Share

4. Ethan Volkov

Author: Freyaa
last update publish date: 2026-06-06 00:19:34

Sementara Sarah terbaring lemah di rumah sakit, di belahan nyata tempat lain, Rafli baru saja melangkah keluar dari lobi hotel murah bersama Pitri.

Wanita muda itu terus bergelayut manja pada lengan kekar Rafli, sebelum keduanya masuk ke dalam mobil mewah milik Sarah yang selama ini diakui Rafli sebagai hasil keringatnya sendiri di depan para wanita 'penghiburnya'.

"Pahaku sampai kram nih, Abang nyosor terus enggak ada habisnya..." kekeh Pitri manja, berpura-pura kesulitan meluruskan kakinya di kursi penumpang samping Rafli yang mulai menyalakan mesin.

Rafli tergelak rendah, terdengar sangat puas, "Siapa suruh kamu begitu mencandu? Jadinya Abang kan  ketagihan dan ga bisa berhenti," bisiknya sensual sambil menoel gemas pipi Pitri yang kini sudah kembali mengenakan hijab tertutupnya secara rapi.

"Mau diantar pulang ke kosan atau mau ke toko? Tapi nanti malam Abang gak bisa mampir, ke kosanmu ya," tanya Rafli sembari mengarahkan mobil keluar dari pelataran parkir hotel.

"Sudah sore begini, aku pulang ke kosan saja boleh, ya, Bang? Ga usah kerja, ga potong gaji 'kan?" sahut Pitri seraya mendongakkan wajah, tersenyum menggoda 'bos' di toko sepatu, tempatnya bekerja selama tiga bulan terakhir ini. 

"Ya sudah, istirahat saja di rumah. Kalau kamu kerja, nanti abang ga bisa tahan ingin mendengar pekikan merdumu lagi."

Wajah Pitri merona dan bibirnya tersenyum bangga penuh kemenangan, merasa dirinya telah berhasil menaklukkan pria yang terlihat tampan bak artis korea di sebelahnya ini. Tanpa peduli jika Rafli sudah memiliki istri.

Rafli meraba tasnya, mengeluarkan dua gepok uang lembaran seratus ribuan senilai dua juta rupiah, lalu melemparkannya ke pangkuan Pitri.

"Ini untuk 'jepitan mantap' kamu yang tadi, sekalian buat bayar biaya kos sebulan. Besok Abang kasih lagi untuk uang belanjamu, hm?"

Bibir Pitri tersenyum lebar. Ia mengambil cepat uang tersebut, menciumnya dalam-dalam dengan mata berbinar, "Terima kasih banyak, Abangku Sayang," ucapnya gembira.

"Tapi Bang... Kak Sarah enggak tahu, 'kan, kalau Abang memakai uang toko untuk aku?"

Rafli tertawa meremehkan, "Dia tahu pun, gak akan bisa berbuat apa-apa." jawabnya santai.

Pitri ikut tergelak, ia benar-benar menang telak dari Sarah, "Cinta mati banget ya dia sama Abangku yang ganteng ini. Tapi..." Pitri menghentikan perkataannya sejenak. Bibirnya merengut manja saat menyadari sebelah tangan Rafli yang bebas mulai menyelinap masuk ke dalam roknya, menyentuh celah sensitifnya yang sengaja ia geliatkan untuk menahan jemari pria itu di sana.

"Jangan khawatir, Sayang. Abang itu cuma butuh uangnya Sarah saja. Kalau soal bercinta... kalau soal bercinta, sudah lama kami tidak melakukannya, lebih enak denganmu." ucap Rafli manis, sukses membuat senyum Pitri kembali sumringah.

Namun, petualangan mesum tangan Rafli terhenti seketika saat ponselnya di dasbor berdering nyaring. Layarnya menampilkan nama 'Bapak'.

Rafli segera menarik tangannya dan mengangkat telepon dengan takzim.

[Waktu Sarah sudah hampir habis. Nanti malam, atau paling lambat besok, jangan lupa lakukan ritual penunduk itu lagi dengannya!] tutur Pak Maman, bapak kandung Rafli di seberang telepon dengan suara berat yang dingin.

Tanpa menunggu jawaban dari Rafli, pria tua itu langsung mematikan sambungan telpon secara sepihak setelah selesai menyampaikan perintahnya.

"Bapak bilang apa, Bang?" tanya Pitri penasaran melihat ekspresi Rafli yang mendadak serius.

"Tidak apa-apa. Malam ini dan besok, Abang benar-benar ga bisa mampir ke kosanmu dulu, ya. Bapak mengajak kumpul keluarga besar," elak Rafli berbohong.

Tentu saja ia tidak akan menceritakan tentang ritual ilmu hitam yang diperintahkan bapaknya untuk mengikat Sarah. Bahkan Pitri pun bisa terpikat dan bersedia menyerahkan diri padanya, juga berkat ilmu penunduk yang ia gunakan pada wanita itu. 

Namun Pak Maman lebih menyukai energi Sarah yang ditarik Rafli ketimbang energi para wanita manapun yang juga putranya itu lakukan ritual. Dimana efek ritual tersebut, sampai mati tidak akan bisa lepas. 

Sementara itu, di belahan bumi lain. Tepatnya di sebuah kondominium mewah berarsitektur modern yang menghadap langsung ke tepi laut Hong Kong.

Seorang pria tampan bertubuh tegap tampak berjalan gelisah. Ia melangkah bolak-balik dari ruang tengah, kamar tidur, hingga ke ruang kerjanya dengan rahang mengencang. Ada ketegangan yang pekat menyelimuti auranya yang dingin.

"Mister Volkov ..." Brian, asisten pribadi pria itu, Ethan Volkov, melangkah masuk sambil membawa sebuah tablet pintar di tangannya.

"Orang kita yang berada di Jakarta beberapa waktu lalu mengabarkan bahwa keberadaan Lady Sarah sudah berhasil dilacak. Ciri-cirinya sangat cocok dengan data keluarga kita, tapi ..."

Perkataan Brian terputus saat ponsel pribadi Ethan di atas meja kayu ek bergaya antik berdering nyaring. Di layarnya, tertera nama 'Grandma'.

Ethan segera menyambar ponsel tersebut dan menempelkannya ke telinga. "Ya, Grandma ..." sapanya dengan nada suara melembut, menyembunyikan kegelisahannya.

[Sarah, Ethan... Dia ada di Jakarta. Grandma bisa merasakan jiwanya sedang tidak baik-baik saja saat ini. Tolong temukan dia, Ethan. Dia adalah satu-satunya sepupumu yang tersisa, dan juga... calon istrimu!] Suara Madam Maria terdengar bergetar dan lemah di seberang sana.

Ethan menarik napas panjang, menekan gejolak penolakan di dadanya sebelum menjawab pendek. "Ya, Grandma. Besok saya akan langsung terbang ke Jakarta dan menemukannya."

Begitu sambungan telepon dengan Madam Maria dimatikan, tatapan mata tajam Ethan yang sebiru laut dalam langsung terarah lurus pada Brian. Aura mengintimidasi khas klan Volkov menguar kuat.

"Kau sengaja melaporkan perkembangan pencarian Sarah pada Grandma lebih dulu sebelum memberitahuku, Brian?" geram Ethan rendah, membuat asistennya itu langsung menundukkan kepala dalam-dalam.

"Maaf, Mister Ethan. Kesehatan Madam Maria sangat buruk belakangan ini. Beberapa saat yang lalu beliau terbangun dari tidurnya dengan napas tersengal dan berkata jika sisa hidupnya tidak akan lama lagi. Bisa melihat Lady Sarah kembali ke pelukan keluarga Volkov adalah impian terakhir beliau."

Ethan mendengkus sinis, membuang muka ke arah jendela besar yang menampilkan pemandangan laut malam Hong Kong.

"Konyol! Bukankah kau juga tau jika impian terakhir Grandma adalah melihatku menikahi sepupu yang bahkan belum pernah kutemui itu? Dan jika hasil penyelidikan ini benar... dia adalah seorang janda anak satu! Ah, betapa menjijikkannya manipulasi takdir di dunia ini!" gerutu Ethan tajam.

Tentu saja Ethan memiliki banyak wanita kelas atas yang mengantri di sekelilingnya. Tetapi, Madam Maria  telah menetapkan syarat mutlak yang tidak bisa diganggu gugat,  jika Ethan masih menginginkan seluruh takhta dan harta warisan raksasa milik keluarga Volkov, ia wajib menemukan Sarah dan menjadikannya sebagai istri sah.

Diam-diam Brian menarik napas panjang. Ia sendiri bingung pada Ethan yang tak pernah menolak keinginan Madam Maria agar mencari keberadaan Sarah, hingga mereka melebarkan sayap bisnis raksasa keluarga Volkov dari Rusia hingga ke Hongkong ini. 

Ethan berjalan menuju meja kerjanya. Di sana ada tumpukan photo-photo Sarah, wanita yang disinyalir kuat sebagai keturunan berdarah murni dari keluarga Volkov, sepupu kandung Ethan sekaligus cucu perempuan yang paling dicari oleh Madam Maria.

"Lady Sarah benar-benar sangat cantik mempesona dari berbagai sudut pengambilan gambar." tutur Brian, tersenyum tanpa dosa ketika Ethan meraih satu lembar photo Sarah yang sedang tertawa. 

Di photo itu Sarah sedang tertawa lepas, berlarian kecil dengan Tachi di bawah rona senja salah satu pantai di Jepang. Pancaran matanya begitu hidup dan hangat. Photo yang dikirim oleh informan pada Ethan. tiga tahun silam. 

Ethan menoleh cepat ke arah Brian yang langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan. Sudut mata Ethan menyipit penuh penghinaan, "Kecantikan wajah sama sekali bukan jaminan kalau dia layak membawa nama besar Volkov, Brian! Dunia ini terlalu kejam untuk wanita lemah dan pasif seperti dia!"

Ethan melempar kembali photo Sarah tersebut ke atas meja, lalu menyeringai samar yang terasa begitu sinis. "Menikahinya dan membawanya masuk ke lingkaran keluarga Volkov... itu sama saja dengan membunuhnya secara perlahan. Menyeret janda anak satu ini ke dalam sangkar Volkov hanya akan membuatnya gila, atau berakhir bunuh diri karena tekanan."

"Madam Maria tidak akan membiarkan hal itu terjadi ..." ceplos Brian yang kini benar-benar terkejut akan pemikiran Ethan. 

Ethan mendengkus kasar, "Kau pikir Grandma masih bisa hidup sampai kapan?" ejeknya ketus yang sebenarnya skeptis. 

Persaingan dalam keluarga besar Volkov bagaikan api dalam sekam. Ethan sudah sangat terbiasa, tetapi tentu saja tidak untuk Sarah yang pastinya akan melindungi anaknya dari intimidasi dan hinaan yang dibalut senyuman manis. 

"Bukankah menurutmu, ini sangat sepadan bagiku untuk menikahinya? Istriku tewas, lalu seluruh harta warisan Volkov menjadi milikku!" 

Kini Brian benar-benar menyadari alasan di balik kepatuhan Ethan selama ini memenuhi perintah Madam Maria. Ethan tidak sedang bersemangat menyambut sepupu atau calon pengantin. Dia hanya bertindak rasional.

Bagi Ethan, Sarah yang memiliki rekam jejak "gagal" dalam pernikahan di dunia biasa, tidak akan pernah memiliki kualifikasi untuk bertahan hidup di dalam dinasti Volkov yang penuh intrik dan berdarah dingin. Menikahi Sarah tak lebih dari sekadar menjalankan formalitas demi warisan, sembari menunggu kapan mental wanita itu akan hancur dengan sendirinya di bawah tekanan keluarga besar mereka.

Pantas saja Ethan begitu obsesif mencari keberadaan Sarah, bahkan hampir berkeliling ke berbagai negara, menyewa detektif swasta papan atas, hingga mengupah jaringan informan jalanan yang bisa dibayar.

Hingga akhirnya, salah satu informan di Jakarta mengirimkan gambar terbaru Sarah ke situs pencarian terenkripsi yang dibuat khusus oleh tim IT Ethan.

Selama lima bulan menetap di Hong Kong, mereka sempat kehilangan jejak, namun beberapa jam yang lalu, informan itu memberikan kabar terbaru bahwa ia telah berhasil melacak koordinat pasti rumah tinggal Sarah.

Ethan meremas pelan cangkir kopinya, menatap lurus ke arah lautan malam Hong Kong yang gelap gulita melalui jendela besar.

"Siapkan jet pribadi untuk besok pagi." perintah Ethan dengan nada suara rendah yang mutlak, "Sudah saatnya kita lihat, seberapa lama janda pilihan Grandma ini bisa bertahan hidup di dekatku!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (12)
goodnovel comment avatar
Shafeeya Humairoh
barti tanah yg ditemuin sarah beneran bagian dr jampi2 yah
goodnovel comment avatar
Shafeeya Humairoh
ahhh sama aja nih laki, mau sarah cuma krn harta ngga yg lokal, ngga yg import sama ajah
goodnovel comment avatar
tyas🍦🍫
ngeri banget, sarah beneran dijampi jampi lho
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    176.

    Sepanjang acara berlangsung, meja resepsi khusus kado dan pameran ucapan selamat dari para tamu VIP sudah menggunung dengan barang-barang bernilai fantastis. Barisan pengawal berpenampilan menawan dalam balutan setelan putih mengangguk sopan pada setiap tamu yang meletakkan kado dan hadiah pernikahan.Mulai dari sertifikat kepemilikan pulau pribadi di Mediterania dari seorang taipan minyak Arab, lukisan langka abad ke-18 karya maestro Eropa dari sang menteri kebudayaan Rusia, hingga saham eksklusif perusahaan teknologi raksasa yang dipersembahkan oleh para kolega bisnis Volkov Holdings dari Swiss sebagai kado pernikahan untuk Ethan dan Sarah.Bahkan, Perdana Menteri Rusia secara khusus menyerahkan sebuah kotak beludru berisi bros berlian antik milik keluarga kerajaan masa lalu sebagai tanda kehormatan tertinggi untuk Sarah."Ini sangat indah dan terlalu berharga, Prime Minister... Kami tidak bisa..." Sarah yang mengetahui betapa berharganya berlian antik keluarga kerajaan tersebut hen

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    175.

    Tanpa menunda sedetik pun, Disava meraih ponselnya dan langsung menghubungi Madam Maria, yang mengangkat panggilan itu tepat di deringan kedua. Tak lama kemudian, Madam Maria melangkah anggun menghampiri tempat Disava berdiri. Para tamu perlahan menoleh, sengaja membentuk lingkaran longgar di sekeliling mereka hingga membuat Ksenia tidak memiliki celah sedikit pun untuk kabur atau melarikan diri. "Ksenia? Kenapa kau mengenakan pakaian pelayan?" seru Madam Maria terkejut, matanya terbelalak menatap Ksenia yang kini mengangkat wajah dengan berurai air mata. "G-Grandma..." cicit Ksenia terbata. "Sepertinya seragam itu memang sangat cocok untukmu, Ksenia! Di mana Ibumu? Apakah dia juga menjadi pelayan di sini?" cecar Madam Maria, memotong dan mematikan segala niat Ksenia untuk mengadu. Tepat di saat bersamaan, kepala pelayan utama berjalan tergopoh-gopoh menghampiri Madam Maria sambil menyeret lengan Viktoria yang tampak kusut dan ketakutan. "Kami mohon maaf, Madam. Kami terpak

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    174. Disava Gibson

    Acara pesta masih berlangsung meriah meskipun Ethan telah membawa Sarah naik ke kamar bulan madu mereka.Musik orkestra berubah menjadi lebih energik. Brian menghampiri Disava yang baru saja selesai menikmati makanan penutupnya."Kau butuh hiburan untuk melepas penat dari urusan keuangan Volkov Holdings?" tanya Brian ramah sambil mengulurkan tangan, berniat mengajak gadis itu berdansa."Sorry, Bro, dia kekasihku," sahut Dewa yang mendadak menepuk pelan pundak Brian dari belakang dengan tawa kecil.Disava mengulum senyumnya memandang Dewa, lalu menaikkan sebelah alisnya ke arah Brian yang langsung tercengang dengan mulut melongo selama beberapa detik."K-kekasih? Kapan kalian saling berkenalan? Bukankah baru bertemu malam ini? B-bagaimana bisa kalian sudah berpacaran secepat itu?" cetus Brian terbata-bata, masih tak percaya melihat Dewa, kini sudah merangkul pundak Disava yang sama sekali tidak ditolak oleh sang gadis."Kalau sudah cocok, kenapa harus ditunda? Kami memang baru bertemu

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    173. Karma Tak Pernah Salah Alamat

    Setelah tarian poco-poco berakhir meriah, di mana para tamu undangan elit di pesta bangsawan itu tampak seperti melakukan senam malam bersama-sama, suasana kembali mencair dengan tawa dan obrolan hangat.Beberapa pasangan muda masih terlihat berdansa mengikuti alunan musik orkestra, yang lain menikmati hidangan, minum serta memanfaatkan bertemu serta berkenalan dengan tamu lainnya juga ada yang berbincang dengan Mister Konstantin yang akan selalu membawa Tachi bersamanya untuk diperkenalkan. "Indonesia benar-benar negeri yang indah. Tariannya pun tak kalah menarik dan kompak dari tarian tradisional di Eropa," puji seorang bangsawan asal London sambil mengelap keringat di wajahnya dengan sehelai saputangan sutra para orang di sebelahnya yang mengangguk setuju seraya terseyum puas. Di sisi lain, Ethan menggandeng Sarah untuk berkeliling dan memperkenalkan sang istri kepada beberapa tamu penting yang belum sempat menyapa."Halo, terima kasih banyak sudah hadir," sapa Sarah ramah, mengul

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    172. Poco-poco di Pesta Bangsawan Rusia

    Setelah dansa pembuka dari Sarah dan Ethan yang sangat manis, membuat siapa pun yang melihatnya merasa ikut jatuh cinta oleh energi pasangan pengantin itu.Kini, musik telah berganti, dan para tamu mulai ikut berdansa dengan pasangan masing-masing. Sarah berdansa dengan Mister Konstantin, sementara Ethan berdansa bersama Madam Maria.Tachi tidak mau ketinggalan. Anak lelaki itu menarik pergelangan tangan Catherine, "Maket, ajarin Tachi dansa juga."Dokter Ali tergelak renyah melihat keponakannya yang memang sangat akrab dan manja kepada Catherine, "Papali juga mau ikut berdansa dengan Tachi dan Maket, boleh?"Tachi mengangguk dan tertawa lebar tanpa suara, lalu mengalungkan lengan gempalnya dengan manja pada leher Dokter Ali yang langsung mengangkat dan menggendongnya.Di sisi lain lantai aula, Dewa duduk santai menikmati orang-orang berdansa di depannya. Tiba-tiba seorang gadis bergaun elegan mengulurkan tangan ke hadapan Dewa, "Mau berpasangan denganku?" tanyanya dalam bahasa Inggris

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    171.

    Para tamu membaur, saling mengobrol, dan bersulang minuman sambil menikmati hidangan mewah yang terus disajikan oleh para pelayan tanpa henti setiap kali piring saji mulai menipis, juga berkeliling membawa baki minuman untuk 300 undangan yang semuanya hadir bersama pasangan masing-masing.Catherine dan Dokter Ali sudah berada di dalam ruangan, bergabung bersama Dewa dan Brian di meja bundar berlapis taplak sutra."Lady Catherine, silakan nikmati hidangannya dulu. Saya mau menemui Mister Konstantin," tutur Brian setelah meminta pelayan menghidangkan makanan untuk Catherine, Dokter Ali, serta Dewa.Brian memang sengaja mencari alasan untuk 'menyingkir' sejenak guna menata hatinya yang perih melihat Dokter Ali begitu posesif merangkul pinggang Catheri

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    7.

    Karena pemeriksaan medis menyatakan kondisi Sarah stabil dan tidak ada keluhan fisik yang berarti, Ia memutuskan untuk keluar dari rumah sakit. Sarah juga memiliki hal yang perlu dia selesaikan secepatnya"Kita makan-makan dulu yuk, Abah... Ibu," ajak Sarah sembari menatap kedua orangtua angkatnya

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    6.

    Tak lama setelah obrolan hangat di dalam ruangan perawatan Sarah, pintu kamar rawat itu tiba-tiba diketuk pelan. Sosok tinggi tegap dr. Ali melangkah masuk dengan senyum ramah yang menenangkan. Di tangannya, terdapat sebuah map berisi hasil laboratorium Sarah yang keluar pagi ini."Selamat pagi. Wa

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    2.

    Setelah memutuskan menginap di hotel hanya berdua dengan Tachi yang sebenarnya Sarah merasa hendak muntah setiap kali hembusan angin membawa aroma pekat aneh dalam rumahnya. "Tachi mandi dulu sendiri ya, Mommy bersiap-siap, oke?" Tachi langsung mengangguk cepat, turun dari ranjang dan kaki keciln

  • MOKONDO Lepas, Bangsawan Triliuner Kudapat    1.

    "Ahh ..." Kepala Pitri terlontar ke belakang dan dadanya membusung ke depan, merasakan gempuran Rafli di bawah sana yang sangat menyesakkan namun membuat seluruh syarafnya bergetar nikmat. "Tahan, Sayang ...sedikit lagi abang juga sampai." bisik Rafli sembari terus memompa cepat. Suara Pitri

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status