تسجيل الدخول“Siapa yang Celine maksud?” Rakabumi bertanya dengan tak sabar tepat setelah kami menutup pintu ruang pemeriksaan.“Ah...!” Aku memukul pelan tengkuku. “Selama ini aku terlalu fokus pada Fino. Padahal ada seseorang yang keberadaannya lebih krusial, lebih penting daripada dia.”Rakabumi mengernyit dahi. “Kau mengenalnya?”Aku mengangguk. “Bu Edah. Dia wanita paruh baya yang bekerja di rumah Bianca sebelum digantikan dengan Bu Raras.”Rakabumi terdiam cukup lama.“Waktu aku datang ke rumah Bianca dan sengaja memergokinya dengan Juan, di sana ada Bu Edah. Dia menyaksikan semua pertengkaran antara aku dan Bianca, dia pula yang memperingatiku agar berhati-hati,” tuturku“Itu artinya dia adalah saksi besar peristiwa pagi itu?” Rakabumi bertanya lagi.“Bukan hanya pagi itu saja, tapi mungkin semua hal yang Bianca lakukan... dialah saksi mata yang dipaksa bungkam.”Rakabumi menghela napas, lalu secara tiba-tiba ia memukul kepalaku dengan gemas. “Dasar bodoh!” makinya pelan. “Hal seperti ini s
“Jangan terpancing!” Rakabumi menginterupsi begitu kalimat yang Bianca ucapkan langsung membuat Celine berdiri.Aku spontan menggenggam pergelangan tangan Celine. Tubuh gadis itu gemetar hebat, tatapannya tidak lepas dari wajah perempuan yang selama ini ia panggil Mama.Setelah jeda cukup lama, Bianca kembali membuka suara. "Terkait borgol, saya mengakui... itu memang benar."Beberapa wartawan langsung saling berbisik. Flash kamera menyala bertubi-tubi. Bianca kembali mengusap air matanya."Namun itu bukan penyekapan. Saya melakukan itu atas saran tenaga profesional karena putri saya berada dalam kondisi yang membahayakan dirinya sendiri."Brak!Celine membanting telapak tangannya ke atas meja. "Itu bohong!" Air matanya langsung jatuh. “Aarrggh....!” Gadis itu memukul kepalanya dengan kedua tangan.Aku spontan menarik tangannya agar berhenti memukul diri sendiri. Rakabumi akhirnya mematikan layar tablet, dan ruangan kembali hening. Hanya terdengar napas Celine yang mulai tidak beratur
POV KIARAAku masih duduk di ruang tunggu sejak Pak Rakabumi menyuruhku beristirahat. Segelas teh hangat di atas meja sudah lama dingin, tapi tak sedikit pun kusentuh. Kepalaku masih dipenuhi berita tentang Kak Celine yang terus diputar di televisi kantor polisi.Wajah Kakak muncul berkali-kali di layar. Rambutnya berantakan, piyamanya kusut, bekas borgol di kedua tangannya menjadi sorotan semua media.Dadaku kembali sesak.Selama ini aku selalu berpikir Kak Celine tidak akan pernah berpihak padaku, bahwa dia akan terus membela Mama apa pun yang terjadi. Tapi hari ini... ternyata aku salah.Pintu ruang tunggu terbuka perlahan. Pak Rakabumi berdiri di sana sambil menatapku beberapa detik."Kiara,” panggilnya.Aku langsung berdiri. "Iya, Pak?""Sudah siap bertemu Celine?"Jantungku berdegup cepat.Pak Rakabumi berbalik, memberi isyarat agar aku mengikutinya. Aku berjalan di belakangnya melewati lorong kantor polisi yang masih dipenuhi lalu lalang para penyidik. Semakin jauh kami melangk
"Tinggalkan semuanya. Kembali sekarang."Nada suara Rakabumi membuatku tidak bertanya apa-apa. Tepat setelah aku melaporkan penemuan penting kami di rumah Bianca, keadaan dengan cepat berubah.Aku turun dari mobil hampir berlari. Beberapa anggota yang berpapasan denganku hanya sempat memberi hormat sebelum kembali sibuk membawa berkas dan melanjutkan tugas masing-masing.Suasana kantor jauh lebih ramai daripada satu jam lalu. Televisi di ruang tunggu masih menayangkan wajah Celine yang sedang viral. Suara reporter bercampur dengan langkah kaki para penyidik yang hilir mudik memenuhi lorong."Putri keluarga Satvika diduga menjadi korban penyekapan....""Kasus ini menjadi perhatian publik setelah video...."Aku melewati layar itu tanpa berhenti.Kalau Rakabumi memanggilku sekarang, berarti ada sesuatu yang jauh lebih penting."Komandan?""Masuk ke ruang penyidik tiga. Sekarang!” ti
Pintu ruang pemeriksaan menutup perlahan setelah Celine dibawa masuk oleh dua orang penyidik. Tatapanku masih mengikuti langkahnya sampai sosok itu benar-benar menghilang di balik pintu.Entah kenapa, aku masih ingin mengejarnya. Aku ingin memastikan dia baik-baik saja, ingin duduk di sampingnya dan meyakinkannya kalau semuanya akan segera berakhir. Walau aku tahu, itu bohong."Jev." Suara Rakabumi membuyarkan lamunanku.Aku menoleh. Pria itu sudah berdiri beberapa langkah di belakangku sambil membawa map berwarna cokelat."Ikut saya."Aku mengangguk pelan, lalu mengikuti langkahnya menuju ruang rapat.Begitu pintu tertutup, beberapa anggota tim langsung berdiri memberi hormat. Di atas meja sudah terbentang denah rumah keluarga Satvika beserta beberapa foto yang baru saja dikirim tim lapangan."Rumah Bianca sudah kami amankan." Kalimat pertama Rakabumi langsung membuat seluruh ruangan hening. "Saat Celine datang ke kantor polisi, kami bergerak bersamaan. Surat penggeledahan sudah turu
“Akan saya bantu,” jawabnya tanpa banyak bertanya, lalu ia membantuku berdiri.Beberapa orang di sana juga menawarkan kendaraan mereka untuk kutumpangi sampai ke kantor polisi, pemuda-pemuda yang tadi berseru ingin membantu juga tidak hanya membual saja.Bu Raras memanggil salah satu ojek mengikuti iring-iringan yang mengantarku ke kantor polisi. Dia ingin sekali menghampiriku, tapi aku menyuruhnya jaga jarak aman karena aku tidak mau membahayakan keselamatannya.Sepanjang perjalanan, jumlah orang yang mengikutiku semakin banyak. Beberapa berjalan kaki, beberapa mengendarai motor, beberapa lagi sibuk merekam dengan ponsel.Aku bahkan sempat mendengar namaku disebut berkali-kali."Celine Satvika!""Kasihan banget....""Itu ibunya kejam banget sih.""Apa dia korban penyekapan?""Viral banget sekarang."Aku tak merasa malu, justru memang ini tujuanku. Aku
POV KIARAPintu kamar hotel tertutup pelan di belakangku.Aku berdiri beberapa detik tanpa bergerak. Jantungku berdetak terlalu cepat, sementara kedua tanganku terasa dingin meski pendingin ruangan tidak terlalu rendah.Mahen dan istrinya, Rivia, masuk beberapa langkah setelahku. Mereka tampak sant
"Aku belum selesai bicara,” potongku.Senyum Mama sedikit memudar."Aku lakuin ini gak gratis. Mama harus bayar semua kerugian yang aku rasa—rugi waktu dan mentalku!”"Tentu.” Mama menjawab cepat tanpa beban."Aku juga gak mau ada orang yang diancam atau disakiti karena aku."Mama terkekeh pelan. "
Gadis itu memajukan badannya sehingga makin menempel padaku, tatapan mata yang kulihat sinis sejam yang lalu kini berubah sedikit liar menggoda.Aku meneguk ludah ... ‘Jevan Kecil’ di bawah sana mulai kehilangan harga dirinya. Apalagi saat kurasakan Kiara seperti sengaja menggerakan tubuhnya sehing
“Celine, Kiara....” Bianca berteriak tepat saat ia membuka pintu utama rumah mewah yang baru pertama kali kudatangi ini.Dari dua nama yang disebut, hanya satu yang muncul. Seorang gadis dengan daster berwarna merah muda sebatas lutut, matanya sembab seperti orang yang habis menangis. Tatapannya da







