LOGIN
Karena fitnah cinta pertama suaminya, Alea malah terkurung di dalam gudang bahkan nyaris kehabisan napas karena traumanya terhadap ruangan yang gelap.
Amis darah mulai tercium disekitar ruangan, terlebih saat jemari Alea terasa perih karena terus berusaha mencakar dan memukul pintu berharap ada yang menolongnya. "Buka .. Aku ti-tidak kuat la-gi... to-tolong..," rintih Alea, dengan suara yang mulai melemah dan napas yang terdekat. Seberapa lamapun Alea didalam, tidak ada yang mau menolongnya, bahkan beberapa kalipun ia mendengar langkah yang mendekat ke arah gudang, tidak satupun dari mereka yang mau membukakan pintu untuknya. Hingga di detik terakhir, ketika napas Alea mulai tercekat dan pandangannya nyaris gelap, pintu itu akhirnya didobrak keras dari luar. Cahaya menembus debu yang beterbangan, menyingkap siluet seorang pria di ambang pintu, napasnya berat, tatapannya tajam. "Bersihkan jalan dan hubungi rumah sakit agar bersiap!" Alea masih sempat mendengar suara teriakan itu. teriakan yang meski terdengar keras, tapi masih menenangkan ditelingannya. Selain itu, samar Ia melihat sorot mata tajam dari seorang pria yang kini menggendong tubuhnya dalam sekali sentak. “Maaf, aku terlambat menemukanmu. Bertahanlah," suara pria itu berat dan dalam, nyaris seperti gema di antara kabut kesadarannya yang memudar.... lalu semuanya gelap. --- Dua hari sebelum semuanya berantakan, makan malam keluarga Morgan berubah menjadi ruang interogasi. “Alea, kita perlu bicara.” David Morgan meletakkan sendoknya. Suaranya tenang.... bahkan mungkin sangat tenang, dengan cara yang membuat Alea ingin melempar seluruh isi meja. Alea mengangkat wajah. “Tentang apa kali ini, Ayah?” Vanessa Morgan saling pandang dengan suaminya sebelum akhirnya membuka suara. “Alea, kau tahu sendiri bukan... Serena selama ini selalu menderita, dia lemah dan tidak sekuat kamu. Sebelumnya dia sempat menikah dan malah jadi sakit bahkan hancur karena suami lamanya. Sekarang... dia benar-benar tidak lagi sama. Dia butuh kebahagiaan.” Alea menahan napas. "Lalu Apa?” David mencondongkan tubuh ke depan. “Alea, kita bicara baik-baik. Serena, dia... Dia sudah benar-benar terluka. Kau tahu hubungan pernikahannya saat itu sangat rumit. Dan sekarang, dia sudah sendirian. Dia... maksudku, Ethan sekarang kembali mencarinya... sama seperti dia yang mencari Ethan dulu..” Alea tertawa pendek, sinis. 'Mencari Ethan? bahkan dulu dia membuang Ethan, hanya karena dia gagal memulai usaha,' batin Alea, namun sama sekali tidak terucap di bibirnya. “Jadi?” tanya Alea berusaha tenang dan tidak menunjukkan sisi emosionalnya. Hatinya benar-benar sudah kebas, diminta selalu mengalah dan selalu berkorban untuk orang yang bahkan selalu menginginkan kehancurannya. “Seperti yang kami bilang tadi. Tolong kali ini, mengalah untuk Kakakmu, tolong izinkan dia bahagia kali ini.” Vanessa menyambung cepat, seperti takut kehilangan momen. Vanessa menatap putrinya seolah memohon pengertian, tapi kalimat berikutnya justru membuat Alea ingin menertawakan nasibnya sendiri. Alea diam. Bukan karena terkejut, tetapi karena lelah. Kata mengalah sudah seperti mantra keluarga Morgan. Mantra yang selalu ditujukan padanya. Mengalah demi kebahagiaan Kakakmu, mengalah demi kebahagiaan dan kesehatan Serena yang katanya lemah. Ia menyandarkan punggung. Sudut bibirnya terangkat...senyum yang tidak benar-benar senyum. Senyum yang bahkan sudah berada di titik muak dan bosan. “Jadi, kali ini aku harus mengalah dalam hal apa lagi? Melepaskan Ethan? Bukannya kalian tahu, kami suami istri meski tidak di publikasikan?” Alea berkata sambil tersenyum miring...senyum yang tampak seperti retakan terakhir dari seseorang yang sudah terlalu sering ditarik, didorong, dan disingkirkan demi kepentingan keluarga. David mendengus, mengangkat dagu sedikit. “Justru karena itu, Alea. Pernikahan itu tidak pernah diumumkan. Tidak ada yang tahu. Kalau kau mundur sekarang, tidak ada yang akan mempertanyakannya.” Vanessa mengangguk cepat, seolah kalimat itu harus segera disetujui sebelum Alea berubah pikiran. “Benar. Jadi tidak ada yang perlu dibesar-besarkan. Lagipula…” Ia menggenggam jemarinya sendiri, ragu sejenak… sebelum melanjutkan. "Serena dan Ethan, hubungan mereka sudah sangat jauh. Bahkan lebih jauh ketimbang hubunganmu sendiri sebagai seorang istri.” Tawa Alea pecah, terdengar sumbang, getir dan bahkan membuatnya sampai mengeluarkan air mata. Tawa yang bahkan membuat Vanessa dan David saling pandang dengan ekspresi bingung...karena itu bukan tawa orang yang sedang bercanda. Itu tawa seseorang yang akhirnya berhenti memperjuangkan apa pun. Alea menunduk sedikit, menutup tawa itu dengan punggung tangan, sebelum menatap mereka kembali. “Ah… jadi begitu.” Senyumnya melengkung, dingin. “Hubungan mereka lebih jauh? Lebih dalam? Lebih kuat? Bahkan kembali di rajut, setelah Serena meninggalkan Ethan tanpa ampun ya? Ya… tentu saja. Bahkan ketika aku masih menjadi istrinya, Ethan selalu punya tempat untuk Serena, bukan?” David mengetuk meja, berusaha mengontrol keadaan. “Alea, jangan berlebihan.” “Aku?” Alea menunjuk dirinya sendiri. “Berlebihan?” Ia tertawa lagi...kali ini lebih pendek, tapi jelas menyakitkan. “Kalau mereka memang sejauh itu, kenapa tidak jujur sejak awal? Kenapa harus ada aku? Kenapa aku harus menjadi penutup luka lama seseorang yang katanya lemah?” Vanessa menghela napas, nadanya lembut namun menusuk. “Alea… Serena hanya butuh kesempatan baru. Dia sudah hancur sebelumnya. Dia tidak kuat menahan tekanan seperti kamu.” Alea menatap ibunya lama. Sangat lama. Hingga air matanya yang hampir jatuh justru mengering lagi sebelum sempat keluar. “Benar.” Ia mengangguk pelan. “Serena tidak pernah kuat.” Ia menatap keduanya satu per satu. “Dan aku? Aku selalu harus kuat. Selalu harus mengalah.” Ia berdiri. Tangannya bergerak pelan ke arah cincin yang melingkar di jari manisnya...cincin yang menandai hubungan yang ia jaga sendirian selama ini. Dengan gerakan sangat tenang, Alea memutarnya… …lalu menariknya keluar. Cincin itu lepas dengan suara kecil. Seperti mengakhiri sesuatu yang bahkan tidak pernah diperjuangkan selain oleh dirinya sendiri. Alea memandangi cincin itu sejenak...tanpa tangis, tanpa bimbang. Kemudian ia letakkan di atas meja. Dentingnya terdengar nyaring. Memotong kesunyian ruang makan seperti sebuah pengumuman kematian. Alea menghembuskan napas pelan. “Baik. Kalau itu yang kalian mau…” Tatapannya berubah datar. Bukan marah...lebih kosong dari itu. “…aku akan mengalah. Seperti biasa.” Ia tersenyum tipis, getir. “Aku akan melepaskan apapun yang berhubungan dengan Ethan. Kali ini, Serena kembali menang. Mereka sudah jauh, bukan? Jauh sekali… bahkan ketika aku masih menjadi istrinya.” Vanessa tampak lega. David mengangguk. Tapi Alea belum selesai. Ia menatap mereka dengan sorot mata yang benar-benar mati rasa. “Dan aku juga menyetujui permintaan anda.” David mengerutkan kening. “Permintaan apa?” Alea mengangkat dagunya sedikit. “Aku akan menerima pinangan itu. Sean Miller Kingston.” Vanessa terbelalak. “Alea...” “Tidak perlu drama, Bu.” Alea memotong cepat, nadanya sedingin baja. “Lagipula… bukankah ini yang kalian rancang dari awal? Serena tidak sanggup, jadi aku yang harus menggantikan. Sama seperti yang aku lakukan selama ini. Selalu menjadi tumbal untuk anak tersayang kalian. .” David mencoba bicara, namun Alea melanjutkan tanpa memberinya ruang. “Aku akan menikah dengannya, tapi dengan satu syarat." "Apa syaratnya?" Melihat binar dimata Vanessa, membuat luka di hati Alea semakin menjadi. Harinya benar-benar kebas dengan apa yang dilakukan orang tua, yang katanya orang tua kandungnya sendiri. "Aku akan menikah dengan Sean Miller Kingston, menggantikan Serena. Asal kalian membuat pernyataan didepan publik, kalau kalian tidak memiliki ikatan darah apapun dengan seorang bernama Alea.""Aku lelah, Sean. Di rumah itu, aku selalu membayangkan bagaimana kehidupanku yang mungkin akan bahagia saat bersama orang tua kandungku. Ya... setidaknya, mungkin aku tidak akan kelaparan saat akan tidur, aku tidak akan merasakan harus bangun dini hari untuk bekerja di ladang. Atau yang paling bahagia, setidaknya aku akan dipeluk saat aku akan tidur di malam hari. Tapi kau tahu, semua itu berhenti di khayalanku saja."Allea tersenyum getir. Namun air mata menjadi penjelasan, seberapa jauh sakit yang ia rasakan dan itu harus tumpah di depan pria asing yang kini menjadi suaminya. Sean mengangkat salah satu tangannya yang bebas, mengusap pelan pipi Allea yang basah oleh air mata. "Maaf, kalau pertanyaanku menjadi hal yang menyakitkan. Maaf, kalau pertanyaanku justru membuka luka yang sudah rapat kau simpan," ujar Sean, dengan suara yang terdengar bersalah. "Ini bukan salahmu. A-Aku tahu, cepat atau lambat semua ini akan keluar juga dari mulutku. Aku juga tidak bisa memendam semuanya
Sean hanya diam dan menatap tepat ke arah mata Allea, seolah mencari kebenaran dalam setiap kalimat yang wanita dihadapannya itu katakan. Namun, tak hanya kejujuran dan kemantapan hati yang bisa dilihat Sean dari mata Allea. Tapi juga justru kobaran kemarahan, dan luka yang mendalam yang justru terlihat semakin membara. "Sejauh itu mereka menyakitimu, hmmm?" Allea membalas tatapan Sean, napasnya tertahan sesaat sebelum akhirnya terhembus perlahan. Untuk beberapa detik, ia tidak langsung menjawab, seolah sedang memilih apakah ia akan membuka pintu yang selama ini ia kunci rapat—atau membiarkannya tetap tertutup. “Lebih dari sekadar menyakiti,” ucapnya akhirnya, mengatakan dengan raut wajah yang bahkan terlalu tenang untuk sebuah pengakuan menyakitkan dan mungkin menimbulkan trauma. “Mereka bukan hanya menyakitiku secara fisik dan hati, bahkan mereka membuatku lupa bagaimana rasanya dihargai sebagai manusia.” Sean tidak mengalihkan pandangan. Tatapannya mengeras, rahangnya meneg
Rapat akhirnya ditutup dengan ketukan palu kecil di ujung meja. Para direksi berdiri satu per satu, sebagian masih menyimpan raut ragu, sebagian lain memilih bersikap netral. Namun tidak ada lagi bantahan yang berart seperti sebelumnya, sebab keputusan sudah benar-benar di ambil.Ruangan perlahan kosong.Allea membereskan dokumen di hadapannya dengan gerakan teratur, napasnya baru terasa benar-benar kembali normal setelah pintu terakhir tertutup."Maaf, seharusnya ini menjadi sekedar pesta pembukaan dari Ellara's yang disiapkan untukmu, tapi... semuanya harus berakhir seperti ini," ujar Sean, menatap lekat Allea dengan kedua tangan bertumpu di atas paha dan jemari yang saling terjalin didepan dagu."Tidak apa-apa, lagipula.. kalaupun tidak sekarang, ini akan terjadi juga nantinya kan," sahut Allea, menoleh sekilas ke arah Sean dan kembali melanjutkan aktivitasnya.Meski tangannya masih membereskan map, Allea bisa merasakan sedikit canggung sebab ia tahu kalau saat ini Sean masih terus
Serena mematikan televisi dengan satu sentakan keras. Ruangan kembali hening, namun kepalanya justru semakin bising. Bayangan wajah Allea yang tersenyum bangga ketika di panggung itu terus berputar, lengkap dengan nama Kingston yang kini sah melekat padanya. Semua pasang mata menatap penuh kagum pada Allea, seakan ia menjadi pusat semesta dan pusat perhatian, yang jika berkedip sekali saja maka semuanya akan lenyap.“Tidak… aku tidak akan membiarkan ini berakhir seperti ini,” gumam Serena dingin. "Aku sengaja menolak semuanya, meminta Ayah dan ibu menekan Allea untuk menikah dengan Sean, itu semua agar wanita itu menderita. Tapi kenapa dia justru bahagia dan mendapatkan yang tidak bisa aku dapatkan!"Serena berdiri dari sofa dengan langkah perlahan namun penuh tekanan. Rahangnya mengeras, matanya menyipit tajam. namun kali ini amarahnya mulai terkendali, bahkan senyum smirk mulai terbit dibibirnya.“Sean Miller Kingston…” gumamnya pelan, seolah mengecap nama itu dengan penuh perhitun
Ethan keluar dengan wajah penuh kekesalan. Ia tidak menyangka kalau Allea yang sudha berhari-hari tidak pulang, justru mengaku kalau dirinya seorang istri dari Sean Miller Kingston. Ia tidak pernah tahu, sejak kapan mereka menikah dan menjalin hubungan. Namun satu hal yang pasti dan ia yakini saat ini, kalau Allea hanya memainkan peran dan tidak benar-benar meninggalkannya. Dia hanya kesal karena posisinya digantikan orang lain, dan dia juga kesal karena ditinggalkan ketika masih berada di rumah sakit.Langkah Ethan terhenti tepat di depan pintu kaca besar Ellara’s Diamond. Tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya, rahangnya mengeras. Ia menghembuskan napas kasar, mencoba meredam gejolak yang masih membakar dadanya.“Dia hanya marah,” gumamnya pelan, lebih seperti meyakinkan diri sendiri. “Itu saja.”Di benaknya, Allea bukan perempuan yang berani memutuskan segalanya sendirian. Apapun itu, Allea selalu meminta persetujuan darinya dan selalu melakukan segala hal demi mendapatkan perhat
Ethan tersentak sepersekian detik saat mendengar bentakan Sean. Namun diamnya Ethan bukan karena takut pada Sean, melainkan karena ia dibuat terkejut karena ini pertama kalinya ada yang bicara dengan nada penuh intimidasi dihadapannya. Selama ini, semua yang bertemu dengannya selalu bisa menahan amarah dan selalu bertingkah sopan, bahkan mereka terkesan begitu menghormati .. ah bukan, seperti seorang penjilat yang khawatir akan bersinggungan dengannya. Tapi sekarang? ia seakan tersentil, sebab Sean Miller membentaknya dihadapan umum demi membela seorang wanita, yang selama ini di klaim sebagai milik Ethan."Apa hak anda menbentakku, Tuan Kingston? Apa yang aku lakukan pada Allea, itu karena urusan pribadiku dengannya dan tidak ada sangkut pautnya sama sekali.""Jelas itu ada sangkut pautnya denganku. Dia istriku, dan Kau berani membentaknya bahkan tidak menghargainya. Aku tidak mungkin membiarkan dia ditindas."Ethan terkekeh pelan. Bukan tawa lega, melainkan tawa yang dipaksakan, p







