LOGIN“Aaargh! Lepasin!” Aurin begitu terkejut. Baru saja ia tiba di taman itu, ia sudah diseret menuju area bonsai di sekitar taman itu oleh seorang pria. Indera penciumannya mengendus aroma parfum yang familiar, ia cukup mengenalinya. Hingga tak lama setelah pria itu melepaskan pegangan dari tubuhnya, ia menatap pria itu agak mendongak. “Koko?” sapa Aurin pelan, suaranya lirih, hampir hanya ia saja yang mendengarnya. Ia pikir, kakak kandungnya itu sudah pulang. Nyatanya, pria ini masih di sini. Entah masih urusan pekerjaan, atau masih ingin mengawasinya. “Ya, ini aku,” sahut Ken. Pria itu menatap Aurin dengan perasaan cemas. Sambil memperhatikan seluruh badan Aurin, ia bertanya. “Ada apa denganmu? Mengapa ponselmu sejak tadi mati? Saya bahkan tidak bisa melacak lokasimu.” Aurin mengerjap. Ia baru sadar bahwasanya ia belum mengabari Ken kalau ponselnya rusak. Sekarang, Aurin dapat memahami mengapa
“Mau saya bantu lepasin?” ucap Rayden penuh makna, bibirnya tersenyum, tatapannya nakal dan berbahaya.Aurin semakin memberengut. Ia mencoba melepaskan diri dari pria itu. “Ih, Daddy jangan nakal, ya!” “Saya tidak nakal.” Rayden masih mempertahankan posisinya. Ia memeluk Aurin erat, membiarkan wanita itu ikut merasakan detak jantungnya yang berdebar kencang karena interaksi se-intim ini.“Tidak nakal apanya? Daddy godain saya terus!” balas Aurin tak mau kalah. Sudah berkali-kali dia mencoba melepaskan diri, namun tidak berhasil karena Rayden terlalu kuat membelitnya.Rayden merasa kasihan. Ia lantas melonggarkan pelukan. Tapi, hal itu justru membuat kesempatan untuk sedekat ini … hilang. Aurin langsung mendorong dada pria itu kuat-kuat. Ia menjauhinya, wajahnya merah padam, napasnya berantakan, sementara jantungnya berdetak cepat sampai rasanya memalukan sendiri. Rayden bahkan masih sempat tersenyum saat tubuhnya terdorong mun
“Aaaaa! Daddy!!!! Kenapa buka baju dan celana di sini?” Aurin memekik nyaring, suaranya begitu kontras memenuhi ruang kamar itu. Ia panik setengah mati, matanya membelalak tak percaya. Saking terkejutnya, ia hingga membalikkan badan spontan. Bahkan, Aurin sengaja melangkah menjauh agar tak menyaksikan sesuatu yang lebih berbahaya daripada sekadar pria melepas pakaian. Dan masalahnya, Rayden melakukannya dengan wajah setenang permukaan danau. Pria itu bahkan tidak merasa sedang membuat kekacauan sedikit. “Mengapa kamu berteriak-teriak seperti itu?” tanya Rayden santai sambil melepaskan kancing kemejanya satu persatu. “Saya cuma melepas pakaian. Ada yang salah?” “Salah!” ucap Aurin membentak, tidak kasar namun ia rasa cukup untuk memperingatkan pria itu. “Lain kali, ganti baju di kamar mandi sana! Jangan di depan saya!” Rayden tak menggubris. Ia justru berjalan mendekati wanita itu dan berdiri
“Ponsel baru? Untuk?” “Kamu.” “Aku?” Aurin menunjuk dadanya sendiri. Rega mengangguk. Ia berdiri di depan pintu, mengangkat paper bag berlogo sebuah toko ponsel sedikit lebih tinggi dari perutnya; supaya sejajar dengan wajah Aurin. Ekspresinya datar saat menyerahkan ponsel itu pada Aurin. “Kamu yakin untukku?” tanya Aurin lagi, memastikan. Matanya membulat tak percaya sesaat sebelum Rega pergi. “Benar. Aku hanya diminta membawanya ke sini.” “Terima kasih.” Benda yang dibawa Rega tadi telah berpindah tangan ke tangan Aurin, cepat, tiba-tiba dan tanpa aba-aba. Kotaknya bahkan masih terasa dingin saat Aurin sentuh. Dan dia tahu persis, siapa yang membelikannya ini. “Rayden, pasti dia yang menyuruh Rega membelikanku ini. Ck! Siapa lagi yang bisa membelikanku barang semewah ini kalah bukan dia? Astaga
“Kuenya, bukan saya.” Aurin memprotes cepat, wajahnya memerah. Sementara itu, Rayden mengangguk pelan sembari menahan senyum di bibirnya. “Oh, …. Saya kira kamu sedang menggoda saya “ Aurin mengangkat wajah. Namun sebelum ia sempat membalas, Rayden lebih dulu mencengkeram pergelangan tangannya yang masih memegang garpu kecil. Tidak kuat, namun cukup membuat Aurin tersentak kecil. Ia menatap pria itu gugup. Setelah Rayden mencondongkan wajahnya dan memakan kue itu, ia tak melepas tatapannya dari Aurin. Ia memuji terang-terangan, “Kue ini lebih enak karena kamu yang menyuapi saya.” “Jangan gombal!” Aurin membalas ucapan itu, tersipu, rona merah di pipinya semakin kentara. Kemudian, ia mengerjap lamban. Ia teringat sesuatu. “Daddy biasanya tidak makan manis setelah pukul tujuh malam. Tumben sekali makan banyak.” Rayden juga mengingat, bahwa biasanya ia menjaga diri dari makanan manis seperti ini.
“Setiap kali saya membelikan sesuatu pada kamu, kamu selalu saja menanyakan harganya. Apa kamu tidak bosan?”Yang ditanyai justru hanya tersenyum, tak memberikan jawaban sama sekali.Rayden juga menggeleng kecil sambil tertawa tipis. “Tenang saja, harganya sangat murah dan kamu tidak perlu mengkhawatirkannya karena apa yang saya beli untuk kamu tidak pernah kemahalan.”Jawaban pria itu terdengar selalu mengentengkan setiap permasalahan. Bagi pria itu, harganya sangat murah.Namun bagi Aurin, apapun definisi murah yang dikatakan pria itu, nominalnya tetaplah fantastis. “Jangan sering-sering memberikan barang-barang mewah seperti ini pada, Dad. Nanti Nyonya curiga, saya lagi yang kena marah,” omel Aurin sambil memainkan liontin di lehernya. Rayden terkekeh. “Kalau dia marah-marah sama kamu, bukankah kamu sudah memiliki senjata andalan untuk mengancamnya? Kenapa kamu takut? Bukankah kamu melakukannya tadi?” jawabnya santai, seolah-olah perkara itu bukanlah mas
“Sssssh. Bagaimana ini?” Seketika, rasa panik menyerang Aurin. Ia terpaku menatap cairan hangat berwarna putih kemerahan kental yang mengalir di paha dalamnya dengan perasaan takut membuncah. Benaknya pun langsung dipenuhi dengan pikiran buruk. Bagaimana jika benih R
“Mengapa tubuhku berkhianat?” Mulanya, Aurin menolak. Tapi lama kelamaan, mengalami tubuhnya semakin menginginkan? Pada saat yang sama, keduanya dilingkupi kabut gairah yang terasa makin tebal di ruangan itu. Rayden membalikkan posisi Aurin menjadi di atas. Dengan napas yang memburu di ceruk
Aurin menahan nafas dengan tangan gemetar saat memegang gagang pintu dengan gerakan yang sangat lambat. Ia hanya ingin segera keluar dari kamar yang masih kental dengan aroma gairah dan dosa itu sebelum Rayden terbangun. Namun, baru saja pintu kamar itu sedikit terbuka dan celah cahaya dari kori
“Ahhh …. Jangan hanya diam dan menatapku seolah aku ini monster,” bisik Rayden. Jari jemarinya yang kasar membelai paha Aurin dan memberikan tekanan yang menuntut. “Tunjukkan padaku betapa kamu menginginkanku. Kendalikan aku sesuka hatimu atau kamu akan menyesali hukuman yang kuberikan nanti ka







