공유

Persetujuan Sepihak

작가: Lystania
last update 게시일: 2026-01-09 12:25:34

"Ada gila-gilanya kali Pak Alex ya, Nda?"

Manda tertawa seraya mengaduk minumannya. Mereka tengah menikmati waktu senja di salah satu cafe dekat kantor, setelah pulang kerja.

"Jadi pengasuh Putri itu ide bagus kali, Ren."

"Aku memang senang bisa main sama Putri, tapi membayangkan akan terus berhadapan sama Pak Alex, aku gak sanggup, Nda."

"Siapa tahu upah jadi pengasuh Putri besar, Ren. Lumayan kali buat tabungan. Anaknya Pak Alex kan baik, nurut lagi sama kamu. Pasti gak bakal repot ngurus dia. Lagian pekerjaan jadi pengasuh itu bagus. Bagus untuk mengasah kemampuan mendidik anak."

Seraya memakan sosis yang ada di meja, otaknya berpikir. Semua perkataan Manda ada benarnya juga. Untuk anaknya, pasti Alex rela memberikan yang terbaik. Termasuk upah yang setimpal untuk menjadi pengasuh.

***

"Tadi Putri main sama Tante Rena lo, Oma," lapor Putri pada Ira sesaat setelah selesai makan malam.

"Kata Papa, Putri sekolah. Kok malah main sama Tante Rena?"

"Baru sebentar ditinggal, dia sudah nangis, Ma. Jadinya Alex suruh Rena jemput ke sana."

"Apa Mama bilang kan, Lex." Ira menatap Alex.

"Alex sudah minta Rena untuk jadi pengasuh Putri," ucap Alex memberitahu.

"Bukannya kamu gak suka sama karyawan kamu yang satu itu? Kenapa malah minta dia jadi pengasuh Putri? Kamu aneh banget," ujar Ira.

"Putri kan cuma mau sama dia, lalu Alex harus apa, Ma?"

"Terus dia mau?" tanya Ira lagi.

"Belum ada jawaban dari dia. Tapi Alex yakin dia pasti mau, setelah dengar upah yang bakal Alex kasih."

“Mama heran sama kamu. Sedikit-sedikit uang, sedikit-sedikit uang,” ucap Ira menggelengkan kepala lantas mengajak Putri masuk ke kamar.

Menyandarkan tubuhnya di sofa, Alex menghela nafas panjang. Pria itu menerawang menatap langit-langit rumahnya. Mengingat apa yang mendiang istrinya katakan. Satu nama yang membuatnya selalu emosi, tapi sekarang nama itu malah masuk ke dalam hidupnya. Seolah mendiang istrinya telah memilihkan pengganti dirinya.

“Gadis ceroboh kayak dia,” gumamnya kesal dalam hati. Ia meninggalkan ruang tengah dan masuk ke kamar Putri, memberikan kecupan di kening gadis kecil itu lantas masuk ke kamarnya melalui pintu penghubung.

Malam yang dingin dan gelap begitu cepat berlalu, kini berganti matahari yang perlahan menampakkan sinarnya. Rena telah siap untuk pergi ke car free day. Suasana pagi yang ramai, menambah semangatnya untuk berolahraga. Setelah sedikit pemanasan, ia mulai berlari bersama pengunjung lainnya. Baru satu kali putaran, seorang lelaki berdiri menghadangnya. Dengan senyuman yang khas lelaki itu menatap Rena.

"Sendiri aja, Cinta?"

"Rame-rame sama yang lain," jawab Rena dengan tangan yang menunjuk pengunjung di sekitarnya.

"Ayo kita lari bareng," ajak Nico yang diiyakan Rena.

Setelah beberapa kali putaran, mereka menepi dan menuju beberapa gerobak makanan yang sudah nangkring di sana. Sambil menikmati semangkuk bubur ayam, Nico sedikit bernostalgia dengan hubungan mereka tempo dulu.

"Nih, kacangnya," ucap Nico menuangkan sebungkus kecil kacang goreng, "kamu paling suka kan banyak kacangnya?"

"Iya, makasih ya." Rena tersenyum.

"Kamu masih sendiri kank? Kita balikan yuk," ucap Nico membuat Rena batuk dan hampir mengeluarkan bubur yang ada di dalam mulutnya. Ia mengambil segelas air mineral dan meminumnya.

"Balikan? Kamu ada-ada aja, Nic."

"Aku serius. Aku sudah capek nyari cewe buat jadi istri, tapi semuanya cuma mau main-main."

"Sama kayak kamu, waktu aku serius kamu malah main-main sama aku. Pake acara selingkuh lagi."

"Itu cerita lama, Ren. Aku sudah insyaf."

"Aku duluan ya. Makasih ya sudah bayarin bubur ayamnya." Rena beranjak dan berjalan dengan langkah cepat. Nico segera meletakkan mangkuk dan selembar uang, kemudian mengejar gadis itu.

"Aku antar," ucapnya meraih tangan Rena. Tahu sifat Nico yang suka memaksa, Rena mengikuti langkah kaki Nico menuju mobilnya. Dengan kecepatan sedang, Nico melajukan mobilnya menuju rumah Rena.

"Mama di rumah?" tanya Nico setibanya di depan rumah.

"Lagi liburan ke Bandung sama Tisa. Aku masuk dulu ya," ucap Rena.

"Aku minta nomor ponsel kamu, Cinta." Nico mengumbar senyum.

"Nomorku masih yang dulu. Kan kamu yang blokir aku?" Rena memanyunkan bibirnya. Buru-buru Nico mengecek aplikasi WA dan benar saja nomor ponsel Vina masuk daftar blokir.

"Kerjaan Mak Lampir itu," ujar Nico menyebut mantannya.

"Mak Lampir tapi kamu cinta juga kan," goda Rena.

"Salam sama Mama sama Tisa ya," kata Nico seraya melambai kemudian menghilang di tikungan.

***

Pagi ini setelah menggoreng telur mata sapi, Rena berangkat kerja. Otaknya terus berpikir akan menjawab apa saat Alex menanyakan lagi perihal tawaran jadi pengasuh Putri.

"Tanyain upahnya dulu aja kali ya. Kalau upahnya oke, bisa dipertimbangkan," ucapnya sambil memarkirkan motornya. Ia menyapa Pak Lukman kemudian masuk ke dalam. Setelah meletakkan tasnya di meja, gadis itu membawa bekalnya ke dapur. Ditemani channel youtube salah satu artis, Rena santai sarapan di dapur.

"Pagi, Pak Alex," sapa Pak Lukman.

"Pagi, Pak," sahut Alex. Melihat tas Rena tergeletak di meja, sementara orangnya tak ada, pria itu berjalan pelan menuju dapur. Yakin Rena di dapur karena mendengar suara tawanya.

"Kamu masih lama?"

Mendengar suara Alex spontan Rena mengecilkan volume ponselnya.

"Ini sudah selesai, Pak." Rena berdiri dan mencuci kotak makannya.

"Setelah ini kamu siap-siap. Temani saya pergi." Alex meninggalkan dapur.

Sepeninggal Alex, dengan tergesa-gesa Rena menuju mejanya.

"Kok aku takut ya, Nda?"

"Takut apa? Ada hantu di dapur?"

"Bukan. Biasanya kan kalau ada acara, Bos selalu pergi sendiri. Ini kenapa Bos ngajak aku ya?"

"Paling mau ngomong masalah tawaran jadi pengasuh anaknya, Ren. Tanyain dulu upahnya berapa, kalau lumayan kamu terima aja," saran Manda. Percakapan mereka terhenti karena Alex berdiri tak jauh dari mereka, bersiap mengajak Rena pergi.

"Pergi dulu ya," pamit Rena pada Manda seraya memakai sepatu hak tingginya.

Empat puluh lima menit perjalanan, mereka sampai di salah satu hotel tempat acara diadakan.

"Emang acara apa sih, Pak?"

"Pertemuan bersama notaris dan perbankan."

"Biasanya Bapak pergi sendiri," ucap Rena seraya merapikan rambutnya. Alex tak menjawab, matanya hanya melotot kemudian memberi isyarat untuk masuk ke dalam.

“Ya ampun. Punya bos gini-gini amat,” batin Rena. Ia meminta izin Alex untuk duduk bersama beberapa temannya dari perusahan lain, sementara Alex duduk di depan.

Sedang asyik bercerita dengan temannya, dua orang yang duduk semeja dengannya tampak berbisik malu-malu. Memberi kode bahwa ada lelaki yang menarik perhatian tengah memperhatikan mereka.

"Eh, dia ngeliatin ke sini," ucap salah satu dari mereka. Rena yang penasaran memalingkan wajahnya dan mendapati bahwa lelaki yang di maksud adalah Nico.

"Emang dia siapa, Mbak?" tanya Rena pura-pura tak tahu.

"Nico Jayandra. Anaknya Pak Irawan. Notaris sama kayak bapaknya."

“Notaris? Kirain dia mau jadi pengacara,” gumam Rena. Nico memang mengambil jurusan hukum sewaktu kuliah dulu.

Saat coffee break tiba, Nico menghampiri meja Rena, yang disambut riuh oleh teman satu mejanya. Nico memang mudah membaur, apalagi dengan wanita. Pesonanya tak pernah padam. Sementara itu, dari mejanya Alex tampak tak suka dengan kedekatan Rena dan Nico.

"Pak, yang duduk di samping Pak Yudi itu siapa? Saya baru lihat," kata Alex basa basi saat Nico telah kembali duduk di kursinya.

"Oh itu. Dia notaris, Pak. Anaknya Pak Irawan," sahut orang yang duduk di samping Alex.

Sekitar jam setengah dua belas, acara akhirnya selesai juga. Setelah di tutup, semua tamu undangan dipersilahkan untuk menikmati jamuan makan siang yang sudah disediakan.

Bos Alex

Setelah ambil makan, langsung ke meja saya.

"Aku ke depan dulu ya. Dipanggil Bos." Rena pamit pada teman semejanya. Membawa piring berisi makanan dan duduk bersebelahan dengan Alex.

Saat Rena membalas pesan di ponselnya, Alex memperhatikan Nico yang ternyata juga tengah memegang ponsel.

"Makan ya makan. Gak usah sibuk main ponsel." Alex menatap Rena tajam.

Tak ingin berdebat dengan Alex di depan umum, Rena meletakkan ponselnya dan meneruskan makannya. Meski dalam hati kesal dengan sikap Alex yang seenaknya.

***

Betul saja yang dikatakan Manda, di perjalanan pulang menuju kantor, Alex kembali membahas mengenai tawaran untuk menjadi pengasuh Putri.

"Untuk pekerjaan satu ini, kamu tidak boleh menolak," ucap Alex saat Rena menyatakan keberatannya untuk memiliki tugas tambahan.

"Saya berhak menolak, Pak. Kalau pekerjaan ini malah menyita waktu saya."

"Kamu bukan seperti pengasuh pada umumnya, yang siap dua puluh empat jam. Yang pasti, kamu harus ada saat Putri perlu."

"Apa bedanya dengan siap dua puluh empat jam, Pak? Semisal tengah malam Putri perlu saya, saya harus ada di sana?"

"Untuk case tertentu saja. Dan saya akan memberikan imbalan, yang tentunya tidak akan kamu tolak. Sama dengan bonus yang kamu terima setiap bulan, bahkan bisa lebih."

Mendengar upah yang akan didapatkannya, seketika membuat Rena tergiur.

"Satu lagi, kamu harus mengajarkan Putri tentang pengetahuan dasar, baca, dan tulis."

"Kenapa gak Pak Alex sekolahin aja?"

"Kamu sendiri liat kan, gimana nangisnya dia di sekolah? Kalau dia mau sekolah, saya juga gak akan minta kamu jadi pengasuhnya. Pokoknya mulai hari ini, kamu jadi pengasuh anak saya, titik."

Menggaruk-garuk pelipisnya, Rena hanya terdiam mendengar pernyataan sepihak Alex yang tak bisa dibantah.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • MY POSSESSIVE BOSS (RENALEX)    Kamu Milikku

    Pagi ini Alex kembali menjemput Rena. Meski Rena masih terlihat marah, ia sedikit lega karena gadis itu tak mendiamkannya lagi."Hari ini, saya ada janji sama Bunda untuk fitting terakhir baju kebaya," ucap Rena, "tapi saya masih ragu mau ini lanjut atau tidak.""Kamu ngomong apa sih, Sayang? Marahnya udahan dong. Aku harus apa supaya kamu gak marah lagi?" Alex was was mendengar ucapan Rena barusan. Apa jadinya kalau Rena benar-benar ragu dan tak mau lanjut dengan pernikahan mereka yang hanya tinggal hitungan hari lagi."Gak tau," sahut Rena cuek mengangkat bahunya.Alex menyandarkan tangannya seraya menopang kepalanya yang terasa berat."Susah banget kalau kamu sudah marah. Ngebujuknya susah banget," ucap Alex. Kakinya menginjak pedal gas pelan karena lampu lalu lintas telah berubah warna jadi hijau.***Selesai membereskan laporan, Rema meletakkan semua laporan itu di samping laptop Alex."Eh, mau kemana?" tanya Alex saat melihat Rena berjalan menuju pintu dengan membawa tasnya. "S

  • MY POSSESSIVE BOSS (RENALEX)    Gagal Ulang Tahun

    Hari ini adalah hari kedua Rena tak masuk kantor, karena matanya masih sembab habis menangis setiap malam. Terbayang-bayang dengan foto dan video itu, ia kembali membenamkan diri dalam selimut."Kakak kenapa? Sakit?" tanya Tisa datang menghampiri."Iya nih gak enak badan. Pengen istirahat di rumah aja," sahutnya Rena dari dalam selimut."Ya udah kakak istirahat aja." Tisa berlalu dari kamar kakaknya itu. Ia yakin Rena sedang ada masalah dengan Alex tapi ia tidak mau ikut campur urusan mereka.Tak berselang lama Mama datang ke kamar Rena dan menayangkan keadaan anak sulungnya itu. Ia sudah curiga kalau Rena sedang ada masalah dari gelagatnya beberapa hari ini.“Kalau kamu ada masalah cepat diselesaikan, jangan malah dibiarin. Ayo sekarang cuci muka. Di depan ada Bu Ira sama Putri,” ucap Mama meminta Rena menemui mereka. "Bilang Rena lagi keluar kota aja ya, Ma. Rena lagi pengen sendiri.""Oke tapi masalah kamu harus cepat diselesaikan. Mama sama Tisa

  • MY POSSESSIVE BOSS (RENALEX)    Tingkah Kejam

    Alex dan Rena pergi ke salah satu toko kue untuk memesan kue ulang tahun untuk Putri. Melihat beberapa kue yang terpajang di etalase, Rena kemudian menunjuk salah satu kue berwarna biru dengan karakter princess."Bagus. Kamu pesan dulu ya, aku angkat telepon sebentar," ucap Alex menjauh dari tempat itu.Agak malas sebenarnya menerima telepon dari Desita, tapi membaca pesannya yang seperti sedang meminta pertolongan, ia jadi tak tega."Ya sudah kita ketemu di kantor aku aja jam setengah delapan," ucap Alex pelan."Makasih ya, Lex," sahut Desita dengan suara sedikit serak.Rena yang telah selesai memesan kue, pergi menghampiri Alex dan mengejutkannya."Telepon dari siapa sih? Serius amat,” kata Rena menepuk pundak Alex."Teman lama ngajak ketemuan. Katanya mau curhat tentang bisnisnya," ucap Alex berdusta. Kenyataannya ia tak terlalu berdusta, karena mengatakan yang sebenarnya. Kurangnya hanya satu, tak menyebutkan nama teman lamanya itu."Oh ya udah. K

  • MY POSSESSIVE BOSS (RENALEX)    Baju Pengantin

    "Mas, ini berkasnya sudah siap. Berangkat jam berapa?" tanya Rena yang sedari tadi bolak balik mengecek berkas takut ada yang ketinggalan."Ha?" Alex tak fokus dengan pertanyaan Rena. Ia malah menarik tangan gadis itu dan mendudukkannya di pangkuan."Mas, nanti ada yang liat," protes Rena."Biarin aja kenapa," sahut Alex, "nanti kamu mau pakai baju apa, kebaya? Atau gaun?" Alex menunjukkan layar laptop."Saya kira Mas Alex ngapain, kelihatan serius. Eh, taunya liatin ini," ucap Rena.Secara tiba-tiba pintu terbuka, tampak Tria berdiri mematung melihat pemandangan yang di depannya."Aduh maaf ganggu, Pak," ucapnya hendak menutup pintu lagi."Gapapa. Ada apa?" tanya Alex santai yang tak membiarkan Rena untuk beranjak dari pangkuannya."Ini, Pak. Laporan dari Bu Een," ucap Tria meletakkan laporan itu di atas meja lalu berbalik hendak meninggalkan ruangan."Tria," panggil Alex."Iya, Pak.""Jangan kaget kalau nanti kamu bakal sering liat aku m

  • MY POSSESSIVE BOSS (RENALEX)    Pertemuan Keluarga

    Mereka tengah menggeser beberapa barang di ruang tamu dan memindahkannya ke kamar agar ruang tamu tampak sedikit luas. "Mbak, Ibu mertua Mbak datang tuh," bisik Tante Bunga.Mama menoleh ke arah pintu depan, ia kemudian meminta Tante Bunga untuk mengawasi petugas katering yang mulai menyiapkan makanan.Mama lalu menemui Oma Ida dan Papi Citra di depan dan menyuruh mereka masuk."Mbak, yang lain sibuk. Jadi saya sama Ibu aja yang datang," ucap Papi Citra memberitahu."Gapapa. Saya tinggal ke dalam dulu ya, Bu. Mau beres-beres.""Iya." Oma Ida memperhatikan beberapa orang berseragam hitam yang lalu lalang membawa kartu wadah makanan.“Dia benar-benar bisa menghandle semuanya sendiri,” gumam Oma Ida memuji Mama dalam hati.Tepat dengan janjinya, Alex datang bersama Ira dan Putri.Gadis kecil itu berbisik pada Alex meminta izin agar bisa bersama dengan Tisa karena tak nyaman berada di keramaian."Iya, Sayang," ucap Alex membintangi putrinya

  • MY POSSESSIVE BOSS (RENALEX)    Hadiah

    "Pilih gaun yang oke ya," ucap Alex saat mereka berada di salah satu butik untuk memilih gaun yang akan Rena pakai untuk acara jamuan makan malam. Peresmian ini akan diadakan sebanyak dua kali acara. Pagi peresmian yang akan disiarkan di salah satu stasiun tv karena akan langsung dibuka oleh Gubernur Jakarta sekaligus berkeliling memperlihatkan fasilitas dan benefit yang akan di dapat. Sementara untuk acara malam, khusus untuk rekanan bisnis dan mitra kerja."Oke apanya, Mas? Oke seksinya ya," tebak Rena."Jangan. Nanti kamu banyak yang lirik lagi di sana. Kamu kan datang kesana sebagai calon istri saya, bukan sekretaris," ucap Alex.Rena mengulum senyum. Ia lalu menunjukkan satu gaun tanpa lengan berwarna soft pink dengan panjang di bawah lutut."Coba dulu, kayaknya sih oke," ucap Alex berjalan menuju ruang ganti."Eh, ngapain? Tunggu di luar aja, Mas!" seru Rena kala Alex hendak ikut masuk ke dalam ruang ganti."Bantuin buka resleting," ucap Alex dengan waj

  • MY POSSESSIVE BOSS (RENALEX)    Hotel Baru

    Sampai di hotel pukul setengah tiga, mereka langsung menuju resepsionis untuk mengambil kunci kamar."Atas nama siapa, Pak? Boleh diperlihatkan undangannya?" tanya resepsionis itu ramah."Ini, Mbak." Rena meletakkan dua undangan di atas meja."Pak Alex dan Bu Rena ya. D

  • MY POSSESSIVE BOSS (RENALEX)    Perjalanan Dinas

    "Barang-barang kamu sudah siap kan?""Saya gak usah ikut deh, Pak. Kan Bapak bisa pergi sama Desita aja," ucap Rena yang dari tadi fokus menghapus email."Kamu kan diundang sama Pak Jon." "Ya tapi saya ngapain juga di sana, Pak?""Temani saya lah." Alex berjalan mendekati gadis i

  • MY POSSESSIVE BOSS (RENALEX)    Cek Proyek

    Setibanya di proyek, mereka berdua di ajak Ica untuk berganti sepatu terlebih dahulu sebelum pergi ke lokasi. Berjalan perlahan di bebatuan, kemudian naik ke lantai dua."Bentar ya, Mbak Ren. Mau ke sana ada Bu Desita datang," ucap Ica. "Mau ke proyek apa kondangan sih," ucap Rena m

  • MY POSSESSIVE BOSS (RENALEX)    Permintaan Maaf

    Terbangun oleh suara alarm yang berbunyi cukup kencang, indra penciuman Rena langsung menangkap aroma wangi."Sepagi ini Mama masak kue?" Rena mencoba mengidentifikasi lagi aroma sedap ini."Bener nih," ucapnya pasti. Ia membereskan tempat tidur kemudian menuju dapur."

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status