Share

Bab 9

Tadi malam bahkan dia pulang larut malam, beruntungnya Carisa sudah tidur dengan lelap jadi tidak ada cekcok diantara mereka tadi malam. Dan untuk menebus kesalahannya Aditya berinisiatif membeli sarapan tanpa harus menunggu Carisa menyuruh. Carisa segera beranjak ke dapur untuk mengambil piring dan sendok.

"Ini bu nasinya," Carisa meletakkan nasi bungkus dipiring dan memberikannya pada ibu mertua.

"Hmm.. " bu Sabrina hanya berdehem lalu duduk di kursi meja makan.

Aditya dan Carisa pun melakukan aktivitas yang sama dan mereka sarapan bersama dipagi hari ini, setelahnya baru mereka bersiap-siap untuk pergi ke kantor masing-masing.

Dikarenakan hari ini hari senin mereka berangkat selalu lebih awal dari hari biasanya, karena hari senin pagi kemacetan bertambah parah dari hari biasanya. Setelah dikira makanan sudah hampir setengah dimakan, bu Sabrina ingin membicarakan tentang uang liburannya pada sang menantu.

"Ris.. " panggil bu Sabrina memulai membuka bicara.

"Iya bu.. kenapa?" Tanya Carisa dan menaruh gelas minumnya karena dia baru selesai minum air putih lalu menghentikan sejenak aktivitas makannya.

"Ibu minta uang ya, buat bayar iuran ke jogja bersama teman arisan ibu," ujar bu Sabrina tanpa basa basi dan melanjutkan makan.

"Kapan ke jogjanya bu?" Tanya Carisa sambil mengkerutkan dahinya.

"Minggu depan Ris, tapi dua hari lagi terakhir bayarnya. Murah kok hanya satu juta lima ratus ribu saja, itu sudah transport dan penginapannya. Kalau kamu mau kasih uang saku juga boleh deh sekalian." ucap bu Sabrina dengan entengnya.

"Penting banget bu acaranya?" Tanya Carisa.

"Ya iyalah penting.. ini menyangkut marwah ibu dan juga biar hubungan grup arisan kami terjalin erat." Ujar bu Sabrina.

"Mas.. kamu aja yang kasih uang ke ibu, aku lagi gak ada uang," ucap Carisa dengan menoleh ke arah Aditya yang sedang mengunyah makanannya.

Uhuk..

Uhukk..

Aditya mendengar ucapan Carisa yang memintanya untuk membayar uang liburan ibunya pun kaget sampai tersedak, Carisa melihat Aditya yang tersedak mengeluarkan nasi dari mulutnya segera mengambilkan air untuk dikasihkan ke sang suami.

"Minum dulu mas," pinta Carisa seraya memberikan segelas air putih pada sang suami.

"Ya ampun kamu ini Risa! Suami kamu lagi makan loh malah kamu ajak bicara!" gerutu bu Sabrina.

"Loh kok ibu malah nyalahin aku sih, bukannya tadi ibu yang memulai duluan bicara ditengah sarapan?" Tanya Carisa.

Bahkan makanannya belum habis karena menanggapi ibu mertuannya. Bu Sabrina melongos tanpa menjawab omongan Carisa karena kalah telak.

"Aku gak ada uang Ris, lagian kemaren mas juga  sudah bayar uang kuliah Nadin," Jawab Aditya setelah dirinya merasakan baikan.

"Terus gimana? Aku juga gak ada uang," jawab Carisa.

"Terserah kamulah mau gimana, minggu lalu kan baru gajian masa' udah habis sih!" ujar Aditya.

"Mas.. Kamu nanya gaji aku kemana?" Tanya Carisa.

"Apa kamu gak mikir bayar cicilan mobil Nadin dari mana? Bayar kuliah Nadin dan bayar arisan ibu juga itu dari mana uangnya kalau bukan dari uang ku mas?" Tanya Carisa lagi dengan nada kesal dengan sang suami.

"Terus kemaren kan aku juga pulang beli tiket pesawat ya wajar kalau uang ku habis!" Ujar Carisa.

"Masa' gak ada sisa sama sekali?  atau kamu kasih ke orang tua mu uangnya?" Tuduh Aditya.

"Terserah aku dong mas mau kasih ke orang tua ku apa gaknya. Lagian yang mau liburan kan ibu kok malah kita yang di ribetkan begini," jawab Carisa lalu melanjutkan makannya karena dia harus segera berangkat kerja.

"Kalian kok malah bertengkar sih, kalian bayarin dong biaya liburan ibu," rengek bu Sabrina.

"Ibu gak usah ikut aja deh ya," ucap Aditya, karena Aditya berpikir gak mau uang tabungannya berkurang apalagi untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Dan jatah untuk bersenang-senang dengan teman-temannya dan juga Jesika akan berkurang nantinya jika dia harus membayar uang liburan ibunya.

"Nggak!! Ibu gak mau!! Mau taruh dimana muka ibu Dit kalau sampai batal ikut. Pokoknya ibu gak mau tau Carisa harus bayarin ibu," ujar bu Sabrina.

Malas menanggapi ibu mertuanya, Carisa memilih melanjutkan menyantap sarapannya biar cepat selesai.

"Aku sudah selesai, mau siap-siap ke kantor dulu," ucap Carisa lalu berdiri menuju dapur membawa bungkusan nasi miliknya yang sudah habis dilahap olehnya.

"Risa.. Jawab dulu permintaan ibu," rengek bu Sabrina.

"Maaf ya bu! Aku tidak bisa memberikan ibu uang liburannya, tapi kalau uang saku nanti aku tambah sedikit untuk ibu," jawab Carisa lalu pergi ke kamarnya.

Bu Sabrina berdecak kesal  mendengar jawaban dari menantunya.

"Adit... kamu bujuk dong istri kamu. Kalau dia gak mau bayarin ibu, kamu yang harus bayarin ibu! Ibu gak mau tau itu," ujar bu Sabrina pada sang anak.

"Bu.. ibu minta sajalah sama ayah, atau gak ibu jual perhiasan ibu untuk biaya liburannya. Uang saku nanti dari Carisa, kan tadi bilang mau nambah uang saku ibu," ujar sang anak.

"Aduuh... kamu ini! Pokoknya ibu gak mau tau ya, kamu harus berhasil bujuk istrimu buat bayarin liburan ibu!" Pinta bu Sabrina.

"Nantilah dipikir bu.. aku mau siap-siap dulu," jawab Aditya lalu bergegas menuju kamarnya.

"Heh!! Kamu ini kebiasaan ya! Bekas makan kamu ini beresin dulu dong," teriak bu Sabrina tanpa ada jawaban dari sang anak.

Dengan berat hati bu Sabrina membereskan bekas makan anaknya tadi, Carisa juga belum keluar kamar mungkin dia tengah bersiap akan ke kantor.

Setelah di rasa sudah beres, bu Sabrina menuju kamar untuk mengambil tasnya lalu ke ruang tamu dan duduk sambil memangku tasnya.

Rencananya dia akan nebeng pada sang anak untuk pulang pagi ini karena kantor Aditya melewati rumahnya. Suaminya sudah memintanya untuk pulang karena dirumah berantakan tidak ada yang membereskannya.

Selama dia di rumah Aditya warung pun tutup meskipun ada suami dan anak gadisnya dirumah. Nadin tidak mau membereskan rumah itu yang membuat bu Sabrina kesal pada Nadin. Dia mau membereskan rumah jika ada maunya saja.

"Bu.. aku berangkat dulu ya," ucap Carisa seraya mencium punggung tangan mertuanya.

"Hmm.. jangan lupa uang liburan dan saku ibu selama di jogja!" ujar bu Sabrina sedikit penekanan.

"Ya bu.. nanti aku kasih uang sakunya, assalammualaikum," ujar Carisa lalu bergegas keluar rumah.

Ia berpikir jika menghadapi mertuanya tak akan ada habisnya, dia harus segera berangkat karena tak mau berlama-lama dijalanan karena macet.

Carisa hanya akan memberikan uang saku saja pada ibu mertuanya sesuai apa yang dia ucapkan, dan tidak untuk transport dan lainnya. Dia berpikir mertunya masih ada pemasukan dari warung sembako dan yang lainnya.

Disepanjang perjalanan, dia menghidupkan musik sambil ikut bernyanyi untuk menghilangkan rasa jenuh dan kesal dengan keadaan pagi ini. Di karenakan jalanan sedikit macet dan juga tuntutan dari mertua yang meminta apapun harus dituruti.

Tapi sekarang, mereka bahkan selalu mencaci di saat Carisa tidak bisa memenuhi apa yang mereka inginkan. Tapi biarkan saja, Carisa juga sudah berencana untuk berpisah dengan Aditya. Dia sudah tidak sanggup lagi harus menjadi mesin atm bagi keluarga suaminya.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status