Partager

BAB 3

Auteur: stevendeeary
last update Date de publication: 2026-05-13 17:00:22

Aku mengerang panjang sambil melepas semuanya ke atas perut Nadira. Perempuan cantik sepantarakan denganku yang sudah hampir satu tahun ini menjadi partner ranjangku. Pasangan tanpa status, hanya untuk bersenang-senang.

Kuraih semua pakaianku dan kupakai seperti semula, kotak rokok dan korek gas di atas meja juga kumasukkan ke dalam kantung celana.

“Kamu mau langsung ke kantor, Mas?” Nadira bertanya sembari mengancing kemejanya sendiri.

“Iya, abis itu mau ketemu Bianca.”

Nadira tertawa. “Enakan mana? Aku atau Bianca?”

Aku melirik Nadira, kuhampiri dan kukecup dahinya. “Kamu,” jawabku jujur. “Bianca cantik sih, tapi udah tua. Kamu ngerti maksudku, dia udah sering gonta-ganti pasangan juga.”

Nadira manggut-manggut, tapi kulihat dia amat bangga dengan penilaianku.

“Tapi gak tahu juga kalau aku nyobain salah satu antara Celine atau Kiara. Daun muda selalu menantang,” kataku.

Lagi Nadira tertawa. “Brengsek kamu, Mas. Dapat Ibunya, mau nyobain anaknya juga. Kamu ini dikasih misi sama komandan, bukan buang-buang sperma.”

“Bedanya sama kamu apa, Nadira. Kita ini sama gilanya.”

Tawa kami meledak. Baik aku atau pun Nadira, kami tak pernah marah atau merasa tersindir sama sekali dalam ajang adu dosa. Toh, kami yang memilih jalan hidup seperti ini.

Aku bergegas keluar dari bilik peraduan, lalu pergi ke sebuah kedai kopi di mana komandan kami sering mengajak bertemu untuk membahas pekerjaan. Tidak di kantor, tidak dalam situasi yang resmi, tapi tugasku juga tidak main-main.

“Sudah puas main-main belum?” Rakabumi bertanya—dia komandan yang masih percaya padaku sampai detik ini. “Saya dengar kamu mau menikahi Bianca, memangnya harus sampai sejauh itu?”

“Bianca Satvika bukan orang sembarang, Komandan. Kalau sekedar berpacaran, dia pasti bisa meninggalkan saya demi laki-laki lain,” jawabku percaya diri.

Rakabumi mengangguk, lalu menyodorkan sebuah amplop cokelat kepadaku. “Bukti ke enam yang saya dapatkan dari anak buah saya. Bukti bahwa mendiang Rendra Satvika pernah menjadi bagian dari perdagangan ilegal kapal Montana.”

“Bisnis itu ada, tapi jejaknya disembunyikan. Saya yakin, Bianca masih mengelola. Tugasmu adalah mencari siapa-siapa saja orang yang bekerja sama dengan Bianca sampai sekarang, dan telusuri apakah mereka juga terjaring dalam bisnis tersebut,” kata Rakabumi mantap tanpa basa-basi.

Kubuka tali yang menutup amplop, kubaca sekilas halaman pertama dalam dokumen tersebut. Dahiku mengerut samar, tapi dalam hatiku menggeram pelan. Inilah bukti yang kucari-cari, bukti yang seharusnya bisa menyelamatkan karirku.

“Saya izin membawa dokumen ini, Komandan.”

Rakabumi mengangguk. “Kapan pernikahanmu dan Bianca dilaksanakan? Apakah akan ada pesta mewah?”

Aku menggeleng. “Pesta akan kami gelar secara privat minggu depan. Bianca meminta pesta mewah, tapi saya memberinya mahar besar untuk mengganti biaya pesta.”

Bisa hancur semua rencana kalau bikin pesta besar. Pasti akan ada salah satu tamu yang mengenalku sebagai mantan polisi.

Aku pamit pulang, lalu keluar dari kedai kopi itu melalui pintu lain agar tidak ada orang yang curiga. Bertepatan dengan ponselku yang berdering, kulihat nama Bianca di layar.

Ck, kenapa dia selalu gak sabaran, sih?” Aku buru-buru masuk ke mobil dan mengangkat panggilan. “Hallo, Sayang?”

Mas, gimana kerjaan hari ini? Meeting dengan kliennya lancar?” Bianca bertanya lembut di sana.

Inilah yang kusuka dari Bianca, wanita itu sering sekali bertanya tentang kegiatanku, tidak langsung bermanja, tapi cukup memperhatikan diriku. Dia sangat berpengalaman membuat pria-pria nyaman bersamanya.

“Lancar, Sayang. Kamu di rumah, kan? Aku mau ke rumahmu.”

Bianca tak menjawab, sebaliknya ia malah mematikan telpon. Tak lama setelah itu, sebuah pesan masuk. Bianca mengirim fotonya berbaring di ranjang tanpa sehelai benang pun menempel di tubuhnya, posenya menggoda, seolah seluruh gambar khusus menangkap keindahan tubuhnya.

Aku melotot, jantungku mencelos, tak munafik pemandangan segar ini membuat ‘Jevan Kecil’ mulai sesak di bawah sana.

Bianca: Udah siap diapa-apain sama kamu Mas.

Tanganku gemetar, kuletakkan ponsel itu di jok samping, kutarik dan kuhela napas berkali-kali guna menghilangkan gugup.

“Sinting benar!” gumamku, dan dengan tak sabar kunyalakan mesin mobil, kutarik gigi dan kuinjak gas. Fokusku terbelah, antara isi dokumen yang kusimpan di dalam laci dasbor, atau tubuh Bianca yang aduhai.

Mobilku melewati jalan-jalan pintas agar cepat sampai, dan begitu tiba di halaman rumah mewah yang baru kukunjungi semalam kakiku berlari tak sabar untuk menekan tombol bel.

“Cari siapa, Pak?” Seseorang yang sedang memegang sapu lidi dan pengki menegurku.

“Oh, maaf... saya Jevan, mau cari Bianca.”

Wanita paruh baya itu mengangguk. “Oh, Pak Jevan, ya? Silakan masuk, Pak, tapi Nyonya Bianca baru aja pergi, katanya cuma sebentar mau mampir ke minimarket.”

Aku agak kecewa, tapi ya sudahlah. Kulangkahkan kakiku masuk ke rumah itu, sepi. Namun samar-samar bisa kudengar suara cekikikan kecil dari kamar Kiara. Sepertinya gadis itu tidak kuliah hari ini.

Bukannya duduk di sofa, aku malah penasaran. Aku melangkah mindik-mindik mendekati pintu kamar Kiara, kuncinya masih menggantung di kenop, pintu itu tidak tertutup, dan saat itulah aku sadar ada suara lain di dalam sana.

“Laki-laki?” Kututup mulutku saking kagetnya.

Suara derai tawa di dalam kamar berubah rendah, semakin reda, lalu tak lama kemudian kudengar suara geraman halus laki-laki disertai desahan lembut Kiara.

Aku meneguk ludah kasar, kudorong pelan-pelan pintu itu dengan telunjuk hingga sedikit celah mempermudah mataku melihat adegan apa yang di atas ranjang sana.

Kiara dengan punggungnya yang polos, duduk di atas bantal guling, sementara di hadapannya sebuah video laki-laki sedang melakukan ‘solo player’.

Aku buru-buru menjauh dari pintu, berlari menuju teras, lalu masuk kembali ke mobil dengan napas terengah-engah. Rusak sudah isi otaku. Aku tak yakin bisa menyelesaikan misi jika orang-orang yang kuhadapi di dalam rumah ini adalah sekumpulan perempuan berlibido tinggi.

Melihat punggung polos Kiara dan pinggulnya yang maju mundur saja aku sudah menyerah duluan. Kunyalakan mesin mobil meninggalkan rumah Bianca cepat-cepat. Tak peduli jika nanti wanita itu mencariku

Aku butuh menenangkan diri.

BRAKH!

Katakanlah aku benar-benar gila sampai tak sadar telah menabrak seseorang di depan sana. Aku buru-buru turun dari mobil—untungnya jalanan komplek itu lumayan sepi.

“Celine?” Aku terkejut melihat siapa yang kutabrak.

Gadis itu mendongak, wajahnya meringis pelan karena kesakitan.

“Celine, maaf. Aduh, ayo saya antar pulang,” kataku sambil berlutut hendak menggendongnya.

“Om, bisa gak jangan antar aku pulang ke rumah. Aku lagi berantem sama Mama,” ujar Celine sendu, sedih sekali.

“Berantam kenapa?”

“Gara-gara semalam Om bantuin betulin kran kamar mandi, Mama jadi salah paham. Mama pikir aku godain Om karena semalam aku pakai kaus tipis.”

Ya Tuhan....

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA   BAB 21

    “Om.. ahh, da-dalem banget....”Jangan kalian tanya darimana staminaku selalu datang. Aku pria hyper, pria yang melepas stress di kepala dengan seks.Sejak kapan aku begini? Aku tidak ingat, tapi yang bisa kusadari adalah aku mulai begini sejak Nadira yang mengajakku duluan. Nadira yang mengatakan bahwa ini satu-satunya cara yang membuat beban kita sedikit berkurang.Aku tidak pernah setuju tentang hal itu, karena setelah puas, masih muncul beban dan masalah lain. Namun alih-alih menolak, aku malah ketagihan dengan Nadira.Tidak juga. Aku justru membayar wanita-wanita lain untuk tidur denganku.“Enak? Mau dikasarin lagi, hm?” Aku berbisik, sebelum akhirnya kugigiti kulit leher Kiara dengan penuh nafsu, sementara di bawah kutanamkan ‘Jevan Kecil’ sedalam-dalamnya, menyentuh titik g-spot yang membuat Kiara tak bisa berhenti menjerit saking nikmatnya.Pinggul gadis itu bergoyang, tubuhnya terombang-ambing mengikuti hentakanku.Dia persis Bianca, patut dinikmati karena memang menggoda. Ti

  • MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA   BAB 20

    “Ssshhh... Ju-Juan, jangan berisik, eemh....”Mataku membulat sempurna. Si pria menyebut nama Bianca, dan suara lembut yang amat kukenali itu menyebut nama Juan.Dasar binatang! Gengsi setinggi langit, menolak disentuh saat di pelabuhan, tapi berlagak seperti kucing birahi di tempat umum seperti ini.Aku tidak marah, aku sudah tahu Bianca adalah pemain, dan baru kemarin aku mengira-ngira Bianca pasti akan berselingkuh dengan Juan—tanpa menunggu hari pernikahan kami, perselingkuhan mereka sudah terlaksana.Aku buru-buru berbalik badan, kembali ke meja di mana Kiara masih menunggu. “Kita pulang,” kataku.“Eh, kok? Aku baru pesan—“ Gadis itu terdiam saat melihatku mengambil beberapa lembar uang dan meletakkannya di atas meja.“Kita cari makan di tempat lain saja.” Kutarik lengan Kiara sedikit kasar hingga tubuh gadis itu tersentak ke depan karena kehilangan keseimbangan.“Om, ini bukan arah pulang. Kita mau ke mana?” tanyanya saat menyadari mobilku tidak berada di jalur perjalanan menunj

  • MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA   BAB 19

    “Mas Jevan....” Celine melenguh keras di atasku. Mendengar itu, mulutku makin bersemangat memilin pucuk kedua dadanya.Kuakui dia tak serta merta membuatku tergila-gila seperti saat pertama kali aku mencicipi tubuh Kiara, tetapi sekali lagi kuulang, “Celine tidak memaksa, dia menghargaiku.”“Udah basah ternyata,” godaku, kupercepat gesekan telunjuk dan jari tengahku pada labia yang masih tertutup celana dalam.Basah, harum menggoda. Lagi kupilin dadanya, kusesap lembut hingga gadis itu kehilangan keseimbangan tubuhnya. Celine menjerit pelan, kepalanya terlempar ke belakang, menahan nikmat yang kuberikan dari dua arah.Ku baringkan tubuhnya, bibirku mulai bergeriliya mengabsen tiap sisi kulit tubuhnya. Bercak merah bekas permainan kami semalam masih tertinggal di sana, tak menyurutkan keinginanku untuk berbuat sedikit lebih kasar dari sebelumnya.Satu tanganku melepas panty gadis itu dengan tak sabar, ciumanku turun ke sana, kunikmati ranumnya segitiga basah kemerahan itu.Cup!Kulebar

  • MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA   BAB 18

    “Jangan pernah datang ke pelabuhan, Mas, sekali pun Mama yang ngajak,” kata Celine lagi.Napasku tersendat sesaat, kuhela putus-putus, lalu kutatap Celine. “Emangnya di pelabuhan ada apa, Cel?”Celine menghela napas, lega kurasa. “Syukurlah kalau kamu gak ke sana. Sumpah, semalam aku kebangun dan lihat kamu gak ada di sampingku.”“Aku mulai berpikir aneh-aneh, aku cek handphone dan ada pesan dari Mama kalau Mama lagi di pelabuhan. Aku mau hubungi kamu, tapi aku takut kamu lagi sama Mama. Aku gak tenang, Mas.“Aku takut kamu keseret dalam bisnis Mama. Aku takut nasib kamu kayak Papa. Kematian Pak Panca masih jadi sesuatu yang bikin aku gak tenang.”“Itu sebabnya gerd kamu kambuh? Kamu kirim pesan kepada saya saat perut kamu sakit karena mikirin saya, Cel?” tanyaku menyela.Gadis itu mengangguk. “Mas, aku butuh kamu di sini. Aku sampe mikir, apa aku kabur aja, ya? Tapi aku maunya kabur sama kamu, Mas.”Kutarik tubuh gadis itu naik ke pangkuanku, kupeluk dia erat-erat, kubiarkan kepalany

  • MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA   BAB 17

    “Eeuunghh...”Saliva kami terputus. Sialnya aku tidak bisa berbuat lebih jauh karena Nadira sedang datang bulan. Tidak apa-apa, nanti main sama Celine.“Kangen,” kata Nadira lalu meletakkan kepalanya di atas dadaku yang penuh bercak lipstik merahnya.“Jadi, kamu minta ketemu di sini cuma buat kangen-kangenan? Kamu bilang kamu tahu soal Ardian, itu cuma alibi aja, ya?” tanyaku iseng.Nadira menggeleng. “Masa ketemu cuma buat ngomogin kasus.” Perempuan itu menautkan seluruh kancing kemejanya. Sudah puas aku bermain-main dengan dada sintalnya.Ia turun dari ranjang, mengambil tas laptop lalu kembali duduk di sebelahku. “Soal Ardian dan pembunuhan berencana Panca Wardana semuanya sudah dirancang dua bulan setelah kematian Rendra Satvika,” ujar Nadira memulai.Aku mengangkat satu alis. Nadira menunjukkan layar laptopnya ke arahku. “Sudah beberapa hari sejak rapat besar di markas, aku tinggal di dekat rumah keluarga Luan Hamijaya.”“Menurut penelitian salah satu anggota kita yang menyamar d

  • MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA   BAB 16

    “Jangan coba-coba bohong ya, Mas!” Bianca membentakku, tapi matanya berkaca-kaca.Aku termenung sebentar, menatap wanita itu dengan tak biasa.Inikah Bianca yang kulihat semalam?Inikah Bianca yang mengomando puluhan anak buah kapal di gudang pelabuhan?Inikah Bianca yang memaki dan membunuh Ardian?Sialnya, aku tidak bisa menebak peran dan wajah mana yang sedang Bianca pakai pagi ini. Sorot matanya menyiratkan sebuah ketulusan saat ia berbicara, lembut dan tertata suaranya.“Mas, jawab! Kamu ngapain ke rumah Bianca? Tetangga di sana ngomong sama aku loh, Mas. Katanya kamu nginep—““Nginep?” Aku menyela.“Benar, kan? Kamu nginep di rumah Celine!” bentakan Bianca terdengar makin frustrasi.Aku menghela napas, mana mungkin aku mengaku. Kupasang ekspresi tenang—mengimbangi Bianca yang bermuka dua. “Aku datang siang hari, bawain makan siang untuknya. Terus mal

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status