공유

3. Menyusun Rencana

작가: Freyaa
last update 게시일: 2026-06-05 23:05:52

Setelah sambungan telepon dengan Rafli terputus, Sarah terdiam cukup lama. Matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan dingin yang belum pernah terlihat selama enam bulan terakhir.

"Mommy, Tachi sudah siap. Tachi harus bawa baju berapa setel untuk menginap?" Tachi tiba-tiba masuk ke dalam kamar Sarah, kesusahan menyeret tas ransel kecil yang sudah ia jejali dengan beberapa setel pakaiannya.

Melihat putranya yang tertawa ceria, pertahanan dingin Sarah runtuh digantikan kehangatan, "Kemari ..." Sarah langsung merengkuh tubuh montok itu, melabuhkan wajahnya dan menciumi rambut Tachi yang beraroma sampo anak-anak, lalu beralih mengendus pangkal lehernya.

"Mommy geli ... Hahaha! Aduh ...tolong!" pekik Tachi tergelak renyah, menggeliatkan tubuhnya. Namun, kembali dengan sengaja menyodorkan lehernya agar terus dihujani ciuman oleh Sarah yang juga sangat menikmati menggoda putranya itu.

Sungguh, wajah anak lelaki yang menjelang usia tujuh tahun tersebut terlihat sangat bahagia. Hanya karena melihat netra mommynya sudah kembali bersinar jernih dan suka menjahilinya lagi.

Inilah Sarah, Mommy Tachi yang asli, suka iseng, jenaka, namun sangat hangat dan penuh cinta.

"Tadi Mommy menyuruh Tachi cepat mandi, tapi Mommy sendiri belum siap!" protes Tachi dengan bibir cemberut maju.

Sarah tergelak renyah. Ia mencubit puncak hidung putranya itu gemas, "Iya, maaf, My Bear. Sekarang bantu Mommy masukkan laptop ke dalam tas, lalu bawa botol parfum dan perlengkapan shalat kita, oke?"

Tanpa membantah, Tachi langsung bergerak patuh melakukan apa yang diminta oleh Mommy cantiknya.

Sementara Tachi sibuk dengan 'pekerjaannya', Sarah melangkah mendekati lemari pakaian, membuka laci rahasia di bagian paling dalam, lalu mengeluarkan semua dokumen penting yang selama ini ia simpan rapi.

Ada surat rumah, sertifikat tanah, surat kepemilikan ruko toko sepatunya, bahkan ...ada juga surat rumah milik Desy, kakak perempuan Rafli yang dahulu uang pangkal dan angsurannya selama selama tiga bulan ditalangi oleh Sarah, tetapi tidak pernah dikembalikan.

Tidak ketinggalan, dalam laci rahasia itu juga Sarah menyimpan sertifikat rumah tinggal kedua orang tua Rafli yang juga dibeli menggunakan uangnya.

"Kau ingin aku membayar tagihan belanja sepatu yang sampai detik ini tak pernah kulihat wujud keuntungannya, Rafli?" gumam Sarah dengan senyum sinis, "Baiklah, akan kubayar lunas semuanya."

Enam bulan menikah dengan Rafli, tidak pernah satu kali pun pria itu memberikan nafkah belanja untuk rumah tangga mereka. Sebaliknya, setiap bulan Sarah terus 'dipaksa' secara halus untuk menggelontorkan uang puluhan juta, hingga puncaknya hari ini, setengah miliar lebih.

Usai memasukkan semua dokumen penting tersebut ke dalam tas kerjanya, Sarah segera menghubungi Catherine yang saat ini sedang berada di Hong Kong.

"Cathy, aku butuh bantuanmu. Kenalkan aku pada rentenir paling kejam yang beroperasi di Jakarta ..."

[Hei, Sarah! Kamu baru menghubungi aku setelah sekian banyak email kukirimkan, lalu sekarang mendadak minta dikenalkan pada rentenir paling kejam?] Catherine terdengar sangat terkejut di seberang sana, terutama mendengar nada suara Sarah yang tidak biasa.

[Apa yang terjadi? Ada apa denganmu? Kalau hanya butuh uang, dividen hasil penjualan bisnis parfum kita masih utuh di rekening ...]

"Nanti kujelaskan semuanya. Kirimkan nomor rentenir yang kamu kenal padaku, sekarang juga. Aku mau menggadaikan rumah, tanah, dan seluruh ruko."

[Oke, oke, tunggu sebentar. Tapi kuingatkan, ya, orang ini terkenal sangat kejam dan tidak kenal ampun kalau menagih ...]

"Bagus!" potong Sarah dingin. "Semakin kejam, semakin aku menginginkannya!"

[Janji, setelah ini kamu harus ceritakan semuanya padaku, hm?]

"Ya. Cepatlah, Cathy. Waktuku sangat terbatas!"

Tak lama setelah sambungan telepon terputus, sebuah notifikasi berisi nomor kontak masuk ke ponsel Sarah.

"Dewa ..." Sarah bergumam pelan, membaca nama kontak yang baru saja dikirimkan oleh Catherine. Nama yang cukup familiar baginya tapi tidak ingat pernah mendengarnya dimana.

Satu jam kemudian, sebuah mobil mewah sudah menjemput Sarah dan Tachi di depan kompleks. Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang menuju hotel bergengsi di pusat kota Jakarta dengan 

"Nona dan Tachi apa kabar? Semuanya baik-baik aja?" sapa Donny, sopir pribadi Sarah seraya bertanya ringan di kalimat terakhirnya.

Mobil mewah ini memang sengaja dititipkan Sarah di rumah Donny tanpa sepengetahuan Rafli sekeluarga. Rafli hanya tahu Sarah memiliki satu mobil, yang saat ini justru lebih sering digunakan oleh pria itu untuk gaya-gayaan, keluar masuk hotel, serta antar jemput wanita-wanita cantik dengan alasan pergi berbelanja atau bertemu pelanggan.

"Alhamdulillah, baik Pak Donny. Nanti seperti biasa, ya, kita pura-pura tidak saling mengenal kalau tidak sengaja bertemu Rafli dan keluarganya," pinta Sarah pelan.

Pak Donny mengangguk patuh. Namun, matanya berkali-kali melirik cemas ke arah Sarah melalui spion dalam. Di sebelah Sarah, Tachi terus berceloteh riang tanpa henti, menandakan hati anak lelaki itu sedang sangat gembira.

"Ada apa, Pak Don?" tanya Sarah yang bisa merasakan kalau sopir setianya itu sedang menahan sesuatu.

Pak Donny menggelengkan kepala sekilas, lalu melirik ke arah Tachi yang seolah seperti mendapatkan kosakata berlimpah, bertanya, bercerita dan menunjuk apa pun untuk menarik perhatian Sarah.

Seakan paham ada rahasia dewasa yang ingin disampaikan Pak Donny, Sarah segera mengeluarkan headphone dari dalam tasnya dan memasangkannya ke telinga Tachi.

"Simpan dulu tenaganya sedikit hem? Dengarkan musik kesukaanmu ..." bisik Sarah sambil mengecup sisi samping kepala Tachi yang ia putarkan lagu Me Too dari Meghan Trainor.

Begitu Tachi asyik bergoyang mengikuti irama musik, Sarah kembali menatap ke depan, "Katakan, Pak. Ada yang ingin Pak Donny sampaikan?"

Pak Donny mengeluarkan ponsel pribadinya, lalu mengulurkannya ke belakang untuk diterima oleh Sarah. "Maaf sebelumnya, Nona. Saya sudah lancang mengikuti dan menyelidiki suami Nona sejak beberapa bulan terakhir," tutur Pak Donny seraya tetap fokus mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang.

Sarah membuka galeri di ponsel Pak Donny. Detik itu juga, matanya disuguhi oleh pemandangan menjijikkan. Ada banyak foto serta video Rafli dengan wanita yang berbeda-beda. Pria yang masih berstatus suaminya itu tampak santai menggandeng wanita lain, berciuman mesra, hingga keluar masuk hotel melati. Bahkan, ada beberapa video menampilkan mobil milik Sarah yang dipakai pria itu bergoyang-goyang di tempat sepi.

Kelopak mata Sarah mengerjap lambat. Namun anehnya, dadanya tidak merasa sakit hati sama sekali, tetapi seolah ada ruang kosong yang dingin di hatinya.

"Maaf, Nona... apakah Nona ingin saya buatkan jadwal pemeriksaan ke dokter spesialis?" ucap Pak Donny berhati-hati.

Pak Donny mengkhawatirkan kesehatan Sarah mengingat 'pergaulan' Rafli yang teramat kotor di luar sana.

Sarah terdiam sejenak, menatap bayangan dirinya di kaca jendela, "Nanti aku sendiri yang akan pergi ke dokter spesialis, Pak. Sampai detik ini, belum ada keluhan ...."

Perkataan Sarah terputus seketika. Dadanya mendadak seperti diremas kuat, lalu Ia terbatuk-batuk hebat hingga gumpalan darah berwarna hitam pekat keluar dari mulutnya, mengotori pakaian dan tangannya juga lantai mobil.

"Mommy?!" Tachi memekik histeris. langsung melepaskan headphone di kepalanya, merengkuh pundak Sarah dan memeluknya erat dengan wajah ketakutan bercampur cemas.

"Tolong pakaikan sabuk pengaman untuk Mommy-mu, Tachi! Kita ke rumah sakit sekarang!" seru Pak Donny panik.

Pak Donny langsung menginjak pedal gas dalam-dalam, melajukan mobil secepat kilat menuju rumah sakit besar terdekat, sementara Sarah hanya bisa terbaring lemas dengan napas terengah-engah, masih batuk mengeluarkan darah hitam bergumpal-gumpal dan napasnya turun naik tidak beraturan.

"Mommy, please... jangan tinggalkan Tachi. Mommy tidak boleh mati...!" Tachi terisak hebat, memeluk kepala Sarah di atas pangkuannya dengan tangan gemetar yang juga ia ciumi dengan wajah basah airmata.

Begitu tiba di rumah sakit, Pak Donny langsung bergerak cepat mengurus semua administrasi agar Sarah segera dirawat di ruang VIP.

Di atas brankar dalam ruangan VIP, kelopak mata Sarah terpejam rapat, dadanya naik turun dengan gerakan yang sangat pelan dan lemah.

"Tachi, biarkan dokter memeriksa Mommy dulu. Kita beli camilan di bawah, yuk." ajak Pak Donny lembut, mencoba mengalihkan perhatian Tachi yang terus menempel di sebelah brankar Sarah.

"Tachi tidak mau pergi! Nanti Mommy tinggalkan Tachi..." sahut anak lelaki tampan berwajah oriental tersebut dengan air mata yang terus berlinang membasahi pipinya.

Dokter yang sedang memeriksa keadaan Sarah tersenyum tipis memandang Tachi. Meskipun menangis dan bersedih, anak lelaki itu terlihat sangat tegar.

"Apakah ini pertama kalinya Mommy muntah darah?" tanya dokter tersebut lembut. Di jas putihnya, tersemat papan nama bertuliskan Dr. Ali.

Kepala Tachi mengangguk, namun kemudian ia menggeleng dengan cepat, "Mommy sudah sering batuk darah di kamar mandi, tapi belum pernah pingsan seperti ini. Apakah Mommy Tachi sakit parah? Om Dokter butuh darah untuk Mommy? Pakai darah Tachi saja... darah Tachi banyak!"

Dokter Ali tersenyum semakin hangat. Tangan besarnya bergerak mengusap puncak kepala Tachi, yang entah bagaimana, dirinya seperti melihat cermin masa kecilnya sendiri dalam diri Tachi.

Dokter Ali kemudian menoleh pada Pak Donny yang menggelengkan kepala, tanda ia tidak tahu banyak tentang kehidupan pribadi Sarah karena majikannya itu selalu menjaga jarak.

"Biasanya... setelah batuk darah... Mommy akan..." Tachi menghentikan kalimatnya sejenak, lalu ia tiba-tiba meraih pergelangan tangan Sarah, kemudian menyibak naik lengan baju blouse panjang mommynya.

Kedua mata Dokter Ali terbeliak besar saat melihat kulit putih di pergelangan tangan Sarah dipenuhi oleh bekas-bekas sayatan tipis yang berjejer mengerikan.

"Tolong ambil sampel darah pasien sekarang dan bawa ke lab. Berikan pesan urgent atas namaku!" perintah Dokter Ali dengan nada tegas dan serius kepada perawat yang mendampinginya.

Pak Donny yang ikut melihat pergelangan tangan Sarah, langsung tercekat shock.

"Ini... saya sangat tahu Nona kami bukan pecandu narkotika atau orang yang suka menyakiti diri sendiri, Dokter. Pasti ada kekeliruan..." ucap Pak Donny dengan suara bergetar, memandang lekat ke arah Tachi.

Di mata semua orang yang mengenalnya, Sarah adalah wanita yang hangat, baik hati dan sangat cerdas. Rasanya mustahil dia akan mengabaikan kebahagiaan Tachi demi menjadi pecandu. Dalam mimpi sekalipun, hal itu tidak masuk akal.

"Kita akan mendapatkan hasilnya sesegera mungkin. Untuk saat ini, kita pantau dulu kondisinya di ruang intensif," tutur Dokter Ali bijak, menyembunyikan kecurigaan mendalam yang berkecamuk di kepalanya.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
댓글 (11)
goodnovel comment avatar
Shafeeya Humairoh
syukurlah dony mengikuti rafli jadi ada bukti klo rafli bukan laki2 baik2
goodnovel comment avatar
Shafeeya Humairoh
aneh ya perilaku sarah, apa sebenarnya yg terjadi, ada kaitan kah dengan tanah yg ditemukan sarah di rumahnya
goodnovel comment avatar
tyas🍦🍫
Apa sarah dijampi jampi ya sama Rafli biar tunduk gitu
댓글 더 보기

최신 챕터

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    180.

    Tatapan Ethan yang sebelum tajam dan dingin memandang puncak kepala Dewa yang merunduk ke depannya, kini tiba-tiba melunak dan menyerah berkat belaian jemari Sarah pada puncak batangnya yang benar-benar berhasil merontokkan seluruh pertahanan keras kepalanya. "Jika kau berani menyakiti Disa, aku akan membunuhmu tanpa pengampunan, Dewa!“ "Brother!" Disava berseru nyaring dengan binar mata penuh kebahagiaan menatap Ethan yang mendengkus kecil. Sarah tersenyum mengedipkan sebelah mata pada Disava, sambil di bawah meja, jemarinya meremas batang Ethan yang kini menoleh dengan pandangan berkabut menatapnya. Disava memeluk Dewa tanpa sungkan, menarik pundak lelakinya itu yang menjatuhkan titik air mata di atas meja, "Honey, ucapkan terima kasih pada kakak iparmu, kita akan menikah!" bisiknya juga tercekat didera perasaan haru Dewa menularinya. Catherine pun terisak haru, membenamkan wajahnya di pundak Dokter Ali yang langsung memeluk istrinya itu. Di sisi lain, Tachi sudah turun dar

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    179. Lucu Tapi Serius

    Mereka menikmati menu sarapan restoran hotel dengan penuh suka cita. Brian pun turut bergabung, duduk di ujung meja tepat bersebelahan dengan Catherine. Hanya Ethan, yang masih konsisten memasang tampang masam setiap kali melirik ke arah Dewa. "Ini minuman khas Rusia, kami menyebutnya Sbiten. Terbuat dari madu murni dan rempah-rempah pilihan. Silakan dicicipi, Dokter Ali, Lady Catherine, dan Dewa," tutur Madam Maria ramah ketika pelayan meletakkan cangkir-cangkir hangat berisi minuman tersebut ke hadapan mereka semua. Dokter Ali, Catherine, dan Dewa mengangguk sopan lalu mencicipi minuman tradisional itu. Sebelum sarapan benar-benar berakhir, Sarah mendadak teringat pada tiket Tokyo Disneyland yang diberikan Dokter Ali. "Ali dan Cathy memberikan ini..." Sarah baru saja meletakkan beberapa lembar tiket di atas meja, ketika Tachi sudah berseru riang. "Wah, Tokyo Disneyland! Ada pertunjukan kembang api dan parade natal raksasa di akhir tahun ini di sana... Tachi boleh ikut,

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    178. Perkara Bunga...

    Disava mengirimkan laporan keuangan El Man Company yang ia tangani secara langsung sejak dipindah kepemilikannya kepada Sarah.[Ted mencoba membobol data keuangan.] pesan Disava terkirim ke ponsel Ethan."Kau sudah menguncinya 'kan?" balas Ethan cepat.[Tentu saja! Aku menyisakan nol di saldo El Man Company, dan data keuangannya yang lain juga sudah kudapatkan serta kupindahkan ke rekening cadangan.]"Bagus! Setelah rapat pembuktian Grandma tidak terlibat dalam kecelakaanku dan Sarah, akan kuberikan 2% saham di perusahaan pribadiku untukmu."[Aku sudah punya perusahaan pribadi di bidang keuangan, tidak tertarik berebut saham dengan saudara sendiri...]Ethan langsung menekan tombol dial, menghubungi Disava yang ternyata berada di dalam mobil bersama Tachi di sebelahnya, sementara sopir Madam Maria duduk di balik kemudi."Kalian mau ke mana?" tanya Ethan setelah balas tersenyum pada Tachi yang melambaikan tangan di depan kamera ponsel Disava."Tachi mau bertemu Mommy dan Maket," jawab T

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    177.

    Ethan masih terlelap dengan wajah puas, sementara Sarah sudah selesai mandi dan berganti pakaian mengenakan gaun ungu beludru mewah yang disiapkan khusus oleh Ethan untuknya di walk-in closet."Terima kasih, Hubby..." bisik Sarah sembari mendaratkan kecupan lembut ke kening Ethan. Pria itu sedikit menggeliat hendak membuka kelopak matanya, namun kembali terlelap begitu jemari Sarah membelai alis tebalnya dengan penuh kasih."Tidur dan istirahatlah. Aku hanya mau menemui Ali dan Cathy di taman hotel." bisik Sarah seraya menulis di kertas, pesan untuk Ethan yang ia letakkan di atas meja nakas samping tempat tidur.Sarah lalu meraih sebuah kotak berisi perhiasan black gold yang dibelikan Ethan sebagai hadiah pernikahan untuk Catherine. Tidak hanya itu, Sarah juga membawa racikan parfum khusus untuk Dokter Ali, sebuah formula rahasia yang belum pernah ia beritahukan kepada siapa pun, kecuali Mister Konstantin yang menguji kualitas aromanya."Hai... Ra! Kami di sini!" seru Catherine ceria,

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    176.

    Sepanjang acara berlangsung, meja resepsi khusus kado dan pameran ucapan selamat dari para tamu VIP sudah menggunung dengan barang-barang bernilai fantastis. Barisan pengawal berpenampilan menawan dalam balutan setelan putih mengangguk sopan pada setiap tamu yang meletakkan kado dan hadiah pernikahan.Mulai dari sertifikat kepemilikan pulau pribadi di Mediterania dari seorang taipan minyak Arab, lukisan langka abad ke-18 karya maestro Eropa dari sang menteri kebudayaan Rusia, hingga saham eksklusif perusahaan teknologi raksasa yang dipersembahkan oleh para kolega bisnis Volkov Holdings dari Swiss sebagai kado pernikahan untuk Ethan dan Sarah.Bahkan, Perdana Menteri Rusia secara khusus menyerahkan sebuah kotak beludru berisi bros berlian antik milik keluarga kerajaan masa lalu sebagai tanda kehormatan tertinggi untuk Sarah."Ini sangat indah dan terlalu berharga, Prime Minister... Kami tidak bisa..." Sarah yang mengetahui betapa berharganya berlian antik keluarga kerajaan tersebut hen

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    175.

    Tanpa menunda sedetik pun, Disava meraih ponselnya dan langsung menghubungi Madam Maria, yang mengangkat panggilan itu tepat di deringan kedua. Tak lama kemudian, Madam Maria melangkah anggun menghampiri tempat Disava berdiri. Para tamu perlahan menoleh, sengaja membentuk lingkaran longgar di sekeliling mereka hingga membuat Ksenia tidak memiliki celah sedikit pun untuk kabur atau melarikan diri. "Ksenia? Kenapa kau mengenakan pakaian pelayan?" seru Madam Maria terkejut, matanya terbelalak menatap Ksenia yang kini mengangkat wajah dengan berurai air mata. "G-Grandma..." cicit Ksenia terbata. "Sepertinya seragam itu memang sangat cocok untukmu, Ksenia! Di mana Ibumu? Apakah dia juga menjadi pelayan di sini?" cecar Madam Maria, memotong dan mematikan segala niat Ksenia untuk mengadu. Tepat di saat bersamaan, kepala pelayan utama berjalan tergopoh-gopoh menghampiri Madam Maria sambil menyeret lengan Viktoria yang tampak kusut dan ketakutan. "Kami mohon maaf, Madam. Kami terpak

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    7.

    Karena pemeriksaan medis menyatakan kondisi Sarah stabil dan tidak ada keluhan fisik yang berarti, Ia memutuskan untuk keluar dari rumah sakit. Sarah juga memiliki hal yang perlu dia selesaikan secepatnya"Kita makan-makan dulu yuk, Abah... Ibu," ajak Sarah sembari menatap kedua orangtua angkatnya

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    6.

    Tak lama setelah obrolan hangat di dalam ruangan perawatan Sarah, pintu kamar rawat itu tiba-tiba diketuk pelan. Sosok tinggi tegap dr. Ali melangkah masuk dengan senyum ramah yang menenangkan. Di tangannya, terdapat sebuah map berisi hasil laboratorium Sarah yang keluar pagi ini."Selamat pagi. Wa

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    5.

    Pagi sudah terang ketika kelopak mata Sarah perlahan terbuka. Ia merasa baru saja terbangun dari sebuah mimpi panjang yang seolah tak berujung, memutar adegan kelam yang sama secara terus-menerus di kepalanya.Sarah memindai sekeliling. Ia mendapati dirinya terbaring di atas brankar dalam sebuah ru

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    4.

    Sementara Sarah terbaring lemah di rumah sakit, di belahan nyata tempat lain, Rafli baru saja melangkah keluar dari lobi hotel murah bersama Pitri.Wanita muda itu terus bergelayut manja pada lengan kekar Rafli, sebelum keduanya masuk ke dalam mobil mewah milik Sarah yang selama ini diakui Rafli se

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status