan itu, mendesah pelan di sela-sela napasnya yang memburu. Namun, karena tenaganya benar-benar terkuras oleh "kepuasan" yang diberikan Rama, ia akhirnya mendorong pelan tubuh menantunya itu. ​"Sudah, Ram... Kamu kebiasaan, ah!" desah Alya sembari membalikkan tubuh, membelakangi Rama. ​Rama terkekeh pelan. Ia menyelusupkan tangannya ke pinggang Alya, mem

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   GAIRAH YANG TERHEMPAS

    Rama perlahan turun dari posisi sebelumnya, memberikan ciuman-ciuman kecil di sepanjang perut Alya yang masih kencang dan halus. Setiap sentuhan bibir Rama membuat Alya mengerang lirih, jari-jarinya meremas seprai dengan kuat. Rama kemudian beralih ke area yang lebih sensitif, memberikan perhatian p

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   PUJIAN TETANGGA

    Rama hanya terdiam merasakan sentuhan Nadia. Jika biasanya sentuhan itu memicu debar jantung, kini yang ia rasakan hanyalah kekosongan. Bayangan kehangatan Alya dan pengakuan tentang jati diri Nadia benar-benar telah membangun tembok tinggi di hati Rama. ​"Mas... kok diam saja?" bisik Nadia lagi, k

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   OMELAN NADIA LAGI

    ​"Ibu sudah bersihkan kamar tadi. Masih tercium aroma parfum kamu di bantal Ibu... Semangat ya di kantor, Sayang. Ibu tunggu kabar baik soal si Baron." ​Rama tersenyum tipis, sebuah senyum kemenangan. Dunia kerjanya yang tadinya terasa seperti neraka kini perlahan ia kuasai, semua berkat rahasia ma

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   COBAAN DI KANTOR

    Rama tersenyum tipis melihat rona merah di pipi Alya. Sebelum masuk ke mobil, ia sengaja mendekat, seolah ingin mengambil sesuatu yang tertinggal di dekat Alya, namun malah membisikkan sesuatu yang membuat jantung mertuanya itu berdegup kencang. ​"Pak Heru benar, Bu. Kalau saja waktu bisa diputar,

    last updateLast Updated : 2026-03-21
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status