เข้าสู่ระบบTepat pukul sembilan malam, mobil ambulans khusus yang membawa Aurin mulai membelah jalanan kota menuju bandara. Di dalam kabin yang senyap dan steril itu, Aurin memalingkan wajah dari jendela, menatap lekat suaminya yang duduk tegang di sisinya. “Sebenarnya kita mau ke mana?” tanya Aurin memecah keheningan.“Singapura,” jawab Rayden pendek, tatapannya lurus ke depan dengan rahang yang mengeras. Sesekali, ia menatap arloji di tangannya seolah sedang diburu oleh waktu.Jawaban itu sontak membuat Aurin tersentak kaget. Keningnya berkerut dalam, dipenuhi rasa tidak percaya atas keputusan yang teramat tiba-tiba ini. “Kenapa kita harus pindah mendadak seperti ini? Lalu ... bagaimana dengan anak-anak? Apa kita akan meninggalkannya? Kalau iya, aku tidak mau!”“Tenang saja, mereka ikut. Kita akan bertemu mereka di bandara sebentar lagi,” sahut Rayden, mencoba menenangkan meski kecemasan di matanya tidak bisa disembunyikan.Aurin menggeleng pelan, merasa ada sesuatu yang sengaja disembunyika
“Jangan bercanda!” tegur Aurin cepat. Di situasi genting seperti ini, ia sama sekali tidak punya waktu untuk berkelakar. “Daripada terus menggodaku, lebih baik kamu belikan aku alat pumping. Dadaku sudah penuh dan sakit sekali.”“Kan sudah saya bilang, saya bisa bantu menghisapnya,” goda Rayden sambil menaik turunkan alisnya jenaka.“Rayden!”“Aurin!”“Belikan sekarang!” titah wanita itu agak jengkel.Sadar kalau Aurin benar-benar sedang tidak bisa diajak bercanda, Rayden langsung meredam tawanya. “Iya, iya, ini mau beli.”Rayden segera menghubungi anak buahnya, memerintahkan mereka untuk mencari alat pumping dengan kualitas terbaik saat itu juga dan mengantarkannya ke sini.Begitu alat pumping elektrik kualitas premium itu tiba di tangannya, Rayden tidak membuang waktu lagi. Ia segera membongkar kotaknya, merakit komponennya dengan cekatan, dan mendekati Aurin yang masih meringis menahan sakit. Tanpa banyak bicara, Rayden membantu Aurin memasangkan corong alat tersebut dengan hati-h
“Mana foto anak-anak? Aku ingin melihatnya,” pinta Aurin sambil berusaha menegakkan badannya perlahan. Tangannya bergerak lembut mengusap perutnya yang kini mulai terasa kempes, seolah masih ada tiga nyawa yang menumpang hidup dalam dirinya.Matanya tak lepas mengikuti gerakan Rayden yang segera merogoh saku dan mengeluarkan ponsel.“Ini foto anak-anak kita,” ujar Rayden sambil menyodorkan ponselnya perlahan ke hadapan Aurin. Di layar tampak jelas tiga tubuh mungil yang terbungkus rapi dalam bedongan berwarna merah muda dan biru, terlihat begitu lembut dan menggemaskan.“Tampan dan cantik, ‘kan?”“Iya.” Sembari menyahut, Aurin mengamati gambar itu dengan tatapan penuh antusiasme, matanya berbinar seolah tak ingin melewatkan satu pun detail dari ketiga buah hatinya. Jari jemarinya yang masih lemah terulur perlahan, seolah ingin menyentuh wajah-wajah mungil itu yang baru saja ia lihat lewat layar gawai.Belum sempat ia mengucapkan sepatah kata pun, air matanya tiba-tiba luruh dan men
“Mana cucuku? Katanya mereka sudah lahir!”Mata Rita celingukan ke segala penjuru ruang depan NICU. Ia melangkah mendekat ke dinding kaca besar yang memisahkan ruang luar dengan area perawatan.Lalu, memiringkan badan dan menempelkan wajahnya perlahan pada permukaan bening itu. Ia berusaha menengok ke dalam, mencari-cari di antara deretan inkubator yang terlihat terang dari balik kaca.Matanya melayang ke kiri dan kanan, meneliti setiap kotak perawatan yang ada, seolah tak sabar ingin segera menemukan sosok ketiga bayi yang baru saja lahir itu. Bahkan tangannya terangkat seolah ingin menyentuh kaca itu, hingga ia teringat batasan yang ada, namun rasa penasaran dan keinginannya untuk melihat tetap membuatnya tak bisa berdiri diam di satu tempat.Sementara itu, Rayden menghela napas panjang, dadanya terasa menyesak. Ia sadar, menghadapi ibunya kali ini akan jauh lebih sulit dari yang dibayangkan. Apalagi ketiga anaknya kini sudah terlahir ke dunia. Jika sampai Rita mengetahui kondisi
“Apa Koko percaya dengan istilah gen resesif yang tertidur selama beberapa generasi, kemudian muncul lagi?”Pertanyaan yang keluar dari bibir Adik iparnya itu seketika membuat Ken mematung. Ia paham mengenai hal itu dan lantas mengangguk mantap. Ia sangat percaya bahwa gen resesif—yang sifatnya kalah dan bisa tersembunyi di balik gen dominan, bisa saja tidak tampak muncul selama turun temurun. Lalu, tiba-tiba bisa kembali muncul lagi saat kondisi yang tepat terpenuhi.“Tentu saya percaya,” jawabnya enteng. “Gen resesif itu tidak akan hilang begitu saja. Ia hanya akan ‘tertidur’, tersimpan dalam materi keturunan tanpa menampakan wujudnya selama bertahun-tahun atau bisa lebih dari sekadar puluhan tahun. Ia baru akan terlihat nyata jika kedua orang tua sama-sama mewariskan gen resesif yang sama itu kepada anaknya.”Rayden menyela. “Benar. Sepemahamanku, jika salah satu saja membawa gen dominan, maka sifat itu akan tetap tersembunyi. Tapi jika kedua orang tua sama-sama mewariskan gen res
Setelah fotonya bersama ketiga malaikat kecilnya diabadikan oleh fotografer ternama yang telah disewanya, perhatian Rayden sepenuhnya kembali tercurah pada Aurin.Wanita yang baru saja melahirkan tiga keturunannya itu tampak setengah sadar, pun tidak menyahut ketika diajak berbicara.n namun yang terpenting, Aurin selamat setelah melewati proses yang cukup rumit ini.Setelah hampir dua setengah jam berada di ruang operasi, Rayden lantas bertanya lagi kepada sang dokter. Melihat para petugas medis masih hilir mudik di ruangan itu dan belum menunjukkan tanda-tanda akan keluar, rasa ingin tahunya lebih besar.“Apa masih lama prosesnya, Dok?”“Tidak, Tuan,” sahut sang dokter sembari terus menyelesaikan pekerjaannya. “Tinggal menjahit rahim dan lapisan perutnya, selalu menunggu sebentar sampai kondisi Nyonya Wisesa benar-benar stabil sebelum dipindahkan ke ruang perawatan. Mohon bersabar.”Rayden segera menyadari bahwa pertanyaannya barusan mungkin membuat dokter itu merasa terganggu atau t
“Mengapa tubuhku berkhianat?” Mulanya, Aurin menolak. Tapi lama kelamaan, mengalami tubuhnya semakin menginginkan? Pada saat yang sama, keduanya dilingkupi kabut gairah yang terasa makin tebal di ruangan itu. Rayden membalikkan posisi Aurin menjadi di atas. Dengan napas yang memburu di ceruk
Aurin menahan nafas dengan tangan gemetar saat memegang gagang pintu dengan gerakan yang sangat lambat. Ia hanya ingin segera keluar dari kamar yang masih kental dengan aroma gairah dan dosa itu sebelum Rayden terbangun. Namun, baru saja pintu kamar itu sedikit terbuka dan celah cahaya dari kori
“Sssssh. Bagaimana ini?” Seketika, rasa panik menyerang Aurin. Ia terpaku menatap cairan hangat berwarna putih kemerahan kental yang mengalir di paha dalamnya dengan perasaan takut membuncah. Benaknya pun langsung dipenuhi dengan pikiran buruk. Bagaimana jika benih R
“Apa itu artinya ... kamu tidak mencintaiku lagi dan memilih merelakanku untuk wanita lain?”Rayden terpaku. Ketegangan di antara mereka benar-benar terasa menyesakkan dada. Satu pemikiran pahit menyelinap dalam benak, membuatnya melontarkan pertanyaan yang paling ia takuti itu.







