共有

BAB 5

作者: stevendeeary
last update 公開日: 2026-05-13 17:01:19

“Gak sanggup? Payah kamu, Jev.” Nadira mengejek. “Mau makan dulu gak sama aku? Aku juga masih nunggu orang.”

Sepertinya tawaran Nadira tak bisa ditolak. Kami pergi ke sebuah restoran tak jauh dari hotel, memesan makanan, dan duduk tenang menikmati makanan. Sesekali berbincang agar tak terlalu hening.

Jujur saja, di antara aku dan Nadira tidak pernah ada pembahasan penting kecuali saat kami saling membutuhkan di atas ranjang. Hubungan kami murni pertemanan dan saling menguntungkan, karena kalau soal perasaan aku tidak yakin Nadira orang yang mudah membuka hati hanya karena seks.

Ponselku berdering lagi, tapi kali ini bukan telepon yang kuterima, melainkan sebuah pesan gambar dari Bianca.

“Astaga!” Aku meremas rambutku, frustrasi.

“Hm? Kenapa, Jev?”

Kusodorkan ponselku pada Nadira, detik itu juga ia ikut terkejut. Ada seseorang yang mengikuti kami, mengambil foto kami saat keluar dari hotel dan juga canda kecil yang kami lakukan beberapa menit sebelum makan.

Foto itu dikirimkan oleh Bianca disertai permintaan mengakhiri hubungan malam ini juga. Ia mengira aku telah berselingkuh.

“Wah, Jev, kenapa jadi begini? Kamu gak bisa kehilangan target cuma karena makan malam sama aku,” kata Nadira.

Kuacak rambutku pelan, pusing sekali.

“Pergi, Jev. Temui Bianca sekarang, bujuk dia sampai hubungan kalian balik lagi. Dia cuma ngambek,” kata Nadira.

Aku tak menjawab, diputusin Bianca sama saja cari mati. Hanya wanita itu satu-satunya jalanku untuk mengembalikan posisi dan karirku. Hanya Bianca yang bisa membantuku membalaskan dendam pada mendiang suaminya.

Aku mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompet dan meletakkannya di atas meja. “Untuk bayar makan malam kita. Aku pergi dulu, Nad.”

Nadira mengangguk, nampak wajahnya khawatir melihat kegelisahanku.

Lalu lintas malam ini cukup ramai, fokusku hanya agar cepat sampai ke rumah Bianca. Gerbang rumah mewahnya masih terbuka lebar, ada sebuah mobil terparkir di halaman sana. Kulihat, seorang pria berdiri di depan teras, dan Bianca dengan pakaian terbaiknya baru saja muncul di depan pintu.

“BIANCA!” panggilku lantang.

Wanita itu menoleh, terkejut melihat kedatanganku, pria yang ada di sebelahnya malah heran melihatku.

“Ngapain kamu ke sini, Mas? Aku gak mau ketemu sama kamu!” Bianca marah, bibir bergincu merah itu mencebik kasar. “Kamu selingkuh!”

Kutarik pergelangan tangan Bianca dengan lembut. “Sayang, dengarkan penjelasan aku dulu. Kamu salah paham, perempuan yang ada di foto itu... itu klien—“

“Alasan!” potong Bianca. “Klien apa yang ngajak ketemuan di hotel? Kamu pikir aku bodoh, kamu bohongin aku, Mas. Kamu bilang balik ke kantor, tapi nyatanya malah berduaan sama perempuan lain.”

Wajah Bianca memerah. “Aku sadar aku udah tua, mungkin aku gak cukup menarik di mata kamu, makanya kamu selingkuh sama yang lebih muda!”

“Bianca, Sayang—“

“JANGAN PANGGIL AKU SAYANG. SANA PERGI!” usirnya kasar, ini pertama kalinya aku mendengarnya berteriak berang.

Bianca menarik tangan pria yang sejak tadi hanya memerhatikan perdebatan kami, mereka masuk ke mobil dan pergi. Entah ke mana, tapi dari kaca mobil itu aku bisa melihat Bianca menangis dan menyandarkan kepalanya di pundak pria itu.

Aku menghela napas.

Apakah usahaku yang sudah hampir masuk ke babak baru harus gagal sampai di sini?

Kugelengkan kepalaku kuat-kuat, kakiku merosot di teras, duduk dengan perasaan kacau. Bukan karena putus cinta, tapi rasa khawatir yang amat besar tidak bisa melanjutkan misi karena Bianca tak mau memaafkanku.

Lihat saja tadi, wanita itu langsung pergi dengan pria lain.

Berarti benar perkataan Celine tadi, Bianca merasa dirinya bebas bergonta-ganti pasangan.

“Pak, silakan masuk dulu, sebentar lagi hujan,” kata wanita paruh baya yang tadi siang menegurku.

Aku menggeleng. “Saya langsung pulang aja.”

“Aduh, maafin Nyonya Bianca ya, Pak. Nyonya kalau lagi marah emang begitu, tapi marahnya gak lama kok. Nanti Pak Jevan bisa ajak Nyonya ngobrol lagi kalau marahnya udah reda.”

Aku berpikir sebentar. “Masih bisa dibujuk gak, Mbak?”

Wanita itu terkekeh. “Pak Jevan cinta mati ya sama Nyonya?”

Aku melotot, geli sekali mendengarnya. Tapi kujawab sambil nyengir canggung, “I-iya, Mbak.”

Gemuruh besar menyambar di langit, wanita itu menawarkan aku masuk ke rumah dan kali ini aku tidak bisa menolak. Lagi pula, siapa tahu tak lama lagi Bianca pulang. Aku akan membujuknya sekali lagi.

Secangkir kopi dan kudapan terhidang di meja, aku menyesap nikmat minuman menenangkan itu. Hujan deras disertai petir menyambar-nyambar di luar sana, aku bersyukur berteduh sebentar di sini.

“Gimana rasanya diomelin Mama?” Kiara muncul dari balik tembok, nada bertanyanya mengejekku.

Gadis itu duduk tak jauh dari sofaku, celana pendeknya sedikit terangkat menampilkan celah tipis lipatan pahanya. Tangtop ketat berwarna merah muda berdada rendah, menampilkan garis gunung kembarnya yang sesak di dalam sana.

“Kamu gak dingin pakai baju kayak gitu?” tanyaku.

“Ah, aku udah biasa,” jawabnya. “Om, kasih tahu dong, gimana rasanya diambekin Mama?”

Aku mencebik. “Memangnya kamu lihat saya berantem sama Mama kamu?”

Kiara tertawa. “Tahu dong, kan Mama cemburu buta gara-gara foto yang aku kasih.”

Aku melotot, punggungku tegak spontan. “Maksud kamu apa, Kiara?”

“Oops... keceplosan, tapi ya udah, deh. Maaf ya, Om, aku tadi ketemuan sama temanku dekat hotel Aston. Terus aku lihat Om keluar dari hotel sama cewek, aku penasaran terus aku ikutin. Aku pikir Om selingkuh,” katanya santai, tapi wajahnya menunjukkan rasa bersalah.

“Ya ampun, Kiara. Saya gak selingkuh,” tandasku tak terima.

“Aku cuma gak mau Mama salah pilihi laki-laki, aku gak mau Mamaku gampang luluh cuma karena kalung berlian. Toh, masih banyak pria lain di luar sana yang bisa ngasih Mamaku berlian sekilo tanpa harus selingkuh,” kata Kiara membela diri.

Kulempar punggungku ke sandaran sofa. “Kiara, lain kali jangan begitu. Kamu tahu saya sangat mencintai Bianca, dan sekarang Bianca marah, kami putus dan dia malah pergi dengan laki-laki lain. Semua karena salah paham.”

Kiara menunduk, aku pun jadi tak tega karena telah berbicara dengan nada tinggi padanya.

Hening sesaat, kuseruput lagi kopiku sampai habis.

“Om, aku bisa kok bantu Om baikan sama Mama, aku akan bilang ke Mama kalau aku cuma asal nuduh aja,” kata Kiara.

Gadis itu bangun dari kursi, menghampiriku dan meraih tanganku. “Ayo, aku tunjukin sesuatu yang bisa bikin Mama gak marah lagi.”

Kuikuti langkahnya, tapi ternyata Kiara mengajakku masuk ke kamarnya. Gadis itu mengunci pintu lalu mendorongku sampai aku duduk di tepi ranjang.

“Puasin aku dulu, Om. Nanti biar aku ngomong ke Mama biar kalian baikan.”

Aku membelalak, kutelan liurku bulat-bulat saat Kiara mulai melepas pakaian luarnya, menyisakan bra dan celana dalam.

‘Jevan Kecil’ku mengencang di bawah sana, kepalaku juga mulai kehilangan kewarasannya. Kiara naik ke pangkuanku, ia juga memaksa kedua tanganku agar merengkuh pinggangnya. Posisi kami saling berhadapan, bongkahan padat menggoda tertutup bra miliknya mengacung di depan wajahku.

Kiara menggerakan pinggulnya perlahan, membuat milikku di bawah sana semakin sesak.

Gadis itu berbisik, “Aku tau, Om tadi siang lihat aku lagi main sendirian. Jadi Om harus puasin aku sekarang, dan sebagai jaminannya... Om pasti jadi Papa tiriku.”

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA   BAB 111

    POV KIARA"Mama harus tahu..."Hanya kalimat itu yang terus berputar di kepalaku sejak Komandan Rakabumi mengatakan operasi penangkapan akan dilakukan malam ini.Aku menundukkan kepala, berpura-pura masih sibuk mengusap air mata. Dari sudut mataku, kulihat Om Jevan dan anggota kepolisian lainnya kembali membahas tumpukan berkas di atas meja. Tidak ada lagi yang memperhatikanku. Mereka menganggap aku hanya seorang gadis yang masih trauma setelah hampir diculik.Kalau aku tetap berada di sini, malam nanti semuanya akan terlambat.Mama harus tahu. Nyonya Luan juga harus tahu.Tapi bagaimana caranya?Aku menggigit pelan bibir bawahku sambil mengepalkan kedua tangan di atas pangkuan. Ponselku sudah lama tidak ada. Semua jalur komunikasi denganku diputus sejak semalam. Bahkan kalau sekarang aku nekat keluar dari kantor polisi, Om Jevan pasti langsung mengejarku.Sial...Seketika aku langsung menyesal datang ke sini. Tapi jika tidak, aku tak akan tahu kalau polisi sudah bertindak sejauh ini.

  • MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA   BAB 110

    POV JEVANRuang rapat di lantai tiga masih dipenuhi suara lembaran berkas yang dibolak-balik sejak aku datang satu jam lalu. Papan tulis di depan ruangan semakin sesak oleh foto-foto, denah bangunan, hingga garis merah yang menghubungkan satu nama dengan nama lainnya. Beberapa anggota sibuk menyusun laporan terbaru, sementara Rakabumi berdiri di depan papan sambil memperhatikan seluruh perkembangan yang berhasil kami kumpulkan sejak semalam. Anehnya, dari semua bukti yang kini berada di depan mata, pikiranku justru terus kembali pada satu orang.Nadira.Aku kembali menekan tombol panggil di ponsel untuk kesekian kalinya. Nada sambung hanya terdengar beberapa detik sebelum akhirnya terputus begitu saja. Tidak ada jawaban. Tidak ada pesan. Tidak ada satu pun tanda yang menunjukkan perempuan itu baik-baik saja. Jemariku tanpa sadar mengetuk pelan permukaan meja, kebiasaan yang selalu muncul setiap kali pikiranku mulai dipenuhi firasat buruk.Rakabumi yang sedari tadi memperhatikan l

  • MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA   BAB 109

    POV NADIRAAku mengenali perempuan yang berdiri di ambang pintu itu.Wajahnya masih terlihat pucat, salah satu tangannya masih terpasang infus yang menggantung pada tiang penyangga.Namun sorot matanya sama sekali tidak menunjukkan seseorang yang baru saja sadar setelah berhari-hari terbaring di rumah sakit.Ruangan mendadak sunyi.Kiara yang sejak tadi berdiri di depanku perlahan melepaskan cengkeramannya pada kerah bajuku. Ia mundur satu langkah, memberi jalan tanpa diminta. Nyonya Luan yang sejak tadi mengawasi dari luar juga ikut menyingkir ke samping, membiarkan perempuan itu masuk lebih dulu."Mama..." suara Kiara terdengar jauh lebih pelan dibanding bentakannya beberapa detik lalu.Bianca tidak langsung menoleh kepadaku. Tatapannya justru berhenti pada meja yang terguling dan foto-foto yang berserakan di lantai. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia berjalan mendekat, lalu membungkukkan badan perlahan untuk memunguti satu per satu lembar foto itu."Apa yang kamu lakukan?" tan

  • MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA   BAB 108

    POV NADIRAAku tidak tahu sudah berapa lama berada di ruangan itu. Jam dinding terus berdetak pelan, tetapi tidak ada seorang pun yang masuk sejak Nyonya Luan meninggalkanku beberapa saat lalu. Ruangan VIP itu memang terlihat nyaman, lengkap dengan sofa, tempat tidur, dan kamar mandi pribadi. Namun bagiku, semua itu tidak lebih dari sebuah sangkar yang dibuat semewah mungkin.Pelan-pelan aku bangkit dari kursi, lalu berjalan menuju pintu. Jemariku mencoba memutar kenopnya beberapa kali, berharap kuncinya hanya macet. Namun hasilnya tetap sama. Aku mengetuk pintu dari dalam sambil memanggil pelan, "Permisi... ada orang di luar?" Tidak ada jawaban. Lorong di balik pintu tetap sunyi, membuatku sadar mereka memang sengaja mengunciku di sini.Aku baru saja berbalik ketika suara kunci diputar dari luar membuat langkahku terhenti. Pintu terbuka perlahan, memperlihatkan Kiara yang masuk sambil membawa sebuah map cokelat tipis. Wajahnya sudah tidak lagi dipenuhi air mata seperti semalam. Ta

  • MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA   BAB 107

    POV KIARASuara pintu apartemen yang menutup otomatis menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar di ruangan itu.Aku tetap berdiri beberapa saat di balik pintu, memastikan langkah kaki Om Jevan benar-benar menjauh. Beberapa detik kemudian terdengar suara lift terbuka, disusul dentingan pelan saat pintunya kembali menutup.Barulah aku mengembuskan napas panjang.Tatapanku perlahan berkeliling ke seluruh isi apartemen. Semalam aku memang datang ke tempat ini, tetapi pikiranku terlalu kacau untuk memperhatikan apa pun. Baru sekarang aku benar-benar melihat setiap sudut ruangan yang selama ini menjadi tempat tinggal Om Jevan.Apartemen itu terlihat rapi. Lebih kecil dari apartemen yang pernah kutinggali saat Om Jevan mengajakku untuk pertama kali.Aku berjalan pelan menuju ruang kerja yang berada di samping ruang tamu. Pintu kayunya tidak terkunci. Begitu kubuka, sebuah meja kerja berukuran besar langsung menyambut pandanganku. Di atasnya hanya ada sebuah laptop, beberapa map, tempat pulpe

  • MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA   BAB 106

    Aku meninggalkan Jenderal Adhitama tanpa berkata apa-apa lagi. Beberapa anggota yang sejak tadi berdiri di sekitar halaman langsung memberi jalan ketika aku melintas. Tidak ada yang berani menghentikanku. Suasana kantor polisi pagi itu terasa jauh lebih tegang dibanding biasanya.Begitu memasuki gedung utama, langkahku langsung mengarah ke ruang istirahat. Pintu yang sedikit terbuka memperlihatkan Rakabumi sedang duduk di sofa sambil memegang secangkir kopi yang hampir habis. Di sampingnya, Celine terlihat memeluk kedua lututnya sendiri di atas sofa, sementara Valisa berdiri di dekat jendela dengan tangan terlipat di depan dada. Ketiganya serempak menoleh begitu aku masuk."Mas!" Celine langsung berdiri. Raut wajahnya yang sejak tadi dipenuhi kecemasan seketika berubah penuh harap. "Kiara gimana? Dia baik-baik aja?"Aku mengangguk pelan sambil menutup pintu di belakangku. "Dia selamat."Kalimat singkat itu cukup membuat Celine mengembuskan napas lega. Bahunya yang sejak tadi tegang pe

  • MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA   BAB 4

    “Ya sudah, saya antar kamu ke klinik—““Boleh antar aku ke hotel aja, Om? Aku mau tinggal beberapa hari di sana sampai baikan sama Mama,” kata Celine memotong.Kupatuhi permintaannya, kugendong gadis langsing itu dan duduk di mobil. Dia mengucapkan terima kasih, wajahnya memerah mungkin karena malu

  • MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA   BAB 3

    Aku mengerang panjang sambil melepas semuanya ke atas perut Nadira. Perempuan cantik sepantarakan denganku yang sudah hampir satu tahun ini menjadi partner ranjangku. Pasangan tanpa status, hanya untuk bersenang-senang.Kuraih semua pakaianku dan kupakai seperti semula, kotak rokok dan korek gas di

  • MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA   BAB 2

    Gadis itu memajukan badannya sehingga makin menempel padaku, tatapan mata yang kulihat sinis sejam yang lalu kini berubah sedikit liar menggoda.Aku meneguk ludah ... ‘Jevan Kecil’ di bawah sana mulai kehilangan harga dirinya. Apalagi saat kurasakan Kiara seperti sengaja menggerakan tubuhnya sehing

  • MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA   BAB 1

    “Celine, Kiara....” Bianca berteriak tepat saat ia membuka pintu utama rumah mewah yang baru pertama kali kudatangi ini.Dari dua nama yang disebut, hanya satu yang muncul. Seorang gadis dengan daster berwarna merah muda sebatas lutut, matanya sembab seperti orang yang habis menangis. Tatapannya da

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status