로그인“Ya sudah, saya antar kamu ke klinik—“
“Boleh antar aku ke hotel aja, Om? Aku mau tinggal beberapa hari di sana sampai baikan sama Mama,” kata Celine memotong.
Kupatuhi permintaannya, kugendong gadis langsing itu dan duduk di mobil. Dia mengucapkan terima kasih, wajahnya memerah mungkin karena malu.
“Antar ke hotel Aston ya, Om. Kebetulan aku udah booking,” katanya.
“Kalau sudah booking kenapa tadi gak langsung ke hotel?” tanyaku sambil memutar kemudi.
“Aku sebenarnya mau ambil barang-barangku yang ada di rumah.”
“Oh, kalau gitu kamu bikin aja daftar barang-barang yang mau kamu ambil, nanti kalau sempat saya datang ke rumahmu dan minta tolong Kiara siapkan.”
Celine menunduk malu. “Terima kasih,” katanya lembut, terlampau lembut sampai aku baru sadar Celine dan Kiara punya suara yang sama lembutnya seperti Bianca ... halus nan menggoda.
Mobilku sampai di hotel, aku meminjam kursi roda lalu menyuruh Celine duduk. Kubantu proses chek in lalu kuantar dia sampai ke kamar.
“Om, makasih, ya.”
Aku mengangguk. “Saya mau mampir ke apotik dan beli obat, nanti saya balik lagi.”
Kulakukan semuanya secara naluriah sebagai bentuk tanggung jawab karena tidak sengaja menabraknya. Lagi pula, Celine adalah calon anak tiriku, aku tidak boleh melupakan misiku, mengambil hati Bianca dan anak-anaknya adalah tujuanku sekarang.
Kotak P3K sudah di tangan, aku kembali ke kamar Celine di lantai dua. Begitu pintu terbuka, aku terkejut melihat ponselku sudah di tangan gadis itu.
“Mama ternyata suka kirim-kirim foto bugil buat Om, ya?” Celine terkekeh.
Kuletakkan kotak obat di atas meja, kurampas ponselku cepat-cepat. Sebenarnya tak masalah aib kecil ini terbongkar, asal bukan ponsel khusus pekerjaanku saja yang ketahuan.
“Mama juga sering begitu pas Papa masih ada, gak cuma kirim ke Papa aja, tapi juga teman-teman bisnis Papa. Ah, Om jangan ilfeel sama Mama, ya. Aku cuma ngasih tau aja, supaya Om gak kaget.”
Terkejut? Tentu saja.
“Bianca sering selingkuh?”
Celine mengangkat bahu tak tahu. “Mama setiap hari di rumah, gak pernah bawa laki-laki, tapi kalau kirim foto-foto nakal ke banyak lelaki memang sering. Dan makin gila setelah Papa gak ada, Mama mulai merasa bebas gonta-ganti pasangan.”
Aku menggeleng pelan, tak menyangka. “Ah, semua orang juga punya keburukan. Gak masalah,” jawabku santai, padahal dalam hati cukup syok juga.
Kuambil kotak obat lalu berjongkok di hadapan Celine yang sedang duduk di tepi ranjang. Lutut gadis itu terluka, sementara tungkai kakinya lebam karena terkilir, siku kanannya juga lecet karena digunakan menahan tubuhnya saat jatuh.
Hening dalam ruangan itu. Aku fokus dengan luka-luka yang perlu kuobati, tak sadar kalau sejak tadi Celine diam-diam memerhatikanku.
“Umur Om berapa?”
Pertanyaan itu lagi?
“Tiga puluh,” jawabku.
“Kok mau sama Mama yang udah tua? Padahal yang lebih muda banyak, loh. Om juga ganteng, badannya bagus kayak... polisi.”
Aku hampir tersedak ludahku sendiri. “Saya rajin olahraga karena memang kegiatan saya cuma kerja dan olahraga.”
“Termasuk olahraga sama Mama?”
Aku tahu arah pembicaraan gadis itu. Dan tanpa disangka, Celine malah menarikku agar duduk di sebelahnya. Lembutnya telapak tangan gadis itu seolah menghipotisku. Pada detik selanjutnya, ia duduk di pangkuanku, satu tangannya melingkar cepat di belakang leherku.
“Kenapa semalam Om malah pulang?”
Aku membelalak. “Pu-pulang?” Aku teringat lagi dengan momen canggung kemarin malam.
“Iya, padahal aku gak apa-apa banget kalau Om mau begituan sama Mama. Aku ngerti kok hubungan orang dewasa. Aku juga pernah... dulu sama salah satu pacarnya Mama.”
Sinting, sinting, sinting! Keluarga macam apa sih ini! Batinku mulai merutuk.
Kewarasanku mulai timpang saat tangan Celine membuka dua kancing atas kemejaku, napasnya bergemuruh tepat di pelipisku saat tangannya menyentuh bebas dadaku yang bidang.
“Pantes Mama suka, Om gagah banget,” pujinya. “Gimana ya rasanya main sama Om.”
Celine menggigit bibirnya, gerakan kecil tapi cukup sensual di mataku.
“Rambut Om juga wangi... ah, rasannya gak pantes dipanggil Om. Kalau aku panggil Mas aja boleh?” Celine mengerjap, matanya yang lentik membuatku tak bisa lepas menatapnya.
“Kalau kita lagi berduaan, aku panggil Mas, tapi kalau di depan Mama aku panggil Om.”
Gerakan tangan Celine makin berani, menggerayang ke sana ke mari, meluncur sampai ke perut, lembut dan memabukkan. Kupejamkan mata, tanpa sadar kepalaku bersandar di pundaknya, dan detik itu juga bisa kurasakan kecupan datar Celine di daun telingaku.
Aku tak siap mengerang, tapi gadis ini menggodaku terus menerus.
“Mas Jevan, Mama beruntung banget jadi pacar Mas. Aku juga—“
Kring...!
Terima kasih, Tuhan. Engkau telah menyuruh seseorang menghubungiku. Kudorong pelan tubuh Celine ke samping, lalu beranjak dari sana. Kuambil ponselku, dan kulihat nama Bianca terpampang di layar.
Wanita yang menjadi calon istriku ini pasti mencari diriku sejak tadi, tapi di sini aku malah tergoda dengan putri cantiknya.
“Mama kamu nelpon, kayaknya saya harus pergi sekarang,” kataku tanpa menunggu jawab, tapi satu yang kulihat Celine hampir menangis karena kutinggal.
Baiklah, siapa yang tidak kesal ditinggal saat sedang nafsu-nafsunya? Masa bodoh, yang penting aku sudah aman meski harus kuakui tanganku sudah sangat gatal ingin meremas dada padat Celine yang menantangku sejak tadi.
“Hallo, Sayang?”
“Mas, kata Bibi kamu pergi lagi. Aku males banget deh sama kamu, aku cuma mampir ke minimarket beli makanan dan kondom, tapi kamu malah gak ada,” omel Bianca, cempreng tapi lucu.
“Sayang, maaf, aku ada kerjaan mendadak, aku harus kembali ke kantor. Klienku minta ketemu lagi,” jawabku bohong, mumpung masih enam sore.
“Kantor? Kerjaan apalagi sih, Mas? Aku udah gak sabar banget padahal!”
“Maaf ya, Sayang. Aku janji, besok libur waktuku full untuk kamu. Aku akan pesan luxury hotel untuk kita berdua.”
“Beneran?” Suara Bianca berubah lembut tapi menuntut.
“Iya, Sayang.” Kujeda panggilan itu sebentar untuk membuka aplikasi m-banking, lalu mengirim sejumlah uang ke rekening Bianca.
“Sayang, aku kirim 95 juta, kamu pergi ajak Kiara belanja, ya. Maaf aku gak bisa nemenin hari ini.”
“Mas, wah!”
Aku bisa mendengar Bianca berjingkrak kegirangan di sana.
“Makasih ya, Mas.” Bianca langsung menutup telpon, sedangkan aku menepuk jidat.
Hampir kewalahan.
Misi rahasia yang seharusnya kujalankan hari ini terpaksa kuabaikan. Setelah foto bugil Bianca, punggung mulus Kiara dan solo player-nya, lalu Celine yang ikut-ikutan binal.
Aku merasa perlu pulang dan beristirahat untuk memulihkan kewarasanku.
“Mas, koko kamu di sini?” Itu suara Nadira. “Lagi sama Bianca, ya?”
Kutarik lengan Nadira menjauh karena posisiku masih di lorong tak jauh dari kamar Celine. “Kamu ngapain di sini?”
“Kerjalah, sama seperti kamu. Gimana? Udah dapat informasi baru apalagi hari ini?”
Aku menggeleng. “Nad, kayaknya aku gak sanggup....”
POV KIARA"Mama harus tahu..."Hanya kalimat itu yang terus berputar di kepalaku sejak Komandan Rakabumi mengatakan operasi penangkapan akan dilakukan malam ini.Aku menundukkan kepala, berpura-pura masih sibuk mengusap air mata. Dari sudut mataku, kulihat Om Jevan dan anggota kepolisian lainnya kembali membahas tumpukan berkas di atas meja. Tidak ada lagi yang memperhatikanku. Mereka menganggap aku hanya seorang gadis yang masih trauma setelah hampir diculik.Kalau aku tetap berada di sini, malam nanti semuanya akan terlambat.Mama harus tahu. Nyonya Luan juga harus tahu.Tapi bagaimana caranya?Aku menggigit pelan bibir bawahku sambil mengepalkan kedua tangan di atas pangkuan. Ponselku sudah lama tidak ada. Semua jalur komunikasi denganku diputus sejak semalam. Bahkan kalau sekarang aku nekat keluar dari kantor polisi, Om Jevan pasti langsung mengejarku.Sial...Seketika aku langsung menyesal datang ke sini. Tapi jika tidak, aku tak akan tahu kalau polisi sudah bertindak sejauh ini.
POV JEVANRuang rapat di lantai tiga masih dipenuhi suara lembaran berkas yang dibolak-balik sejak aku datang satu jam lalu. Papan tulis di depan ruangan semakin sesak oleh foto-foto, denah bangunan, hingga garis merah yang menghubungkan satu nama dengan nama lainnya. Beberapa anggota sibuk menyusun laporan terbaru, sementara Rakabumi berdiri di depan papan sambil memperhatikan seluruh perkembangan yang berhasil kami kumpulkan sejak semalam. Anehnya, dari semua bukti yang kini berada di depan mata, pikiranku justru terus kembali pada satu orang.Nadira.Aku kembali menekan tombol panggil di ponsel untuk kesekian kalinya. Nada sambung hanya terdengar beberapa detik sebelum akhirnya terputus begitu saja. Tidak ada jawaban. Tidak ada pesan. Tidak ada satu pun tanda yang menunjukkan perempuan itu baik-baik saja. Jemariku tanpa sadar mengetuk pelan permukaan meja, kebiasaan yang selalu muncul setiap kali pikiranku mulai dipenuhi firasat buruk.Rakabumi yang sedari tadi memperhatikan l
POV NADIRAAku mengenali perempuan yang berdiri di ambang pintu itu.Wajahnya masih terlihat pucat, salah satu tangannya masih terpasang infus yang menggantung pada tiang penyangga.Namun sorot matanya sama sekali tidak menunjukkan seseorang yang baru saja sadar setelah berhari-hari terbaring di rumah sakit.Ruangan mendadak sunyi.Kiara yang sejak tadi berdiri di depanku perlahan melepaskan cengkeramannya pada kerah bajuku. Ia mundur satu langkah, memberi jalan tanpa diminta. Nyonya Luan yang sejak tadi mengawasi dari luar juga ikut menyingkir ke samping, membiarkan perempuan itu masuk lebih dulu."Mama..." suara Kiara terdengar jauh lebih pelan dibanding bentakannya beberapa detik lalu.Bianca tidak langsung menoleh kepadaku. Tatapannya justru berhenti pada meja yang terguling dan foto-foto yang berserakan di lantai. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia berjalan mendekat, lalu membungkukkan badan perlahan untuk memunguti satu per satu lembar foto itu."Apa yang kamu lakukan?" tan
POV NADIRAAku tidak tahu sudah berapa lama berada di ruangan itu. Jam dinding terus berdetak pelan, tetapi tidak ada seorang pun yang masuk sejak Nyonya Luan meninggalkanku beberapa saat lalu. Ruangan VIP itu memang terlihat nyaman, lengkap dengan sofa, tempat tidur, dan kamar mandi pribadi. Namun bagiku, semua itu tidak lebih dari sebuah sangkar yang dibuat semewah mungkin.Pelan-pelan aku bangkit dari kursi, lalu berjalan menuju pintu. Jemariku mencoba memutar kenopnya beberapa kali, berharap kuncinya hanya macet. Namun hasilnya tetap sama. Aku mengetuk pintu dari dalam sambil memanggil pelan, "Permisi... ada orang di luar?" Tidak ada jawaban. Lorong di balik pintu tetap sunyi, membuatku sadar mereka memang sengaja mengunciku di sini.Aku baru saja berbalik ketika suara kunci diputar dari luar membuat langkahku terhenti. Pintu terbuka perlahan, memperlihatkan Kiara yang masuk sambil membawa sebuah map cokelat tipis. Wajahnya sudah tidak lagi dipenuhi air mata seperti semalam. Ta
POV KIARASuara pintu apartemen yang menutup otomatis menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar di ruangan itu.Aku tetap berdiri beberapa saat di balik pintu, memastikan langkah kaki Om Jevan benar-benar menjauh. Beberapa detik kemudian terdengar suara lift terbuka, disusul dentingan pelan saat pintunya kembali menutup.Barulah aku mengembuskan napas panjang.Tatapanku perlahan berkeliling ke seluruh isi apartemen. Semalam aku memang datang ke tempat ini, tetapi pikiranku terlalu kacau untuk memperhatikan apa pun. Baru sekarang aku benar-benar melihat setiap sudut ruangan yang selama ini menjadi tempat tinggal Om Jevan.Apartemen itu terlihat rapi. Lebih kecil dari apartemen yang pernah kutinggali saat Om Jevan mengajakku untuk pertama kali.Aku berjalan pelan menuju ruang kerja yang berada di samping ruang tamu. Pintu kayunya tidak terkunci. Begitu kubuka, sebuah meja kerja berukuran besar langsung menyambut pandanganku. Di atasnya hanya ada sebuah laptop, beberapa map, tempat pulpe
Aku meninggalkan Jenderal Adhitama tanpa berkata apa-apa lagi. Beberapa anggota yang sejak tadi berdiri di sekitar halaman langsung memberi jalan ketika aku melintas. Tidak ada yang berani menghentikanku. Suasana kantor polisi pagi itu terasa jauh lebih tegang dibanding biasanya.Begitu memasuki gedung utama, langkahku langsung mengarah ke ruang istirahat. Pintu yang sedikit terbuka memperlihatkan Rakabumi sedang duduk di sofa sambil memegang secangkir kopi yang hampir habis. Di sampingnya, Celine terlihat memeluk kedua lututnya sendiri di atas sofa, sementara Valisa berdiri di dekat jendela dengan tangan terlipat di depan dada. Ketiganya serempak menoleh begitu aku masuk."Mas!" Celine langsung berdiri. Raut wajahnya yang sejak tadi dipenuhi kecemasan seketika berubah penuh harap. "Kiara gimana? Dia baik-baik aja?"Aku mengangguk pelan sambil menutup pintu di belakangku. "Dia selamat."Kalimat singkat itu cukup membuat Celine mengembuskan napas lega. Bahunya yang sejak tadi tegang pe
“Gak sanggup? Payah kamu, Jev.” Nadira mengejek. “Mau makan dulu gak sama aku? Aku juga masih nunggu orang.”Sepertinya tawaran Nadira tak bisa ditolak. Kami pergi ke sebuah restoran tak jauh dari hotel, memesan makanan, dan duduk tenang menikmati makanan. Sesekali berbincang agar tak terlalu henin
Aku mengerang panjang sambil melepas semuanya ke atas perut Nadira. Perempuan cantik sepantarakan denganku yang sudah hampir satu tahun ini menjadi partner ranjangku. Pasangan tanpa status, hanya untuk bersenang-senang.Kuraih semua pakaianku dan kupakai seperti semula, kotak rokok dan korek gas di
Gadis itu memajukan badannya sehingga makin menempel padaku, tatapan mata yang kulihat sinis sejam yang lalu kini berubah sedikit liar menggoda.Aku meneguk ludah ... ‘Jevan Kecil’ di bawah sana mulai kehilangan harga dirinya. Apalagi saat kurasakan Kiara seperti sengaja menggerakan tubuhnya sehing
“Celine, Kiara....” Bianca berteriak tepat saat ia membuka pintu utama rumah mewah yang baru pertama kali kudatangi ini.Dari dua nama yang disebut, hanya satu yang muncul. Seorang gadis dengan daster berwarna merah muda sebatas lutut, matanya sembab seperti orang yang habis menangis. Tatapannya da







