ログインGadis itu memajukan badannya sehingga makin menempel padaku, tatapan mata yang kulihat sinis sejam yang lalu kini berubah sedikit liar menggoda.
Aku meneguk ludah ... ‘Jevan Kecil’ di bawah sana mulai kehilangan harga dirinya. Apalagi saat kurasakan Kiara seperti sengaja menggerakan tubuhnya sehingga gunung kembarnya seolah sedang menggesek tubuhku.
“Ki-Kiara... sudah, ya. Saya mau pulang.”
Kulepas pelukan Kiara, lalu buru-buru keluar dari kamar mandi. Keringatku berjatuhan di pelipis, tapi aku sedikit merasa bersalah saat aku menoleh sekali lagi dan melihat wajah Kiara merengut manis di sana.
“Om? Loh, ngapain di kamar Kiara?” Celine yang kebetulan melintas di depan pintu menatapku seperti sedang memergoki maling.
“Ah, itu... numpang kamar mandi,” jawabku cepat sambil terus besikap senormal mungkin padahal gugupku bukan main.
Celine menghela napas lega. “Maaf ya, Om. Kita serumah ini orang-orang sibuk, jadi kalau ada kerusakan di rumah kami selalu gak sempat panggil tukang untuk betulin. Soalnya Mbak yang kerja di sini juga gak berani kalau ditinggal sendirian sama tukang.”
Aku mengerti. “Memangnya sudah berapa lama kamar mandinya rusak?”
“Kayaknya hampir satu minggu, nanti kalau aku libur baru deh panggil tukang.”
“Kalau saya yang benerin gimana? Tapi saya harus bilang Mama kamu dulu.”
“Mama tadi ada tamu, kayaknya masih ngobrol di teras. Om beneran bisa benerin pipa yang rusak?” Celine menatapku dari atas sampai bawah, lalu senyumnya merekah. “Keren, ya. Pantesan Mamaku suka. Om mirip mendiang Papaku selalu serba bisa.”
Aku tersenyum. “Jadi mau saya perbaiki gak?”
“Tapi udah malam banget, Om.”
“Gak apa-apa, gak sampai setengah jam.”
Celine mengantarku ke kamar mandi yang berada di dekat dapur. Lantainya kering khas tak tersentuh. Aku mulai memutar semua kran, mengambil perkakas yang Celine sodorkan dan memeriksa kesalahan di sana.
“Oh, ini yang rusak pipa yang dekat water heater. Sudah agak berkarat,” kataku.
Celine hanya mengangguk karena tak mengerti. Kubersihkan karat itu dengan amplas, kupastikan tak ada lumut yang tertinggal, lalu memasangnya kembali.
“Sementara begini dulu, ya. Kapan-kapan Om datang ke sini lagi bawa tukang untuk ganti pipanya,” kataku sok benar.
Kuputar kran, air mengucur deras tiba-tiba. Aku kaget, Celine pun panik.
Satu malam tapi dua adegan basah-basahan terpampang di depan mata. Setelah melihat tubuh sintal Kiara, kini aku aku dipaksa melihat tubuh Celine menerawang dari balik kaus putih ketat yang dipakainya, bra pink di dalamnya terlihat jelas.
‘Jevan kecil’ lagi-lagi meronta. Apalagi saat Celine dengan cepat mengambil handuk kering, lalu spontan mengusap-usap tubuhku yang basah dengan handuk itu.
“Om, aduh, maaf. Aku lupa bilang kalau kerannya emang suka nyembur gitu,” kata Celine, ekspresinya nampak bersalah.
“Ng-nggak apa-apa, Cel. Bukan salah kamu,” jawabku terbata-bata.
“Celine, ada apa ribut-ribut?” Bianca rupanya mendengar suara kami berdua. Aku hampir gelagapan melihat kedatangannya, tapi Celine dengan santai menanggapinya.
“Ma, ini Om Jevan bantuin kita benerin kran tapi malah basah-basahan,” kata Celine.
Bianca menggigit bibir, lalu dengan cepat menyambar handuk dari tangan Celine. “Mas, kamu tuh gak usah repot-repot gini.”
“Celine, kamu masuk kamar, baju kamu juga basah tuh. Nanti masuk angin.”
Celine mengangguk cepat, ia mengucapkan maaf sekali lagi lalu pergi.
“Mas, ganti baju dulu, yuk. Di lemari kamarku masih ada pakaian punya mendiang suamiku, kamu bisa pakai dulu,” kata Bianca, dan seperti biasa aku tak bisa menolak. Dia terlalu lembut untuk diabaikan.
Wanita itu menuntunku ke kamarnya, aku melepas pakaianku sementara Bianca memilih baju dan celana.
“Ini Mas, kayaknya yang ini muat. Badan suamiku hampir mirip badan kamu kok,” katanya.
Pikiranku terlalu lurus malam ini, sampai tak sadar tangan Bianca diam-diam menyentuh ritsleting celanaku. Aku membeku sesaat, menatapnya bingung.
“Mas, kita udah lama gak begituan,” bisiknya, bibirnya yang masih berpoles lipstik merah muda manyun manja.
Aku bukan pria polos, ‘begituan’ yang Bianca maksud tentu saja kegiatan yang kami lakukan saat pertama kali bertemu.
Wanita itu tersenyum, matanya menatapku teduh, sayu menggoda, dan seperti biasa dia selalu menggodaku duluan. Aku diam saja saat kedua tangannya mulai bergeriliya menyentuh tubuhku, bibirnya mengecup wajahku seperti sedang kehausan.
Aku menggeram pelan... suara yang tanpa disangka membuat Bianca semakin bersemangat. Namun, begitu ikat pinggangku hampir terlepas, mataku tanpa sengaja melihat ke arah pintu yang belum sepenuhnya tertutup.
Di sana, Celine berdiri menatap kami dengan wajah merah padam. Dia bukan marah melihatku dan ibunya bermesraan, sebaliknya... kulihat ia meremas miliknya dengan tangannya sendiri.
Sial! Aku malu sekali. Celine pun juga pergi secepatnya dari sana.
“Bianca, aku sudah bilang aku ada meeting besok. Aku takut kelepasan dan malah menginap di sini. Kamu kan tau, aku pasti bangun kesiangan karena kewalahan,” kataku beralasan.
Wanita dengan rambut bergelombang sepunggung itu menghela napas kecewa, bibirnya mengerucut sedikit, dan untuk membuatnya merasa tenang kukecup sebentar bibir manis itu.
“Aku pulang dulu ya, Sayang.”
Kupakai pakaianku dengan benar, lalu kutinggalkan Bianca yang masih nampak kecewa padaku. Kupijaki lantai marmer rumah mewah itu sampai akhirnya aku tak sengaja melihat Bianca yang juga sedang menatap diriku.
Canggung sekali rasanya. Rusak habis-habisan reputasiku di depan kedua calon anak tiriku malam ini.
Aku masuk ke mobil dengan segera, meninggalkan rumah itu. Namun baru puluhan meter aku menepi di dekat pohon besar. Kuambil ponselku dengan kasar, jempolku bergerak mencari satu kontak yang menurutku perlu kumaki-maki malam ini juga.
“Nadira, kamu gila, ya! Kamu lempar aku ke sarang perempuan-perempuan binal!” makiku begitu telpon itu berhasil terhubung.
Gadis yang kuhubungi di sana tertawa renyah. “Gimana, Mas? Kenyang kan matamu?”
Aku meringis. “Kenyang sampai aku bingung mau nyobain yang mana duluan!”
Nadira masih tertawa, seolah senang dengan kekalahan syahwatku. “Aku tunggu kamu besok di kantor. Komandan udah gak sabar nunggu laporan dari kamu.”
Kuremas stirku dengan kesal. “Awas kamu, Nadira. Kulahap habis kamu besok!”
“Aahh... Mas Jevan....” Bianca melenguh.Kutepati janjiku, hampir setengah hari kuhabsikan waktu bersama janda kaya raya yang hidupnya akan kumanfaatkan habis-habisan.Wanita itu sekarang mengangkang di pangkuanku, sementara pinggulku bergerak naik turun menghantam miliknya dari bawah. Tingkat agresif Bianca patut diacungi jempol, dia tidak diam saja seperti Kiara ketika diterpa badai kenikmatan.Sebaliknya, Bianca akan mengimbangiku, menjilati atau menciumi wajahku bahkan ketika aku sedang menyusu. Ah, sepak terjang wanita ini di dunia ranjang memang tidak bisa diragukan.Suara kecipak pertemuan dua paha kami menggema bersama suara desahannya, mungkin juga terdengar sampai ke luar kamar karena pintu itu terbuka sedikit. Pasti ini sudah menjadi kebiasaan Bianca.Jika kemarin Celine-lah yang memergoki kami, sekarang Kiara berdiri di sana dengan ekspresi yang... aku yakin dia pasti merajuk padaku dan memohon dimanjakan seperti ibunya juga.“Sayang, kamu gak tutup pintu. Nanti kalau Kiar
Sudah jam tujuh pagi, Kiara masih tertidur pulas memunggungiku, tubuhnya masih polos tertutup selimut. Kupandangi wajahnya yang jelita, leher dan dadanya yang penuh bekas cupang, dan rambutnya yang sedikit berminyak.“Cantik sekali,” gumamku. “Luar biasa.”Sialnya, isi kepalaku malah bergeriliya ke mana-mana, membandingkan Bianca dan Kiara dari segi kehebatan di ranjang, tapi aku juga penasaran dengan hal lain... bagaimana dengan Celine?Ponselku berdering, sebuah pesan dari Nadira membuatku harus buru-buru memakai seluruh pakaianku. Kukecup kilas dahi dan pipi Kiara lalu kutinggalkan begitu saja.“Hallo, Nad? Ada apa?”“Kamu di mana? Bisa jemput aku di hotel? Komandan Rakabumi ngajak diskusi jam setengah sembilan di markas,” katanya.“Ok, aku ke hotel.”“Kamu dan Bianca sudah berbaikan?”“Belum, tapi tenang aja, aku dan Bianca pasti baik-baik aja.”“Syukurlah. Kalau dia gak mau baikan, kamu pake aja badannya.” Nadira tertawa.Aku hanya tersenyum, tidak mungkin bilang kalau semalam te
“Aahh....” Lolos desahan Kiara.Aku mulai gugup, keringatku bercucuran, masih belum bisa mencerna apa yang kuhadapi sekarang. Kiarani Satvika, gadis 19 tahun yang kumengerti dirinya masih senang bermain-main dan mencari tahu banyak hal.Entah hal apa yang selama ini Kiara hadapi di luar sana dan bagaimana kedua orang tuanya mengawasinya. Kiara amat binal untuk gadis seusianya.“Ki-Kia....”“Om, aku gak tahan,” bisiknya, dan detik kemudian ia menurunkan kedua tali bra, membuka pembatas kain yang menutup kedua payudaranya.Blush!Wajahku memerah, tak bisa munafik pemandangan di depan mataku benar-benar luar biasa. Besar, padat, aku membayangkan bagaimana rasanya jika ‘Jevan Kecil’ menjepit di tengah-tengah.“Bagusan punyaku atau punya Mama?”Boro-boro menjawab, isi kepalaku sudah mengosong saat Kiara membawa kedua telapak tanganku agar menyentuh kedua dadanya.Napasku tersendat detik itu juga. Kenyal, lembut, aah... aku ingin melakukan lebih. Persetan dengan kewarasanku, malam ini aku b
“Gak sanggup? Payah kamu, Jev.” Nadira mengejek. “Mau makan dulu gak sama aku? Aku juga masih nunggu orang.”Sepertinya tawaran Nadira tak bisa ditolak. Kami pergi ke sebuah restoran tak jauh dari hotel, memesan makanan, dan duduk tenang menikmati makanan. Sesekali berbincang agar tak terlalu hening.Jujur saja, di antara aku dan Nadira tidak pernah ada pembahasan penting kecuali saat kami saling membutuhkan di atas ranjang. Hubungan kami murni pertemanan dan saling menguntungkan, karena kalau soal perasaan aku tidak yakin Nadira orang yang mudah membuka hati hanya karena seks.Ponselku berdering lagi, tapi kali ini bukan telepon yang kuterima, melainkan sebuah pesan gambar dari Bianca.“Astaga!” Aku meremas rambutku, frustrasi.“Hm? Kenapa, Jev?”Kusodorkan ponselku pada Nadira, detik itu juga ia ikut terkejut. Ada seseorang yang mengikuti kami, mengambil foto kami saat keluar dari hotel dan juga canda kecil yang kami lakukan beberapa menit sebelum makan.Foto itu dikirimkan oleh Bia
“Ya sudah, saya antar kamu ke klinik—““Boleh antar aku ke hotel aja, Om? Aku mau tinggal beberapa hari di sana sampai baikan sama Mama,” kata Celine memotong.Kupatuhi permintaannya, kugendong gadis langsing itu dan duduk di mobil. Dia mengucapkan terima kasih, wajahnya memerah mungkin karena malu.“Antar ke hotel Aston ya, Om. Kebetulan aku udah booking,” katanya.“Kalau sudah booking kenapa tadi gak langsung ke hotel?” tanyaku sambil memutar kemudi.“Aku sebenarnya mau ambil barang-barangku yang ada di rumah.”“Oh, kalau gitu kamu bikin aja daftar barang-barang yang mau kamu ambil, nanti kalau sempat saya datang ke rumahmu dan minta tolong Kiara siapkan.”Celine menunduk malu. “Terima kasih,” katanya lembut, terlampau lembut sampai aku baru sadar Celine dan Kiara punya suara yang sama lembutnya seperti Bianca ... halus nan menggoda.Mobilku sampai di hotel, aku meminjam kursi roda lalu menyuruh Celine duduk. Kubantu proses chek in lalu kuantar dia sampai ke kamar.“Om, makasih, ya.
Aku mengerang panjang sambil melepas semuanya ke atas perut Nadira. Perempuan cantik sepantarakan denganku yang sudah hampir satu tahun ini menjadi partner ranjangku. Pasangan tanpa status, hanya untuk bersenang-senang.Kuraih semua pakaianku dan kupakai seperti semula, kotak rokok dan korek gas di atas meja juga kumasukkan ke dalam kantung celana.“Kamu mau langsung ke kantor, Mas?” Nadira bertanya sembari mengancing kemejanya sendiri.“Iya, abis itu mau ketemu Bianca.”Nadira tertawa. “Enakan mana? Aku atau Bianca?”Aku melirik Nadira, kuhampiri dan kukecup dahinya. “Kamu,” jawabku jujur. “Bianca cantik sih, tapi udah tua. Kamu ngerti maksudku, dia udah sering gonta-ganti pasangan juga.”Nadira manggut-manggut, tapi kulihat dia amat bangga dengan penilaianku.“Tapi gak tahu juga kalau aku nyobain salah satu antara Celine atau Kiara. Daun muda selalu menantang,” kataku.Lagi Nadira tertawa. “Brengsek kamu, Mas. Dapat Ibunya, mau nyobain anaknya juga. Kamu ini dikasih misi sama komand







