Share

BAB 5 WANITA YANG KERAS

Author: Jemyadam
last update Last Updated: 2026-02-16 22:26:29

Akhirnya sore itu Chatrine benar-benar ikut pulang berama Liam. Chatrine mengendarai mobilnya sendiri di belakang Liam menuju kampung.

Keputusan ini benar-benar gila. Sungguh sebenarnya Chatrine juga tidak berencana kerja di galeri. Bahkan dia cuma membawa beberapa pakaian ganti.

Tidak ada rencana matang.

Tidak ada persiapan panjang.

Tapi Chatrine Madison justru merasa semakin tertantang.

Meskipun sedang melalui jalanan desa, Chatrine tetap menyetir mobil sedan hitam mahalnya dengan keanggunan khas New York. Terus mengikuti mobil pikup Liam dari belakang. Pemandangan sawah, ladang, dan rumah-rumah batu desa Canterbury terbentang di kaca depan. Kontras sekali dengan lampu kota Manhattan yang biasanya jadi latar hidup Chatrine.

“Chatrine Madison, selamat memulai perjuanganmu!” gumam Chatrine pada diri sendiri sambil berdecak geli.

Mobil mereka berpisah di depan halaman. Liam belok ke arah rumahnya sendiri, sementara Chatrine menuju ke rumah batu kecil peninggalan nenek Evana yang kini akan ia tempati.

Dengan penuh gaya, Chatrine turun, membuka bagasi, lalu menyeret koper berukuran sedang yang sebenarnya lebih cocok dibawa untuk liburan singkat di Riviera ketimbang untuk tinggal di pedesaan. Ia menegakkan tubuh, menatap rumah batu mungil itu dengan alis sedikit berkerut.

“Not bad,” komentarnya, sambil mengibaskan rambut ke belakang. Sedikit kuno, tapi bisa ditoleransi. Setidaknya ada pintu dan jendela yang masih bisa dibuka.

Dalam hidup Chatrine, sekedar mendorong daun pintu saja bisa jadi sangat jarang dia lakukan. Selain mayoritas pintu yang dia lalui sudah otomatis, setiap langkah Chatrine juga selalu disambut dengan pelayanan ekslusif.

Chatrine langsung masuk ke dalam rumah yang beberapa bulan lalu masih ditempati oleh Evana. Masih cukup bersih dan tertata, hanya udaranya saja yang agak pengap, akibat pintu dan jendela lama tidak dibuka.

Chatrine berjalan santai, tidak akan ambil pusing dengan ruang sempit dan atapnya yang rendah. Alih-alih panik atau mengeluh, ia justru langsung menaruh koper di ruang depan, melepas blazer mahalnya, lalu dengan percaya diri menyalakan lampu meja dan membuka laptop.

Laptop canggih Chatrine menyala, wajah cantiknya langsung berubah serius.

“Aku tidak akan kalah dengan lelaki keras kepala itu,” ucapnya, mengetik cepat di keyboard.

Malam itu juga, ia mulai mengunduh, membaca, dan mencatat berbagai hal mengenai galeri seni dan perabot kayu. Dari desain interior klasik Eropa sampai tren minimalis Jepang, Chatrine menyantap semua informasi dengan semangat.

Sesekali ia berhenti, menatap layar sambil tersenyum nakal.

“Galeri perabot seni? Please. Aku punya selera lebih tinggi daripada daftar koleksi Louvre.”

Namun, tak lama kemudian, ia menemukan diagram perabot klasik Inggris. Ia mengerutkan dahi.

“Okay… mungkin aku harus tahu bedanya Windsor chair dengan Queen Anne chair."

Chatrine mulai membuat catatan penting. Semuanya dia tulis rapi dengan tekun.

*****

Di rumahnya sendiri Liam berusaha menenangkan pikiran. Ia sudah memutuskan untuk tidak peduli pada sifat keras kepala Chatrine dan tindakannya yang agak gila.

Tapi diam-diam Liam tetap memperhatikan lampu di rumah Evana masih menyala.

Liam mengerutkan kening. Wanita itu benar-benar tidak tidur?

Atau mungkin wanita kota sok pintar itu tidak bisa tidur di rumah batu kecil. Liam yakin besok pagi-pagi Chatrine akan kabur.

Wanita kota biasa hidup manja dan penakut. Chatrine sedang sendirian, di rumah kecil tua, di desa yang sunyi. Mungkin sekarang Chatrine sedang mengigil panik ketakutan.

Liam menutup tirai jendela kamarnya dengan kesal, biarlah, bukan urusanku, gumamnya. Ia lelah dan benar-benar butuh tidur.

Jam terus bergerak, kopi hitam yang Chatrine sedu sudah menjadi dingin terlupakan. Tak ada sofa empuk, tak ada musik jazz lembut, hanya meja kayu tua dan suara serangga malam di luar jendela. Tapi Chatrine tetap fokus, teliti dan terlihat sangat jenius.

Ada semacam kobaran api di matanya. Banyak rencana. Banyak strategi yang telah dia susun.

Bagi Chatrine ini bukan sekadar tentang bekerja di galeri. Ini soal memenangkan tantangan. Soal menaklukkan pria bernama Liam Conelli yang terlalu meremehkan kemampuannya.

Dan di sela-sela semangatnya, Chatrine tersenyum puas sambil berkata lirih, “Kau boleh keras kepala, Tukang Kayu… tapi aku jauh lebih keras dari kayu yang dapat kau potong dengan gergaji mesin!"

Chatrine sangat percaya diri dengan semua strateginya.

"Lihat siapa yang bakal menyerah lebih dulu!"

Sampai larut tengah malam, Chatrine masih duduk mengetik, meneliti, dan menulis catatan dengan wajah penuh tekad. Blazernya tergeletak di punggung kursi, dan isi pakaian di koper  belum sempat dia bongkar.

******

Pagi harinya Liam sudah keluar lebih dulu untuk membersihkan pikup dan memanaskan mesin. Tapi rumah Eva di seberang jalan masih tertutup rapat bahkan satupun jendelanya belum ada yang terbuka. Liam yakin... Chaterine sudah kabur kembali ke kota.

Udara segar yang masih alami membuat dada Liam lapang. Liam mulai tersenyum kecil. Namun senyumnya segera membeku saat tiba-tiba pintu rumah Eva terbuka dari dalam dan muncul Chatrine.

Bahkan di desa kecil yang asing, Chatrine tetap seperti dirinya... stylish, keras kepala, tapi berbahaya.

Chatrine tampil dengan sangat segar, wanginya semerbak sampai ke seberang jalan. Blus putih licin rapi, rok pensil hitam yang jatuh anggun, sepatu hak sedang, dan blazer terlipat di lengannya. Rambutnya disisir dengan sangat profesional, bahkan sehelai pun tak ada berantakan.

Chatrine berjalan mantap, menenteng laptop bag dengan penuh percaya diri, seolah dia hendak masuk rapat penting di Wall Street, bukan menyeberangi jalan kampung.

Liam hampir tersedak udara pagi.

Chatrine melangkah anggun menghampiri Liam di halaman. “Aku siap untuk bekerja di galeri.”

Liam menatap Chatrine dari kaki hingga ke ujung kepala. Ingin heran, tapi wanita super aneh itu benar-benar nyata.

“Dengan pakaian seperti itu?” Liam bicara ketus.

Chatrine mengangkat dagunya sedikit. “Ada masalah apa dengan pakaianku?”

Chatrine tidak merasa ada yang salah dengan penampilannya. Nada suaranya juga masih terjaga stabil penuh wibawa.

Liam sampai harus menghela napas panjang, menahan diri agar tidak memberi komentar jahat. “Masalahnya, pengunjung galeri bakal lebih tertarik memperhatikan penampilanmu daripada benda seni yang aku jual.”

“Oh.” Chatrine sempat terkejut, matanya membesar. Ia bahkan menoleh ke arah bayangannya sendiri di jendela pick-up Liam. “Memangnya aku harus berpakaian seperti apa?”

“Mungkin kau masih berada di alam mimpi nona pirang!” sindir Liam. "Belum sadar sedang tersesat di desa!"

Liam bicara sambil menunjuk ke arah beberapa tetangganya yang sudah mulai beraktivitas pagi...

Ibu-ibu yang menjemur cucian, kakek-kakek yang menyapu halaman, anak-anak berlari tanpa alas kaki. Mereka semuanya berhenti sejenak, memandangi Chatrine dengan heran, seolah sedang menyaksikan patung lilin dari museum Madame Tussauds yang tersesat ke kampung mereka.

“Kau lihat? Tidak ada yang berpakaian sepertimu.” Liam berusaha menahan kesal.

Chatrine terus menoleh ke sekeliling, melihat beberapa tetangga mulai berbisik sambil menutup mulut. Alih-alih malu, ia justru menghela napas panjang dan mengangkat bahu dengan sikap elegan. “Oh, itu bukan masalah besar. Aku hanya belum membawa pakaian ganti yang sesuai dengan lingkunganmu.” Suaranya tetap profesional, seolah sedang melakukan negosiasi bisnis bernilai jutaan dolar.

Diagnosa sementara... Liam menduga kepala Chatrine benar-benar baru terbentur pintu lift sampai jadi aneh seperti ini.

*****

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
kyara
wkwkwkwk.. adu keras Liam vs cath
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • MENGEJAR CINTA TUKANG KAYU TAMPAN   BAB 11 SEMAKIN PANAS

    Entah bagaimana, siang itu yang dimulai dengan genggaman tangan tanpa sengaja, kini berubah menjadi pertemuan sepasang mata hangat dengan percikan aneh, canggung, tapi nyaris terlalu nyaman untuk dilanjutkan. Masalahnya... Beranikah mereka berdua untuk melanjutkan? Sendok Liam beradu pelan dengan mangkuk, suaranya seolah mengetuk ruang hening yang menggantung di antara mereka. Chatrine menusuk sepotong jeruk dari saladnya, mengangkatnya ke bibir dengan gerakan hati-hati, seolah setiap tatapan Liam adalah kamera pemindai dengan sensor laser. Liam tidak berdusta, dia ingin segera menggigit bibir Chatrine! Liam sudah hampir menghabiskan satu mangkuk besar sup utuk mengalihkan pikiran kotor ketika Chatrine mulai berkomentar dengan nada sarkas. “Apa kau selalu makan sebanyak itu?” "Sepertinya aku bakal perlu lebih banyak energi untuk menghadapi mu." Chatrine menahan napas sepersekian detik. "Nampaknya semua ini memang telah kau rencanakan." Lalu Chatrine pura-pura sibuk mengaduk s

  • MENGEJAR CINTA TUKANG KAYU TAMPAN   BAB 10 MULAI HANGAT

    Walaupun kesal dengan tingkah Chatrine, ternyata Liam tetap tidak tega membiarkan wanita kelaparan. Akhirnya siang itu, meskipun sudah agak terlambat untuk makan siang, Liam membawa Chatrine pergi ke restoran kecil langgannya. Pintu kaca swing berderit ringan saat Liam mendorongnya, suasana hangat langsung menyeruak. Lantai kayu tua berderit setiap kali ada langkah pengunjung baru memasuki pintu depan. Chatrine menatap sekeliling. Dindingnya dipenuhi foto-foto lama kota Canterbury, seakan pemiliknya ingin setiap pengunjung merasa seperti pulang ke rumah sendiri. Chaterine sempat kaget... tidak menyangka sebuah restoran kecil bisa terasa begitu hidup. Bukan karena dekorasi mewah, melainkan karena orang-orang di dalamnya. Hampir semua saling mengenal, tertawa sambil menyapa, bahkan ada yang sekadar melambaikan tangan ketika seorang pelanggan baru masuk. Begitu Liam melangkah, suara hangat seorang pria langsung terdengar memangil. “Liam!” suara berat penuh semangat terdengar dari a

  • MENGEJAR CINTA TUKANG KAYU TAMPAN   BAB 9 SALING TEGANG DAN PANAS

    Di luar bilik kamar mandi yang baru bergeser tertutup, Chatrine berdiri kaku seperti arca batu. Liam benar-benar tidak masuk akal, dia mandi telanjang di bawah shower deras. Chatrine terus berdiri kaku dengan jantung berdebar kencang. Masalahnya kamar mandi di sudut ruangan itu cuma disekat pintu kaca agak buram. Tubuh telanjang Liam cukup terlihat jelas oleh mata Chatrine yang masih normal. Cahaya lampu redup di dalam kamar mandi memantulkan siluet tubuh Liam. Garis bahunya, punggungnya, gerakan tangannya yang sedang menyapu rambut dengan busa sabun, bahkan bayangan otot perut yang berdenyut naik-turun seirama dengan tarikan napasnya... Sialnya lagi... semua detail maskulin liar itu justru semakin jelas dalam kepala Chatrine. Chatrine sampai harus meneguk udara serat, 'Astaga… apa yang kau pikirkan Chatrine?' bisiknya dalam hati setengah panik setengah malu pada pikirannya sendiri. Liam terlihat santai, sementara Chatrine terus ingin mengumpat dengan bibirnya yang terlalu cerda

  • MENGEJAR CINTA TUKANG KAYU TAMPAN   BAB 8 PRIA PRIMITIF

    Begitu pintu tertutup, Chatrine berdiri sendirian di ruang kerja Liam yang lebih menyerupai markas psikopat. Ia meletakkan tas, menghela napas panjang, lalu bergumam pada dirinya sendiri. “Baik, Chatrine. Tantangan dimulai. Kalau kau bisa bertahan bekerja di ruangan ini tanpa gila, maka kau bisa bertahan di mana saja!” Sebelum membuka laptop, Chatrine coba merapikan beberapa barang di atas meja dengan hati-hati. Markas laki-laki bisa penuh barang berbahaya yang tidak terduga. Chatrine harus waspada. "Semoga saja aku tidak menemukan kondom bekas!" Sementara Chatrine sibuk membersihkan ruang kerja Liam di lantai atas. Di gudang galeri, suara mesin kayu kembali meraung, menggema hingga ke dinding-dinding yang penuh dengan serbuk gergaji. Liam, dengan lengan yang sudah penuh debu kayu, fokus memotong sudut meja makan klasik besar pesanan Tobias Harlot... seorang billionaire yang mempercayakan semua perabot interior rumah mewah barunya di London pada galeri Liam. Beberapa pekerja la

  • MENGEJAR CINTA TUKANG KAYU TAMPAN   BAB 7 SARAPAN BERSAMA

    Isabel tak berhenti kagum. “Chatrine, aku masih penasaran… kau bilang bekerja di bagian apa tadi?” “Managing strategic marketing and gallery development,” jawab Chatrine penuh percaya diri. Isabel mengerjap. “Itu kedengarannya sangat penting. Apa artinya?” Isabel serius tidak paham dengan bahasa modern. “Artinya,” Chatrine mencondongkan tubuhnya sedikit, “aku akan membantu Liam menjual lebih banyak karya seni, menarik pengunjung dari luar kota, membuat galeri lebih terkenal, bahkan mungkin menghubungkannya dengan pasar seni internasional.” “Wah!” Isabel berdecak kagum. “Liam, kau dengar itu? Pasar internasional!” Liam menutup mata sebentar, menahan sabar. “Bu, itu hanya… teori kampus.” Isabel tidak peduli. Ia menoleh ke Chatrine, matanya berbinar. “Kau tahu, Chatrine, aku sudah lama ingin Liam punya pasangan yang cerdas. Dia terlalu keras kepala kalau sendirian.” “Bu!” Liam hampir menjatuhkan sendoknya. “Ini bukan tentang pasangan!” Tentu saja, Isabel tidak akan melewatkan p

  • MENGEJAR CINTA TUKANG KAYU TAMPAN   BAB 6 KETEGANGAN YANG LUCU

    Sampai detik ini dan sampai wanita cantik berambut pirang itu berdiri di hadapannya, Liam masih sulit percaya jika seorang Chatrine Madison nekat datang ke kota kecil cuma untuk bekerja di galeri pinggiran kota. Bahkan pagi-pagi sekali Chatrine sudah siap dengan pakaian super rapi dan stylish. Seolah dia akan memimpin rapat penting di pusat kota bisnis dunia. Aron parfum yang dipakai oleh Chatrine sangat harum semerbak, lembut sekaligus segar. Liam berusaha fokus pada lawan bicaranya yang terlalu cerdik dan cerdas. Ribuan kali Liam harus mengingatkan dirinya sendiri agar tidak terpancing pikiran gila. "Jam berapa kita berangkat?" Chatrine sudah benar-benar siap dan nampak profesional, cekatan, bersemangat. "Galeri buka jam sembilan. Ini baru setengah tujuh." "Oh, kalian pemalas sekali memulai hari!" Kritik itu keluar begitu saja dari bibir Chatrine yang terbiasa hidup disiplin. "Bisa tidak, kita mulai lebih pagi?" Chatrine tidak mau menunggu terlalu lama. "Tidak!" Liam l

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status