Teilen

2. Kesadaran Kembali

last update Veröffentlichungsdatum: 05.06.2026 00:00:49

Setelah memutuskan menginap di hotel hanya berdua dengan Tachi yang sebenarnya Sarah merasa hendak muntah setiap kali hembusan angin membawa aroma pekat aneh dalam rumahnya.

"Tachi mandi dulu sendiri ya, Mommy bersiap-siap, oke?"

Tachi langsung mengangguk cepat, turun dari ranjang dan kaki kecilnya berlari bergegas masuk ke dalam kamar mandi sambil berteriak, "Mommy, nanti di hotel, Tachi boleh nonton Animax?"

Sarah terkekeh rendah, melihat kebahagiaan putranya. Ia mengetuk pelan daun pintu kamar mandi, "Ya. Tachi boleh nonton Animax sepuasnya tapi jam tidur malam tetap berlaku seperti biasanya."

"Ahhhh, tak ada kompensasi nih, Mom?" terdengar suara Tachi merajuk manja dari dalam kamar mandi.

Sarah dengan tawa kecil dengan luapan rasa bahagia, "Cepatlah mandinya, konpensasi tergantung mood Mommy." godanya iseng yang seolah juga telah lama tidak Sarah lakukan pada putranya itu, sejak bersama Rafli.

Setelah memastikan Tachi aman di kamar mandi, Sarah melangkah masuk ke dalam kamar tidurnya bersama Rafli. Semuanya terlihat rapi dan bersih, namun aroma pekat yang mengaduk lambung itu seakan terus berputar-putar di udara.

Sarah menggeser ranjang tidur, dan matanya pun melihat pada lantai di bagian pojok terdapat sebuah bungkusan kain mori kecil yang robek, segenggam tanah berwarna hitam pekat seolah tumpah dari bungkusan kain tersebut.

Sarah mengambil saputangannya sendiri dari dalam lemari, kemudian membungkus tanah hitam pekat itu yang sempat ia identifikasi aromanya perpaduan tanah, hio babi, kemenyan bakar, dan wewangian asing yang bercampur menjadi satu, tak bisa ia kenali asalnya.

"Apakah ini sihir?" gumam Sarah pelan. Seketika, wajah Rafli melintas di benaknya, disusul rasa merinding yang menjalar ke seluruh tubuh. 

Mengingat Rafli, Sarah mendadak teringat pada masalah tagihan sepatu impor senilai lima ratus lima puluh juta rupiah yang belum dibayar. Sebelum menghadapi Rafli, Sarah memutuskan untuk menghubungi Koko Yayan terlebih dahulu.

Seperti biasa, Koko Yayan menjawab telpon Sarah sangat ramah. Supplier setia Sarah itu memberikan waktu tempo satu bulan pada Sarah untuk pembayaran tagihan sepatu impor yang di pesan Rafli.

"Saya mengenalmu, Sarah. Kalau dalam waktu satu bulan belum lunas, kabari saja. Ini dispensasi hanya untuk kamu aja, karena kita sudah bertahun-tahun langganan." ucap Koko Yayan hangat, sebelum menyerahkan ponselnya kepada sang istri yang juga ingin berbicara.

"Akhir-akhir ini Rafli sering memesan sepatu dalam jumlah besar, kami senang akhirnya bisnismu semakin maju, tapi... ga ada masalah diantara kalian bukan?"

Ternyata sebagai wanita, istrinya koko Yayan bisa menyadari hal tidak wajar dari tindakan Rafli.

"Kami baik-baik saja, Cici. Terima kasih banyak atas kepercayaan Cici dan Koko. Doakan dalam waktu sebulan ini, semua tagihannya lunas ya." jawab Sarah sambil tersenyum agar istrinya koko Yayan tidak menangkap getaran dalam nada suaranya.

"Tapi Cici, untuk ke depannya, tolong sampaikan ke Koko Yayan agar jangan memberikan barang apa pun lagi kalau Rafli yang datang memesan. Bilang saja prosedur toko sedang ketat karena tagihan sebelumnya belum lunas."

"Tentu, Sarah. Lagipula, kalau bukan karena nama besarmu, dia bahkan enggak akan bisa membawa sepasang sepatu pun keluar dari gudang kami tanpa bayar tunai," sahut istri Koko Yayan terkekeh rendah. Wanita paruh baya itu memang selalu kagum pada kemandirian Sarah yang sudah memiliki finansial kuat tetapi masih tertarik untuk berbisnis jualan sepatu impor.

Dahulu, saat Sarah pertama kali mengenalkan Rafli sebagai calon suaminya, istri Koko Yayan itu sempat menarik lengan Sarah menjauh dari keramaian. "Kamu yakin mau menikah dengannya, Sarah? Maaf ya, tapi dia sepertinya... jauh dari standar seleramu yang biasanya."

Saat itu, Sarah yang matanya telah dibutakan oleh pesona Rafli hanya tertawa kecil, "Tapi dia jauh lebih tampan dan pengertian, 'kan, Cici?"

Mendengar pembelaan Sarah, istri Koko Yayan tersebut hanya bisa memaksakan senyum seraya mengangguk pelan, "Kuharap kamu dan Tachi bahagia, Sarah."

Mengingat kilasan memori itu, dada Sarah terasa seperti dihantam batu besar. Seiring dengan kembalinya indra penciumannya yang selama ini seolah terkunci dan mati rasa, jantung di dalam rongga dadanya kini berpacu gila-gilaan.

Namun sihir yang digunakan Rafli terhadap wanita cantik kaya raya tersebut tidak semudah itu luruh. 

Dengan tangan yang gemetar hebat akibat amarah yang menumpuk, Sarah meraba saku daster, mengambil ponselnya, lalu menghubungi nomor Rafli.

Satu kali panggilan... dua kali... tidak dijawab.

Pada dering ketiga di panggilan berikutnya, barulah panggilan itu tersambung.

**

Di tempat lain, suara bising dari kipas angin dan pendingin ruangan hotel murahan itu mendadak kalah oleh dering nyaring ponsel Rafli di atas nakas.

"Ahhh ...Abanggg ..." Pitri mendesah pasrah, mencengkeram seprai abu-abu yang tampak kusam saat Rafli kembali membalikkan tubuhnya, mendera wanita itu dalam gelombang kenikmatan yang lebih menuntut.

Mendengar ponselnya terus berbunyi dan melihat nama 'Sarah Sayang' berkedip di layar, Rafli sama sekali tidak panik.

Pria itu justru tersenyum licik yang penuh kemenangan. Tanpa menghentikan gerakan pinggulnya yang terus memompa cepat di atas tubuh Pitri, Rafli mengulurkan tangan, menggeser tombol hijau, lalu menempelkan ponsel ke telinganya.

"Halo, Sayang?" ucap Rafli tenang, lembut dan terdengar sedikit terengah-engah yang seolah sedang berada di luar ruangan, berlari, berpacu dengan waktu.

[Kamu di mana?] suara Sarah di seberang telepon terdengar bergetar, sarat akan emosi yang ditahan, [Azriel telepon aku. Ada barang masuk senilai lima ratus lima puluh lima juta rupiah ke toko dan belum dibayar! Bukankah tadi pagi kamu sudah minta seratus juta untuk belanja sepatu, sekarang ada nota setengah miliar lagi? Kenapa belum di bayar sama sekali?]

Rafli memberi isyarat jari di depan bibir pada Pitri agar wanita itu menahan suaranya. Pitri yang mengerti, langsung menggigit bantal menahan desah, sementara matanya menatap Rafli dengan tatapan penuh pemujaan.

"Oh, kurirnya sudah sampai ya? Kamu bayarin dulu ya, Sayang. Itu pesanan orang, dalam pekan ini mereka akan datang sendiri untuk ambil." Rafli menjawab dengan tenang dan lembut juga terdengar kekehan khasnya yang pendek.

Tawa pendek tersebut dahulu selalu bisa membuat Sarah meleleh, membuatnya bertekuk lutut dan dengan sukarela menuruti apa pun keinginan Rafli, termasuk membiayai hidup seluruh keluarganya. 

"Sarah Sayang, kamu masih mendengarkan?" Rafli memanggil setelah beberapa saat tak ada jawaban dan tanggapan dari Sarah.

"Aku masih belanja sepatu, Sayang. Sepatu pesanan dari perusahaan yang kemarin aku ceritain ke kamu itu loh," tutur Rafli tanpa dosa, seolah Sarah masih sama seperti sebelumnya, bisa ia manipulasi hanya dengan kekehan merdunya yang kini di telinga Sarah justru mendengarnya dengan jijik.

[Jam berapa kamu pulang?] tanya Sarah setelah hening dimana ia berusaha menahan mual dan gejolak dari dalam lambungnya yang mendesak hendak dikeluarkan.

"Aku masih berbelanja, Sarah Sayang. Mungkin pulangnya agak sore, Ibu dan Ayah juga tadi titip minta dibelanjakan sepatu. Jadi, nanti setelah ini, mau ke gudang agensi besar yang pernah kamu kenalkan dulu." sahut Rafli tetap lembut sambil menahan tubuh Pitri yang masih ia masuki di bawahnya.

Pitri mendengkus kesal karena Rafli terdengar sangat lembut, memanjakan Sarah yang entah pemikirannya saja, suara istri dari pria yang telah ia berikan hati dan tubuhnya itu terdengar sedikit ketus, jauh berbeda dari biasanya.

"Kak Desy mengirimkan gambar sepatu impor model terbaru di akun sosmed agensi besar yang pernah kamu kenalkan itu. Ibu dan Ayah menginginkan model sepatu itu untuk di jual di toko mereka. Nanti juga coba jual beberapa pasang di toko kita ya." lanjut Rafli tanpa beban, merasa 'suaranya' telah ampuh 'menaklukkan' Sarah.

"Sudah dulu ya, Sayang. Ini baru selesai transaksi, mau ke gudang. Jika urusannya lancar, nanti aku pulang cepat." Rafli memungkas obrolan saat merasakan pelepasannya sudah di ujung tanduk. Napasnya sengaja dibuat semakin ngos-ngosan, "Ah! Sial, ini ban mobilnya mendadak bocor lagi... Sudah dulu ya, Sayang. Love you!"

Dusta itu meluncur lancar tanpa beban dari mulut Rafli. Ia sengaja mengakhiri telepon dengan sandiwara seolah-olah dirinya adalah suami paling malang yang sedang kelelahan akibat mobil mogok dan terpaksa berlari-lari mengejar taksi demi bisnis sepatu impor mereka.

Padahal kenyataannya, tepat setelah tombol merah ditekan, pria itu langsung menghunjamkan tubuhnya dengan kasar dan cepat, membuat Pitri terpekik hebat menikmati puncak pergulatan panas mereka di atas kasur hotel yang berbau apek.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Kommentare (2)
goodnovel comment avatar
Bu Liwah
Ya Tuham, apa sih ini, semua emosi jadi satu, jengkel, sedih, baca sajalah bab selanjutnya
goodnovel comment avatar
Azzurra
Lanjuuut Thor
ALLE KOMMENTARE ANZEIGEN

Aktuellstes Kapitel

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    100.

    Begitu jet pribadi sudah stabil di udara, salah satu pramugari datang menawarkan minuman dan camilan pada seluruh penumpang yang hanya terdiri dari Sarah, Ethan, Tachi, Bu Indar, serta Brian.Tak lama kemudian, Brian menyerahkan sebuah laptop kerja ke hadapan Ethan. Sarah pun turut mengeluarkan laptopnya sendiri ke atas meja.Tiba-tiba, Ethan bangkit dan berpindah duduk dari kursi di hadapan Sarah ke kursi tepat di sampingnya."Ada apa?" Sarah mengernyit bingung. Namun sudut bibirnya segera tertarik memberikan senyuman mengejek, "Jangan bilang kau takut ketinggian, Mister Volkov!"Ethan sama sekali tidak tersinggung dengan sindiran Sarah. Ia memutar sedikit layar laptopnya agar menghadap ke arah Sarah, "Syarat pertama sudah kupenuhi. Kau sekarang adalah pemegang saham utama untuk semua aset El Man Company."Bola mata Sarah memancarkan keterkejutan sesaat, yang langsung berhasil ia kendalikan secepat kilat. "Hmm... ternyata kau cukup bisa diandalkan dalam hal ini. Apakah Ted mengetahui

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    99.

    Setelah melambaikan tangan melepas Catherine yang berjalan masuk ke lorong keberangkatan komersial menuju Hong Kong, Brian mengajak Sarah beserta rombongan melangkah menuju area terminal VIP privat, sebuah lounge eksklusif terpisah yang dikhususkan untuk penerbangan jet pribadi keluarga Volkov.Di dalam VIP Lounge yang mewah dan tenang tersebut, proses imigrasi dan pemeriksaan paspor Sarah, Bu Indar, serta Tachi diurus sepenuhnya oleh Brian dan petugas khusus. Tentu saja tidak ada antrean, tidak ada riuk pikuk kerumunan."Saya tidak pergi, sedang banyak pekerjaan di perusahaan." ucap Abah Rizal ketika Brian meminta passpornya untuk diperiksa.Ethan menoleh cepat, sorot matanya tak terbaca memandang Abah Rizal sekilas, tetapi bibir seksinya terkatu

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    97.

    Tiga mobil berhenti berurutan di area parkir keberangkatan Bandara Internasional Soekarno-Hatta.Sarah turun dari mobil yang dikemudikan Pak Donny bersama Tachi. Di belakangnya, Bu Indar ikut turun usai mengangguk hangat pada Abah Rizal.Sementara dari mobil lainnya, Catherine dibantu Dokter Ali menurunkan kopernya. Catherine akan kembali ke Hong Kong dengan penerbangan yang dijadwalkan tiga puluh menit lebih cepat dari jet pribadi keluarga Volkov.Ethan rupanya sudah tiba lebih dulu bersama Brian, menggunakan jasa mobil dan sopir dari hotel tempat mereka menginap."Sudah siap?" sapa Ethan melangkah mendekati Sarah, yang dibalas senyum samar oleh wanita itu."Memangnya jika aku bilang belum siap, kau akan membatalkan penerbangan ini?" kekeh Sarah sembari mengulurkan tangannya ke belakang.Dokter Ali yang selesai membantu menumpuk semua koper di atas troli, kini didorong oleh Pak Donny, langsung menyambut uluran tangan Sarah.Dokter Ali dan Sarah saling menautkan jari-jemari, seolah ha

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    96.

    Dari rumah sakit, selesai dari jaga malam, Dokter Ali mampir ke rumah Abah Rizal untuk melepaskan Sarah dan Tachi yang akan ditemani Bu Indar pergi ke Rusia pada penerbangan malam dari Jakarta. "Kabari aku begitu kalian sudah sampai di sana, kapan pun itu, akan ku kosongkan jadwalku untuk menjadi wali pernikahanmu ..." ucap Dokter Ali sembari tersenyum tipis dan sorot matanya terlihat sengaja menggoda Sarah. Sarah memutar bola matanya malas, lalu melirik Catherine yang baru saja meletakkan secangkir kopi dan roti ke atas meja."Daripada sibuk mengurus pernikahanku yang masih menunggu beberapa bulan lagi, lebih baik perjelas dulu hubunganmu dengan sahabatku ini," balas Sarah memutar balik arah serangan.Catherine yang berdiri tepat di samping Dokter Ali langsung tersentak kaget. Wajahnya gelagapan melirik Dokter Ali yang justru melebarkan senyum pada Sarah."Loh, kok jadi membawa-bawa aku sih, Ra?" cicit Catherine sangat pelan."Sudahlah, mengaku saja! Semalam aku lupa menanyakanmu y

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    95.

    "Dasar Sarah... kenapa tadi kau mau dicium oleh Ethan? Apakah kau menyukainya? Penampilannya membuat sejuk matamu? Ingat Sarah, kau baru saja disakiti! Jangan cari pelampiasan lain, jika tidak... kau akan lebih disakiti lagi!"Sarah menggerutu sendirian, memukul setir kemudi sedikit kesal hingga merasakan perih di telapak tangannya.Baru saja mobil Sarah tiba di depan rumah, dua orang security bergegas membukakan pintu gerbang. Pintu gerbang itu kini telah dirombak total dalam waktu singkat oleh Abah Rizal menggunakan sistem modern dengan pagar setinggi tiga meter.Sarah tersenyum, menurunkan kaca jendela untuk menyapa dua orang security yang sudah ia kenal bekerja di perusahaan V.M Company.Sarah baru saja mengeluarkan belanjaan dari bagasi kala ponsel di saku celananya berdering nyaring."Ma Bear, tolong jawab ponsel Mommy..." pinta Sarah saat Tachi berlari menyambutnya dengan tawa lebar dan sorot mata riang.Tanpa menunggu, Tachi langsung merogoh kantong celana Mommynya, mengambil p

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    94.

    Sarah akhirnya mengemudikan mobil SUV pulang ke Jakarta, sebab Pak Donny minta ijin pulang ke rumahnya lebih cepat karena lokasinya lebih dekat untuk pulang daripada bolak-balik dulu ke Jakarta. Suasana di dalam kabin mobil sangat hening, hanya terdengar dengung halus mesin mobil dan gesekan roda dengan aspal.Ethan menyandarkan punggungnya, menatap lurus ke depan dengan sisa rasa hangat ciuman Sarah yang masih tertinggal di bibirnya. Sesekali pria itu mengulum bibirnya lalu merabanya seolah tekstur bibirnya terasa jauh lebih kenyal dari sebelumnya. Sebaliknya, Sarah memutar kemudi santai, seolah adegan ciuman dan gesekan Ethan sebelumnya tidak pernah terjadi. Sesekali Sarah melirik ke kaca spion tengah sebelum akhirnya membuka suara."Nanti di Moskow... siapa saja anggota keluarga Volkov yang harus aku dan Tachi temui?" tanya Sarah datar, memecah keheningan.Ethan tak langsung menjawab. Ia memperbaiki posisi duduknya, menyilangkan kaki seraya bersedekap dada, sedikit memiringkan tub

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    16.

    Tidur Sarah semakin gelisah seiring dengan dirinya yang semakin terangsang di alam mimpi. Sedangkan Tachi yang tetap pulas di sebelahnya sama sekali tak terganggu oleh desahan dan erangan halus yang sesekali lolos keluar dari mulut Sarah.Tepat ketika pria bayangan di dalam mimpi itu hendak bergera

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    13.

    Sarah mengemudikan Lexus ES miliknya membelah jalanan malam yang mulai lengang, menuju ke sebuah kafe remang-remang yang letaknya tidak jauh dari area mall. Di kursi penumpang sampingnya, Tachi duduk tenang sembari memeluk tas kecil Sarah, sesekali memandangi lampu-lampu jalanan dari balik kaca jen

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    7.

    Karena pemeriksaan medis menyatakan kondisi Sarah stabil dan tidak ada keluhan fisik yang berarti, Ia memutuskan untuk keluar dari rumah sakit. Sarah juga memiliki hal yang perlu dia selesaikan secepatnya"Kita makan-makan dulu yuk, Abah... Ibu," ajak Sarah sembari menatap kedua orangtua angkatnya

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    6.

    Tak lama setelah obrolan hangat di dalam ruangan perawatan Sarah, pintu kamar rawat itu tiba-tiba diketuk pelan. Sosok tinggi tegap dr. Ali melangkah masuk dengan senyum ramah yang menenangkan. Di tangannya, terdapat sebuah map berisi hasil laboratorium Sarah yang keluar pagi ini."Selamat pagi. Wa

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status