Share

Bab 6

Penulis: yourayas
last update Tanggal publikasi: 2026-03-16 14:26:24

London pagi itu dibungkus langit kelabu yang lembut. Udara dingin menempel di kulit, membawa aroma hujan tipis yang turun semalam. Di depan gedung galeri seni tua di kawasan South Kensington, Gerald Aiden Mahatma berdiri layaknya bayangan yang tak terlihat.

Ia mengenakan mantel wol gelap dan topi yang ditarik rendah. Di balik mantel itu, ia mengenakan kemeja putih yang sudah lama tidak ia sentuh—kemeja yang dulu dibelikan Elena di sebuah butik di Jakarta. Ia ingat betul bagaimana jemari Elena merapikan kerahnya saat itu, sebuah sentuhan kecil yang dulu ia abaikan, namun kini ia rindukan setengah mati.

"Pak Gerald, donasi sudah ditransfer," suara Lucas terdengar melalui earpiece kecil di telinganya. "Tanpa nama. Persis seperti yang Bapak minta. Pihak penyelenggara sangat terkejut dengan jumlahnya."

"Bagus," jawab Gerald pendek, suaranya parau. "Pastikan tidak ada jejak namaku di sana. Aku tidak ingin dia merasa terancam."

"Baik, Pak. Saya akan terus memantau dari sini."

Gerald mematikan sambungan. Ia menarik napas dalam, membiarkan oksigen dingin London memenuhi paru-parunya. Matanya terpaku pada pintu besar gedung itu. Hari ini adalah acara pameran seni amal yang dikuratori oleh 'El Maheswari'.

Gerald melangkah masuk. Ruangan itu luas, dengan langit-langit tinggi dan pencahayaan yang dramatis. Karya-karya seni kontemporer tergantung di dinding, namun Gerald tidak melihat satu pun dari mereka. Matanya menyapu kerumunan orang-orang berkelas yang sedang memegang gelas sampanye.

Hingga kemudian, jantungnya seolah berhenti berdetak.

Di ujung ruangan, di bawah sorotan lampu yang lembut, berdiri seorang wanita. Rambutnya disanggul modern, mengenakan gaun sutra berwarna emerald yang jatuh sempurna di tubuhnya. Ia sedang berbicara dengan seorang kolektor tua, wajahnya tampak cerah dengan senyum profesional yang anggun.

"Elena..." bisik Gerald. Nama itu terasa seperti doa yang akhirnya dijawab.

Ia tidak mendekat. Ia tetap berdiri di balik pilar besar, memerhatikan setiap gerak-gerik wanita itu. Elena tampak jauh lebih matang, lebih tenang, dan jauh lebih kuat dari wanita yang dulu menangis di kursi makan mereka.

Tiba-tiba, seorang anak laki-laki kecil berlari kecil dari arah belakang galeri. Ia mengenakan setelan jas kecil dengan dasi kupu-kupu yang sedikit miring.

"Mama! Look!" seru anak itu sambil menunjukkan sebuah gambar di kertas.

Elena langsung berlutut, mengabaikan tamunya sejenak. Ia merapikan rambut anak itu dengan gerakan yang sangat penuh kasih. "It's beautiful, Rafael. Did you draw this in the office?"

"Yes! For you!" jawab anak itu bangga.

Gerald mencengkeram pilar di sampingnya. Rafael. Itu dia. Darah dagingnya. Anak itu memiliki rahang yang persis miliknya, namun mata besar dan penuh binar itu adalah warisan murni dari Elena. Melihat mereka berdua, Gerald merasa dunianya yang selama lima tahun runtuh, kini mulai tersusun kembali—meski ia hanya melihatnya dari kejauhan.

***

Joshua Hartanto muncul di samping Gerald secara tiba-tiba, mengejutkannya. "Kamu cuma mau berdiri di sini seperti patung, Ge?"

Gerald tidak menoleh. "Dia kelihatan bahagia, Josh. Sangat bahagia."

Joshua ikut memperhatikan Elena dan Rafael. "Dia membangun hidupnya sendiri dari nol. Kamu lihat bagaimana orang-orang di sini menghormatinya? Dia bukan lagi 'istri Gerald Mahatma'. Dia adalah El Maheswari, kurator terbaik di London musim ini."

"Aku tahu," gumam Gerald. "Dan itu yang membuatku takut. Dia tidak butuh aku."

"Memang tidak," sahut Joshua jujur. "Tapi anak itu... dia butuh tahu siapa ayahnya suatu saat nanti. Lihat Rafael, Gerald. Dia sangat mirip denganmu saat kecil."

Gerald menelan ludah yang terasa pahit. "Aku tidak bisa merusak kebahagiaan mereka sekarang. Lihat senyumnya, Josh. Aku tidak pernah melihat Elena tersenyum seperti itu saat bersamaku di Jakarta."

"Itu karena di Jakarta dia merasa terkurung. Di sini, dia bebas."

Tiba-tiba, Elena menoleh ke arah pilar tempat Gerald berdiri. Gerald refleks menarik diri lebih dalam ke bayangan. Jantungnya berpacu hebat. Apakah dia melihatku? Apakah dia mengenali aromaku?

Elena mengernyitkan dahi sejenak, menatap area gelap itu dengan tatapan bertanya-tanya, sebelum Rafael menarik tangannya lagi untuk meminta es krim.

***

Gerald memutuskan untuk keluar sebelum keberadaannya terdeteksi. Ia berjalan menuju pintu keluar dengan langkah yang berat. Di lobi, ia berpapasan dengan seorang pelayan yang membawa nampan berisi brosur acara. Gerald mengambil satu. Di halaman pertama, ada profil kurator: El Maheswari.

Ia mengusap foto Elena di brosur itu dengan jempolnya.

"Pak Gerald?" Lucas menelepon lagi. "Mobil sudah siap di depan. Kita harus segera ke bandara jika ingin mengejar penerbangan malam ke Paris untuk urusan bisnis."

Gerald berhenti di anak tangga gedung galeri. Ia menatap langit London yang masih kelabu.

"Batalkan penerbangan ke Paris, Lucas," ujar Gerald tiba-tiba.

"Tapi Pak, pertemuan itu sangat penting—"

"Batalkan, aku tidak akan pergi kesana," potong Gerald dengan nada yang tak terbantahkan. "Cari apartemen atau rumah yang bisa kusewa dalam jangka panjang di London. Area South Kensington. Yang dekat dengan galeri ini."

"Bapak ingin menetap di sini?" suara Lucas terdengar kaget.

"Aku belum bisa pulang ke apartemen itu lagi, Lucas. Apartemen di Jakarta itu berisi kenangan tentang Elena yang pergi," Gerald menatap kembali ke arah gedung galeri. "Di sini, dia hidup. Rafael hidup. Aku akan tetap di sini. Aku akan pulang ke Jakarta saat sudah waktunya, membawa Rafael dan Elena kesana."

"Baik, Pak. Saya mengerti. Saya akan segera mengurusnya."

Gerald memasukkan tangannya ke saku mantel, menyentuh foto USG yang selalu ia bawa. Ia kini tahu bahwa perjalanannya baru saja dimulai. Ia tidak lagi mencari seseorang yang hilang; ia sedang memenangkan kembali seseorang yang telah ia sakiti.

Ia melangkah pergi dari gedung itu. Langkahnya tidak lagi tergesa-gesa. Bahunya yang dulu kaku kini sedikit lebih santai.

"Aku masih mencintaimu, Elena," bisiknya pada angin London yang dingin. "Dan hari ini, aku jatuh cinta lagi pada wanita hebat yang kamu ciptakan sendiri."

Gerald berjalan menjauh, meninggalkan gedung megah itu dengan hati yang remuk sekaligus utuh. Karena untuk pertama kalinya sejak lima tahun lalu, ia tidak lagi mengejar hantu. Ia sedang menunggu sebuah rumah yang kini memiliki nama: Elena dan Rafael.

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • MENGEJAR KEMBALI CINTA ISTRIKU   Bab 40

    Setelah memastikan Rafael masuk ke dalam barisan anak-anak yang memakai ransel warna-warni, Gerald dan Elena masih berdiri di depan gerbang sekolah. Gerald melipat tangannya di dada, matanya tidak lepas dari sosok kecil yang sekarang sedang memamerkan senter tiga warnanya kepada seorang teman sekelasnya."Dia benar-benar tidak menoleh ke belakang lagi, ya?" gumam Gerald, ada nada sedikit 'patah hati' dalam suaranya.Elena terkekeh pelan. "Itu artinya dia merasa aman, Gerald. Kamu sudah membekalinya dengan 'Kapten Bear' dan tenda bintang yang sanggup menahan serangan alien. Dia merasa seperti pahlawan sekarang."Gerald tersenyum tipis, lalu menoleh ke arah Elena. "Jadi... janji makan malam itu masih berlaku? Mengingat malam ini rumahmu akan sangat sepi tanpa suara mesin roket."Elena merapikan mantelnya, menatap Gerald sejenak. "Masih. Tapi aku harus ke galeri dulu. Ada beberapa pengiriman lukisan yang harus aku awasi.""Aku jemput jam tujuh?""Jam tujuh," jawab Elena sebelum berjalan

  • MENGEJAR KEMBALI CINTA ISTRIKU   Bab 39

    London mulai memasuki musim yang sejuk ketika Gerald memarkirkan Range Rover-nya di depan sekolah Rafael. Hari itu, Elena benar-benar sibuk dengan pertemuan kurator internasional, sehingga Gerald mendapatkan "tiket emas" untuk menjemput putra kecilnya lebih awal.Pintu sekolah terbuka, dan sosok kecil dengan tas roketnya berlari keluar. Wajah Rafael tampak sangat serius, alisnya bertaut, mirip sekali dengan ekspresi Gerald saat sedang menghadapi rapat direksi yang alot."Papa!" seru Rafael sambil menghambur ke pelukan Gerald."Halo, Jagoan. Kok mukanya ditekuk gitu? Ada yang nakal di sekolah?" tanya Gerald sambil menggendong Rafael masuk ke mobil.Rafael menggeleng cepat, lalu mengeluarkan selembar kertas yang sudah agak lecek dari tasnya. "Enggak, Pa. Tapi ini... Miss Honey bilang besok ada Spring Camping. Rafael harus tidur di tenda sama teman-teman di taman sekolah. Tapi Rafael nggak punya tenda! Rafael nggak punya lampu senter! Nanti kalau ada monster gelap gimana?"Gerald tertawa

  • MENGEJAR KEMBALI CINTA ISTRIKU   Bab 38

    Hujan London malam itu tidak sedahsyat badai tempo hari, namun dinginnya jauh lebih menusuk hingga ke tulang. Gerald masih berdiri di depan pintu, rambutnya yang biasanya tertata rapi kini lepek menempel di dahi. Mantel wol mahalnya sudah berubah menjadi berat karena air. Namun, ia tidak bergeming. Ia menatap ke arah jendela lantai atas, berharap siluet wanita yang dicintainya itu muncul kembali.Di balik gorden, Elena meremas kain beludru itu hingga buku-buku jarinya memutih. Hatinya perih. Bayangan tentang dokumen "Oktober lima tahun lalu" itu terasa seperti pisau yang mengiris sisa-sisa kepercayaannya. Bagaimana mungkin pria yang sekarang terlihat begitu rapuh di bawah hujan, dulunya adalah pria yang sanggup menandatangani hak asuh tunggal bahkan sebelum anaknya lahir?"Papa... kenapa Papa di luar? Papa kedinginan?"Suara serak Rafael di belakangnya membuat Elena tersentak. Bocah itu berdiri di ambang pintu kamar dengan mata mengantuk, memeluk bantal astronotnya. Rupanya suara teri

  • MENGEJAR KEMBALI CINTA ISTRIKU   Bab 37

    Kemilau lampu kristal di galeri mulai dipadamkan satu per satu, menyisakan lampu sorot temaram yang mengarah tepat ke lukisan-lukisan utama. Kesuksesan pameran malam itu menyisakan rasa lelah yang manis di bahu Elena. Tamu-tamu VIP telah pulang, menyisakan aroma parfum mahal dan sisa-sisa sampanye di udara.Elena berdiri di tengah ruangan yang kini sunyi, menatap lukisan abstrak di depannya. Tiba-tiba, sebuah jas hangat tersampir di bahunya. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemiliknya. Aroma kayu cendana dan maskulinitas itu sudah terlalu akrab."Rafael sudah tidur di mobil, dijaga oleh Lucas," bisik Gerald, berdiri tepat di belakangnya tanpa menyentuh, namun kehadirannya terasa begitu protektif."Terima kasih untuk tadi, Gerald. Tapi kamu tidak seharusnya bicara begitu di depan pers," ujar Elena pelan, tangannya merapatkan jas Gerald di tubuhnya."Aku hanya mengatakan kebenaran yang tertunda selama lima tahun, El. Aku tidak mau kamu dianggap sebagai pion dalam permainan bisnis

  • MENGEJAR KEMBALI CINTA ISTRIKU   Bab 36

    BAB 35: PERTANYAAN DI BALIK LANGIT-LANGIT BINTANGMalam di Richmond selalu memiliki cara sendiri untuk membuat seseorang merasa kecil, namun malam ini, di dalam rumah kayu yang hangat itu, Gerald merasa seolah ia baru saja memenangkan kontrak terbesar dalam hidupnya. Teh di cangkirnya sudah mendingin, tapi percakapan di meja makan masih mengalir, meski Elena lebih banyak mendengarkan daripada berbicara."Papa, nanti kalau kita ke tempat salju, kita bawa astronotnya juga?" tanya Rafael, matanya mulai sayu karena kantuk, tapi bibirnya tak berhenti mengoceh."Tentu saja. Astronot harus siap di segala medan, kan? Salju itu seperti permukaan planet es," jawab Gerald sambil mengacak rambut Rafael.Elena berdiri, merapikan cangkir-cangkir kosong. "Sudah jam sembilan, Rafael. Waktunya tidur. Besok Mama harus ke galeri pagi-pagi untuk final check pameran.""Yah... tapi Rafael masih mau sama Papa," rengek si kecil.Gerald menatap Elena, meminta izin melalui tatapan matanya. Elena hanya menghela

  • MENGEJAR KEMBALI CINTA ISTRIKU   Bab 35

    Pagi itu, Richmond diselimuti kabut yang lebih tebal dari biasanya. Gerald sudah berdiri di depan pintu rumah Elena tepat pukul tujuh kurang lima menit. Ia tidak mengenakan setelan jas kaku seperti biasanya; kali ini ia memilih turtleneck hitam dibalut mantel wol berwarna abu-abu arang. Tangannya membawa satu kotak kecil berisi croissant hangat dari toko roti favorit Rafael yang baru saja buka.Pintu terbuka, menampilkan Elena dengan rambut yang masih agak acak-acakan—pemandangan langka yang membuat jantung Gerald berdesir. Ia tampak seperti Elena yang dulu, Elena yang sering ia bangunkan dengan kecupan di kening sebelum dunia bisnis merenggut kewarasan mereka."Kamu tepat waktu," gumam Elena, suaranya serak khas bangun tidur."Aku tidak ingin membuat Jenderal kecilku menunggu," jawab Gerald lembut, menyodorkan kotak roti itu. "Ini untuk sarapan kalian. Aku tahu kamu tidak sempat masak kalau ada pertemuan subuh."Elena menerima kotak itu, jari mereka bersentuhan sekejap, dan Elena seg

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status