LOGINViktoria akhirnya mengalah dan menyeret Ksenia keluar dari ruangan di bawah tatapan tajam Sarah. Begitu kedua orang itu berada di luar, Sarah langsung mengunci pintu VVIP dari dalam, tanpa memedulikan ibu sambung dan saudari tiri Ethan tersebut masih bisa mendengarnya dari luar."Tak perlu ucapkan terima kasih. Yang pasti, aku akan menjagamu dan lekaslah bangun jika tubuhmu sudah kuat dari dalam," ucap Sarah begitu melangkah ke depan brankar Ethan, seolah sedang mengajak lelaki itu berbicara.Tachi berlari memeluk pinggang Mommynya, mendongakkan wajah mungilnya memandang Sarah penuh kekaguman, "Mommee Tachi sangat hebat!" pujinya manis.Bu Indar turut tersenyum, tetapi matanya memandang sedikit lebih lama pada Sarah, yang langsung mengangguk paham."Mulai sekarang, Tachi jangan pernah ikut siapa pun tanpa ditemani Ne
Sarah merengkuh pundak Tachi yang bergetar, "Maafkan Mommy, Ma Bear..." bisiknya sambil memeluk anak lelakinya itu erat-erat.Meskipun baru kenal, hubungan Tachi dan Ethan sudah sangat akrab. Sosok Ethan yang dingin dan protektif begitu menyayangi Tachi seperti anak kandungnya sendiri, terlepas dari rasa cintanya yang mendalam pada Sarah.Bu Indar turut mengusap sudut matanya, terharu melihat Tachi yang sangat menyayangi Ethan seperti ayah kandungnya sendiri.Di tengah suasana hening nan syahdu tersebut, tiba-tiba...BRAAKK!!Pintu kayu tebal ruangan itu terdorong terbuka dengan sangat keras. Dua orang wanita berpakaian glamor langsung menghambur ke samping brankar Ethan, mendorong Sarah dan Tachi hingga hampir terjatuh ke samping.Bu Indar memegangi lengan Sarah yang berhasil memeluk Tachi, "Mereka Viktoria, ibu tiri Ethan, dan Ksenia, putrinya," bisiknya sangat pelan seraya membawa Sarah dan Tachi sedikit menjauh dari brankar."Ethan! Ya Tuhan, Ethan-ku! Apa yang terjadi padamu?!" je
Ethan dipindahkan ke ruang perawatan VVIP yang sangat luas dan memiliki fasilitas khusus."Grandma pulanglah dan beristirahat. Biar aku yang menjaga Ethan di sini," tutur Sarah lembut pada Madam Maria yang terlihat sangat lelah karena terbangun dari tidur nyenyaknya oleh panggilan telepon polisi yang mengabarkan kecelakaan Ethan, lalu buru-buru datang ke rumah sakit."Kau juga lelah, Nak. Biarkan Brian yang menemani Ethan di sini." Madam Maria menggenggam telapak tangan Sarah penuh kelembutan, sangat khawatir akan kesehatan cucu perempuannya ini."Aku baik-baik saja, Grandma. Nanti aku bisa istirahat tidur di sini, jangan kuatir," sahut Sarah teguh dengan keinginannya untuk tinggal menjaga Ethan.Melihat keteguhan mata Sarah, Madam Maria akhirnya mengangguk pasrah. Namun sebelum ia melangkah keluar, pintu ruangan dibuka pelan da
Cahaya lampu ruang gawat darurat yang serba putih dan bau karbol yang tajam menyambut Sarah begitu ambulans tiba di rumah sakit terbesar di pusat Kota Moskow."Lady... kami perlu memeriksa Anda..." seorang perawat berkata cepat dalam bahasa Rusia, berusaha menahan Sarah yang berkeras turun dari brankar."I am okay. Don't worry!" sahut Sarah melangkah tertatih-tatih, lalu menoleh kembali pada perawat di belakangnya, "Take me to where my partner was taken earlier."Perawat itu akhirnya mengangguk, memapah lengan Sarah yang langkah kakinya masih terseok akibat trauma otot dan syok yang belum hilang. Serpihan kaca berjatuhan dari jubah panjang Sarah, namun tak sedikit pun ia hiraukan. Noda darah Ethan di tangan dan pakaiannya telah mengering, dan Sarah menolak saat perawat hendak membersihkannya.Kini, Sarah sudah berada di depan
Bisnis V.M Company kembali pulih setelah pemerintah Dubai menandatangani kontrak kerja sama pasokan modular AC dari Tashiro Corp.Meskipun Mister Hiraga sudah menyarankan agar Tashiro Corp digabung saja dengan V.M Company, Sarah masih menunda untuk mengambil keputusan.Kini, Sarah dan Ethan sudah dalam perjalanan pulang menuju Moskow dari Dubai. Sementara itu, Abah Rizal masih tinggal di Dubai untuk menyambut pengiriman pertama modular AC."Istirahatlah, sebentar lagi kita sampai di rumah," ucap Ethan sambil melirik Sarah yang menyandarkan punggungnya ke kursi.Ethan mengemudikan mobilnya sendiri dari bandara tanpa bantuan Brian yang sedang sibuk mengurus Volkov Holdings selama ditinggal perjalanan bisnis menemani Sara
Sarah terkekeh rendah melirik Ethan di depannya. "Kau mengaku kalau dirimu itu setan? Pfft...!"Ethan mendengkus, tidak menanggapi godaan Sarah. Ia menekan bel di tepi meja dan pelayan bergegas datang menghampiri."Pesanannya sama dengan istriku," pinta Ethan, sengaja menegaskan status Sarah pada sang pelayan. Pasalnya, sejak kedatangannya tadi, beberapa wanita di cafe tersebut terus memandangnya dengan tatapan mendamba.Gadis pelayan itu tersenyum tipis, mengangguk sopan, lalu bergegas pergi menyiapkan pesanan."Sarah... kau..." kedua bola mata Ethan terbeliak. Tangannya dengan cepat menyambar tisu di meja dan terulur ke depan wajah Sarah, "...kau mimisan."Sarah yang memang merasa agak aneh usai menerima telepon dari Desy tadi kini bernapas sedikit tersengal. Ia mengusap darah hangat yang me
Sementara Sarah terbaring lemah di rumah sakit, di belahan nyata tempat lain, Rafli baru saja melangkah keluar dari lobi hotel murah bersama Pitri.Wanita muda itu terus bergelayut manja pada lengan kekar Rafli, sebelum keduanya masuk ke dalam mobil mewah milik Sarah yang selama ini diakui Rafli se
Setelah sambungan telepon dengan Rafli terputus, Sarah terdiam cukup lama. Matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan dingin yang belum pernah terlihat selama enam bulan terakhir."Mommy, Tachi sudah siap. Tachi harus bawa baju berapa setel untuk menginap?" Tachi tiba-tiba masuk ke dalam kamar
Setelah memutuskan menginap di hotel hanya berdua dengan Tachi yang sebenarnya Sarah merasa hendak muntah setiap kali hembusan angin membawa aroma pekat aneh dalam rumahnya. "Tachi mandi dulu sendiri ya, Mommy bersiap-siap, oke?" Tachi langsung mengangguk cepat, turun dari ranjang dan kaki keciln
"Ahh ..." Kepala Pitri terlontar ke belakang dan dadanya membusung ke depan, merasakan gempuran Rafli di bawah sana yang sangat menyesakkan namun membuat seluruh syarafnya bergetar nikmat. "Tahan, Sayang ...sedikit lagi abang juga sampai." bisik Rafli sembari terus memompa cepat. Suara Pitri







