Share

10 Patuh

Menik melepas jaket yang dipakainya dan memberikannya kepada Naryo.

"Nih, makasih. Tapi sorry, jadi bau mbako," ucap Menik.

"Lho, kenapa dilepas, Nik. Aku tidak mengapa jika kamu memakai pakaianku, Nik. Aku ikhlas, suatu kehormatan bagiku saat pakaianku menyentuh kulitmu," jawab Naryo.

"Walah nggak usah nggombal. Dah keburu Maghrib nih. Mau sholat di sini atau pulang?"

"Ehehe, aku pulang aja yaa, Nik. Salam buat Bapakmu," pamit Naryo sambil naik ke atas motornya.

"Kok cuman Bapakku? Nggak nitip salam sama ibuku juga?" Goda Menik.

"Ah, kamu jangan bilang gitu, Nik. Nanti terjadi hal-hal yang tidak diinginkan lho," balas Naryo.

"Maksudmu?"

"Kalau ibumu beneran jatuh cinta sama aku gimana, kan blaen jadinya?"

"Bocah edyan. Dah balik sana!"

Naryo tertawa memamerkan barisan giginya yang rapi. Menik menepuk punggung Naryo sebelum lelaki itu melesat pulang.

'Sebenarnya dia ini ganteng juga. Tapi gayanya, yaa ampuun,' batin Menik.

"Baru pulang, Nik?" Sebuah suara membuyarkan lamunan Menik
Bab Terkunci
Membaca bab selanjutnya di APP

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status