Share

Capther 6

Author: Melisa Satya
last update publish date: 2021-06-16 10:27:50

Takdir mempermainkan Clarissa Anastasya, hati gadis itu kini merasa sangat cemas.

Bagaimana jika Helena tahu?

Bagaimana jika sang kakak tidak setuju?

Sepanjang perjalanan, pikiran Clarissa lagi-lagi terkuras memikirkan kemungkinan yang akan terjadi.

Zeland dan David menatapnya yang gelisah sejak tadi. Kedua lelaki itu kini tahu, jika Clarissa punya banyak masalah.

"Mau makan siang dulu atau langsung menuju ke butik, Tuan?" tanya Tiger memecah keheningan.

Tiger adalah supir sekaligus pengawal yang akan mendampingi Clarissa.

"Butik, siapa yang akan belanja?" tanya David.

"Nona Clarissa. Nona akan memilih model gaun untuk acara pertunangan, Tuan."

"Apa!" Ketiganya shock di tempat.

Zeland menatap Clarissa, wajah gadis itu berubah pias. Tubuhnya gemetar membayangkan apa yang paling di takutinya, selangkah demi selangkah semakin dekat. Cla frustasi memikirkan bagaimana caranya untuk menggagalkan semua ini.

"Tuan Abraham sudah mengatur semuanya, di harapkan Tuan muda ikut memilih setelan jas serupa dengan warna gaun yang akan di pilih oleh Nona Clarissa."

David tidak bisa menyembunyikan kekesalannya. Dipikiran lelaki itu sekarang adalah. Apa kata orang jika pendamping Abraham Reevand adalah gadis yang baru saja lulus sekolah.

Tanpa di sadari Zeland dan David, air mata mengalir di wajah cantik Cla. Impiannya hancur, masa muda akan di habiskan menjadi seorang istri dari lelaki yang sama sekali tidak di cintainya.

Clarissa membuang pandangan ke arah jendela. Gadis itu semakin frustasi dan tidak tahu bagaimana caranya mengakhiri semua ini.

'Ibu, Ayah. Tolong aku,' batinnya.

Isak tangis Cla di dengar oleh Zeland, pemuda itu akan memberikan sapu tangannya Namun Cla lebih dulu meraih Tissue.

Niat baiknya pun terkubur begitu saja.

Khikk!

Tiba di sebuah butik ternama, mobil yang di kendarai Clarissa parkir dengan sempurna di depan sebuah gedung. Butik ternama itu milik designer terkenal di kota itu, Madam Savista. Madam telah menunggu kedatangan mereka sejak siang tadi.

Angelo sudah tiba lebih awal dan menunggu di dalam, lelaki itu sama terkejutnya kala mengetahui kedatangan mereka untuk memilih gaun.

"Ayo turun, sepertinya hari bahagiamu akan segera di mulai," ucapan Zeland membuat Cla mendongak. Gadis itu diabaikan, seolah tak perlu mendapatkan simpati.

Zeland dan David langsung turun dari mobil, dan berjalan memasuki butik. Cla masih menangis, hatinya sakit namun apa boleh buat. Semua ini adalah pilihannya sendiri.

"Ayo, Nona. Madam sudah menunggu lama." Tiger membukakan pintu mobil.

Clarissa lagi-lagi harus menguatkan diri, gadis itu membusungkan dada. Menyeka air mata dan keluar dari mobil dengan elegan. Menangis di depan pewaris Abraham hanya akan menjadikannya olokan.

Madam Savista terlihat sangat bahagia menyambut pria tampan di hadapannya.

"Akhirnya kalian mampir juga setelah sekian lama," ucap sang designer.

Angelo duduk di sebuah sofa dengan tampang bete dan tidak mood, hanya David yang menimpali wanita yang merupakan sahabat baik Kakeknya itu.

"Terima kasih, Madam. Seperti biasa Madam selalu tampak muda dan cantik."

Senyum wanita itu mengembang. Sekian lama mengabdi pada Abraham dan melihat ketiga pemuda itu tumbuh dan memujinya membuat Savista tersenyum bahagia.

"Diantara mereka, kau selalu paling menonjol, David. Oh ya, mana gadis itu?" tanyanya.

Clarissa masuk setelah karyawan butik membuka pintu kaca untuknya. Wajah sembab dan hidung memerah, membuat orang bisa menebak jika Clarissa baru saja menangis.

Aura yang terpancar, membuat Madam Savista terpesona.

"Wah, Kakek kalian memang tidak salah pilih calon pengantin," puji Madam Savista.

Langkah Clarissa terhenti, tatapan terluka jelas terlihat membuat raut wajah cantik itu terlihat sayu.

"Oh, Sayang. Apa yang membuatmu sedih? Apa yang terlihat belum tentu akan terjadi, kau seperti bunga, kau akan bahagia seperti selayaknya. Jadi tersenyumlah."

David menatap gadis itu. Ya, hanya orang yang tidak memiliki hati nurani yang tidak bisa menebak kesedihan seorang Clarissa. Titik bening hampir saja meluncur, untungnya Clarissa menyeka tepat pada waktunya.

"Ikut, Madam. Kau akan menjadi seorang putri, percayalah. Beberapa gaun akan sangat terlihat sempurna untukmu."

Kata manis Savista tidak mampu mengembalikan keceriaan di wajah Clarissa. Gadis itu dibawa menuju ke sebuah bilik. Zeland dan yang lain langsung berembuk setelah kepergian Madam Savista dan Clarissa.

"Kalian sudah dengar? Kakek benar-benar serius menjadikan dia sebagai istri," ucap Zeland.

"Tu, cewek miskin pasti pake guna-guna. Nggak mungkin kan Kakek bisa bertekuk lutut dan mau menikah dengannya begitu saja. Masih banyak wanita yang lebih cantik dan tentu lebih dewasa," seru Elo.

Mereka diam cukup lama, seolah mencari cara untuk menggagalkan pertunangan itu.

"Ini baru pertunangan, kita harus cari cara buat menjauhkan gadis miskin itu."

Zeland dan David tidak keberatan dengan kehadiran Clarissa. Tapi, jika gadis itu berniat menjadi Nenek mereka. Hal itu sangat membuat mereka terganggu.

"Caranya gimana?" tanya David.

Pikiran mereka buntu, bingung harus bagaimana?

"Gua ada ide," ucap Angelo dengan seringai licik.

Zelad dan David melihat ekspresi adik bungsunya. itu.

"Jujur saja, aku tidak yakin, kalau idenya datang dari kamu, El," ucap David acuh.

"Sialan, lo! Hanya ini satu-satunya cara untuk menggagalkan pertunangan ini, kalau beruntung. Pernikahan pun tidak akan berlangsung."

Davida dan Zeland mengerutkan kening, sehebat itukah rencana Angelo.

"Baiklah, katakan!"

Angelo maju dan berbisik, wajah kedua saudaranya menegang mendengarnya.

"Kau gila!" ucap Zeland.

Angelo langsung membekap mulut pemuda itu.

"Jangan kencang-kencang, nanti ketahuan." Angelo memikirkan cara yang ekstrem, hanya dengan begitu dia mampu menggagalkan semuanya.

"Aku juga tidak setuju, jangan kelewatan seperti itu, El!" David menentang keinginan sang adik.

Angelo mengembuskan napas kasar.

"Entah, apa yang dilakukan gadis itu hingga kalian seperti ini. Gue juga manusia, nggak mungkin menyuruh orang-orang itu melakukannya secara real. Ini hanya pura-pura, ayolah."

David dan Zeland masih ragu untuk mengiyakan. Tidak lama, tirai di buka membuat ketiganya kompak menoleh ke belakang. Tampak Clarissa muncul di tengah dengan gaun berwarna putih gading. Penampilan gadis itu membuat ketiga pewaris Abraham tercengang.

Clarissa sangat cantik, gaun yang di kenakan pun terlihat sangat sempurna.

"Hey, kalian jangan melamun saja. Coba komentari, apa ini cocok?" tanya Madam Savista.

Tidak ada yang menyahut, pandangan mereka masih fokus ke wajah gadis itu. Clarissa tertunduk dan sedih, wajahnya murung. Meski begitu, kecantikannya tetap terpancar.

"Kalian datang untuk mengoreksi, jika tidak membantu sebaiknya pulang saja." Madam Savista mengusir ketiganya.

"Cantik," ucap Zeland jujur.

Angelo menatap saudaranya kesal. Clarissa mendongak perlahan. Tatapan gadis itu membuat Zeland dan David terenyuh. Kesedihan Clarissa seolah bisa dirasakan oleh kedua lelaki itu.

"Aku tahu, gaun ini sangat cocok untuknya." Madam Savista mendekati Clarissa yang murung.

"Sayang, andai saja kita bertemu lebih dulu. Aku tidak akan segan-segan memintamu sebagai model untuk beberapa gaunku. Sayang, Abraham tidak akan mengizinkan hal itu terjadi." Madam Savista mencubit gemas dagu Clarissa.

Gadis itu mencoba tersenyum, dan hasilnya. Clarissa hanya semakin terluka.

Tiger tiba dan masuk terburu-buru.

"Nona, Kakak Anda tiba di kediaman Reevand."

Informasi datang tanpa diduga.

Clarissa terbelalak, kali ini dia tidak mampu membendung air matanya.

"Bagaimana itu bisa terjadi?"

Clarissa panik, Helena akan membencinya seumur hidup jika dia tahu apa yang sebenarnya telah dia gadaikan. Ketiga pewaris Abraham pun sama kagetnya.

"Entahlah, Nona. Saya mendapatkan kabar dari suster yang menjaga Nona Helena."

Tanpa pikir panjang, Clarissa berlari keluar.

"Aku harus pulang, ya, ini tidak boleh terjadi."

Gaun mahal Madam Savista menyapu jalanan.

"Nona, tunggu!"

Cla bergegas tak peduli apapun.

Madam Savista meringis melihat gaun mahalnya di bawah kabur.

"Sial! Cepat kejar dia!" ucap David.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • MARRIED FOR MONEY   40

    Atmosfer di dalam butik mendadak sunyi, ketegangan yang tercipta membuat Stevani mengepalkan tangannya semakin erat, wanita itu berusaha keras menjaga harga diri dan keanggunannya agar tidak hancur di depan Zeland. Senyum di bibir merahnya terlihat semakin kaku saat matanya kembali menatap Cla dari ujung kepala hingga ujung kaki."Aura yang sangat kuat untuk seseorang yang baru bergabung dengan keluarga Reevand," sindir Stevani pelan, suaranya diatur sedemikian rupa agar terdengar ramah namun menusuk. "Ternyata kejutan di keluarga ini tidak ada habisnya. Pertama pernikahan mendadak Tuan David, dan sekarang..." Stevani beralih menatap Helena dengan sorot mata penuh selidik. "Kehadiran anda juga tampak begitu percaya diri berdiri di samping Tuan Zeland."Helena tidak berkedip sedikit pun. Dia melangkah setengah ke depan, menegakkan bahunya hingga posisinya sejajar dengan Cla."Kepercayaan diri datang dari posisi yang sah, Nona Stevani," balas Helena dingin, matanya menembus tepat ke

  • MARRIED FOR MONEY   39

    Zeland menatap punggung Kakek Abraham yang perlahan menghilang di balik lorong menuju ruang kerjanya. Kalimat sang kakek menyentil relung hatinya yang paling dalam. Penyesalan, rasa tanggung jawab, dan tekad untuk melindungi kini menjadi satu alasan kuat mengapa dia harus berdiri pasang badan untuk Helena.Tak berapa lama, Helena dan Cla turun dari lantai atas dengan pakaian yang lebih rapi namun kasual. Wajah Cla masih menyiratkan keraguan yang teramat sangat, sementara Helena berjalan dengan dagu terangkat, sebuah pertahanan diri yang sengaja dia bangun untuk tetap bertahan."Sudah siap?" tanya Zeland lembut.Helena mengangguk singkat. "Ayo. Semakin cepat kita menyelesaikan ini, semakin cepat kita bisa fokus pada hari lusa."Zeland memberi isyarat pada Tiger, pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam yang sudah setia menjadi pengawal pribadi keluarga Reevand, datang bersama dua anak buahnya untuk membuntut dari jarak aman. Merekapun melaju menuju butik kelas atas milik Madam Sav

  • MARRIED FOR MONEY   38

    Suasana di kediaman utama Reevand tak lagi sama. Meski fajar mulai menyingsing membiaskan warna keemasan di balik jendela, ketegangan di dalam rumah mewah itu justru semakin pekat. Di kamar utama, Cla akhirnya tertidur karena kelelahan setelah meluapkan seluruh emosi dan kepedihannya. David menyelimutinya dengan perlahan, mengecup kening istrinya lama sebelum melangkah keluar dengan raut wajah yang berubah total. Dingin, tajam, dan penuh amarah. Di ruang tengah, Zeland dan El sudah menunggu. Tuan Abraham duduk di kursi kebesarannya, menatap ketiga cucunya yang kini berdiri sejajar dengan ikatan yang jauh lebih kuat dari sebelumnya. "Helena sudah agak tenang," ujar Zeland memecah keheningan, matanya sedikit merah karena ikut merasakan penderitaan wanita itu. "Tapi dia menuntut keadilan atas semuanya. Dia ingin Rafa dan Stevani membayar setiap detik penderitaan yang mereka lewati selama sepuluh tahun ini." "Bukan hanya Helena," sela David dengan suara berat yang menekan kewarasanny

  • MARRIED FOR MONEY   37

    Langkah kaki Cla mengayun berat menjauh dari ruang kerja, seolah setiap pijakannya menapak pada serpihan kaca yang tajam. David mencoba mengejarnya, namun tangannya tertahan di udara. Jarak beberapa senti di antara mereka mendadak terasa bagai jurang yang tak menentu."Biarkan dia sendiri dulu," bisik Zeland pelan. "Dia butuh waktu untuk mencerna semua ini."David memejamkan mata. Rasa bersalah melingkupi dadanya begitu sesak. Pria yang mulai ingin membangun hubungan itu, kini merasa tak dapat melindungi Cla dari segala bentuk penderitaan, kenyataan pahit adalah bahwa darah yang mengalir di nadinya adalah darah dari sosok yang merenggut nyawa orang tua istrinya sendiri."Apa dia akan membenciku?" Zeland terpaku. Dia tak memiliki jawaban atas pertanyaan itu."Orangtua kita yang menabrak mama dan papanya. Apa menurutmu dia bisa memaafkan semuanya?""Entahlah, Bang. Tapi, walau bagaimanapun juga kita memang tak tahu apa-apa. Jika Cla bisa berpikir jernih, dia pasti tak akan menyalah

  • MARRIED FOR MONEY   36

    Rasa curiga yang bertumpuk membuat dada Cla terasa makin sesak. Sebelum dia sempat menguraikan kebingungannya lebih jauh, deru mesin mobil terdengar memasuki pelataran rumah.Itu dia! Tuan Abraham dan David telah kembali.David melangkah lebar menghampiri kerumunan itu, matanya langsung tertuju pada Cla. Wajah istrinya yang pucat dan dipenuhi tanda tanya membuat langkah David terhenti sejenak sebelum mendekat dan meraih jemari Cla yang dingin."Semuanya sudah berkumpul di sini," suara Tuan Abraham memecah keheningan malam yang mencekam. Raut wajahnya kembali tenang, namun matanya memancarkan ketegasan."Masuklah. Tidak baik bicara di luar.""Baik, Kek."Di dalam ruang kerja utama Tuan Abraham, suasana kembali tegang. Tuan Abraham duduk di kursi kebesarannya, menatap Cla dan Helena bergantian.David dan Zeland berdiri di belakang pasangan mereka sedang El duduk di sisi kiri."Aku tahu apa yang ada di dalam kepalamu saat ini, Cla," ucap Tuan Abraham datar, menembus kecemasan gadis itu.

  • MARRIED FOR MONEY   35

    Mobil hitam yang membawa Cla, Helena, dan Zeland melaju membelah keheningan malam kota. Selama perjalanan, hanya terdengar isak tangis Helena yang ditahan dan deru napas Cla yang tak teratur. Informasi dari Tuan Abraham tadi bukan sekadar kejutan, itu adalah hantaman keras yang merobohkan semua asumsi yang mereka bangun selama puluhan tahun."Bukan kecelakaan murni..." gumam Helena, jemarinya meremas kain gaunnya hingga kusut. Matanya menatap kosong ke luar jendela. "Selama sepuluh tahun aku percaya papa dan mama pergi karena nasib buruk. Tapi Kakek bilang... mobil mereka oleng lebih dulu?"Zeland yang mengemudi melirik dari spion tengah. Wajahnya mengeras, pikirannya dipenuhi seribu pertanyaan. Sebagai cucu Abraham, dia tahu betul sang Kakek tidak pernah berbicara tanpa bukti yang sah. Jika Kakek sampai harus menyembunyikan kenyataan ini dan menahan gertakan David di hadapan publik, artinya musuh yang dihadapi bukan sekadar saingan bisnis biasa."Kak," panggil Cla pelan. Tangannya m

  • MARRIED FOR MONEY   Chapter 4

    Semalaman dilayani bak putri raja, Clarissa merasa dirinya sedang di alam dunia mimpi. Pelayan bahkan mengikutinya hingga ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat untuknya. Clarissa merasa kehilangan privasi saat kedua pelayan utusan Abraham memutuskan semuanya. Mulai dari pakaian yang harus dike

  • MARRIED FOR MONEY   Chapter 3

    Abraham tidak peduli dengan sikap yang ditunjukan ketiga pewarisnya terhadap Clarissa, sebaliknya dia justru senang jika cucu-cucunya terang-terangan menyindir Cla di sana. Abraham ingin melihat perlawanan dari wanita muda itu. Ingin tahu sampai dimana dia sanggup untuk bertahan. Makan malam kini s

  • MARRIED FOR MONEY   Chapter 2

    Helena tidak sadarkan diri saat bantuan datang dan mengankat tubuhnya masuk ke dalam mobil Ambulance. Anak buah Abraham dengan cepat mengawal prosesinya. Clarissa memilih untuk ikut di mobil yang membawa kakaknya. Gadis itu tak hentinya berdoa dan menggenggam tangan saudarinya. "Bertahan, Kak. Semu

  • MARRIED FOR MONEY   Chapter 1

    "Saya membutuhkan wanita cantik sepertimu untuk dijadikan calon pengantin," ucap seorang lelaki tua yang berdiri tepat dihadapan Clarissa Anastasya. Gadis itu melotot sempurna dengan tangan mengepal menatap berang ke arah lelaki tersebut. Seharian ini, Clarissa telah berkeliling mencari pekerjaan,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status