Share

MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA
MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA
Author: stevendeeary

BAB 1

Author: stevendeeary
last update publish date: 2026-05-13 16:59:12

“Celine, Kiara....” Bianca berteriak tepat saat ia membuka pintu utama rumah mewah yang baru pertama kali kudatangi ini.

Dari dua nama yang disebut, hanya satu yang muncul. Seorang gadis dengan daster berwarna merah muda sebatas lutut, matanya sembab seperti orang yang habis menangis. Tatapannya datar, bolak-balik melihatku dan Bianca.

“Celine mana, Kiara?” Bianca masih menggandeng tanganku saat kami menghampiri gadis itu.

“Belum pulang,” jawab gadis itu lalu tatapannya berpindah padaku. “Pacar baru lagi, Ma?”

Bianca terkekeh. “Mama dan Mas Jevan akan menikah minggu depan.”

Kiara terkejut, matanya yang bengkak itu melotot sempurna. “Ni-nikah? Kok bisa? Ah, maksud Kiara... kemarin bukannya Mama pacaran sama Om Alden?”

Kiara menatapku dari atas sampai bawah. “Umur Om berapa? Kok mau sama Mamaku? Mamaku umur 45 loh. Kayaknya Om masih muda.”

Ocehannya sangat berisik, persis seperti Bianca, bikin pusing. Aku hanya nyengir kuda, tapi tetap kutunjukkan ketulusanku.

“Saya mencintai Mama kamu, Kiara,” jawabku lembut, tapi yang kuterima adalah balasan tatapan sinis gadis itu serta decihan kecil seolah ia bisa menebak bahwa aku memang tidak tulus.

Kiara berbalik badan, dari belakang bisa kulihat bentuk tubuhnya yang bahenol persis seperti Bianca tapi versi mini. Bokongnya sintal, memantul mengikuti gerakan kakinya. Indah sekali.

“Mas, kita duduk dulu, yuk. Nanti aku suruh Bibi bikin makanan dan minuman.” Bianca meraba perutku, disertai tatapan menggoda yang membuatku harus mati-matian menahan diri.

Wanita yang baru kukenal tiga minggu yang lalu, tak kusangka dengan mudahnya menerimaku masuk dalam hidupnya. Bermodal kalung berlian, Bianca langsung putus dengan pria yang baru ia pacari dua bulan yang lalu.

Ia pun tak sungkan mengajakku segera menikah setelah kukatakan bahwa aku punya berpetak-petak tanah di kampung halaman. Muda, tampan, dan kaya raya, itulah yang Bianca tahu tentang diriku.

“Om, silakan diminum.” Kiara tiba-tiba datang dengan nampan di tangan. Wajahnya masih sama datarnya, tapi begitu ia menunduk untuk meletakkan nampan di atas meja ... belahan di balik dasternya menyembul di depan mataku.

“Mbak yang kerja di rumah ini lagi sakit, jadi kalau butuh apa-apa panggil aku aja,” kata Kiara lagi.

Kesadaranku kembali setelah bermenit-menit gagal fokus. Begitu Kiara berbalik badan, mataku lagi-lagi terpusat pada bongkahnya. Sial sekali ... kenapa Bianca malah membawaku ke sarang gadis muda cantik seperti Kiara ini.

Waktu sudah menunjukkan jam delapan malam, pintu utama terbuka saat aku dan Bianca sedang berbincang santai. Seorang gadis yang kutaksir usianya lebih dari 20 tahun muncul, wajahnya ramah, terlihat dari senyumnya saat melihatku dan Bianca di sofa ruang utama.

“Siapa, Ma?” tanya gadis itu.

“Celine, kenalkan, calon Papa kamu namanya Jevan.”

Gadis yang kulit wajahnya seperti porselen dengan tahi lalat di bawah mata itu mengangguk, lalu mengulurkan tangan. “Saya Celine, Om. Kakaknya Kiara.”

Kusambut uluran tangan Celine, detik itu juga hatiku berdesir luar biasa.

Mulus, seperti wajahnya. Aroma parfumnya bahkan masih tercium padahal wajahnya terlihat lelah sekali khas budak-budak korporat yang kelelahan selepas bekerja seharian.

“Saya ke kamar dulu ya, Om,” kata Celine.

Ekor mataku melirik, meski Celine tak sebahenol Kiara, tapi kaki jenjang yang terbungkus rok span selutut itu berhasil mencuri perhatianku.

Kuteguk salivaku bulat-bulat, pikiranku mulai berkeliaran ke mana-mana. Bagaimana bisa aku bertahan di dalam rumah berisi tiga bidadari sintal?

“Mas, udah malam banget. Kamu mau nginep aja gak?” Bianca menawarkan, seperti biasa suara lembut dan tatapan matanya membuatku terhipnotis beberapa saat.

“Aku harus ngantor besok, Sayang,” jawabku sembari mengusap kepala wanita itu. “Aku ada meeting dengan klien, gak bisa ditinggal. Ini penentu pernikahan kita minggu depan, kamu mau mahar mewah walau pesta kita sederhana, kan?”

Bianca mengangguk, ia rapatkan duduknya, tubuhnya condong sehingga dadanya yang besar itu menempel tepat di lenganku. Kecupan singkat tapi hangat menyentuh pipiku, sementara satu tangannya mengusap-usap lututku.

“Mas jangan nakal, ya. Kamu udah janji mau serius sama aku sejak kita pertama kali begituan,” bisik Bianca nakal.

Aku tersenyum, tak membantah. Aku memang mengatakan hal itu pada Bianca dalam keadaan sadar saat menikmati tubuhnya di bawah remang lampu hotel bintang tiga.

“Aku boleh numpang ke kamar mandi?” tanyaku segan.

“Aku antar, ya. Tapi kamar mandi di kamarku dan di dekat dapur lagi ada masalah. Aku antar kamu ke kamar Kiara aja, ya.”

Aku hanya mengangguk, tak punya waktu untuk bertele-tele karena sudah di ujung tanduk. Bianca mengantarku sampai ke depan kamar Kiara, ia membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu. Bianca tak ikut masuk, hanya aku dan leherku yang celingak-celinguk mencari pemilik kamar.

“Sepi. Apa gak apa-apa aku pakai kamar mandinya tanpa bilang-bilang?” gumamku.

Ah, masa bodoh, aku sudah tak tahan. Kudorong pintu kamar mandi, dan kutuntaskan hajatku. Aku mendesah lega sembari menekan tombol flush. Selesai sudah.

“Punya Om ternyata gede!”

Aku hampir melompat, tubuhku oleng hampir menabrak dinding. Kiara muncul dari balik gorden yang menutup bathtub. Tubuhnya basah kuyup hanya ditutup tangtop tipis dan celana pendek yang mungkin sebenarnya tak mampu menampung bongkahan panggulnya.

“Ki-Kiara... maaf, saya pikir gak ada siapa-siapa—“

“Sssttt, santai aja, Om. Jangan sok kaget gitu nanti Mama curiga.” Kiara tersenyum sinis, kedua tangannya berkacak di pinggang, menatapku menyelidik.

“Jujur umur Om berapa? Kayaknya masih muda, kayaknya seumuran sama Kak Celine. Om cuma mau morotin Mamaku, kan? Mamaku itu janda kaya raya, mendiang Papaku ninggalin harta buat tujuh turunan!” sergah Kiara menutut.

Aku menelan ludah.

“Kenapa diam? Bener kan tebakanku?” Tangannya terlipat di depan dada, membuat gunung padat itu makin terlihat menantang.

“Ka-kamu salah paham, Kiara. Percuma kalau saya jelaskan, kamu pasti gak akan percaya. Lebih baik kamu tanya Mama kamu sendiri, sekalian tanya kalung berlian yang dia pakai itu dari siapa,” kataku mulai santai.

Kiara terperangah. “Jadi berlian itu dari Om? Wah, aku mau dong.”

Matre! Persis Bianca sekali.

“Nanti kalau kamu resmi jadi anak saya, saya beliin satu set.”

Kiara hampir berteriak, saking girangnya ia melompat ke pelukanku, membuatku yang tak siap otomatis harus memeluknya—menahan tubuh agar tak jatuh. Kedua tanganku refleks membungkus pinggang Kiara, sementara kedua tangan gadis itu memeluk erat leherku.

“Om mau minta apa sama aku? Aku kasih,” katanya, entah polos, entah memang sengaja.

“Mi-minta apa maksud kamu?”

Ia mendongak, tanpa melepas rangkulan di leherku, ia menatapku persis seperti tatapan Bianca yang selalu menggoda. “Jangan pura-pura polos, Om. Aku udah 19 tahun loh.”

“Terakhir kali aku minta iphone sama dosenku langsung dibeliin, tapi hampir tiap hari aku ciuman sama dia.”

Aku melotot. “Ci-ciuman?”

Gila nih anak! Batinku mulai kacau.

“Iya, sambil pangku-pangkuan. Nanti kalau Om udah jadi Papaku, Om minta aja sama aku. Aku kasih....”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA   BAB 127

    “Mas, ini helmnya.”Aku menerima helm yang diberikan pemilik losmen, kemudian menyerahkan uang sewa motor untuk beberapa jam. Setelah memastikan alamat kantor Bianca yang diberikan Kiara sudah tersimpan di ponsel, aku langsung berangkat.Jaraknya tidak terlalu jauh. Namun karena sudah lama tidak kembali ke kota ini, beberapa jalan terasa asing meskipun aku pernah melewatinya berkali-kali selama penyelidikan.Aku sengaja memilih motor karena tidak ingin menarik perhatian. Sejak namaku mulai muncul di media, berada di dalam mobil pribadi terasa seperti mengundang orang untuk memperhatikanku. Dengan masker dan topi, setidaknya aku bisa bergerak tanpa terlalu banyak dihentikan.Hampir empat puluh menit kemudian, aku sampai di depan gedung perusahaan yang sekarang sedang ditangani Celine dan Valisa.Aku mematikan mesin dan turun dari motor. Dari luar, gedung itu masih terlihat seperti perusahaan biasa. Tidak ada lagi penjagaan berlebihan seperti yang pernah kulihat sebelumnya. Hanya bebera

  • MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA   BAB 126

    POV JEVANAku menatap pesan Kiara cukup lama sebelum akhirnya membalas dan mengirimkan alamat losmen tempatku menginap. Tidak sampai satu jam kemudian, sebuah mobil berhenti di depan penginapan.Kiara turun sendirian dengan pakaian yang jauh lebih santai, tubuhnya juga sedikit lebih kurus, tetapi langkahnya masih tegap ketika berjalan menghampiriku yang sedang duduk di teras.“Om Jevan,” sapanya dengan senyum yang tak pernah berubah, tapi yang kusadari binar di matanya tak lagi secerah saat dia masih jatuh hati padaku.Aku berdiri dan mempersilakannya masuk. “Masuk aja.”Kiara mengikuti langkahku ke dalam kamar. Matanya sempat berhenti pada mangkuk mie instan yang sudah kosong di atas meja sebelum akhirnya dia duduk di kursi yang berada di depan tempat tidur.Aku ikut duduk sambil memperhatikannya. Ada sesuatu yang membuatnya datang langsung ke sini, bukan sekadar mengirim pesan.“Aku mau

  • MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA   BAB 125

    POV JEVANSudah satu minggu berlalu sejak kasus Bianca dan para mafia pelabuhan berakhir. Aku lebih banyak menutup diri, pergi jauh dari keramaian kota, membuang semua bukti perjalananku selama 2 tahun terakhir.Meski sesekali kudengar desas-desus tentang kasus itu masih dibicarakan di mana-mana. Aku juga melihat wajah Rakabumi sesekali muncul di televisi.Aku menghela napas panjang, aku tak ingin membuang waktuku meladeni berita-berita itu lagi. Tugasku sudah selesai, berarti cukup.“Kamu beneran gak mau pulang?” Suara Nadira menegurku.Aku mengalihkan pandanganku dari hamparan sawah dan pemandangan gunung di depan sana, beralih pada sosok perempuan yang sudah hampir dua minggu menemaniku di sini... ya, menjadi teman mengobrol—atau sesekali teman ranjangku.“Gak kangen sama Celine?” tanyanya lagi.Aku mengangkat bahu. Sejak kasus itu berakhir pula, aku tidak pernah bertukar kabar dengan Celine atau pun Kiara. Aku mencoba menghubunginya tetapi dia tidak pernah menjawab telepon atau me

  • MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA   BAB 124

    POV JEVANRuang sidang kembali hening setelah seluruh bukti dan kesaksian selesai disampaikan. Tidak ada lagi perdebatan dari pihak pembela. Bahkan pengacara Bianca yang sejak awal terus mencari celah kini hanya duduk sambil membaca berkas di hadapannya.Hakim memeriksa beberapa dokumen terakhir sebelum akhirnya mengangkat wajah. “Setelah mempertimbangkan seluruh keterangan saksi, barang bukti, dokumen, rekaman pemeriksaan, serta pembelaan dari masing-masing terdakwa, majelis hakim telah mengambil keputusan.”Aku tanpa sadar menegakkan tubuh. Di sebelahku, Rakabumi juga tidak bergerak. Kami sama-sama menunggu.Hakim mulai membacakan pertimbangan putusan dengan suara tenang dan tegas. Satu per satu perbuatan para terdakwa disebutkan kembali, termasuk keterlibatan Bianca dalam pembunuhan Rendra, manipulasi aset dan dokumen perusahaan, serta hubungannya dengan jaringan kejahatan yang selama ini dijalankan bersama orang-orang di b

  • MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA   BAB 123

    POV JEVAN“Bukan aku, tapi keluarga Luan sendiri yang ingin melempar bangkai kepada kita....”Rakabumi menarik napas sebentar kemudian melanjutkan, “Juan dan semua kejahatan yang selama ini mereka lakukan bersama.”Aku tidak bertanya lebih jauh. Selama ini, semua orang juga tahu Juan memang terlibat dalam pekerjaan kotor keluarga Bianca, termasuk urusan membuang mayat anak buah mereka di sekitar pelabuhan.Dengan kondisinya yang hampir mendekati cacat pasca penyiksaan yang Bianca lakukan padanya, rupanya Nyonya Luan memanfaatkan Juan sebagai jalan terakhir untuk menyelamatkan dirinya sendiri.“Semua mafia pelabuhan juga sudah tertangkap,” lanjut Rakabumi. “Mereka satu per satu mulai memberikan kesaksian. Informasi yang diberikan Nyonya Luan juga sudah kami cocokkan dengan bukti yang ada.”Aku mengangguk. Tidak ada lagi yang perlu kami cari. Bianca sudah mengakui pembunuhan Rendra, sementara bukti terhadap Nyonya Luan dan Juan juga sudah cukup kuat. Semua orang yang terlibat dalam jari

  • MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA   BAB 122

    BAB 122POV BIANCAPertanyaan Jevan membuatku terdiam cukup lama. Selama bertahun-tahun, tidak ada seorang pun yang berani menanyakan hal itu langsung kepadaku. Mereka hanya melihat hasil akhirnya, lalu menyimpulkan sendiri apa yang terjadi.Aku menatap meja di hadapanku sebelum akhirnya mengangkat wajah.“Karena Rendra tahu semuanya.”Jevan tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menungguku melanjutkan.“Dia tahu kalau Celine dan Kiara bukan anak kandungnya.”Aku menarik napas panjang. “Dulu, sebelum Celine dan Kiara lahir, saya punya hubungan dengan laki-laki lain. Saya selingkuh dari Rendra. Ketika semuanya terbongkar, dia akhirnya tahu bahwa kedua anak yang selama ini dia besarkan bukan darah dagingnya.”Aku masih ingat bagaimana wajah Rendra saat mengetahui semuanya. Tidak ada teriakan, tidak ada benda yang dilempar. Justru ketenangannya saat itu yang membuatku takut. Aku tau dia pasti menyimpan rencana lebih besar untuk membalasku.“Rendra marah, bukan hanya karena saya berselingkuh,

  • MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA   BAB 4

    “Ya sudah, saya antar kamu ke klinik—““Boleh antar aku ke hotel aja, Om? Aku mau tinggal beberapa hari di sana sampai baikan sama Mama,” kata Celine memotong.Kupatuhi permintaannya, kugendong gadis langsing itu dan duduk di mobil. Dia mengucapkan terima kasih, wajahnya memerah mungkin karena malu

  • MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA   BAB 3

    Aku mengerang panjang sambil melepas semuanya ke atas perut Nadira. Perempuan cantik sepantarakan denganku yang sudah hampir satu tahun ini menjadi partner ranjangku. Pasangan tanpa status, hanya untuk bersenang-senang.Kuraih semua pakaianku dan kupakai seperti semula, kotak rokok dan korek gas di

  • MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA   BAB 2

    Gadis itu memajukan badannya sehingga makin menempel padaku, tatapan mata yang kulihat sinis sejam yang lalu kini berubah sedikit liar menggoda.Aku meneguk ludah ... ‘Jevan Kecil’ di bawah sana mulai kehilangan harga dirinya. Apalagi saat kurasakan Kiara seperti sengaja menggerakan tubuhnya sehing

  • MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA   BAB 5

    “Gak sanggup? Payah kamu, Jev.” Nadira mengejek. “Mau makan dulu gak sama aku? Aku juga masih nunggu orang.”Sepertinya tawaran Nadira tak bisa ditolak. Kami pergi ke sebuah restoran tak jauh dari hotel, memesan makanan, dan duduk tenang menikmati makanan. Sesekali berbincang agar tak terlalu henin

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status