LOGINHari demi hari berlalu, dan hubungan antara Aluna dengan Ragil perlahan kembali seperti semula. Ragil pun sudah kembali tidur di kamar utama sejak malam itu. Aluna berusaha bersikap seperti biasa, seolah melupakan semua kejadian yang pernah menimpanya beberapa waktu lalu. Kini yang ia pikirkan hanyalah dirinya dan suaminya.Tak ada perubahan yang terlalu mencolok diantara mereka. Hanya saja Ragil menjadi lebih sering pulang larut malam dari biasanya. Bahkan ketika Aluna mencoba bertanya, pria itu hanya menjawab singkat, “Aku lembur, lagi ada merger sama perusahaan dari Tiongkok.”Aluna sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan kebiasaan Ragil pulang larut. Ia sudah cukup terbiasa dengan itu. Namun kali ini ada perasaan aneh yang muncul saat Ragil berpamitan akan pergi ke luar kota selama beberapa hari.“Aku mau kunjungan pabrik,” ucap Ragil saat mereka sedang sarapan.“Aku ikut ya, Mas,” pinta Aluna pelan.Ragil yang sedang menyuapkan makanan langsung mengangkat wajahnya lalu menatap
Selesai makan malam, Aluna mengajak Ragil untuk masuk kembali ke dalam kamar mereka yang berada di lantai atas. Dengan raut wajah yang santai dan tenang, Ragil mengikutinya dari belakang.“Mas mandi aja langsung. Nanti pakaian gantinya aku siapkan,” kata Aluna.Saat Ragil masuk ke kamar mandi, Aluna segera mengambilkan pakaian ganti untuk suaminya. Ia meletakkan satu set piyama hitam lengkap dengan pakaian dalam di atas sofa seperti kebiasaannya.Setelah itu, kini giliran Aluna yang bersiap. Ia berganti pakaian dan memilih mengenakan gaun tidur berwarna maroon yang merupakan warna yang selalu menjadi favorit Ragil. Gaun tipis itu sangat pas di tubuh Aluna yang ramping. Ditambah dengan warnanya yang sangat kontras dengan warna kulit Aluna, membuat wanita itu terlihat tambah cantik.Tak lama pintu kamar mandi terbuka. Ragil keluar dengan handuk membalut dari pinggang ke bawah. Hal pertama yang ia lihat adalah istrinya yang tengah berdiri menghadap cermin.Aluna masih mematut dirinya di
Sepanjang perjalanan pulang, pikiran Aluna kembali dipenuhi oleh ucapan Dirga.“Bagaimana kalau kamu hamil?”Kalimat itu terus terngiang seolah sengaja berputar di kepalanya tanpa henti. Tangannya mengepal di atas setir mobil dan rahangnya mengeras.“Tidak…” gumamnya pelan, lalu menggeleng kuat, seakan ingin mengusir pikiran itu jauh-jauh. “Nggak mungkin.”Napasnya juga sedikit memburu.“Kalau pun aku hamil… itu harus anaknya Mas Ragil,” bisiknya lagi dengan lebih tegas seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri.Namun, setelah itu pikirannya justru beralih. Bayangan siang tadi kembali muncul. Restoran di dalam mal, saat dirinya melihat Ragil dan juga Anggun.Aluna menatap lurus ke depan, dan matanya mulai meredup. Beruntung saat ini ia tengah berhenti pada lampu merah.Entah kenapa perasaan tidak nyaman itu kembali datang. Aluna ingat bagaimana cara Anggun berpakaian, dan cara ia duduk dekat dengan Ragil. Hal-hal kecil yang sebelumnya mungkin tidak berarti namun kini terasa mengganggun
Hari-hari berlalu dengan suasana yang terasa semakin dingin. Salah satu alasannya adalah Aluna masih mendiamkan Ragil.Aluna menjalani rutinitasnya seperti biasa. Pagi hari ia bangun lebih dulu, memastikan tidak bertemu dengan Ragil. Malam hari, ia memilih masuk kamar lebih cepat, mengunci diri dalam diam yang panjang.Sementara itu, Ragil tetap tidur di kamar tamu. Ia lakukan itu bukan karena tidak punya pilihan, melainkan karena egonya yang menolak kembali ke kamar utama jika tidak diminta oleh Aluna.Ragil turut ikut mendiamkan Aluna, seolah tak terjadi apa-apa. Tidak ada permintaan maaf, dan tidak ada usaha untuk memperbaiki keadaan membuat jarak diantara mereka semakin melebar.Sesekali mereka berada di satu tempat yang sama seperti di meja makan. Walaupun berada di ruangan yang sama namun mereka tak saling menyapa. Hanya suara sendok dan piring yang sesekali terdengar, itupun singkat. Setelah itu, kembali sunyi.Aluna beberapa kali ingin berbicara. Namun setiap kali ia mengingat
Dengan langkah tertatih, Aluna masuk ke dalam kamarnya. Ia langsung menuju sofa panjang yang empuk di sudut ruangan, lalu menjatuhkan tubuhnya di sana. Punggungnya bersandar lemah, sementara pandangannya kosong, menerawang jauh dan terus terbayang olehnya setiap kata yang diucapkan Ragil tadi.Wajah cantiknya kini tampak kusut dan sembab. Meski ia sudah menangis sepanjang perjalanan pulang, rasa sesak di dadanya seolah tak juga berkurang.Beruntung saat keluar dari gedung hotel tadi, Aluna langsung melihat mobil dengan sopir pribadi Ragil yang sudah menunggu. Tanpa berpikir panjang, ia menghampiri dan meminta diantar pulang. Sepanjang perjalanan, tak banyak kata yang keluar dari bibirnya. Ia hanya diam, menatap keluar jendela, dan membiarkan air matanya jatuh tanpa suara.Kini di dalam kamar yang seharusnya menjadi tempat paling nyaman, Aluna justru merasa asing.Kamar itu terasa sunyi.Ia mengangkat kedua tangannya, menatap jemarinya yang masih bergetar halus. Ingatannya kembali pada
“M–mas Ragil.”Ragil melangkah pelan mendekati Aluna. Tatapan matanya terlihat tenang yang justru membuat rasa takut di hati Aluna semakin membesar.Semakin dekat jarak di antara mereka, semakin liar pula pikiran Aluna. Ia membayangkan Ragil akan melayangkan tamparan karena memergokinya berduaan dengan pria lain di kamar hotel. Belum lagi kondisinya saat ini yang hanya terbalut bathrobe, membuatnya merasa semakin tak berdaya. Namun, apa yang kemudian dilakukan Ragil justru membuat Aluna diliputi kebingungan.“Ini baju ganti kamu.” Ragil menyerahkan sebuah paper bag yang diterima Aluna dengan tatapan bingung. Tidak ada makian, tidak ada penghakiman dari bibir Ragil. Suaminya ini justru memberinya pakaian ganti.“Mas…” Nada penuh ketakutan berubah menjadi nada kebingungan.“Ganti baju kamu di dalam,” perintah Ragil.Aluna terdiam, tak berani bergerak sedikit pun. Pikirannya mulai dipenuhi berbagai kemungkinan, apakah ini salah satu bentuk kemarahan suaminya?Bukankah orang-orang bilang,







