Share

Bab 9. Perasaan dua insan

“Gak jadi belanjanya, Nduk?”

“Eheh, iya, Pak. Gak jadi, ada yang kelupaan.”

Marina memasukkan kunci motor, dan mengeluarkan motornya dibantu si bapak sebelum memberikan selembar uang dua ribu.

“Makasih, Pak.”

“Sama-sama, Nduk. Hati-hati di jalan.”

Marina mengangguk pertanda izin pamit sambil tersenyum. Mengendarai motornya di bawah langit malam yang indah, dia selalu berangan menyusuri jalan setapak dan beraspal, berdua dengan lelaki yang mencintai dan dicintainya. Duduk makan es krim berdua seperti anak remaja yang tengah pacaran.

‘Kapan aku punya suami baru?’

Sepanjang jalan, dia merasakan hatinya perih melihat pasangan mesra dan romantis yang banyak dijumpainya. Sesaat, Marina teringat kenangan manis bersama mantan suami saat masih pacaran dan baru menikah. Semua terasa indah dan bahagia sebelum kemelut rumah tangganya menyerang. Cepat-cepat dia buang ingatan itu. Marina tidak mau lagi mengingat lelaki yang menyakitinya. Dia hanya mau lelaki yang membahagiakan dirinya. Dia pantas untuk itu –pikirnya.

Marina mencampak kunci motor setibanya di warung miliknya. Di dalam kamar, dia menatap dirinya di cermin dalam-dalam. Matanya sayu, wajahnya lelah, pikirannya kosong. Ingin sekali dia libur sehari saja dari pekerjaannya di warung, apa lagi menghitung dan menyiapkan gaji pekerjanya.

“Andai aku punya suami, mungkin sekarang aku bisa tidur-tiduran, jalan-jalan tenang, gak pusingin kerjaan ini belum kelar, itu belum kelar. Ada suami yang bantuin. Hah, kapan aku punya suami baru Ya Allah?” lirihnya tanpa dia sadari.

Sementara Marina terus saja mengeluhkan nasibnya yang tak kunjung bersuami setelah lama menjanda, Johan justru duduk tenang di kafe Sohib menikmati kopi sanger racikan penjual. Setelah menutup panggilan telepon, lelaki itu memesan tiket pesawat untuk keberangkatan ibunya tiga hari mendatang. Tiba-tiba hati Johan tergelitik, hingga tanpa sadar bibirnya tersungging kala mengingat ocehan Riska tadi siang.

Mata Johan sesekali melirik seisi kafe yang mungkin saja ada yang dia kenal dan bisa diajak bicara. Sayangnya tidak ada, hingga Johan menghabiskan waktu satu jam di kafe sendirian di tengah ramainya pasangan romantis di dalam kafe itu. 

Arloji Johan menunjukkan pukul 11.11 PM, ketika dia baru keluar dari kafe setelah menghabiskan dua gelas minuman. Mood Johan kembali baik tanpa peduli keramaian yang masih memenuhi jalan dengan riuh suara kendaraan.

Ping

Ping

Ping

Bang, chat ika kenapa gak dibalas? Abang marah ya sama ika? :(

Pesan dari Riska yang dikirim satu jam yang lalu. Johan membacanya setelah memasang sabuk pengaman. 

"Lebay!" 

Detik berikutnya pesan lain darinya masuk. 

Ini datanya gimana? 

"Ya, kayak gitu."

Johan menjawab setiap pesan yang dikirim Riska melalui lisan sambil terkekeh, bukan melalui teks yang membuatnya harus mengetik hingga akan menyulitkan dirinya menyetir. 

Bang, jangan marah, please. Ika minta maaf soal tadi siang. 

Dia menaruh ponsel setelah membaca pesan terbaru dari Riska. Menyalakan radio sebelum melajukan mobil. Tembang-tembang lawas dan melankolis biasanya dimainkan oleh penyiar radio untuk menemani tidur. 

Dengan volume kecil, perjalanan Johan ditemani satu lagu Sophie yang berjudul I love you. Lagu cinta yang membuat hatinya tersentuh secara pelan-pelan. Sayup-sayup mengalun, membuat malam dan perjalanan duda itu terasa romantis meski tidak ada bersamanya seorang kekasih.

Dari jarak yang tidak terlalu jauh, Johan melihat seekor anjing liar berdiri di depan pagar rumahnya. Enggan untuknya mengusir, dia hanya duduk di mobil tidak berbuat apa-apa setelah menginjak rem. 

Sorot lampu mobil membuat hewan tersebut tampak kebingungan, hingga membuatnya pergi entah kemana. Johan mengambil ponsel, kemudian membalas pesan Riska. 

Dia turun setelahnya, membuka pintu pagar besi yang tidak lagi tampak baru. Andai ada orang di rumah dia tidak akan repot seperti ini, tinggal klakson saja atau teriak-teriak seperti orang mabuk. 

"Ah, lupa!" 

Johan melupakan hadiah untuk Melly yang sudah diniatkan. Seharusnya dia tidak ke kafe, tapi ke toko mainan membeli boneka atau topi rajut beserta jaketnya. Bayi itu akan semakin membuatnya gemas kalau tidak mencubit, atau mentowel-towelnya. 

Kunci mobil Johan campak di atas kasur, menggantung jaket dan melepas pakaian meninggalkan celana dalam. 

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status