Share

Bab 5

Penulis: yourayas
last update Tanggal publikasi: 2025-12-27 15:53:23

Di tengah kerumunan Bandara Sokerano-Hatta pada pukul tiga dini hari, Gerald berdiri tegak di tengah-tengahnya. Mengenakan jas wol berwarna gelap yang pas di tubuhnya, ia berusaha untuk tetap tenang meskipun degup jantungnya berdetak tak karuan.

Ia hanya membawa satu koper kecil dan sat utas kerja. Namun, beban berat yang sesungguhnya ada pada saku bagian dalam jasnya, tepat di atas jantungnya: foto USG yang sudah mulai rapuh.

"Pak Gerald, semua dokumen sudah siap di dalam folder ini," suara Lucas memecah lamunannya. Sekretaris setianya itu berdiri di sampingnya, memegang map kulit.

Gerald menoleh sedikit, mengangguk pelan. "Terima kasih, Lucas. Kamu sudah memastikan reservasi hotel di London?"

"Sudah, Pak. The Savoy. Lokasinya hanya sepuluh menit dari tempat charity gala itu diadakan. Mobil jemputan juga akan menunggu Bapak di Heathrow," jawab Lucas dengan presisi yang biasa. Namun, ia tidak segera beranjak. Matanya menatap Gerald dengan tatapan yang sulit diartikan. "Pak... apakah Bapak yakin tidak ingin saya ikut?"

Gerald menatap lurus ke depan, ke arah gerbang keberangkatan. "Tidak, Lucas. Ini bukan perjalanan bisnis. Ini adalah perjalanan yang harus kutempuh sendirian. Jika aku membawa asisten, aku akan merasa seperti sedang pergi untuk negosiasi kontrak. Dan kali ini... aku tidak sedang ingin bernegosiasi."

"Saya mengerti, Pak. Semoga... semoga Bapak menemukan apa yang Bapak cari," ucap Lucas tulus.

Gerald terdiam sejenak, jemarinya menyentuh saku jasnya secara naluriah. "Aku tidak hanya mencari, Lucas. Aku sedang membuktikan apakah aku masih memiliki hak untuk berharap."

Lucas tersenyum simpul. “Anda punya harapan itu, Pak. Selama lima tahun ini, saya saksinya kalau harapan itu tidak pernah lepas sekalipun dari kehidupan Bapa.”

Gerald tersenyum mendengarnya. “Terima kasih banyak telah membantu selama ini, Lucas.”

***

Empat belas jam kemudian, udara dingin London menyambutnya di Heathrow. Langit kota itu abu-abu, seolah sedang bersimpati pada kegelisahan yang menyelimuti hati Gerald. Setelah proses imigrasi yang singkat, Gerald segera menuju hotel. Ia tidak punya waktu untuk beristirahat.

Tujuannya hanya satu: sebuah kafe kecil di sudut South Kensington, tempat Joshua Hartanto sudah menunggunya.

Kafe itu beraroma kayu manis dan kopi panggang. Joshua duduk di pojok, mengenakan trench coat cokelat, tampak gelisah sambil terus memperhatikan pintu masuk. Saat Gerald melangkah masuk, Joshua langsung berdiri.

"Gerald!" seru Joshua pelan. Mereka bersalaman kuat—sebuah jabatan tangan antara dua sahabat yang sudah lama tidak bertemu namun terikat oleh satu rahasia besar.

"Duduklah, Josh. Ceritakan semuanya. Jangan ada yang terlewat," kata Gerald tanpa basa-basi begitu ia duduk di depan sahabatnya.

Joshua menghela napas, menyeruput kopinya sedikit. "Aku tahu kamu baru saja mendarat, tapi aku merasa ini tidak bisa ditunda. Tiga hari lalu, aku melihatnya lagi. Di acara pra-gala."

Gerald condong ke depan, suaranya rendah dan tajam. "Bagaimana keadaannya? Apa dia melihatmu?"

Joshua menggeleng. “Tidak, aku berusaha menjaga jarak aman,” Joshua menatap sahabatnya. “Kalau kamu tanya keadaannya. Dia… tampak berbeda, Ge. Lebih tenang, lebih kuat. Dia tidak lagi terlihat seperti wanita yang tertekan oleh bayang-bayang keluarga Atmaja atau Mahatma. Dia tampak seperti seorang ibu yang sepenuhnya memiliki dunianya sendiri," jelas Joshua.

Gerald merasakan tusukan rasa iri sekaligus lega di dadanya. “Terus, soal anak laki-laki yang kamu ceritakan… dia selalu bersama Elena?”

Joshua mengangguk mantap. “Selalu. Namanya… di kalangan terbatas, dipanggil Rafael. Anak itu sangat mirip denganmu, Gerald. Terutama bagian matanya. Saat dia menatap kerumunan, dia memiliki tatapan yang dingin dan menilai, persis seperti caramu menatap musuh bisnismu," Joshua tertawa kecil, namun tawa itu segera pudar saat melihat ekspresi Gerald yang meredup.

“Rafael…” Gerald mengecap nama itu di lidahnya. “Namanya Rafael.”

“Aku belum bisa memastikan nama lengkapnya,” ujar Joshua sedikit menyesal.

Gerald tersenyum. “Itu sudah lebih dari cukup, Joshua,” Gerald menghela napas. “Terus, apalagi yang kamu dapat?”

Joshua menggeleng. “Belum ada lagi, selain itu,” ujar Joshua membuat bahu Gerald sedikit merosot. “Tapi Ger, kamu harus hati-hati," Joshua memperingatkan, wajahnya berubah serius. "Gala itu akan diadakan minggu depan. Itu adalah acara publik, tapi sangat eksklusif. Dia akan ada di sana sebagai perwakilan dari sebuah yayasan seni internasional. Kamu tidak bisa langsung melabraknya."

Aku tidak akan melabraknya, Josh," sahut Gerald pelan, matanya menatap ke luar jendela kafe di mana orang-orang London berjalan dengan payung mereka. "Aku sudah menunggu lima tahun. Aku bisa menunggu beberapa hari lagi. Aku hanya ingin melihatnya dari dekat. Aku ingin memastikan bahwa ini bukan mimpi yang diciptakan oleh otakku yang putus asa."

"Tapi kalau kamu melangkah maju, Ger, tidak ada jalan kembali. Kamu akan mengusik kehidupan yang sudah dia bangun dengan susah payah selama lima tahun. Apa kamu siap jika dia menolakmu?" tanya Joshua telak.

Gerald terdiam cukup lama. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan foto USG itu dan meletakkannya di atas meja. Titik kecil di foto itu kini telah berubah menjadi seorang anak bernama Rafael yang bisa berjalan dan berbicara.

"Aku sudah kehilangan segalanya lima tahun lalu, Josh. Penolakan darinya hanya akan mengonfirmasi apa yang selama ini aku takuti. Tapi diam di Jakarta dan tidak melakukan apa-apa... itu adalah kematian yang lebih buruk," jawab Gerald dengan nada final.

Joshua mengangguk paham. "Baiklah. Aku akan mengirimkan detail pengaturan kursi dan jadwal gala itu besok pagi. Pastikan kamu siap mental, Ger. London mungkin dingin, tapi pertemuanmu dengannya nanti akan jauh lebih membeku."

Gerald berdiri, mengenakan kembali jasnya. “Aku sudah terbiasa kedinginan di Jakarta, Joshua. Bagiku tidak masalah selama aku bisa kembali melihat Elena.”

Gerald menghela napas, menepuk pelan bahu Joshua. “Terima kasih atas bantuannya, Josh. Aku benar-benar berhutang banyak.”

Gerald melangkah keluar dari kafe, meninggalkan Joshua yang menatapnya dengan prihatin. Di bawah gerimis London, Gerald Aiden Mahatma berjalan dengan langkah pasti. Jarak antara dirinya dan Elena kini hanya terpaut beberapa kilometer, dan untuk pertama kalinya setelah lima tahun, ia merasa benar-benar hidup—meskipun hidup itu mungkin akan menghancurkannya sekali lagi.

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • MENGEJAR KEMBALI CINTA ISTRIKU   Bab 6

    London pagi itu dibungkus langit kelabu yang lembut. Udara dingin menempel di kulit, membawa aroma hujan tipis yang turun semalam. Di depan gedung galeri seni tua di kawasan South Kensington, Gerald Aiden Mahatma berdiri layaknya bayangan yang tak terlihat.Ia mengenakan mantel wol gelap dan topi yang ditarik rendah. Di balik mantel itu, ia mengenakan kemeja putih yang sudah lama tidak ia sentuh—kemeja yang dulu dibelikan Elena di sebuah butik di Jakarta. Ia ingat betul bagaimana jemari Elena merapikan kerahnya saat itu, sebuah sentuhan kecil yang dulu ia abaikan, namun kini ia rindukan setengah mati."Pak Gerald, donasi sudah ditransfer," suara Lucas terdengar melalui earpiece kecil di telinganya. "Tanpa nama. Persis seperti yang Bapak minta. Pihak penyelenggara sangat terkejut dengan jumlahnya.""Bagus," jawab Gerald pendek, suaranya parau. "Pastikan tidak ada jejak namaku di sana. Aku tidak ingin dia merasa terancam.""Baik, Pak. Saya akan terus memantau dari sini."Gerald mematika

  • MENGEJAR KEMBALI CINTA ISTRIKU   Bab 5

    Di tengah kerumunan Bandara Sokerano-Hatta pada pukul tiga dini hari, Gerald berdiri tegak di tengah-tengahnya. Mengenakan jas wol berwarna gelap yang pas di tubuhnya, ia berusaha untuk tetap tenang meskipun degup jantungnya berdetak tak karuan.Ia hanya membawa satu koper kecil dan sat utas kerja. Namun, beban berat yang sesungguhnya ada pada saku bagian dalam jasnya, tepat di atas jantungnya: foto USG yang sudah mulai rapuh."Pak Gerald, semua dokumen sudah siap di dalam folder ini," suara Lucas memecah lamunannya. Sekretaris setianya itu berdiri di sampingnya, memegang map kulit.Gerald menoleh sedikit, mengangguk pelan. "Terima kasih, Lucas. Kamu sudah memastikan reservasi hotel di London?""Sudah, Pak. The Savoy. Lokasinya hanya sepuluh menit dari tempat charity gala itu diadakan. Mobil jemputan juga akan menunggu Bapak di Heathrow," jawab Lucas dengan presisi yang biasa. Namun, ia tidak segera beranjak. Matanya menatap Gerald dengan tatapan yang sulit diartikan. "Pak... apakah B

  • MENGEJAR KEMBALI CINTA ISTRIKU   Bab 4

    Dalam hidup manusia, ada hari-hari di mana dunia terasa acuh dan menyebalkan, seolah-olah semesta sedang berkomplot untuk menguji batas kesabaran kita. Namun, ada pula hari-hari langka ketika dunia seolah berhenti sejenak dari porosnya, menoleh ke arah kita, berpihak, dan akhirnya memutuskan untuk membantu setelah sekian lama mengabaikan doa-doa yang dipanjatkan dalam sunyi.Bagi Gerald Aiden Mahatma, hari ini adalah jenis hari yang kedua.Cahaya sore yang keemasan menerobos masuk melalui dinding kaca ruang kerjanya yang luas di lantai eksekutif Mahatma Entertainment. Di luar sana, Jakarta masih menderu dengan kebisingan yang akrab—suara klakson, deru mesin, dan ribuan orang yang bergegas mengejar tenggat waktu. Di koridor kantor, suara langkah kaki para eksekutif yang bekerja di bawah kendali tangannya terdengar sibuk, memberikan performa terbaik mereka untuk sang Direktur Utama yang tak kenal kompromi.Namun, di dalam ruangan itu, waktu seolah melambat, memberikan ruang bagi Gerald

  • MENGEJAR KEMBALI CINTA ISTRIKU   Bab 3

    Pagi itu, Gerald datang ke kantor lebih awal dari biasanya. Gedung tinggi Mahatma Entertainment berdiri dengan angkuh di pusat Jakarta, kacanya memantulkan sinar matahari yang mengelilingi menjadi warna emas.Gerald adalah sosok Direktur Utama yang dingin, nyaris mitologis, dan tidak pernah membuat kesalahan dalam pengambilan keputusan. Namun, tidak ada yang tahu bahwa setiap kali pintu lift tertutup, Gerald harus menarik napas panjang untuk meninggalkan kerapuhannya di lantai dasar gedung itu.Setelah meletakkan tas kerjanya di atas meja yang luas, Gerald tidak langsung membuka laptopnya. Ia menatap pemandangan Jakarta yang sibuk dari ketinggian lantai eksekutif. Tangannya merogoh saku jas, mengeluarkan selembar foto USG hitam putih yang selama ini selalu ia kunci rapat di laci apartemennya.“Entah kamu dimana sekarang,” gumamnya lirih sambil mengusap permukaan foto yang mulai memudar itu, “tapi hari ini, Papa butuh kamu disini.”Ia tersenyum getir pada kata 'Papa' yang ia ucapkan se

  • MENGEJAR KEMBALI CINTA ISTRIKU   Bab 2

    Flashback 5 Tahun Yang Lalu—Satu Minggu Setelah Elena PergiSore itu, hujan turun deras, menyisakan keheningan sekaligus kedinginan di apartemen Gerald Aiden Mahatma.Sudah satu minggu berlalu, sejak terakhir kali ia melihat Elena malam itu. Tetapi baginya, kata “pergi” masih terlalu tajam untuk diucapkan. Ia sepanjang hari meyakini bahwa Elena hanya pergi sebentar, istrinya pasti akan segera pulang. Ia seringkali terjaga hingga tengah malam, menatap ke pintu apartemen dengan penuh harapan dan doa bahwa Elena akan pulang dan tersenyum seperti biasanya. Namun, hingga kelelahan dan rasa kantuk menumbangkan Gerald, Elena tidak kunjung pulang.Apartemen itu masih menyimpan aroma Elena di setiap sudutnya. Jaket denim favoritnya masih tergantung lemas di dekat pintu masuk. Sepatu-sepatu hak tingginya masih tersusun di rak bawah, seolah siap dipakai kapan saja. Gerald tidak berani menyentuh apa pun; baginya, memindahkan satu benda saja berarti mengakui bahwa Elena tidak akan pernah kembali u

  • MENGEJAR KEMBALI CINTA ISTRIKU   Bab 1

    5 tahun bukan waktu yang sebentar.Bagi sebagian orang, 5 tahun adalah waktu yang berganti menjadi kehidupan baru.Ada yang berpindah tempat kerja, berpindah rumah, lulus dari perkuliahan, bahkan berganti status dari lajang menjadi berpasangan.Tapi rasanya… di lantai apartemen dua puluh tujuh itu… waktu berhenti berdetak sejak 5 tahun yang lalu.Gerald Aiden Mahatma berdiri di depan cermin dalam kamar, menatap pantulan dirinya yang tampak asing. Dia tidak lagi mengenali dirinya sendiri sejak hidup dalam kesunyian kota. Jemarinya bergerak mengikat dasi sutra berwarna biru gelap, pemberian dari orang paling dicintainya.“Lima tahun,” gumamnya pelan. “Aku masih mengikat dasi dengan cara yang sama seperti kamu waktu itu, Lena.”Ia menghela napas, menoleh pada lemari pakaian yang terbuka lebar. Di sisi kanan, deretan gaun kerja dan blus sutra milik istrinya—Elena Maheswari Atmaja masih tergantung rapi. Seolah-olah sebentar lagi Elena akan selesai mandi dan memilih salah satunya. Tidak ada

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status