Hari itu adalah hari kelulusan anak SMA. Adriella aghata adalah salah satu alumninya.
Hari di mana semua siswa sedang berbahagia menyambut hasil pencapaian dalam tiga tahun terakhir, namun justru naas bagi seorang Adriella. Dikenal sebagai gadis tercantik di sekolah itu, Adriella menjadi incaran banyak pria. Termasuk seorang pria muda bernama Ashley Anderson yang diam-diam merencanakan sesuatu hal yang buruk pada Adriella. Dengan uang dan kekuasaan yang dimilikinya, Ashley yang bukan warga daerah itu berhasil merenggut kesucian Adriella. Dengan tipu dayanya, Ashley berhasil membawa Adriella menuju sebuah gubuk, lalu melecehkannya hingga gadis malang itu berakhir mengandung tanpa seorang suami. Dalam duka itu, Adriella tidak hanya dikucilkan oleh warga, tapi juga diusir oleh keluarganya sendiri. "Kalau kamu tidak mau membuang anak haram itu, silakan kamu angkat kaki dari kampung ini, mulai detik ini kamu bukan bagian keluarga kami!" usir Markus, sang ayah yang turut jijik melihat putrinya sendiri. "Aku harus ke mana, Ayah, aku hanya punya kalian, tolong jangan membuangku seperti ini!" Adrie masih memohon, namun dalam sekejap mata, Markus kembali berlaku kasar. Gadis muda yang tengah hamil itu didorong dengan sangat keras. "Cepat pergi dari sini, aku sangat menyesal memiliki anak sepertimu!" Teriakan Markus, sontak membangunkan tidur Adrie. Dia juga sempat menjerit sebelum akhirnya terduduk lesu. Sembari mengatur napas yang tidak beraturan, dia bergumam pelan, "Hah .... mimpi itu lagi ...." Mimpi buruk itu sering muncul dan terasa nyata. Adriella menghapus keringatnya yang bercucuran. Semenjak kejadian itu, dia kerap mengalami mimpi buruk. Yah, tragedi 4 tahun yang lalu telah membuatnya trauma berat hingga sering menutup diri dari keramaian. Beruntung bagi Adrie masih memiliki Paramitha, seorang kerabat yang belum menikah telah bersedia merawatnya hingga saat ini. Setiap saat wanita paruh baya itu selalu berada di samping Adrie. Malam ini, teriakan ketakutan Adrie juga telah membangunkan tidur Laila dan Paramitha. Kedua wanita beda usia itu buru-buru berlari menuju kamar tidur Adrie. "Adrie, tenanglah!" Paramitha segera memeluk Adrie dan menenangkan gadis malang itu. Ini bukan pertama kalinya, tentu saja dia langsung paham akan ketakutan yang dirasakan Adriella. Ketika membalas pelukan bibinya, Adrie melirik Laila yang juga ikut terbangun malam ini. Wajah polos gadis kecil itu terlihat merengut. Pipinya menggembung karena tidurnya lagi-lagi terganggu. Selama ini, Adrie jarang terlibat langsung mengurus Laila, karena kehadiran gadis kecil itu kerap mengingatkannya pada masa lalu yang buruk. "Laila ...," panggil Adrie pelan. Rasa trauma yang mendarah daging membuatnya abai terhadap putrinya sendiri. Terlebih wajah Laila memiliki kemiripan dengan Ashley membuat Adrie kerap mengingat hari yang mengerikan itu. Pada malam ini, perasaan bersalah pun muncul. Adrie tidak ingin menjadi sosok egois lagi. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi ibu yang baik bagi anaknya. Keesokan harinya. Pada saat Adrie tiba di depan sebuah perusahaan raksasa, kedua bola matanya hampir tak berkedip. Gedung itu megah dan menjulang tinggi. Ini pertama kalinya Adrie menginjakkan kaki di tempat seperti itu. "Apa benar ini tempatnya?" ucap Adrie sambil menatap kagum gedung di depan mata. Beberapa hari sebelumnya, Adrie hanya bertemu dengan seorang wanita cantik bernama Meryana. Dia diberikan sebuah alamat dan juga nomor yang bisa dihubungi. Bibi Paramitha adalah orang yang mengatur pertemuan tersebut. Bahkan Adrie belum mengetahui tempat dan seperti apa pekerjaan yang akan dilakoninya. "Hei ... ongkosnya, Non!" tukang ojek yang membawa Adrie setengah berteriak saat meminta bayaran. "Melamun aja dari tadi," dia berceloteh lagi ketika mendapati Adrie masih bergeming di tempat. Adrie yang terkejut segera memutar tubuhnya menghadap tukang ojek. "Pak, saya tidak salah alamat kan, apa mungkin perusahaan sebesar ini akan menerima saya bekerja?" "Kalau soal itu mana saya tahu, Non, tapi seperti petunjuk, saya sudah mengantarkan ke alamat yang kamu berikan tadi." Tukang ojek itu kemudian menengadahkan tangannya. "Sekarang berikan ongkosnya!" desak pria itu. "Baiklah." Pasrah, Adrie segera merogoh tasnya, memberikan ongkos beserta tips untuk tukang ojek itu. "Terima kasih, Pak." Dalam kebingungannya, Adrie hanya bisa menatap para karyawan yang lalu lalang. Semua terlihat sibuk, berpenampilan rapi dan penuh wibawa. Hal itu pun membuat Adrie berkecil hati. Dia yang pernah mengalami trauma dengan keramaian merasa sangat asing di tempat tersebut hingga punggungnya terasa basah akibat rasa gugup yang mendera. Hinaan dan hujatan kembali menghantui pikiran Adrie hingga nyalinya seketika menciut. Semangat Adrie kembali muncul tatkala mengingat rengekan sang anak. "Mama, Laila mau makan ayam besar, mau beli ice cream, juga mau ke taman bermain dan banyak lagi," pinta Laila sebelum Adrie berangkat kerja. Pun dengan dukungan bibi Paramitha, membuat Adrie kembali memberanikan diri. Seketika dia membuang semua rasa takut dalam dirinya. "Aku pasti bisa." Adrie memutuskan untuk mendekati meja resepsionis. "Selamat pagi, Bu!" ucapnya sopan. "Pagi, ada yang bisa saya bantu?" resepsionis wanita bertanya. "Saya Adriella aghata, saya ke sini atas undangan dari ibu Meryana, apa saya bisa bertemu dengan beliau?" "Apa sudah ada janji sebelumnya?" Adrie mengangguk cepat. "Ya." "Sebentar, saya cek dulu." Pada saat resepsionis itu melakukan pemeriksaan, seorang pria berpenampilan parlente berjalan melewati area tersebut. Pria tampan nan gagah itu adalah Hanley Anderson. Sebagai anak kedua dari pemilik perusahaan Anderson group, langkahnya selalu menjadi pusat perhatian. Hanley berjalan didampingi oleh Rauf, sang asisten dan juga sekretaris cantik bernama Meryana. "Selamat pagi, Tuan ...!" Seluruh karyawan serentak memberikan salam sembari membungkukkan badan. Meski hanya mendapat anggukan kepala dari sang atasan, semua karyawan selalu memberikan salam penghormatan pada Hanley. Menyaksikan pemandangan itu, Adrie yang polos pun buru-buru membungkuk. Dia yakin jika pria yang baru saja datang itu adalah salah satu orang yang berkuasa di perusahaan itu. Saat itu, Meryana lebih dulu melihat keberadaan Adrie. Dengan ramah, dia langsung menegur. "Adriella, kamu sudah tiba?" Sapaan Mery juga menghentikan langkah Hanley. Tatapannya yang tegas langsung tertuju pada gadis berwajah teduh itu. Adrie segera mendongak dan melempar senyum terbaiknya. "Bu Mery ... ya, saya baru saja tiba," ucapnya, lalu memberanikan diri untuk memberikan salam hormat pada Hanley, "Selamat pagi, Tuan ...!" Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Hanley. Alih-alih membalas senyum, auranya yang dingin bahkan membuat bulu kuduk merinding. Pria tampan pemilik kekuasaan itu benar-benar tidak tersentuh membuat Adrie tertunduk lesu. Hai hai ... selamat datang di karya baru author, dukung cerita ini ya, tekan love, subscribe, juga kasih hadiah jika berkenan, thank you all ...!!Keluarga Anderson adalah salah satu keluarga terpandang di kota Bangsring. Memiliki harta melimpah, tentu saja mereka adalah keluarga terhormat yang selalu menjaga nama baik keluarga secara turun temurun. Hingga kini, tidak pernah terdengar sekali pun skandal, keburukan atau aib tercela yang dilakukan oleh anggota keluarga berkuasa itu. Duduk santai di atas kursi kebesarannya, Hanley tiba-tiba mengingat wajah polos Adrie saat menyapanya. Tatapan sayu dan suara lembut itu terngiang-ngiang di telinga hingga dia tidak menyadari seulas senyum tipis telah tersungging di bibirnya yang seksi. "Dia terlihat berbeda," gumam Hanley. "Siapa yang kamu maksud?" Rauf yang duduk di hadapan Hanley penasaran. "Gadis yang bersama dengan Mery," Hanley menjawab, lalu bertanya dengan angkuh. "Apa aku terlihat kurang menarik beberapa hari ini?" Biasanya, wanita yang memiliki kesempatan bertatap muka dengan Hanley akan mengambil kesempatan untuk mendekatinya. Sengaja bertindak agresif untuk
Meski tidak sepenuhnya siap, Adrie tetap berdiri tegas. "Baik, Bu." Sebagai seorang asisten yang patuh, dia harus menunjukkan kinerja yang bagus. "Aku mau keluar sebentar, kamu tidak apa-apa kan aku tinggal sendiri?" Mery berkata lagi. "Semua dokumen ini sangat penting, jangan ada satu pun yang terlewatkan!" Adrie hanya mengangguk canggung, karena sejujurnya saat ini dia sudah mulai gelisah untuk melangkah. Bagaimana caranya menghadapi seorang pria tampan yang sering melempar tatapan amarah padanya? Adrie memeluk setumpuk berkas ketika Hanley membukakan pintu untuknya. "Maaf, Tuan, bu Mery menyuruh saya untuk mengantar berkas-berkas ini," kata Adrie dengan suara yang bergetar. Hanley tersenyum kecil, berusaha untuk bersikap ramah. Namun sehebat apapun dia menampilkan wajahnya yang bersahabat, Adrie masih saja gugup ketika mereka beradu pandang. Sikap Adrie yang demikian membuat Hanley bertanya-tanya. 'Apa aku semenakutkan itu?' pikirnya. Tidak ingin berburuk sangka, Han
"Tu .. Tuan Hanley, apa yang Anda lakukan di sini?" Bukannya bersyukur, Adrie tentu saja ketakutan melihat kehadiran pria itu. Hanley berjalan santai menuju meja gadis itu. "Seperti yang baru saja kukatakan, aku datang untuk membantu pekerjaanmu." "Tidak perlu, Tuan, saya bisa sendiri ...!" Melihat sikap santai Hanley, mengingatkan Adrie pada sosok Ashley yang tampan namun bersikap kejam seperti iblis. Adrie pun sontak bergerak mundur, tubuh rampingnya terhuyung hingga kursi di belakangnya terbalik dan jatuh. "Akhh ....!" Dia berteriak kecil dengan ulahnya sendiri, membuat kening Hanley berkerut. 'Dia yang salah, dia yang berteriak,' pikir Hanley. 'Huh wanita memang suka playing victim.' Hanley berjongkok, meraih kursi dan meletakkannya pada posisi semula. Demi apa coba, Hanley benar-benar merendahkan diri di hadapan seorang bawahan. "Ada apa denganmu, apa di matamu aku terlihat seperti penjahat?" Hanley sedikit protes. Meski tidak terima dengan sikap Adrie, namun dia tid
Pagi itu, Mery terkejut melihat hasil pekerjaan Adrie. Dia hampir tidak percaya. Semua diselesaikan dengan sempurna dan tidak ada celah sedikitpun untuk mencari kesalahan. Mery senang untuk pencapaian Adrie, tapi karena masih terselip rasa iri dalam dirinya, tidak ada pujian yang keluar untuk sang asisten. "Terima kasih, kamu boleh kembali ke tempatmu," ucap Mery dengan tegas. Kini, wanita yang selalu berpenampilan elegan itu mulai berpikir. Bagaimana jika Hanley mengetahui ini? Adrie tidak hanya polos cantik, tapi juga pintar dan bertanggungjawab. Dia bisa diandalkan dalam segi apapun. Hanley bisa saja memberi apresiasi yang tinggi pada gadis itu. Tidak, Mery tidak ingin hal itu terjadi. 'Hasil laporan kali ini harus menjadi milikku, Hanley pasti senang, dan aku tidak mau nama Adrie terlibat di dalam tugas ini,' gumam Mery sembari menatap iri pada Adrie. Dia pun tidak sabar untuk menunjukkan hasil pekerjaan itu. Akan tetapi, hingga siang menjelang, Hanley belum juga mena
"Ya, kamu yang ketinggalan." Dengan santainya, Hanley duduk di hadapan Adrie. "Setelah kupikir-pikir aku tidak bisa pulang begitu saja meninggalkanmu dengan segudang pekerjaan." Adrie melongo. "A ... apa?" suara pelannya menunjukkan bahwa dirinya terkejut sekaligus terharu dengan perhatian yang diberikan atasannya. "Lagi pula aku sedang tidak ada kegiatan apapun, jadi apa salahnya kalau aku membantumu lagi," tukas Hanley dengan tenang. Sekali lagi Adrie terpana. Ini bukan pertama kalinya. Dia pun hanya bisa mematung. "Kenapa berdiri saja?" Hanley menegur. "Ayo kita mulai, aku tidak ingin melihatmu kelelahan dan pulang terlalu malam!" ajak Hanley. Setiap kata yang keluar dari mulut Hanley terdengar tulus dan apa adanya. Tidak ada intimidasi ataupun penekanan seperti yang sering dia dapatkan dari orang lain. Perlahan, Adriella mulai tersanjung. Untuk pertama kalinya, Adrie merasa berharga. Gadis berusia 22 tahun itu pun tersenyum menyambut uluran tangan Hanley. Hingga malam
Setelah tiba di ruangan Hanley, Adrie segera bertanya, "Untuk apa memanggil saya, Tuan?" Dia sudah berdiri hampir 5 menit, tapi belum juga diberi tugas. Hanley dan Rauf saling berpandangan. Keduanya juga saling melempar senyum. Jelas tidak ada yang membutuhkan Adrie di ruangan ini. Mereka hanya sedang menyelamatkan wanita itu dari tindakan Mery yang kerap bersikap diktator pada bawahannya. "Duduk saja dulu!" Rauf mempersilakan sebelum akhirnya dia juga duduk di depan kursi kebesaran Hanley. "Tapi bu Mery membutuhkan bantuan saya, Tuan, jika tidak ada yang ingin dibicarakan, saya akan keluar, biar bagaimanapun, tugas saya adalah meringankan pekerjaan beliau," Adrie memberi alasan. "Meringankan pekerjaannya tapi dia justru memperbudakmu," sindir Hanley. "Adrie, apa kamu tidak bisa merasakannya?" "Saya ...," Adrie tidak bisa menjawab. Jika dipikir-pikir, Mery memang melakukan hal itu berulang kali. Wanita itu nyaris melimpahkan semua pekerjaan pada Adrie hingga dia harus lem
Dengan cermat, Hanley mengamati ekspresi Mery. Wanita di depannya terlihat menggebu-gebu, pasti ada sesuatu hal yang serius. ''Ada apa dengan Adrie?'' ulang Hanley ketika melihat wanita itu mengatur nafas berulang kali. "Apa dia membuatmu kesal?" Amarah menguasai Mery saat ini. jadi dia gelap mata dan ingin segera mengungkapkan kejelekan dari asistennya itu. ''Januar, manajer produksi yang baru diangkat bulan lalu sepertinya menjalin hubungan dengan Adrie, bukankah dia terlalu berani untuk melakukan itu?'' kata Mery sedikit ragu. Hanya desas-desus yang didapatkannya, tapi dia sudah berani menyebarkannya pada sang atasan. Kabar itu sedikit mengganggu Hanley, tapi dia tidak boleh terpengaruh dengan mudah. ''Baru dugaan, bagaimana jika salah? Lagi pula apa urusannya denganku?'' tanya Hanley dengan ketus. ''Aku dengar Januar sering membantu pekerjaan Adrie dan mereka berdua bekerja sampai larut malam, tidak kamu ingin memberi peringatan pada keduanya?'' belum puas, Mery menambahk
"Kenapa baru sekarang, Bibi?"Adrie protes ketika mendapat kabar jika sang ayah tengah mencari keberadaannya dan kini menginginkannya kembali. 4 tahun sudah berlalu, ini pertama kalinya Adrie mendengar kabar tentang pria tua yang telah mengusirnya itu."Katanya ibumu yang paling ingin bertemu, dia merindukanmu." Paramitha juga baru pertama kali mendengar kabar dari saudarinya itu. Jika bukan karena Neetu adalah kakak kandungnya, dia juga enggan untuk menyampaikannya pada Adrie."Dari mana mereka tahu tentang keadaan kita, Bibi?" Adrie penasaran.Paramitha menjelaskan dengan lembut, "Adrie, sebenarnya bibi sekali-kali masih berhubungan dengan ibumu, selain kamu, dia adalah satu-satunya saudara yang bibi miliki." "Tapi aku masih tidak bisa lupa bagaimana mereka mengusirku, ayah ingin aku menghilang selamanya dari hidup mereka, dan ibu sama sekali tidak pernah membantuku, tidak ada yang berpihak padaku, padahal ini bukan kein
Adrie memberanikan diri untuk tetap membalas tatapan Hanley. Dia merasakan sesuatu dalam sorot mata yang berbinar itu. Kontak mata yang cukup lama di antara keduanya terhenti tatkala dua orang pelayan datang membawakan aneka makanan seafood. "Maaf mengganggu, Tuan dan Nona, kami harus menyajikan semua makanan ini sekarang juga, takutnya tidak enak kalau sudah dingin," ucap salah satu pelayan. Dengan cekatan kedua pelayan tadi menyajikan berbagai macam seafood di atas meja. Sementara itu, Adrie hanya bisa melongo melihat pemandangan di depan mata. Kenapa banyak sekali makanan ini? Dan itu adalah makanan mewah. Bagaimana cara membayarnya, hidangan ini pasti sangat mahal. Melihat kepanikan di wajah Adrie, Hanley segera menjelaskan. "Tenang saja, malam ini aku yang akan mengeluarkan uang, kamu tidak perlu takut." "Tapi kan ...!" "Eits, jangan ada kata tapi lagi, biarkan aku yang mentraktir kali ini." Hanley segera melahap olahan lobster di piringnya. "Ayo makan, nanti kal
Hanley sudah terbiasa melakukan banyak hal dengan kemampuannya sendiri. Hanya sekali-kali dia menggunakan jasa detektif untuk menyelidiki sesuatu.Di kota Bari, Hanley mencari tahu tentang proyek yang sedang digarap ayahnya. Namun sudah sepekan berakhir, usahanya tak ada yang membuahkan hasil.Banyaknya anak buah sang ayah membuat Hanley kesulitan mencari fakta. Tak satu pun berita yang didapatkan seputar bisnis ayahnya di kota itu.Pada akhirnya Hanley menyerah. Siang itu, setelah memastikan keadaan ayahnya yang mulai stabil, Hanley berpamitan pulang lebih dulu.*** Mery telah tiba di rumah sakit. Karena pasien yang akan ditemuinya berada di ruangan VVIP, perawat yang berjaga hari itu menawarkan diri."Mari saya antar, Nona!"Mery melangkah bersama perawat muda itu. Menuju sebuah lift, dan akhirnya tiba di sebuah ruangan mewah."Bibi Heba, aku ke sini untuk menjenguk paman Kingsley." Mery meme
Wajah cantik Mery berseri-seri saat tiba di ruangannya. Senada dengan hatinya yang berwarna, wanita itu menggunakan gaun merah bling-bling yang dipadupadankan dengan blazer hitam. Tidak biasanya dia menggunakan outfit seperti itu ke kantor. "Ah ... aku tidak sabar menceritakan semuanya pada Hanley." Mery menjatuhkan tubuhnya yang indah di atas kursi kebesarannya. Sesekali dia juga menyenandungkan lagu kesukaannya.Mery sedang berbahagia. Dia seperti berada di atas angin saja.Ketika melihat Adrie memasuki ruangan yang sama, Mery langsung menyapa dengan penuh sukacita. "Hai, Adrie, selamat pagi!""Pagi, Bu," balas Adrie sedikit malu. Biasanya Adrie lah yang pertamakali tiba dan selalu lebih dulu menyapa, tapi belum sempat dia mengucapkan salam, atasannya itu sudah menegur lebih dulu."Pagi ini kamu tidak perlu banyak bekerja, hanya prioritaskan tugas yang belum selesai kemarin saja, ok!" ujar Mery lagi."Baik, Bu."
Dalam posisi telentang, Adrie termenung di dalam kamar. Ini sering dilakukannya sebelum tidur. Pandangannya tertuju pada langit-langit kamar, namun pikirannya melayang pada masalah-masalah yang membebaninya selama ini. Tidak bisa dipungkiri, Adrie masih berharap Hanley menghubunginya dan memberi alasan dibalik pembatalan makan malam mereka. Ini sudah seminggu lebih, tapi tak ada kabar lagi dari pria itu. Lelah menunggu kabar dari Hanley, ingatan Adrie pun kembali pada kisah kelam yang terjadi 4 tahun lalu. Setelah pelecehan itu terjadi, Ashley masih mengucapkan janji pada Adrie. Meski kemarahan dan kebencian yang didapatkan, pria itu masih berusaha memberi alasan dan berjanji akan bertanggung jawab atas kelakuannya. Di tengah keterpurukannya, Adrie yang sudah lama mengenal Ashley sempat luluh dengan bujukan pria itu. Dia tidak punya pilihan karena takut dengan kemurkaan orang tuanya. Namun, hingga detik ini,
Hubungan Hanley dan Adrie sudah semakin dekat dalam beberapa minggu terakhir. Mustahil tidak ada rasa yang timbul di hatinya.Namun, dalam hal ini, Adrie cukup tahu diri untuk mengungkapkan perasaannya. Hanley adalah orang yang berkuasa dan digandrungi banyak wanita, Adrie hanya berharap akan terbiasa melihat pemandangan seperti itu tanpa ada rasa cemburu."Sadarlah, Adrie, buang perasaan itu, kamu bahkan sudah punya anak, apa kamu pikir bisa bersanding dengan seorang tuan muda?" Adrie menguatkan dirinya yang mudah rapuh.Melihat pintu ruangan Hanley terbuka dari dalam, Adrie buru-buru mengalihkan pandangannya. Dia segera menyibukkan diri agar tidak terlihat seperti orang linglung.Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Adrie ingin sekali Hanley mendatanginya dan memberi penjelasan tentang wanita bernama Stefani. Namun, sekali lagi kenyataan segera menyadarkannya.Siapa kamu, Adrie? Sadarlah ...!Dan benar saja,
Adriella hanya bisa mematung melihat langkah Hanley yang panjang. Kenapa pria itu nekat ingin bertemu dengan bibinya?Di lain sisi, Adrie juga memuji sikap Hanley yang begitu respect pada orang tua, padahal perbedaan status sosial di antara mereka tampak jauh. Sebelum memperkenalkan diri, Hanley lebih dulu mengulurkan tangannya. "Selamat pagi, Bibi," ucapnya kemudian."Selamat pagi," balas Paramitha sembari menjabat tangan Hanley. "Kamu temannya Adriella?" tanyanya, lalu melirik keponakannya yang masih berdiri di depan pagar kecil."Iya, Bibi, namaku Hanley," jawab Hanley dengan sopan. "Aku ke sini juga untuk menjemput Adrie, kami akan berangkat bersama ke kantor," jelasnya."Oh ... terima kasih, Nak Hanley, bibi senang mendengarnya." Paramitha benar-benar bersyukur melihat perubahan dalam diri Adrie. Wanita itu sudah mulai membuka diri, semakin hari kian bergaul dengan lawan jenis. Itu artinya rasa trauma dalam diri Adrie semakin
Adriella menatap iba wajah putrinya yang sedang tertidur pulas. Sama seperti dirinya, tidak ada pengakuan untuk anaknya yang malang itu.Perlahan Adrie mengulurkan tangan, mengelus pipi mulus Laila yang kini sudah berusia tiga tahun. Selain Paramitha, Adrie hanya memiliki Laila sebagai keluarga. Sudah bertahun-tahun mereka menanggung penderitaan bersama. Adrie hanya memiliki keduanya, lalu kenapa sekarang harus kembali lagi ke tempat orang tua yang telah terang-terangan membuangnya?"Kamu sudah mengambil keputusan?" Paramitha sedikit berbisik karena takut mengganggu tidur Laila. "Tidak perlu membawanya, bibi yang akan menjaga Laila di sini, biar bagaimanapun orang tuamu belum tahu jika kamu akhirnya mempertahankan dan melahirkan Laila." "Aku akan pulang, tapi hanya satu hari saja, Bibi," kata Adriella dengan lesu. Dia terpaksa melakukannya untuk sang bibi yang selama 4 tahun ini telah merawatnya dengan penuh kasih sayang.Selain tidak menyukai perjalanan ini, Adrie juga belum memili
"Kenapa baru sekarang, Bibi?"Adrie protes ketika mendapat kabar jika sang ayah tengah mencari keberadaannya dan kini menginginkannya kembali. 4 tahun sudah berlalu, ini pertama kalinya Adrie mendengar kabar tentang pria tua yang telah mengusirnya itu."Katanya ibumu yang paling ingin bertemu, dia merindukanmu." Paramitha juga baru pertama kali mendengar kabar dari saudarinya itu. Jika bukan karena Neetu adalah kakak kandungnya, dia juga enggan untuk menyampaikannya pada Adrie."Dari mana mereka tahu tentang keadaan kita, Bibi?" Adrie penasaran.Paramitha menjelaskan dengan lembut, "Adrie, sebenarnya bibi sekali-kali masih berhubungan dengan ibumu, selain kamu, dia adalah satu-satunya saudara yang bibi miliki." "Tapi aku masih tidak bisa lupa bagaimana mereka mengusirku, ayah ingin aku menghilang selamanya dari hidup mereka, dan ibu sama sekali tidak pernah membantuku, tidak ada yang berpihak padaku, padahal ini bukan kein
Dengan cermat, Hanley mengamati ekspresi Mery. Wanita di depannya terlihat menggebu-gebu, pasti ada sesuatu hal yang serius. ''Ada apa dengan Adrie?'' ulang Hanley ketika melihat wanita itu mengatur nafas berulang kali. "Apa dia membuatmu kesal?" Amarah menguasai Mery saat ini. jadi dia gelap mata dan ingin segera mengungkapkan kejelekan dari asistennya itu. ''Januar, manajer produksi yang baru diangkat bulan lalu sepertinya menjalin hubungan dengan Adrie, bukankah dia terlalu berani untuk melakukan itu?'' kata Mery sedikit ragu. Hanya desas-desus yang didapatkannya, tapi dia sudah berani menyebarkannya pada sang atasan. Kabar itu sedikit mengganggu Hanley, tapi dia tidak boleh terpengaruh dengan mudah. ''Baru dugaan, bagaimana jika salah? Lagi pula apa urusannya denganku?'' tanya Hanley dengan ketus. ''Aku dengar Januar sering membantu pekerjaan Adrie dan mereka berdua bekerja sampai larut malam, tidak kamu ingin memberi peringatan pada keduanya?'' belum puas, Mery menambahk