Share

MEMBALAS PENGKHIANATAN SUAMI DAN KAKAKKU
MEMBALAS PENGKHIANATAN SUAMI DAN KAKAKKU
Author: Noona_SV

Bab 1

Author: Noona_SV
last update Last Updated: 2025-10-20 09:44:39

Karena fitnah cinta pertama suaminya, Alea malah terkurung di dalam gudang bahkan nyaris kehabisan napas karena traumanya terhadap ruangan yang gelap.

Amis darah mulai tercium disekitar ruangan, terlebih saat jemari Alea terasa perih karena terus berusaha mencakar dan memukul pintu berharap ada yang menolongnya.

"Buka .. Aku ti-tidak kuat la-gi... to-tolong..," rintih Alea, dengan suara yang mulai melemah dan napas yang terdekat.

Seberapa lamapun Alea didalam, tidak ada yang mau menolongnya, bahkan beberapa kalipun ia mendengar langkah yang mendekat ke arah gudang, tidak satupun dari mereka yang mau membukakan pintu untuknya.

Hingga di detik terakhir, ketika napas Alea mulai tercekat dan pandangannya nyaris gelap, pintu itu akhirnya didobrak keras dari luar.

Cahaya menembus debu yang beterbangan, menyingkap siluet seorang pria di ambang pintu, napasnya berat, tatapannya tajam.

"Bersihkan jalan dan hubungi rumah sakit agar bersiap!"

Alea masih sempat mendengar suara teriakan itu. teriakan yang meski terdengar keras, tapi masih menenangkan ditelingannya. Selain itu, samar Ia melihat sorot mata tajam dari seorang pria yang kini menggendong tubuhnya dalam sekali sentak.

“Maaf, aku terlambat menemukanmu. Bertahanlah," suara pria itu berat dan dalam, nyaris seperti gema di antara kabut kesadarannya yang memudar.... lalu semuanya gelap.

---

Dua hari sebelum semuanya berantakan, makan malam keluarga Morgan berubah menjadi ruang interogasi.

“Alea, kita perlu bicara.”

David Morgan meletakkan sendoknya. Suaranya tenang.... bahkan mungkin sangat tenang, dengan cara yang membuat Alea ingin melempar seluruh isi meja.

Alea mengangkat wajah. “Tentang apa kali ini, Ayah?”

Vanessa Morgan saling pandang dengan suaminya sebelum akhirnya membuka suara.

“Alea, kau tahu sendiri bukan... Serena selama ini selalu menderita, dia lemah dan tidak sekuat kamu. Sebelumnya dia sempat menikah dan malah jadi sakit bahkan hancur karena suami lamanya. Sekarang... dia benar-benar tidak lagi sama. Dia butuh kebahagiaan.”

Alea menahan napas. "Lalu Apa?”

David mencondongkan tubuh ke depan.

“Alea, kita bicara baik-baik. Serena, dia... Dia sudah benar-benar terluka. Kau tahu hubungan pernikahannya saat itu sangat rumit. Dan sekarang, dia sudah sendirian. Dia... maksudku, Ethan sekarang kembali mencarinya... sama seperti dia yang mencari Ethan dulu..”

Alea tertawa pendek, sinis.

'Mencari Ethan? bahkan dulu dia membuang Ethan, hanya karena dia gagal memulai usaha,' batin Alea, namun sama sekali tidak terucap di bibirnya.

“Jadi?” tanya Alea berusaha tenang dan tidak menunjukkan sisi emosionalnya.

Hatinya benar-benar sudah kebas, diminta selalu mengalah dan selalu berkorban untuk orang yang bahkan selalu menginginkan kehancurannya.

“Seperti yang kami bilang tadi. Tolong kali ini, mengalah untuk Kakakmu, tolong izinkan dia bahagia kali ini.”

Vanessa menyambung cepat, seperti takut kehilangan momen.

Vanessa menatap putrinya seolah memohon pengertian, tapi kalimat berikutnya justru membuat Alea ingin menertawakan nasibnya sendiri.

Alea diam. Bukan karena terkejut, tetapi karena lelah. Kata mengalah sudah seperti mantra keluarga Morgan. Mantra yang selalu ditujukan padanya.

Mengalah demi kebahagiaan Kakakmu, mengalah demi kebahagiaan dan kesehatan Serena yang katanya lemah.

Ia menyandarkan punggung. Sudut bibirnya terangkat...senyum yang tidak benar-benar senyum. Senyum yang bahkan sudah berada di titik muak dan bosan.

“Jadi, kali ini aku harus mengalah dalam hal apa lagi? Melepaskan Ethan? Bukannya kalian tahu, kami suami istri meski tidak di publikasikan?”

Alea berkata sambil tersenyum miring...senyum yang tampak seperti retakan terakhir dari seseorang yang sudah terlalu sering ditarik, didorong, dan disingkirkan demi kepentingan keluarga.

David mendengus, mengangkat dagu sedikit.

“Justru karena itu, Alea. Pernikahan itu tidak pernah diumumkan. Tidak ada yang tahu. Kalau kau mundur sekarang, tidak ada yang akan mempertanyakannya.”

Vanessa mengangguk cepat, seolah kalimat itu harus segera disetujui sebelum Alea berubah pikiran.

“Benar. Jadi tidak ada yang perlu dibesar-besarkan. Lagipula…”

Ia menggenggam jemarinya sendiri, ragu sejenak… sebelum melanjutkan.

"Serena dan Ethan, hubungan mereka sudah sangat jauh. Bahkan lebih jauh ketimbang hubunganmu sendiri sebagai seorang istri.”

Tawa Alea pecah, terdengar sumbang, getir dan bahkan membuatnya sampai mengeluarkan air mata.

Tawa yang bahkan membuat Vanessa dan David saling pandang dengan ekspresi bingung...karena itu bukan tawa orang yang sedang bercanda. Itu tawa seseorang yang akhirnya berhenti memperjuangkan apa pun.

Alea menunduk sedikit, menutup tawa itu dengan punggung tangan, sebelum menatap mereka kembali.

“Ah… jadi begitu.”

Senyumnya melengkung, dingin. “Hubungan mereka lebih jauh? Lebih dalam? Lebih kuat? Bahkan kembali di rajut, setelah Serena meninggalkan Ethan tanpa ampun ya? Ya… tentu saja. Bahkan ketika aku masih menjadi istrinya, Ethan selalu punya tempat untuk Serena, bukan?”

David mengetuk meja, berusaha mengontrol keadaan.

“Alea, jangan berlebihan.”

“Aku?” Alea menunjuk dirinya sendiri. “Berlebihan?”

Ia tertawa lagi...kali ini lebih pendek, tapi jelas menyakitkan.

“Kalau mereka memang sejauh itu, kenapa tidak jujur sejak awal? Kenapa harus ada aku? Kenapa aku harus menjadi penutup luka lama seseorang yang katanya lemah?”

Vanessa menghela napas, nadanya lembut namun menusuk.

“Alea… Serena hanya butuh kesempatan baru. Dia sudah hancur sebelumnya. Dia tidak kuat menahan tekanan seperti kamu.”

Alea menatap ibunya lama. Sangat lama.

Hingga air matanya yang hampir jatuh justru mengering lagi sebelum sempat keluar.

“Benar.”

Ia mengangguk pelan. “Serena tidak pernah kuat.”

Ia menatap keduanya satu per satu.

“Dan aku? Aku selalu harus kuat. Selalu harus mengalah.”

Ia berdiri.

Tangannya bergerak pelan ke arah cincin yang melingkar di jari manisnya...cincin yang menandai hubungan yang ia jaga sendirian selama ini.

Dengan gerakan sangat tenang, Alea memutarnya…

…lalu menariknya keluar.

Cincin itu lepas dengan suara kecil.

Seperti mengakhiri sesuatu yang bahkan tidak pernah diperjuangkan selain oleh dirinya sendiri.

Alea memandangi cincin itu sejenak...tanpa tangis, tanpa bimbang.

Kemudian ia letakkan di atas meja.

Dentingnya terdengar nyaring.

Memotong kesunyian ruang makan seperti sebuah pengumuman kematian.

Alea menghembuskan napas pelan.

“Baik. Kalau itu yang kalian mau…”

Tatapannya berubah datar.

Bukan marah...lebih kosong dari itu.

“…aku akan mengalah. Seperti biasa.”

Ia tersenyum tipis, getir.

“Aku akan melepaskan apapun yang berhubungan dengan Ethan. Kali ini, Serena kembali menang. Mereka sudah jauh, bukan? Jauh sekali… bahkan ketika aku masih menjadi istrinya.”

Vanessa tampak lega. David mengangguk.

Tapi Alea belum selesai.

Ia menatap mereka dengan sorot mata yang benar-benar mati rasa.

“Dan aku juga menyetujui permintaan anda.”

David mengerutkan kening. “Permintaan apa?”

Alea mengangkat dagunya sedikit.

“Aku akan menerima pinangan itu. Sean Miller Kingston.”

Vanessa terbelalak. “Alea...”

“Tidak perlu drama, Bu.”

Alea memotong cepat, nadanya sedingin baja.

“Lagipula… bukankah ini yang kalian rancang dari awal? Serena tidak sanggup, jadi aku yang harus menggantikan. Sama seperti yang aku lakukan selama ini. Selalu menjadi tumbal untuk anak tersayang kalian. .”

David mencoba bicara, namun Alea melanjutkan tanpa memberinya ruang.

“Aku akan menikah dengannya, tapi dengan satu syarat."

"Apa syaratnya?"

Melihat binar dimata Vanessa, membuat luka di hati Alea semakin menjadi. Harinya benar-benar kebas dengan apa yang dilakukan orang tua, yang katanya orang tua kandungnya sendiri.

"Aku akan menikah dengan Sean Miller Kingston, menggantikan Serena. Asal kalian membuat pernyataan didepan publik, kalau kalian tidak memiliki ikatan darah apapun dengan seorang bernama Alea."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • MEMBALAS PENGKHIANATAN SUAMI DAN KAKAKKU   Bab 46

    "Diam, atau kurobek mulutmu," ucap Allea dengan wajah datar, dan suara yang terdengar tegas. Untuk pertama kalinya, ekspresi Serena membeku. Tangannya yang menggenggam lengan Ethan mengendur sepersekian detik, jelas tidak menyangka Allea akan berani berbicara seperti itu di ruang publik.Beberapa pengunjung butik di sekitar mereka spontan menoleh. Suasana yang semula elegan berubah tegang.Ethan mengernyit, ia tidak pernah melihat sisi Allea yang seperti ini. Dan jelas itu membuat egonya sedikit terusik dan harga dirinya tergores.“Kau... Kenapa kau bisa bicara sekasar itu, Allea? Kau benar-benar berubah,” katanya pelan, namun nada suaranya mulai mengeras."Apa urusannya denganmu?""Allea, jangan terus bermain peran didepanku. Jangan karena kemarin aku diam dan Kau dibelakang seseorang yang berpengaruh, kau berani berulah seperti ini. Kau lupa, siapa kau sebenarnya? Apa hanya karena pria lumpuh itu, kau berani bertingkah kasar pada Kakakmu sendiri?"Allea mendengus mendengar nada ren

  • MEMBALAS PENGKHIANATAN SUAMI DAN KAKAKKU   Bab 46

    Seperti yang ia rencanakan sebelumnya, Allea mendatangi salah satu butik yang memiliki brand ternama di Volka, dengan kumpulan brand dari desainer terbaik. "Berikan aku dasi dan juga Jas dari beberapa brand terbaik, dengan rancangan terbaru. Aku mau, semuanya kualitas terbaik," pinta Allea pada salah satu pegawai butik yang langsung menegakkan tubuhnya begitu mendengar permintaan itu. “Tentu, Nona. Apakah ada warna atau potongan yang diinginkan?” tanyanya dengan nada profesional. Allea menggeleng pelan. “Sesuaikan saja. Aku ingin yang paling layak dipakai suamiku, Sean Miller Kingston.” Nama itu membuat beberapa pegawai saling melirik satu sama lain, lalu bergerak lebih cepat dari sebelumnya. Rak demi rak dibuka, gantungan jas diturunkan dengan hati-hati. Satu per satu pilihan dikeluarkan, dari potongan klasik hingga desain modern dengan detail rapi dan tegas. Allea berdiri dengan sikap tenang, matanya menilai tanpa ragu. Ia memilih jas hitam dengan potongan lurus, bahu tegas, d

  • MEMBALAS PENGKHIANATAN SUAMI DAN KAKAKKU   Bab 45

    Allea melangkah mendekat ke cermin besar di sudut kamar. Pantulan wajahnya terlihat begitu tenang, nyaris dingin. Namun hanya dia yang tahu, betapa rapuhnya lapisan ketenangan itu. Luka lama tidak pernah benar-benar sembuh. Ia hanya belajar menyimpannya rapi, jauh di dasar hati. Tangannya terangkat, menyentuh lehernya sendiri, seolah memastikan ia masih bisa bernapas dengan bebas. “Burung dalam sangkar emas,” gumamnya pelan, kali ini keluar sebagai suara. “Setidaknya sangkarnya indah, tanpa membuatku terluka hanya karena ingin merasakan terbang sedikit bebas.” Ia tersenyum miris. Dulu, di rumah Morgan, ia bahkan tidak diberi sangkar. Ia hanya dibiarkan berdiri di luar, menyaksikan bagaimana kasih sayang dibagikan pada orang lain, sementara ia diminta tahu diri hanya karena dilahirkan dari rahim yang sama. Langkahnya terhenti di depan rak gaun. Berderet rapi, mahal, dan indah. Semua yang dulu hanya bisa ia pandangi dari jauh, kini tersedia tanpa syarat. Perhiasan mahal, tas

  • MEMBALAS PENGKHIANATAN SUAMI DAN KAKAKKU   Bab 44

    Allea merasakan hatinya berdenyut nyeri, saat dengan terang-terangan Vanessa mengatakan bahwa ia sama sekali tidak akan pernah sama dengan Serena. Meski notabenenya dia anak kandung, namun posisinya tidaklah sama berharga dengan anak angkat mereka. "tapi Ibu, aku sama sekali tidak mengambil gaun kakak. Aku hanya menerima dari bibi pelayan, dan bilang kalau itu dari ayah," elak Allea, berusaha menyangkal apa yang dituduhkan padanya. Serena dengan wajah yang penuh kesedihan, menyentuh lengan David dengan pelan disertai isakan yang terdengar memilukan. "Ayah... Maafkan aku, tidak seharusnya aku membuat keributan hanya karena gaun,” ucap Serena terputus, bahunya bergetar. “Aku hanya… aku hanya kaget. Itu gaun yang Ayah janjikan untukku.”"Ini bukan salahmu, Serena. Lagipula, gaun itu memang ayah belikan untukmu. Tidak seharusnya Allea mengambil apa yang bukan menjadi haknya, meski dia anak kandung kami," sahut David tanpa ragu, seolah kalimatnya bukanlah hal yang salah. Namun tanpa

  • MEMBALAS PENGKHIANATAN SUAMI DAN KAKAKKU   Bab 43

    Allea menutup laci nakas itu perlahan. Jemarinya masih terasa hangat, seolah ada sisa sentuhan dari sesuatu yang tak kasat mata tertinggal di sana. Ia berdiri cukup lama di depan tempat tidur, memandangi kotak beludru dan amplop putih yang kini kembali tertata rapi. Dadanya naik turun tidak beraturan, karena sebuah perasaan asing yang perlahan mulai menggantikan perasaan lain yang sudah mengendap lama. “Aku akan menuruti ucapanmu kali ini,” gumam Allea pelan, seolah berbicara pada Sean yang tidak ada di ruangan itu. “Aku akan bersenang-senang. Setidaknya… mencoba.” Ia berbalik menuju menuju walk in closet, dimana ternyata begitu banyak baju untuk ya yang sudah tersusun rapi. "Astaga, Sean. Kau benar-benar melakukan ini untukku?" gumam Allea, menatap deretan pakaian yang begitu indah, elegan dan terlihat sesuai dengan apa yang menjadi ciri khas pakaian kesukaannya."Dia tahu akau sebanyak ini, atau... dia hanya menebak dari kriteriaku?"Ketika nyaris berpikir lebih jauh, Allea seke

  • MEMBALAS PENGKHIANATAN SUAMI DAN KAKAKKU   Bab 42

    Allea mendengus ketika membaca pesan dari seseorang yang sama sekali tidak asing untuk ya. Meski ia mengganti nomor ponsel dengan yang baru, Allea jelas tahu siapa yang tidak suka dengan kebahagiaannya. [Sebegitu tidak bahagianya kah hidupmu, kakak. Sampai-sampai, kau selalu mengganggu kehidupanku yang sudah bahagia]Allea meletakkan ponsel di atas meja, setelah memberikan balasan pada orang yang memang tidak pernah menginginkan kebahagiaannya sejak ia menjejakkan kaki di kediaman Morgan. Dengan santai, Allea kembali menikmati sarapannya tanpa merasa terganggu. Hingga sebuah pesan kembali masuk kedalam ponselnya dan membuat atensinya teralih.[Katakan kalau kau tidak menyukai apa yang aku siapkan hari ini. Jangan memaksa menelan sesuatu yang tidak kau inginkan.]Senyum tipis terbit dibibir Allea. Pesan yag singkat dan sedikit terkesan dingin, namun Allea bisa merasakan kehangatan perhatian didalamnya. Sean... Suaminya itu tengah berusaha menunjukkan sosoknya sebagai suami, meski or

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status