Share

BAB 59

Author: stevendeeary
last update publish date: 2026-06-14 22:56:07

Aku tidak langsung menuju apartemen setelah berpisah dengan Nadira.

Entah karena lelah, atau karena terlalu banyak hal yang berputar di kepalaku sekaligus. Juan yang mulai sadar, flashdisk dari rumah Nyonya Luan, Kiara yang menghilang bersama Bianca, dan Fino yang sampai sekarang seperti ditelan bumi. Semuanya bercampur menjadi satu sampai-sampai aku tidak lagi tahu mana yang harus kudahulukan.

Mobilku berhenti di depan sebuah bar yang bahkan tidak pernah kukunjungi sebelumnya. Tempat itu ramai
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA   BAB 60

    POV BIANCAAku meninggalkan jendela dan kembali ke meja kerja. Dokumen-dokumen akuisisi Exersea masih terbuka di layar laptop, sementara beberapa berkas lain memenuhi permukaan meja. Seharusnya malam ini aku fokus menyelesaikan semuanya, tetapi pikiranku terus berputar pada satu hal yang sama. Proses akuisisi ini sudah berjalan terlalu lama.Valisa memang belum menyerah, tetapi aku bisa melihat retakan mulai muncul di mana-mana. Beberapa pemegang saham sudah goyah, beberapa rekan bisnis mulai menjaga jarak, dan sisanya hanya menunggu pihak mana yang akan keluar sebagai pemenang sebelum menentukan sikap.Aku membuka salah satu daftar nama yang sejak beberapa hari terakhir terus kupelajari. Orang-orang ini bukan sekutu Valisa, tetapi mereka juga belum berpihak kepadaku. Mereka cukup berpengaruh untuk menghambat proses akuisisi jika menginginkannya.Biasanya aku akan menggunakan uang atau tekanan untuk mengubah keputusan mereka. Namun kali ini aku membutuhkan pendekatan yang berbeda.Ses

  • MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA   BAB 59

    Aku tidak langsung menuju apartemen setelah berpisah dengan Nadira.Entah karena lelah, atau karena terlalu banyak hal yang berputar di kepalaku sekaligus. Juan yang mulai sadar, flashdisk dari rumah Nyonya Luan, Kiara yang menghilang bersama Bianca, dan Fino yang sampai sekarang seperti ditelan bumi. Semuanya bercampur menjadi satu sampai-sampai aku tidak lagi tahu mana yang harus kudahulukan.Mobilku berhenti di depan sebuah bar yang bahkan tidak pernah kukunjungi sebelumnya. Tempat itu ramai, penuh orang-orang yang datang untuk melupakan masalah mereka selama beberapa jam. Lucunya, aku justru datang untuk mengingat satu masalah yang sejak pagi terus menghantuiku.Segelas whiskey mendarat di hadapanku. Aku menatap cairan berwarna keemasan itu beberapa saat sebelum meraih ponsel dari saku celana.Nama Bianca masih tersimpan di sana.Sudah berhari-hari kami saling menyerang, saling menyalahkan. Kalau ada satu hal yang paling dibenci Bianca, itu adalah kehilangan kendali. Dan selama be

  • MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA   BAB 58

    "Aku datang."Sambungan telepon terputus.Sepanjang perjalanan menuju lokasi Nadira, pikiranku terus berputar. Berkali-kali aku mencoba menghubungi Kiara, tetapi hasilnya tetap sama. Tidak aktif. Bahkan pesan yang kukirim sejak lima belas menit lalu tidak menunjukkan tanda-tanda terkirim.Aku menemukan Nadira di sebuah kafe yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit tempat Juan dirawat. Wanita itu sudah duduk di sudut ruangan sambil menatap layar laptopnya ketika aku datang. Begitu melihatku, ia langsung menutup layar tersebut dan menyuruhku duduk tanpa basa-basi."Kamu kelihatan kayak habis gak tidur," komentarnya.Aku menarik kursi di hadapannya lalu mengusap wajah kasar. "Memang gak tidur."Nadira tidak bertanya lebih jauh. Syukurlah. Saat ini aku sedang tidak ingin menjelaskan apa pun tentang apa yang terjadi padaku akhir-akhir ini.."Aku gak akan lama-lama," lanjutnya. "Ada sesuatu yang perlu kamu lihat."Dari dalam tasnya, Nadira mengeluarkan sebuah flashdisk berwarna abu-abu lal

  • MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA   BAB 57

    “Jangan-jangan....”Pikiran buruk langsung bermunculan di kepalaku. Sejak kapan Bianca tahu lokasi apartemen itu? Apa dia benar-benar datang untuk menemui Kiara? Atau justru Kiara yang sengaja menemuinya? Apa pun jawabannya, tidak ada satu pun yang membuatku tenang.Aku mencoba menghubungi nomor Kiara lagi. Hasilnya tetap sama. Tidak aktif.Sial.Kuusap wajah kasar lalu membaca ulang pesan terakhir yang ia kirimkan. Pesan itu sudah masuk hampir dua jam lalu, sementara aku baru membacanya sekarang. Jika memang sesuatu terjadi, maka aku sudah terlambat dua jam.Aku keluar dari kamar mandi sambil mengenakan kemeja. Celine yang masih duduk di atas ranjang langsung menoleh ke arahku. Rambutnya masih berantakan, selimut menutupi sebagian tubuhnya.“Kamu jadi pergi sekarang?” tanyanya.Aku mengangguk singkat. “Iya. Kliennya minta ketemu lebih cepat.”Untungnya Celine tidak banyak bertanya. Ia hanya mengangguk lalu kembali meraih ponselnya. Aku menghampiri gadis itu, mengecup keningnya sekila

  • MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA   BAB 56

    “Mas....”POV CELINESetelah melewati sekian perdebatan dengan Kiara. Akhirnya adikku mengalah dan membiarkan Mas Jevan mengantarku ‘pulang’.Pulang yang Kiara kira, aku akan kembali ke rumah Mama.“Maaf kalau unit ini gak seluas unitku sebelumnya,” kata Mas Jevan.Ya, tempat ini amat kecil. Hanya ada satu kamar, ruang tamu kecil dan kamar mandi. Aku tidak yakin bisa bertahan di sini untuk waktu yang cukup lama.“Hanya sementara, nanti kita akan pindah ke kota lain setelah menikah,” lanjutnya.Setidaknya kalimat itu membuatku sedikit tenang. Kuletakkan koperku di ujung ruangan, pelan berjalan sambil tanganku iseng meraba-raba barang-barang di kamar itu.Bersih, terawat, tak ada debu setipis apa pun. Mungkin Mas Jevan sering datang ke sini dan membersihkannya. Baiklah, aku bisa tidur nyaman di sini.“Makasih ya, Mas,” ucapku.“Gak masalah kamu di sini, kan?”Aku mengangguk pelan. “Asal gak sama Kiara. Aku butuh waktu untuk gak ketemu dia dulu.”Mas Jevan menarik pinggangku. Jarak setip

  • MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA   BAB 55

    “Saya harus pergi sekarang—““Tunggu, Jev. Kamu jangan gegabah!” Rakabumi menahanku. “Kita hanya mengira-ngira, tapi kalau kamu ambil keputusan terlalu cepat sama saja kamu mengabaikan misi-misi kita sebelumnya.”Langkahku urung, kembali aku duduk dan termenung.“Jangan lupa, fokus kita adalah kasus Valisa sekarang,” lanjutnya sambil mengambil tablet yang tergeletak di atas meja, sesaat ia meluncur lalu menunjukkan layar tablet itu ke arahku.“Juan sudah sadar, tapi masih belum bisa diajak berbicara. Dua anak buah saya berjaga ketat di depan ruang ICU, tidak ada yang bisa menemui Juan selain istri dan keluarga intinya.”Beberapa foto terpampang di layar, juga hasil rekam medis dari rumah sakit tempat Juan dirawat.“Beberapa kali anggota kita mengajaknya berbincang, tapi responnya masih belum sepenuhnya. Saya agak skeptis, firasat saya berkata Juan tidak akan buka mulut. Karena yang ia hadapi bukan hanya Bianca, melainkan juga orang-orang yang berdiri di belakang wanita itu.“Sekali sa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status