Home / Romansa / MENGAJAR CINTA / 26. Petualangan Kecil Ares

Share

26. Petualangan Kecil Ares

Author: Nd.park
last update Petsa ng paglalathala: 2025-07-22 20:59:28

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA

...

Ares betul-betul menikmati liburannya di rumah Kakek dan Nenek. Sehari penuh ia bermain di halaman, tertawa, dan sama sekali tidak rewel meski jauh dari Putra.

Namun, tetap saja, menjelang sore ia akan meminta video call. “Mau lihat Papa,” begitu caranya menyampaikan rindu—kadang hanya lewat gestur menunjuk layar ponsel. Ia tidak menangis, tapi wajahnya berubah setiap kali belum melihat Putra; ada rasa kosong
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • MENGAJAR CINTA   78. Pantai dan Bunga

    *SELAMAT MEMBACA SEMUANYA****Setelah kejadian beberapa hari lalu yang sempat membuat Dinda canggung terhadap Putra, Dinda akhirnya menjelaskan bahwa semua itu murni kebetulan. Putra pun sama sekali tidak mempermasalahkannya. Hubungan mereka nyatanya justru semakin dekat. Hari ini, Putra kembali mengajak Dinda dan Ares jalan-jalan. Kali ini, Putra mengajak mereka berdua pergi ke pantai. Seperti biasa, Ares duduk nyaman di kursi belakang, sementara Dinda duduk di samping kursi pengemudi. Sepanjang perjalanan, sesekali mereka saling bercanda. Putra juga beberapa kali menjawab pertanyaan-pertanyaan random yang keluar dari mulut kecil Ares. "Sudah sampai. Ayo, waktunya kita turun," ucap Putra kepada Dinda dan Ares. "Yeay, sudah sampai!" seru Ares dengan penuh kegembiraan. Setelah itu, mereka bertiga turun dari mobil. Dinda membantu Ares turun sekaligus mengambil beberapa barang keperluan mereka. Sementar

  • MENGAJAR CINTA   77. Yang Seharusnya Hanya Bertiga

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA****Semenjak Putra dan Dinda mulai berbaikan, hubungan mereka perlahan kembali dekat. Entah itu karena sering berbincang saat di bimbel, atau sekadar makan siang bersama di sela kesibukan masing-masing. Seperti hari ini, mereka bertiga sudah berjanji untuk makan siang bersama lagi. Putra membelokkan mobilnya menuju bimbel tempat Dinda bekerja. Sementara itu, Ares duduk anteng di kursi belakang, dengan tablet di pangkuannya. “Sudah sampai belum, Pa?” tanyanya sesekali, di sela-sela menonton. “Sebentar lagi, Boy,” jawab Putra sambil tersenyum pelan. Tak lama kemudian, mereka pun sampai. “Tunggu sebentar, ya. Papa jemput Miss Dinda dulu,” ucap Putra sambil menoleh ke arah belakang. Ares mengangguk patuh, lalu mengangkat tangannya ke pelipis sebagai tanda hormat. “Good job,” ujar Putra, sebelum akhirnya keluar dari mobil untuk segera menjemput Dinda.

  • MENGAJAR CINTA   76. Badai Pasti Berlalu

    SELAMAT MEMBACA SEMYANYA***Keesokan harinya, Putra berencana menjemput Ares di bimbel lebih cepat dari biasanya. Ia ingin meminta kejelasan mengapa Dinda menghindarinya. Putra sudah benar-benar memantapkan hatinya untuk menanyakan hal itu. Ia segera berdiri dari kursi kantornya dan langsung mengambil kunci mobil. "Sudah mau pulang, Pak?" tanya Nindi saat melihat Putra keluar dari ruangannya. "Iya, saya duluan," ucap Putra singkat. "Baik, Pak. Hati-hati di jalan," balas Nindi sopan. Putra hanya mengangguk pelan sebelum melangkah pergi. Tak lama kemudian, Putra akhirnya sampai di tempat bimbel Ares. Dari dalam mobil, ia melihat Dinda tengah duduk di mejanya, fokus menatap layar laptop. Setelah memastikan itu benar Dinda, Putra menarik napas pelan. Ia pun keluar dari mobil dan memutuskan menunggu Ares di dalam. “Assalamualaikum,” ucapnya pelan saat memasuki bimbel. “Waalai

  • MENGAJAR CINTA   75. Pikiran yang Mulai Kacau

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA***Hampir satu bulan lamanya Putra dan Dinda tidak saling menyapa. Putra sibuk dengan pekerjaannya di kantor, sedangkan Dinda juga tenggelam dalam kesibukannya di bimbel. Bahkan saat Putra sesekali menjemput Ares di bimbel, mereka tak pernah bertemu. Entah Dinda yang sudah pulang lebih dulu, atau justru sengaja menghindar ketika tahu Putra yang akan menjemput Ares. "Pak, Pak Putra," panggil Satria pada Putra yang tampak tidak fokus sejak tadi. "Pak..." panggilnya lagi sambil menepuk pelan pundak Putra, membuatnya sedikit tersentak. Putra menoleh ke arah Satria, alisnya menukik. "Ada apa?" ucapnya datar. Satria menghela napas pelan. "Bapak perlu istirahat?" tanyanya. "Atau ada yang bisa saya bantu? Dari tadi Bapak kelihatan kurang fokus," lanjutnya. Putra mengusap wajahnya pelan dengan kedua tangan, lalu mengembuskan napas panjang. "Sorry, Sat. Gue lagi nggak fokus,"

  • MENGAJAR CINTA   74. Sore yang Sederhana

    *SELAMAT MEMBACA SEMUANYA****Keesokan harinya, Putra bekerja seperti biasa. Ia berada di kantor, berhadapan dengan tumpukan kertas yang sejak tadi diserahkan Santria. Tak lama kemudian, Satria kembali masuk ke ruangan Putra dengan membawa setumpuk berkas lainnya. “Apa lagi?” ujar Putra, sedikit menaikkan intonasi suaranya. Satria yang masih berdiri di ambang pintu terdiam sesaat, jelas kebingungan mendengar nada bicara Putra. “Kenapa sih? Sensi amat gue lihat-lihat lo hari ini,” sahut Satria sambil melangkah mendekat. “Gue capek. Mau pulang,” sahut Putra sambil berdiri, bersiap meninggalkan pekerjaannya. “Gak ada!” teriak Satria. “Gak ada yang namanya pulang duluan. Lihat tuh berkas yang harus lo urus.” Ia menunjuk tumpukan berkas di meja Putra. “Saya capek, Satria. Kamu sebagai asisten saya seharusnya bisa meng-handle ini,” ujar Putra dengan nada dingin khas bos. “Tapi, Pak, ini

  • MENGAJAR CINTA   73. Aneh

    *SELAMAT MEMBACA SEMUANYA****Keesokan harinya, Putra bekerja seperti biasa. Ia berada di kantor, berhadapan dengan tumpukan kertas yang sejak tadi diserahkan Santria. Tak lama kemudian, Satria kembali masuk ke ruangan Putra dengan membawa setumpuk berkas lainnya. “Apa lagi?” ujar Putra, sedikit menaikkan intonasi suaranya. Satria yang masih berdiri di ambang pintu terdiam sesaat, jelas kebingungan mendengar nada bicara Putra. “Kenapa sih? Sensi amat gue lihat-lihat lo hari ini,” sahut Satria sambil melangkah mendekat. “Gue capek. Mau pulang,” sahut Putra sambil berdiri, bersiap meninggalkan pekerjaannya. “Gak ada!” teriak Satria. “Gak ada yang namanya pulang duluan. Lihat tuh berkas yang harus lo urus.” Ia menunjuk tumpukan berkas di meja Putra. “Saya capek, Satria. Kamu sebagai asisten saya seharusnya bisa meng-handle ini,” ujar Putra dengan nada dingin khas bos. “Tapi, Pak, ini

  • MENGAJAR CINTA   50. Langkah Kecil Cerita Besar

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...Hari ini adalah hari yang sangat Ares nantikan, karena Putra akhirnya memasukkannya ke TK. Itu artinya, ia akan segera punya banyak teman baru. “Papa Yes sudah siap!” seru Ares sambil berlari menuruni tangga dan menuju dapur bersama Nita.

  • MENGAJAR CINTA   48. Dua Cerita Satu Kehangatan

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...Terhitung sudah seminggu sejak mereka pulang dari Jakarta, dan kini aktivitas Dinda tak jauh dari bimbel. Pagi itu, Dinda tengah duduk manis di kursi meja adminnya. Ia membuka bimbel lebih awal dari biasanya—jam delapan pagi—agar semua pers

  • MENGAJAR CINTA   47. Mulai Kacau

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...“Din… itu—” suara Cindy menahan kata-kata.Dinda menoleh ke arah sahabatnya. Tatapan mereka bertaut sepersekian detik—lalu sebuah senyum perlahan merekah di bibir Dinda. Senyum yang seolah berkata, Ah… jadi ini."Ini...?" tanya Dind

  • MENGAJAR CINTA   46. Pertemuan tak Terduga

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...Langit cerah perlahan berganti gelap, menandakan hari sudah hampir berakhir. Mobil mereka melaju menuju hotel yang sudah dipesan sejak beberapa hari lalu. Ares terlelap di car seat-nya, wajah mungil itu tampak tenang setelah seharian penuh

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status