Share

MOKONDO Level Dewa : Ambil Saja Benalu Itu, Sayang!
MOKONDO Level Dewa : Ambil Saja Benalu Itu, Sayang!
Author: Freyaa

1.

Author: Freyaa
last update publish date: 2026-06-04 11:03:08

"Ahh ..."

Kepala Pitri terlontar ke belakang dan dadanya membusung ke depan, merasakan gempuran Rafli di bawah sana yang sangat menyesakkan namun membuat seluruh syarafnya bergetar nikmat.

"Tahan, Sayang ...sedikit lagi abang juga sampai." bisik Rafli sembari terus memompa cepat.

Suara Pitri sudah parau dan serak, tubuhnya benar-benar akan ambruk begitu Rafli memberikan gempuran terakhir yang sangat keras seiring dengan lelakinya itu mengejang dengan peluh bercucuran membasahinya.

Bau apek dari pendingin ruangan yang berisik menjadi satu-satunya musik di kamar hotel murahan ini. Kontras dengan aroma parfum mahal milik Rafli yang masih tertinggal di udara.

Pitri menggeser kepalanya, berniat berbaring di atas lengan Rafli, namun pria itu dengan cepat menarik bantal untuk mengganjal kepala Pitri

Seakan tidak menyadari penolakan halus tersebut, Pitri tersenyum tipis. Ujung jemarinya mulai menelusuri dada bidang pria yang sejak pagi telah membuatnya melambung tinggi.

"Sampai kapan kita seperti ini, Abang?" tanya Pitri lembut, sementara jemarinya terus menggambar pola acak di atas kulit Rafli yang masih basah oleh keringat.

"Aku muak melihat Abang masih memperlakukan Kak Sarah dengan mesra di toko," lanjut wanita itu dengan rahang mengencang kesal setiap kali mengingat Sarah yang cantik jelita dan awet muda, tak pernah memandangnya sedikitpun.

Rafli memiringkan tubuh, memandang Pitri dengan tatapan lembut yang menipu, "Sarah itu istriku. Bersabarlah sebentar lagi. Setelah apa yang kuinginkan berhasil kudapatkan, aku akan meninggalkan Sarah dan menikahimu," janji Rafli manis.

Tentu saja, janji itu bukan hanya untuk Pitri. Ada banyak wanita lain yang menerima kalimat serupa di atas ranjang berbeda yang tidak kalah hangat dari yang diberikan Pitri saat ini.

Pitri terdiam. Kalimat janji yang Rafli ucapkan sudah sangat hapal dalam kepalanya. Seolah kalimat mantra itu tak lagi bisa meredakan gejolak cemburu dalam rongga dadanya setelah apa yang dia berikan pada Rafli.

Di tempat lain, ponsel Sarah bergetar di atas meja. Wanita itu sedang sibuk dengan laptop kerjanya.

"Ada apa, Azriel?" tanya Sarah begitu menjawab panggilan telepon dari salah satu karyawan toko sepatu impornya.

[Ada barang masuk, Kak. Tapi Bang Rafli belum datang ke toko.]

"Oh, terima saja seperti biasanya. Tak masalah, 'kan?" sahut Sarah santai.

Tadi pagi Rafli memang pamit pergi berbelanja sepatu untuk stok toko yang kini dijalankan oleh suaminya itu tanpa campur tangan Sarah, kecuali dalam hal modal.

[Tapi ...notanya belum dibayar, Kak. Ponsel Bang Rafli dari tadi berdering tapi enggak dijawab.]

"Berapa totalnya?"

[Lima ratus lima puluh lima juta, Kak,] jawab Azriel, terdengar sangat lirih di ujung kalimat.

"Apa? Lima ratus jutaan? Rafli sama sekali belum membayarnya?" tanya Sarah terkejut.

Tadi pagi Rafli baru saja meminta uang dengan akad meminjam senilai seratus juta rupiah untuk belanja sepatu. Pinjaman yang tak pernah dikembalikan sejak mereka resmi menikah enam bulan lalu.

"Berikan ponselmu pada petugas pengirimannya. Biar aku yang bicara langsung," ucap Sarah setelah berpikir cepat.

Sambil berbicara dengan kurir agen sepatu impor, tatapan Sarah tidak lepas dari layar laptop yang menyala di hadapannya. Di sana, terpampang jelas email dari Catherine, sahabat sekaligus rekan bisnis parfumnya sejak dua tahun lalu.

'Kapan kau bisa kembali meracik parfum lagi, Sarah? Aku benar-benar membutuhkan bantuanmu. Para pelanggan menanyakan varian yang kau racik saat awal launching. Aku sudah coba membuatnya, tapi hasilnya jauh dari racikanmu.'

Ya, sejak setahun terakhir, tepatnya setelah pertemuannya dengan Rafli, Sarah seolah kehilangan sensitivitas indra penciumannya dalam meracik parfum. Beberapa kali ia mencoba, namun hasilnya selalu gagal dan tidak sempurna.

Tachi, putranya yang berusia enam tahun, bahkan sempat mengernyit begitu mencium parfum racikan terbaru yang dibuat Sarah.

"Aroma apa ini? Mommy, kenapa kamu membuat aroma seperti pewangi air pel murahan?" celetuk anak lelaki itu polos disusul tawa kecil.

Sarah saat itu hanya menaikkan alis, ikut tertawa kecil sambil mengangguk, "Ya, tadi memang sedang coba-coba membuat pewangi lantai. Bagus, enggak?"

"Tidak bagus. Lebih baik Mommy beli saja obat pel lantai yang ada di warung. Nanti campur dengan minyak sereh, itu jauh lebih wangi," jawab Tachi telak.

[Kak Sarah, apakah Kakak masih mendengarkan? Atau Kakak mau bicara langsung dengan Koko Yayan saja biar enak?] Suara kurir di telepon membuyarkan lamunan Sarah.

Pria, kurir itu bahkan mengulangi penjelasannya kembali mengenai Rafli yang hanya memesan sepatu, namun meminta agar tagihannya dibebankan kepada Sarah.

"Ah, ya, maaf. Boleh, kirimkan nomor telepon Koko Yayan ke ponselku langsung?" sahut Sarah, berusaha menahan gemetar di suaranya sebelum memutus sambungan.

Setengah miliar lebih dalam sehari? Dada Sarah mendadak sesak. Uang seratus juta tadi pagi saja belum jelas rimbanya, sekarang ditambah beban lima ratus lima puluh lima juta?

Tepat saat rasa syok dan amarah Sarah memuncak hingga ke ubun-ubun, sesuatu di dalam kepala wanita cantik itu seolah pecah.

Plup!

Sarah menarik napas dalam-dalam dan detik itu juga, indra penciumannya yang selama setahun ini seperti tersumbat dan mati rasa, tiba-tiba terbuka paksa.

Sarah tersedak, dahak seakan memenuhi rongga tenggorokannya dan napasnya pun putus-putus. Setelah membuang lendir-lendir yang tersangkut dalam tenggorokannya di wastafel, ia menenggak air hangat.

Namun hidungnya yang dahulu sangat sensitif, kini mulai mencium bau aneh yang sangat pekat menguar di udara dan sekelilingnya.

Sarah membuka pintu depan rumah agar angin bertiup masuk. Namun aroma aneh tersebut bukan hanya ada di dalam kamar tidurnya bersama Rafli, tetapi juga menyeruak di ruang tengah, bahkan dari dalam kamar Tachi, putra semata wayangnya sebelum menikah dengan Rafli.

"Oh ..." Sarah tersentak kaget, bergegas meraih botol sampel parfum di dalam laci meja riasnya, lalu menghirupnya.

Jasmine, sandalwood, lavender ...Akurat! Kemampuan Sarah telah kembali!

Perut Sarah seakan diaduk-aduk, merasa mual luar biasa mencium aroma aneh yang sangat pekat dan menusuk hidung yang akhirnya ia sadari berasal dari arah lantai.

Bau tanah kuburan yang basah bercampur aroma kemenyan menguar di udara.

"Bagaimana ini terjadi?" gumam Sarah pelan.

Selama ini Sarah mengepel lantai rumah dan mengelap meja serta perabotan menggunakan air yang dicampur aromateraphy racikannya sebelum 'kehilangan' penciuman sensitifnya.

Sambil menahan napas, Sarah bergegas masuk ke kamar Tachi yang baru saja terbangun, langsung memamerkan senyum lebarnya nan cerah begitu melihat wajah Sarah masuk.

"Mommy ..." panggil Tachi dengan mata berbinar.

Jantung dalam rongga dada Sarah seakan diremas tangan besi tidak kasat mata. Rasanya sudah lama sekali ia tak melihat cahaya sebahagia ini di mata Tachi.

Sarah mendekat, mengendus rambut dan leher Tachi, "Tachi pakai sesuatu? Kok baunya aneh?"

"Tidak," Tachi terkekeh geli karena lehernya dihujani ciuman tapi dia sangat menyukainya, "Tapi Mommy... kenapa di bawah ranjang Tachi ada banyak tanah hitam? aromanya sedikit seperti bau kentut ya?"

Sarah membeku. Kalimat polos Tachi barusan membuat darahnya mendadak dingin.

Tatapan Sarah perlahan turun, melongok ke kolong ranjang tidur Tachi yang gelap. Pada bagian sudut sedikit tersembunyi, berserakan segenggam tanah hitam pekat yang bisa ia deteksi menebarkan bau anyir dan mistis yang luar biasa kuat, bau yang kini Sarah pun baru sadari, sama dengan yang dibawa Rafli setiap kali pria itu pulang larut malam.

Sarah mencengkeram dadanya yang gemetar, menyadari satu kenyataan mengerikan.

"Oh Tuhan... apa yang sebenarnya telah dilakukan Rafli pada rumah dan anakku selama enam bulan ini?" monolog Sarah dalam hati.

"Mommy, Mommy kenapa? Wajah mommy pucat..." Tachi memegangi wajah Sarah, mengelap keringat yang merembas keluar di dahi dan pelipisnya.

"Mommy ga apa-apa, Ma Bear. Besok Tachi ulang tahun, mau beli hadiah hari ini?"

"Yeay, ulangtahun lagi!" Tachi berseru riang, tetapi kedua bola mata polosnya menatap Sarah lekat-lekat, "Sudah lama Mommy ga panggil Tachi dengan sebutan Ma Bear." kedua lengannya menarik pundak Sarah dan memeluk Ibunya tersebut, "Hari ini Tachi bahagia!" bisiknya lembut yang kembali seperti ombak besar menghantam kesadaran Sarah.

"Maafin mommy ya. Mommy punya banyak salah ke Tachi." balas Sarah sambil melingkarkan lengan memeluk erat punggung Tachi, "Kita nginep di hotel yuk, merayakan ulang tahun Tachi yang ke tujuh ..."

Belum selesai perkataan Sarah, Tachi sudah memotongnya cepat, "Om Rafli ikut juga Mom?" tanyanya dengan sorot mata was-was merenggangkan pelukan, menatap Sarah.

Sarah tersenyum tipis, lalu kepalanya menggeleng, "Tidak. Om Rafli kan ga ulang tahun, jadi dia ga ikut."

Binar di netra Tachi semakin cemerlang, ia terlihat sangat bahagia.

"Bagaimana bisa mommy abai akan kebahagiaanmu selama ini, Nak?" lirih Sarah dalam hati merasa sangat bersalah pada Tachi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Azzurra
Semangat Thor.
goodnovel comment avatar
daffa
aduhhhh 5 rts JT guysssss.. buat apa sih raf....
goodnovel comment avatar
ryzlnn
yuhuuuu....diriku juga datang.baru di awal kok sudah bikin kesel aj tu rafli...siapa dia
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • MOKONDO Level Dewa : Ambil Saja Benalu Itu, Sayang!   18.

    Sarah baru saja duduk di kursi pengemudi mobil Camry milik Abah Rizal. Di sebelahnya, Tachi sudah duduk manis dengan sabuk pengaman yang telah terpasang rapi. Tiba-tiba, ponsel Sarah bergetar menerima notifikasi pesan dari Azriel yang mengirimkan beberapa foto dan video.[Dia Meli, temannya Pitri, Kak. Sepertinya pingsan entah kurang tau, tapi posisinya seperti itu di lorong dekat gudang. Ada tanah hitam juga hio serta bunga dan air mawar. Tapi pintu depan dalam keadaan tertutup, hanya kipas di bagian tengah ruko menyala semuanya,] jelas Azriel di dalam pesan teksnya.Kening Sarah sedikit bertaut dalam memperhatikan gambar dan video yang mana pakaian Meli hanya tertutup asal, namun pada bagian paha dan betisnya terdapat bercak darah, pun juga ada noda darah di lantai, telah mengering.Kilat kemarahan melintas di mata Sarah, jemarinya mengetik cepat membalas pesan Azriel, "Bangunkan dia dan coba tanya pelan-pelan, apakah dia ingat siapa yang membawanya ke ruko tadi malam.""Mommy, ada

  • MOKONDO Level Dewa : Ambil Saja Benalu Itu, Sayang!   17.

    Sarah tidak ingat sudah berapa lama ia tidak sadarkan diri di sana. Ia terbaring meringkuk di lantai marmer kamar mandi dengan pakaian yang basah kuyup karena air dari kran terus mengalir, membilas habis gumpalan-gumpalan darah hitam yang sempat ia muntahkan tadi.Kini, telinganya sayup-sayup bisa mendengar suara kokok ayam di kejauhan. Waktu sudah bergeser ke dinihari.Sarah bangkit dengan cepat. Ia harus berbenah sebelum Tachi terbangun, karena anak lelakinya itu bisa sangat sedih dan panik jika sampai mengetahui keadaannya yang batuk darah hingga pingsan di kamar mandi."Mommy akan berjuang lebih kuat untukmu, Ma Bear," bisik Sarah sambil mengecup puncak kepala Tachi dalam-dalam, sebelum ia bergegas berganti pakaian yang kering.Sarah meraih ponselnya yang layarnya sudah gelap, menyalakannya sejenak untuk melihat riwayat panggilan telponnya ke dokter Ali."Maafkan aku sudah mengganggumu, dokter Ali." monolog Sarah dengan perasaan sedikit menghangat juga lega.Waktu telah menunjukka

  • MOKONDO Level Dewa : Ambil Saja Benalu Itu, Sayang!   16.

    Tidur Sarah semakin gelisah seiring dengan dirinya yang semakin terangsang di alam mimpi. Sedangkan Tachi yang tetap pulas di sebelahnya sama sekali tak terganggu oleh desahan dan erangan halus yang sesekali lolos keluar dari mulut Sarah.Tepat ketika pria bayangan di dalam mimpi itu hendak bergerak lebih jauh dan melakukan penetrasi ke bagian inti tubuh Sarah, sebuah sentakan hebat terjadi."Ouh!!"Kedua kelopak mata Sarah terbuka lebar secara paksa. Dengan napas yang masih terengah memburu dan jantung berdegup kencang, ia langsung terduduk di atas kasur. Keringat dingin mengucur deras di pelipis Sarah."Astaghfirullah... alhamdulillah hanya mimpi," gumam Sarah dengan jantung yang masih berdebar-debar layaknya genderang perang.Sarah menoleh cepat pada Tachi yang untungnya tetap tertidur nyenyak tanpa terusik. Ia membungkuk, mengecup samping kepala putranya itu dalam-dalam untuk menenangkan hatinya sendiri, sebelum akhirnya bangkit berdiri dan melangkah cepat ke dalam kamar mandi.Se

  • MOKONDO Level Dewa : Ambil Saja Benalu Itu, Sayang!   15.

    Tachi langsung memeluk Sarah begitu Mommynya itu keluar dari kamar mandi. Sarah tampak mengenakan jubah handuk putih milik Tachi yang terlihat sedikit kekecilan di tubuh tingginya."Mommy ga apa-apa, Ma Bear," bisik Sarah pelan.Kedua lengan Sarah balas melingkar erat memeluk punggung kecil anak lelakinya itu, lalu membawanya berjalan dan duduk di tepian ranjang."Tachi tau. Mommy Tachi kuat, tapi kalau mau menangis, ada Tachi di sini," ucap Tachi lembut sembari menepuk pelan lengan Sarah dan menggosok punggung ibunya dengan gerakan menenangkan.Pertahanan Sarah runtuh. Ia memeluk Tachi jauh lebih erat, menundukkan wajahnya dan menyembunyikannya di pundak kecil anak lelakinya. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh juga."Maafkan Mommy, Ma Bear. Mommy ga bisa menjadi Mommy yang baik untuk Tachi. Mommy sering mengabaikan Tachi sejak kenal Om Rafli, Mommy ..."Tachi tetap mengusap punggung Sarah dengan telaten, seolah-olah dia adalah pria dewasa yang sedang menenangkan wanita

  • MOKONDO Level Dewa : Ambil Saja Benalu Itu, Sayang!   14.

    Sesampainya di rumah, Sarah langsung meminta Tachi agar segera masuk ke dalam kamarnya sendiri. Tak lupa ia mengingatkan anak lelakinya itu untuk membersihkan diri di bilik mandi yang memang terdapat di dalam kamar tersebut.Begitu melangkah ke area dapur, Sarah melihat Rafli baru saja melepaskan jaketnya, keluar dari kamar utama mereka."Kamu dari tempat Kak Desy?" tanya Sarah asal pada Rafli.Sarah melirik sekilas ke arah suaminya itu, namun tetap melanjutkan pekerjaannya menyimpan pasta dan bahan makanan kering yang baru dibelinya di supermarket tadi ke dalam kabinet dapur."Uhm!" Rafli menjawab pendek, menyembunyikan kebohongannya, "Besok-besok jangan lagi berikan semua masakanmu ke Kak Desy," tambah pria itu tenang, memandang Sarah dengan sorot mata lembut, kemudian berjalan mendekat."Aku rindu... rindu banget sama kamu, Sayang." bisik Rafli seraya melilitkan lengan kekarnya sampai ke depan perut Sarah, "Dari kemarin nih, kita belum ketemu ....rasanya benar-benar ingin meledak m

  • MOKONDO Level Dewa : Ambil Saja Benalu Itu, Sayang!   13.

    Sarah mengemudikan Lexus ES miliknya membelah jalanan malam yang mulai lengang, menuju ke sebuah kafe remang-remang yang letaknya tidak jauh dari area mall. Di kursi penumpang sampingnya, Tachi duduk tenang sembari memeluk tas kecil Sarah, sesekali memandangi lampu-lampu jalanan dari balik kaca jendela."Kita mau ketemu om yang tadi itu ya Mom?" tanya Tachi, yang rupanya masih ingat akan janji Sarah pada Dewa."Uhm. Ga apa-apa 'kan? Nanti Tachi boleh kok makan camilan dan minuman lagi, tapi sebelum tidur tetap harus sikat gigi ya.""Siipp ...makasih, Mommee!" seru Tachi riang. Bocah itu memang selalu senang memanggil Sarah dengan nada manja seperti itu, "Mommeee ...".Begitu mobil terparkir di pelataran, Sarah melangkah masuk dan langsung bisa mengenali sosok Dewa yang sudah menunggu di sudut kafe yang paling privat. Pria itu mengenakan jaket kulit hitam, dengan secangkir kopi dan beberapa camilan di dalam piring yang sudah tersaji di atas meja."Maaf, saya terlambat," ucap Sarah deng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status