Share

BAB 3 SAMPAI DI CANTERBURY

Author: Jemyadam
last update Last Updated: 2026-02-16 22:04:38

Hari sudah sore ketika Chatrine sampai di Canterbury, dia memarkir mobilnya di depan halaman galeri milik Liam. Langit Canterbury berwarna jingga cerah, udara musim panas berhembus kering membawa debu menusuk hidung. Chatrine sempat mengambil sapu tangan dan seketika bersin.

'Hak, zink!!!'

'Hak, zink!!!'

'Hak, zink!!!'

Tiga kali Chatrine terbersin-bersin sampai akhirnya cukup beradaptasi. Pipinya merah, matanya berair.

"Oh, Tuhan..."

Chatrine tidak biasa berurusan dengan debu, tapi wanita pirang cantik itu belum mau menyerah dengan tekad gilanya mengejar tukang kayu.

"Jam berapa ini?!" Chatrine menoleh arloji mahal di pergelangan tangannya.

"Kenapa sudah tutup!"

Dari luar, galeri itu tampak sunyi, pintu depannya sudah tertutup rapat. Tapi telinga Chatrine yang tajam menangkap dengungan khas mesin pemotong kayu dari arah gudang di belakang.

“Tentu saja… Dia masih bekerja."

Chatrine seratus persen yakin pria seperti Liam lebih cinta pada pekerjaan dan sebongkah papan kayu daripada berlibur musim panas.

Bangunan gudang menempel di sisi belakang galeri beton dua lantai yang cukup luas. Dari luar, bangunan utama terlihat seperti showroom seni dengan fasad kaca besar, tapi begitu melewati pagar halaman parkir, atmosfer berubah drastis. Tidak ada keindahan pameran seni lagi di tempat itu... hanya debu, papan berserakan, bau kayu basah, dan raungan mesin.

Chatrine menepuk-nepuk roknya, percuma saja karena debu kayu tetap hinggap dan langsung menempel.

“Ya Tuhan…” gumamnya, “…ini bukan kantor Denton Global, ini hutan A****n dalam versi berdebu.”

Dengan langkah berani yang agak dibuat-buat, Chatrine berjalan melewati sisi bangunan, menuju gudang besar bercat putih yang catnya mulai mengelupas. Pintu gudang terbuka lebar, dari dalam aroma serbuk kayu mengudara bebas, nyaris kembali membuat hidung Chatrine bersin. Beruntung Chatrine berhasil menahannya. Karena pasti bakal sangat memalukan jika dia sampai bersin-bersin di depan Liam.

Gudang itu luas, penuh rak-rak tinggi berisi papan kayu berbagai ukuran. Serbuk halus yang berterbangan di udara, tertangkap oleh cahaya sore yang masuk lewat jendela besar di atas dekat langit-langit.

Di tengah ruangan luas itu Chatrine melihat Liam sedang fokus bekerja.

Mesin pemotong kayu meraung, serbuk kayu terus ikut berterbangan. Kemeja flanel abu-abunya sudah basah oleh keringat, menempel rapat pada dada bidang dan punggung lebar. Lengan kekarnya berkilau oleh aliran keringat, setiap urat terlihat jelas saat pria itu mendorong papan melawan mata gergaji berputar. Rambut cokelat gelapnya juga berantakan, sedikit basah, sebagian menempel di pelipis, sebagian jatuh menutupi kening.

Chatrine mendapati dirinya mematung, belum berani mendekat.

“Ya Tuhan…” bisiknya, meski sebenarnya itu lebih ditujukan pada dirinya sendiri. Kenapa dia bisa pergi sejauh ini hanya utuk seorang tukang kayu pemarah.

Bahkan lelaki itu sama sekali tidak pernah berusaha jadi tampan. Tidak ada parfum mewah, tidak ada jas Armani, tidak ada senyum pura-pura ala pria kota. Hanya pria dewasa yang sedang bekerja dengan otot serta cucuran keringat, dan… entah apa yang membuat Chatrine ingin berteriak frustrasi.

Chatrine menggertakkan gigi. Ingat pria itu yang pernah menyebutnya wanita murahan. Dan sekarang dia malah berdiri di sini seperti gadis remaja yang jatuh cinta pada bintang basket sekolah.

Sialnya, Liam memang seksi dan tampan. Tapi sepertinya juga bukan sekedar ketampanan yang membuat Chatrine tertarik. Chatrine merasa tertantang. Chatrine semakin penasaran kenapa jantungnya bisa terus berdegup cepat meskipun pribadinya telah di hina habis-habisan.

Chatrine melangkah masuk lebih dalam, sepatu haknya menginjak lantai semen yang penuh debu kayu, mengeluarkan suara klik yang kontras dengan suasana gudang.

Liam menghentikan mesin, menyapu keringat di kening dengan lengan, kemudian menoleh dan mata mereka bertemu.

Liam memberi tatapan dingin, penuh tanda tanya, tapi tetap memancarkan ketajaman khas pria yang terlalu jujur untuk menyembunyikan rasa tidak suka.

"Hal penting apa yang membuatmu tersesat ke mari?"

Chatrine yang super canggih sedang dituduh tersesat. Wanita pirang cantik itu langsung mengangkat bahu dengan keanggunan maksimal.

“Aku ingin kau hapus semua file milikku!” Chatrine bicara tegas, sebagai dalih.

Beberapa bulan lalu, Liam menemukan flashdisk milik Chatrine yang berisi banyak rahasia pekerjaan dan foto seksi.

Liam cuma tersenyum miring.

“Kau bohong gadis kota.”

Chatrine terbelalak. “Apa?!”

Chatrine memang sedang berbohong dengan niatnya, tapi harusnya Liam tidak langsung bisa menebak sejelas itu.

“Kau bisa datang dan menunggu di galeri, tidak perlu ke tempat kotor seperti ini.”

“Aku hanya ingin langsung bertemu denganmu sekarang juga!” Chatrine terus berdalih.

Tapi Liam tetap tak terkecoh,

“Kau masih berbohong.”

Chatrine hampir melempar clutch bag-nya ke wajah Liam. Untung dia masih bisa menahan diri. Yang lebih parah, otak Chatrine justru sibuk memperhatikan otot lengan Liam yang menegang ketika pria itu meletakkan mesin pemotong. Serius, apa Tuhan sedang iseng membuatnya jatuh cinta pada pria yang paling menyebalkan di muka bumi?

“Aku sudah mengikuti perintahmu untuk menjauh dari Aron Loghan,” akhirnya Chatrine bersuara. Nada suaranya lebih lirih dari yang ia rencanakan.

Liam masih diam, menunggu penjelasan masuk akal. Karena tindakan Chatrine memang sangat impulsif. Tidak masuk akal.

“Aku sudah mengundurkan diri dari pekerjaanku… karena permintaanmu!” Suaranya sedikit pecah di akhir kalimat, membuat Chatrine ingin menggigit lidahnya sendiri agar tidak terus membuka aib kelemahan.

Mata Liam melebar sesaat, tapi bibirnya tetap rapat.

“Aku sudah kehilangan pekerjaan dan karierku. Sekarang aku hanya minta satu hal… hapus semua file yang kau simpan!” Chatrine terus mengunakan file sebagai alasan.

Ingat sebelumnya Liam memang pernah menggunakan file rahasia Chatrine untuk mengancam agar wanita itu menjauhi Aron Loghan... bos Chatrine yang super kaya raya, tampan dan sudah beristri. Liam menghina Chatrine wanita murahan, karena dia tuduh berselingkuh dengan bosnya.

Setelah beberapa saat akhirnya Liam bicara, suaranya kaku. "Kau serius datang sejauh ini hanya untuk file itu?”

“Ya!” jawab Chatrine cepat, nyaring, seolah ingin meyakinkan dunia bahwa dirinya masih memegang kendali, meski jantungnya berdegup seperti drum di medan perang.

Tapi ternyata jawaban Liam jauh lebih di luar nalar.

“File itu tidak ada. Aku cuma berbohong untuk mengancam mu. Sekarang pergilah!”

Chatrine menegak kaku...

File itu… tidak ada?

Jadi… selama ini…?

Chatrine telah ditipu!

Chatrine nyaris tidak pernah bisa tidur karena ancaman palsu dari seorang tukang kayu.

Sungguh kalau ini bukan puncak kebodohan romantis, Chatrine tidak tahu lagi harus menyebutnya apa. Karena ternyata Chatrine juga tidak bisa marah pada kebohongan Liam.

Liam sudah kembali menyalakan mesin pemotong kayu. Lanjut bekerja, mengabaikan Chatrine yang masih berdiri kaku di ambang pintu.

“Kenapa kau masih berdiri di situ?” teriak Liam, sampai harus meninggikan suara karena bising mesin.

Pertanyaan itu juga bergema di kepala Chatrine.

Kenapa, Chatrine???

Kenapa kau masih di sini?

Apa karena jejak ciuman Liam yang terlalu panas masih melekat di otaknya?

Atau karena otot lengan pria itu yang terlalu keras saat mengayunkan kampak?

Oh tidak! Chatrine memekik di dalam kepala...

Atau jangan-jangan karena dia sudah benar-benar menjadi idiot karena tiba-tiba jatuh cinta?

“Jangan bilang kau sedang ingin melamar pekerjaan di galeri kayu,” tiba-tiba Liam melempar sindiran.

Chaterine mengerjap spontan. "Ya!”

Mesin langsung mati. Liam menoleh cepat, ekspresi wajahnya antara syok, heran, dan ingin tertawa.

“Apa?”

“Aku sedang jadi pengangguran. Kenapa tidak?!” Chatrine berusaha menegakkan gengsinya, meski suaranya jelas terdengar seperti wanita depresi.

Tatapan Liam makin tajam, jelas-jelas menilai selera humor buruk seorang wanita kota.

“Aku menguasai ilmu marketing, aku punya banyak koneksi untuk membangun bisnismu lebih luas. Aku cepat menguasai berbagai bidang. Aku bisa bekerja di galeri.” Chatrine terus serius memamerkan keahliannya.

Liam memotong tegas dengan tatapan datar. "Aku tidak sanggup menggaji mu.”

Chatrine hampir tertawa miris. Tapi tidak akan menyerah.

“Akan kuberikan trial tiga bulan kau tidak perlu menggajiku!” serunya makin nekat karena sudah kepalang tanggung.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • MENGEJAR CINTA TUKANG KAYU TAMPAN   BAB 11 SEMAKIN PANAS

    Entah bagaimana, siang itu yang dimulai dengan genggaman tangan tanpa sengaja, kini berubah menjadi pertemuan sepasang mata hangat dengan percikan aneh, canggung, tapi nyaris terlalu nyaman untuk dilanjutkan. Masalahnya... Beranikah mereka berdua untuk melanjutkan? Sendok Liam beradu pelan dengan mangkuk, suaranya seolah mengetuk ruang hening yang menggantung di antara mereka. Chatrine menusuk sepotong jeruk dari saladnya, mengangkatnya ke bibir dengan gerakan hati-hati, seolah setiap tatapan Liam adalah kamera pemindai dengan sensor laser. Liam tidak berdusta, dia ingin segera menggigit bibir Chatrine! Liam sudah hampir menghabiskan satu mangkuk besar sup utuk mengalihkan pikiran kotor ketika Chatrine mulai berkomentar dengan nada sarkas. “Apa kau selalu makan sebanyak itu?” "Sepertinya aku bakal perlu lebih banyak energi untuk menghadapi mu." Chatrine menahan napas sepersekian detik. "Nampaknya semua ini memang telah kau rencanakan." Lalu Chatrine pura-pura sibuk mengaduk s

  • MENGEJAR CINTA TUKANG KAYU TAMPAN   BAB 10 MULAI HANGAT

    Walaupun kesal dengan tingkah Chatrine, ternyata Liam tetap tidak tega membiarkan wanita kelaparan. Akhirnya siang itu, meskipun sudah agak terlambat untuk makan siang, Liam membawa Chatrine pergi ke restoran kecil langgannya. Pintu kaca swing berderit ringan saat Liam mendorongnya, suasana hangat langsung menyeruak. Lantai kayu tua berderit setiap kali ada langkah pengunjung baru memasuki pintu depan. Chatrine menatap sekeliling. Dindingnya dipenuhi foto-foto lama kota Canterbury, seakan pemiliknya ingin setiap pengunjung merasa seperti pulang ke rumah sendiri. Chaterine sempat kaget... tidak menyangka sebuah restoran kecil bisa terasa begitu hidup. Bukan karena dekorasi mewah, melainkan karena orang-orang di dalamnya. Hampir semua saling mengenal, tertawa sambil menyapa, bahkan ada yang sekadar melambaikan tangan ketika seorang pelanggan baru masuk. Begitu Liam melangkah, suara hangat seorang pria langsung terdengar memangil. “Liam!” suara berat penuh semangat terdengar dari a

  • MENGEJAR CINTA TUKANG KAYU TAMPAN   BAB 9 SALING TEGANG DAN PANAS

    Di luar bilik kamar mandi yang baru bergeser tertutup, Chatrine berdiri kaku seperti arca batu. Liam benar-benar tidak masuk akal, dia mandi telanjang di bawah shower deras. Chatrine terus berdiri kaku dengan jantung berdebar kencang. Masalahnya kamar mandi di sudut ruangan itu cuma disekat pintu kaca agak buram. Tubuh telanjang Liam cukup terlihat jelas oleh mata Chatrine yang masih normal. Cahaya lampu redup di dalam kamar mandi memantulkan siluet tubuh Liam. Garis bahunya, punggungnya, gerakan tangannya yang sedang menyapu rambut dengan busa sabun, bahkan bayangan otot perut yang berdenyut naik-turun seirama dengan tarikan napasnya... Sialnya lagi... semua detail maskulin liar itu justru semakin jelas dalam kepala Chatrine. Chatrine sampai harus meneguk udara serat, 'Astaga… apa yang kau pikirkan Chatrine?' bisiknya dalam hati setengah panik setengah malu pada pikirannya sendiri. Liam terlihat santai, sementara Chatrine terus ingin mengumpat dengan bibirnya yang terlalu cerda

  • MENGEJAR CINTA TUKANG KAYU TAMPAN   BAB 8 PRIA PRIMITIF

    Begitu pintu tertutup, Chatrine berdiri sendirian di ruang kerja Liam yang lebih menyerupai markas psikopat. Ia meletakkan tas, menghela napas panjang, lalu bergumam pada dirinya sendiri. “Baik, Chatrine. Tantangan dimulai. Kalau kau bisa bertahan bekerja di ruangan ini tanpa gila, maka kau bisa bertahan di mana saja!” Sebelum membuka laptop, Chatrine coba merapikan beberapa barang di atas meja dengan hati-hati. Markas laki-laki bisa penuh barang berbahaya yang tidak terduga. Chatrine harus waspada. "Semoga saja aku tidak menemukan kondom bekas!" Sementara Chatrine sibuk membersihkan ruang kerja Liam di lantai atas. Di gudang galeri, suara mesin kayu kembali meraung, menggema hingga ke dinding-dinding yang penuh dengan serbuk gergaji. Liam, dengan lengan yang sudah penuh debu kayu, fokus memotong sudut meja makan klasik besar pesanan Tobias Harlot... seorang billionaire yang mempercayakan semua perabot interior rumah mewah barunya di London pada galeri Liam. Beberapa pekerja la

  • MENGEJAR CINTA TUKANG KAYU TAMPAN   BAB 7 SARAPAN BERSAMA

    Isabel tak berhenti kagum. “Chatrine, aku masih penasaran… kau bilang bekerja di bagian apa tadi?” “Managing strategic marketing and gallery development,” jawab Chatrine penuh percaya diri. Isabel mengerjap. “Itu kedengarannya sangat penting. Apa artinya?” Isabel serius tidak paham dengan bahasa modern. “Artinya,” Chatrine mencondongkan tubuhnya sedikit, “aku akan membantu Liam menjual lebih banyak karya seni, menarik pengunjung dari luar kota, membuat galeri lebih terkenal, bahkan mungkin menghubungkannya dengan pasar seni internasional.” “Wah!” Isabel berdecak kagum. “Liam, kau dengar itu? Pasar internasional!” Liam menutup mata sebentar, menahan sabar. “Bu, itu hanya… teori kampus.” Isabel tidak peduli. Ia menoleh ke Chatrine, matanya berbinar. “Kau tahu, Chatrine, aku sudah lama ingin Liam punya pasangan yang cerdas. Dia terlalu keras kepala kalau sendirian.” “Bu!” Liam hampir menjatuhkan sendoknya. “Ini bukan tentang pasangan!” Tentu saja, Isabel tidak akan melewatkan p

  • MENGEJAR CINTA TUKANG KAYU TAMPAN   BAB 6 KETEGANGAN YANG LUCU

    Sampai detik ini dan sampai wanita cantik berambut pirang itu berdiri di hadapannya, Liam masih sulit percaya jika seorang Chatrine Madison nekat datang ke kota kecil cuma untuk bekerja di galeri pinggiran kota. Bahkan pagi-pagi sekali Chatrine sudah siap dengan pakaian super rapi dan stylish. Seolah dia akan memimpin rapat penting di pusat kota bisnis dunia. Aron parfum yang dipakai oleh Chatrine sangat harum semerbak, lembut sekaligus segar. Liam berusaha fokus pada lawan bicaranya yang terlalu cerdik dan cerdas. Ribuan kali Liam harus mengingatkan dirinya sendiri agar tidak terpancing pikiran gila. "Jam berapa kita berangkat?" Chatrine sudah benar-benar siap dan nampak profesional, cekatan, bersemangat. "Galeri buka jam sembilan. Ini baru setengah tujuh." "Oh, kalian pemalas sekali memulai hari!" Kritik itu keluar begitu saja dari bibir Chatrine yang terbiasa hidup disiplin. "Bisa tidak, kita mulai lebih pagi?" Chatrine tidak mau menunggu terlalu lama. "Tidak!" Liam l

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status