แชร์

Bab 6. Hutan Terlarang

ผู้เขียน: Ellani
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-31 00:17:01

Bab 6.

Suasana yang tadinya sedikit berisik kini menjadi hening.

“Tuan muda… apa anda baik – baik saja?” seseorang tiba – tiba muncul entah darimana.

“Ini adalah ujian dari ayah … jangan membantuku.” Anak laki – laki itu mengelap darah yang ada disudut mulutnya.

“Ini kediaman keluarga Ardelis?” tanya anak laki – laki itu sambil melihat sekeliling.

“Ya Tuan, Gedung ini sudah lama ditinggalkan oleh Marquess.”

Anak laki – laki itu menatap batu yang diberikan oleh Loria.

“Tuan muda … sebaiknya kita kembali sebelum gelap.”

“Aku akan berada disini sebentar,” ucapnya.

“Kalau begitu saya akan bersembunyi disekitar sini.” Orang itu segera pergi bersembunyi.

Saat ini diluar hutan.

Loria berlari menemui Popi.

“Nona … apa anda baik – baik saja?” melihat gaun Loria yang sobek membuat Popi Khawatir.

“Tenanglah.” Loria melihat ke kanan dan ke kiri.

Ia menyuruh Popi untuk menunduk. “Aku menemukan seseorang yang terluka,” bisiknya.

“Nona kau-“ Loria menutup mulut Popi.

“Aku tidak berpikir kalau dia bocah yang jahat.”

“Tolong ambilkan beberapa makanan untukku dan juga obat,” ucap Loria dengan mata memohon.

Popi hanya bisa menghela nafas dan segera mengambil apa yang diperintahkan Loria.

Beberapa saat kemudian, Popi kembali dengan membawa banyak bawaan.

“Banyak sekali!” Loria sedikit terkejut melihatnya.

“Nona bilang anak itu terluka, jadi aku membawa lebih untuknya.”

Mendengar ini Loria tersenyum puas. Pantas menjadi salah satu pelayan terbaik.

Mereka berdua berjalan menuju Gedung tak berpenghuni dibelakang kediaman Ardelis.

“Nona … ap aini baik – baik saja?” Popi sedikit takut.

“Itu dia.” Loria menunjuk bocah yang tidur bersandar di samping pilar.

“Hei … aku membawakan makanan untukmu.” Loria memberikan makanan kepada anak itu.

“Makanlah … ini sangat enak.”

Anak laki – laki itu membuka matanya perlahan.

“Kau kembali?”

“Ya.”

“Kau tidak takut orang jahat?” anak Perempuan ini sama sekali tidak memiliki kewaspadaan.

Loria duduk disamping pilar.

“Kau tidak bisa melukaiku,” ucap Loria.

Anak laki – laki itu terdiam.

Masuk akal, aku sudah menyerang gadis ini sebelumnya.

“Lagipula,” lanjut Loria.

“Orang yang terluka parah seperti ini tidak terlihat terlalu menakutkan.”

Wajah bocah itu langsung mengeras.

“…..”

Popi yang berdiri diam buru – buru menundukkan kepalanya agar tidak tertawa.

“Siapa namamu?” tanya Loria.

Anak laki – laki itu terdiam cukup lama.

“Ian … namaku Ian.”

“Ian?”

“Ya.”

“Kalau begitu aku Loria.”

Anak laki – laki itu sedikit terpesona dengan senyuman Loria.

Apa ini gadis buruk rupa yang dirumorkan?

Rumor tentang gadis tidak sah keluarga Ardelis sudah tersebar bahkan sampai ketelinganya. Namun gadis didepannya tidak terlihat seperti apa yang dikatakan oleh orang – orang.

Tentu saja rumor seperti ini tidak bisa dipercaya sepenuhnya.

“Apa ada sesuatu diwajahku?” tanya Loria sambil memegang pipinya.

“Tidak ada.” Ian segera mengalihkan pandangannya.

Loria duduk bersila dilantai dan membuka keranjang makanannya.

“Makanlah sebelum dingin.”

Ia menatap Roti dan sup hangat yang disodorkan kepadanya.

Sudah lama tidak ada yang memperlakukannya seperti ini.

Ian segera mengambil Roti itu dan memakannya.

“Kau tidak takut kalau aku meracunimu?” tanya Loria.

“kau tidak terlihat cukup pintar untuk melakukan itu.”

“Hei!”

Loria memukul lengan bocah itu.

Popi yang melihat pemandangan tersebut hanya bisa menghela nafas.

Bagaiman mungkin Nona muda memukul orang yang baru dikenalnya?

Untuk pertama kalinya, sudut bibir Ian terangkat.

“Kau akhirnya tersenyum.” Mata Loria membulat.

“Aku tidak tersenyum.”

“Kau tersenyum.”

“Tidak.”

“Tersenyum.”

“Tidak.”

“Popi, Dia tersenyum kan?”

“Saya rasa begitu, Nona.”

Wajah Ian langsung menggelap.

“Hahaha … jangan pasang wajah seperti itu.”

“Saat kau tersenyum, kau itu sangat tampan,” ucap Loria.

Ian terkejut dan segera menundukkan kepalanya.

“Hei … mengapa tiba – tiba diam?”

Ian mengabaikan Loria dan terus memakan rotinya. “Bodoh,” gumamnya.

“Hmm?”

“Tidak ada,” ucap ian.

Loria mengerutkan kening.

Bocah ini benar – benar aneh.

Dari balik pepohonan, pria yang sejak tadi mengawasi Ian menatap Loria dengan terkejut. Untuk pertama kalinya tuan mudanya terlihat seperti anak seusianya.

“Kalau begitu aku akan pergi.”

Ian yang sedang makan sedikit menghentikan gerakannya.

“Pergi?”

“Ya … aku tidak mungkin tinggal disini sampai malam,” ucap Loria.

Loria berdiri dan menepuk – nepuk gaunnya yang kotor.

“Aku akan membawakan obat lagi besok.”

Mata Ian sedikit membesar.

“Besok?”

“Ya … kalau kau belum mati.”

“….”

“Jangan menatapku seperti itu.” Loria tertawa kecil.

“Aku hanya bercanda.”

Untuk beberapa saat, Ian hanya menatap punggung gadis itu.

Aneh … biasanya ia tidak suka berada didekat orang lain.

“Loria.”

Gadis itu menoleh.

“Apa?”

Ian terdiam beberapa saat.

“Tidak ada.”

“Bocah aneh.”

Loria melambaikan tangannya dan tersenyum.

“Sampai besok Ian.”

Ian tidak mengatakan apa – apa. Ia hanya melambaikan tangannya.

“Tuan muda … kita tidak bisa bermalam disini.” Penjaga yang tadinya bersembunyi akhirnya keluar.

Ian menolah kearah jalan yang tadi dileawati Loria.

Entah mengapa, untuk pertama kalinya aku merasa hari ini tidak terlalu buruk.

“Ayo kembali.”

Mereka berdua pergi berjalan meninggalkan kediaman Ardelis.

Loria yang sudah keluar dari hutan dengan sembunyi – sembunyi, merasa sedikit lega karena tidak ada orang yang melihatnya.

“Hei … apa yang kau lakukan?!!”

Loria melihat kebelakang. Dari semua orang dikediaman ini, mengapa harus bertemu dia?

“Ayah melarang semua orang untuk masuk kedalam hutan.” Julian marah karena Loria melangggar aturan itu.

“Aku tidak tahu kalau ada aturan seperti itu?”

Mengapa itu dilarang?

“Popi sebagai pelayan harusnya kau bisa melindungi tuanmu,” ucap Julian dengan tatapan marah.

Popi segera berlutut. “Maafkan saya tuan … saya seharusnya melarang Nona untuk masuk kedalam hutan.” Ia merasa bersalah karena telah membawa Nona Loria masuk kedalam hutan.

“Ini semua aku sendiri yang memintanya, tidak ada hubungannya dengan Popi.” Loria berdiri didepan Popi untuk melindunginya.

Julian hanya bisa menghela nafas.

“Kau tahu ini adalah batas aman kediaman kita.”

“Jangan sampai kau melewati ini lagi … jika tidak aku akan memberitahu hal ini kepada ayah.”

“Sekarang kembalilah.”

Loria ingin menanyakan sesuatu, tetapi ia menahannya.

Nanti akan aku cari tahu sendiri.

“Ayo Popi.” Loria membantu Popi untuk berdiri.

Melihat Loria sudah pergi, Julian segera memanggil asistennya.

“Perketat penjagaan disekitar sini,” ucapnya.

“Baik Tuan.”

Julian melihat sekeliling lagi dan segera kembali setelah merasa kalau sudah aman tidak ada yang mendekati batas ini.

Saat ini dikamar Loria.

“Maaf Nona … seharusnya aku tidak membiarkan Nona masuk kedalam hutan itu.”

“Jadi mengapa ada Zona aman? Apa disana berbahaya?” tanya Loria.

“Tidak tahu Nona … Marquess hanya melarangnya tetapi tidak memberitahu apa yang ada didalam hutan sana.”

Loria terdiam beberapa saat.

Apa yang ada disana?

Ellani

terimakasih telah membaca novel ini. semoga para pembaca menikmatinya ^^)/

| 1
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • MENIKAHI DUKE TIRAN   Bab 9. Tekad

    “Ibu … aku sudah sangat dipermalukan,” keluh Edelis.“Tenanglah.”“Kirimkan surat untuk Marquess Ardelis sekarang juga,” ucap Duchess.“Sampaikan surat sebelum anak itu tiba dikediaman Marquess.”“Baik Nyonya.”Saat ini dikereta keluarga Marquess Ardelis.“Nona … apa anda sudah lebih baik?” tanya Popi khawatir.Loria mengangguk pelan. “Terimakasih Popi.”Ia menatap kedua tangannya. Sepertinya membutuhkan waktu lama untuk meningkatkan aura.Kereta berjalan dengan sangat lancar dan tiba dikediaman keluarga Ardelis.Popi membantu Loria turun.“Loria!!” Marquess berdiri didepan pintu gerbang dan menghampiri Loria.“Apa yang kau lakukan saat pesta minum teh?”“Tuan … Nona tidak salah.” Popi mencoba untuk membantu Loria.“Kau diam!!” Marquess menatap Popi dengan penuh amarah.“Mulai hari ini kau tidak melayani Loria lagi,” ucap Marquess.“Apa-“Loria memegang rok Popi dan menggelengkan kepala, memberi isyarat agar jangan membelanya.Aku tidak ingin orang disekitarku terluka karena aku.“Ayah

  • MENIKAHI DUKE TIRAN   Bab 8. Pesta Minum Teh

    Cahaya Mentari pagi perlahan masuk melalui celah jendela.Loria mengernyit dan perlahan membuka matanya.“Sudah pagi?”Loria segera Bersiap untuk pergi ke pesta minum teh.Beberapa jam telah berlalu. Popi sangat ketat untuk urusan penampilan, jadi Loria membutuhkan banyak waktu untuk Bersiap – siap.“Nona … anda cantik sekali,” ucap Popi dengan haru.Siapa bilang Nona Arienne yang paling cantik?“Baiklah .. kau telah bekerja keras,” ucap Loria dengan senyum manis.Loria pergi menuju kereta kuda keluarga Ardelis.Dari balik jendela, Arienne melihat Loria menaiki kereta kuda dan tersenyum tipis.“Semoga hari ini adalah hari keberuntunganmu,” gumam Arienne.Kereta kuda berjalan dengan lancar. Loria melihat tangannya yang mengeluarkan aura hitam tipis, kemudian mengepalkan tangannya dengan erat.Aura ini masih sangat lemah.Setelah perjalanan yang cukup memakan waktu. Kereta kuda akhirnya berhenti.Loria turun dari kereta, dibantu oleh Popi.Saat hendak memasuki kediaman, semua tamu undang

  • MENIKAHI DUKE TIRAN   Bab 7. Ruang Rahasia

    Malam hari saat semua orang tidur. Loria mengendap – endap memasuki hutan dan menghindari penjagaan yang sangat ketat.“Hah … jangan remehkan ketua organisasi pembunuh bayaran.”Loria terus jalan memasuki Gedung yang tidak berpenghuni.“Anak laki – laki itu sudah tidak ada,” gumam Loria.Ia terus melanjutkan perjalanannya dan menyalakan lampu sihir kecil yang ia bawa.Melihat sekeliling, Loria tidak menemukan sesuatu yang istimewa.“Mengapa dijaga begitu ketat.”Didalam novel tidak menceritakan apapun tentang ini.Semakin dalam ia berjalan semakin sunyi gedung itu. Cahaya bulan tidak lagi menembus ruangan itu.“Seprtinya tidak ada apa – apa.”TAAAG. Saat Loria berbalik, ia tidak sengaja menginjak sesuatu.Sebuah ruangan bawah tanah muncul.“Waw.” Loria segera menuruni tangga menuju ruang bawah tanah.Ruangan itu terlihat bersih seperti ada yang tinggal disini setiap harinya. Terdapat banyak buku yang tersusun rapi.Loria melihat beberapa buku yang berada di rak buku. Pandangannya terpa

  • MENIKAHI DUKE TIRAN   Bab 6. Hutan Terlarang

    Bab 6.Suasana yang tadinya sedikit berisik kini menjadi hening.“Tuan muda… apa anda baik – baik saja?” seseorang tiba – tiba muncul entah darimana.“Ini adalah ujian dari ayah … jangan membantuku.” Anak laki – laki itu mengelap darah yang ada disudut mulutnya.“Ini kediaman keluarga Ardelis?” tanya anak laki – laki itu sambil melihat sekeliling.“Ya Tuan, Gedung ini sudah lama ditinggalkan oleh Marquess.”Anak laki – laki itu menatap batu yang diberikan oleh Loria.“Tuan muda … sebaiknya kita kembali sebelum gelap.”“Aku akan berada disini sebentar,” ucapnya.“Kalau begitu saya akan bersembunyi disekitar sini.” Orang itu segera pergi bersembunyi.Saat ini diluar hutan.Loria berlari menemui Popi.“Nona … apa anda baik – baik saja?” melihat gaun Loria yang sobek membuat Popi Khawatir.“Tenanglah.” Loria melihat ke kanan dan ke kiri.Ia menyuruh Popi untuk menunduk. “Aku menemukan seseorang yang terluka,” bisiknya.“Nona kau-“ Loria menutup mulut Popi.“Aku tidak berpikir kalau dia boc

  • MENIKAHI DUKE TIRAN   Bab 5. Pertemuan di Hutan

    Arienne melihat penampilan Loria dari atas sampai kebawah. Mengapa penampilannya berbeda? Bibir kecil merah, rambut yang rapi, mata yang indah. Meskipun Loria terlihat kurus tetapi dia terlihat sangat cantik.“S-siapa yang memberikanmu gaun?!!” jari Arienne yang kecil menunjuk Loria dengan gemetar.“Gadis jalanan … apa kau mencurinya?!!” tanya Eva dengan nada suara yang tinggi.PLAK. Suara itu terdengar sangat renyah.“P-popi?!!” Eva memegang pipinya dan melihat Popi dengan mata terbelalak.Loria yang belum sempat membalas perkataan pelayan Arienne merasa terkejut juga, bahkan Arienne sendiri.“Nona Loria juga Nona muda dikediaman ini, jadi kau sebagai pelayan harus sopan padanya,” ucap Popi dengan sopan.“K-kau!” wajah Eva memerah karena kesal.Arienne mengepalkan kedua tangannya dan menatap tajam kearah Loria. Nona? Dia mimpi?!!Merasakan tatapan Arienne, Loria membalasnya dengan senyuman kemenangan.“Popi, ayo kita keruang makan,” ucap Loria.“Baik Nona.” Popi memberi jalan Loria

  • MENIKAHI DUKE TIRAN   Bab 4. Permainan Baru Dimulai

    “Loria?!!” Suasana yang sunyi itu dipecahkan oleh teriakan Marchioness.“Apa kau sudah gila?!!” Marchioness segera memeluk Putranya Elliot.“Loria … apa masalahmu?” tanya Julian dengan heran.Bukankah ini adalah hal biasa? Mengapa sekarang Loria sangat marah?“Sekali lagi … jika kau berani berteriak kepadaku maka bukan hanya wajah yang akan aku pukul.” Loria menatap dingin Elliot dan Kembali duduk menyantap makanannya seolah tidak terjadi apapun.“K-kau!!” Elliot menatap Loria dengan matanya yang memerah karena marah.“Aku akan membalasmu!”“Hentikan!!”“A-ayah?” Elliot tidak menyangka dengan sikap ayahnya.Posisi Marquess sedikit canggung. “Loria adalah saudaramu, jadi kau sekarang bersikap baiklah.”Tawaran Loria dia ruang kerja tadi membuat Marquess berpikir jernih.Ya … dengan penampilan Loria, pasti akan mendapatkan pernikahan yang bagus. Dua putri yang cantik, ini cukup menguntungkan.“Sayang … kau akan membiarkan masalah ini begitu saja?” ini pertama kalinya Marchioness melihat

  • MENIKAHI DUKE TIRAN   Bab 3. Mengubah Alur Cerita

    Cahaya matahari sore yang menyinari kamar membuat ruangan menjadi tampak lebih hangat, kicauan burung yang lembut seolah memberikan ketenangan yang sulit untuk dijelaskan.Loria duduk di kasur kecilnya dan memikirkan apa yang terjadi.Ia mencubit pipinya sendiri cukup keras. “Aaau .. sakit.”“Ini t

  • MENIKAHI DUKE TIRAN   Bab 2. Ini bukan tubuhku!!

    Suara pukulan terdengar sangat keras. Loria terus dipukuli oleh seseorang yang tak dikenalnya. Melindungi wajahnya dengan tangannya, Loria terbelalak saat melihat tangannya yang kecil.Ia terus terpaku dengan jari kecilnya.“Hei … lihat lah gadis bodoh ini.” PLAK. Wajah Loria ditampar dengan sanga

  • MENIKAHI DUKE TIRAN   Bab 1. Pengkhianatan

    Darah masih menetes dari ujung jarinya.Wanita itu berdiri ditengah kegelapan, nafasnya teratur meskipun tubuhnya penuh dengan luka. Dari alat komunikasi ditelinganya terdengar suara gaduh dari kejauhan.“Boss .. misi telah gagal.”“Argh!!”suara teriakan dan kekacuan terdengar samar disana.Sosok

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status