Beranda / Romansa Dewasa / MENGEJAR CINTA TUKANG KAYU TAMPAN / BAB 1 MALAM PANAS DI TENGAH BADAI

Share

MENGEJAR CINTA TUKANG KAYU TAMPAN
MENGEJAR CINTA TUKANG KAYU TAMPAN
Penulis: Jemyadam

BAB 1 MALAM PANAS DI TENGAH BADAI

Penulis: Jemyadam
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-16 21:35:26

Malam itu, hujan badai kembali mengguncang seluruh Canterbury. Petir meledak di langit seperti palu raksasa yang menghantam bumi. Di dalam kantor galeri seninya yang bercahaya remang, Liam duduk sendirian di balik meja besar penuh botol anggur yang sudah hampir kosong. Aroma alkohol bercampur udara lembab, menusuk seperti jarum tajam di lubang hidung. Gelombang panas dan dingin bercampur di dalam tubuh Liam, tapi bukan karena cuaca. Bukan badai di luar yang membuatnya gemetar. Tapi badai di dadanya sendiri.

Bayangan Evana yang telah menjadi milik pria lain membuat dada Liam terus terbakar. Evana adalah cinta pertama Liam. Mereka sudah dekat sejak masih anak-anak. Evana telah menikah dengan pria kaya raya yang tidak bisa Liam saingi.

Pembuluh darah Liam ikut menderas panas setiap membayangkan Eva sedang tersengal dan merintih di pelukan pria yang kini telah menjadi suaminya.

"Brengsek!!!"

Dua buah botol anggur kosong kembali Liam banting ke lantai. Suara pecahan kaca berderai di lantai. Di luar suara ledakan petir datang bersama raungan pria yang tersiksa oleh perasaan gila. Liam kembali meraih botol, meneguk langsung cairan terkutuk itu dari leher botol. Api alkohol mengalir di kerongkongan, tapi rasa panas itu tak cukup membakar habis kecemburuan yang menggerogoti dadanya.

“Kau sangat menjijikkan…” suara serak Liam terus pecah untuk kebodohannya sendiri.

Badai terus meraung. Petir menyambar begitu dekat hingga kaca jendela bergetar. Setiap ledakan di langit terasa seperti ledakan di jantungnya. Liam memejamkan mata, berharap alkohol yang dia telan bakal menghapus semua ingatannya tentang Evana. Sebelumnya Liam benar-benar tidak pernah tahu jika patah hati dari wanita yang sangat dia cintai bisa jadi seperti ini.

Liam menggeram, kepalanya menunduk di meja, napasnya memburu gemetar. Tangannya mengepal, buku-buku jarinya memutih kaku. Liam benci badai malam ini karena terus meraung, menyesatkannya dalam keinginan gila.

Tiba-tiba...

Di tengah dentuman badai, samar terdengar suara langkah kaki... pelan, teratur. Mendekat melewati lorong dari anak tangga dan masuk mendorong pintu yang sudah setengah terbuka.

Liam mengangkat kepala. Matanya berat, pandangannya kabur karena reaksi alkohol di pembuluh darahnya. Tapi Liam masih bisa melihat siluet feminim itu dengan sangat jelas.

Seorang wanita berdiri di ambang pintu, sekejap wajah cantiknya diterangi kilatan petir dari luar.

“Evana…” suara Liam parau, serak, nyaris tak terdengar, tapi penuh rindu dan luka. Hingga semua wujud wanita yang dia lihat menyerupai Evana.

Tubuh Liam terlihat goyah ketika berusaha bangkit. Tapi Liam terus berjalan menghampiri.pintu, seakan setiap langkah menuju wanita itu bakal membuat seluruh badai di luar mereda.

"Kenapa kau ke sini?"

"Aku mencarimu."

Badai di luar menderu seperti orkestra liar, menghantam kaca jendela dengan hujan deras dan semburan angin. Kilat sesekali membelah langit, menerangi ruangan dengan cahaya putih singkat. Di dalam, aroma alkohol bercampur parfum lembut memenuhi udara.

"Evana!"

Tanpa aba-aba, Liam menarik tubuh wanita itu lebih dekat, napasnya berat, hangat, dan sedikit terengah. Dalam pikirannya dia hanya butuh pereda.

"Kau mabuk?"

Dada Liam didorong menjauh. Tapi pria besar yang sedang mabuk itu malah langsung menekan tubuh wanita ke dinding, merampas bibir, meremas pinggul dan dalam sekali sentak bahu gaun terkoyak lebar.

"Kau sangat kasar, Liam."

Tangan Liam bergerak tegas meski gemetar. Gumpalan besar dia remas, terasa padat dalam genggaman.

"Ouh..." suara wanita mulai kuwalahan menahan diri dari serangan.

Bibir Liam sangat panas, sekujur tubuhnya keras, penuh otot maskulin yang menegang dan liar. Liam butuh pelampiasan mendesak. Badai di luar seolah ikut memompa irama garang di dalam nafasnya. Ciumannya dalam, rakus memaksa, dan tidak dapat di tolak.

"Evana..."

"Ya..." Wanita itu merespons gelisah meski sadar bukan namanya yang sedang disebut.

"Kau cantik."

Bibir Liam menyerang semakin panas ketika wanitanya balas mengimbangi setiap desakan dengan lumatan yang sama bergairah.

"Aku ingin lebih banyak!" Liam berdesis serak di ceruk leher hangat dan harum. Tubuh wanita yang akan terasa sangat nikmat.

Tidak perlu waktu lama... kancing kemeja terbuka, kancing celana terlepas. Gaun satin ikut lenyap. Suara napas mereka saling bercampur, menyaingi deru badai di luar.

Mata bertemu, bibir bertemu, semuanya menyatu dalam tindakan yang tidak terduga. Tubuh mereka berguling di sofa, saling tindih dalam lilitan gairah. Tanpa rasa canggung Liam menggesekan miliknya ke celah lembut yang hangat. Walaupun sedang mabuk parah, hingga pipinya memerah. Liam tetap sangat perkasa menerkam wanita. Gerakan pinggulnya erotis gila.

"Oh... ah..." wanita melenguh panjang tidak tahan ingin segera diisi.

Tidak masalah meski pria yang sedang menunggangi tubuhnya cuma seorang tukang kayu. Karena yang wanita butuhkan dalam momen seperti ini cuma keperkasaan.

"Evana..." Sesuatu yang besar dan keras ikut Liam tenggelamkan.

"Liam... oh..."

Pria berbahu kekar itu mengerang kejang, menusuk dalam hingga terbungkus rapat dan hangat.

"Oh...!" Rasanya sangat puas, sangat nikmat berdenyut-denyut.

Sejenak Liam terhenti hanya untuk menatap wanitanya yang sudah polos terentang pasrah dengan tatapan penuh lapar, lalu kembali membenamkan diri dalam pusaran hasrat.

Di tengah dentuman petir, Liam menikam dalam-dalam. Mencengkeram dan mengguncang pinggul wanitanya dengan berbagai tumbukan keras tapi nikmat. Liam terus meluncur, keluar masuk menenggelamkan rudal tempur besarnya tanpa rasa puas. Sebagai pria yang biasa bekerja dengan bongkahan kayu dan gergaji mesin, kekuatannya untuk menyiksa tubuh wanita tentu sudah tidak diragukan lagi.

Suara rintihan kecil terdengar di telinganya, tapi Liam terlalu mabuk untuk mendengarkan rintihan. Bibir Liam sibuk berdesis sendiri, meledakan rasa terbakar di sekujur tubuhnya dengan geraman hebat. Pinggul mengejang kaku, bergetar seperti guncangan badai. Pemuda itu bukan hanya sangat keras, tapi juga sangat kuat mengungkit pinggul wanita.

"Oh, tidak...! Kau bisa membuatku hamil..."

Rasa panas mengalir deras, sudah tidak bisa dihentikan. Terus mengisi, melemaskan otot hingga ke tulang sungsum. Pangkal paha kokoh Liam masih terbuka lebar, meregang kaku, pinggul berpusar mencari rasa tenang. Jantung berdebar, napas panas dan perlahan pria itu jatuh runtuh tertelungkup... tertidur puas.

*****

Badai telah reda....

Liam terbangun dengan kepala berat, napasnya masih beraroma alkohol pekat. Cahaya pagi menembus celah tirai ruang kantornya, mata Liam menyipit sejenak, silau oleh cahaya pucat. Badai telah lenyap, namun sisa air hujan masih menetes di luar kaca jendela, menciptakan irama lembut yang kontras dengan denyut nyeri di pelipisnya.

Liam bergerak mengusap wajahnya, coba mengusir sisa lelah, lalu meraih gelas air di meja. Gelasnya kosong. Baru saat itu Liam melihat sekeliling. Bantal sofa berantakan, pecahan botol kaca di lantai.

"Oh..." Liam cuma mendengus, masih terlalu lelah untuk memikirkan kekacauan yang telah dia ciptakan.

Yang paling aneh, tubuhnya terasa seperti habis berlari maraton... lelah, namun diselimuti sensasi hangat samar yang tak jelas dari mana datangnya. Liam memejamkan mata sejenak… dan tiba-tiba kilasan samar menyusup di benaknya.

Sebuah adegan panas yang membuat jantungnya berdegup cepat. Tubuh wanita yang hangat, gairah liar dan.... Liam tidak berani melanjutkan...

Liam menolak memikirkan mimpi kotornya. Sungguh Liam mengira dirinya cuma bermimpi di tengah badai. Tapi begitu Liam ingin bangkit berdiri, seketika dia baru sadar celananya lenyap.

"Mustahil!" Dia menggeleng keras.

BUKAN MIMPI!

Liam ditinggalkan sendirian dalam kondisi belum memakai celana. Bahkan mendadak Liam tidak yakin siapa wanita yang telah dia tunggangi di tengah badai.

Tapi, siapapun wanita itu... lagi-lagi Liam ditinggalkan karena dia miskin.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (4)
goodnovel comment avatar
bella_yunah
Yeaayyyyy, you're back, thanks kak jemmm 🩷🩷🩷.........
goodnovel comment avatar
fitria gustiyana
akhirnya.. di Good Novel ...
goodnovel comment avatar
Denik Bianca
Makasih kak jem......
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • MENGEJAR CINTA TUKANG KAYU TAMPAN   BAB 11 SEMAKIN PANAS

    Entah bagaimana, siang itu yang dimulai dengan genggaman tangan tanpa sengaja, kini berubah menjadi pertemuan sepasang mata hangat dengan percikan aneh, canggung, tapi nyaris terlalu nyaman untuk dilanjutkan. Masalahnya... Beranikah mereka berdua untuk melanjutkan? Sendok Liam beradu pelan dengan mangkuk, suaranya seolah mengetuk ruang hening yang menggantung di antara mereka. Chatrine menusuk sepotong jeruk dari saladnya, mengangkatnya ke bibir dengan gerakan hati-hati, seolah setiap tatapan Liam adalah kamera pemindai dengan sensor laser. Liam tidak berdusta, dia ingin segera menggigit bibir Chatrine! Liam sudah hampir menghabiskan satu mangkuk besar sup utuk mengalihkan pikiran kotor ketika Chatrine mulai berkomentar dengan nada sarkas. “Apa kau selalu makan sebanyak itu?” "Sepertinya aku bakal perlu lebih banyak energi untuk menghadapi mu." Chatrine menahan napas sepersekian detik. "Nampaknya semua ini memang telah kau rencanakan." Lalu Chatrine pura-pura sibuk mengaduk s

  • MENGEJAR CINTA TUKANG KAYU TAMPAN   BAB 10 MULAI HANGAT

    Walaupun kesal dengan tingkah Chatrine, ternyata Liam tetap tidak tega membiarkan wanita kelaparan. Akhirnya siang itu, meskipun sudah agak terlambat untuk makan siang, Liam membawa Chatrine pergi ke restoran kecil langgannya. Pintu kaca swing berderit ringan saat Liam mendorongnya, suasana hangat langsung menyeruak. Lantai kayu tua berderit setiap kali ada langkah pengunjung baru memasuki pintu depan. Chatrine menatap sekeliling. Dindingnya dipenuhi foto-foto lama kota Canterbury, seakan pemiliknya ingin setiap pengunjung merasa seperti pulang ke rumah sendiri. Chaterine sempat kaget... tidak menyangka sebuah restoran kecil bisa terasa begitu hidup. Bukan karena dekorasi mewah, melainkan karena orang-orang di dalamnya. Hampir semua saling mengenal, tertawa sambil menyapa, bahkan ada yang sekadar melambaikan tangan ketika seorang pelanggan baru masuk. Begitu Liam melangkah, suara hangat seorang pria langsung terdengar memangil. “Liam!” suara berat penuh semangat terdengar dari a

  • MENGEJAR CINTA TUKANG KAYU TAMPAN   BAB 9 SALING TEGANG DAN PANAS

    Di luar bilik kamar mandi yang baru bergeser tertutup, Chatrine berdiri kaku seperti arca batu. Liam benar-benar tidak masuk akal, dia mandi telanjang di bawah shower deras. Chatrine terus berdiri kaku dengan jantung berdebar kencang. Masalahnya kamar mandi di sudut ruangan itu cuma disekat pintu kaca agak buram. Tubuh telanjang Liam cukup terlihat jelas oleh mata Chatrine yang masih normal. Cahaya lampu redup di dalam kamar mandi memantulkan siluet tubuh Liam. Garis bahunya, punggungnya, gerakan tangannya yang sedang menyapu rambut dengan busa sabun, bahkan bayangan otot perut yang berdenyut naik-turun seirama dengan tarikan napasnya... Sialnya lagi... semua detail maskulin liar itu justru semakin jelas dalam kepala Chatrine. Chatrine sampai harus meneguk udara serat, 'Astaga… apa yang kau pikirkan Chatrine?' bisiknya dalam hati setengah panik setengah malu pada pikirannya sendiri. Liam terlihat santai, sementara Chatrine terus ingin mengumpat dengan bibirnya yang terlalu cerda

  • MENGEJAR CINTA TUKANG KAYU TAMPAN   BAB 8 PRIA PRIMITIF

    Begitu pintu tertutup, Chatrine berdiri sendirian di ruang kerja Liam yang lebih menyerupai markas psikopat. Ia meletakkan tas, menghela napas panjang, lalu bergumam pada dirinya sendiri. “Baik, Chatrine. Tantangan dimulai. Kalau kau bisa bertahan bekerja di ruangan ini tanpa gila, maka kau bisa bertahan di mana saja!” Sebelum membuka laptop, Chatrine coba merapikan beberapa barang di atas meja dengan hati-hati. Markas laki-laki bisa penuh barang berbahaya yang tidak terduga. Chatrine harus waspada. "Semoga saja aku tidak menemukan kondom bekas!" Sementara Chatrine sibuk membersihkan ruang kerja Liam di lantai atas. Di gudang galeri, suara mesin kayu kembali meraung, menggema hingga ke dinding-dinding yang penuh dengan serbuk gergaji. Liam, dengan lengan yang sudah penuh debu kayu, fokus memotong sudut meja makan klasik besar pesanan Tobias Harlot... seorang billionaire yang mempercayakan semua perabot interior rumah mewah barunya di London pada galeri Liam. Beberapa pekerja la

  • MENGEJAR CINTA TUKANG KAYU TAMPAN   BAB 7 SARAPAN BERSAMA

    Isabel tak berhenti kagum. “Chatrine, aku masih penasaran… kau bilang bekerja di bagian apa tadi?” “Managing strategic marketing and gallery development,” jawab Chatrine penuh percaya diri. Isabel mengerjap. “Itu kedengarannya sangat penting. Apa artinya?” Isabel serius tidak paham dengan bahasa modern. “Artinya,” Chatrine mencondongkan tubuhnya sedikit, “aku akan membantu Liam menjual lebih banyak karya seni, menarik pengunjung dari luar kota, membuat galeri lebih terkenal, bahkan mungkin menghubungkannya dengan pasar seni internasional.” “Wah!” Isabel berdecak kagum. “Liam, kau dengar itu? Pasar internasional!” Liam menutup mata sebentar, menahan sabar. “Bu, itu hanya… teori kampus.” Isabel tidak peduli. Ia menoleh ke Chatrine, matanya berbinar. “Kau tahu, Chatrine, aku sudah lama ingin Liam punya pasangan yang cerdas. Dia terlalu keras kepala kalau sendirian.” “Bu!” Liam hampir menjatuhkan sendoknya. “Ini bukan tentang pasangan!” Tentu saja, Isabel tidak akan melewatkan p

  • MENGEJAR CINTA TUKANG KAYU TAMPAN   BAB 6 KETEGANGAN YANG LUCU

    Sampai detik ini dan sampai wanita cantik berambut pirang itu berdiri di hadapannya, Liam masih sulit percaya jika seorang Chatrine Madison nekat datang ke kota kecil cuma untuk bekerja di galeri pinggiran kota. Bahkan pagi-pagi sekali Chatrine sudah siap dengan pakaian super rapi dan stylish. Seolah dia akan memimpin rapat penting di pusat kota bisnis dunia. Aron parfum yang dipakai oleh Chatrine sangat harum semerbak, lembut sekaligus segar. Liam berusaha fokus pada lawan bicaranya yang terlalu cerdik dan cerdas. Ribuan kali Liam harus mengingatkan dirinya sendiri agar tidak terpancing pikiran gila. "Jam berapa kita berangkat?" Chatrine sudah benar-benar siap dan nampak profesional, cekatan, bersemangat. "Galeri buka jam sembilan. Ini baru setengah tujuh." "Oh, kalian pemalas sekali memulai hari!" Kritik itu keluar begitu saja dari bibir Chatrine yang terbiasa hidup disiplin. "Bisa tidak, kita mulai lebih pagi?" Chatrine tidak mau menunggu terlalu lama. "Tidak!" Liam l

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status