LOGINSetelah memutuskan menginap di hotel hanya berdua dengan Tachi yang sebenarnya Sarah merasa hendak muntah setiap kali hembusan angin membawa aroma pekat aneh dalam rumahnya.
"Tachi mandi dulu sendiri ya, Mommy bersiap-siap, oke?" Tachi langsung mengangguk cepat, turun dari ranjang dan kaki kecilnya berlari bergegas masuk ke dalam kamar mandi sambil berteriak, "Mommy, nanti di hotel, Tachi boleh nonton Animax?" Sarah terkekeh rendah, melihat kebahagiaan putranya. Ia mengetuk pelan daun pintu kamar mandi, "Ya. Tachi boleh nonton Animax sepuasnya tapi jam tidur malam tetap berlaku seperti biasanya." "Ahhhh, tak ada kompensasi nih, Mom?" terdengar suara Tachi merajuk manja dari dalam kamar mandi.Sarah dengan tawa kecil dengan luapan rasa bahagia, "Cepatlah mandinya, konpensasi tergantung mood Mommy." godanya iseng yang seolah juga telah lama tidak Sarah lakukan pada putranya itu, sejak bersama Rafli.
Setelah memastikan Tachi aman di kamar mandi, Sarah melangkah masuk ke dalam kamar tidurnya bersama Rafli. Semuanya terlihat rapi dan bersih, namun aroma pekat yang mengaduk lambung itu seakan terus berputar-putar di udara.
Sarah menggeser ranjang tidur, dan matanya pun melihat pada lantai di bagian pojok terdapat sebuah bungkusan kain mori kecil yang robek, segenggam tanah berwarna hitam pekat seolah tumpah dari bungkusan kain tersebut. Sarah mengambil saputangannya sendiri dari dalam lemari, kemudian membungkus tanah hitam pekat itu yang sempat ia identifikasi aromanya perpaduan tanah, hio babi, kemenyan bakar, dan wewangian asing yang bercampur menjadi satu, tak bisa ia kenali asalnya. "Apakah ini sihir?" gumam Sarah pelan. Seketika, wajah Rafli melintas di benaknya, disusul rasa merinding yang menjalar ke seluruh tubuh.Mengingat Rafli, Sarah mendadak teringat pada masalah tagihan sepatu impor senilai lima ratus lima puluh juta rupiah yang belum dibayar. Sebelum menghadapi Rafli, Sarah memutuskan untuk menghubungi Koko Yayan terlebih dahulu.
Seperti biasa, Koko Yayan menjawab telpon Sarah sangat ramah. Supplier setia Sarah itu memberikan waktu tempo satu bulan pada Sarah untuk pembayaran tagihan sepatu impor yang di pesan Rafli.
"Saya mengenalmu, Sarah. Kalau dalam waktu satu bulan belum lunas, kabari saja. Ini dispensasi hanya untuk kamu aja, karena kita sudah bertahun-tahun langganan." ucap Koko Yayan hangat, sebelum menyerahkan ponselnya kepada sang istri yang juga ingin berbicara. "Akhir-akhir ini Rafli sering memesan sepatu dalam jumlah besar, kami senang akhirnya bisnismu semakin maju, tapi... ga ada masalah diantara kalian bukan?" Ternyata sebagai wanita, istrinya koko Yayan bisa menyadari hal tidak wajar dari tindakan Rafli. "Kami baik-baik saja, Cici. Terima kasih banyak atas kepercayaan Cici dan Koko. Doakan dalam waktu sebulan ini, semua tagihannya lunas ya." jawab Sarah sambil tersenyum agar istrinya koko Yayan tidak menangkap getaran dalam nada suaranya."Tapi Cici, untuk ke depannya, tolong sampaikan ke Koko Yayan agar jangan memberikan barang apa pun lagi kalau Rafli yang datang memesan. Bilang saja prosedur toko sedang ketat karena tagihan sebelumnya belum lunas."
"Tentu, Sarah. Lagipula, kalau bukan karena nama besarmu, dia bahkan enggak akan bisa membawa sepasang sepatu pun keluar dari gudang kami tanpa bayar tunai," sahut istri Koko Yayan terkekeh rendah. Wanita paruh baya itu memang selalu kagum pada kemandirian Sarah yang sudah memiliki finansial kuat tetapi masih tertarik untuk berbisnis jualan sepatu impor.
Dahulu, saat Sarah pertama kali mengenalkan Rafli sebagai calon suaminya, istri Koko Yayan itu sempat menarik lengan Sarah menjauh dari keramaian. "Kamu yakin mau menikah dengannya, Sarah? Maaf ya, tapi dia sepertinya... jauh dari standar seleramu yang biasanya."
Saat itu, Sarah yang matanya telah dibutakan oleh pesona Rafli hanya tertawa kecil, "Tapi dia jauh lebih tampan dan pengertian, 'kan, Cici?"
Mendengar pembelaan Sarah, istri Koko Yayan tersebut hanya bisa memaksakan senyum seraya mengangguk pelan, "Kuharap kamu dan Tachi bahagia, Sarah."
Mengingat kilasan memori itu, dada Sarah terasa seperti dihantam batu besar. Seiring dengan kembalinya indra penciumannya yang selama ini seolah terkunci dan mati rasa, jantung di dalam rongga dadanya kini berpacu gila-gilaan.
Namun sihir yang digunakan Rafli terhadap wanita cantik kaya raya tersebut tidak semudah itu luruh.
Dengan tangan yang gemetar hebat akibat amarah yang menumpuk, Sarah meraba saku daster, mengambil ponselnya, lalu menghubungi nomor Rafli.
Satu kali panggilan... dua kali... tidak dijawab. Pada dering ketiga di panggilan berikutnya, barulah panggilan itu tersambung. ** Di tempat lain, suara bising dari kipas angin dan pendingin ruangan hotel murahan itu mendadak kalah oleh dering nyaring ponsel Rafli di atas nakas. "Ahhh ...Abanggg ..." Pitri mendesah pasrah, mencengkeram seprai abu-abu yang tampak kusam saat Rafli kembali membalikkan tubuhnya, mendera wanita itu dalam gelombang kenikmatan yang lebih menuntut. Mendengar ponselnya terus berbunyi dan melihat nama 'Sarah Sayang' berkedip di layar, Rafli sama sekali tidak panik. Pria itu justru tersenyum licik yang penuh kemenangan. Tanpa menghentikan gerakan pinggulnya yang terus memompa cepat di atas tubuh Pitri, Rafli mengulurkan tangan, menggeser tombol hijau, lalu menempelkan ponsel ke telinganya. "Halo, Sayang?" ucap Rafli tenang, lembut dan terdengar sedikit terengah-engah yang seolah sedang berada di luar ruangan, berlari, berpacu dengan waktu. [Kamu di mana?] suara Sarah di seberang telepon terdengar bergetar, sarat akan emosi yang ditahan, [Azriel telepon aku. Ada barang masuk senilai lima ratus lima puluh lima juta rupiah ke toko dan belum dibayar! Bukankah tadi pagi kamu sudah minta seratus juta untuk belanja sepatu, sekarang ada nota setengah miliar lagi? Kenapa belum di bayar sama sekali?] Rafli memberi isyarat jari di depan bibir pada Pitri agar wanita itu menahan suaranya. Pitri yang mengerti, langsung menggigit bantal menahan desah, sementara matanya menatap Rafli dengan tatapan penuh pemujaan. "Oh, kurirnya sudah sampai ya? Kamu bayarin dulu ya, Sayang. Itu pesanan orang, dalam pekan ini mereka akan datang sendiri untuk ambil." Rafli menjawab dengan tenang dan lembut juga terdengar kekehan khasnya yang pendek. Tawa pendek tersebut dahulu selalu bisa membuat Sarah meleleh, membuatnya bertekuk lutut dan dengan sukarela menuruti apa pun keinginan Rafli, termasuk membiayai hidup seluruh keluarganya. "Sarah Sayang, kamu masih mendengarkan?" Rafli memanggil setelah beberapa saat tak ada jawaban dan tanggapan dari Sarah. "Aku masih belanja sepatu, Sayang. Sepatu pesanan dari perusahaan yang kemarin aku ceritain ke kamu itu loh," tutur Rafli tanpa dosa, seolah Sarah masih sama seperti sebelumnya, bisa ia manipulasi hanya dengan kekehan merdunya yang kini di telinga Sarah justru mendengarnya dengan jijik. [Jam berapa kamu pulang?] tanya Sarah setelah hening dimana ia berusaha menahan mual dan gejolak dari dalam lambungnya yang mendesak hendak dikeluarkan. "Aku masih berbelanja, Sarah Sayang. Mungkin pulangnya agak sore, Ibu dan Ayah juga tadi titip minta dibelanjakan sepatu. Jadi, nanti setelah ini, mau ke gudang agensi besar yang pernah kamu kenalkan dulu." sahut Rafli tetap lembut sambil menahan tubuh Pitri yang masih ia masuki di bawahnya. Pitri mendengkus kesal karena Rafli terdengar sangat lembut, memanjakan Sarah yang entah pemikirannya saja, suara istri dari pria yang telah ia berikan hati dan tubuhnya itu terdengar sedikit ketus, jauh berbeda dari biasanya. "Kak Desy mengirimkan gambar sepatu impor model terbaru di akun sosmed agensi besar yang pernah kamu kenalkan itu. Ibu dan Ayah menginginkan model sepatu itu untuk di jual di toko mereka. Nanti juga coba jual beberapa pasang di toko kita ya." lanjut Rafli tanpa beban, merasa 'suaranya' telah ampuh 'menaklukkan' Sarah. "Sudah dulu ya, Sayang. Ini baru selesai transaksi, mau ke gudang. Jika urusannya lancar, nanti aku pulang cepat." Rafli memungkas obrolan saat merasakan pelepasannya sudah di ujung tanduk. Napasnya sengaja dibuat semakin ngos-ngosan, "Ah! Sial, ini ban mobilnya mendadak bocor lagi... Sudah dulu ya, Sayang. Love you!"Dusta itu meluncur lancar tanpa beban dari mulut Rafli. Ia sengaja mengakhiri telepon dengan sandiwara seolah-olah dirinya adalah suami paling malang yang sedang kelelahan akibat mobil mogok dan terpaksa berlari-lari mengejar taksi demi bisnis sepatu impor mereka.
Padahal kenyataannya, tepat setelah tombol merah ditekan, pria itu langsung menghunjamkan tubuhnya dengan kasar dan cepat, membuat Pitri terpekik hebat menikmati puncak pergulatan panas mereka di atas kasur hotel yang berbau apek.
Tak lama setelah obrolan hangat di dalam ruangan perawatan Sarah, pintu kamar rawat itu tiba-tiba diketuk pelan. Sosok tinggi tegap dr. Ali melangkah masuk dengan senyum ramah yang menenangkan. Di tangannya, terdapat sebuah map berisi hasil laboratorium Sarah yang keluar pagi ini."Selamat pagi. Wah, tampaknya pasien saya sudah jauh lebih segar hari ini," sapa dr. Ali hangat.Dokter tampan itu sempat mengusap bahu Tachi sekilas sebelum mendekati brankar Sarah untuk memeriksa denyut nadi dan pupil matanya menggunakan penlight."Terima kasih, Dok. Terima kasih banyak atas bantuannya tadi malam." tutur Sarah seraya tersenyum tipis. Dokter Ali mengangguk pelan. Ia melirik sekilas ke arah Abah Rizal dan Bu Indar, seolah tahu bahwa keluarga ini sudah mulai membuka tabir rahasia tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Sarah."Hasil lab Anda menyatakan tubuh Anda bersih dari zat adiktif medis, Nona Sarah. Tapi, gumpalan darah hitam dan dorongan lepas kendali semalam menunjukkan adanya 'bent
Pagi sudah terang ketika kelopak mata Sarah perlahan terbuka. Ia merasa baru saja terbangun dari sebuah mimpi panjang yang seolah tak berujung, memutar adegan kelam yang sama secara terus-menerus di kepalanya.Sarah memindai sekeliling. Ia mendapati dirinya terbaring di atas brankar dalam sebuah ruangan luas bernuansa putih dengan pencahayaan temaram yang nyaman."Mommy..." panggil Tachi pelan. Tangan kecilnya menggenggam jemari Sarah.Sarah mengerjapkan kelopak mata, lalu mengulas senyuman tipis untuk menenangkan Tachi yang memandangnya cemas. Saat mencoba menggerakkan tangan, ia baru menyadari salah satu punggung tangannya telah ditusuk oleh jarum infus."Maaf, ya... Tachi semalam tidak bisa tidur? Kemarilah, berbaring di samping Mommy," bisik Sarah lembut.Tachi segera naik ke atas brankar dengan hati-hati, lalu melabuhkan kepalanya di atas pundak Sarah sembari memeluk Mommynya itu erat.Sarah bisa merasakan tubuh kecil Tachi sedikit bergetar. Ia pun mendengarkan dengan saksama saa
Sementara Sarah terbaring lemah di rumah sakit, di belahan nyata tempat lain, Rafli baru saja melangkah keluar dari lobi hotel murah bersama Pitri.Wanita muda itu terus bergelayut manja pada lengan kekar Rafli, sebelum keduanya masuk ke dalam mobil mewah milik Sarah yang selama ini diakui Rafli sebagai hasil keringatnya sendiri di depan para wanita 'penghiburnya'."Pahaku sampai kram nih, Abang nyosor terus enggak ada habisnya..." kekeh Pitri manja, berpura-pura kesulitan meluruskan kakinya di kursi penumpang samping Rafli yang mulai menyalakan mesin.Rafli tergelak rendah, terdengar sangat puas, "Siapa suruh kamu begitu mencandu? Jadinya Abang kan ketagihan dan ga bisa berhenti," bisiknya sensual sambil menoel gemas pipi Pitri yang kini sudah kembali mengenakan hijab tertutupnya secara rapi."Mau diantar pulang ke kosan atau mau ke toko? Tapi nanti malam Abang gak bisa mampir, ke kosanmu ya," tanya Rafli sembari mengarahkan mobil keluar dari pelataran parkir hotel."Sudah sore begi
Setelah sambungan telepon dengan Rafli terputus, Sarah terdiam cukup lama. Matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan dingin yang belum pernah terlihat selama enam bulan terakhir."Mommy, Tachi sudah siap. Tachi harus bawa baju berapa setel untuk menginap?" Tachi tiba-tiba masuk ke dalam kamar Sarah, kesusahan menyeret tas ransel kecil yang sudah ia jejali dengan beberapa setel pakaiannya.Melihat putranya yang tertawa ceria, pertahanan dingin Sarah runtuh digantikan kehangatan, "Kemari ..." Sarah langsung merengkuh tubuh montok itu, melabuhkan wajahnya dan menciumi rambut Tachi yang beraroma sampo anak-anak, lalu beralih mengendus pangkal lehernya."Mommy geli ... Hahaha! Aduh ...tolong!" pekik Tachi tergelak renyah, menggeliatkan tubuhnya. Namun, kembali dengan sengaja menyodorkan lehernya agar terus dihujani ciuman oleh Sarah yang juga sangat menikmati menggoda putranya itu.Sungguh, wajah anak lelaki yang menjelang usia tujuh tahun tersebut terlihat sangat bahagia. Hanya kare
Setelah memutuskan menginap di hotel hanya berdua dengan Tachi yang sebenarnya Sarah merasa hendak muntah setiap kali hembusan angin membawa aroma pekat aneh dalam rumahnya. "Tachi mandi dulu sendiri ya, Mommy bersiap-siap, oke?" Tachi langsung mengangguk cepat, turun dari ranjang dan kaki kecilnya berlari bergegas masuk ke dalam kamar mandi sambil berteriak, "Mommy, nanti di hotel, Tachi boleh nonton Animax?" Sarah terkekeh rendah, melihat kebahagiaan putranya. Ia mengetuk pelan daun pintu kamar mandi, "Ya. Tachi boleh nonton Animax sepuasnya tapi jam tidur malam tetap berlaku seperti biasanya." "Ahhhh, tak ada kompensasi nih, Mom?" terdengar suara Tachi merajuk manja dari dalam kamar mandi.Sarah dengan tawa kecil dengan luapan rasa bahagia, "Cepatlah mandinya, konpensasi tergantung mood Mommy." godanya iseng yang seolah juga telah lama tidak Sarah lakukan pada putranya itu, sejak bersama Rafli.Setelah memastikan Tachi aman di kamar mandi, Sarah melangkah masuk ke dalam kamar t
"Ahh ..." Kepala Pitri terlontar ke belakang dan dadanya membusung ke depan, merasakan gempuran Rafli di bawah sana yang sangat menyesakkan namun membuat seluruh syarafnya bergetar nikmat. "Tahan, Sayang ...sedikit lagi abang juga sampai." bisik Rafli sembari terus memompa cepat. Suara Pitri sudah parau dan serak, tubuhnya benar-benar akan ambruk begitu Rafli memberikan gempuran terakhir yang sangat keras seiring dengan lelakinya itu mengejang dengan peluh bercucuran membasahinya. Bau apek dari pendingin ruangan yang berisik menjadi satu-satunya musik di kamar hotel murahan ini. Kontras dengan aroma parfum mahal milik Rafli yang masih tertinggal di udara. Pitri menggeser kepalanya, berniat berbaring di atas lengan Rafli, namun pria itu dengan cepat menarik bantal untuk mengganjal kepala Pitri Seakan tidak menyadari penolakan halus tersebut, Pitri tersenyum tipis. Ujung jemarinya mulai menelusuri dada bidang pria yang sejak pagi telah membuatnya melambung tinggi. "Sampa







