تسجيل الدخولSetelah sambungan telepon dengan Rafli terputus, Sarah terdiam cukup lama. Matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan dingin yang belum pernah terlihat selama enam bulan terakhir.
"Mommy, Tachi sudah siap. Tachi harus bawa baju berapa setel untuk menginap?" Tachi tiba-tiba masuk ke dalam kamar Sarah, kesusahan menyeret tas ransel kecil yang sudah ia jejali dengan beberapa setel pakaiannya.
Melihat putranya yang tertawa ceria, pertahanan dingin Sarah runtuh digantikan kehangatan, "Kemari ..." Sarah langsung merengkuh tubuh montok itu, melabuhkan wajahnya dan menciumi rambut Tachi yang beraroma sampo anak-anak, lalu beralih mengendus pangkal lehernya.
"Mommy geli ... Hahaha! Aduh ...tolong!" pekik Tachi tergelak renyah, menggeliatkan tubuhnya. Namun, kembali dengan sengaja menyodorkan lehernya agar terus dihujani ciuman oleh Sarah yang juga sangat menikmati menggoda putranya itu.
Sungguh, wajah anak lelaki yang menjelang usia tujuh tahun tersebut terlihat sangat bahagia. Hanya karena melihat netra mommynya sudah kembali bersinar jernih dan suka menjahilinya lagi.
Inilah Sarah, Mommy Tachi yang asli, suka iseng, jenaka, namun sangat hangat dan penuh cinta.
"Tadi Mommy menyuruh Tachi cepat mandi, tapi Mommy sendiri belum siap!" protes Tachi dengan bibir cemberut maju.
Sarah tergelak renyah. Ia mencubit puncak hidung putranya itu gemas, "Iya, maaf, My Bear. Sekarang bantu Mommy masukkan laptop ke dalam tas, lalu bawa botol parfum dan perlengkapan shalat kita, oke?"
Tanpa membantah, Tachi langsung bergerak patuh melakukan apa yang diminta oleh Mommy cantiknya.
Sementara Tachi sibuk dengan 'pekerjaannya', Sarah melangkah mendekati lemari pakaian, membuka laci rahasia di bagian paling dalam, lalu mengeluarkan semua dokumen penting yang selama ini ia simpan rapi.
Ada surat rumah, sertifikat tanah, surat kepemilikan ruko toko sepatunya, bahkan ...ada juga surat rumah milik Desy, kakak perempuan Rafli yang dahulu uang pangkal dan angsurannya selama selama tiga bulan ditalangi oleh Sarah, tetapi tidak pernah dikembalikan.
Tidak ketinggalan, dalam laci rahasia itu juga Sarah menyimpan sertifikat rumah tinggal kedua orang tua Rafli yang juga dibeli menggunakan uangnya.
"Kau ingin aku membayar tagihan belanja sepatu yang sampai detik ini tak pernah kulihat wujud keuntungannya, Rafli?" gumam Sarah dengan senyum sinis, "Baiklah, akan kubayar lunas semuanya."
Enam bulan menikah dengan Rafli, tidak pernah satu kali pun pria itu memberikan nafkah belanja untuk rumah tangga mereka. Sebaliknya, setiap bulan Sarah terus 'dipaksa' secara halus untuk menggelontorkan uang puluhan juta, hingga puncaknya hari ini, setengah miliar lebih.
Usai memasukkan semua dokumen penting tersebut ke dalam tas kerjanya, Sarah segera menghubungi Catherine yang saat ini sedang berada di Hong Kong.
"Cathy, aku butuh bantuanmu. Kenalkan aku pada rentenir paling kejam yang beroperasi di Jakarta ..."
[Hei, Sarah! Kamu baru menghubungi aku setelah sekian banyak email kukirimkan, lalu sekarang mendadak minta dikenalkan pada rentenir paling kejam?] Catherine terdengar sangat terkejut di seberang sana, terutama mendengar nada suara Sarah yang tidak biasa.
[Apa yang terjadi? Ada apa denganmu? Kalau hanya butuh uang, dividen hasil penjualan bisnis parfum kita masih utuh di rekening ...]
"Nanti kujelaskan semuanya. Kirimkan nomor rentenir yang kamu kenal padaku, sekarang juga. Aku mau menggadaikan rumah, tanah, dan seluruh ruko."
[Oke, oke, tunggu sebentar. Tapi kuingatkan, ya, orang ini terkenal sangat kejam dan tidak kenal ampun kalau menagih ...]
"Bagus!" potong Sarah dingin. "Semakin kejam, semakin aku menginginkannya!"
[Janji, setelah ini kamu harus ceritakan semuanya padaku, hm?]
"Ya. Cepatlah, Cathy. Waktuku sangat terbatas!"
Tak lama setelah sambungan telepon terputus, sebuah notifikasi berisi nomor kontak masuk ke ponsel Sarah.
"Dewa ..." Sarah bergumam pelan, membaca nama kontak yang baru saja dikirimkan oleh Catherine. Nama yang cukup familiar baginya tapi tidak ingat pernah mendengarnya dimana.
Satu jam kemudian, sebuah mobil mewah sudah menjemput Sarah dan Tachi di depan kompleks. Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang menuju hotel bergengsi di pusat kota Jakarta dengan
"Nona dan Tachi apa kabar? Semuanya baik-baik aja?" sapa Donny, sopir pribadi Sarah seraya bertanya ringan di kalimat terakhirnya.
Mobil mewah ini memang sengaja dititipkan Sarah di rumah Donny tanpa sepengetahuan Rafli sekeluarga. Rafli hanya tahu Sarah memiliki satu mobil, yang saat ini justru lebih sering digunakan oleh pria itu untuk gaya-gayaan, keluar masuk hotel, serta antar jemput wanita-wanita cantik dengan alasan pergi berbelanja atau bertemu pelanggan.
"Alhamdulillah, baik Pak Donny. Nanti seperti biasa, ya, kita pura-pura tidak saling mengenal kalau tidak sengaja bertemu Rafli dan keluarganya," pinta Sarah pelan.
Pak Donny mengangguk patuh. Namun, matanya berkali-kali melirik cemas ke arah Sarah melalui spion dalam. Di sebelah Sarah, Tachi terus berceloteh riang tanpa henti, menandakan hati anak lelaki itu sedang sangat gembira.
"Ada apa, Pak Don?" tanya Sarah yang bisa merasakan kalau sopir setianya itu sedang menahan sesuatu.
Pak Donny menggelengkan kepala sekilas, lalu melirik ke arah Tachi yang seolah seperti mendapatkan kosakata berlimpah, bertanya, bercerita dan menunjuk apa pun untuk menarik perhatian Sarah.
Seakan paham ada rahasia dewasa yang ingin disampaikan Pak Donny, Sarah segera mengeluarkan headphone dari dalam tasnya dan memasangkannya ke telinga Tachi.
"Simpan dulu tenaganya sedikit hem? Dengarkan musik kesukaanmu ..." bisik Sarah sambil mengecup sisi samping kepala Tachi yang ia putarkan lagu Me Too dari Meghan Trainor.
Begitu Tachi asyik bergoyang mengikuti irama musik, Sarah kembali menatap ke depan, "Katakan, Pak. Ada yang ingin Pak Donny sampaikan?"
Pak Donny mengeluarkan ponsel pribadinya, lalu mengulurkannya ke belakang untuk diterima oleh Sarah. "Maaf sebelumnya, Nona. Saya sudah lancang mengikuti dan menyelidiki suami Nona sejak beberapa bulan terakhir," tutur Pak Donny seraya tetap fokus mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang.
Sarah membuka galeri di ponsel Pak Donny. Detik itu juga, matanya disuguhi oleh pemandangan menjijikkan. Ada banyak foto serta video Rafli dengan wanita yang berbeda-beda. Pria yang masih berstatus suaminya itu tampak santai menggandeng wanita lain, berciuman mesra, hingga keluar masuk hotel melati. Bahkan, ada beberapa video menampilkan mobil milik Sarah yang dipakai pria itu bergoyang-goyang di tempat sepi.
Kelopak mata Sarah mengerjap lambat. Namun anehnya, dadanya tidak merasa sakit hati sama sekali, tetapi seolah ada ruang kosong yang dingin di hatinya.
"Maaf, Nona... apakah Nona ingin saya buatkan jadwal pemeriksaan ke dokter spesialis?" ucap Pak Donny berhati-hati.
Pak Donny mengkhawatirkan kesehatan Sarah mengingat 'pergaulan' Rafli yang teramat kotor di luar sana.
Sarah terdiam sejenak, menatap bayangan dirinya di kaca jendela, "Nanti aku sendiri yang akan pergi ke dokter spesialis, Pak. Sampai detik ini, belum ada keluhan ...."
Perkataan Sarah terputus seketika. Dadanya mendadak seperti diremas kuat, lalu Ia terbatuk-batuk hebat hingga gumpalan darah berwarna hitam pekat keluar dari mulutnya, mengotori pakaian dan tangannya juga lantai mobil.
"Mommy?!" Tachi memekik histeris. langsung melepaskan headphone di kepalanya, merengkuh pundak Sarah dan memeluknya erat dengan wajah ketakutan bercampur cemas.
"Tolong pakaikan sabuk pengaman untuk Mommy-mu, Tachi! Kita ke rumah sakit sekarang!" seru Pak Donny panik.
Pak Donny langsung menginjak pedal gas dalam-dalam, melajukan mobil secepat kilat menuju rumah sakit besar terdekat, sementara Sarah hanya bisa terbaring lemas dengan napas terengah-engah, masih batuk mengeluarkan darah hitam bergumpal-gumpal dan napasnya turun naik tidak beraturan.
"Mommy, please... jangan tinggalkan Tachi. Mommy tidak boleh mati...!" Tachi terisak hebat, memeluk kepala Sarah di atas pangkuannya dengan tangan gemetar yang juga ia ciumi dengan wajah basah airmata.
Begitu tiba di rumah sakit, Pak Donny langsung bergerak cepat mengurus semua administrasi agar Sarah segera dirawat di ruang VIP.
Di atas brankar dalam ruangan VIP, kelopak mata Sarah terpejam rapat, dadanya naik turun dengan gerakan yang sangat pelan dan lemah.
"Tachi, biarkan dokter memeriksa Mommy dulu. Kita beli camilan di bawah, yuk." ajak Pak Donny lembut, mencoba mengalihkan perhatian Tachi yang terus menempel di sebelah brankar Sarah.
"Tachi tidak mau pergi! Nanti Mommy tinggalkan Tachi..." sahut anak lelaki tampan berwajah oriental tersebut dengan air mata yang terus berlinang membasahi pipinya.
Dokter yang sedang memeriksa keadaan Sarah tersenyum tipis memandang Tachi. Meskipun menangis dan bersedih, anak lelaki itu terlihat sangat tegar.
"Apakah ini pertama kalinya Mommy muntah darah?" tanya dokter tersebut lembut. Di jas putihnya, tersemat papan nama bertuliskan Dr. Ali.
Kepala Tachi mengangguk, namun kemudian ia menggeleng dengan cepat, "Mommy sudah sering batuk darah di kamar mandi, tapi belum pernah pingsan seperti ini. Apakah Mommy Tachi sakit parah? Om Dokter butuh darah untuk Mommy? Pakai darah Tachi saja... darah Tachi banyak!"
Dokter Ali tersenyum semakin hangat. Tangan besarnya bergerak mengusap puncak kepala Tachi, yang entah bagaimana, dirinya seperti melihat cermin masa kecilnya sendiri dalam diri Tachi.
Dokter Ali kemudian menoleh pada Pak Donny yang menggelengkan kepala, tanda ia tidak tahu banyak tentang kehidupan pribadi Sarah karena majikannya itu selalu menjaga jarak.
"Biasanya... setelah batuk darah... Mommy akan..." Tachi menghentikan kalimatnya sejenak, lalu ia tiba-tiba meraih pergelangan tangan Sarah, kemudian menyibak naik lengan baju blouse panjang mommynya.
Kedua mata Dokter Ali terbeliak besar saat melihat kulit putih di pergelangan tangan Sarah dipenuhi oleh bekas-bekas sayatan tipis yang berjejer mengerikan.
"Tolong ambil sampel darah pasien sekarang dan bawa ke lab. Berikan pesan urgent atas namaku!" perintah Dokter Ali dengan nada tegas dan serius kepada perawat yang mendampinginya.
Pak Donny yang ikut melihat pergelangan tangan Sarah, langsung tercekat shock.
"Ini... saya sangat tahu Nona kami bukan pecandu narkotika atau orang yang suka menyakiti diri sendiri, Dokter. Pasti ada kekeliruan..." ucap Pak Donny dengan suara bergetar, memandang lekat ke arah Tachi.
Di mata semua orang yang mengenalnya, Sarah adalah wanita yang hangat, baik hati dan sangat cerdas. Rasanya mustahil dia akan mengabaikan kebahagiaan Tachi demi menjadi pecandu. Dalam mimpi sekalipun, hal itu tidak masuk akal.
"Kita akan mendapatkan hasilnya sesegera mungkin. Untuk saat ini, kita pantau dulu kondisinya di ruang intensif," tutur Dokter Ali bijak, menyembunyikan kecurigaan mendalam yang berkecamuk di kepalanya.
Tak lama setelah obrolan hangat di dalam ruangan perawatan Sarah, pintu kamar rawat itu tiba-tiba diketuk pelan. Sosok tinggi tegap dr. Ali melangkah masuk dengan senyum ramah yang menenangkan. Di tangannya, terdapat sebuah map berisi hasil laboratorium Sarah yang keluar pagi ini."Selamat pagi. Wah, tampaknya pasien saya sudah jauh lebih segar hari ini," sapa dr. Ali hangat.Dokter tampan itu sempat mengusap bahu Tachi sekilas sebelum mendekati brankar Sarah untuk memeriksa denyut nadi dan pupil matanya menggunakan penlight."Terima kasih, Dok. Terima kasih banyak atas bantuannya tadi malam." tutur Sarah seraya tersenyum tipis. Dokter Ali mengangguk pelan. Ia melirik sekilas ke arah Abah Rizal dan Bu Indar, seolah tahu bahwa keluarga ini sudah mulai membuka tabir rahasia tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Sarah."Hasil lab Anda menyatakan tubuh Anda bersih dari zat adiktif medis, Nona Sarah. Tapi, gumpalan darah hitam dan dorongan lepas kendali semalam menunjukkan adanya 'bent
Pagi sudah terang ketika kelopak mata Sarah perlahan terbuka. Ia merasa baru saja terbangun dari sebuah mimpi panjang yang seolah tak berujung, memutar adegan kelam yang sama secara terus-menerus di kepalanya.Sarah memindai sekeliling. Ia mendapati dirinya terbaring di atas brankar dalam sebuah ruangan luas bernuansa putih dengan pencahayaan temaram yang nyaman."Mommy..." panggil Tachi pelan. Tangan kecilnya menggenggam jemari Sarah.Sarah mengerjapkan kelopak mata, lalu mengulas senyuman tipis untuk menenangkan Tachi yang memandangnya cemas. Saat mencoba menggerakkan tangan, ia baru menyadari salah satu punggung tangannya telah ditusuk oleh jarum infus."Maaf, ya... Tachi semalam tidak bisa tidur? Kemarilah, berbaring di samping Mommy," bisik Sarah lembut.Tachi segera naik ke atas brankar dengan hati-hati, lalu melabuhkan kepalanya di atas pundak Sarah sembari memeluk Mommynya itu erat.Sarah bisa merasakan tubuh kecil Tachi sedikit bergetar. Ia pun mendengarkan dengan saksama saa
Sementara Sarah terbaring lemah di rumah sakit, di belahan nyata tempat lain, Rafli baru saja melangkah keluar dari lobi hotel murah bersama Pitri.Wanita muda itu terus bergelayut manja pada lengan kekar Rafli, sebelum keduanya masuk ke dalam mobil mewah milik Sarah yang selama ini diakui Rafli sebagai hasil keringatnya sendiri di depan para wanita 'penghiburnya'."Pahaku sampai kram nih, Abang nyosor terus enggak ada habisnya..." kekeh Pitri manja, berpura-pura kesulitan meluruskan kakinya di kursi penumpang samping Rafli yang mulai menyalakan mesin.Rafli tergelak rendah, terdengar sangat puas, "Siapa suruh kamu begitu mencandu? Jadinya Abang kan ketagihan dan ga bisa berhenti," bisiknya sensual sambil menoel gemas pipi Pitri yang kini sudah kembali mengenakan hijab tertutupnya secara rapi."Mau diantar pulang ke kosan atau mau ke toko? Tapi nanti malam Abang gak bisa mampir, ke kosanmu ya," tanya Rafli sembari mengarahkan mobil keluar dari pelataran parkir hotel."Sudah sore begi
Setelah sambungan telepon dengan Rafli terputus, Sarah terdiam cukup lama. Matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan dingin yang belum pernah terlihat selama enam bulan terakhir."Mommy, Tachi sudah siap. Tachi harus bawa baju berapa setel untuk menginap?" Tachi tiba-tiba masuk ke dalam kamar Sarah, kesusahan menyeret tas ransel kecil yang sudah ia jejali dengan beberapa setel pakaiannya.Melihat putranya yang tertawa ceria, pertahanan dingin Sarah runtuh digantikan kehangatan, "Kemari ..." Sarah langsung merengkuh tubuh montok itu, melabuhkan wajahnya dan menciumi rambut Tachi yang beraroma sampo anak-anak, lalu beralih mengendus pangkal lehernya."Mommy geli ... Hahaha! Aduh ...tolong!" pekik Tachi tergelak renyah, menggeliatkan tubuhnya. Namun, kembali dengan sengaja menyodorkan lehernya agar terus dihujani ciuman oleh Sarah yang juga sangat menikmati menggoda putranya itu.Sungguh, wajah anak lelaki yang menjelang usia tujuh tahun tersebut terlihat sangat bahagia. Hanya kare
Setelah memutuskan menginap di hotel hanya berdua dengan Tachi yang sebenarnya Sarah merasa hendak muntah setiap kali hembusan angin membawa aroma pekat aneh dalam rumahnya. "Tachi mandi dulu sendiri ya, Mommy bersiap-siap, oke?" Tachi langsung mengangguk cepat, turun dari ranjang dan kaki kecilnya berlari bergegas masuk ke dalam kamar mandi sambil berteriak, "Mommy, nanti di hotel, Tachi boleh nonton Animax?" Sarah terkekeh rendah, melihat kebahagiaan putranya. Ia mengetuk pelan daun pintu kamar mandi, "Ya. Tachi boleh nonton Animax sepuasnya tapi jam tidur malam tetap berlaku seperti biasanya." "Ahhhh, tak ada kompensasi nih, Mom?" terdengar suara Tachi merajuk manja dari dalam kamar mandi.Sarah dengan tawa kecil dengan luapan rasa bahagia, "Cepatlah mandinya, konpensasi tergantung mood Mommy." godanya iseng yang seolah juga telah lama tidak Sarah lakukan pada putranya itu, sejak bersama Rafli.Setelah memastikan Tachi aman di kamar mandi, Sarah melangkah masuk ke dalam kamar t
"Ahh ..." Kepala Pitri terlontar ke belakang dan dadanya membusung ke depan, merasakan gempuran Rafli di bawah sana yang sangat menyesakkan namun membuat seluruh syarafnya bergetar nikmat. "Tahan, Sayang ...sedikit lagi abang juga sampai." bisik Rafli sembari terus memompa cepat. Suara Pitri sudah parau dan serak, tubuhnya benar-benar akan ambruk begitu Rafli memberikan gempuran terakhir yang sangat keras seiring dengan lelakinya itu mengejang dengan peluh bercucuran membasahinya. Bau apek dari pendingin ruangan yang berisik menjadi satu-satunya musik di kamar hotel murahan ini. Kontras dengan aroma parfum mahal milik Rafli yang masih tertinggal di udara. Pitri menggeser kepalanya, berniat berbaring di atas lengan Rafli, namun pria itu dengan cepat menarik bantal untuk mengganjal kepala Pitri Seakan tidak menyadari penolakan halus tersebut, Pitri tersenyum tipis. Ujung jemarinya mulai menelusuri dada bidang pria yang sejak pagi telah membuatnya melambung tinggi. "Sampa







