Share

BAB 2

Author: stevendeeary
last update publish date: 2026-05-13 16:59:49

Gadis itu memajukan badannya sehingga makin menempel padaku, tatapan mata yang kulihat sinis sejam yang lalu kini berubah sedikit liar menggoda.

Aku meneguk ludah ... ‘Jevan Kecil’ di bawah sana mulai kehilangan harga dirinya. Apalagi saat kurasakan Kiara seperti sengaja menggerakan tubuhnya sehingga gunung kembarnya seolah sedang menggesek tubuhku.

“Ki-Kiara... sudah, ya. Saya mau pulang.”

Kulepas pelukan Kiara, lalu buru-buru keluar dari kamar mandi. Keringatku berjatuhan di pelipis, tapi aku sedikit merasa bersalah saat aku menoleh sekali lagi dan melihat wajah Kiara merengut manis di sana.

“Om? Loh, ngapain di kamar Kiara?” Celine yang kebetulan melintas di depan pintu menatapku seperti sedang memergoki maling.

“Ah, itu... numpang kamar mandi,” jawabku cepat sambil terus besikap senormal mungkin padahal gugupku bukan main.

Celine menghela napas lega. “Maaf ya, Om. Kita serumah ini orang-orang sibuk, jadi kalau ada kerusakan di rumah kami selalu gak sempat panggil tukang untuk betulin. Soalnya Mbak yang kerja di sini juga gak berani kalau ditinggal sendirian sama tukang.”

Aku mengerti. “Memangnya sudah berapa lama kamar mandinya rusak?”

“Kayaknya hampir satu minggu, nanti kalau aku libur baru deh panggil tukang.”

“Kalau saya yang benerin gimana? Tapi saya harus bilang Mama kamu dulu.”

“Mama tadi ada tamu, kayaknya masih ngobrol di teras. Om beneran bisa benerin pipa yang rusak?” Celine menatapku dari atas sampai bawah, lalu senyumnya merekah. “Keren, ya. Pantesan Mamaku suka. Om mirip mendiang Papaku selalu serba bisa.”

Aku tersenyum. “Jadi mau saya perbaiki gak?”

“Tapi udah malam banget, Om.”

“Gak apa-apa, gak sampai setengah jam.”

Celine mengantarku ke kamar mandi yang berada di dekat dapur. Lantainya kering khas tak tersentuh. Aku mulai memutar semua kran, mengambil perkakas yang Celine sodorkan dan memeriksa kesalahan di sana.

“Oh, ini yang rusak pipa yang dekat water heater. Sudah agak berkarat,” kataku.

Celine hanya mengangguk karena tak mengerti. Kubersihkan karat itu dengan amplas, kupastikan tak ada lumut yang tertinggal, lalu memasangnya kembali.

“Sementara begini dulu, ya. Kapan-kapan Om datang ke sini lagi bawa tukang untuk ganti pipanya,” kataku sok benar.

Kuputar kran, air mengucur deras tiba-tiba. Aku kaget, Celine pun panik.

Satu malam tapi dua adegan basah-basahan terpampang di depan mata. Setelah melihat tubuh sintal Kiara, kini aku aku dipaksa melihat tubuh Celine menerawang dari balik kaus putih ketat yang dipakainya, bra pink di dalamnya terlihat jelas.

‘Jevan kecil’ lagi-lagi meronta. Apalagi saat Celine dengan cepat mengambil handuk kering, lalu spontan mengusap-usap tubuhku yang basah dengan handuk itu.

“Om, aduh, maaf. Aku lupa bilang kalau kerannya emang suka nyembur gitu,” kata Celine, ekspresinya nampak bersalah.

“Ng-nggak apa-apa, Cel. Bukan salah kamu,” jawabku terbata-bata.

“Celine, ada apa ribut-ribut?” Bianca rupanya mendengar suara kami berdua. Aku hampir gelagapan melihat kedatangannya, tapi Celine dengan santai menanggapinya.

“Ma, ini Om Jevan bantuin kita benerin kran tapi malah basah-basahan,” kata Celine.

Bianca menggigit bibir, lalu dengan cepat menyambar handuk dari tangan Celine. “Mas, kamu tuh gak usah repot-repot gini.”

“Celine, kamu masuk kamar, baju kamu juga basah tuh. Nanti masuk angin.”

Celine mengangguk cepat, ia mengucapkan maaf sekali lagi lalu pergi.

“Mas, ganti baju dulu, yuk. Di lemari kamarku masih ada pakaian punya mendiang suamiku, kamu bisa  pakai dulu,” kata Bianca, dan seperti biasa aku tak bisa menolak. Dia terlalu lembut untuk diabaikan.

Wanita itu menuntunku ke kamarnya, aku melepas pakaianku sementara Bianca memilih baju dan celana.

“Ini Mas, kayaknya yang ini muat. Badan suamiku hampir mirip badan kamu kok,” katanya.

Pikiranku terlalu lurus malam ini, sampai tak sadar tangan Bianca diam-diam menyentuh ritsleting celanaku. Aku membeku sesaat, menatapnya bingung.

“Mas, kita udah lama gak begituan,” bisiknya, bibirnya yang masih berpoles lipstik merah muda manyun manja.

Aku bukan pria polos, ‘begituan’ yang Bianca maksud tentu saja kegiatan yang kami lakukan saat pertama kali bertemu.

Wanita itu tersenyum, matanya menatapku teduh, sayu menggoda, dan seperti biasa dia selalu menggodaku duluan. Aku diam saja saat kedua tangannya mulai bergeriliya menyentuh tubuhku, bibirnya mengecup wajahku seperti sedang kehausan.

Aku menggeram pelan... suara yang tanpa disangka membuat Bianca semakin bersemangat. Namun, begitu ikat pinggangku hampir terlepas, mataku tanpa sengaja melihat ke arah pintu yang belum sepenuhnya tertutup.

Di sana, Celine berdiri menatap kami dengan wajah merah padam. Dia bukan marah melihatku dan ibunya bermesraan, sebaliknya... kulihat ia meremas miliknya dengan tangannya sendiri.

Sial! Aku malu sekali. Celine pun juga pergi secepatnya dari sana.

“Bianca, aku sudah bilang aku ada meeting besok. Aku takut kelepasan dan malah menginap di sini. Kamu kan tau, aku pasti bangun kesiangan karena kewalahan,” kataku beralasan.

Wanita dengan rambut bergelombang sepunggung itu menghela napas kecewa, bibirnya mengerucut sedikit, dan untuk membuatnya merasa tenang kukecup sebentar bibir manis itu.

“Aku pulang dulu ya, Sayang.”

Kupakai pakaianku dengan benar, lalu kutinggalkan Bianca yang masih nampak kecewa padaku. Kupijaki lantai marmer rumah mewah itu sampai akhirnya aku tak sengaja melihat Bianca yang juga sedang menatap diriku.

Canggung sekali rasanya. Rusak habis-habisan reputasiku di depan kedua calon anak tiriku malam ini.

Aku masuk ke mobil dengan segera, meninggalkan rumah itu. Namun baru puluhan meter aku menepi di dekat pohon besar. Kuambil ponselku dengan kasar, jempolku bergerak mencari satu kontak yang menurutku perlu kumaki-maki malam ini juga.

“Nadira, kamu gila, ya! Kamu lempar aku ke sarang perempuan-perempuan binal!” makiku begitu telpon itu berhasil terhubung.

Gadis yang kuhubungi di sana tertawa renyah. “Gimana, Mas? Kenyang kan matamu?”

Aku meringis. “Kenyang sampai aku bingung mau nyobain yang mana duluan!”

Nadira masih tertawa, seolah senang dengan kekalahan syahwatku. “Aku tunggu kamu besok di kantor. Komandan udah gak sabar nunggu laporan dari kamu.”

Kuremas stirku dengan kesal. “Awas kamu, Nadira. Kulahap habis kamu besok!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA   BAB 127

    “Mas, ini helmnya.”Aku menerima helm yang diberikan pemilik losmen, kemudian menyerahkan uang sewa motor untuk beberapa jam. Setelah memastikan alamat kantor Bianca yang diberikan Kiara sudah tersimpan di ponsel, aku langsung berangkat.Jaraknya tidak terlalu jauh. Namun karena sudah lama tidak kembali ke kota ini, beberapa jalan terasa asing meskipun aku pernah melewatinya berkali-kali selama penyelidikan.Aku sengaja memilih motor karena tidak ingin menarik perhatian. Sejak namaku mulai muncul di media, berada di dalam mobil pribadi terasa seperti mengundang orang untuk memperhatikanku. Dengan masker dan topi, setidaknya aku bisa bergerak tanpa terlalu banyak dihentikan.Hampir empat puluh menit kemudian, aku sampai di depan gedung perusahaan yang sekarang sedang ditangani Celine dan Valisa.Aku mematikan mesin dan turun dari motor. Dari luar, gedung itu masih terlihat seperti perusahaan biasa. Tidak ada lagi penjagaan berlebihan seperti yang pernah kulihat sebelumnya. Hanya bebera

  • MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA   BAB 126

    POV JEVANAku menatap pesan Kiara cukup lama sebelum akhirnya membalas dan mengirimkan alamat losmen tempatku menginap. Tidak sampai satu jam kemudian, sebuah mobil berhenti di depan penginapan.Kiara turun sendirian dengan pakaian yang jauh lebih santai, tubuhnya juga sedikit lebih kurus, tetapi langkahnya masih tegap ketika berjalan menghampiriku yang sedang duduk di teras.“Om Jevan,” sapanya dengan senyum yang tak pernah berubah, tapi yang kusadari binar di matanya tak lagi secerah saat dia masih jatuh hati padaku.Aku berdiri dan mempersilakannya masuk. “Masuk aja.”Kiara mengikuti langkahku ke dalam kamar. Matanya sempat berhenti pada mangkuk mie instan yang sudah kosong di atas meja sebelum akhirnya dia duduk di kursi yang berada di depan tempat tidur.Aku ikut duduk sambil memperhatikannya. Ada sesuatu yang membuatnya datang langsung ke sini, bukan sekadar mengirim pesan.“Aku mau

  • MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA   BAB 125

    POV JEVANSudah satu minggu berlalu sejak kasus Bianca dan para mafia pelabuhan berakhir. Aku lebih banyak menutup diri, pergi jauh dari keramaian kota, membuang semua bukti perjalananku selama 2 tahun terakhir.Meski sesekali kudengar desas-desus tentang kasus itu masih dibicarakan di mana-mana. Aku juga melihat wajah Rakabumi sesekali muncul di televisi.Aku menghela napas panjang, aku tak ingin membuang waktuku meladeni berita-berita itu lagi. Tugasku sudah selesai, berarti cukup.“Kamu beneran gak mau pulang?” Suara Nadira menegurku.Aku mengalihkan pandanganku dari hamparan sawah dan pemandangan gunung di depan sana, beralih pada sosok perempuan yang sudah hampir dua minggu menemaniku di sini... ya, menjadi teman mengobrol—atau sesekali teman ranjangku.“Gak kangen sama Celine?” tanyanya lagi.Aku mengangkat bahu. Sejak kasus itu berakhir pula, aku tidak pernah bertukar kabar dengan Celine atau pun Kiara. Aku mencoba menghubunginya tetapi dia tidak pernah menjawab telepon atau me

  • MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA   BAB 124

    POV JEVANRuang sidang kembali hening setelah seluruh bukti dan kesaksian selesai disampaikan. Tidak ada lagi perdebatan dari pihak pembela. Bahkan pengacara Bianca yang sejak awal terus mencari celah kini hanya duduk sambil membaca berkas di hadapannya.Hakim memeriksa beberapa dokumen terakhir sebelum akhirnya mengangkat wajah. “Setelah mempertimbangkan seluruh keterangan saksi, barang bukti, dokumen, rekaman pemeriksaan, serta pembelaan dari masing-masing terdakwa, majelis hakim telah mengambil keputusan.”Aku tanpa sadar menegakkan tubuh. Di sebelahku, Rakabumi juga tidak bergerak. Kami sama-sama menunggu.Hakim mulai membacakan pertimbangan putusan dengan suara tenang dan tegas. Satu per satu perbuatan para terdakwa disebutkan kembali, termasuk keterlibatan Bianca dalam pembunuhan Rendra, manipulasi aset dan dokumen perusahaan, serta hubungannya dengan jaringan kejahatan yang selama ini dijalankan bersama orang-orang di b

  • MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA   BAB 123

    POV JEVAN“Bukan aku, tapi keluarga Luan sendiri yang ingin melempar bangkai kepada kita....”Rakabumi menarik napas sebentar kemudian melanjutkan, “Juan dan semua kejahatan yang selama ini mereka lakukan bersama.”Aku tidak bertanya lebih jauh. Selama ini, semua orang juga tahu Juan memang terlibat dalam pekerjaan kotor keluarga Bianca, termasuk urusan membuang mayat anak buah mereka di sekitar pelabuhan.Dengan kondisinya yang hampir mendekati cacat pasca penyiksaan yang Bianca lakukan padanya, rupanya Nyonya Luan memanfaatkan Juan sebagai jalan terakhir untuk menyelamatkan dirinya sendiri.“Semua mafia pelabuhan juga sudah tertangkap,” lanjut Rakabumi. “Mereka satu per satu mulai memberikan kesaksian. Informasi yang diberikan Nyonya Luan juga sudah kami cocokkan dengan bukti yang ada.”Aku mengangguk. Tidak ada lagi yang perlu kami cari. Bianca sudah mengakui pembunuhan Rendra, sementara bukti terhadap Nyonya Luan dan Juan juga sudah cukup kuat. Semua orang yang terlibat dalam jari

  • MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA   BAB 122

    BAB 122POV BIANCAPertanyaan Jevan membuatku terdiam cukup lama. Selama bertahun-tahun, tidak ada seorang pun yang berani menanyakan hal itu langsung kepadaku. Mereka hanya melihat hasil akhirnya, lalu menyimpulkan sendiri apa yang terjadi.Aku menatap meja di hadapanku sebelum akhirnya mengangkat wajah.“Karena Rendra tahu semuanya.”Jevan tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menungguku melanjutkan.“Dia tahu kalau Celine dan Kiara bukan anak kandungnya.”Aku menarik napas panjang. “Dulu, sebelum Celine dan Kiara lahir, saya punya hubungan dengan laki-laki lain. Saya selingkuh dari Rendra. Ketika semuanya terbongkar, dia akhirnya tahu bahwa kedua anak yang selama ini dia besarkan bukan darah dagingnya.”Aku masih ingat bagaimana wajah Rendra saat mengetahui semuanya. Tidak ada teriakan, tidak ada benda yang dilempar. Justru ketenangannya saat itu yang membuatku takut. Aku tau dia pasti menyimpan rencana lebih besar untuk membalasku.“Rendra marah, bukan hanya karena saya berselingkuh,

  • MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA   BAB 5

    “Gak sanggup? Payah kamu, Jev.” Nadira mengejek. “Mau makan dulu gak sama aku? Aku juga masih nunggu orang.”Sepertinya tawaran Nadira tak bisa ditolak. Kami pergi ke sebuah restoran tak jauh dari hotel, memesan makanan, dan duduk tenang menikmati makanan. Sesekali berbincang agar tak terlalu henin

  • MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA   BAB 4

    “Ya sudah, saya antar kamu ke klinik—““Boleh antar aku ke hotel aja, Om? Aku mau tinggal beberapa hari di sana sampai baikan sama Mama,” kata Celine memotong.Kupatuhi permintaannya, kugendong gadis langsing itu dan duduk di mobil. Dia mengucapkan terima kasih, wajahnya memerah mungkin karena malu

  • MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA   BAB 3

    Aku mengerang panjang sambil melepas semuanya ke atas perut Nadira. Perempuan cantik sepantarakan denganku yang sudah hampir satu tahun ini menjadi partner ranjangku. Pasangan tanpa status, hanya untuk bersenang-senang.Kuraih semua pakaianku dan kupakai seperti semula, kotak rokok dan korek gas di

  • MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA   BAB 1

    “Celine, Kiara....” Bianca berteriak tepat saat ia membuka pintu utama rumah mewah yang baru pertama kali kudatangi ini.Dari dua nama yang disebut, hanya satu yang muncul. Seorang gadis dengan daster berwarna merah muda sebatas lutut, matanya sembab seperti orang yang habis menangis. Tatapannya da

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status