INICIAR SESIÓNAku mengerang panjang sambil melepas semuanya ke atas perut Nadira. Perempuan cantik sepantarakan denganku yang sudah hampir satu tahun ini menjadi partner ranjangku. Pasangan tanpa status, hanya untuk bersenang-senang.
Kuraih semua pakaianku dan kupakai seperti semula, kotak rokok dan korek gas di atas meja juga kumasukkan ke dalam kantung celana.
“Kamu mau langsung ke kantor, Mas?” Nadira bertanya sembari mengancing kemejanya sendiri.
“Iya, abis itu mau ketemu Bianca.”
Nadira tertawa. “Enakan mana? Aku atau Bianca?”
Aku melirik Nadira, kuhampiri dan kukecup dahinya. “Kamu,” jawabku jujur. “Bianca cantik sih, tapi udah tua. Kamu ngerti maksudku, dia udah sering gonta-ganti pasangan juga.”
Nadira manggut-manggut, tapi kulihat dia amat bangga dengan penilaianku.
“Tapi gak tahu juga kalau aku nyobain salah satu antara Celine atau Kiara. Daun muda selalu menantang,” kataku.
Lagi Nadira tertawa. “Brengsek kamu, Mas. Dapat Ibunya, mau nyobain anaknya juga. Kamu ini dikasih misi sama komandan, bukan buang-buang sperma.”
“Bedanya sama kamu apa, Nadira. Kita ini sama gilanya.”
Tawa kami meledak. Baik aku atau pun Nadira, kami tak pernah marah atau merasa tersindir sama sekali dalam ajang adu dosa. Toh, kami yang memilih jalan hidup seperti ini.
Aku bergegas keluar dari bilik peraduan, lalu pergi ke sebuah kedai kopi di mana komandan kami sering mengajak bertemu untuk membahas pekerjaan. Tidak di kantor, tidak dalam situasi yang resmi, tapi tugasku juga tidak main-main.
“Sudah puas main-main belum?” Rakabumi bertanya—dia komandan yang masih percaya padaku sampai detik ini. “Saya dengar kamu mau menikahi Bianca, memangnya harus sampai sejauh itu?”
“Bianca Satvika bukan orang sembarang, Komandan. Kalau sekedar berpacaran, dia pasti bisa meninggalkan saya demi laki-laki lain,” jawabku percaya diri.
Rakabumi mengangguk, lalu menyodorkan sebuah amplop cokelat kepadaku. “Bukti ke enam yang saya dapatkan dari anak buah saya. Bukti bahwa mendiang Rendra Satvika pernah menjadi bagian dari perdagangan ilegal kapal Montana.”
“Bisnis itu ada, tapi jejaknya disembunyikan. Saya yakin, Bianca masih mengelola. Tugasmu adalah mencari siapa-siapa saja orang yang bekerja sama dengan Bianca sampai sekarang, dan telusuri apakah mereka juga terjaring dalam bisnis tersebut,” kata Rakabumi mantap tanpa basa-basi.
Kubuka tali yang menutup amplop, kubaca sekilas halaman pertama dalam dokumen tersebut. Dahiku mengerut samar, tapi dalam hatiku menggeram pelan. Inilah bukti yang kucari-cari, bukti yang seharusnya bisa menyelamatkan karirku.
“Saya izin membawa dokumen ini, Komandan.”
Rakabumi mengangguk. “Kapan pernikahanmu dan Bianca dilaksanakan? Apakah akan ada pesta mewah?”
Aku menggeleng. “Pesta akan kami gelar secara privat minggu depan. Bianca meminta pesta mewah, tapi saya memberinya mahar besar untuk mengganti biaya pesta.”
Bisa hancur semua rencana kalau bikin pesta besar. Pasti akan ada salah satu tamu yang mengenalku sebagai mantan polisi.
Aku pamit pulang, lalu keluar dari kedai kopi itu melalui pintu lain agar tidak ada orang yang curiga. Bertepatan dengan ponselku yang berdering, kulihat nama Bianca di layar.
“Ck, kenapa dia selalu gak sabaran, sih?” Aku buru-buru masuk ke mobil dan mengangkat panggilan. “Hallo, Sayang?”
“Mas, gimana kerjaan hari ini? Meeting dengan kliennya lancar?” Bianca bertanya lembut di sana.
Inilah yang kusuka dari Bianca, wanita itu sering sekali bertanya tentang kegiatanku, tidak langsung bermanja, tapi cukup memperhatikan diriku. Dia sangat berpengalaman membuat pria-pria nyaman bersamanya.
“Lancar, Sayang. Kamu di rumah, kan? Aku mau ke rumahmu.”
Bianca tak menjawab, sebaliknya ia malah mematikan telpon. Tak lama setelah itu, sebuah pesan masuk. Bianca mengirim fotonya berbaring di ranjang tanpa sehelai benang pun menempel di tubuhnya, posenya menggoda, seolah seluruh gambar khusus menangkap keindahan tubuhnya.
Aku melotot, jantungku mencelos, tak munafik pemandangan segar ini membuat ‘Jevan Kecil’ mulai sesak di bawah sana.
Bianca: Udah siap diapa-apain sama kamu Mas.
Tanganku gemetar, kuletakkan ponsel itu di jok samping, kutarik dan kuhela napas berkali-kali guna menghilangkan gugup.
“Sinting benar!” gumamku, dan dengan tak sabar kunyalakan mesin mobil, kutarik gigi dan kuinjak gas. Fokusku terbelah, antara isi dokumen yang kusimpan di dalam laci dasbor, atau tubuh Bianca yang aduhai.
Mobilku melewati jalan-jalan pintas agar cepat sampai, dan begitu tiba di halaman rumah mewah yang baru kukunjungi semalam kakiku berlari tak sabar untuk menekan tombol bel.
“Cari siapa, Pak?” Seseorang yang sedang memegang sapu lidi dan pengki menegurku.
“Oh, maaf... saya Jevan, mau cari Bianca.”
Wanita paruh baya itu mengangguk. “Oh, Pak Jevan, ya? Silakan masuk, Pak, tapi Nyonya Bianca baru aja pergi, katanya cuma sebentar mau mampir ke minimarket.”
Aku agak kecewa, tapi ya sudahlah. Kulangkahkan kakiku masuk ke rumah itu, sepi. Namun samar-samar bisa kudengar suara cekikikan kecil dari kamar Kiara. Sepertinya gadis itu tidak kuliah hari ini.
Bukannya duduk di sofa, aku malah penasaran. Aku melangkah mindik-mindik mendekati pintu kamar Kiara, kuncinya masih menggantung di kenop, pintu itu tidak tertutup, dan saat itulah aku sadar ada suara lain di dalam sana.
“Laki-laki?” Kututup mulutku saking kagetnya.
Suara derai tawa di dalam kamar berubah rendah, semakin reda, lalu tak lama kemudian kudengar suara geraman halus laki-laki disertai desahan lembut Kiara.
Aku meneguk ludah kasar, kudorong pelan-pelan pintu itu dengan telunjuk hingga sedikit celah mempermudah mataku melihat adegan apa yang di atas ranjang sana.
Kiara dengan punggungnya yang polos, duduk di atas bantal guling, sementara di hadapannya sebuah video laki-laki sedang melakukan ‘solo player’.
Aku buru-buru menjauh dari pintu, berlari menuju teras, lalu masuk kembali ke mobil dengan napas terengah-engah. Rusak sudah isi otaku. Aku tak yakin bisa menyelesaikan misi jika orang-orang yang kuhadapi di dalam rumah ini adalah sekumpulan perempuan berlibido tinggi.
Melihat punggung polos Kiara dan pinggulnya yang maju mundur saja aku sudah menyerah duluan. Kunyalakan mesin mobil meninggalkan rumah Bianca cepat-cepat. Tak peduli jika nanti wanita itu mencariku
Aku butuh menenangkan diri.
BRAKH!
Katakanlah aku benar-benar gila sampai tak sadar telah menabrak seseorang di depan sana. Aku buru-buru turun dari mobil—untungnya jalanan komplek itu lumayan sepi.
“Celine?” Aku terkejut melihat siapa yang kutabrak.
Gadis itu mendongak, wajahnya meringis pelan karena kesakitan.
“Celine, maaf. Aduh, ayo saya antar pulang,” kataku sambil berlutut hendak menggendongnya.
“Om, bisa gak jangan antar aku pulang ke rumah. Aku lagi berantem sama Mama,” ujar Celine sendu, sedih sekali.
“Berantam kenapa?”
“Gara-gara semalam Om bantuin betulin kran kamar mandi, Mama jadi salah paham. Mama pikir aku godain Om karena semalam aku pakai kaus tipis.”
Ya Tuhan....
POV KIARA"Mama harus tahu..."Hanya kalimat itu yang terus berputar di kepalaku sejak Komandan Rakabumi mengatakan operasi penangkapan akan dilakukan malam ini.Aku menundukkan kepala, berpura-pura masih sibuk mengusap air mata. Dari sudut mataku, kulihat Om Jevan dan anggota kepolisian lainnya kembali membahas tumpukan berkas di atas meja. Tidak ada lagi yang memperhatikanku. Mereka menganggap aku hanya seorang gadis yang masih trauma setelah hampir diculik.Kalau aku tetap berada di sini, malam nanti semuanya akan terlambat.Mama harus tahu. Nyonya Luan juga harus tahu.Tapi bagaimana caranya?Aku menggigit pelan bibir bawahku sambil mengepalkan kedua tangan di atas pangkuan. Ponselku sudah lama tidak ada. Semua jalur komunikasi denganku diputus sejak semalam. Bahkan kalau sekarang aku nekat keluar dari kantor polisi, Om Jevan pasti langsung mengejarku.Sial...Seketika aku langsung menyesal datang ke sini. Tapi jika tidak, aku tak akan tahu kalau polisi sudah bertindak sejauh ini.
POV JEVANRuang rapat di lantai tiga masih dipenuhi suara lembaran berkas yang dibolak-balik sejak aku datang satu jam lalu. Papan tulis di depan ruangan semakin sesak oleh foto-foto, denah bangunan, hingga garis merah yang menghubungkan satu nama dengan nama lainnya. Beberapa anggota sibuk menyusun laporan terbaru, sementara Rakabumi berdiri di depan papan sambil memperhatikan seluruh perkembangan yang berhasil kami kumpulkan sejak semalam. Anehnya, dari semua bukti yang kini berada di depan mata, pikiranku justru terus kembali pada satu orang.Nadira.Aku kembali menekan tombol panggil di ponsel untuk kesekian kalinya. Nada sambung hanya terdengar beberapa detik sebelum akhirnya terputus begitu saja. Tidak ada jawaban. Tidak ada pesan. Tidak ada satu pun tanda yang menunjukkan perempuan itu baik-baik saja. Jemariku tanpa sadar mengetuk pelan permukaan meja, kebiasaan yang selalu muncul setiap kali pikiranku mulai dipenuhi firasat buruk.Rakabumi yang sedari tadi memperhatikan l
POV NADIRAAku mengenali perempuan yang berdiri di ambang pintu itu.Wajahnya masih terlihat pucat, salah satu tangannya masih terpasang infus yang menggantung pada tiang penyangga.Namun sorot matanya sama sekali tidak menunjukkan seseorang yang baru saja sadar setelah berhari-hari terbaring di rumah sakit.Ruangan mendadak sunyi.Kiara yang sejak tadi berdiri di depanku perlahan melepaskan cengkeramannya pada kerah bajuku. Ia mundur satu langkah, memberi jalan tanpa diminta. Nyonya Luan yang sejak tadi mengawasi dari luar juga ikut menyingkir ke samping, membiarkan perempuan itu masuk lebih dulu."Mama..." suara Kiara terdengar jauh lebih pelan dibanding bentakannya beberapa detik lalu.Bianca tidak langsung menoleh kepadaku. Tatapannya justru berhenti pada meja yang terguling dan foto-foto yang berserakan di lantai. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia berjalan mendekat, lalu membungkukkan badan perlahan untuk memunguti satu per satu lembar foto itu."Apa yang kamu lakukan?" tan
POV NADIRAAku tidak tahu sudah berapa lama berada di ruangan itu. Jam dinding terus berdetak pelan, tetapi tidak ada seorang pun yang masuk sejak Nyonya Luan meninggalkanku beberapa saat lalu. Ruangan VIP itu memang terlihat nyaman, lengkap dengan sofa, tempat tidur, dan kamar mandi pribadi. Namun bagiku, semua itu tidak lebih dari sebuah sangkar yang dibuat semewah mungkin.Pelan-pelan aku bangkit dari kursi, lalu berjalan menuju pintu. Jemariku mencoba memutar kenopnya beberapa kali, berharap kuncinya hanya macet. Namun hasilnya tetap sama. Aku mengetuk pintu dari dalam sambil memanggil pelan, "Permisi... ada orang di luar?" Tidak ada jawaban. Lorong di balik pintu tetap sunyi, membuatku sadar mereka memang sengaja mengunciku di sini.Aku baru saja berbalik ketika suara kunci diputar dari luar membuat langkahku terhenti. Pintu terbuka perlahan, memperlihatkan Kiara yang masuk sambil membawa sebuah map cokelat tipis. Wajahnya sudah tidak lagi dipenuhi air mata seperti semalam. Ta
POV KIARASuara pintu apartemen yang menutup otomatis menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar di ruangan itu.Aku tetap berdiri beberapa saat di balik pintu, memastikan langkah kaki Om Jevan benar-benar menjauh. Beberapa detik kemudian terdengar suara lift terbuka, disusul dentingan pelan saat pintunya kembali menutup.Barulah aku mengembuskan napas panjang.Tatapanku perlahan berkeliling ke seluruh isi apartemen. Semalam aku memang datang ke tempat ini, tetapi pikiranku terlalu kacau untuk memperhatikan apa pun. Baru sekarang aku benar-benar melihat setiap sudut ruangan yang selama ini menjadi tempat tinggal Om Jevan.Apartemen itu terlihat rapi. Lebih kecil dari apartemen yang pernah kutinggali saat Om Jevan mengajakku untuk pertama kali.Aku berjalan pelan menuju ruang kerja yang berada di samping ruang tamu. Pintu kayunya tidak terkunci. Begitu kubuka, sebuah meja kerja berukuran besar langsung menyambut pandanganku. Di atasnya hanya ada sebuah laptop, beberapa map, tempat pulpe
Aku meninggalkan Jenderal Adhitama tanpa berkata apa-apa lagi. Beberapa anggota yang sejak tadi berdiri di sekitar halaman langsung memberi jalan ketika aku melintas. Tidak ada yang berani menghentikanku. Suasana kantor polisi pagi itu terasa jauh lebih tegang dibanding biasanya.Begitu memasuki gedung utama, langkahku langsung mengarah ke ruang istirahat. Pintu yang sedikit terbuka memperlihatkan Rakabumi sedang duduk di sofa sambil memegang secangkir kopi yang hampir habis. Di sampingnya, Celine terlihat memeluk kedua lututnya sendiri di atas sofa, sementara Valisa berdiri di dekat jendela dengan tangan terlipat di depan dada. Ketiganya serempak menoleh begitu aku masuk."Mas!" Celine langsung berdiri. Raut wajahnya yang sejak tadi dipenuhi kecemasan seketika berubah penuh harap. "Kiara gimana? Dia baik-baik aja?"Aku mengangguk pelan sambil menutup pintu di belakangku. "Dia selamat."Kalimat singkat itu cukup membuat Celine mengembuskan napas lega. Bahunya yang sejak tadi tegang pe
“Gak sanggup? Payah kamu, Jev.” Nadira mengejek. “Mau makan dulu gak sama aku? Aku juga masih nunggu orang.”Sepertinya tawaran Nadira tak bisa ditolak. Kami pergi ke sebuah restoran tak jauh dari hotel, memesan makanan, dan duduk tenang menikmati makanan. Sesekali berbincang agar tak terlalu henin
“Ya sudah, saya antar kamu ke klinik—““Boleh antar aku ke hotel aja, Om? Aku mau tinggal beberapa hari di sana sampai baikan sama Mama,” kata Celine memotong.Kupatuhi permintaannya, kugendong gadis langsing itu dan duduk di mobil. Dia mengucapkan terima kasih, wajahnya memerah mungkin karena malu
Gadis itu memajukan badannya sehingga makin menempel padaku, tatapan mata yang kulihat sinis sejam yang lalu kini berubah sedikit liar menggoda.Aku meneguk ludah ... ‘Jevan Kecil’ di bawah sana mulai kehilangan harga dirinya. Apalagi saat kurasakan Kiara seperti sengaja menggerakan tubuhnya sehing
“Celine, Kiara....” Bianca berteriak tepat saat ia membuka pintu utama rumah mewah yang baru pertama kali kudatangi ini.Dari dua nama yang disebut, hanya satu yang muncul. Seorang gadis dengan daster berwarna merah muda sebatas lutut, matanya sembab seperti orang yang habis menangis. Tatapannya da






