LOGIN“Loria?!!” Suasana yang sunyi itu dipecahkan oleh teriakan Marchioness.
“Apa kau sudah gila?!!” Marchioness segera memeluk Putranya Elliot.
“Loria … apa masalahmu?” tanya Julian dengan heran.
Bukankah ini adalah hal biasa? Mengapa sekarang Loria sangat marah?
“Sekali lagi … jika kau berani berteriak kepadaku maka bukan hanya wajah yang akan aku pukul.” Loria menatap dingin Elliot dan Kembali duduk menyantap makanannya seolah tidak terjadi apapun.
“K-kau!!” Elliot menatap Loria dengan matanya yang memerah karena marah.
“Aku akan membalasmu!”
“Hentikan!!”
“A-ayah?” Elliot tidak menyangka dengan sikap ayahnya.
Posisi Marquess sedikit canggung. “Loria adalah saudaramu, jadi kau sekarang bersikap baiklah.”
Tawaran Loria dia ruang kerja tadi membuat Marquess berpikir jernih.
Ya … dengan penampilan Loria, pasti akan mendapatkan pernikahan yang bagus. Dua putri yang cantik, ini cukup menguntungkan.
“Sayang … kau akan membiarkan masalah ini begitu saja?” ini pertama kalinya Marchioness melihat suaminya membela anak liar ini.
Marquess diam tidak menjawab dan terus menyantap makanannya.
Elliot menggertakkan giginya hingga gemetar dan berlari pergi meninggalkan ruang makan.
“Elliot!!” Marchioness mengejar Elliot.
Melihat keributan ini, Loria sangat puas dan merasa makan dengan suasana hati yang baik.
“Ayah … Arie sudah kenyang.” Arienne berdiri dan pamit meninggalkan ruang makan.
Dimeja makan hanya tersisa Marquess, Julian dan Loria. Mereka bertiga makan dalam diam.
Julian menatap Loria yang sangat berbeda dari sebelumnya. Biasanya gadis itu selalu menunduk ketakutan, bahkan bahkan tidak berani menyentuh makanan sebelum diberi izin. Namun sekarang Loria duduk dengan tenang seolah dirinya memang bagian dari keluarga Ardelis.
Perubahan ini terasa aneh.
“Mulai sekarang jangan biarkan Elliot menyiksa Loria,” ucap Marquess.
Julian ingin menanyakan sesuatu namun ia memilih diam. “Baik Ayah.”
Melihat sikap ayahnya yang murahan ini cukup membuat Loria puas.
suasana makan malam terasa canggung. Mereka bertiga jarang berada dimeja makan yang sama. Namun Loria tidak peduli, fokusnya saat ini hanya satu yaitu makan sebanyak mungkin.
Tubuh ini terlalu kurus akibat kekurangan gizi bertahun – tahun.
Bagaimana bisa kalian membiarkan anak sekecil ini makan makanan pelayan selama bertahun – tahun?
Setelah beberapa saat suasana makan malam yang canggung, akhirnya mereka bertiga Kembali ke ruangan masing – masing untuk beristirahat.
Loria berjalan menuju arah kamar Elliot dan mengintip sedikit. Disana Marchinoness dan Arienne masih berusaha untuk menenangkan Elliot.
“Ibu … mengapa ayah membela anak liar itu?” teriak Elliot dengan mata melotot.
“Aku tidak suka anak itu berada dirumah ini,” lanjutnya.
“Baiklah … ibu akan mencoba mencari cara.” Marchioness memeluk Elliot untuk menenangkannya.
“Mengusirku?.” Bibir Loria melengkung tipis. “Coba saja.”
Setelah mengintip sebentar, Loria pergi dari sana dan Kembali kekamarnya yang berada diloteng.
“Aaaah … makanan bangsawan memang sangat enak.” Ia berbaring dikasurnya.
Aku harus menghitung waktu, kapan pemeran utama pria itu dalam bahaya.
Memikirkan hal ini, membuat Loria mengantuk. Perlahan ia memejamkan matanya dan tertidur dengan pulas.
CRIIP CRIIIP. Terdengar kicauan burung kecil yang menghiasi pagi hari.
“Emmm.” Loria menggosok matanya dengan malas.
“Mengapa pagi begitu cepat datang?” gumamnya. Tubuh kecil ini masih tidak terlalu nyaman dan masih butuh banyak istirahat.
TOK. TOK. TOK.
Suara ketukan yang jarang terdengar membuat Loria bingung.
Apa asisten ayah datang lagi?
“Aku akan tidur sebentar lagi,” ucap Loria sambil menutup wajahnya dengan bantal.
“Nona .. saya adalah pelayan yang dikirim oleh Marquess.”
Mendengar kata – kata itu. Loria segera bangun dan melebarkan mata.
“Pelayan?” ia melihat kearah pintu kamarnya dan berjalan untuk membuka pintu.
“Selamat pagi nona.” Pelayan itu tersenyum melihat rambut merah Loria yang berantakan.
“Apa tidur anda nyenyak?” tanyanya lagi.
Loria berusaha untuk mencerna.
Aku tidak meminta pelayan kepada Marquess, mengapa dia mengirimkannya?!!
“Perkenalkan nama saya Popi,” ucapnya.
Waah … bukankah ini pelayan yang selalu di inginkan oleh Arienne, tetapi Popi selalu menolak dan itu membuat Arienne benci kepada Popi dan memfitnahnya hingga di hukum mati oleh Duke.
“Bukankah kau adalah pelayan terbaik dikediaman Marquess?” tanya Loria.
“Nona Loria terlalu menyanjungku.”
“Mengapa Marquess mengirimmu?” Loria penasaran.
“Saya sendiri yang mengajukan diri.” Popi menatap Loria dengan tatapan prihatin.
Sesuai yang tertulis di novel. Rambut hijau mata coklat dengan tahi lalat disudut matanya. Popi, salah satu pelayan terbaik dikerajaan ini. Ia dibunuh oleh Arienne beberapa tahun kemudian karena dulu pernah menolak untuk menjadi pelayan pribadinya. Memfitnah Popi dan membuatnya terbunuh ditangan pemeran utama pria.
Loria menatap Popi dengan curiga.
Ini tidak tertulis didalam novel.
“Masuklah.” Loria menyuruh Popi untuk masuk.
“Nona … kita akan pindah kamar.”
“Apa?!!” tiba – tiba sekali.
“Marquess sudah menyiapkan kamar untuk Nona Loria,” ucap Popi.
“Secepat ini?.” Loria tersenyum puas.
Loria berlari mengambil buku catatannya.
“Tunjukkan jalannya,” ucap Loria dengan semangat.
“Sebelah sini Nona.” Popi segera menunjukkan jalan kepada Loria menuju kamar barunya.
Setelah beberapa saat berjalan, Loria akhirnya tiba dikamar barunya.
“Ini sangat besar,” ucapnya kagum.
Marquess ternyata menganggap perkataanku dengan serius, sehingga menyiapkan semua ini.
Kamar ini berada disebelah kamar Arienne, saat ini anak itu belum bangun. Lihatlah bagaimana reaksinya nanti saat mengetahui kalau aku pindah kamar.
“Bantu aku membersihkan diriku.”
“Ya, Nona.”
Popi segera membantu Loria membersihkan diri. Saat membuka pakaiannya, Popi terkejut melihat luka yang ada ditubuh kecil itu.
“Popi?” mengapa dia diam saja?
“Em … maaf … apa menurut anda suhu air ini sudah cukup?” Popi menunduk, berusaha menyembunyikan ekspresinya.
Luka – luka itu terlalu banyak untuk tubuh anak sekecil ini.
“Ya … ini sangat pas.”
Popi membantu menggosok punggung Loria dengan lembut.
Anak ini tidak memiliki salah apapun, mengapa harus menderita?
Setelah beberapa saat, akhirnya Loria selesai membersihkan dirinya.
“Gaun ini sangat cantik.” Loria berputar didepan cermin melihat dirinya dengan semangat.
Aku harus menaikkan berat badanku agar terlihat lebih baik lagi.
“Popi tunggulah diluar, aku akan keluar sebentar lagi untuk sarapan.”
“Baik Nona.” Popi memberi hormat dan pergi keluar sesuai apa yang diperintahkan oleh Loria.
Saat ini Arienne baru saja selesai membersihkan diri dan Bersiap untuk sarapan.
Ia terkejut melihat Popi berdiri didepan ruangan yang berada disebelah kamarnya.
“Popi.” Arienne menghampiri Popi dengan semangat.
“Selamat pagi Nona Arienne.”
“Apa yang lakukan disini? Apa kau bersedia menjadi pelayan peribadiku?” tanya Arienne dengan penuh harap.
Jika Popi mau menjadi pelayan pribadinya, pasti teman – temannya akan merasa iri padanya.
KREK. Pintu terbuka dan Popi berbalik untuk memberi salam.
Wajah Arienne pucat langsung pucat.
“K-kau… kenapa keluar dari kamar itu?!!”
Loria tersenyum tipis sambil merapikan rambut merahnya.
“Mulai hari ini kita adalah tetangga.”
“Apa kau senang?” ucap Loria dengan senyum diwajahnya.
Mata Arienne bergetar.
Dan untuk pertama kalinya, ia merasa sesuatu mulai lepas dari kendalinya.
“Ibu … aku sudah sangat dipermalukan,” keluh Edelis.“Tenanglah.”“Kirimkan surat untuk Marquess Ardelis sekarang juga,” ucap Duchess.“Sampaikan surat sebelum anak itu tiba dikediaman Marquess.”“Baik Nyonya.”Saat ini dikereta keluarga Marquess Ardelis.“Nona … apa anda sudah lebih baik?” tanya Popi khawatir.Loria mengangguk pelan. “Terimakasih Popi.”Ia menatap kedua tangannya. Sepertinya membutuhkan waktu lama untuk meningkatkan aura.Kereta berjalan dengan sangat lancar dan tiba dikediaman keluarga Ardelis.Popi membantu Loria turun.“Loria!!” Marquess berdiri didepan pintu gerbang dan menghampiri Loria.“Apa yang kau lakukan saat pesta minum teh?”“Tuan … Nona tidak salah.” Popi mencoba untuk membantu Loria.“Kau diam!!” Marquess menatap Popi dengan penuh amarah.“Mulai hari ini kau tidak melayani Loria lagi,” ucap Marquess.“Apa-“Loria memegang rok Popi dan menggelengkan kepala, memberi isyarat agar jangan membelanya.Aku tidak ingin orang disekitarku terluka karena aku.“Ayah
Cahaya Mentari pagi perlahan masuk melalui celah jendela.Loria mengernyit dan perlahan membuka matanya.“Sudah pagi?”Loria segera Bersiap untuk pergi ke pesta minum teh.Beberapa jam telah berlalu. Popi sangat ketat untuk urusan penampilan, jadi Loria membutuhkan banyak waktu untuk Bersiap – siap.“Nona … anda cantik sekali,” ucap Popi dengan haru.Siapa bilang Nona Arienne yang paling cantik?“Baiklah .. kau telah bekerja keras,” ucap Loria dengan senyum manis.Loria pergi menuju kereta kuda keluarga Ardelis.Dari balik jendela, Arienne melihat Loria menaiki kereta kuda dan tersenyum tipis.“Semoga hari ini adalah hari keberuntunganmu,” gumam Arienne.Kereta kuda berjalan dengan lancar. Loria melihat tangannya yang mengeluarkan aura hitam tipis, kemudian mengepalkan tangannya dengan erat.Aura ini masih sangat lemah.Setelah perjalanan yang cukup memakan waktu. Kereta kuda akhirnya berhenti.Loria turun dari kereta, dibantu oleh Popi.Saat hendak memasuki kediaman, semua tamu undang
Malam hari saat semua orang tidur. Loria mengendap – endap memasuki hutan dan menghindari penjagaan yang sangat ketat.“Hah … jangan remehkan ketua organisasi pembunuh bayaran.”Loria terus jalan memasuki Gedung yang tidak berpenghuni.“Anak laki – laki itu sudah tidak ada,” gumam Loria.Ia terus melanjutkan perjalanannya dan menyalakan lampu sihir kecil yang ia bawa.Melihat sekeliling, Loria tidak menemukan sesuatu yang istimewa.“Mengapa dijaga begitu ketat.”Didalam novel tidak menceritakan apapun tentang ini.Semakin dalam ia berjalan semakin sunyi gedung itu. Cahaya bulan tidak lagi menembus ruangan itu.“Seprtinya tidak ada apa – apa.”TAAAG. Saat Loria berbalik, ia tidak sengaja menginjak sesuatu.Sebuah ruangan bawah tanah muncul.“Waw.” Loria segera menuruni tangga menuju ruang bawah tanah.Ruangan itu terlihat bersih seperti ada yang tinggal disini setiap harinya. Terdapat banyak buku yang tersusun rapi.Loria melihat beberapa buku yang berada di rak buku. Pandangannya terpa
Bab 6.Suasana yang tadinya sedikit berisik kini menjadi hening.“Tuan muda… apa anda baik – baik saja?” seseorang tiba – tiba muncul entah darimana.“Ini adalah ujian dari ayah … jangan membantuku.” Anak laki – laki itu mengelap darah yang ada disudut mulutnya.“Ini kediaman keluarga Ardelis?” tanya anak laki – laki itu sambil melihat sekeliling.“Ya Tuan, Gedung ini sudah lama ditinggalkan oleh Marquess.”Anak laki – laki itu menatap batu yang diberikan oleh Loria.“Tuan muda … sebaiknya kita kembali sebelum gelap.”“Aku akan berada disini sebentar,” ucapnya.“Kalau begitu saya akan bersembunyi disekitar sini.” Orang itu segera pergi bersembunyi.Saat ini diluar hutan.Loria berlari menemui Popi.“Nona … apa anda baik – baik saja?” melihat gaun Loria yang sobek membuat Popi Khawatir.“Tenanglah.” Loria melihat ke kanan dan ke kiri.Ia menyuruh Popi untuk menunduk. “Aku menemukan seseorang yang terluka,” bisiknya.“Nona kau-“ Loria menutup mulut Popi.“Aku tidak berpikir kalau dia boc
Arienne melihat penampilan Loria dari atas sampai kebawah. Mengapa penampilannya berbeda? Bibir kecil merah, rambut yang rapi, mata yang indah. Meskipun Loria terlihat kurus tetapi dia terlihat sangat cantik.“S-siapa yang memberikanmu gaun?!!” jari Arienne yang kecil menunjuk Loria dengan gemetar.“Gadis jalanan … apa kau mencurinya?!!” tanya Eva dengan nada suara yang tinggi.PLAK. Suara itu terdengar sangat renyah.“P-popi?!!” Eva memegang pipinya dan melihat Popi dengan mata terbelalak.Loria yang belum sempat membalas perkataan pelayan Arienne merasa terkejut juga, bahkan Arienne sendiri.“Nona Loria juga Nona muda dikediaman ini, jadi kau sebagai pelayan harus sopan padanya,” ucap Popi dengan sopan.“K-kau!” wajah Eva memerah karena kesal.Arienne mengepalkan kedua tangannya dan menatap tajam kearah Loria. Nona? Dia mimpi?!!Merasakan tatapan Arienne, Loria membalasnya dengan senyuman kemenangan.“Popi, ayo kita keruang makan,” ucap Loria.“Baik Nona.” Popi memberi jalan Loria
“Loria?!!” Suasana yang sunyi itu dipecahkan oleh teriakan Marchioness.“Apa kau sudah gila?!!” Marchioness segera memeluk Putranya Elliot.“Loria … apa masalahmu?” tanya Julian dengan heran.Bukankah ini adalah hal biasa? Mengapa sekarang Loria sangat marah?“Sekali lagi … jika kau berani berteriak kepadaku maka bukan hanya wajah yang akan aku pukul.” Loria menatap dingin Elliot dan Kembali duduk menyantap makanannya seolah tidak terjadi apapun.“K-kau!!” Elliot menatap Loria dengan matanya yang memerah karena marah.“Aku akan membalasmu!”“Hentikan!!”“A-ayah?” Elliot tidak menyangka dengan sikap ayahnya.Posisi Marquess sedikit canggung. “Loria adalah saudaramu, jadi kau sekarang bersikap baiklah.”Tawaran Loria dia ruang kerja tadi membuat Marquess berpikir jernih.Ya … dengan penampilan Loria, pasti akan mendapatkan pernikahan yang bagus. Dua putri yang cantik, ini cukup menguntungkan.“Sayang … kau akan membiarkan masalah ini begitu saja?” ini pertama kalinya Marchioness melihat
Cahaya matahari sore yang menyinari kamar membuat ruangan menjadi tampak lebih hangat, kicauan burung yang lembut seolah memberikan ketenangan yang sulit untuk dijelaskan.Loria duduk di kasur kecilnya dan memikirkan apa yang terjadi.Ia mencubit pipinya sendiri cukup keras. “Aaau .. sakit.”“Ini t
Suara pukulan terdengar sangat keras. Loria terus dipukuli oleh seseorang yang tak dikenalnya. Melindungi wajahnya dengan tangannya, Loria terbelalak saat melihat tangannya yang kecil.Ia terus terpaku dengan jari kecilnya.“Hei … lihat lah gadis bodoh ini.” PLAK. Wajah Loria ditampar dengan sanga
Darah masih menetes dari ujung jarinya.Wanita itu berdiri ditengah kegelapan, nafasnya teratur meskipun tubuhnya penuh dengan luka. Dari alat komunikasi ditelinganya terdengar suara gaduh dari kejauhan.“Boss .. misi telah gagal.”“Argh!!”suara teriakan dan kekacuan terdengar samar disana.Sosok







