Share

BAB 2 CHATRINE MADISON

Penulis: Jemyadam
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-16 21:46:35

Chatrine Madison berdiri mendongak pada gedung Denton Tower yang paling menjulang dengan dinding kaca biru megah di pusat kota New York. Keputusan ini rasanya sangat gila dan nekat. Chatrine yang cantik, cerdas dengan karir gemilang baru saja memecat dirinya sendiri dari sebuah pekerjaan spektakuler yang di impikan ribuan wanita di dunia.

Chatrine memutuskan untuk meninggalkan Denton Global. Perusahan super power yang sedang berada di puncak perekonomian global. Chatrine mengundurkan diri dari posisi sekretaris sekaligus tangan kanan kepercayaan Aron Loghan. Meninggalkan karir bergengsi demi masa depan yang tidak jelas tapi dia yakini...

Chatrine menghembuskan napas panjang.

"Ya Tuhan... ini keputusan paling bodoh sepanjang hidupku."

Tapi Chatrine tetap melangkah tegak meninggalkan Denton Global dengan dagu sedikit terangkat. Nekat pergi cuma dengan bekal keyakinan dan... entah apa lagi...

Mari sekarang kita perjelas: Chatrine Madison, wanita muda dengan karier sukses, pribadi disiplin dan mantan lulusan terbaik dua universitas Ivy league, tiba-tiba memutuskan keluar dari pekerjaannya yang super keren di pusat kota New York demi... mengejar pria.

Dan bukan pria kaya, pintar, atau terkenal. Tapi pria yang cuma bekerja di gudang kayu, dan yang paling penting... pernah terang-terangan menyebut Chatrine sebagai wanita murahan.

Liam Conelli

Pria yang mampu membuat Chatrine marah, kesal, tersinggung... dan entah kenapa selalu mampu membuat jantungnya berdebar dengan cara yang menyebalkan.

Pertama kali mereka bertemu di tengah hujan badai saat perjalan Chatrine di pedesaan Canterbury. Mobil Chatrine terjebak oleh pohon besar yang tumbang di tengah jalan. Liam yang kebetulan lewat langsung mengeluarkan kampak dari pickup-nya, memotong bongkahan batang kayu besar di tengah hujan deras cuma berbekal otot dan tenaga. Setelahnya Liam juga mengantar Chatrine sampai ke bandara tanpa meminta imbalan.

Bahkan hari itu Liam nyaris tidak melirik kecantikan Chatrine sama sekali. Sikapnya tak acuh, justru sedikit angkuh, tapi Chatrine mengakui pemuda itu tampan. Ketampanan yang mampu membuat wanita modern secerdas Chatrine merinding tegang. Ada tatapan waspada dan kebencian setiap kali mata mereka bertemu.

Tapi bukan Chatrine Madison kalau mudah nyerah. Justru karena segala hinaan itu, dia semakin penasaran. Liam adalah satu dari sangat sedikit manusia yang berani mengkritik dirinya dengan segala citra kesempurnaan.

Perasaan hangat tumbuh di dada Chatrine setiap kali Liam melemparkan hinaan dingin penuh kebencian.

*******

Dan sekarang, beberapa bulan setelah kejadian di tengah badai, Chatrine bersiap naik pesawat ke Canterbury. Pergi ke kota kecil di Inggris. Untuk mengejar seorang tukang kayu yang bahkan mungkin sudah lupa dengan masalah remeh mereka di tengah badai.

"Tunggu kedatanganku, Tukang Kayu!"

Oke, Chatrine juga belum mau mengaku bila dirinya sudah 'jatuh cinta' sejak Liam menebang batang kayu di tengah hujan. Tapi dia mengakui ada semacam benih kecil yang tumbuh di sudut hatinya dan terus tumbuh membesar meskipun sudah berulang kali dimaki. Chatrine tidak bisa berhenti memikirkan pemuda kampung tampan bertubuh kekar itu dan tentu saja sambil mengomel.

"Kalau ini gagal, aku resmi masuk kategori perempuan 'tolol karena cinta!' gumam Chatrine sambil mencengkeram stir mobilnya.

Begitu sampai di bandara internasional di kota London, Chatrine lanjut mengemudi sendiri untuk sampai ke Canterbury.

Ini benar-benar bodoh...!

Benar-benar gila...!

Chatrine nekat pergi menemui pemuda kampung yang telah membuat malam harinya tidak pernah nyenyak lagi.

Tapi, setidaknya untuk sekali dalam hidup. Chaterine sedang melakukan sesuatu bukan karena logika.

Tapi karena dia ingin!

Karena dia... penasaran!

Karena Chatrine menginginkan sesuatu yang lebih dari prestasi dan segala mendali.

Chatrine tersenyum kecil dalam perjalannya menembus jalanan aspal sepi. Tapi kepala Chatrine juga terus berisi teriakan pertanyaan...

Bodoh?... Mungkin!

Gila?... Iya!

Menyesal?... Belum!

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • MENGEJAR CINTA TUKANG KAYU TAMPAN   BAB 11 SEMAKIN PANAS

    Entah bagaimana, siang itu yang dimulai dengan genggaman tangan tanpa sengaja, kini berubah menjadi pertemuan sepasang mata hangat dengan percikan aneh, canggung, tapi nyaris terlalu nyaman untuk dilanjutkan. Masalahnya... Beranikah mereka berdua untuk melanjutkan? Sendok Liam beradu pelan dengan mangkuk, suaranya seolah mengetuk ruang hening yang menggantung di antara mereka. Chatrine menusuk sepotong jeruk dari saladnya, mengangkatnya ke bibir dengan gerakan hati-hati, seolah setiap tatapan Liam adalah kamera pemindai dengan sensor laser. Liam tidak berdusta, dia ingin segera menggigit bibir Chatrine! Liam sudah hampir menghabiskan satu mangkuk besar sup utuk mengalihkan pikiran kotor ketika Chatrine mulai berkomentar dengan nada sarkas. “Apa kau selalu makan sebanyak itu?” "Sepertinya aku bakal perlu lebih banyak energi untuk menghadapi mu." Chatrine menahan napas sepersekian detik. "Nampaknya semua ini memang telah kau rencanakan." Lalu Chatrine pura-pura sibuk mengaduk s

  • MENGEJAR CINTA TUKANG KAYU TAMPAN   BAB 10 MULAI HANGAT

    Walaupun kesal dengan tingkah Chatrine, ternyata Liam tetap tidak tega membiarkan wanita kelaparan. Akhirnya siang itu, meskipun sudah agak terlambat untuk makan siang, Liam membawa Chatrine pergi ke restoran kecil langgannya. Pintu kaca swing berderit ringan saat Liam mendorongnya, suasana hangat langsung menyeruak. Lantai kayu tua berderit setiap kali ada langkah pengunjung baru memasuki pintu depan. Chatrine menatap sekeliling. Dindingnya dipenuhi foto-foto lama kota Canterbury, seakan pemiliknya ingin setiap pengunjung merasa seperti pulang ke rumah sendiri. Chaterine sempat kaget... tidak menyangka sebuah restoran kecil bisa terasa begitu hidup. Bukan karena dekorasi mewah, melainkan karena orang-orang di dalamnya. Hampir semua saling mengenal, tertawa sambil menyapa, bahkan ada yang sekadar melambaikan tangan ketika seorang pelanggan baru masuk. Begitu Liam melangkah, suara hangat seorang pria langsung terdengar memangil. “Liam!” suara berat penuh semangat terdengar dari a

  • MENGEJAR CINTA TUKANG KAYU TAMPAN   BAB 9 SALING TEGANG DAN PANAS

    Di luar bilik kamar mandi yang baru bergeser tertutup, Chatrine berdiri kaku seperti arca batu. Liam benar-benar tidak masuk akal, dia mandi telanjang di bawah shower deras. Chatrine terus berdiri kaku dengan jantung berdebar kencang. Masalahnya kamar mandi di sudut ruangan itu cuma disekat pintu kaca agak buram. Tubuh telanjang Liam cukup terlihat jelas oleh mata Chatrine yang masih normal. Cahaya lampu redup di dalam kamar mandi memantulkan siluet tubuh Liam. Garis bahunya, punggungnya, gerakan tangannya yang sedang menyapu rambut dengan busa sabun, bahkan bayangan otot perut yang berdenyut naik-turun seirama dengan tarikan napasnya... Sialnya lagi... semua detail maskulin liar itu justru semakin jelas dalam kepala Chatrine. Chatrine sampai harus meneguk udara serat, 'Astaga… apa yang kau pikirkan Chatrine?' bisiknya dalam hati setengah panik setengah malu pada pikirannya sendiri. Liam terlihat santai, sementara Chatrine terus ingin mengumpat dengan bibirnya yang terlalu cerda

  • MENGEJAR CINTA TUKANG KAYU TAMPAN   BAB 8 PRIA PRIMITIF

    Begitu pintu tertutup, Chatrine berdiri sendirian di ruang kerja Liam yang lebih menyerupai markas psikopat. Ia meletakkan tas, menghela napas panjang, lalu bergumam pada dirinya sendiri. “Baik, Chatrine. Tantangan dimulai. Kalau kau bisa bertahan bekerja di ruangan ini tanpa gila, maka kau bisa bertahan di mana saja!” Sebelum membuka laptop, Chatrine coba merapikan beberapa barang di atas meja dengan hati-hati. Markas laki-laki bisa penuh barang berbahaya yang tidak terduga. Chatrine harus waspada. "Semoga saja aku tidak menemukan kondom bekas!" Sementara Chatrine sibuk membersihkan ruang kerja Liam di lantai atas. Di gudang galeri, suara mesin kayu kembali meraung, menggema hingga ke dinding-dinding yang penuh dengan serbuk gergaji. Liam, dengan lengan yang sudah penuh debu kayu, fokus memotong sudut meja makan klasik besar pesanan Tobias Harlot... seorang billionaire yang mempercayakan semua perabot interior rumah mewah barunya di London pada galeri Liam. Beberapa pekerja la

  • MENGEJAR CINTA TUKANG KAYU TAMPAN   BAB 7 SARAPAN BERSAMA

    Isabel tak berhenti kagum. “Chatrine, aku masih penasaran… kau bilang bekerja di bagian apa tadi?” “Managing strategic marketing and gallery development,” jawab Chatrine penuh percaya diri. Isabel mengerjap. “Itu kedengarannya sangat penting. Apa artinya?” Isabel serius tidak paham dengan bahasa modern. “Artinya,” Chatrine mencondongkan tubuhnya sedikit, “aku akan membantu Liam menjual lebih banyak karya seni, menarik pengunjung dari luar kota, membuat galeri lebih terkenal, bahkan mungkin menghubungkannya dengan pasar seni internasional.” “Wah!” Isabel berdecak kagum. “Liam, kau dengar itu? Pasar internasional!” Liam menutup mata sebentar, menahan sabar. “Bu, itu hanya… teori kampus.” Isabel tidak peduli. Ia menoleh ke Chatrine, matanya berbinar. “Kau tahu, Chatrine, aku sudah lama ingin Liam punya pasangan yang cerdas. Dia terlalu keras kepala kalau sendirian.” “Bu!” Liam hampir menjatuhkan sendoknya. “Ini bukan tentang pasangan!” Tentu saja, Isabel tidak akan melewatkan p

  • MENGEJAR CINTA TUKANG KAYU TAMPAN   BAB 6 KETEGANGAN YANG LUCU

    Sampai detik ini dan sampai wanita cantik berambut pirang itu berdiri di hadapannya, Liam masih sulit percaya jika seorang Chatrine Madison nekat datang ke kota kecil cuma untuk bekerja di galeri pinggiran kota. Bahkan pagi-pagi sekali Chatrine sudah siap dengan pakaian super rapi dan stylish. Seolah dia akan memimpin rapat penting di pusat kota bisnis dunia. Aron parfum yang dipakai oleh Chatrine sangat harum semerbak, lembut sekaligus segar. Liam berusaha fokus pada lawan bicaranya yang terlalu cerdik dan cerdas. Ribuan kali Liam harus mengingatkan dirinya sendiri agar tidak terpancing pikiran gila. "Jam berapa kita berangkat?" Chatrine sudah benar-benar siap dan nampak profesional, cekatan, bersemangat. "Galeri buka jam sembilan. Ini baru setengah tujuh." "Oh, kalian pemalas sekali memulai hari!" Kritik itu keluar begitu saja dari bibir Chatrine yang terbiasa hidup disiplin. "Bisa tidak, kita mulai lebih pagi?" Chatrine tidak mau menunggu terlalu lama. "Tidak!" Liam l

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status