แชร์

30. Malam di Rumah Kakek

ผู้เขียน: Nd.park
last update วันที่เผยแพร่: 2025-07-28 08:00:10

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA

...

“Papa!” teriak Ares riang saat melihat sosok laki-laki gagah—tampan versi dirinya sendiri. Tapi memang, ayahnya itu benar-benar tampan, bukan cuma menurut Ares saja.

Mark ikut menoleh ke arah pandangan Ares. Ia melihat Putra dan Kakek Karim sedang duduk berdua di tepi kandang.

Mark refleks melepaskan pegangan di kerah Ares dan langsung menggenggam tangannya. Bukan karena takut dimarahi Putra—lebih ke antisipasi, siapa tahu A
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • MENGAJAR CINTA   78. Pantai dan Bunga

    *SELAMAT MEMBACA SEMUANYA****Setelah kejadian beberapa hari lalu yang sempat membuat Dinda canggung terhadap Putra, Dinda akhirnya menjelaskan bahwa semua itu murni kebetulan. Putra pun sama sekali tidak mempermasalahkannya. Hubungan mereka nyatanya justru semakin dekat. Hari ini, Putra kembali mengajak Dinda dan Ares jalan-jalan. Kali ini, Putra mengajak mereka berdua pergi ke pantai. Seperti biasa, Ares duduk nyaman di kursi belakang, sementara Dinda duduk di samping kursi pengemudi. Sepanjang perjalanan, sesekali mereka saling bercanda. Putra juga beberapa kali menjawab pertanyaan-pertanyaan random yang keluar dari mulut kecil Ares. "Sudah sampai. Ayo, waktunya kita turun," ucap Putra kepada Dinda dan Ares. "Yeay, sudah sampai!" seru Ares dengan penuh kegembiraan. Setelah itu, mereka bertiga turun dari mobil. Dinda membantu Ares turun sekaligus mengambil beberapa barang keperluan mereka. Sementar

  • MENGAJAR CINTA   77. Yang Seharusnya Hanya Bertiga

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA****Semenjak Putra dan Dinda mulai berbaikan, hubungan mereka perlahan kembali dekat. Entah itu karena sering berbincang saat di bimbel, atau sekadar makan siang bersama di sela kesibukan masing-masing. Seperti hari ini, mereka bertiga sudah berjanji untuk makan siang bersama lagi. Putra membelokkan mobilnya menuju bimbel tempat Dinda bekerja. Sementara itu, Ares duduk anteng di kursi belakang, dengan tablet di pangkuannya. “Sudah sampai belum, Pa?” tanyanya sesekali, di sela-sela menonton. “Sebentar lagi, Boy,” jawab Putra sambil tersenyum pelan. Tak lama kemudian, mereka pun sampai. “Tunggu sebentar, ya. Papa jemput Miss Dinda dulu,” ucap Putra sambil menoleh ke arah belakang. Ares mengangguk patuh, lalu mengangkat tangannya ke pelipis sebagai tanda hormat. “Good job,” ujar Putra, sebelum akhirnya keluar dari mobil untuk segera menjemput Dinda.

  • MENGAJAR CINTA   76. Badai Pasti Berlalu

    SELAMAT MEMBACA SEMYANYA***Keesokan harinya, Putra berencana menjemput Ares di bimbel lebih cepat dari biasanya. Ia ingin meminta kejelasan mengapa Dinda menghindarinya. Putra sudah benar-benar memantapkan hatinya untuk menanyakan hal itu. Ia segera berdiri dari kursi kantornya dan langsung mengambil kunci mobil. "Sudah mau pulang, Pak?" tanya Nindi saat melihat Putra keluar dari ruangannya. "Iya, saya duluan," ucap Putra singkat. "Baik, Pak. Hati-hati di jalan," balas Nindi sopan. Putra hanya mengangguk pelan sebelum melangkah pergi. Tak lama kemudian, Putra akhirnya sampai di tempat bimbel Ares. Dari dalam mobil, ia melihat Dinda tengah duduk di mejanya, fokus menatap layar laptop. Setelah memastikan itu benar Dinda, Putra menarik napas pelan. Ia pun keluar dari mobil dan memutuskan menunggu Ares di dalam. “Assalamualaikum,” ucapnya pelan saat memasuki bimbel. “Waalai

  • MENGAJAR CINTA   75. Pikiran yang Mulai Kacau

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA***Hampir satu bulan lamanya Putra dan Dinda tidak saling menyapa. Putra sibuk dengan pekerjaannya di kantor, sedangkan Dinda juga tenggelam dalam kesibukannya di bimbel. Bahkan saat Putra sesekali menjemput Ares di bimbel, mereka tak pernah bertemu. Entah Dinda yang sudah pulang lebih dulu, atau justru sengaja menghindar ketika tahu Putra yang akan menjemput Ares. "Pak, Pak Putra," panggil Satria pada Putra yang tampak tidak fokus sejak tadi. "Pak..." panggilnya lagi sambil menepuk pelan pundak Putra, membuatnya sedikit tersentak. Putra menoleh ke arah Satria, alisnya menukik. "Ada apa?" ucapnya datar. Satria menghela napas pelan. "Bapak perlu istirahat?" tanyanya. "Atau ada yang bisa saya bantu? Dari tadi Bapak kelihatan kurang fokus," lanjutnya. Putra mengusap wajahnya pelan dengan kedua tangan, lalu mengembuskan napas panjang. "Sorry, Sat. Gue lagi nggak fokus,"

  • MENGAJAR CINTA   74. Sore yang Sederhana

    *SELAMAT MEMBACA SEMUANYA****Keesokan harinya, Putra bekerja seperti biasa. Ia berada di kantor, berhadapan dengan tumpukan kertas yang sejak tadi diserahkan Santria. Tak lama kemudian, Satria kembali masuk ke ruangan Putra dengan membawa setumpuk berkas lainnya. “Apa lagi?” ujar Putra, sedikit menaikkan intonasi suaranya. Satria yang masih berdiri di ambang pintu terdiam sesaat, jelas kebingungan mendengar nada bicara Putra. “Kenapa sih? Sensi amat gue lihat-lihat lo hari ini,” sahut Satria sambil melangkah mendekat. “Gue capek. Mau pulang,” sahut Putra sambil berdiri, bersiap meninggalkan pekerjaannya. “Gak ada!” teriak Satria. “Gak ada yang namanya pulang duluan. Lihat tuh berkas yang harus lo urus.” Ia menunjuk tumpukan berkas di meja Putra. “Saya capek, Satria. Kamu sebagai asisten saya seharusnya bisa meng-handle ini,” ujar Putra dengan nada dingin khas bos. “Tapi, Pak, ini

  • MENGAJAR CINTA   73. Aneh

    *SELAMAT MEMBACA SEMUANYA****Keesokan harinya, Putra bekerja seperti biasa. Ia berada di kantor, berhadapan dengan tumpukan kertas yang sejak tadi diserahkan Santria. Tak lama kemudian, Satria kembali masuk ke ruangan Putra dengan membawa setumpuk berkas lainnya. “Apa lagi?” ujar Putra, sedikit menaikkan intonasi suaranya. Satria yang masih berdiri di ambang pintu terdiam sesaat, jelas kebingungan mendengar nada bicara Putra. “Kenapa sih? Sensi amat gue lihat-lihat lo hari ini,” sahut Satria sambil melangkah mendekat. “Gue capek. Mau pulang,” sahut Putra sambil berdiri, bersiap meninggalkan pekerjaannya. “Gak ada!” teriak Satria. “Gak ada yang namanya pulang duluan. Lihat tuh berkas yang harus lo urus.” Ia menunjuk tumpukan berkas di meja Putra. “Saya capek, Satria. Kamu sebagai asisten saya seharusnya bisa meng-handle ini,” ujar Putra dengan nada dingin khas bos. “Tapi, Pak, ini

  • MENGAJAR CINTA   58. Janji

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...Siang itu, setelah puas bermain di Timezone, Putra menggandeng tangan kecil Ares menuju restoran di dalam mall. Perut mereka sudah sama-sama keroncongan, seolah kompak meminta diisi.“Mau pesan apa, Boy?” tanya Putra begitu pelayan datang me

  • MENGAJAR CINTA   56. Confess!!

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA ... Semakin hari, kedekatan antara Putra dan Dinda semakin terasa, apalagi setiap kali Ares pulang dari bimbel, Putra lah yang selalu menjemputnya Namun hari ini, Dinda hanya berada di bimbel setengah hari, sehingga Ares terpak

  • MENGAJAR CINTA   55. Taman dan Pantai

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...Mobil Putra melaju pelan memasuki sebuah tempat wisata yang cukup ramai di hari Minggu ini. Hari yang memang pas untuk keluarga menikmati waktu bersama. “Kita sampai, Papa?” tanya Ares saat merasakan mobil yang dikendarai Putra mulai melamb

  • MENGAJAR CINTA   52. Kemana Papa?

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...Malam itu rumah sudah mulai tenang. Hanya suara jarum jam di ruang kerja yang terdengar, menemani Putra menatap tumpukan berkas di mejanya. Namun pikirannya justru melayang entah ke mana, bukan pada angka-angka atau laporan yang terbuka di hadapannya

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status