Compartir

BAB 4

Autor: stevendeeary
last update Fecha de publicación: 2026-05-13 17:00:48

“Ya sudah, saya antar kamu ke klinik—“

“Boleh antar aku ke hotel aja, Om? Aku mau tinggal beberapa hari di sana sampai baikan sama Mama,” kata Celine memotong.

Kupatuhi permintaannya, kugendong gadis langsing itu dan duduk di mobil. Dia mengucapkan terima kasih, wajahnya memerah mungkin karena malu.

“Antar ke hotel Aston ya, Om. Kebetulan aku udah booking,” katanya.

“Kalau sudah booking kenapa tadi gak langsung ke hotel?” tanyaku sambil memutar kemudi.

“Aku sebenarnya mau ambil barang-barangku yang ada di rumah.”

“Oh, kalau gitu kamu bikin aja daftar barang-barang yang mau kamu ambil, nanti kalau sempat saya datang ke rumahmu dan minta tolong Kiara siapkan.”

Celine menunduk malu. “Terima kasih,” katanya lembut, terlampau lembut sampai aku baru sadar Celine dan Kiara punya suara yang sama lembutnya seperti Bianca ... halus nan menggoda.

Mobilku sampai di hotel, aku meminjam kursi roda lalu menyuruh Celine duduk. Kubantu proses chek in lalu kuantar dia sampai ke kamar.

“Om, makasih, ya.”

Aku mengangguk. “Saya mau mampir ke apotik dan beli obat, nanti saya balik lagi.”

Kulakukan semuanya secara naluriah sebagai bentuk tanggung jawab karena tidak sengaja menabraknya. Lagi pula, Celine adalah calon anak tiriku, aku tidak boleh melupakan misiku, mengambil hati Bianca dan anak-anaknya adalah tujuanku sekarang.

Kotak P3K sudah di tangan, aku kembali ke kamar Celine di lantai dua. Begitu pintu terbuka, aku terkejut melihat ponselku sudah di tangan gadis itu.

“Mama ternyata suka kirim-kirim foto bugil buat Om, ya?” Celine terkekeh.

Kuletakkan kotak obat di atas meja, kurampas ponselku cepat-cepat. Sebenarnya tak masalah aib kecil ini terbongkar, asal bukan ponsel khusus pekerjaanku saja yang ketahuan.

“Mama juga sering begitu pas Papa masih ada, gak cuma kirim ke Papa aja, tapi juga teman-teman bisnis Papa. Ah, Om jangan ilfeel sama Mama, ya. Aku cuma ngasih tau aja, supaya Om gak kaget.”

Terkejut? Tentu saja.

“Bianca sering selingkuh?”

Celine mengangkat bahu tak tahu. “Mama setiap hari di rumah, gak pernah bawa laki-laki, tapi kalau kirim foto-foto nakal ke banyak lelaki memang sering. Dan makin gila setelah Papa gak ada, Mama mulai merasa bebas gonta-ganti pasangan.”

Aku menggeleng pelan, tak menyangka. “Ah, semua orang juga punya keburukan. Gak masalah,” jawabku santai, padahal dalam hati cukup syok juga.

Kuambil kotak obat lalu berjongkok di hadapan Celine yang sedang duduk di tepi ranjang. Lutut gadis itu terluka, sementara tungkai kakinya lebam karena terkilir, siku kanannya juga lecet karena digunakan menahan tubuhnya saat jatuh.

Hening dalam ruangan itu. Aku fokus dengan luka-luka yang perlu kuobati, tak sadar kalau sejak tadi Celine diam-diam memerhatikanku.

“Umur Om berapa?”

Pertanyaan itu lagi?

“Tiga puluh,” jawabku.

“Kok mau sama Mama yang udah tua? Padahal yang lebih muda banyak, loh. Om juga ganteng, badannya bagus kayak... polisi.”

Aku hampir tersedak ludahku sendiri. “Saya rajin olahraga karena memang kegiatan saya cuma kerja dan olahraga.”

“Termasuk olahraga sama Mama?”

Aku tahu arah pembicaraan gadis itu. Dan tanpa disangka, Celine malah menarikku agar duduk di sebelahnya. Lembutnya telapak tangan gadis itu seolah menghipotisku. Pada detik selanjutnya, ia duduk di pangkuanku, satu tangannya melingkar cepat di belakang leherku.

“Kenapa semalam Om malah pulang?”

Aku membelalak. “Pu-pulang?” Aku teringat lagi dengan momen canggung kemarin malam.

“Iya, padahal aku gak apa-apa banget kalau Om mau begituan sama Mama. Aku ngerti kok hubungan orang dewasa. Aku juga pernah... dulu sama salah satu pacarnya Mama.”

Sinting, sinting, sinting! Keluarga macam apa sih ini! Batinku mulai merutuk.

Kewarasanku mulai timpang saat tangan Celine membuka dua kancing atas kemejaku, napasnya bergemuruh tepat di pelipisku saat tangannya menyentuh bebas dadaku yang bidang.

“Pantes Mama suka, Om gagah banget,” pujinya. “Gimana ya rasanya main sama Om.”

Celine menggigit bibirnya, gerakan kecil tapi cukup sensual di mataku.

“Rambut Om juga wangi... ah, rasannya gak pantes dipanggil Om. Kalau aku panggil Mas aja boleh?” Celine mengerjap, matanya yang lentik membuatku tak bisa lepas menatapnya.

“Kalau kita lagi berduaan, aku panggil Mas, tapi kalau di depan Mama aku panggil Om.”

Gerakan tangan Celine makin berani, menggerayang ke sana ke mari, meluncur sampai ke perut, lembut dan memabukkan. Kupejamkan mata, tanpa sadar kepalaku bersandar di pundaknya, dan detik itu juga bisa kurasakan kecupan datar Celine di daun telingaku.

Aku tak siap mengerang, tapi gadis ini menggodaku terus menerus.

“Mas Jevan, Mama beruntung banget jadi pacar Mas. Aku juga—“

Kring...!

Terima kasih, Tuhan. Engkau telah menyuruh seseorang menghubungiku. Kudorong pelan tubuh Celine ke samping, lalu beranjak dari sana. Kuambil ponselku, dan kulihat nama Bianca terpampang di layar.

Wanita yang menjadi calon istriku ini pasti mencari diriku sejak tadi, tapi di sini aku malah tergoda dengan putri cantiknya.

“Mama kamu nelpon, kayaknya saya harus pergi sekarang,” kataku tanpa menunggu jawab, tapi satu yang kulihat Celine hampir menangis karena kutinggal.

Baiklah, siapa yang tidak kesal ditinggal saat sedang nafsu-nafsunya? Masa bodoh, yang penting aku sudah aman meski harus kuakui tanganku sudah sangat gatal ingin meremas dada padat Celine yang menantangku sejak tadi.

“Hallo, Sayang?”

Mas, kata Bibi kamu pergi lagi. Aku males banget deh sama kamu, aku cuma mampir ke minimarket beli makanan dan kondom, tapi kamu malah gak ada,” omel Bianca, cempreng tapi lucu.

“Sayang, maaf, aku ada kerjaan mendadak, aku harus kembali ke kantor. Klienku minta ketemu lagi,” jawabku bohong, mumpung masih enam sore.

Kantor? Kerjaan apalagi sih, Mas? Aku udah gak sabar banget padahal!

“Maaf ya, Sayang. Aku janji, besok libur waktuku full untuk kamu. Aku akan pesan luxury hotel untuk kita berdua.”

Beneran?” Suara Bianca berubah lembut tapi menuntut.

“Iya, Sayang.” Kujeda panggilan itu sebentar untuk membuka aplikasi m-banking, lalu mengirim sejumlah uang ke rekening Bianca.

“Sayang, aku kirim 95 juta, kamu pergi ajak Kiara belanja, ya. Maaf aku gak bisa nemenin hari ini.”

Mas, wah!

Aku bisa mendengar Bianca berjingkrak kegirangan di sana.

Makasih ya, Mas.” Bianca langsung menutup telpon, sedangkan aku menepuk jidat.

Hampir kewalahan.

Misi rahasia yang seharusnya kujalankan hari ini terpaksa kuabaikan. Setelah foto bugil Bianca, punggung mulus Kiara dan solo player-nya, lalu Celine yang ikut-ikutan binal.

Aku merasa perlu pulang dan beristirahat untuk memulihkan kewarasanku.

“Mas, koko kamu di sini?” Itu suara Nadira. “Lagi sama Bianca, ya?”

Kutarik lengan Nadira menjauh karena posisiku masih di lorong tak jauh dari kamar Celine. “Kamu ngapain di sini?”

“Kerjalah, sama seperti kamu. Gimana? Udah dapat informasi baru apalagi hari ini?”

Aku menggeleng. “Nad, kayaknya aku gak sanggup....”

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA   BAB 19

    “Mas Jevan....” Celine melenguh keras di atasku. Mendengar itu, mulutku makin bersemangat memilin pucuk kedua dadanya.Kuakui dia tak serta merta membuatku tergila-gila seperti saat pertama kali aku mencicipi tubuh Kiara, tetapi sekali lagi kuulang, “Celine tidak memaksa, dia menghargaiku.”“Udah basah ternyata,” godaku, kupercepat gesekan telunjuk dan jari tengahku pada labia yang masih tertutup celana dalam.Basah, harum menggoda. Lagi kupilin dadanya, kusesap lembut hingga gadis itu kehilangan keseimbangan tubuhnya. Celine menjerit pelan, kepalanya terlempar ke belakang, menahan nikmat yang kuberikan dari dua arah.Ku baringkan tubuhnya, bibirku mulai bergeriliya mengabsen tiap sisi kulit tubuhnya. Bercak merah bekas permainan kami semalam masih tertinggal di sana, tak menyurutkan keinginanku untuk berbuat sedikit lebih kasar dari sebelumnya.Satu tanganku melepas panty gadis itu dengan tak sabar, ciumanku turun ke sana, kunikmati ranumnya segitiga basah kemerahan itu.Cup!Kulebar

  • MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA   BAB 18

    “Jangan pernah datang ke pelabuhan, Mas, sekali pun Mama yang ngajak,” kata Celine lagi.Napasku tersendat sesaat, kuhela putus-putus, lalu kutatap Celine. “Emangnya di pelabuhan ada apa, Cel?”Celine menghela napas, lega kurasa. “Syukurlah kalau kamu gak ke sana. Sumpah, semalam aku kebangun dan lihat kamu gak ada di sampingku.”“Aku mulai berpikir aneh-aneh, aku cek handphone dan ada pesan dari Mama kalau Mama lagi di pelabuhan. Aku mau hubungi kamu, tapi aku takut kamu lagi sama Mama. Aku gak tenang, Mas.“Aku takut kamu keseret dalam bisnis Mama. Aku takut nasib kamu kayak Papa. Kematian Pak Panca masih jadi sesuatu yang bikin aku gak tenang.”“Itu sebabnya gerd kamu kambuh? Kamu kirim pesan kepada saya saat perut kamu sakit karena mikirin saya, Cel?” tanyaku menyela.Gadis itu mengangguk. “Mas, aku butuh kamu di sini. Aku sampe mikir, apa aku kabur aja, ya? Tapi aku maunya kabur sama kamu, Mas.”Kutarik tubuh gadis itu naik ke pangkuanku, kupeluk dia erat-erat, kubiarkan kepalany

  • MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA   BAB 17

    “Eeuunghh...”Saliva kami terputus. Sialnya aku tidak bisa berbuat lebih jauh karena Nadira sedang datang bulan. Tidak apa-apa, nanti main sama Celine.“Kangen,” kata Nadira lalu meletakkan kepalanya di atas dadaku yang penuh bercak lipstik merahnya.“Jadi, kamu minta ketemu di sini cuma buat kangen-kangenan? Kamu bilang kamu tahu soal Ardian, itu cuma alibi aja, ya?” tanyaku iseng.Nadira menggeleng. “Masa ketemu cuma buat ngomogin kasus.” Perempuan itu menautkan seluruh kancing kemejanya. Sudah puas aku bermain-main dengan dada sintalnya.Ia turun dari ranjang, mengambil tas laptop lalu kembali duduk di sebelahku. “Soal Ardian dan pembunuhan berencana Panca Wardana semuanya sudah dirancang dua bulan setelah kematian Rendra Satvika,” ujar Nadira memulai.Aku mengangkat satu alis. Nadira menunjukkan layar laptopnya ke arahku. “Sudah beberapa hari sejak rapat besar di markas, aku tinggal di dekat rumah keluarga Luan Hamijaya.”“Menurut penelitian salah satu anggota kita yang menyamar d

  • MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA   BAB 16

    “Jangan coba-coba bohong ya, Mas!” Bianca membentakku, tapi matanya berkaca-kaca.Aku termenung sebentar, menatap wanita itu dengan tak biasa.Inikah Bianca yang kulihat semalam?Inikah Bianca yang mengomando puluhan anak buah kapal di gudang pelabuhan?Inikah Bianca yang memaki dan membunuh Ardian?Sialnya, aku tidak bisa menebak peran dan wajah mana yang sedang Bianca pakai pagi ini. Sorot matanya menyiratkan sebuah ketulusan saat ia berbicara, lembut dan tertata suaranya.“Mas, jawab! Kamu ngapain ke rumah Bianca? Tetangga di sana ngomong sama aku loh, Mas. Katanya kamu nginep—““Nginep?” Aku menyela.“Benar, kan? Kamu nginep di rumah Celine!” bentakan Bianca terdengar makin frustrasi.Aku menghela napas, mana mungkin aku mengaku. Kupasang ekspresi tenang—mengimbangi Bianca yang bermuka dua. “Aku datang siang hari, bawain makan siang untuknya. Terus mal

  • MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA   BAB 15

    “Bianca, sinting!” gumamku memaki.Kulepas masker dan topi yang menutupi wajahku, cepat kuberlari keluar dari tempat itu, mengendap melalui lorong-lorong yang tak tersentuh kamera CCTV, lalu kembali masuk ke mobil.Waktu menunjukkan pukul dua pagi saat kutinggalkan pelabuhan. Jalanan sangat sepi, hanya ada beberapa orang bertopi caping menggendong jala dan kail di pundak.Ponselku berdering, nama komandan muncul di layar.“Ardian meninggal, dia dilempar hidup-hidup ke laut setelah Bianca menyiksanya,” kataku cepat.“APA?!” Rakabumi berteriak di seberang sana. “Bagaimana bisa?!”“Saya sudah merekam semuanya, jangan khawatir. Ini bukti paling kuat yang bisa kita tunjukkan di pengadilan setelah Bianca tertangkap nanti.”“Baiklah, tapi soal Ardian... dia narapidana kita, dan dia menghilang di lautan?”Mengingat kejadian itu saja aku t

  • MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA   BAB 14

    “Jangan sampai barang-barang ini sampai di tangan yang salah!”Suara itu terlalu tajam untuk wanita yang selama ini kukenal lemah lembut. Dia Bianca, berdiri tak jauh dari loading door memantau orang-orang yang sedang menarik troli-troli berisi peti-peti besi berwarna perak.Aku adalah salah satu dari mereka—orang-orang yang melakukan kegiatan di bawah pengawasan Bianca—separuh wajahku tertutup masker agar tak mudah dikenali.Bianca terlihat berbeda. Wanita cantik yang kukenal manis dan penurut, kini berdiri seperti orang asing dengan wajah bengis, seolah ia tak akan mengampuni siapa pun yang berani melawannya.Suasana tempat ini terlalu hening, tapi dari jauh bisa kudengar suara debur ombak menggulung tipis. Air laut pasti sedang pasang, tapi kenapa masih ada pengiriman barang?“Fino, ada kabar tentang Ardian?”“Saya belum berhasil menghubunginya, Nyonya.”Bianca menghela napas

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status